-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 2 Prologue Indonesia

Monolog Siswa White Room

 

SMA Koudo Ikusei. Disebuah gedung sekolah ruangan kelas tahun pertama.

Disana sekarang, pembelajaran dengan tingkat yang sangat buruk dan rendah diberikan.

Para siswa seusiaku berjuang mengerjakan pertanyaan mudah yang membuatku mengantuk.

Aku bahkan merasakan ilusi bahwa orang dewasa ada di antara anak-anak.

Bukan hal yang aneh untuk menyesali telah membuang-buang waktu hanya untuk pembelajaran yang tidak ada gunanya ini.

Jadi pada saat itu, Aku memikirkan seseorang.

Karena itu saja, perasaan [kebencian] meletus dari lubuk hatiku, mengingatkanku kenapa Aku ada di sini. Mau tak mau kekuatan mengalir ke tangan kananku yang memegang pentab ini.

Ayanokouji Kiyotaka.

Kapan pertama kali Aku mengenal nama itu?

Bahkan jika Aku mencoba mengingatnya, sulit untuk mengingat tanggal pastinya.

Namun, sudah pasti bahwa nama itu telah terukir dalam ingatanku saat Aku memikirkannya.

Tidak seorang pun yang belajar di White Room dan tidak mengetahui nama itu.

Kenapa demikian.

Itu karena dia lebih baik daripada siswa lain dari segala usia.

Karena tidak ada yang bisa melampaui Ayanokouji Kiyotaka, yang merupakan generasi ke-4.

Akibatnya, Ayanokouji Kiyotaka diabadikan sebagai contoh yang sempurna.

Hanya seorang anak kecil, tapi dia memiliki pengaruh besar pada seluruh White Room.

Aku pikir para siswa di generasi ke-5 yang setahun di bawahnya, paling terpengaruh olehnya.

Pria itu selalu memiliki nilai bagus dalam kurikulum yang keras.

Tapi, Akupun juga begitu. Aku selalu mencapai nilai luar biasa di antara siswa generasi ke-5.

Aku telah membuktikan bahwa Aku lebih jenius daripada orang lain.

Akan tetapi... Aku tidak pernah dipuji karena kejeniusanku.

Mengenai alasannya, Aku pikir tidak perlu lagi dijelaskan.

Kata-kata yang keluar dari seorang instruktur ketika mereka membuka melutnya adalah sama.

“Satu tahun yang lalu, Ayanokouji Kiyotaka melakannya jauh lebih menakjubkan.”

Tidak peduli seberapa keras atau seberapa baik Aku mencoba, Aku tidak pernah diakui.

Mereka hanya memerintahkanku untuk mengejar makhluk yang tak terjangkau seperti dewa.

Beberapa siswa yang belajar di ruangan yang sama denganku mulai [menyembah] Ayanokouji Kiyotaka yang sudah didewakan.

Kisah yang menyedihkan.

Orang-orang yang seharusnya dididik untuk menjadi nomor 1, tapi menyerah untuk menjadi nomor 1 itu sendiri.

Orang seperti itu tidak bisa bertahan sampai akhir di White Room.

Pada akhirnya, mereka jatuh tanpa tertawa dengan hidung mereka.

Tapi, bukannya Aku tidak pernah merasa tidak nyawan sama sekali. Meskipun Aku tidak menyembahnya, Aku menduga bahwa sosok yang dikenal sebagai Ayanokouji Kiyotaka sebenarnya tidak ada, dan sebaliknya hanya karakter diksi yang diciptakan untuk memotivasi kami.

Aku pikir para instruktur telah melihat melalui perasaan ini.

Suatu hari, Aku diperintahkan oleh para instruktur dan dibawa ke ruang kunjungan untuk orang luar.

Meskipun melalui kaca cermin, tapi di sana untuk pertama kalinya, Aku bisa mengkonfirmasi keberadaan Ayanokouji Kiyotaka dengan mata kepalaku sendiri.

Tanpa mengetahui apa kalau Aku sedang melihatnya, dia memiliki catatan yang luar biasa dan mengesankan.

Sampai sekarang, Aku masih ingat bahwa tubuhku menggigil saat melihatnya.

Tapi, ketika ditanya apakah itu karena Aku merasa seperti sedang melihat Dewa, Aku akan sangat menyangkalnya.

Bukan begitu. Dia adalah musuh kami.

Jangan [menyembah]nya. [Kebencian]lah perasaan yang penting untuk memotivasi diri sendiri.

Ya, perasaan kebencian itulah yang membuat tubuhku bergetar. Itu karena karena Aku selalu membencinya dan Aku berhasil bertahan di White Room.

Bagaimanapun, menyembah atau kebencian. Itu tidak lain adalah pikiran dan perasaan pribadi seseorang.

Bagi orang-orang di organisasi, seperti apa menurut para siswa itu bisa dikesampingkan.

Menciptakan manusia nomor 1 bukanlah tujuan akhir dari White Room.

Untuk membangun penelitian daan memproduksi massal orang-orang luar biasa dan terhormat.

Itulah kenapa kamar putih ada.

Entah itu Aku sendiri atau Ayanokouji Kiyotaka, selama itu adalah contoh kerberhasilan, siapa saja bukan masalah.

Itu sebabnya contoh kegagalan tidak ada nilainya.

Dengan kata lain, jika Ayanokouji Kiyotaka dipilih sebagai contoh sukses, Aku tidak tahu apa arti dari keberadaanku.

Sebagai salah satu contoh kegagalan, Aku akan berakhir tanpa ada nilainya.

Akhir yang menyedihkan.

Hasilnya tidak ada bedanya dengan siswa yang dikeluarkan dari sekolah.

Aku tidak bisa mengakui hal seperti itu.

Aku harus membuktikan bahwa [Ayanokouji Kiyotaka] bukanlah nomor 1.

Aku harus meyakinkan organisasi bahwa Aku adalah contoh sukses.

Dan kemudian kesempatan sekali seumur hidup datang tiba-tiba.

Ayanokouji Kiyotaka melanggar perintah, dia menolak untuk kembali ke White Room yang dimulai kembali.

Berkat ini, Aku memiliki kesempatan untuk menemui Ayanokouji Kiyotaka yang tidak pernah Aku temui.

Ya.

Satu-satunya kesempatan untuk menguburkannya secara langsung akhirnya muncul.

Untuk melakukan itu, lebih baik membuang akal sehat dan hal-hal imajiner lainnya.

Dengan kata lain, membunuhnya... juga merupakan salah satu cara untuk menyelesaikan masalah.



Credit

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 2 Prologue terjemahan Indonesia oleh Luckser Rayne

Related Posts

Related Posts

3 comments

  1. Akhirnya dapet tl indo.. saya bantu share ya gan

    ReplyDelete
  2. Tombol downloadnya dimana ini admin yg 2nd year
    vol 2 nya min

    ReplyDelete