-->
olNGIb4NkK5r2x7x4oG3GpEzizVpnY6KNCck9cym

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 4.5 Bab 1 Part 2 Indonesia


Bab 1
Ike, Komiya, dan...


2


Ketika aku kembali ke kamarku setelah pergi makan dengan Ishizaki, ada Ike yang berdiri di depan kamarku.

Dia melihat ponselnya dengan gelisah, tapi ketika dia mengangkat wajahnya dan melihat ke kiri dan ke kanan, mata kami bertemu.

“O, Ayanokouji! Baguslah, aku sudah menunggumu!”

Ike menungguku? Itu hal lain yang tidak terduga.

“Sebenarnya, aku berpikir untuk mengunjungi Komiya sekarang, dan aku mau mengajakmu juga.”

“Aku juga?”

Ike memintaku untuk meminjamkan telingaku saat dia mendekatiku, jadi aku sedikit memiringkan badan.

“Jadi begini.... Aku hanya merasa sedikit canggung untuk menemuinya sendirian.”

“Kenapa?”

“Kalau ditanya kenapa.... Yah, kau tahu. Aku. Aku sudah berpacaran dengan Shinohara. Dalam perjalanan kembali ke kapal setelah ujian, ada saat ketika kami sendirian, dan di sana———”

Sepertinya dia mengakui perasaannya dan Shinohara memberinya Oke.

Aku sudah berpikir bahwa mungkin ada beberapa kemajuan, tapi ini lebih dari yang kuharapkan.

“Begitu, ya, selamat deh.”

Aku mengucapkan selamat kepadanya dengan jujur, dan dia memalingkan mukanya dengan malu-malu.

“Te-terima kasih. Tapi... sari sudut pandang Komiya, kupikir aku mungkin sudah curang.”

“Aku pikir itu tidak benar.”

“Tidak, maksudku itu tidak adil, rasanya seperti... aku sudah mencuri start.”

Memang, Komiya harus mundur dari ujian di pulau tak berpenghuni lebih awal karena cedera.

Bukannya itu tidak bisa disebut sebagai mencuri start, tapi hal itu bisa dikatakan untuk siapa pun.

Komiya sendiri, sepertinya dia berencana untuk menyatakan perasaannya pada Shinohara selama ujian di pulau tak berpenghuni ini.

“Aku sebenarnya berpikir untuk menunggu sampai cedera Komiya sembuh. Tapi, aku lega karena ujian di pulau tak berpenghuni sudah selesai, dan Shinohara ada di sebelahku... lalu, aku mulai merasa tidak ingin menyerahkannya pada Komiya...”

Jadi di sana, sepertinya dia mengaku padanya tanpa berpikir panjang.

Tentu saja, ada juga risiko dia ditolak. Jika itu terjadi, itu akan membuat segalanya menjadi lebih canggung setelah Komiya dan Shinohara bersatu.

“Itulah kenapa kupikir aku harus melaporkannya ke Komiya. Kalau dia berencana untuk mengaku pada Shinohara juga, itu akan memperumit masalah.”

“Kalau kau tidak mengambil inisiatif, akan jadi masalah jika Shinohara akhirnya memutuskan untuk berpacaran dengan Komiya.”

“Eh...! Ke-kenapa begitu...!?”

Ike menjadi kesal dan bereaksi secara berlebihan.

Setengah dari niatnya ingin melaporankannya, dan setengah lainnya ingin mencegahnya untuk mengaku.

“Kau sudah siap untuk menerima setidaknya satu pukulan, bukan?”

“Eeh!? Apa aku akan dipukul!?”

“Bukankah itu yang akan kau lakukan ketika seseorang yang kau cintai direnggut dari sisimu?”

“...gokuri.” (gluk/menelan ludah)

Ike tampak ketakutan, mungkin dia merasa ngeri dengan membayangkannya.

Komiya bukanlah pria besar, tapi dia tidak bermain basket hanya untuk pamer.

Di sisi lain, Ike bertubuh kecil untuk seorang laki-laki, dan aku bisa melihat bahwa ada perbedaan fisik yang cukup besar.

“Yah, dia tidak bisa menginjakmu sekarang karena kakinya sedang terluka. Seharusnya tidak terlalu menyakitkan.”

“Bu-bukan itu masalahnya, tapi... a-aku sudah siap.”

Dia tampaknya telah mengambil keputusan sampai batas tertentu, jadi aku tidak punya alasan untuk menentangnya.

Aku penasaran dengan kondisi Komiya, jadi ini akan menjadi kesempatan yang bagus.

“Kudengar Komiya masih tidur di ruang medis.”

“Aku yakin tidak mudah berada di kamar tamu.”

Tidak mengherankan jika dia akan menghabiskan sebagian besar liburannya di ruang medis.

Ike dan aku tiba di depan ruang medis. Ike menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.

Tidak ada gunanya membuatnya terburu-buru, jadi aku menunggu dengan tenang, dan kemudian tawa keras datang dari dalam.

“A-ada apa? Ayo masuk.”

Terkejut oleh suara tawa yang tak terduga, Ike membuka pintu dan masuk ke ruang medis, tanpa persiapan. Kemudian Komiya, yang mengangkat bagian atas tubuhnya, dan beberapa teman sekelasnya, termasuk Ryuuen, ada di sekitarnya.

Mereka adalah Albert, Kaneda, Kondou, dan Yamawaki.

Ketika seseorang di luar kelasnya muncul, Ryuuen berdiri tanpa melirik.

“Maaf sudah mengganggumu, Komiya.”

Seolah percakapan mereka sudah selesai, Ryuuen meninggalkan ruang medis bersama teman-temannya.

Aku melihat sekilas pada Ryuuen, tapi dia tidak menatapku secara khusus.

“Dia masih menakutkan seperti biasanya, ya, Ryuuen.... Lagian, apa yang dia inginkan?”

Ike, di sisi lain, tidak bisa melihat langsung ke arah Ryuuen, dan bergumam pada dirinya sendiri.

Komiya, yang mendengarnya, menjawab dengan anggukan untuk menunjukan pengertiannya.

“Yah, dia memang mengerikan. Meski terlihat begitu, tapi dia hanya datang untuk menjengukku kok.”

Seperti katanya, di atas meja kecil yang diletakkan di dekat bagian atas tempat tidur, ada beberapa makanan manis dan jus yang sepertinya dibawa masuk.

“Me-menjenguk, ya... rasanya, dia bukan tipe pria yang akan melakukan itu.”

Dia mengatakan apa yang dia rasakan dengan jujur, dan Komiya setuju dengannya.

“Di waktu ini tahun lalu, yah, itu mungkin tidak terpikirkan.”

Mengingat setahun yang lalu, Komiya tersenyum merasa nostalgia.

“Tapi rasanya Ryuuen-san sudah sedikit berubah, loh. Tapi bukan perubahan total sih.”

Kata Komiya, agak bingung tapi senang.

Karena sejak awal tahun ajaran, Ryuuen mengambil alih kelas dan memperlakukan semua orang seolah-olah dia akan menggunakan mereka tanpa ampun. Tidak heran jika sebagian besar teman sekelasnya memiliki penolakan yang kuat di hati mereka.

“Aku merasa aku bisa mengikuti orang itu dengan patuh sekarang.”

“Kau mau mengikuti Ryuuen? ...Aku tidak mengerti.”

Dia sepertinya tidak mengerti sama sekali ketika dia mendengarnya, dan Ike mengguncang tubuhnya secara berlebihan gemetar.

“Eh, jangan hanya berdiri di sana, Ike, Ayanokouji juga, silakan duduk.”

Komiya dengan ramah menyambut kami yang dari kelas lain dan mendesak kami untuk duduk tanpa ragu-ragu.

Kami berdua menuruti tawarannya dan duduk di kursi.

“Kau terlihat sehat, ya.”

Melihat ke arah kakinya yang tidak bergerak, aku memeriksa kondisi Komiya.

“Seperti yang kau lihat, semuanya baik-baik saja kecuali kakiku. Tapi rasanya menjengkelkan memikirkan bahwa semua orang bermain di sisi lain pintu, dan kuharap aku bisa segera sembuh.”

“Kapan kau bisa keluar?”

“Aku baru meminta izin untuk pergi keluar dengan penopang sekarang.”

Mereka adalah saingan dalam percinta, tapi yang mengejutkan, mereka berdua dapat berbicara sendiri.

Kurasa kehadiranku agak tidak diperlukan.

“Hanya saja... aku sedikit khawatir.”

“Khawatir? Ada apa?”

Ike, yang duduk membelakangi kursi, meletakkan tangannya di sandaran dan bertanya pada Komiya.

“Tidak, Ryuuen-san, sepertinya dia sedang mencari tahu siapa yang sudah mendorongku. Dia bertanya banyak hal seperti apakah aku ingat sesuatu tentang itu. Seperti yang kukatakan pada Ayanokouji, aku bahkan tidak ingat pernah diserang sama sekali.”

Sepertinya tidak ada perbedaan dalam ingatannya sejak saat itu.

Sekarang, kelas Ryuuen sedang mendapatkan momentum dari hari ke hari. Inilah waktunya untuk fokus pada pertarungan tahun kedua untuk kelas A. Tentu saja, itu juga berlaku untuk kelas kami, tapi mereka seharusnya tidak masuk terlalu dalam ke dalam masalah ini.

Jika Amasawa atau siswa White Room lainnya atau seseorang yang berhubungan dengan Tsukishiro terlibat, tidak ada jaminan bahwa sekalipun Ryuuen akan aman.

“Aku harap Ryuuen-san tidak berlebihan.”

“Sepertinya dia akan menghabisi si pelaku, ya.”

Bagi mereka berdua, tidak mungkin mereka bisa membayangkan Ryuuen akan kalah.

Sebaliknya, sudah sewajarnya bagi mereka untuk mengkhawatirkan tentang si pelaku.

“Jadi? Kau datang tidak hanya untuk menjengukku, ‘kan?”

Seolah telah menebak sesuatu, Komiya bertanya pada Ike.

Pada saat itu, Ike menegang karena terkejut.

“Ah tidak... itu...”

Kata-katanya tersumbat, seolah-olah dia belum cukup siap untuk itu.

Melihat penampilannya itu, Komiya menunggu kata-katanya dengan wajah serius tanpa disuruh.

Ketegangan suatu tempat seringkali dapat berubah dalam sekejap, secara kasat mata.

Tidak ada jejak suasana santai sebelumnya.

“...Aku... bagaimana mengatakannya... jadi...”

Sikap cerewet Ike memudar dan dia tidak dapat berbicara dengan baik.

“Ike. Aku tidak tahu apa yang ingin kau katakan, tapi jika itu penting, tatap mataku dan bicaralah.”

Dia pasti sudah menebak apa yang akan Ike katakan.

Meski begitu, Komiya pura-pura tidak tahu, dan hanya mendesak Ike untuk berbicara dengan jelas.

Aku tidak berpikir Ike menyadari kalau Komiya sudah menebaknya, tapi dia pasti merasakan apa yang dirasakan oleh seorang pria.

Sepertinya dia merasa bahwa itu bukanlah sesuatu yang harus dilaporkan dengan bertele-tele.

Dia menampar kedua pipinya sendiri, dan memaksa dirinya untuk bangun.

“Aku... sudah menyatakan perasaanku pada Shinohara!”

Ike yang sudah mengambil keputusan, memberitahunya dengan kalimat yang sederhana tapi keras.

Shin, keheningan yang segera mengikuti.

Aku bisa tahu Ike sedang menelan banyak ludah di sebelahku.

“Jadi? Apa jawaban Satsuki?”

“Dia menjawabku Oke. Kita akan berpacaran.”

“Begitu, ya...”

Ike terus menatap wajah Komiya yang membalas singkat, tanpa mengalihkan pandangannya. Seperti yang dia katakan sebelumnya, apa boleh buat jika Komiya akan mengeluh karena dia sudah mencuri start.

Bahkan pukulan tak terduga bisa saja datang, atau begitulah dia pikir.

“Kau pikir aku akan memukulmu, ya?”

“Eh?”

“Itu tertulis di seluruh wajahmu bahwa kau mungkin akan dipukul.”

“I-itu tidak juga... yah, hanya sedikit.”

“Begitu, ya, berarti kau sudah siap, ‘kan? Aku tidak bisa bergerak sekarang, jadi kau saja yang kesini?”

Raut wajah Komiya saat dia menyuruh Ike untuk mendekatinya tidak mengungkapkan niatnya yang sebenarnya.

Namun, dari permintaan itu, Ike tampaknya telah mengambil keputusan.

Dia berdiri tepat di sebelah Komiya, meskipun dia takut.

Segera setelah itu, tangan kanan Komiya terulur dan meraih bahu Ike.

“Hah!”

Komiya mengangkat tubuhnya yang sakit hingga batasnya dan menatap mata Ike.

“Kalau kau membuat Satsuki menangis, aku tidak akan memaafkanmu.”

Dia dengan ringan menekan kepalan tangan kirinya ke dada Ike dan berkata begitu.

“Ko-Komiya...?”

Ekspresi haus darah Komiya berubah menjadi senyuman.

“Ayolah, jangan murung begitu. Satsuki memilihmu, itu saja, ‘kan?”

“Tapi... kalau kau tidak terluka, mungkin yang terjadi sebaliknya...”

“Maaf, tapi kurasa tidak. Satsuki sudah lama tertarik padamu. Itulah sebabnya aku menerima pengakuanmu dengan jujur. Jangan berpikir bahwa siapa yang cepat dialah yang akan diterima. Hanya saja...”

“Hanya saja?”

“Kalau kau tidak menghadapi Satsuki dan terus lari darinya, aku mungkin juga akan punya kesempatan.”

Seperti yang dikatakan Komiya. Aku tidak berpikir itu begitu penting apakah dia menyatakan perasaannya lebih awal atau lebih lambat.

Ketika terjadi kecelakaan yang menyebabkan dia terluka parah, Ike kebetulan berada di dekat tempat kejadian, yang memberinya kesempatan dan dorongan yang besar, dan dia bisa bersama dengan Shinohara.

Tidak salah lagi, itulah faktor terbesar hingga membuat mereka berpacaran.

Jika Komiya tidak terluka, jika Ike tidak ada di sana pada saat itu, jika salah satu dari mereka mengalami nasib yang berbeda, mungkin Komiya yang akan berada di sisi Shinohara.

“Dengan kata lain, aku tidak beruntung karena mendapat cedera ini.”

Meskipun cintanya tidak terpenuhi, Komiya tampaknya dalam suasana hati yang baik.

“Terima kasih, Komiya.”

“Belajarlah dengan giat. Satsuki... tidak, Shinohara juga mengkhawatirkan hal itu, loh.”

“...Kau benar. Aku tidak boleh membiarkan diriku dikeluarkan.”

Hubungan asmara ini mungkin bisa menjadi titik balik yang sangat penting bagi Ike. Itu memberinya kesempatan untuk membuka diri demi dirinya sendiri dan orang-orang yang dicintainya, seperti halnya Sudou.

Secara garis besar, laporan dari Ike dan pertukaran dengan Komiya sebagai tanggapan telah diselesaikan.

“Maaf, Ike, tapi bisakah aku berbicara dengan Ayanokouji berdua saja? Ada sesuatu yang ingin aku periksa tentang cederaku.”

“Baiklah, sampai jumpa, Komiya. Kau juga, Ayanokouji.”

Ike mengucapkan selamat tinggal kepada kami dan meninggalkan ruangan tanpa ragu-ragu.

Saat kami tinggal berdua, Komiya angkat bicara.

“Maaf, ya. Ike membawamu ke sini karena dia meminta bantuanmu, ‘kan?”

“Tidak, aku juga penasaran dengan kondisimu kok, Komiya. Sebaliknya, aku malah seperti pengganggu.”

“Mana ada. Maksudku... aku tidak mengerti apa yang terjadi di sini.”

“Hm?”

“Kalian dan aku berada di kelas yang berbeda, dan kita saling bertarung, tapi kita sudah mulai berbicara dengan normal. Rasanya seperti hal semacam itu sudah memudar. Tahun lalu, segalanya sangat suram.”

Semula, jika mereka berada di kelas yang berbeda, mereka adalah lawan yang harus dikalahkan dan yang harus ditendang.

Tidak banyak keuntungan untuk bergaul satu sama lain kecuali untuk menjalankan taktik.

“Ujian di pulau tak berpenghuni adalah kompetisi antara tahun ajaran yang berbeda, selain itu kita sudah berada di sekolah yang sama untuk waktu yang lama, bukankah itu alasannya?”

“Hmm, mungkin saja sih.”

“Jadi? Apa maksudmu tentang cederamu?”

Jelas bahwa percakapan tadi adalah obrolan pembuka, dan pasti ada topik utama di luar itu.

“Seperti yang kukatakan, ini tentang Ryuuen-san.”

“Kau bilang dia seperti sedang mencari pelakunya, ‘kan?”

“Aku menentangnya. Sejujurnya, aku lebih suka menyebut ini sebagai kecelakaan yang disebabkan oleh kesalahanku sendiri.”

“Tapi, Shinohara melihat keberadaan orang yang benar-benar menyerang kalian.”

“Aku tahu itu. Tapi aku punya firasat buruk tentang ini, dan kupikir ini tidak akan berakhir dengan baik.”

Mungkin karena dia sudah diserang, dia merasakan sesuatu yang berbahaya di kulitnya.

“Meski hanya sedikit, maukah kau peduli tentang itu juga, Ayanokouji?”

“Aku tidak yakin aku bisa melakukan sesuatu tentang hal itu.”

“Aku tidak memintamu untuk melakukan sesuatu secara langsung. Beri tahu aku jika kau merasa tidak nyaman.”

Dengan tatapan kuat di matanya, Komiya memintaku untuk membantunya.

Bertukar informasi kontak secara formal sehingga kami dapat saling menghubungi kapan saja.

“Oke, untuk saat ini, lebih baik kau fokus untuk menyembuhkan lukamu secepat mungkin, Komiya.”

Istirahat adalah satu-satunya jalan pintas menuju pemulihan total.

“Terima kasih, ya. Oh iya, aku ingin mengucapkan terima kasih lain kali kalau kau tidak keberatan. Aku ingin mengucapkan terima kasih pada orang-orang lain yang menolongku juga.”

“Kupikir mereka akan senang mendengarnya. Ike bahkan mungkin akan duduk berdampingan dengan Shinohara.”

“Ampun deh. Aku pasti akan menangis jika harus melihat kedua orang itu bermesraan.”

Komiya tersenyum pahit, tapi dia pasti lebih patah hati daripada kelihatannya.

Kurasa ini adalah kesalahanku karena sudah mengejeknya.

Yang jelas, bukan hal yang baik untuk membuatnya terluka, tapi aku merasa aku semakin dekat dengan Komiya, meski hanya sedikit.

“Sampai jumpa, Ayanokouji.”

“Aa.”

Setelah aku mengucapkan selamat tinggal dan meninggalkan ruang medis, aku tiba-tiba merasakan perasaan yang aneh.

Teman sekelasku seperti Sudou dan Ike, serta dari kelas lain seperti Ishizaki dan Komiya.

Sedikit demi sedikit, jumlah orang di sekitarku yang bisa kusebut teman semakin meningkat.

Aku tidak secara khusus berangkat untuk mencari teman, tapi itulah yang akhirnya ku lakukan.

“Cara berteman bukanlah sesuatu yang dapat kau temukan di dalam buku teks.”

Aku dengan bodoh dan serius memikirkan hal itu.


***

Catatan:

Dan inilah part terakhir yang bisa aku bagikan untuk versi trialnya.

Malam ini volume 4.5 resmi dirilis. Aku sudah melakukan pre-order dan siap menerjemahkan esok hari.

Biasanya penerjemahan memerlukan waktu sekitar 2 minggu. Tapi karena rumahku sedang berduka jadi mungkin akan lebih lama.

Selain itu, hasil terjemahan tidak akan kubagikan di situs ini segera. Aku akan membagikannya setelah 1 bulan atau lebih sedikit sejak hari perilisan. Jika ada yang ingin membacanya segera bisa hubungi admin.

Related Posts

Related Posts

20 comments

  1. Oke thx min 👌
    Yang penting ada yg TL 👍

    ReplyDelete
  2. Oke min. Turut berduka cita juga ya min

    ReplyDelete
  3. Sebelumnya turut berduka cita min. Tapi admin bakal nerjemahin dengan sistem langsung 1 volume atau 1 chapter?

    ReplyDelete
  4. Turut berduka cita mint, dan terima kasih atas TLannya~

    ReplyDelete
  5. Thanks a lot brother! Bless you!

    ReplyDelete
  6. Turut berduka cita buat mimin, semoga sehat selalu

    ReplyDelete
  7. Semangat min, di tunggu nextnya

    ReplyDelete
  8. Ok min kalau dah selesai TL kabarin aja dan turut berduka cita

    ReplyDelete
  9. Semangat min untuk nge-tlnya

    ReplyDelete
  10. Sop iler... :
    Murid kedua white room selain ichika Yagami tahun pertama

    ReplyDelete
    Replies
    1. Are u saying theres another white room student other than ichika?

      Delete
    2. Yes, n that Yagami b class 1years

      Delete
    3. This a bit Summary Vol 4.5 Chapter 6

      At a time when other students were busy enjoying the ship’s facilities, Ichika headed to Yagami Takuya’s room. She asks what Yagami plans to do with Nanase, Ryuuen and Horikita all looking for him. He says that it’s fine and that everything was going according to plan. Ichika becomes alert as Yagami walks towards her and doesn’t even blink. Because in the instant that she blinks, she’d be giving him the opportunity to launch a fatal attack. Yagami assures her that he won’t use violence against her in a place like this. Ichika replies that she wants to believe him but can’t, to which Yagami laughs and replies “That’s right, you’re no longer someone from the White Room. Which means you’re my enemy.” But then he patronisingly says, “Or so I thought but I don’t really see you as a threat”.

      Ichika threatens to expose everything to Ayanokouji but Yagami says if she were on Ayanokouji’s side, she would have already told him. Yagami asks her whether she’ll continue to interfere in his plans such as taking out Kushida and Kurachi who he sent after Ayanokouji. Ichika asks him if he’s angry but Yagami laughs and says that conversely, he learnt a lot about Ayanokouji’s personality and improved the accuracy with which he can read Ayanokouji’s actions in the future. According to him, Nanase and Ryuuen’s chase after Riku will lead to nothing but conversely, he wants Horikita to find him and suggests that with a few more hints, she eventually will. Ichika feels sorry for Riku since he only teamed up with Yagami to help protect his classmates yet it was Yagami who orchestrated the expulsion of his classmates in the first place. Yagami suggests that Riku’s the type of person who develops a sense of crisis after you expel a few of his classmates and will willingly become an ally if Yagami creates a common enemy such as Housen for him to direct his anger towards.

      • Yagami says that the strategy this time exposed Sakayanagi as Ayanokouji’s ally and that he will have to think of countermeasures for her in the future

      • Yagami threatens Ichika but then says that he doesn’t like using more than the minimum level of violence

      • We learn that Shiba was the one who ‘disciplined’ Ichika and Yagami praises Ichika for not fighting back

      • He says that he will fight a mental battle against Ayanokouji and won’t use violence against him. He will set up a match where either he or Ayanokouji is forced to withdraw from school

      Delete