-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 4.5 Bab 1 Part 1 Indonesia


Bab 1
Ike, Komiya, dan...


1


“Uoh, ada banyak sekali orang.”

Benar saja, ruang istirahat dekat fitness gym di mana hasil ujian diumumkan penuh dengan banyak siswa. Ada poster besar di sebelah monitor yang bertuliskan [pemotretan sangat dilarang] dan dua orang dewasa yang tampaknya terkait dengan Tsukishiro sedang mengawasi dengan ketat para siswa.

Peringkat dan skor ditampilkan pada daftar monitor, dan tampaknya bergulir secara otomatis.

Sekarang monitor sedang menampilkan anggota grup peringkat ke-50 hingga 60 dan skor mereka.

“Hm...?”

Tiba-tiba, aku merasakan perasaan tidak menyenangkan yang tidak dapat dijelaskan di seluruh tubuhku.

Ada apa?

Alasan untuk itu tidak segera kuketahui, dan aku merasakan seperti ketidaknyamanan yang tak terlukiskan.

“Padahal aku mau melihat hasilnya dengan teliti, tapi kalau begini mah sepertinya aku tidak akan bisa fokus sama sekali.”

Mungkin Ishizaki tidak merasakan ketidaknyamanan itu, dia melihat monitor dan bergumam kesal.

“Apa boleh buat. Itu karena banyak orang ingin mengetahui rincian hasil dari ujian di pulau tak berpenghuni.”

Mendecikan lidahnya dengan frustrasi, Ishizaki tidak punya pilihan selain menatap hasil ujian dari tempatnya berdiri.

Meskipun memiliki kepribadian yang berani, dia sepertinya tetap tidak bisa mendorong seniornya untuk sampai ke depan.

Masalahnya, meskipun itu adalah monitor yang bisa bergulir otomatis, tampaknya juga dapat disesuaikan dengan menyentuhnya dengan tangan untuk melihat peringkat berapa pun, sehingga salah satu siswa tahun ketiga mencobanya dan mulai mengoperasikannya.

Oleh karena itu, hasil teratas yang ingin dilihat Ishizaki tidak mungkin terlihat dalam waktu dekat.

“Jadi bagaimana?”

Bahkan jika kami menunggu di sini untuk sementara waktu, mungkin akan butuh beberapa saat sampai giliran kami datang.

“Aku memang penasaran, tapi tidak perlu sampai menunggunya terlalu lama. Lagian kita bisa melihatnya nanti.”

Itulah yang kukatakan beberapa menit yang lalu... yah, baguslah kalau dia sendiri mengerti itu.

“Ngomong-ngomong, apa kau menyadari sesuatu?”

“Eh? Soal apa?”

Ishizaki yang akan kembali, sepertinya tidak menyadari apa pun.

Suasana aneh ini.

Jumlah tatapan yang tertuju padaku.

Ini bukan sesuatu yang bisa disingkirkan sebagai imajinasi belaka.

Bukan karena Ishizaki yang ada di sebelahku bodoh jadi dia tidak menyadarinya.

Ini karena tatapan itu hanya ditujukan kepadaku, bukan Ishizaki atau siswa lain.

Mereka mengawasi setiap gerakanku dengan niat yang jelas bahkan tidak berusaha menyembunyikannya.

Semua siswa yang menatapku memiliki satu kesamaan, mereka semua adalah siswa tahun ketiga.

Rinciannya masih belum diketahui, tapi satu-satunya yang pasti adalah bahwa Nagumo terlibat dalam hal ini.

Kurasa masalah yang kutunda saat ujian di pulau tak berpenghuni telah mulai bergerak hari ini.

“Ada apa?”

Rupanya, aku berpikir berlebihan sampai membuat Ishizaki mengkhawatirkanku.

“Tidak, bukan apa-apa. Sepertinya banyak siswa lain yang datang untuk melihatnya, jadi ayo kita kembali.”

“Oh, itu benar.”

Aku sudah membayangkan kalau dia pada akhirnya akan melakukan sesuatu, tapi ini sedikit menyusahkan.

Akan jauh lebih mudah jika Nagumo yang datang langsung kepadaku untuk melakukan sesuatu.

Dia sudah membuat langkah pertama karena tidak suka dijatuhkan olehku.

“Hei, kau belum sarapan, ‘kan? Ayo kita makan bareng.”

“Eh? Ya, aku memang belum sarapan, tapi...”

Ketika kami mulai berjalan pergi, siswa tahun ketiga tampaknya tidak mengikutiku.

Sampai akhir sepertinya mereka hanya menatapku.

Rasanya tidak enak untuk ditatap terus menerus.

“Ada apa sih, ngomong kek yang jelas? Apa kau tidak suka makan denganku? Kau pria yang tidak sopan, ya.”

“Bukan begitu. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu yang sedikit tidak ada hubungannya.”

Aku tahu aku tidak bisa melibatkan Ishizaki dengan cara yang buruk, tapi jika mereka tidak mengikutiku, kurasa tidak akan ada masalah.

“Memikirkan sesuatu yang tidak ada hubungannya, bukankah itu juga tidak sopan?”

Kau benar sekali. Mari kita lupakan tahun ketiga untuk saat ini.

“Kau yakin mau makan denganku?”

“Tidak usah dipikirkan, kita hanya makan bersama, bukan?”

Aku tidak dapat menyangkal bahwa aku merasakan tekanan yang kuat darinya, tapi aku tidak merasa buruk sama sekali tentang hal itu.

Aku hanya tidak bisa menyingkirkan kebingunganku tentang fakta bahwa Ishizaki memperlakukanku sebagai temannya.

“Aku tidak tahu apakah aku pernah mengatakan ini sebelumnya, tapi aku tidak mengajakmu makan seperti ini karena aku ingin membawamu ke kelasku, loh. Itu karena aku menyukaimu sebagai temanku.”

Tanpa ragu, Ishizaki mengatakan kalimat yang membuatku merasa tidak enak dalam arti tertentu.

Tapi kemudian, seolah menyadari sesuatu, dia buru-buru melihat ke belakang.

“...Apa jangan-jangan aku mengganggumu?”

“Itu tidak benar.”

“Bagus deh!”

Untuk sesaat, Ishizaki sepertinya bertanya-tanya apakah tindakannya itu egois, tapi dia segera tersenyum dengan wajah ceria. Yah, aku tahu kalau dia memiliki kepribadian seperti ini.

Aku tidak merasa buruk sama sekali, jadi kupikir aku akan pergi bersama Ishizaki.

Saat kami berdua mulai menjauh dari tempat itu, aku mendengar langkah kaki datang dari belakangku dengan berlari kecil.

“Ayanokouji-senpai!”

Pemilik langkah kaki itu adalah Nanase, yang telah bertindak denganku selama paruh pertama ujian di pulau tak berpenghuni.

“Senpai juga datang untuk melihat hasil ujian, ya.”

“Iya. Niatnya begitu, tapi kurasa aku tidak akan bisa melihatnya secara perlahan, jadi aku menyerah.”

“Begitu, ya. Saat ini, semua siswa tahun ketiga sedang mengoprasikan monitor, dan sepertinya akan perlu beberapa saat sebelum kita para junior dapat memeriksanya dengan bebas.”

Rupanya, Nanase juga ingin mengetahui detail dari berbagai hasil ujian, tapi dia menyerah.

Ishizaki melihat percakapan kami dengan rasa ingin tahu.

Kalau dipikir-pikir, Ishizaki belum pernah berkenalan secara langsung dengan Nanase, ‘kan?

“O-oi, Ayanokouji. Sejak kapan kau mengenal gadis seimut ini?”

“Ada banyak hal yang terjadi.”

Sangat merepotkan untuk menjelaskan semuanya dari awal, jadi aku menjawabnya secara ringkas.

“Oi jangan-jangan, kau tidak akan bilang kalau kau sudah berpacaran dengan junior, ‘kan?”

“Itu lompatan yang terlalu jauh, kami hanya sebatas senior dan junior.”

Itu tidak biasa bagiku untuk didorong tentang hal semacam ini.

Kupikir Ishizaki tidak terlalu tertarik dengan topik lawan jenis, tapi ternyata tidak demikian.

“Apa kau ada perlu denganku?”

“Tidak, ketika aku melihat senpai, aku hanya ingin menyapamu.”

Matanya yang lurus bersinar, dan dia tanpa ragu mengatakan sesuatu yang mungkin agak memalukan.

“Maaf sudah mengganggumu. Aku permisi!”

Kupikir dia menghampiriku dengan berlari kecil, tapi kemudian dia pergi ke suatu tempat dengan berlari kecil lagi. Bagian dalam kapal sama dengan lorong, dan menurutku itu bukan tempat yang bagus untuk berlari, tapi yah, itu hampir tidak cukup cepat.

“Dia gadis yang imut, ya. Kau tahu, itunya juga lumayan itulah.”

Maaf, tapi aku tidak akan membahas bagian itunya.

“Kalian benar-benar tidak berpacaran, bukan?”

“Tidak, kami tidak berpacaran.”

Akan merepotkan jika cerita itu menyebar dan menimbulkan kesalahpahaman.

Jadi, sekali lagi, aku dengan tegas mengingatkan Ishizaki tentang penyangkalanku.


***

Catatan:

Bagian akhir baris Ishizaki itu dia menyebut "Are" yang artinya "Itu" dua kali. Jadi aku sesuaikan terjemahannya dengan memunculkan dua kali "Itu", tapi dengan maksud yang berbeda. "Itu" yang pertama adalah payudara, dan yang kedua adalah besar.

Di terjemahan ini aku kurang konsisten dalam menerjemahkan kata "Yukkuri". Aku tahu terjemahan yang paling tepat adalah "perlahan". Tapi dalam baris Ishizaki rasanya kurang pas, jadi aku ganti dengan "Teliti". Sebenernya kurang pas juga sih... mungkin ada saran aku harus terjemahin jadi apa? Kalian bisa kasih saran.

Related Posts

Related Posts

10 comments