-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 4 Chapter 4 Part 3


〇Pengepungan. Kouenji VS Grup Bebas


3


Hasilnya, Kouenji menuju tugas di E3.

Dia mencapai tugas yang diincar dalam sekejap mata dan menerima partisipasi. Dia segera berhenti.

Terlambat beberapa menit, Mikitani dan yang lainnya menyusul Kouenji. Tapi setelah Kouenji satu orang lagi diterima dan kapasitasnya tercapai, maka mereka terpaksa menunggu hingga tugas selesai. Tugasnya adalah tes [Bahasa Inggris]. Ada peserta dari tahun pertama hingga tahun ketiga, tapi level soalnya disatukan.

Hasilnya, Doudou yang dianggap berbakat bahkan di tahun ketiga, menempati peringkat pertama, tapi Kouenji menempati peringkat kedua dengan selisih kecil. Hasilnya adalah 4 poin diberikan.

Karena mata para guru, Mikitani dan yang lainnya dari tempat yang jauh dari tugas dilakukan langsung ke tempat Kouenji, tapi Kouenji berlari sebelum mata pengawas tersebut menghilang.

Mereka dipaksa bersusah payah hanya untuk mengejar Kouenji, yang memiliki kecepatan yang tak bisa mereka kejar.

Kali berikutnya Kouenji dikepung sebelum pukul 15.00 saat dia tiba di area yang ditunjuk untuk ketiga kalinya.

Mikitani dan yang lainnya berhasil memburu untuk ketiga kali.

“Kalian ternyata cukup ngotot juga, ya.”

“Kami tidak bisa berpura-pura lagi!”

Pada hari ke-11, sebagai hasil dari upaya untuk mendahului tugas, mereka tak bisa menghentikannya sekali pun.

Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa kebanggaan sebagai siswa tahun ketiga sudah hancur berkeping-keping.

Dan Nagumo akan sangat kecewa mengetahui hasil ini.

Kata ramah sudah tidak ada lagi artinya dalam hal ini.

“Ini peringatan terakhir Kouenji.”

Kiriyama yang memiliki grup bebas mengepung Kouenji, memberitahunya begitu.

“Besok satu hari saja. Turuti kami dan jangan lakukan apa pun. Itu saja.”

Jika mereka menahannya selama sehari, dengan itu saja Nagumo pasti akan menjauh sambil tetap di peringkat pertama.

Yang penting jangan biarkan Kouenji menempati peringkat pertama lagi.

“O-Oi, kata Nagumo tahan dia selama dua hari...! Bukankah kita harus melakukannya besok dan lusa?”

“Lusa, kita tidak akan bisa melihat grup teratas lagi. Aku tidak berpikir ada grup yang akan mengejar, tapi kita harus fokus pada peningkatan skor kita daripada menahan seseorang.”

Ini adalah kebijaksanaan Kiriyama ketika dia melihat situasi Kouenji dari dekat.

“Tidaklah baik menghabiskan total tiga hari untuk Kouenji.”

“Kalau begitu, tinggalkan saja pengawas minimum dan menahannya selama dua hari!”

“Apa menurutmu Kouenji akan menerimanya?”

Ada kemungkinan besar Kouenji akan mampu mempertahankan peringkat dua atau tiga teratas hanya dengan satu hari.

Tapi jika dibiarkan tanpa pengawasan selama dua hari, ada risiko terjatuh dari podium.

“Tidak mungkin dia mau menerima untuk kalah dengan patuh.”

“Itu tergantung bagaimana kau melakukannya.”

Mikitani, yang mengikuti Kiriyama dengan ketidakpuasan sejauh ini, memberontak.

“...apa kau pikir kau bisa melakukannya?”

“Tentu bisa. Jika aku bisa melakukannya, siapkan tiket ke kelas A untukku.”

Dengan mengatakan itu, Mikitani melangkah maju untuk mendorong Kiriyama menjauh.

Lalu dia mengalihkan kata-katanya ke Kouenji.

“Kau sudah mendengarnya, ‘kan. Besok dan lusa, aku minta kamu untuk tinggal di sini.”

“Apakah itu permintaan?”

“Tidak, ini perintah.”

“Itu adalah permintaan yang tak bisa kuturuti, tapi bagaimana kalau aku menolak?”

“Yang terburuk kau akan dikeluarkan dari sekolah”

Mengatakan itu, Mikitani membawa beberapa temannya mendekati Kouenji.

Jika tidak bisa diselesaikan dengan kata-kata, sangat jelas bahwa itu akan diselesaikan dengan kekerasan.

Bahkan setelah diancam, Kouenji tidak menghentikan senyumnya yang tak kenal takut dan melihat apa yang dilakukan siswa tahun ketiga.

“Karena kau tidak menjawab, artinya kau akan mematuhinya, ‘kan?”

“Aku tidak mematuhi siapa pun.”

“Kalau begitu, akan kubuat kau mematuhinya. Tidak apa-apa, ‘kan? Kiriyama.”

“Asalkan Kouenji mematuhinya, aku serahkan padamu.”

Mikitani mempertahankan postur percaya dirinya seolah dia tertawa menghina.

Tapi, Kouenji berdiri tepat ketika area yang ditunjuk terakhir pada hari ke-11 diumumkan.

Melihat itu, Mikitani pun langsung memberikan instruksi tersebut dan bergegas menghalanginya.

“Sudah kubilang. Aku menyuruhmu untuk tinggal di sini.”

Jaraknya sangat dekat sehingga kulit mereka saling bersentuhan, jadi satu-satunya cara bagi Kouenji untuk bergerak adalah dengan mendorong siswa kelas tiga dengan paksa.

“Ini bukan situasi yang indah. Aku tidak suka pria yang maskulin.”

“Lalu bagaimana? Jika kau melakukan sesuatu yang membuatku terdorong, aku anggap itu sebagai pernyataan perang.”

“Fufu, begitukah?”

Kouenji maju satu langkah sambil tertawa.

Tentu saja, satu langkah besar itu cukup untuk menyentuh Mikitani di depannya.

Tapi, tidak ada ayunan untuk mencoba mendorong paksa dengan tangannya.

Tapi, sejak dia mulai berjalan normal, bahu mereka bertabrakan satu sama lain.

Singkatnya, dia mencoba menerobos dengan paksa tanpa mengangkat tangan.

Tidak sulit untuk menyingkirkannya, tapi Mikitani yakin bahwa dia akan tetap berdiri karena kondisi fisiknya yang baik. Kesempatan untuk membuktikan bahwa kecepatan dan kekuatan adalah dua hal yang berbeda.

“huh!”

Tapi, Mikitani merasa seolah batu besar perlahan-lahan menabraknya, dan saat dia menyadarinya, dia terpaksa bergerak ke samping untuk memberi jalan.

Di sisi lain, Kouenji tampak seolah tidak menabrak hambatan dan mulai berjalan dengan tenang.

“Brengsek, tunggu!”

Mikitani segera meraih bahu Kouenji, tapi dia tidak bisa menghentikannya dengan kekuatan setengah hati.

Jika Kouenji dibiarkan pergi begitu saja di sini, perkembangan bodoh itu akan terulang lagi.

Mikitani melawan, tapi kaki Kouenji tidak berhenti.

Mikitani, yang memperlihatkan situasi seperti itu pada Kiriyama, menoleh setelah mendecakan lidahnya.

Dia memanggil satu teman dan mencoba untuk menghentikan Kouenji dengan dua orang.

Morooka yang diseret untuk menghentikannya, kehilangan keseimbangan.

Kemudian dia terjatuh secara berlebihan dan menunjukkan gerakan pura-pura kesakitan.

Begitu melihatnya, Mikitani berputar ke depan dan dengan paksa menghentikan langkah Kouenji.

“Hei! Mungkin lengannya patah!”

Morooka berteriak seperti tipu daya pemain sepak bola.

“Sepertinya kau sudah melakukan sesuatu buruk, Kouenji. Morooka sampai terluka tuh.”

“Ini seperti kecelakaan yang dipentaskan, ya.”

“Terserah apa katamu, fakta bahwa kau mendorong Morooka tidak berubah.”

Hanya untuk membalikkan keadaan posisi semua orang dan mengurung Kouenji agar tidak melarikan diri sama sekali.

Strategi sederhana sampai sekarang telah mengintai.

“Sepertinya ini telah menjadi perkembangan yang tidak bisa aku abaikan, apa yang harus kulakukan, ya?”

“Bahkan jika kau memukul kami para senpai, teruskan saja kami tidak akan melawan. Tapi, jika kau memukul kami secara sepihak, itu akan menjadi masalah besar, bukan?”

Dia memberi peringatan sebelumnya, bahwa tidak seharusnya mereka mengangkat tangan.

Tapi, Kouenji terus mengejar Mikitani tanpa menyangkalnya.

“Aku tidak akan memaafkan manusia yang menghentikan gerakanku, apalagi yang berani melawanku.”

Ekspresi Mikitani membeku sesaat menanggapi jawaban bahwa dia bersedia melakukan kekerasan.

“Bagaimana jika kami melapor ke pihak sekolah?”

“Bagaimana apanya, bukankah hanya nama kalian siswa tahun ketiga yang berusaha menenggelamkan kohainya yang akan ditandai dengan noda?”

Tidak perlu untuk memastikan bahwa jam tangan Mikitani dan yang lain berfungsi dengan baik. Jika tidak, tujuan untuk memasuki tugas sebelum Kouenji itu sendiri tidak akan ditetapkan.

“Boleh aku segara pergi? Berkat aku meladeni kalian, hingga menurunkan peluangku mendapat hadiah urutan kedatangan.”

Lebih dari 10 menit telah berlalu sejak area yang ditunjuk diumumkan.

Para saingan satu per satu pergi menuju ke area yang ditunjuk di mana Kouenji harus tuju.

Ada kemungkinan besar peringkat pertama akan diamankan dari sini, tapi tidak jelas apa yang akan terjadi.

“Maaf, tapi... aku tak bisa membiarkanmu pergi.”

Dengan tekad yang kuat, Mikitani mengatakan kalau dia tidak akan segan-segan untuk berurusan dengan Kouenji.

“Kami juga tidak bisa bersikap baik kepadamu selamanya.”

“Apa itu berarti kau mau melawanku?”

Sejauh ini, para siswa tahun ketiga dibuat bingung dengan suasana Kouenji, tapi mereka ingat peran mereka. Meskipun mereka mengerti bahwa itu adalah sosok yang menyedihkan karena mengepung dengan banyak orang untuk menghadapi seorang kohai, mereka tidak bisa berpura-pura peduli jika itu adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup.

Biasanya, pihak lain juga menyadari bahwa tidak akan ada masa depan baginya, tapi Kouenji berbeda.

Seorang pria yang tak tertarik pada apapun selain dirinya sendiri, hanya memikirkan bagaimana menangani situasi ini agar menjadi perkembangan yang indah. Seorang pria berambut pirang berkilau seperti wanita yang sangat terawat bahkan dalam kehidupan di pulau tak berpenghuni. Dia menyentuh poninya yang sedikit mengganggu dengan lembut dan tersenyum.

Apalagi, Mikitani yang sempat ketakutan sesaat mengambil jarak.

“Time is money, cepat majulah.”

Kouenji yang siap menyambut, perlahan merentangkan tangannya dan menunjukkan isyarat untuk menerima serangan dari siswa tahun ketiga.

“Ini akan baik-baik saja, ‘kan, Mikitani? Kita serius akan melakukannya.”

“...Ya. Dalam keadaan darurat, aku hanya akan memeluk Kouenji dan jatuh. Ayo kita lakukan!”

Di saat yang sama dengan teriakan itu, tiga siswa bergegas menuju Kouenji sekaligus.

Karena satu orang menangkap dari belakang, dua lainnya dari depan dan samping kiri.

Pada pandangan pertama, tampaknya sulit untuk menanganinya karena mereka melompat pada saat yang bersamaan, tapi ketiga orang ini tidak terlalu terbiasa berkelahi, juga tidak berhubungan dekat satu sama lain.

Mereka hanya mencoba untuk bersaing dengan Kouenji pada waktu yang sama.

Tidak ada yang serius mencoba untuk memukul, tapi jika ada, fokus pemikirannya diserahkan kepada orang lain.

Kouenji menghindari semuanya dengan langkah-langkah brilian dan membuat para siswa tahun ketiga terkejut bertabrakan satu sama lain.

“Ah, woi hati-hati!”

“Kau juga!”

Ini jauh dari kombinasi yang indah. Siswa tahun ketiga mengeluh sehingga bisa bertengkar satu sama lain.

“Kalian, jangan melupakan tujuan kita, target kita adalah Kouenji.”

Mikitani yang terbiasa bertarung di sini, memanggil teman-temannya yang hendak merusak diri mereka sendiri.

Related Posts

Related Posts

2 comments