-->
olNGIb4NkK5r2x7x4oG3GpEzizVpnY6KNCck9cym

Cari Blog Ini

Danmachi Volume 16 Monolog 1


Danmachi Volume 16 Bahasa Indonesia

Monolog 1

***


Hari ketika aku menarik perhatian seorang Dewi sendirian tanpa ada yang tahu, aku membuat [negosiasi].

Itu adalah [perjanjian rahasia], [kontrak], dan pada saat yang sama [konfrontasi].

Aku mengakui perasaanku yang sebenarnya pada sang Dewi.

——Saya juga jatuh cinta pada [nya].

——Karena keinginan anda, saya jatuh cinta pada [anak itu].

Terhadap pengakuanku, Dewi memiliki ekspresi terkejut yang biasanya tidak dia tunjukkan.

[Itu tidak terduga.]

[Jadi begitu, ya]

Bergumam begitu, dia mengakuinya.

Begitu aku berhasil membuatnya mengerti, aku menyampaikan isi [negosiasi] nya.

Lagipula, aku adalah [palsu].

Aku sadar bahwa aku adalah [alat] nya.

Tapi, aku memohon, agar dia mau berbagi hari di [Pesta Panen Raya] denganku.

——Saya ingin pertarungan yang adil dengan anda dan melihat siapa yang akan memenangkan hatinya.

——Kumohon, beri saya kesempatan juga.

Tak tahu malu. Sombong dan kurang ajar.

Aku mengerti semua itu, tapi aku tidak bisa menyerah.

Jarum jam tidak bisa berputar balik. Jika aku melewatkan kesempatan ini, aku akan menyesalinya selama sisa hidupku.

Sementara butiran keringan menetes di pipiku, aku tidak mengalihkan pandanganku dari mata Dewi itu.

Mendengar permohonanku, dia menutup mulutnya dan merenungkannya di atas singgasananya.

Dewi tidak tahu.

Mengenai [Rencana] ku.

Tindakan itu sama dengan pengkhianatan.

Namun, tetap saja.

Bahkan jika itu adalah keinginan yang berlebihan untuk tubuh bodoh ini.

Aku ingin mewujudkan [keinginan] gila ini——.

Pada akhirnya, apakah permohonanku tersampaikan?

Dia mengatakan padaku akan menerima [negosiasi] ku dengan sebuah [persyaratan].

——Kalau [kebohongan]mu terbongkar, akui kekalahanmu.

——Pada saat itu, kau tidak boleh melakukan apapun pada anak itu lagi.

——Kau tidak boleh muncul di depan anak itu lagi.

Tidak ada benar atau salah. Lagipula, aku tidak punya hak untuk memilih.

Pada tiga jari terangkat, aku menunjukan persetujuanku.

[Semoga berhasil.]

Sang Dewi tersenyum.

Lalu dia menyipitkan matanya secara provokatif.

[Aku juga akan menikmati pestanya dengan sepenuh hati.]

Bagaimanapun, aku hanya bisa mengangguk dalam-dalam.


Ini adalah pertarungan yang adil.

Bahkan jika Dewi, yang tak bisa dibantah, menempatkan persyaratan padaku, ini adalah [negosiasi] yang ku usulkan padanya, dan aku tidak boleh membuat kesalahan.

Jarum jam sudah mulai berputar.

Aku punya satu perasaan di hatiku.

Kumohon, semoga [keinginan] ku menjadi kenyataan——.

Related Posts

Related Posts

Post a Comment