-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 4.5 Bab 2 Intro Indonesia


Bab 2
Awal dari Liburan Singkat Ini


Kehidupan di pulau tak berpenghuni hari demi hari pasti terasa seperti waktu yang lama bagi kebanyakan siswa.

Sebaliknya, satu hari yang dihabiskan di kapal pesiar mewah berlalu dalam sekejap, seperti kilatan cahaya.

Kenapa aliran waktu bisa begitu berbeda dalam periode 24 jam yang sama?

Mungkin faktor terbesarnya adalah karena kau tidak terlalu memikirkan waktu hampir sepanjang hari. Selama kehidupan sekolah normal atau saat ujian khusus, kau cenderung sering memikirkan waktu. Di sisi lain, pada hari libur, perbedaannya lebih terasa karena kau lebih sering tidak memikirkan waktu.

Hari kedua liburan yang sangat meriah.

Jumlah para siswa yang saling berpapasan di koridor kapal meningkat drastis, seolah-olah banyak dari mereka yang akhirnya bisa melupakan rasa lelahnya dan mulai menikmati liburan mereka dengan sungguh-sungguh. Dan di saat aku menghabiskan sebagian besar waktuku sendirian dengan tenang, aku menerima email ajakan untuk bermain dari seseorang yang sedikit tidak terduga.

Pengirimnya adalah wakil ketua OSIS Kiriyama dari kelas B tahun ketiga. Dia ingin kami bertemu di kolam renang, tapi aku bertanya-tanya apakah tujuan dia untuk memperdalam persahabatan kami dengan mengobrol dengan anggun di atas pelampung atau bermain voli pantai bersama.

Dan prediksi yang tidak mungkin terjadi itu langsung kusingkirkan dari pikiranku.

Panggilan ini pastilah jauh dari ajakan bermain yang sebenarnya, meskipun lokasinya adalah kolam renang.

Tentu saja, aku bisa menolak ajakannya. Atau aku bisa memilih untuk mengabaikannya. Tapi bisa saja setelah itu dia akan memanggilku di suatu tempat. Bergantung pada situasinya, panggilan itu bisa berada di tempat yang lebih tidak menyenangkan daripada sekarang.

Aku mengirim pesan singkat ya dan berjanji akan pergi pada waktu yang ditentukan. Karena aku menilai bahwa akan lebih sedikit kerugian yang kuterima untuk dipanggil sendirian sekarang daripada nanti.

Selain itu, ada kemungkinan besar bahwa aku bisa memecahkan misteri tatapan terus menerus yang kurasakan dari siswa tahun ketiga kemarin.

“Kiriyama, ya...”

Saat ini, aku sedang berada di ruang istirahat dekat fitness gym.

Aku berada di depan monitor yang menampilkan hasil ujian khusus.

Mungkin banyak siswa sudah selesai memeriksa hasil ujian mereka, jadi sekarang aku sendirian.

Jumlah guru yang mengawasi hasil ujian juga telah berkurang menjadi satu.

Hasil ujian secara umum sudah tertanam di otakku, tapi ketika aku menggulir dan menampilkan hasil dari peringkat teratas sekali lagi, aku fokus pada hasil grup Kiriyama.

Peringkat keseluruhan yang diumumkan di depan seluruh grup, adalah grup Kouenji Rokusuke di peringkat pertama, grup Nagumo di peringkat kedua, dan grup Sakayanagi di peringkat ketiga, tapi grup Kiriyama ada di peringkat keempat, dan perbedaan skor mereka hanya enam poin dengan total skor 255 poin. Dengan kata lain, Sakayanagi mampu mengambil podium di saat terakhir.

Perbedaan antara peringkat ketiga dan keempat lebih dari sekadar perbedaan peringkat.

“Tentu saja, sebagai siswa tahun ketiga, itu pasti membuatnya merasa frustrasi.”

Nagumo melewatkan peringkat pertama dan Kiriyama melewatkan podium.

Selain itu, semua siswa yang dikeluarkan adalah siswa tahun ketiga, yang merupakan situasi yang tidak biasa.

Karena aku masih punya waktu sekitar 20 menit sebelum waktu yang dijanjikan, aku memutuskan untuk muncul di tepi kolam renang terlebih dahulu. Ini juga untuk memastikan bahwa tatapan itu bukan hanya kesadaran diriku yang berlebihan, tapi ada semacam siasat yang sedang bekerja.

Bukan lagi soal mengamati dan mengawasi secara perlahan, mereka ingin segera mengetahui jawabannya.

Dalam waktu puluhan detik setelah muncul di kolam renang, aku sudah ditatap oleh para siswa tahun ketiga yang jumlahnya tidak diketahui yang ada di berbagai tempat.

Para siswa yang asyik mengobrol dan siswa tahun ketiga yang sedang berenang, begitu mereka menyadari kehadiranku, mereka mulai mengamatiku.

Artinya tatapan yang kurasakan kemarin bukanlah kebetulan belaka.

“Bukankah terlalu dini untuk membuktikan apa pun?”

Sebaliknya, ini adalah perasaan tidak nyaman yang begitu kuat sehingga aku merasa ingin mengeluh.

Aku seharusnya hanya salah satu dari siswa tidak menonjol di sini, tapi aku malah lebih menonjol daripada mereka.

Meskipun aku berusaha untuk tidak memikirkannya, aku secara alami mencoba mencari tahu motif mereka yang sebenarnya di balik tindakan itu.

Kemungkinan besar ini instruksi dari Nagumo, tapi saat ini aku tidak tahu untuk apa itu. Sementara banyak siswa menatapku dengan jelas, aku terus berpura-pura tidak menyadari apa pun.

Karena lebih mudah untuk berakting seperti orang bodoh dan tidak peka. Tapi, aku bisa dengan mudah membayangkan bahwa Nagumo berasumsi bahwa aku akan menyadari kumpulan tatapan aneh ini. Selain itu, aku tidak akan terkejut jika dia senang melihat ku sebagai pusat perhatian.

Bagaimanapun, hal terbaik yang harus dilakukan untuk saat ini adalah mengabaikan tatapan mereka dan menghabiskan waktu di sini.

Saat aku melihat sekeliling kolam renang sebentar untuk melihat siapa lagi yang ada di sini selain siswa tahun ketiga, aku melihat Ichinose dan beberapa teman sekelasnya. Secara kebetulan, Ichinose adalah orang pertama yang menyadari kehadiranku dan mata kami bertemu.

Bahunya sedikit tersentak dan dia bersembunyi di bayang-bayang teman sekelasnya yang lain untuk melarikan diri. Teman sekelasnya bertanya padanya “ada apa?” terhadap gerakannya yang tiba-tiba dan tidak biasa.

Setelah pengakuan Ichinose kepadaku di ujian di pulau tak berpenghuni.

Tidak heran jika hanya saling memandang dari kejauhan seperti ini membuatnya merasa canggung.

Kalau saja hanya Ichinose, tapi teman sekelasnya juga ada di sana, jadi mari kita jaga jarak untuk saat ini.

Dan bahkan jika aku meninggalkannya sendirian, kami sudah membuat janji untuk bertemu lusa.

Aku melihat beberapa teman sekelasku di sana-sini, tapi sayangnya aku tidak dapat menemukan satu pun dari mereka yang sangat dekat denganku.

“Sepertinya kau mulai mendapat banyak masalah, Ayanokouji.”

Aku mengalihkan pandanganku untuk melihat sosok Kiryuuin sedang bersantai di salah satu kursi pantai yang ada di deck ketika dia memanggilku dari sedikit di depanku.

“Apa yang sedang kamu bicarakan?”

“Tentang siswa tahun ketiga. Tidak mungkin kamu tidak menyadarinya, bukan?”

“Aku tidak begitu mengerti.”

Aku mencoba untuk bermain bodoh, tapi Kiryuuin bahkan tidak mendengus sambil melanjutkan dengan acuh tak acuh.

[Ilustrasi]

“Meskipun aku tidak terlibat, aku juga siswa tahun ketiga. Aku setidaknya pernah mendengar beritanya.”

“Apa mungkin kau mengacu pada cara mereka menatapku?”

“Tuh kan kamu tahu.”

“Lagian itu bukan masalah besar. Aku hanya sedang diawasi, itu saja.”

“Itu saja, ya.”

Aku menyatakan bahwa aku tidak peduli, tapi bukan itu masalahnya, kata Kiryuuin.

“Sepertinya salah satu siasat paling menakutkan bagiku, bukan? Khususnya untuk tipe orang sepertimu, itu akan sangat merepotkan.”

Meskipun untuk mengejekku, ucapan Kiryuin tidak terlalu jauh dari kebenaran.

“Seperti yang diharapkan dari ketua OSIS. Dia telah memainkan kartu yang aneh tapi efektif untuk melawan dirimu yang sempurna tanpa cacat.”

“Disebut sempurna tanpa cacat, berlebihan adalah kata yang tepat untuk itu.”

“Jangan rendah hati gitu. Kita pernah berada di ambang kematian bersama meski hanya sekali, dan aku tahu kau memiliki kemampuan tanpa dasar. Bukankah begitu?”

Mata yang mengintai di bawah kacamata hitamnya tajam dan menusuk.

Bahkan jika aku terus menyangkalnya, ada begitu banyak siswa di sekitarku sehingga aku tidak pernah tahu kapan suara kami akan di dengar.

Aku yakin Kiryuuin juga pasti mempertimbangkan lingkungan sekitar.

“Baiklah, aku akan mengakuinya untuk saat ini.”

“Fufu, itu bagus. Sekarang kembali ke topik, apakah terjadi sesuatu dengan Nagumo di tahap akhir ujian? Karena setidaknya sampai akhir ujian di pulau tak berpenghuni, tidak ada perintah yang dikeluarkan untuk siswa tahun ketiga.”

“Aku tak bisa mengatakan bahwa aku... sama sekali tidak ingat pernah melakukan sesuatu hingga dia menyimpan dendam padaku, ini membuatku frustrasi.”

Kiryuuin yang sudah merasa nyaman dengan posisinya sejauh ini, mengangkat punggungnya sedikit.

“Dalam hal kekuatan individu, seorang pria bernama Nagumo Miyabi memiliki kemampuan kelas atas bahkan di sekolah ini. Kemampuan Akademik A, Kemampuan Fisik A, Kemampuan Berpikir Cepat A+, Kontribusi Sosial A+. Tanpa cela.”

“Aku tahu. Karena sejauh menyangkut OAA, dia nomor satu di semua tahun ajaran tanpa diragukan lagi.”

Ada beberapa siswa, seperti Sudou dan Kiryuuin, yang memiliki nilai A+ dalam satu kemampuan.

Tapi, Nagumo adalah satu-satunya siswa dengan semua nilai A atau lebih tinggi, dan jumlah siswa yang memperoleh dua atau lebih nilai A+ sangat terbatas.

“Dengan kemampuan akademik dan kekuatan fisik yang pada dasarnya tinggi, karisma untuk menyatukan tahun ajaran, dan prestasi yang membawanya ke posisi ketua OSIS, Nagumo tidak dikaruniai musuh di antara teman-temannya. Horikita Manabu adalah satu-satunya di sekolah yang diakuinya memiliki kemampuan yang setara dengannya, tapi sudah tidak ada karena sudah lulus.”

Kiryuin menarik napas dan mengambil gelas di atas meja.

“Aku yakin kau tidak lebih dari sekedar mainan bagi Nagumo. Namun, sesuatu yang terjadi selama ujian di pulau tak berpenghuni tampaknya telah memicu dia untuk menghadapimu dengan serius.”

“Lebih baik jika dia membiarkanku sendiri.”

“Jika demikian, itu berarti kau sudah membuat kesalahan di suatu tempat.”

Kiryuuin tak henti-hentinya mengatakan sesuatu yang membuat telingaku sakit.

“Mungkin hanya ada sedikit orang yang bisa mengalahkanmu satu lawan satu. Aku sendiri adalah orang yang terampil, tapi jika ada satu tipe orang yang sulit kutangani, itu mungkin seseorang sepertimu, Ayanokouji. Tetapi dalam kasus Nagumo, sifat kalian benar-benar berbeda. Aku pikir tipe orang yang sulit kau tangani adalah dia. Bagaimana menurutmu?”

“Aku tidak dapat menyangkal kemungkinan itu. Aku sudah salah menilai sifat aslinya.”

Mereka hanya menatapku. Aku tidak menyangka itu akan membuatku begitu stres dan jijik. Bahkan di White Room, selalu ada mata yang mengawasi, tapi ini sama sekali berbeda.

Dengan kata lain, aku dipaksa untuk hidup di lingkungan yang belum pernah aku alami dalam hidupku.

Terlebih lagi satu-satunya cara untuk melarikan diri adalah dengan mengurung diri, tapi itu juga bukan solusi yang realistis.

“Kurasa begitu. Nagumo cenderung lebih menyukai gerakan, cara menang, dan pertarungan satu lawan satu yang mencolok. Namun, dia akan menggunakan siasat apa pun yang bisa dia pikirkan untuk memastikan kemenangan. Artinya, bahkan jika harus memobilisasi seluruh tahun ketiga. Terlepas dari apakah itu tipuan atau bukan, prioritasnya adalah untuk menang pada akhirnya.”

Apakah itu berarti tindakan memusatkan tatapan banyak orang hanyalah permulaan?

“Maaf, tapi aku tidak bisa membantumu dalam masalah ini loh.”

Mengatakan itu, dia memakai kacamata hitam yang dia kenakan di dahinya.

“Satu kata pun aku tidak pernah mengatakan aku ingin mengandalkanmu kok.”

Kiryuuin menolak untuk bekerja sama seolah-olah dia mencoba mendahuluiku.

“Aku bebas melakukan apapun yang kuinginkan selama tiga tahun terakhir, tapi... aku memiliki sedikit penyesalan dalam kehidupan sekolahku. Jika sekolah ini memiliki sistem retensi, aku mungkin akan mempertimbangkannya.”

Retensi, artinya mengulang proses pembelajaran di kelas yang sama tanpa naik kelas.

Singkatnya, tinggal di kelas.

“Jadi kau ada di sini Ayanokouji?”

Saat aku dan Kiryuuin melanjutkan percakapan kami, wakil ketua OSIS Kiriyama muncul sendirian. Kiriyama, yang memberikan kesan serius, tampaknya telah tiba jauh lebih awal dari yang dijanjikan. Setelah melirik Kiryuuin yang sedang bersantai di sampingku, dia menatapku lagi.

“Masih ada sedikit waktu sampai waktu yang dijanjikan, tapi kau tidak keberatan kalau kita mulai saja, bukan? Tempat ini kurang bagus, ayo kita pindah.”

“Kurasa itu berarti kau tidak ingin aku mendengar pembicaraan kalian, ya, Kiriyama?”

Kiryuuin mengatakan bahwa dia tidak bisa membantuku, tapi sepertinya dia tertarik dengan apa yang akan kami bicarakan.

Dia menaikan kembali kacamata hitam yang dia kenakan sebelumnya.

“Karena tempat ini hanya menarik terlalu banyak perhatian. Aku lebih suka bicara di tempat yang sepi jika memungkinkan.”

Area tepi kolam renang adalah yang paling populer, sehingga banyak siswa yang tinggal di sana.

Yah, entah kenapa, hanya kursi di sebelah Kiryuuin yang kosong, tapi kurasa aku tidak perlu mengejar poin itu terlalu dalam. Entah bagaimana duduk di sana rasanya tidak nyaman, bukan?

“Sungguh menggelikan kau mengatakan tempat ini menarik terlalu banyak perhatian. Itu kontradiksi loh, Kiriyama.”

“Apa?”

“Kalau kau ingin bicara di tempat yang sepi, tidak masuk akal untuk memilih tempat pertemuan di kolam renang tempat banyak orang berkumpul. Apakah aku salah?”

“Kalau begitu, kau ingin aku memberitahumu dari awal bahwa aku tidak ingin bicara di sebelahmu karena itu membuatku depresi?”

Kiriyama menjawab seolah-olah dia akan muntah saat Kiryuuin memanas-manasinya.

Ekspresi wajahnya pada saat itu benar-benar mati, tanpa warna emosi apa pun.

Ini memberitahu kita bahwa dia sudah sering direpotkan oleh Kiryuuin dalam banyak kesempatan.

“Aku mengerti, jadi aku sudah mengganggumu, ya.”

Setiap kali pembicaraan dimulai, selalu berputar di sekitar Kiryuuin.

Kiriyama membuat langkah pelarian karena dia membencinya, tapi ternyata itu malah membuat Kiryuuin bisa ikut campur, ya.

“Sementara itu, kenapa kau tidak memberi tahuku apa yang akan kalian bicarakan nanti?”

“Aku menolak. Ini sama sekali tak ada hubungannya denganmu.”

“Tak ada hubungannya? Aku tidak tahu bagaimana kau bisa menganggap aku tak ada hubungannya.”

“Apa katamu?”

“Aku dan Ayanokouji adalah sepasang kekasih. Jika demikian, bagaimana bisa kau bilang aku tak ada hubungannya?”

Eh?

Sebelum reaksi itu bocor, Kiriyama menatapku dan Kiryuuin secara bergantian dengan ekspresi terkejut di wajahnya.

“Fufu, aku hanya bercanda loh, Kiriyama. Kau pria yang membosankan, tapi reaksimu terkadang lucu.”

Kiriyama terlihat sangat marah saat melihat Kiryuuin tertawa geli.

Dia pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Kurasa dia ingin aku meninggalkan Kiryuuin sendirian dan mengikutinya.

“Karena aku tidak bisa mengabaikannya, aku akan pergi sekarang, Kiryuuin-senpai.”

“Tolong sampaikan salamku untuk Kiriyama.”

Jangan minta aku lakukan itu sih. Dia pasti tidak ingin mendengar nama Kiryuuin, bahkan jika orangnya tidak ada di sana.

Aku mengikuti Kiriyama yang berjalan di depanku, sampai di deck satu lantai lebih tinggi tempat kami bisa melihat ke bawah ke arah kolam renang.

Tempat ini relatif sepi, dengan banyak siswa berjemur atau istirahat tidur siang.

Meski begitu, itu masih cukup banyak siswa, dan sebaliknya, percakapan kami bisa mencolok.

Tapi, tidak ada siswa tahun ketiga, menunjukkan bahwa Kiriyama telah mengusir mereka.

Dalam hal ini, kurasa siswa tahun pertama dan kedua tidak akan peduli dengan percakapan antara aku dan Kiriyama. Anugrah lainnya adalah tidak ada yang menungguku, dan aku berbicara satu lawan satu dengan Kiriyama.

“Jadi, ada perlu apa kau sampai repot-repot memanggilku?”

“Aku tidak akan berputar-putar. Pada hari terakhir ujian di pulau tak berpenghuni, apa yang kau lakukan pada Nagumo, Ayanokouji?”

“Apa maksudmu, [apa]?”

“Jangan bodoh. Jelas bahwa kau ada hubungannya dengan hasil ujian di pulau tak berpenghuni.”

Apakah dia tahu bahwa pada hari terakhir ujian di pulau tak berpenghuni, ketika aku dan Nagumo bertemu, sedang berlangsung rencana untuk menekan Kouenji?

Aku mendengarnya bocor dari transceiver. Tidak heran jika Kiriyama mengetahuinya.

“Aku tidak keberatan menjawabnya, tapi bisakah kau menjawab pertanyaanku terlebih dahulu?”

“Pertanyaan katamu?”

Ya. Ketika aku mendapat panggilan ini, ada sesuatu yang ingin aku pastikan.

Kiriyama menatapku dengan curiga, dan aku melanjutkan.

“Aku sudah bertanya-tanya sejak aku pertama kali bertemu denganmu, wakil ketua OSIS Kiriyama. Pada awalnya, tampaknya kau bergerak untuk mengalahkan Nagumo, tapi pada tahap apa kau meninggalkan pertarungan... apa kau sudah menyerah?”

Jika Kiriyama mengharapkan kejatuhan dan kekalahan Nagumo, maka insiden ini seharusnya disambut baik.

“Menyerah? Aku tidak tahu apa yang kau maksud. Pertarungan pribadiku masih berlangsung.”

“Benarkah itu? Kok tidak terlihat seperti itu ya bagiku.”

Setelah aku menyangkalnya, Kiriyama sepertinya langsung mengerti apa yang aku kejar.

“Kau sepertinya mengira kalau aku berada di pihak Nagumo, tapi itu tidak benar. Perubahan rencana Nagumo mulai berdampak negatif padaku dan sekelilingku. Aku yakin sudah memberitahumu sebelum ujian di pulau tak berpenghuni untuk jangan menghalangiku.”

Satu kalimat itu adalah rangkaian kata-kata penyangkalan yang sangat biasa diucapkan oleh Kiriyama.

Tapi, yang namanya manusia itu sering membuat pernyataan kecil yang salah tempat.

“Itu interpretasi yang luas. Aku hanya berbicara tentang apakah kau mundur dari pertarungan atau tidak, tapi Kiriyama-senpai tampaknya sangat menyadari aspek apakah kau berada di pihak ketua OSIS atau tidak.”

“...Kurasa itu hal yang sama.”

“Mengakui kekalahan dan menyerang lawan adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Keduanya benar-benar tidak sama. Aku yakin wakil ketua OSIS tahu akan hal itu.”

Orang-orang sombong yang mengkategorikan diri mereka sebagai superior berpikir bahwa mereka tidak akan membuat kesalahan. Karena itu, jika kau bertanya kepada mereka sebelumnya, “Kau kan superior, jadi kau pasti benar, ‘kan?” maka mereka akan lebih sulit untuk mengakui kesalahan mereka.

“Apa yang kau coba katakan?”

Tanpa mengakui atau menyangkalnya, Kiriyama mencoba untuk memajukan pembicaraan.

Karena pilihan termudah yang bisa diambil pria ini sekarang adalah melewatinya.

“Sederhananya, aku hanya ingin bertanya di posisi mana kau berada. Meskipun sudah menyerah bertarung, apakah kau masih menjadi musuh Nagumo? Atau kau bekerja untuk Nagumo? Lagipula, itu adalah kasus yang dipercayakan Horikita Manabu kepadaku.”

Ekspresi Kiriyama mengeras, seolah-olah dia sudah lama tidak mendengar nama Manabu.

“...Itu benar.”

Mungkin dia ingat pertama kali kami bertemu.

“Kalau dipikir-pikir, hubunganmu denganku, Nagumo, dan Horikita-senpai———intinya, kau adalah seseorang yang tidak tertarik dengan OSIS. Dalam hal ini, kau bukan orang yang tepat untuk dilibatkan.”

Dia meletakkan tangan kirinya di pegangan tangan dan mencengkeramnya dengan kuat.

“Memang benar aku berencana untuk mengalahkan Nagumo. Kalau kami tidak mengalahkannya, tidak mungkin kelas kami muncul kembali sebagai kelas A. Tapi, semangat itu berangsur-angsur memudar di pertengahan tahun keduaku.”

Tahun ketiga saat ini membiarkan kelas A untuk memimpin sendiri lebih jauh daripada tahun ajaran kami.

Pada titik ini, poin kelas antara kelas A tahun ketiga dan kelas B tahun ketiga berjarak lebih dari 900 poin. Bahkan di pertengah tahun lalu, pasti ada selisih lebih dari 700 poin.

Mereka membiarkan Nagumo memimpin jauh sejak tahap awal, dan sampai pada titik di mana mereka tidak bisa mengejarnya.

“Kami, tahun ketiga, beralih ke kompetisi individu sejak tahap awal. Poin kelas dan peraturan sekolah adalah yang kedua, dan kami mulai pertarungan sesuai dengan peraturan kami sendiri yang diusulkan oleh Nagumo.”

Jadi itu adalah sebagian besar alasan di balik keunggulan besar yang tidak biasa.

Setelah itu terjadi, itu akan menjadi rintangan besar bagi Kiriyama untuk menghadapinya sendirian.

“Aku sudah berjuang untuk memecahkan kebuntuan, tapi begitu aku memulai tahun ketigaku, ombak itu juga menelanku.”

Frustasi? Menyerah? Kiriyama menunjukkan raut muka yang tak terlukiskan.

“Apa yang terjadi padamu saat ombak menelanmu?”

“Fuu.... Kurasa kau tidak akan puas sebelum mendengarnya langsung dari mulutku, ya?”

“Karena itu penting bagiku.”

“Aku diberikan tiket untuk lulus sebagai kelas A oleh Nagumo, dan aku memutuskan untuk mengikuti aturan yang dibuat pria itu.———Itulah yang ingin kau dengar, bukan?”

Dengan kata lain, posisinya sekarang berarti tidak hanya berhenti memusuhinya, tapi dia juga menjadi salah satu sekutu Nagumo.

Kurasa cara itu penting bagi seorang siswa biasa untuk bisa lulus sebagai kelas A.

Ini juga membuktikan bahwa 20 juta poin memiliki nilai dan daya tarik sebesar itu.

“Apakah aku mendapatkan hak istimewa terbesar di sekolah ini atau tidak akan berdampak besar pada kehidupanku selanjutnya. Terlepas dari bagaimana teman sekelasku pada akhirnya akan membenciku, lebih penting untuk lulus sebagai kelas A. Tiga tahun di SMA hanya sekejap mata dibandingkan dengan puluhan tahun kehidupan yang akan datang.”

Wajar saja jika Kiriyama kesal dan ingin mengetahui detailnya, bahkan sampai memanggilku.

“Itu adalah proposisi dan misi bagiku agar Nagumo mengambil peringkat pertama. Tetapi, keterlibatanmu menyebabkan gangguan dalam rantai komando, dan Kouenji mencuri peringkat pertama dan kami tenggelam ke peringkat kedua. Akibatnya, kami kehilangan banyak poin baik kelas maupun pribadi. Apakah kau tahu betapa berartinya ini bagiku?”

Sudah dikonfirmasi di OAA bahwa Nagumo memiliki kartu cobaan dan 7 kartu bonus dalam grup besarnya. Jumlah uang yang hilang karena gagal menempati peringkat pertama saja berjumlah 7 juta.

(Tln : Baca lagi aturannya di volume 2 kalau belum mengerti)

Selanjutnya, jika semua 28 kartu ambil keuntungan yang siswa tahun ketiga miliki menunjuk grup Nagumo, mereka awalnya akan menerima hadiah tambahan hampir 15 juta poin pribadi. Namun, dengan tenggelam ke peringkat kedua, hasilnya hampir setengahnya. Tentu saja, itu masih sejumlah besar uang.

Jika kita memasukkan efek poin kelas dari kartu cobaan, kerugiannya akan lebih besar.

“Mendekati kelulusan, merupakan kerugian besar bagi kami siswa tahun ketiga untuk kehilangan peringkat pertama kali ini. Karena kami perlu mengumpulkan poin pribadi tanpa membuang satu poin pun.”

Mempertimbangkan bahwa grup Kiriyama juga telah memusatkan kartu [bonus] pada grupnya dengan tujuan mengincar peringkat kedua, itu berarti lebih banyak poin pribadi yang hilang daripada yang baru saja ku hitung.

“Tampaknya fakta bahwa grup Kiriyama-senpai gagal memenangkan podium juga bukannya tidak ada hubungannya dengan itu.”

Ketika aku menunjukkan poin itu padanya, bahunya sedikit tersentak sebagai tanggapan.

“...Ya. Kami buru-buru dikirim sebagai faktor cadangan untuk grup Nagumo. Tapi, sedikit keterlambatan berdampak di semua sisi hingga akhir. Kami tidak hanya kalah dari Kouenji, grup tahun kedua mengambil peringkat ketiga.”

Sejumlah besar hadiah poin pribadi dapat diperoleh siswa tahun ketiga jika semuanya berjalan sesuai rencana. Meskipun itu hanya perkiraan, itu jelas banyak uang yang pasti bisa menyelamatkan teman-temannya.

“Tiket yang dibutuhkan untuk pindah ke kelas A adalah 20 juta poin. Kami selalu mencari cara terbaik untuk menghasilkan itu. Bisa dikatakan bahwa kami kehilangan satu tiket dalam kasus ini.”

Dalam ujian di pulau tak berpenghuni, hadiah untuk peringkat teratas semuanya sangat menarik, tapi ketika menyangkut poin pribadi, efek total dari kartu bonus dan kartu ambil keuntungan jauh lebih besar.

“Sejauh ini, Nagumo terus membuahkan hasil dan telah mendapatkan kepercayaan dari tahun ajaran. Tapi, setelah datang kesini dan terobsesi pada keberadaanmu, dia telah kehilangan banyak uang dan kepercayaannya telah rusak. Meski begitu, masalahnya akan minimal jika dia bisa move on, tapi setelah ujian khusus——— Nagumo mengambil tindakan yang sulit dipercaya.”

“Pengusiran tidak terduga dari para siswa tahun ketiga, ya?”

“Benar. Rencana awalnya adalah peringkat teratas akan menjemput grup yang sengaja ditenggelamkan ke bawah untuk mencegah mereka dikeluarkan, dan menyelamatkan mereka dengan tujuan pertukaran peringkat tepat sebelum ujian berakhir.”

Tapi, karena itu tidak dilakukan, siswa tahun ketiga di grup terbawah dikeluarkan dari sekolah sekaligus.

“15 orang dari mereka dikeluarkan dari sekolah tanpa perlawanan. Mereka bahkan tidak punya waktu untuk menangis.”

“Untuk siswa tahun ketiga, itu bikin merinding, ya.”

“Itu sudah jelas. Satu kehendak bisa membuat tiga tahun menjadi sia-sia. Kalau itu karena tindakan kami sendiri, kami bisa menyerah, tapi jika itu karena tindakan Nagumo yang tidak masuk akal, itu lain cerita.”

Jika semua ini benar, itu bisa menjadi peringatan bagi para siswa yang telah mengikutinya secara membabi buta. Tidak, malah ini tidak biasa karena siswa tahun ketiga tidak menunjukkan tanda-tanda menentang Nagumo, bahkan setelah kejadian ini.

“Apa kau penasaran? Kenapa Nagumo tidak bisa disalahkan untuk itu.”

“Karena itu kesalahan besar. Alasannya banyak orang di kelas B ke bawah yang tidak memiliki tiket tetap diam.”

(Tln : Itu di sana maksudnya kalau mereka menyalahkan Nagumo)

“Bahkan jika kami ingin menentangnya, kami tidak bisa. Nagumo dan siswa yang terdaftar di kelas A tahun ketiga dilindungi oleh benteng yang tidak bisa ditembus.”

Benteng yang tidak bisa ditembus. Itu berarti telah dibuat sistem yang tidak bisa ditentang oleh kelas lain.

Jika demikian.... Dengan mengajukan satu pertanyaan, sepertinya misteri itu bisa terpecahkan.

“Wakil ketua OSIS Kiriyama sudah memiliki tiket itu, ‘kan?”

Sebuah pertanyaan yang biasanya akan diakhiri dengan jawaban [Ya].

Namun, Kiriyama menjawab dalam sekejap mata tanpa mengubah ekspresinya.

“Kalau aku memiliki tiket itu, aku tidak akan punya masalah.”

“Begitu, ya. Jika tiket itu ada di tangan Nagumo, tentu lain ceritanya.”

Ini tidak mengejutkan, tapi Nagumo sudah membuat rencana yang cerdik. Jika semua poin pribadi dikendalikan oleh Nagumo, maka tidak ada yang bisa melawannya.

Sederhananya, dia membuat janji lisan untuk menyelamatkan mereka dengan 20 juta poin.

Tidak, bahkan menyebutnya janji lisan mungkin terlalu naif.

[Kalau kau terus berjanji setia padaku, aku akan memberimu satu tiket.]

Aku pikir bisa diasumsikan bahwa dia menghindari membuat pernyataan yang jelas dengan menggunakan penyebutan yang ambigu.

Dalam situasi ini, jika mereka menentangnya, janji itu bisa dilanggar tanpa berpikir dua kali.

“Juga dilarang untuk mengumpulkan poin pribadi tanpa izin. Jumlah poin maksimum yang dapat dimiliki seseorang pada dasarnya adalah 500.000 poin. Kalau melebihi itu semuanya akan dihisap oleh Nagumo.”

“Ketat sekali, ya.”

Tidak seperti menyimpan uang tunai di lemari, poin pribadi berupa uang elektronik tidak bisa disembunyikan. Mereka juga pasti memiliki aturan untuk mengawasi satu sama lain.

Bahkan jika Nagumo ditendang dan dikeluarkan dari sekolah dengan cara tertentu, pada saat itu dia akan dikeluarkan dengan puluhan atau bahkan ratusan juta poin pribadi.

Dengan begini, bahkan jika mereka ingin memulai pemberontakan, mereka tidak akan pernah bisa melakukannya.

“Sekarang kau mengerti kenapa siswa tahun ketiga sangat mendukung dan melindungi Nagumo, bukan?”

“Sangat mengerti.”

Ini adalah kediktatoran yang sempurna. Tidak mungkin bagi siapa pun di tahun ajaran yang sama untuk bersaing dengan Nagumo.

“Dia bermain dengan seluruh tahun ketiga. Meminta siswa tanpa tiket untuk bersaing satu sama lain dan berpura-pura memberikan tiket kepada pemenang untuk menyatakan kesetiaan mereka.”

Tentu saja, bagi siswa yang terdaftar di kelas D dan C, yang tidak memiliki peluang untuk menang, keberadaan Nagumo ini tidak lain adalah dewa.

Itu wajar saja, karena mereka dijanjikan———kalau kau bisa berguna, kau bisa lulus sebagai kelas A.

Namun, mereka tidak akan tahu itu sampai mereka benar-benar pindah kelas sebelum kelulusan.

“Dalam kehidupan sekolah kami yang hanya tersisa beberapa hari, kami ingin bersaing dan berjuang untuk mendapatkan tiket sebanyak mungkin. Itulah sebabnya kehadiranmu hanyalah penghalang, Ayanokouji.”

Nagumo kehilangan poin pribadi yang berharga karena berurusan denganku.

Dengan hilangnya poin tersebut, siswa yang seharusnya diselamatkan tidak lagi diselamatkan.

Jadi inilah situasi yang sedang dialami siswa tahun ketiga saat ini, ya.

“Tetapi, apa kau benar-benar berpikir aku berada dalam situasi ini karena aku menginginkannya?”

“Sudah jelas.”

“Lalu apa yang kau ingin aku lakukan?”

“Kembali saja ke pembicaraan awal. Ceritakan apa yang terjadi di pulau tak berpenghuni itu, dan kita akan mencari solusinya terlebih dahulu.”

“Kupikir Nagumo tidak menginginkan hal itu. Dia bahkan belum memberitahumu tentang apa yang terjadi, ‘kan, wakil ketua OSIS?

“...Itu benar, tapi membiarkannya begitu saja tidak akan menyelesaikan masalah.”

Dia ingin menghentikan amukan Nagumo, bahkan jika itu berarti kehilangan tiketnya, ya.

Tidak, dia takut jika dia tidak menghentikannya, dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada tiketnya sendiri.

“Kalau kau tidak ingin membicarakannya padaku, aku ingin kau menemui Nagumo dan bicara dengannya sekarang juga. Aku bahkan akan mengatur tempatnya jika perlu. Tidak ada yang akan mendapat manfaat dari pertarunganmu dan Nagumo di masa depan, bukan?”

“Kau benar sekali.”

“Aku sarankan kau untuk menghentikan operasi yang sedang dijalankan Nagumo. Percayalah padaku.”

Operasi yang sedang dijalankan. Aku tidak perlu sampai repot-repot bertanya apa itu.

“Maksudmu tatapan yang mulai diarahkan padaku, ya.”

Kiriyama melihat ke bawah ke arah kolam renang dan mengangguk.

“Apa tujuannya, untuk apa, dan untuk berapa lama? Tidak ada penjelasan sama sekali untuk semua itu. Perilaku aneh ini terus meningkatkan ketidakpercayaan di antara siswa kelas tiga.”

Terlepas dari ketidakpercayaan mereka, mereka tidak punya pilihan lain selain mematuhi Nagumo, yang memiliki semua wewenang.

“Pemerintahan Nagumo adalah pemerintahan yang solid, tapi... meski begitu, jika dia melanjutkan perilaku tidak masuk akal ini, yang terburuk bisa terjadi.”

Kiriyama dan yang lainnya yang telah diberi tiket akan terus mengikutinya dengan setia, tapi banyak siswa yang tidak diberi tiket tidak demikian. Kiriyama tidak bisa membiarkan mereka memulai kerusuhan.

Tidak mengherankan jika mereka berencana untuk mengeluarkan Nagumo dari sekolah jika pada akhirnya mereka tidak mendapatkan tiket.

Bagi Kiriyama dan yang lainnya, itu akan menjadi skenario terburuk.

“Aku tidak berpikir itu akan menjadi akhir dari cerita jika aku mengatakan aku akan bertemunya.”

“Lalu apa mau mu? Kau tidak ingin memberitahuku detailnya, tapi kau juga tidak ingin menemui Nagumo. Maka situasinya hanya akan bertambah buruk.”

“Bisakah kau memberiku sedikit waktu? Aku pasti akan memberimu jawaban dalam waktu dekat.”

Informasi lebih lanjut mungkin akan datang ke telinga Kiriyama dari Nagumo, bukan dariku.

“...Baiklah. Tapi kau harus membuat keputusan sebelum Nagumo mengambil tindakan selanjutnya.”

Kiriyama melihat sekeliling seluruh kolam renang dan segera menyadari kemunculan seseorang.

Tentu saja, itu adalah Nagumo yang menjadi pusat pembicaraan dari tadi.

“Aku harus pergi. Kalau dia tahu aku menemuimu, aku akan mendapat masalah lagi.”

Itu akan bijaksana. Kiriyama juga pasti telah mengambil sejumlah risiko dalam melakukan kontak hari ini.

Bahkan jika aku hanya mengetahui situasi siswa tahun ketiga sekarang, ini adalah kontak yang sepadan.

.

***

Catatan

Hooh... Akhirnya selesai aku nerjemahin volume ini

Bagi yang tidak sabar bisa kontak admin

Atau bisa baca di website ini

Aku akan membagikan per part diwebsite ini berkala

Related Posts

Related Posts

6 comments