-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Seirei Gensouki Volume 16 Bab 6 Intro Indonesia

Bab 6
Keberangkatan


Setelah Rio dan Celia menyelesaikan laporan mereka kepada Christina, kali ini mereka meninggalkan benteng, kantor pusat Rodania. Begitu mereka berada di luar lokasi——,

“Sebenarnya, Miharu-san dan yang lainnya juga telah diundang ke ibukota kerajaan di Kerajaan Galarc. Aku sebenarnya ingin pergi di malam hari, tapi kenapa kita tidak langsung saja pergi dari Rodania dan menemui mereka? Dan aku juga punya lebih banyak hal untuk dilaporkan.”

Rio menyarankan kepada Celia.

“Ya, ayo pergi.”

Celia mengangguk setuju, dan mereka bertiga, termasuk Aishia, menuju rumah batu di hutan di pinggiran Rodania.

Dan satu jam kemudian.

Saat senja sudah mendekat.

Rio dan yang lainnya telah tiba di rumah batu. Berkumpul di ruang tamu, Latifa, Rio, Aishia, dan Celia duduk berjajar dalam urutan itu, dengan Miharu, Orphia, Sara, dan Alma di seberang mereka dalam urutan itu, saling berhadapan. Tetapi——,

“Mūuu.”

Latifa meremas lengan Rio dan menggembungkan pipinya dengan menggemaskan. Ada alasan bagus kenapa dia marah.

Hal pertama yang dilakukan ketika mengunjungi rumah batu adalah saling menyapa lagi. Pada titik ini, Latifa dalam suasana hati yang terbaik dan senang bertemu Rio lagi.

Dan hal berikutnya dilakukan adalah memberikan laporan terkini. Saat Rio menceritakan kembali secara berurutan dari saat dia meninggalkan rumah batu hingga saat ini, Latifa mulai menggembungkan pipinya dengan menggemaskan. Dia mengatakan bahwa itu cukup rumit bagi imōto karena Rio semakin dekat dengan putri-putri aneh di tempat di mana dia tidak ada.

Tapi, jika hanya itu, itu hanya sedikit membakar api cemburunya. Yang tidak ingin dia dengar adalah tentang bagaimana Christina dan Flora menjadi begitu dekat dengan Rio ketika mereka mengetahui identitas aslinya, pertama kali mengetahui fakta yang bahkan Latifa tidak tahu.

Fakta itu adalah——,

“Kenapa Onī-chan tidak menceritakan padaku kisah tentang ayah dan ibu Onī-chan?”

Ya, itu tentang orang tua Rio. Setelah menceritakan kisah itu, dia mencoba melaporkan bahwa Celia akan menjadi asisten Rio mulai sekarang dan mereka dapat bekerja sama, tapi Latifa memeluk lengan Rio dan menyatakan ketidakpuasannya.

“...Maaf.”

Rio meminta maaf tanpa alasan. Dia telah melaporkan tentang nenek dari pihak ayahnya, Yuba, dan sepupunya, Ruri, ketika dia kembali dari wilayah Yagumo, tapi memang benar bahwa dia belum pernah memberi tahu siapa pun tentang fakta bahwa Ayame adalah keluarga kerajaan sebelumnya.

“Latifa, keadaan adalah keadaan. Aku yakin Rio-san juga sulit untuk menceritakannya? Dan karena itulah dia menceritakannya seperti ini.”

Sara menenangkan Latifa.

“Aku tahu itu, tapi..., mū.”

Latifa bersandar ke lengan Rio dan meningkatkan kekuatan pelukannya. Dia ingin Rio lebih mengandalkannya, dan dia ingin didekati olehnya. Itulah yang selalu dia inginkan. Tapi karena Rio tidak sering melakukannya, dia pun harus mendekatinya sendiri....

“Memang benar aku menyembunyikannya. Pantas saja jika Latifa marah.”

“Aku gak marah... kok.”

Nada suara Latifa berubah dari cemberut menjadi sedih.

“...Maaf. Aku tidak ingin membicarakan sesuatu yang terlalu suram, dan memang benar bahwa aku merahasiakannya karena itu adalah cerita yang harus kurahasiakan, tapi aku menggunakannya sebagai alasan untuk melarikan diri. Bukannya aku tidak percaya atau peduli pada kalian, tapi aku takut untuk menutup jarak dengan kalian. Karena itu, mungkin ada hal lain yang tidak aku ceritakan seperti ini...”

Rio terlihat sedikit ketakutan, dengan malu-malu menyentuh kepala Latifa dengan tangan kanannya yang tidak dipegang oleh Latifa.

“...Onī-chan?”

Latifa memiringkan kepalanya dengan bingung dan menatap wajah Rio. Entah kenapa, dia merasa suasana hati Rio sedikit berubah, begitu juga dengan apa yang dia bicarakan.

“Aku tak tahu harus berkata apa. Jika aku merasa harus mengatakannya, aku akan mengatakannya alih-alih melarikan diri, bahkan jika itu adalah sesuatu yang ku sembunyikan atau hindari untuk dikatakan. Mungkin sudah terlambat, tapi aku ingin mengenal kalian semua lebih baik, termasuk Latifa. Karena itu..., aku tidak meminta kalian untuk memaafkanku, tapi bisakah itu meyakinkan kalian? Ini hal yang sangat egois untuk dikatakan.”

Rio berbicara dengan canggung dan memohon. Dan——,

“......”

Mereka semua, kecuali Celia dan Aishia, menatap Rio dengan terkejut.

Setelah beberapa saat——,

“Y-Ya! Tentu! Aku ingin mengenal Onī-chan lebih baik! Aku ingin lebih dekat dengamu!”

Latifa mencondongkan tubuhnya ke depan sambil memeluk lengan Rio dan mencoba mendorongnya ke bawah secara berlebihan. Tapi Aishia, yang duduk di sisi lain, dengan cepat memeluk dan menangkap Rio dari sisi lain.

“Ini sedikit menyakitkan. Tapi, terima kasih.”

Rio meringis saat dia terjebak, lalu berterima kasih padanya dengan seringai.

“Haruto terjebak di masa lalu. Dia tahu rasa takut kehilangan sesuatu yang penting, jadi dia menarik garis tertentu dalam hubungannya dengan kalian semua. Tapi sekarang, Haruto sedang mencoba untuk berubah.”

Aishia tetap dekat dengan Rio dan menganalisisnya secara akurat.

(Aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Aishia, ya...)

Rio merasa canggung.

“...Aishia memang hebat, ya. Yah, aku pikir kamu agak terlalu lengket dengan Rio, sih.... Rio kesakitan, tuh. Lihat.”

Celia menajamkan bibirnya dan meraih tubuh Aishia, mencoba menariknya menjauh. Tapi Aishia memegang Rio dengan kuat——,

“Sudah lama sejak Haruto memberiku kekuatan sihir. Aku akan mengambil kesempatan ini untuk mendapatkan banyak kekuatan sihir.”

Dia bersikeras.

“Aishia Onē-chan curang! Aku juga akan lebih memeluk Onī-chan lagi! Akan kuambil unsur Onī-chan!”

Di sisi lain, Latifa mempererat pelukannya pada Rio tidak mau kalah.

“Bi-Bisakah kalian segera melepaskanku?”

Rio mengeluh dengan wajah bermasalah.

“Enggak, aku gak akan melepaskannya! Ah, tapi, aku akan melepaskannya kalau mau tidur denganku hari ini!”

Latifa tersenyum dan mulai minta dimanjakan oleh Rio.

“H-Hei, hei. Apa yang kau katakan di tengah semua ini, Latifa?”

Sara tercengang dan memperingatkan Latifa.

“Ee~, kalo gitu, apa Sara Onē-chan juga mau tidur bareng?”

“A-Aku gak bilang mau!”

Sudah lama sejak Rio melihat pertukaran seperti itu antara Latifa dan Sara.

“Fufu.”

“Mukamu memerah, tuh, Sara Nē-san.”

Miharu dan Orphia tersenyum, dan Alma mulai menggoda Sara, dan merasa seperti akhirnya kembali ke tempat pulang——,

“Ahaha...”

Rio senang. Dia tertawa seolah-olah dalam masalah, tapi bibirnya hangat dan tersenyum. Mungkin karena melihat ekspresi di wajah Rio——,

“...Mō, apa boleh buat deh.”

Celia berhenti berusaha menarik Isiah pergi, tersenyum lembut dan mendesah, “Ya, ampun.”. Lalu——,

“Oya. Celia-san, bukankah kamu agak santai hari ini?”

Alma yang duduk tepat di seberangnya, bertanya pada Celia.

“Eh, soal apa?”

Celia memiringkan kepalanya, terkejut.

“Kupikir itu biasanya awal dari pertempuran antara Celia-san dan Aishia-sama.”

Alma mengatakan apa yang dia rasakan.

“Celia sudah menjadi pengurus Haruto, jadi dia memiliki keunggulan satu langkah.”

(Tln: Osewa-yaku, enaknya terjemahin apa ya? Perawat/pengasuh/penjaga)

Aishia memberitahunya tanpa ragu-ragu.

“Pe-Pengurus?”

“Suara apa itu?”

(Tln: Ya, ada kanji hibiki, mungkin sebaiknya gak perlu kata suara, tapi buat bedain aja sama yang bawah)

“Apa itu!? Celia Onē-chan, apa maksudnya dengan kamu mengurus Onī-chan!?”

Miharu dan Sara, yang duduk di seberangnya, dan Latifa, yang duduk di sampingnya bersama Rio dan Aishia, berhenti bergerak dan menatap Celia.

“Sa-Salah. Bukan pengurus, asisten, loh! Asisten!”

Celia menunjukkan kesalahannya dalam kepanikan.

“Bukankah kamu harus mengurus Haruto sebagai asistennya, Celia?”

“A-Aku tidak bisa menyangkalnya...”

Ketika Aishia memiringkan kepalanya bingung, Celia tidak punya ruang untuk keberatan.

“Daripada itu, apa maksudnya dengan Celia Onē-chan adalah asistenmu, Onī-chan!?”

Latifa bertanya pada Rio dengan marah.

“Etto..., aku terlambat memberitahukannya, tapi Celia telah memutuskan untuk meninggalkan Restorasi dan bekerja denganku mulai sekarang. Dengan begini juga lebih nyaman untuk Restorasi.”

“Hmm...? Apakah itu berarti Celia Onē-chan bisa tinggal di rumah ini lagi tanpa masalah?”

“Yah, kurang lebih seperti itu.”

“Sungguh, yatta!”

Latifa senang, dan senyum muncul di wajah yang lain.

“Hanya saja aku punya saran untuk semua orang mengenai rencana di masa depan. Ini adalah sesuatu yang sangat melibatkan Miharu-san.”

Rio memotongnya dan mengalihkan pandangannya ke Miharu.

“Melibatkanku, ya?”

Miharu mengedipkan matanya.

“Ya, ini adalah sesuatu yang melibatkan Satsuki-san dan Liselotte-san juga.”

“Satsuki-san dan Liselotte-san?”

Miharu senang mendengar nama mereka.

“Ya, aku sudah menyebutkan kalau aku diberi sebuah mansion di halaman kastil di Kerajaan Galarc, ‘kan? Sebenarnya, ada saran untuk mengadakan pesta menginap di sana.”

Ketika Rio berbicara tentang pesta menginap——,

“Pesta menginap!? Satsuki Onē-chan dan Liselotte Onē-chan juga akan datang!?”

Latifa adalah yang pertama meresponnya.

“Ya. Kalau mau Latifa juga... sebaliknya, putri kedua, Putri Charlotte, telah memintaku untuk mengundang semua orang di sini untuk datang juga. Umm, tentu saja Putri Charlotte juga, dan mungkin Putri Christina dan Putri Flora juga akan ikut...”

Rio melanjutkan dengan berbicara tentang anggota yang akan menghadiri pesta menginap.

“Hmm, dengan kata lain, jika kami ikut, kami akan bertemu putri-putri itu juga...”

Orphia menegaskan, mencium rasa ingin tahu.

“Ya. Putri Charlotte berjanji padaku bahwa dia akan mempertimbangkan situasi Sara dan yang lainnya dan mengatur kontak minimal dengan keluarga kerajaan dan bangsawan di kastil. Jika kalian tidak bisa ikut, maka kurasa aku akan membawa Miharu-san, Celia, dan juga Aishia bersamaku untuk waktu yang singkat...”

Dia bertanya pada Sara dan yang lainnya.

“...Ya! Aku ingin pergi!”

Dia tampak agak takut ketika dia mendengar bahwa para putri yang belum pernah dia temui sebelumnya juga akan ikut, tapi Latifa mengangkat tangannya dengan antusias terlebih dahulu.

“Kalau begitu, tergantung izin Sara dan yang lain sebagai penduduk desa, aku mungkin akan memperkenalkan Latifa sebagai imōto ku.”

“Sebagai imōto Onī-chan......”

Mata Latifa berbinar.

“Hanya saja, seperti yang pernah kukatakan sedikit sebelumnya, untuk Latifa, aku harus memikirkan apakah akan menggunakan nama samaran atau tidak karena ada Duke Huguenot. Untuk nama keluarga, aku akan memberikan nama yang sama denganku.”

Rio menunjukkan kekhawatirannya.

“...Nama keluarga berarti Amakawa, ‘kan?”

“Ya. Jadi namamu akan menjadi Latifa Amakawa.”

Rio mencobanya. Lalu——,

“...Ya! Aku ikut! Pokoknya ikut! Aku akan punya nama keluarga yang sama dengan Onī-chan! Latifa Amakawa! Latifa Amakawa! Ka-kalau aku mengubah namaku, mungkin Suzune Amakawa? Ehehehe, ehehehe...”

Latifa sangat senang sampai dia masuk ke dunianya sendiri. Hanya Rio, Miharu dan Aishia yang tahu tentang nama Latifa di kehidupannya sebelumnya yaitu Suzune, tapi mereka mengatakan kalau nama itu bagus. Karena Latifa terlihat sangat senang——,

“Kamu terlihat sangat senang, ya, Latifa.”

Celia tertawa.

“Fumu. Sara Nē-san.”

Alma tiba-tiba memanggil Sara.

“A-Aku gak iri kok!”

Sara menjawab bersikap kuat.

“Aku belum mengatakan apa-apa.”

Alma tertawa fufufu. Sementara itu——,

“Hmm, di desa, kami tidak memiliki budaya memberi nama keluarga, jadi aku mungkin sedikit tidak mengerti bahkan jika dia tiba-tiba diberi nama keluarga, tapi aku pasti akan iri jika dia memiliki nama keluarga yang sama dengan Rio-san. Bagaimana denganmu, Miharu-san? Kamu kan punya nama keluarga.” tanya Orphia pada Miharu yang duduk di sebelahnya.

“Di kerajaanku, nama keluarga berubah ketika kamu menikah, tapi aku pernah mendengar kalau beberapa orang senang mengubah nama keluarga mereka ketika mereka menikahi seseorang yang mereka cintai. Aku, um, aku belum pernah menikah, jadi aku tidak tahu...”

Miharu menjelaskan. Dia pernah mendengar bahwa beberapa orang tidak menyukai prosedurnya karena merepotkan, tapi dia tidak mengatakannya karena tidak ada gunanya menjelaskan sebanyak itu di dunia lain ini.

“Begitu, ya, begitu, ya.... Jadi, misalnya, jika Miharu-chan menikah dengan Rio-san, maka dari Miharu Ayase menjadi Miharu Amakawa, kan? Gimana, kamu senang?”

Orphia bertanya lagi pada Miharu dengan senyum nakal.

“E-Eh...? D-Di dunia tempatku tinggal, bukan Mi-Miharu Amakawa, tapi Amakawa, Miharu...”

Wajah Miharu menjadi merah padam di akhir, hanya dengan menyebut nama itu.

“Un un, dari penampilanmu, kamu sangat bahagia, ‘kan?”

Orpheus tersenyum lebar padanya.

“.........”

Miharu terlalu malu untuk mengatakan apa pun saat dia melihat ke bawah. Lalu--

“Etto, sepertinya kita telah keluar dari topik, tapi aku tidak ingin memaksa Sara-san dan yang lainnya untuk ikut. Tapi, kupikir pasti Pahlawan Satsuki-san dan putri kedua, Putri Charlotte, akan memaklumi kita, jadi tidak akan ada interaksi yang tidak perlu dengan keluarga kerajaan dan bangsawan. Aku juga akan mendukung kalian semampuku. Bagaimana menurut kalian?”

Pada titik ini, Rio mengalihkan pembicaraan kembali ke Sara dan yang lainnya untuk melihat apakah mereka mau ikut.

“...Yah, i-ini pelajaran sosial, jadi, yah, kurasa tidak apa-apa.”

Sara menggerakan ekornya gelisah dan berkata dengan suara tinggi.

“Fufu, rasanya selalu sepi saat hanya kami yang ada di rumah, ‘kan?”

“Kami tidak ikut dalam pesta menginap sebelumnya, ‘kan? Kurasa tidak apa-apa untuk kali ini.”

Dan begitulah, Orphia dan Alma setuju.

“Terima kasih banyak. Kalau begitu sudah putuskan. Kita akan berangkat dalam seminggu lagi, dan kita akan naik pesawat sihir.”

Dan Rio memutuskan untuk mengunjungi kastil Kerajaan Galarc seminggu kemudian dengan semua orang yang tinggal di rumah batu.

Related Posts

Related Posts

Post a Comment