-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Watashi, ni-banme no kanojo de īkara Vol 1 Episode 2 part 6 Indonesia

Episode 2
Mengapa



“Aku mengkhawatirkanmu, lo.”

Kata Maki, ketua OSIS.

Dia mendatangiku saat istirahat makan siang ketika aku di ruang klub sedang belajar untuk ujian akhir.

“Kupikir kau sedang galau lo, Kirishima.”

“Kenapa aku harus galau?”

“Karena sosmednya pacar Tachibana, lo.”

“Ah, soal itu.”

“Aku terkejut kau baik-baik saja. Padahal yang lain pada mati lemas.”

Ada banyak orang yang melihat akun sosmed itu selain aku.

Foto kabedon yang bagikan oleh pacar Tachibana-san menyebabkan luka yang besar pada begitu banyak penggemar Tachibana. Sekarang, mayat mental mereka tergeletak di mana-mana di gedung sekolah.

“Itu wajar setelah melihat mereka sedekat itu.”

“Tapi mereka cukup tangguh, mereka percaya kalau masih ada harapan.”

“Di mana harapan itu?”

“Tachibana itu, dia tidak suka disentuh oleh laki-laki, ‘kan? Dan sepertinya dia bahkan belum membiarkan pacarnya menyentuhnya.”

Hari ini, ketika pacarnya mengulurkan tangan untuk menghentikannya di lorong, tampaknya banyak orang menyaksikan Tachibana-san memutar dan menghindar dengan cemerlang.

“Tapi hanya dengan menjadi pacarnya, dia jauh memimpin di depan, bukan?”

Sementara kami membicarakan hal ini, langkah kaki mendekat dari lorong.

Pintu terbuka dan yang masuk adalah, Tachibana-san. Di tangannya, dia memegang alat belajarnya. Baru-baru ini, Tachibana-san juga datang ke ruang klub PeMis untuk belajar saat istirahat makan siang.

“Aku akan pergi dari sini agar tidak mengganggu.”

Maki meninggalkan ruang klub seakan bergantian. Aku ditinggal sendirian dengan Tachibana-san.

“Apa yang kalian bicarakan?”

“Bukan hal penting.”

“Oh.”

Tachibana-san duduk di sofa dan membentangkan buku pelajaran dan buku catatannya. Katanya itu buruk jika dia tidak belajar.

Dia sempurna dalam musik dan seni, dan kemampuan bahasanya tidak terlalu buruk. Namun, dia sangat lemah dalam mata pelajaran seperti sejarah dunia, matematika dan kimia.

Aku pikir dia pandai dalam segala hal karena dia selalu terlihat dingin, tetapi dia mendapat nilai yang tidak begitu bagus dengan wajahnya yang dingin.

Ini kebalikannya dengan Hayasaka-san yang selalu mendapat nilai di atas rata-rata di semua mata pelajaran.

“Ketua, mata pelajaran apa yang kamu pelajari?”

“Matematika. Kalau kamu, Tachibana-san?”

“Aku sejarah dunia.”

Setelah mengatakan itu, Tachibana-san membuka koleksi materi dan mulai membacanya. Tapi segera, dia mulai merasa terkantuk. Sepertinya dia bosan belajar. Kemudian, dia tertidur dalam posisi duduk yang baik.

Bulu mata panjang, kelopak mata tipis, rok seragam tanpa kerutan. Terlihat menawan bahkan ketika dia tidur.

Tapi, tidak peduli seberapa banyak aku melihatnya, aku tidak bisa mengetahui isi hatinya.

Aku memainkan smartphoneku dan melihat sosmed pacar Tachibana-san lagi.

Kabedon, hijidon, dan berbagai foto telah diunggah.

Namun, tidak peduli berapa kali aku melihatnya, aku tidak melihat ada katazun.

Berbagai pertanyaan [mengapa] muncul di benakku.

Mengapa tidak ada foto dia sedang disentuh oleh pacarnya?

Mengapa dia tidak terganggu saat disentuh olehku?

Ketika aku membuka tasnya di depan ruang klub, ada payung lipat di dalamnya, tetapi mengapa dia bilang kalau dia tidak membawanya?

Tapi pada akhirnya, aku tidak bisa menanyakan apapun padanya, dan aku hanya melihat wajah tidur Tachibana-san.

Related Posts

Related Posts

1 comment