-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Watashi, ni-banme no kanojo de īkara Vol 1 Episode 6 part 6 Indonesia

Episode 6
Revolusi Segi Empat



“Kenapa Senpai dan Kirishima-kun begitu akrab?”

Tanya Hayasaka-san, dan Senpai menjawab.

“Di SMP dulu, pemerintah setempat mengadakan wisata camping untuk rekreasi. Itu adalah acara masak-memasak di pegunungan, dan kami akan menghabiskan malam di tenda.”

Kami bertiga berada di toko pancake.

Sakai berencana untuk menyatukan Hayasaka-san dan Senpai, tapi ternyata itu bukan jalan-jalan untuk mereka berdua. Hayasaka-san ingin aku ikut dengannya sebagai obat penenang, dan aku juga menerima pesan dari Senpai sehari sebelumnya.

[Hayasaka-chan, sudah kuduga dia menjanjikan! Seorang gadis bernama Sakai memintaku untuk mengajak Hayasaka-chan jalan, tapi Hayasaka-chan langsung bertanya bolehkah Kirishima-kun ikut juga? gitu. Aku akan membantumu pada hari itu, jadi serahkan saja padaku.”

Dan sekarang, aku dan Hayasaka-san duduk berdampingan, menghadap Senpai. Kami sudah selesai makan pancake dan minum kopi setelah makan malam.

Saat kami memasuki toko, Senpai terus mendesak ku dan Hayasaka-san untuk duduk bersebelahan. Aku memastikan bahwa Hayasaka-san dan Senpai bertatap muka sehingga mereka bisa berbicara dengan mudah.

Keinginan kami bertiga berbeda-beda, dan memang, situasi ini mungkin sulit bagi Hayasaka-san.

“Di camping itu, Kirishima dan aku dipasangkan.”

“Dan di sana, kami mendirikan tenda di tepian pasir sungai karena kelihatannya menyenangkan, ‘kan?”

Aku mengambil alih cerita Senpai.

“Tapi di tengah malam, aku terbangun karena suara sungai yang mengalir deras. Tampaknya hujan deras di hulu dan air sedang naik. Bagian tepi sungai semakin mengecil, dan air langsung mendekat. Jadi ketika aku keluar, aku jatuh ke sungai yang meluap.”

“Kirishima-kun, kamu tidak bisa berenang, ‘kan?”

“Senpai melompat dan menolongku.”

“Oioi, kau melewatkan terlalu banyak detail penting.”

“Benarkah?”

Hayasaka-san bertanya dengan nada alami.

Di toko pancake, dia bisa mengobrol dengan baik, tidak kikuk seperti biasanya.

Mungkin efek aku berada di sampingnya memang nyata.

Profil Hayasaka-san saat dia mendengarkan cerita Senpai seperti gadis yang sedang jatuh cinta. Tapi saat lututku dan lutut Hayasaka-san bertabrakan di bawah meja, dia menatapku dan membuat ekspresi malu. Kemudian dia segera ingat bahwa Senpai ada di sana dan mencoba untuk tetap tenang.

Tapi dalam hatinya tidak tenang.

Sesekali dia menatapku dengan ekspresi bingung.

[Kenapa Kirishima-kun juga ada di sini ketika aku sedang bersama Yanagi-senpai?]

Wajahnya seperti mengatakan itu.

Hayasaka-san belum bisa mengatasi situasi ini.

“Waktu Kirishima sedang tidur, aku sedang berada di luar tenda untuk mengemasi barang-barangku.”

“Ketika aku bangun, Senpai tidak ada di sana, jadi aku bergegas keluar, dan pada saat yang tidak tepat, sepotong kayu apung lewat, dan itu tampak seperti dia bagiku. Karena aku tidak memakai kacamata ketika aku bangun.”

“Jadi itulah kenapa dia melompat ke sungai untuk menyelamatkanku. Tidak banyak pria yang terjun ke sungai untuk menyelamatkan orang lain meskipun dia tidak bisa berenang.”

“Enggak, Senpai lebih hebat dariku. Karena kamu menyelamatkan orang dari sungai yang banjir.”

Senpai lebih hebat. Kirishima lebih hebat.

Di depan Hayasaka-san, kami berdebat. Hayasaka-san hanya tersenyum penuh kasih selama perdebatan itu. Mungkin dia sudah berhenti berpikir.

Mungkin dia mendapati dirinya berada di tengah-tengah antara yang paling dia cintai dan yang kedua dia cintai.

“Begitulah cerita aku dan Kirishima menyelamatkan nyawa satu sama lain. Itulah sebabnya kami dulu sering nongkrong bareng sewaktu SMP.”

Kami sedikit terpisah sejak kami besekolah di SMA yang berbeda, tapi sekarang kami ada di sekolah yang sama lagi. Jadi sangat wajar jika kami ngobrol seperti ini. Namun, alasan aku merasa tidak nyaman mungkin karena hubungan antara aku dan Hayasaka-san tidak wajar dan tidak sehat.

“Nah, aku ada urusan setelah ini.”

Senpai berdiri.

“Sisanya, silahkan kalian berdua santai saja.”

Senpai hanya mengatakan itu, lalu dia membayar tagihan untuk kami dan pergi. Itu pintar.

Aku juga berpikir untuk membuat Hayasaka-san dan Senpai berduaan di beberapa titik.

“Pada akhirnya, ini hanya seperti kencan biasa, ya. Maaf, aku tidak bisa membantumu dengan baik.”

Kataku. Tapi Hayasaka-san masih menundukkan kepala dan tidak mengatakan apapun.

“Ada apa?”

“...Aku juga minta maaf. Aku menyeret Kirishima-kun ke tempat dimana aku dan Yanagi-senpai bersama. Jika dipikirkan dengan tenang, aku sudah melakukan hal yang jahat sekali, ya.”

“Gak papa. Hayasaka-san juga sudah melakukan banyak hal untukku sejauh ini.”

“...Aku, tidak ingin Kirishima-kun melakukan hal seperti ini.”

Aku benar-benar payah, kata Hayasaka-san dengan wajah seperti akan menangis.

“Hayasaka-san hanya kelelahan, aku yakin.”

Setelah itu, untuk beberapa saat, Hayasaka-san terdiam dengan wajah tertunduk.

Hujan sore mulai turun di luar, dan aku melihat kota yang diguyur hujan dengan siku di atas meja.

Ketika hujan sore telah reda dan matahari mengintip dari balik awan, Hayasaka-san mengangkat wajahnya.

Kemudian, dia tersenyum dengan senyum yang menusuk hati dan berkata.


“Aku——, aku akan menyatakan perasaanku pada Senpai di upacara penutupan semester.”

Related Posts

Related Posts

Post a Comment