-->

Cari Blog Ini

Watashi, ni-banme no kanojo de īkara Vol 1 Episode 7 part 10 Indonesia

Episode 7
Aku Gak Papa Kok Jadi Pacar Kedua



Tachibana-san masih menunggangiku. Ekspresinya terlihat agak bahagia.

“Shiro-kun, kamu sangat mencintaiku, ‘kan?”

Semua perasaanku sudah terbaca.

“Aku juga mencintaimu sampai mati, Shiro-kun. Kamu tahu itu, bukan? Tidak peduli seberapa dinginnya aku padamu, tidak peduli seberapa dekat kamu dengan Yanagi-kun, kamu bisa tahu, bukan? Kamu tidak pernah meragukanku, bukan?”

Tachibana-san membelai tubuhku dengan kedua tangannya.

“Kamu tidak boleh melakukan ini kalau kamu sudah punya tunangan.”

“Kamu masih ingin jadi kohai yang baik, ya.”

Tapi, jangan lagi, kata Tachibana-san.

“Jika kamu benar-benar peduli dengan Yanagi-kun, jika kamu menolak perasaanku, kamu seharusnya tidak membuat film pendek itu. Setidaknya, kamu harus mengubah naskah dan nama perannya. Shiro-kun tidak melakukannya itu karena jauh dari lubuk hatimu, kamu menginginkanku. Karena kamu ingin aku bilang bahwa aku selalu mencintaimu. Bukan begitu? Hei, apa kamu senang melihat adegan itu? Apa kamu senang ketika tahu bahwa aku lebih mencintaimu daripada Senpai?”

Senangnya luar biasa.

Astaga, Tachibana-san memang merepotkan. Dia mengupas semua tipuanku dan menghadapkan ku pada kecurangan yang ku sembunyikan jauh di lubuk hatiku. Dan dia menerima diriku yang begitu lemah apa adanya.

Pada saat itu, aku dipenuhi dengan begitu banyak kesenangan sehingga orang lain menjadi tidak penting bagiku karena cinta istimewa yang diberikan Tachibana-san kepadaku.

“Maaf karena aku terlalu kasar sebelumnya.”

Tachibana-san menelusuri bibirku dengan jarinya.

“Itu karena aku kesal, aku melakukannya dengan sengaja.”

“Kupikir juga begitu.”

“Bolehkah aku melakukannya lagi?”

Sebelum aku bisa menjawab, Tachibana-san sudah menempelkan bibirnya ke bibirku.

Kali ini ciumannya sangat lembut. Ciuman itu dimulai dengan sentuhan ragu-ragu, dan setelah bibir kami menempel, lidah Tachibana-san perlahan masuk.

Bagian dalam kepalaku mati rasa.

Tachibana-san dengan hati-hati menjilati luka yang tergores oleh giginya.

“Rasanya seperti darah, ya.”

“Itu tidak sehat.”

“Berapa kali kamu berciuman dengan Hayasaka-san?”

“Aku kehilangan hitungan.”

“Menyebalkan.”

Setelah itu kami berciuman berkali-kali.

Aku hampir tidak bisa mengatur napas.

Ketika dia menjauhkan wajahnya, ekspresi Tachibana-san agak puas.

“Hei Shiro-kun, apa kamu menyukai Hayasaka-san?”

Untuk beberapa alasan, Tachibana-san melihat ke pintu yang menuju koridor. Dan tatapannya tampaknya mengarah ke sisi lain pintu. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa.

Yah, sudahlah, kata Tachibana-san berbalik ke arah ku.

“Oke. Aku akan melakukan apapun yang Shiro-kun inginkan.”

Kata Tachibana.

“Aku akan tetap menjadi tunangan Yanagi-kun.”

——Kamu tidak ingin mengkhianati Senpai yang kamu sayangi, dan kamu tidak ingin bertanggung jawab atas kehancuran keluargaku, bukan?

“Shiro-kun bisa tetap bersama Hayasaka-san.”

——Kalau enggak, Hayasaka-san akan hancur, dan kamu tidak ingin menjadi pria yang menyakiti wanita, bukan?

“Kamu ingin tetap dekat dengan Senpai yang kamu sayangi, bersikap baik kepada gadis yang menyukaimu, dan membuat cinta pertamamu menjadi milikmu juga. Bukan begitu? Kamu tidak perlu menyembunyikannya.”

Keinginan yang terlalu nyaman untukku, yang tidak bisa kukatakan.

“Semuanya, akan ku buat menjadi kenyataan. Aku akan membuatmu terlihat baik di depan Senpai dan kau bisa bermesraan dengan Hayasaka-san. Meski begitu aku, akan tetap menjadi gadismu, Shiro-kun. Aku akan tutup mulut.”

Karena itu——.

“Di belakang semua orang, ayo kita lakukan lebih banyak hal-hal buruk.”

Dan untuk terakhir, Tachibana-san mengacungkan dua jari dengan ekspresi menyegarkan.


“Aku gak papa kok jadi pacar kedua.”

(Tln: WTF)


Bersambung

Related Posts

Related Posts

7 comments