-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Love Comedy in The Dark Vol 1 Episode 1 (2)

Episode 1 (2)



Itulah apa yang terjadi.

Tanda akhir sepihak dalam pertemuan dekat pertamaku dengan orang itu.

Aku dan mimpiku dikalahkan dalam sekejap, lalu aku melompat dari tempat tidurku berteriak seperti binatang yang ditabrak truk sampah.

Bajuku basah oleh keringat.

Tenggorokanku sangat kering hingga membuatmu akan bertanya-tanya bagaimana aku bisa berteriak kalau begini.

Pagi hari.

Debu halus terlihat berkilauan diterpa sinar matahari yang menembus jendela.

Apakah tadi itu mimpi? Atau nyata?

Yah, kurasa itu mimpi. Tapi itu begitu nyata.

Toh aku bisa mengendalikan mimpiku sesuka hatiku, dan pada saat itu, aku harus bisa melihat mimpiku lebih nyata daripada kebanyakan orang. Tapi tetap saja, itu sangat jelas sehingga membuatku merinding.

Sementara itu, ibuku masuk ke dalam kamarku dan berteriak, “Jirō! Mau sampai kapan kamu tidur?”, aku balas berteriak, “Berisik mak lampir, jangan masuk tanpa izin!” kemudian aku berganti pakaian, sarapan, menyikat gigi, dan naik kereta ke sekolah (walaupun diriku sudah muak dan lelah melakukan itu). Di dalam kelas, ketua kelas (pengikut A) menatapku dengan dingin, si gyaru (pengikut B) tidak memperhatikanku karena terlalu sibuk mengecat kukunya, dan si anggota klub sastra (pengikut C) sangat fokus membaca novelnya dan dengan keras kepala menolak untuk melihat ke arahku. Dan si preman dengan tegas memberiku tugas, “Woi, Jirō, belikan aku roti krim hari ini.”

Ini adalah rutinitas yang sama seperti biasanya.

Pada saat aku pulang dari sekolah, aku telah mendapatkan kembali ketenanganku.

(Mimpi kemarin adalah ketidakteraturan)

Kataku pada diriku sendiri.

Yah, mungkin hal seperti itu kadang-kadang terjadi.

Hal-hal tak terduga terjadi dalam mimpi yang seharusnya bisa ku kendalikan dengan bebas. Mungkin hal seperti itu sesekali pernah terjadi. Lagian, aku sendiri tidak begitu paham apa kekuatanku. Tak heran jika hal-hal tak terduga terjadi.

“Ya. Itu terkadang terjadi. Ya.”

Aku yakin dan menyambut malam hari itu.

Sebuah mimpi yang akan menerbangkan kesuraman kehidupan sehari-hariku yang menyebalkan dan memberiku yang terbaik.

Begitu aku tidur, aku langsung berada di kerajaanku.

Orang-orang juga berkumpul di istana hari ini, dan hanyut dalam pesta, pengikut A si ketua kelas, pengikut B si gyaru, dan pengikut C si anggota klub sastra juga semuanya terpesona olehku, si preman yang pergi ke toserba untuk menjalankan tugasnya, meninggalkanku dengan kalimat, “Tunggu pembalasanku!”, aku merasa senang lagi malam ini. Ya, benar, beginilah seharusnya. Beginilah seharusnya dunia. Semuanya seperti yang ku inginkan, dan semua orang benar-benar patuh kepadaku. Asli deh, siang hari memang sampah, di malam hari lah dunia nyataku. Serius, alangkah menyenangkannya jika dunia nyata dan mimpi ditukar saja——

(Tln: Gak kapok anjir)


“Kau mengejutkanku.”


...Harusnya aku yang bilang begitu.

Orang ini lagi. Dokter wabah. Orang berpenampilan aneh yang menghancurkan mimpiku menjadi berkeping-keping tadi malam.

“Jadi, kamu masih bisa bermimpi? Kamu memiliki daya tahan hidup yang besar, ya.”

“Kau, lagi-lagi muncul tiba-tiba——dan kau ini siapa sih——”

“Maaf karena tanpa basa-basi, selamat tinggal. Kali ini, demi kenyataan yang lebih baik.”

(Tln: Lah, akhir yang sama)



Lalu aku terbangun dari mimpiku.

Aku melompat dari tempat tidur sambil berteriak dan basah kuyup oleh keringat, cahaya pagi di luar jendela, suara burung pipit berkicau.

Oi oi oi.

Yang benar saja?

Orang itu muncul lagi.

Apakah itu juga ketidakteraturan? Tidak, tidak, dua hari berturut-turut, loh? Bukankah itu agak aneh?

Perbedaan antara hari ini dan hari sebelumnya adalah bukannya dihancurkan oleh palu raksasa, aku dihancurkan oleh mesin mengerikan yang terlihat seperti gergaji mesin. Tetapi apapun prosesnya, hasilnya tetap sama. Kenyataannya adalah seseorang yang tidak aku kenal muncul dalam mimpiku, yang seharusnya bisa aku kendalikan sesukaku, dan melenyapkan mimpiku menjadi tak bersisa.

“Jirō! Mau berapa lama kamu tidur——”

“Dibilangin jangan masuk ke sini, mak lampir!

Aku berganti pakaian, sarapan, menyikat gigi, pergi naik kereta.

Di sekolah, aku diabaikan oleh pengikut ABC-ku, dan dimanfaatkan oleh preman, tapi tidak kupedulikan karena aku sangat bingung. Tidak tidak. Tidak mungkin. Apa yang sedang terjadi? Aku ragu tebakanku ini benar, tapi mungkin malam ini juga?


“Tidak tidak. Tidak mungkin dia muncul lagi malam ini.”


Dia muncul.

Dokter wabah.

“Orang bilang apa yang terjadi 2 kali akan terjadi 3 kali, tapi wajah Buddha tidak akan sama untuk ke-3 kalinya.”

(Tln: perumpamaan bahwa tidak peduli seberapa lembut seseorang, pada akhirnya dia akan marah jika dia sering diperlakukan dengan keterlaluan)

Orang itu mengayunkan tongkatnya ke udara.

Tongkat itu berubah menjadi besi silinder besar, dan ketika aku menyadari bahwa senjata utama yang dibanggakan oleh kapal perang Yamato berbentuk seperti itu, ledakan keras bergema, dan pada saat yang sama, aku dan mimpiku lenyap tak bersisa, tanpa meninggalkan setitik debu pun.



Hari keempat.

Hari kelima.

Hari keenam.

Semuanya berakhir dengan cara yang hampir sama.

Aku bermimpi, dokter wabah muncul dalam mimpi, kemudian mimpi dan aku dihancurkan.

Tongkat dokter wabah berubah menjadi segala macam bentuk dan ukuran.

Itu bisa berupa penyembur api, senapan mesin, atau hanya pedang besar. Lama kelamaan, itu berubah menjadi berbagai bentuk yang tidak ku ketahui, dan aku tidak tahu apakah itu senjata atau bukan, tapi aku tahu itu adalah sesuatu yang mengerikan, dan itu terus menyiksaku dan mimpiku.


Hari ketujuh belas.

Setelah mengulangi situasi yang sama berulang kali sehingga bahkan seorang komedian dengan 1 lelucon tidak akan mengulanginya sebanyak ini.

Terjadi perubahan pola.

Akulah yang mengubahnya.

Dokter wabah muncul dalam mimpiku malam itu seperti biasa sambil mendesas “Ya ampun, kamu lagi,” dia mengayunkan tongkatnya dan mengacungkan semacam senjata yang aku tidak tahu apa itu, lalu berkata, “Baiklah, selamat tinggal juga untuk malam ini,” itulah situasi yang kuhadapi.

Wus(melakukan pose).

Aku menangkap senjatanya.

“...Itu mengejutkan.”

Dokter wabah menghela nafas.

“Sudah bosan dengan regenerasi tanpa dasar, jadi kau bahkan telah belajar untuk bertahan, ya?”

“Sampai kapanpun!”

Aku berseru sembari geram.

Suaraku bergetar. Tidak hanya suaraku, tetapi juga lenganku yang menangkap senjata itu bergetar. Jika aku lengah sedikit saja, aku akan dilenyapkan lagi malam ini oleh sesuatu yang tampak menyakitkan dengan bentuk yang tidak ku ketahui.

“Jangan pikir! Aku akan! Membiarkanmu! melenyapkan ku begitu saja!”

“Itu baru semangat.”

Kata dokter wabah.

Sepertinya di balik topeng itu, orang itu tertawa. Aku mendengar suara “Kukuku,” yang teredam. Seperti biasa, suaranya tidak menyenangkan, seperti pengubah suara.

“Aku tidak suka dengan semangat, kerja keras, atau apa pun itu yang kasar. Tapi untuk bisa bertahan sejauh ini dari pengobatanku kepadamu itu layak dipuji.”

“Apa, itukah pandangan, dari atas...!”

(Tln: Artinya pernyataan merendahkan)

Aku mencoba membalasnya, tapi situasinya tidak terlihat bagus.

Dokter wabah mendorong senjata yang mengerikan (kombinasi tang, pemecah tiang, dan bor, dibagi tiga) hanya dengan kekuatan yang sangat ringan, dan aku menahannya dengan sekuat tenaga. Menghirup udara sedikit saja akan mengganggu keseimbanganku dan aku akan diratakan lagi.

“Lagian kau ini apa sih! Masuk ke mimpi orang lain tanpa izin! Malam demi malam, kau datang dan merusak mimpiku, menyebutnya sebagai pengobatan! Setiap kali kau muncul aku selalu jadi orang yang terbunuh! Aku hanya bersenang-senang dalam mimpiku! Aku bebas berfantasi! Hak asasi manusiaku telah diinjak-injak! Ini pelanggaran hak asasi manusia! Kau tahu!? Biarkan aku melakukan apa yang ku inginkan setidaknya dalam mimpiku! Ke mana lagi aku harus pergi jika tidak ada tempat untukku bahkan dalam mimpiku!”

“Terima kasih untuk tangisan penuh perasaanmu. Kalau begitu mari kita beralih ke dialog.”

“Heh?”

Dokter wabah tiba-tiba mengendurkan kekuatannya.

Senjata yang telah diubah ke bentuk mengerikan, langsung kembali ke bentuk aslinya, yaitu tongkat biasa.

Pada saat yang sama, aku berada dalam kondisi di mana tongkat itu ditarik dan aku tersungkur ke depan. “Guhe!?” aku berteriak seperti katak terjepit. Memalukan. Tolong sih, setidaknya biarkan aku terlihat pintar dalam mimpiku.

“Sebenarnya, aku sudah lama dipaksa untuk mengubah kebijakan.”

Dokter wabah itu duduk di kursi yang ada di dekatnya.

Woi. Jangan bersantai seenaknya. Ini istanaku, dan itu adalah kursi yang dibuat oleh imajinasiku untuk tamu ku. Berkat gangguanmu malam ini, pestanya terpaksa berakhir dan tidak ada satu orang pun di kastil.

“Meski begitu, kau ini memang menarik.”

Kata dokter wabah.

“Kamu adalah penyakit pertama yang tidak kunjung sembuh setelah menerima sekian banyak pengobatan dariku. Pendekatan bedah tidak lagi menjadi cara terbaik untuk mengatasi masalah ini. Sekarang apa yang harus aku lakukan...”

“Jangan bicara semaumu.”

Balasku.

“Lagian, kau ini siapa? Aku tidak bisa mengikuti jika kau bicara padaku seolah-olah hanya kau yang mengerti segalanya. Pertama-tama, jelaskan situasinya. Aku akan kesampingkan masalah pelanggaran hak asasi manusia untuk saat ini.”

“Aku adalah dokter. Hal utama yang ku sembuhkan adalah dunia.”

“......”

Hah?

Menyembuhkan?

Dunia?

“Dan kamu adalah penyakit itu sendiri, sejenis lesi. Omong-omong, aku seorang dokter, jadi aku melakukan yang terbaik untuk bertanggung jawab kepada pasienku. Tapi aku tidak punya kewajiban untuk mendengarkanmu ketika kamu mengklaim hakmu karena kamu adalah lesi itu sendiri, pada dasarnya.”

Jadi setiap malam, kau datang ke mimpiku untuk ‘menyembuhkan’-ku?

Konyol.

Justru itu kedengarannya seperti imajinasi fiktif.

Tapi harus aku akui bahwa situasinya sudah jauh dari kenyataan.

Dia seorang dokter.

Aku penyakit.

Musuh dokter adalah penyakit, jadi dia menyerang ku berulang kali.

Oke baiklah, itu saja. Aku sama sekali tidak percaya, tapi aku akan coba menerima itu.

Tapi aku tadi sudah bilang, ‘kan? Siapa saja bebas untuk mimpikan apa pun, bukan?

“Ini sama sekali berbeda.”

Dokter wabah menggelengkan kepalanya.

“Jadi begitu, kau bebas untuk berimajinasi, dan jika itu hanya ada dalam kepalamu, kau tidak akan bersalah atas apa pun. Tapi kau tahu, premisnya sendiri sudah berbeda. Apa yang kau pikir mimpi bukanlah mimpi.”

“...Apa maksudmu?”

“Maksudku persis seperti yang kukatakan. Mimpi yang kamu lihat setiap malam, bahwa kamu adalah seorang raja dengan sebuah istana, dan bahwa kamu mengendalikan orang-orang yang tidak kamu sukai yang ada dalam kehidupan nyata untuk menuruti perintahmu, dan bahwa kamu mengadakan pesta pora minum dan bernyanyi berulang kali. Itu adalah kenyataan yang lain.”

Aku tidak mengerti apa yang dia katakan.

Tidak, aku bisa memahami isinya. Ini juga konyol dan tidak masuk akal.

“Kamu sekarang belum tahu. Tapi aku tahu. Aku bisa dengan mudah membayangkan seperti apa masa depan jika aku membiarkan situasi saat ini apa adanya.”

“Dalam bayanganmu itu... apa yang terjadi?”

“Itu sudah jelas. Dunia ini akan hancur.”

OH....

Apa yang dia bicarakan, Johnny?

HAHAHA. Tentu saja aku tidak tahu, Bobby.

“Kau mungkin tidak menyadarinya, tapi mimpi yang kau lihat setiap malam sudah mulai mengikis kenyataan. Misalnya, pengikut A si ketua kelas, pengikut B si gyaru, dan pengikut C anggota klub sastra yang mengelilingimu dalam mimpi. Para gadis itu juga pada akhirnya akan mengalami perubahan. Begitu pun dengan preman yang kamu balas dalam mimpimu. Karena memaksakan mimpi pada orang menempatkan beban berat pada pikiran dan tubuh mereka yang dipaksa.”

Lututnya disilangkan dan dagunya bersandar pada lengannya, dokter wabah itu berkata.

“Dan tentu saja, itu masih perubahan kecil sekarang. Karena mungkin belum lama ini kau bisa mengendalikan mimpimu sesuka hati. Tapi bagaimana dengan sebulan dari sekarang, enam bulan dari sekarang, beberapa tahun dari sekarang? Banyak penyakit parah terwujud dari rangkaian hal-hal kecil. Asal kau tahu, para figuran lain dalam mimpimu adalah orang-orang yang ada di dunia nyata. Dalam mimpimu, kamu secara tidak sadar mengundang mereka ke duniamu. Dan itu sedikit demi sedikit mengikis mereka. Aku yakin banyak orang akan mulai mengambil cuti dari sekolah atau bekerja dengan keluhan sakit. Di permukaan, itu adalah perubahan kecil, tapi itulah kenapa sangat sulit untuk ditangani.”

“......”

Aku masih tidak mengerti apa yang dia bicarakan.

Tapi aku bisa merasakan gejolak di hatiku.

Bisa dibilang, intuisi.

Ini nyata, dan terlebih lagi situasi yang tidak biasa. Kekuatan aneh telah bangkit. Seseorang tidak dikenal yang mengaku sebagai dokter telah muncul. Akal sehat tidak berfungsi, jadi tidak heran aku tidak mengerti apa yang sedang dia bicarakan. Tapi situasinya berkembang. Yang tidak terlalu positif dipikir bagaimana pun juga.

Related Posts

Related Posts

Post a Comment