-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Love Comedy in The Dark Vol 1 Episode 2 (3)

Episode 2 (3)



Hanya satu hal yang ku tahu tentang Amagami Yumiri.

Itu adalah, bahwa aku tidak tahu apa-apa tentang Amagami Yumiri.


“Bukankah itu wajar?”

Katanya sambil mengisap minuman jelly.

“Aku dan kamu baru saja bertemu. Kita belum pernah melakukan percakapan yang baik karena cara kita bertemu yang aneh. Selain itu, hari ini adalah pertama kalinya kita betatap muka dalam arti yang sebenarnya. Bahkan aku yang menyebut diriku sebagai jiwa yang bebas, kita tidak bisa saling mengenal dengan baik dalam keadaan seperti ini.”

Sepulang sekolah.

Di sebuah taman yang terletak agak jauh dari rumahku.

Bahkan setelah istirahat makan siang, banyak hal yang terjadi seperti badai yang mengamuk (dengan Amagami Yumiri sebagai mata angin topan, benar-benar banyak hal yang terjadi——pertengkaran dengan ketua kelas, konfrontasi dengan guru. Tak disangka, cewek gal menyukainya dan bertukar kontak dengannya, dan yang mengejutkan, cewek dari anggota klub sastra berbicara dengannya, yah pokoknya banyak. Tidak dicantumkan di sini) aku tidak ingin ada masalah lagi, jadi aku meninggalkan sekolah untuk melarikan diri, dan di sinilah aku sekarang.

Aku duduk di atas ayunan.

Bukan hanya sekedar duduk. Kami duduk berdua.

Aku duduk di atas papan ayunan kayu, dan di pangkuanku. Amagami Yumiri duduk diatasnya.

“...Ini berat loh?”

“Maksudmu, ukuran payudaraku yang berat, ‘kan?”

Dia membalasnya dengan santai.

“Apa-apaan ini. Masa muda? Apakah kita sekarang sedang menikmati masa muda?”

“Tentu saja masa muda. Bukan hanya berat badan ku, nikmatilah kehangatan kulit lembutku sepuasmu.”

Kehangatan kulit lembutmu.

Kau terdengar seperti orang tua.

“Btw dalam posisi ini, jika selangkanganmu bereaksi, aku akan segera tahu. Jika kamu sudah tidak tahan lagi, jangan ragu untuk memberi tahuku. Nanti aku tangani.”

Tangani.

Tepatnya apa yang akan kamu lakukan?

“Yah itu sudah jelas, aku akan melakukan ini dan itu dengan tititmu, bukan? Kamu ingin aku mengucapkan kata-kata kotor ya? Parah sekali pelecehan seksualmu.”

Loh, gak kebalik?

Bukannya aku korban pelecehan seksualnya?

“Kalau gak suka, aku akan berhenti.”

Dia tertawa saat dia melihat ke belakang.

“Tapi yang kita perlukan sekarang adalah komunikasi aktif, bukan? Karena kita adalah sepasang kekasih.”

Itu dia.

Itulah bagian yang benar-benar tidak aku mengerti.

Dokter wabah misterius yang muncul setiap malam dalam mimpiku dan menghancurkan mimpiku muncul dalam kenyataan, mengaku sebagai kekasihku.

Aku sudah lelah dikejutkan oleh begitu banyak hal yang terjadi, dan situasi saat ini adalah keajaiban dalam kehidupanku yang suram, jadi aku merasa bahwa jika aku diam dan menerimanya maka aku akan bahagia.

Tapi tetap saja.

Hal ini harus diperjelas.

Aku ingin tahu lebih dari apa pun.

Kenapa kau bersikeras ingin menjadi pacarku?

Apakah ini murni hasil kompromi dan kalkulasi? Atau hanya iseng bermain-main saja?

“Alasannya sederhana kok.”

Katanya sambil menggoyang-goyangkan kakinya.

“Menurutku, ini adalah cara terbaik dan saling menguntungkan bagi kita berdua. Kamu adalah penyakit bagi dunia dan aku ingin menyembuhkan penyakit itu. Cara tercepat untuk menyembuhkanmu adalah dengan mengatasi kebencianmu. Sudah jelas bahwa kebencianmu berakar pada hasratmu terhadap wanita, jadi pertama-tama aku ingin kamu mengenal wanita.”

“Jadi, kenapa kamu sendiri yang datang kepadaku?”

“Karena akulah satu-satunya yang tahu bahwa kau adalah penyakit dunia, akulah satu-satunya yang tahu kekuatanmu yang tersembunyi, akulah satu-satunya yang tahu masalahmu. Di atas segalanya, aku tertarik padamu. Aku juga sudah bilang padamu, bahwa aku menyukaimu.”

“Kau tidak tahu apa-apa tentangku, bukan? Kita baru pertama kali bertemu, aku berada di bagian bawah hierarki, dan mengatakannya sendiri agak aneh, tapi aku adalah bocah tengik yang tidak berguna.”

“Akulah yang membuat penilaian terhadapmu. Subjektivitasmu tidak penting.”

“Ini tidak adil. Terlalu banyak yang tidak kuketahui tentangmu.”

Ayunan mulai bergerak maju-mundur.

Matahari terbenam lebih awal. Burung gagak terlihat melebarkan sayapnya dan terbang melintasi langit merah. Sementara udara dingin merayap di punggungku melalui jaket bulu, pahaku terasa panas dan berkeringat. Alasan kenapa panas, tentu saja, karena pantat dokter gadungan ada di atas pangkuanku.

(Tln: Terbenam lebih awal karena musim gugur. Dari perumpamaan)

“Kamu juga tidak tahu banyak tentangku, tapi meski begitu ada terlalu banyak perbedaan dalam posisi kita. Setidaknya kamu bisa datang ke dalam mimpiku dan bahkan tiba-tiba pindah ke kelas yang sama denganku.”

“Itu karena aku bebas. Aku tidak tahu segalanya, tapi aku cukup tahu tentangmu.”

“Ini tidak adil.

“Ya, kau benar.”

“Lakukanlah sesuatu.”

“Tentu saja itulah niatku. Bagaimanapun juga kita akan menjadi sepasang kekasih, dan keterbukaan informasi merupakan prasyarat——tetapi aku tidak bisa menunjukkan semuanya kepadamu. Karena seorang wanita akan lebih menarik bila memiliki sedikit misteri.”

“Seorang pria pun semestinya akan lebih menarik bila memiliki misteri.”

“Kamu manis, ya.”

“Kau mengejekku?”

“Aku memujimu kok. ...Tapi benar juga, agar adil seperti yang kamu katakan, aku akan memberitahukan hal ini terlebih dahulu.”

Gyiko.

Gyiko.

Derit rantai ayunan terdengar sangat kering.

Tak ada orang lain di taman——atau lebih tepatnya, tidak ada tanda-tanda orang di sekitar. Biasanya seharusnya ada sedikit lebih banyak lalu lintas pejalan kaki, tetapi tidak ada seorang pun di sekitar kecuali kami. Ini sedikit tidak wajar.

“Aku memiliki tujuan dengan membuat diriku sendiri menjadi pacarmu.”

“Tujuan? Apa itu?”

“Kelak aku akan memberitahumu. Tidak sekarang. Alasan kukatakan kepadamu bahwa aku memiliki tujuan yang jelas, karena kupikir kamu akan lebih yakin jika aku katakan bahwa aku memiliki pertimbangan——aku ingin kamu membantuku. Ini adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan olehmu.”

“Membantumu? Aku? Bagaimana caranya?”

“Itu masih rahasia.”

Mengedipkan mata.

Perlahan-lahan, sambil memegang bibirnya dengan jari telunjuknya.

“...Itu tidak layak dibicarakan.”

Gerakan centil itu sangat imut dan, harus kuakui, itu membuatku berdebar. Tapi sekarang aku lebih jengkel.

“Situasinya tidak berubah. Aku tidak tahu apa-apa tentangmu. Yang kutanyakan tidaklah sesulit itu, bukan? Aku hanya memintamu untuk memberi tahuku siapa kau ini. Jika kau masih tidak bisa mengatakannya kepadaku, apakah ada sesuatu yang membuatmu bersalah? Apakah ada sesuatu yang harus kamu sembunyikan?”

“Seorang wanita yang tidak menyembunyikan apa pun sama dengan seorang wanita yang selalu telanjang, bukan? Karena mereka berpakaian, jadi kamu ingin melepaskan pakaiannya, kamu ingin melihat apa yang ada di dalamnya, kamu ingin tahu seperti apa dia sebenarnya, bukan?”

“Sudah cukup omong kosong itu. Katakan padaku. Siapa kau ini sebanarnya?”

“Dari awal itulah rencanaku. Ngomong-ngomong, Jirō-kun, bisakah kamu memberiku waktu sebentar?”

“Waktu?”

Di senja hari seperti ini?

Apa yang akan kamu lakukan? Ibuku agak cerewet, jadi aku harus pulang lebih awal atau akan merepotkan nantinya.

“Aku pikir akan lebih cepat jika melihatnya secara langsung daripada menjelaskannya dengan kata-kata.”

Tidak, sudah kubilang.

Apa? Apa yang kau bicarakan?

“Pertama-tama, bisakah kamu menelepon ibumu?

Tidak, tidak.

Serius, apa sih? Apa maksudmu?

“Halo, ini saya yang bicara. Nama saya Amagami Yumiri.”

Dia menyuruhku meneleponkannya.

Dengan smartphone di telinganya, dokter gadungan asyik berbicara dengan ibuku. Duduk di atas pahaku di ayunan.

“Jirō-kun selalu baik kepadaku. Sebenarnya, saya dan Jirō-kun telah berpacaran sebagai sepasang kekasih. Ya, secara resmi.”

Tidak, tidak, tidak, tidak!

Tungg, ka, kau menyebutkan itu!?

Jelas saja akan menjadi masalah jika Ibuku sampai tahu!

Maksudku, tidak ada unsur [resminya] sama sekali loh!? Ini hanya deklarasi hubungan yang agak sepihak dan ciuman yang sangat sepihak loh!?

“Ngomong-ngomong, Ibu, saya ada satu permintaan untuk hari ini. Saya ingin meminjam Jirō-kun untuk semalam. Ya, tentu saja, saya akan bertanggung jawab penuh dan mengembalikannya besok pagi. Saya tidak akan berbuat macam-macam. ...Saya boleh meminjamnya? Terima kasih atas pengertian Anda yang begitu cepat.”

Tidak, jangan pinjamkan padaku!?

Maksudku, kok dibolehin sih sampai pagi! Dan tanya dulu kek pendapatku! Bagaimana jika seorang wanita yang tak dikenal menculik putramu!?

“Aku sudah membicarakannya.”

Saat menyerahkan kembali smartphone itu padaku, dokter gadungan merasa puas.

“Beliau meminjamkanmu kepadaku dengan senang hari. Ibumu adalah ibu yang luar biasa dan fleksibel, ya.”

“Dia hanya tidak bertanggung jawab, bukan... mak lampir itu, dia dengan entengnya memutuskan sendiri.”

“Itu karena dia menilai bahwa aku adalah seseorang yang bisa dipercayai, dan dia sangat mempercayaimu, putranya. Percakapan itu sangat singkat, tapi aku bisa memahami kepribadian ibumu dengan cukup baik. Jirō-kun, kamu diberkati.”

‘'Aah cukup, baiklah, baiklah. Jadi? Apa yang akan kamu lakukan sekarang? Apa yang ingin kamu lakukan setelah punya waktu denganku sampai pagi?”

“Aku akan membuatmu mengenalku.”

“Mengenalmu?”

Apa itu?

Aku memang memintamu untuk memberi tahuku tentang dirimu. Tapi apakah itu membutuhkan waktu sampai pagi? Jika kamu ingin membicarakan kehidupan pribadimu, mengapa kita tidak membicarakannya di sini saja?

...Hm?

Tidak, tunggu sebentar?

Jika tidak salah ia bilang [daripada menjelaskannya dengan kata-kata, secara langsung].

Tapi dia mengatakan bahwa kami adalah sepasang kekasih. Bahkan sekarang, kami naik bersama di atas ayunan seperti ini, dengan pantat wanita ini menindih selangkanganku.

Tak lama lagi senja akan segera berakhir dan malam pun tiba.

Namun ia meminjamku dari sekarang sampai pagi?

....

.......

..........

Eh!?

Itu, jangan-jangan!?

“Jirō-kun. Kamu sangat cabul, ya.”

Kukuku.

Bahu dokter gadungan bergetar dan dia pun tertawa.

“Dan kamu memang imut, ya. Aku bisa menebak persis apa yang kamu pikirkan.”

Oi, apa-apaan reaksi itu?

Maksudku, itulah satu-satunya yang bisa kupikirkan dalam situasi ini. Kamu adalah orang yang menciumku pada pertemuan pertama kita dan memberikan ciuman panas pada ciuman kedua kita.

“Un un, iya juga, ini terlihat akan mengarah kesana, ya. Aku tahu kalau kamu melihatku seperti itu. Itulah kenapa kamu sangat cabul. Dasar, anak yang nafsuan.”

“Aku tidak mau mendengarnya darimu... terus apa? Jika bukan mengarah kesana, lalu mengarah kemana? Apa yang akan kita lakukan sampai pagi?”

“Wisata malam.”

Gyiko, gyiko.

Amagami Yumiri memberi tekanan pada kedua kakinya.

Kecepatan ayunan yang mengayun maju mundur meningkat dengan setiap ayunan kakinya.

“Meski di beberapa tempat, kurasa ini akan menjadi waktu saat matahari terbit. Yah, tapi dari sudut pandang subyektifmu, ini semestinya menjadi peristiwa di malam hari, perjalanan besar sepanjang malam.”

“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Apa itu berarti kita akan keluar kota? Atau pergi ke klub dan berdansa semalaman? Uwah, yang benar saja, tidak mungkin orang sepertiku akan menikmati hiburan untuk orang-orang riajuu ekstrovert seperti itu.”

“Kencan seperti itu tidak terlalu buruk. Tapi sayangnya tidak hari ini.”

Gyiko, gyiko, gyiko.

Kecepatan ayunan semakin meningkat.

Kejengkelanku juga mencapai puncaknya.

Aku masih belum tahu. Apa yang harus kulakukan sekarang setelah aku ditelan oleh arus lumpur bernama Amagami Yumiri? Apakah aku hanya akan membiarkan diriku hanyut?

Gyiko, gyiko, gyiko.

Gyiko, gyiko, gyiko.

Kecepatan ayunan semakin meningkat lagi.

...Oi oi.

Apa ini? Apa kau tidak mengayunnya terlalu kuat?

Bukankah kecepatan ayunan ini tidak untuk ayunan yang diduduki berdua? Maksudku, ini menakutkan! Suara anginnya sampai wus wus loh!? Eh, apakah kamu akan melompat dan mencetak rekor dunia untuk lompat ayun!?

Jadi Amagami Yumiri adalah seorang atlet kelas dunia dalam kompetisi ayunan!?

Tidak, tidak. Tidak mungkin hal itu benar——


“Kalau begitu, ayo pergi?”


Tangan kananku mencengkeram rantai.

Mengambil tanganku itu, Amagami Yumiri melompat tinggi.

Tidak, dia terbang.

Ini bukan lompatan besar yang mengandalkan momentum ayunan.

Seolah-olah dia memiliki sayap, seolah-olah berat badannya tidak ada.

Membawaku.

Semakin tinggi dan semakin tinggi.

Semakin tinggi dan semakin tinggi lagi.

Dan semakin cepat dan semakin cepat dan semakin cepat.

Melayang di langit.


“Ha? Eh? ...Ha?”


Pemandangan di tanah hilang dalam sekejap mata.

Kota yang sudah tak asing bagiku berubah menjadi diorama dan miniatur, rumah-rumah, apartemen dan gedung-gedung perkantoran yang mulai diterangi oleh cahaya lampu berubah menjadi pemandangan yang terlihat seperti ember penuh kelereng, dan akhirnya menjadi sketsa langit yang dipenuhi bintang.

Aku ada di langit.

Dipegang oleh Amagami Yumiri, aku terbebas dari tekanan gravitasi.

“Peganglah tanganku erat-erat. Hati-hati agar tidak menggigit lidahmu.”

“...Tidak. Tunggu. Tunggu. Apa ini? Kenapa bisa begini? Apa yang terjadi?”

“Aku akan melakukan perjalanan kecil, jadi kamu harus menemaniku sebentar, Jirō-kun. Bukan masalah besar, ini hanya patroli rutin bagiku. Tenang saja, aku menjamin keselamatanmu. Apa pun yang terjadi, aku akan melakukan yang terbaik untuk melindungimu, jadi jangan khawatir.”

“...Apa, kita terbang?”

“Kita terbang.”

“...Ini mimpi?”

“Kenyataan kok.”

Dokter gadungan mengedipkan mata.

Aku baru menyadarinya, gerakan teatrikal semacam ini sangat cocok untuk wanita ini.

“Ketakutan mengalahkan bahaya, sebuah gambar bernilai seribu kata. Cara tercepat bagimu untuk mengenalku adalah dengan melihatnya secara langsung——yuk kita berangkat.”


Byun.

Atau, gakun.

Pemandangan di depanku bergetar.

Pemandangan malam menyelimuti senja dengan kecepatan yang sebanding dengan kecepatan neutrino yang datang dari luar angkasa dan melewati Bumi. Ini bukan dunia 100 atau 200 km per jam. Ini 1.000% lebih cepat daripada kecepatan suara, dan penerbangan Amagami Yumiri ini, menurutku——lebih cepat daripada kendaraan apa pun yang ada di dunia ini.

Related Posts

Related Posts

Post a Comment