-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 7 Bab 2 Intro Indonesia

Bab 2
Sinyal Awal Pemberontakan


Senin 8 November, meskipun kami dikejutkan oleh masuknya kelompok Ryūen ke dalam konsep café dan harus berurusan dengan berbagai masalah, hal itu tidak mengubah apa yang harus kami lakukan, karena teman-teman bertekad untuk bertarung.

Menanggapi taruhan yang diajukan oleh Ryūen, Horikita menawarkan pertandingan dengan taruhan satu juta poin pribadi setelah menerima persetujuan kelas. Kesepakatannya adalah bahwa kelas dengan satu poin lebih banyak dalam penjualan di festival budaya akan menerima poin yang dipertaruhkan dari kelas lainnya.

Jangan gelisah, ayo hadapi secara langsung dan menangkan.

Banyak anggota kelas yang memiliki sikap positif seperti itu akan menjadi hal positif yang besar.

Chabashira-sensei meninggalkan kelas dan tiba waktunya pulang sekolah, aku mengeluarkan ponselku.

Kemudian aku melihat bahwa chat-ku sudah dibalas dan aku membacanya.

[Aku bisa meluangkan waktu. Aku akan menuju ke tempat yang ditunjuk]

Tampaknya, dia bersedia untuk diajak ketemuan.

Jadi basa-basi yang kuberikan tempo hari tentang masa depan membuahkan hasil.

“Hei Kiyotaka. Pulang bareng yuk.”

“Maaf, aku punya rencana hari ini.”

“Eh, benarkah? Begitu ya... kalo gitu, Maya-chan, pulang bareng yuuk!”

Dengan cepat move on, Kei menoleh ke Satō yang masih berada di dalam kelas.

“Aku jadi pengganti Ayanokōji-kun!?”

“Oh, ayolah, jangan katakan itu. Oke?”

Satō bercanda, tapi tidak menunjukkan penolakan sama sekali, melainkan menerima ajakan Kei dengan senyuman. Dia kemudian mengundang beberapa gadis lain dan meninggalkan ruang kelas dengan gembira.

Di antara mereka ada Shinohara yang belum lama ini memiliki hubungan yang buruk dengannya.

Setelah semakin dekat dengan Satō, Kei tampak lebih dewasa daripada sebelumnya.

Yang jelas, aku bersyukur jika mereka mau menemani Kei.

Aku meninggalkan kelas dan menuju ke gedung khusus untuk bertemu dengan Kanzaki, yang kupanggil.

Karena masalah ini tidak bisa dibicarakan melalui telepon, chat, atau di depan umum.

Dalam perjalanan ke sana, aku melihat Mashima-sensei, wali kelas Kelas A tahun kedua, dan guru-guru yang menjadi wali kelas tahun ajaran lain berdiri di koridor sambil berbincang-bincang.

Pemandangan yang tidak biasa menarik mataku, tapi aku tidak berhenti berjalan.

“Akhir-akhir ini, Chabashira-sensei sudah berubah ya.”

Saat aku lewat, pembicaraan seperti itu bisa ku dengar dari percakapan para guru.

“Dia jadi lebih lembut, atau lebih tepatnya, dia tampak lebih sering tertawa.”

“Mashima-sensei, Anda adalah teman sekolah Chabashira-sensei, bukan? Um, aku ingin menanyakan banyak pertanyaan...”

(Tln: Waduh, waifu milf kalian diincer om-om)

Rupanya topik pembicaraannya adalah tentang Chabashira-sensei.

Kupikir mereka bisa membicarakan apa pun sambil berdiri di ruang staf, tapi jika topiknya adalah tentang guru tertentu, apalagi guru lawan jenis, mungkin itu tidak sopan. Tidak perlu dikatakan lagi bahwa perubahan Chabashira-sensei yang dibicarakan para guru dipicu oleh ujian khusus suara bulat.

Tidak salah lagi, mereka memiliki kesan bahwa dia telah keluar dari cangkangnya, tidak hanya sebagai wali kelas, tetapi juga sebagai seorang guru.

Mashima-sensei menyadari kehadiranku, menyetop pembicaraan.

Dia menilai kalau tidak bijaksana untuk membiarkan siswa mendengar komentar ceroboh dari para guru kali.

“Ayanokōji, ada perlu apa kamu di gedung khusus?”

Ini adalah pertanyaan yang wajar, karena hanya sedikit siswa yang melewati koridor ini sepulang sekolah tanpa alasan.

“Aku ada ketemuan singkat. Ada beberapa hal yang perlu kami bicarakan tanpa didengar oleh orang lain.”

Jawabku, para guru kecuali Mashima-sensei terlihat agak kecewa dan berjalan pergi untuk bubar.

Aku bisa saja langsung pergi, tapi aku juga memiliki sedikit waktu sebelum pertemuan.

“Mashima-sensei, kebetulan. Aku ingin mengajukan sedikit pertanyaan ke Anda, jika Anda tidak keberatan.”

Kehadiran Mashima-sensei yang sampai akhir tidak bergerak juga pasti semacam takdir.

“Aku? Kamu mau nanya apa?”

“Ini sehubungan dengan aturan yang tidak secara eksplisit dicantumkan dalam festival budaya.”

Dia tampak sedikit bertanya-tanya, tapi Mashima-sensei segera menghadapiku secara langsung sebagai seorang guru.

Sekolah ini dibangun di atas aturan khusus yang sangat berbeda dari SMA biasa.

Dia pasti sangat menyadari bahwa setiap siswa memiliki sudut pandang yang berbeda.

Namun, jika demikian, ini pasti akan menimbulkan rasa penasaran.

“Aku tidak tahu apa yang ingin kamu tanyakan, tapi bukankah sebaiknya kamu menanyakannya ke wali kelasmu, Chabashira-sensei, terlebih dahulu?”

Dia tanpa ragu bertanya untuk memastikan bahwa premis itu tidak salah.

Memang, biasanya akan masuk akal untuk meminta wali kelas sendiri untuk menjelaskan peraturannya.

“Jika waktu dan keadaan memungkinkan, terkadang lebih bijaksana untuk tidak bertanya pada Chabashira-sensei.”

“Guru seharusnya bersikap adil terhadap murid-muridnya. Tapi meski begitu, jika menyangkut kelas lain yang seangkatan, bukan berarti tidak akan ada masalah sama sekali. Kamu pasti menyadari hal itu, bukan?”

Ia mengingatkanku bahwa bisa jadi sudah terlambat untuk menyesalinya nanti karena bertanya.

“Aku telah menilai kalau Mashima-sensei bukanlah tipe orang yang akan mengecewakan muridnya.”

“Jika menurutmu begitu, maka kita tidak usah membahas omong kosong ini lagi.”

Daripada respon karena sudah kupercaya, sikapnya ini lebih seperti jika aku mempercayainya, lakukan saja sesukaku.

“Jadi, apa yang ingin kamu tanyakan tentang aturan yang tidak dicantumkan ini?”

Setelah aku diberi izin, aku berkonsultasi dengan Mashima-sensei tentang kasus-kasus khusus.

Mendengar itu pun, dia sama sekali tidak tampak terkejut, tapi mungkin itu wajar saja.

Sekolah juga memiliki aturan di belakang layar yang tidak disebutkan untuk memenuhi berbagai keinginan siswa.

Makanya ia tidak heran dengan adanya siswa yang berpikiran sepertiku.

“Memang seperti yang kamu pikirkan. Bukan tidak mungkin untuk menjalankannya, jika perlu.”

“Sudah kuduga.”

Ini sama sekali tidak aneh.

Akan ada kasus di mana itu akan dibutuhkan ketika kelas sedang menghadapi suatu situasi, atau jika terjadi kesulitan besar.

“Tapi jika kamu bertanya padaku apakah itu efisien, aku meragukannya. Seperti yang kamu ketahui, tidak akan ada masalah yang muncul jika itu terjadi di antara murid-murid. Tidak, lebih tapatnya mereka akan mendiskusikannya sendiri agar hal itu tidak terjadi. Kau paham apa yang kumaksud, bukan?”

“Ya. Aku pikir itu adalah sesuatu yang tidak perlu dicantumkan dalam aturan dan bisa dilakukan secara mandiri.”

“Tepat. Tentu saja, masing-masing risikonya akan berbeda, tapi kenapa kamu harus melihat opsi itu?”

“Sudah sewajarnya untuk kami mempersiapkan diri menghadapi keadaan yang tidak terduga.”

Jawabku begitu, Mashima-sensei mengangguk sambil berpikir.

“Entah akan dijalankan atau tidak———ya. Benar, memang tidak ada salahnya untuk memahami hal itu.”

Walaupun Mashima-sensei tidak menyebutkannya, tapi dia pasti bisa melihat samar-samar mengenai jalur penjualan yang berasal dari sana.

“Aku senang bisa mendapatkan konfirmasi. Terima kasih banyak.”

“Bukan masalah.”

Dengan ini, 1 hal lagi sudah diperiksa untuk festival budaya. Ini akan menjadi keuntungan yang tidak terduga.

Setelah membungkuk, aku hendak berjalan pergi, tapi dihentikan oleh Mashima-sensei.

“Ayanokōji, kupikir kamu sudah mendengar sedikit pembicaraan kami soal Chabashira-sensei... apa yang sudah terjadi ketika ujian khusus suara bulat?”

“Dari Chabashira-sensei, aku tidak mendengar apa-apa kok?”

Hasilnya tentu saja diketahui oleh Mashima-sensei, tapi tampaknya ada bagian yang tidak ia mengerti soal perubahan hati Chabashira-sensei.

“Dengan atau tanpa pengusiran, ia mulai melihat ke depan dan tersenyum. Dengan kata lain, ada peristiwa kuat dalam ujian khusus itu yang mengubah hatinya. Iya, ‘kan?”

Seingatku, Mashima-sensei dan Chabashira-sensei itu seangkatan di SMA Kōdo Ikusei.

Dia tahu persisnya berbagai peristiwa di masa lalu, tidak mengherankan jika dia terkejut.

“Itu bukan hal yang tepat untuk ditanyakan ke seorang siswa. Lupakan yang barusan itu.”

“Baik. Permisi.”

Setelah membungkuk pelan pada Mashima-sensei, aku memutuskan untuk pergi ke gedung khusus di mana kami akan bertemu.

Related Posts

Related Posts

1 comment