-->

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 7 Bab 3 Intro Indonesia

Bab 3
Sepucuk Surat Cinta


Selasa, 9 November. Di pagi hari, aku bertemu Horikita di lift dalam perjalanan ke sekolah.

Setelah bertukar salam singkat, kami meninggalkan lobi dan langsung keluar dari asrama bersama-sama.

“Apa kamu sudah dengar? Sehari sebelum festival budaya, seluruh siswa tahun ketiga melakukan gladi bersih untuk acara yang sebenarnya.”

“Ya. Sepertinya mereka juga mengundang siswa tahun pertama dan tahun kedua untuk berpartisipasi.”

Tepat tadi malam, informasi tersebut ditempelkan di papan buletin sekolah untuk menginformasikan kepada semua tahun ajaran.

Sumbernya adalah OSIS———dengan kata lain, keputusan Nagumo. Mungkin inilah yang dimaksud dari perkataan Nagumo sendiri minggu lalu, bahwa OSIS akan memberikan usulan yang bagus.

Bentuk partisipasinya bebas. Kami bisa menyajikan makanan yang sebenarnya atau hanya tiruannya saja.

Ini hanya usulan agar dilakukan penyesuaian untuk festival budaya besok, semuanya bersama-sama.

“OSIS sudah menerima pernyataan partisipasi dari banyak kelas. Aku yakin beberapa kelas yang selama ini menutup-nutupi kreasinya juga ingin dievaluasi oleh pihak ketiga sebelum hari H.”

“Jadi ada lebih banyak kelas yang menerimanya dengan baik, ya.”

“Kurasa itu sebagian besar disebabkan oleh fakta bahwa Kelas A tahun ketiga menyewa gedung olahraga dan mempublikasikan kreasi mereka.”

Kreasi mereka dipublikasikan tanpa disembunyikan dan didemonstrasikan secara langsung.

Dan cara mereka memasukan poin-poin perbaikan yang terungkap dari proses tersebut telah menjadi fakta yang terkenal bagi para siswa yang mendaftar. Mungkin ada sejumlah siswa yang ingin menjadikan festival budaya ini bukan hanya sebuah kompetisi, tetapi juga ingin menyukseskan dan menikmatinya sebagai seorang siswa.

“Aku yakin keputusan OSIS untuk membayar bahan habis pakai, dll. juga menjadi pendorongnya.”

Melakukan gladi bersih akan membutuhkan uang.

Anggaran terpisah harus disiapkan dari anggaran yang disediakan untuk festival budaya, pendanaan untuk ini tentunya dalam bentuk pengumpulan poin pribadi dari individu.

Tidak heran jika beberapa kelas harus melupakan gladi bersih jika mereka harus membayar dari kantong mereka sendiri, tapi disanalah kerja bagus dari OSIS. Jika OSIS bersedia menanggung biayanya, itu adalah berkah dan hanya ada sedikit alasan untuk menolaknya. Juga telah diberitahukan bahwa jika mereka membawa kuitansi, biaya itu akan diganti dari anggaran OSIS.

Tentu saja itu tidak terbatas, tapi ada kuota puluhan ribu poin untuk setiap kelas secara merata.

“Tidak masalah kan jika kita juga ikut mendaftar?”

“Tentu saja. Seluruh sekolah sudah tahu kalau kita akan mendirikan maid café. Tak ada ruginya untuk ikut.”

“Benar. Dan ada juga masalah Ryūen-kun.”

Aku mengangguk ringan dan menjawab tatapan penuh arti dari Horikita.

“Ayo kita lihat apa yang mereka punya di sana.”

Karena ini juga merupakan kesempatan besar untuk mengetahui lebih lanjut tentang bagaimana kemajuan di pihak Ryūen.

“Tidak merasa seperti kamu akan kalah?”

“Entahlah.”

“Kamu terlihat cukup percaya diri loh.”

“Bukannya aku percaya diri. Aku hanya melakukan semua yang aku bisa.”

“Itu benar sih. Tapi, bukankah orang biasanya akan merasa cemas?”

Rupanya Horikita khawatir akan kemungkinan kami akan kalah, meski kami sudah siap sepenuhnya.

“Mungkin aku takut kalah.”

Kekalahan tidak menyebabkan poin kelas hilang.

Tapi, itu sama saja jika kami tidak memperoleh poin kelas.

Setelah membangun momentum dan semakin dekat dengan Kelas A, wajar jika dia tidak ingin terhenti.

“Mungkin kamu tahun lalu tidak akan secemas itu.”

“Itu hanya ceroboh... tidak, aku hanya tidak melihat apa pun di sekitarku.”

Kini Horikita mulai sedikit demi sedikit memperluas bidang pengelihatannya.

Itulah sebabnya dia tidak bisa tidak memikirkan tentang kekalahan.

“Sebagai pemimpin kelas, tidak ada salahnya untuk mengasumsikan pola kemenangan dan kekalahan. Aku hanya salah satu bidak. Jadi aku hanya melontarkan pernyataan yang tidak bertanggung jawab.”

Yah, tidak bisa mengabaikan pernyataan itu dengan mudah adalah kekurangan sekaligus kekuatan Horikita.

Sakayanagi dan Ryūen akan mengabaikannya, sementara Ichinose akan sangat sulit lepas darinya.

Horikita memiliki kedua aspek ini.

“Kukira aku sudah tahu itu, tapi... lumayan sih.”

Aku menampar punggung Horikita, yang mengejek dirinya sendiri, sekali dengan telapak tanganku.

“Hei, apa yang kamu lakukan?”

“Masih terlalu dini untuk terbiasa menang”

“Mh...”

Dia tampak sedikit marah, tapi pasti juga menyadari bahwa tebakanku benar.

“Kau benar. Itu adalah cara berpikir yang sombong, karena ini bukan hasil dari apa pun yang kulakukan sendiri.”

Pulau tak berpenghuni, suara bulat, bagaimanapun juga, itu bukan kemenangan yang hanya didukung oleh kemampuan semata.

“...Kamu itu...”

“Apa?”

“Aku mencoba untuk tidak menganggap serius apa pun yang kamu katakan, tapi akhir-akhir ini kamu sangat kooperatif, jadinya makin menjengkelkan. Aku bingung tidak tahu bagaimana memprosesnya di kepalaku.”

“Kalau begitu, tolong jangan minta kerjasamaku lagi kedepannya.”

Ketika aku mencoba berjalan cepat untuk menjauh dari tempat ini, dia mencengkeram pundakku.

“Itu ditolak.”

Aku berusaha melarikan diri, tapi segera ditangkap dan ditarik mundur.

“Aku mau mampir ke toserba sebelum berangkat ke sekolah, mau ikut sekalian?”

“Toserba?”

“Kita punya banyak persiapan yang harus dilakukan sehari sebelum festival, jadi aku ingin memanfaatkan istirahat makan siangku hari ini.”

“Aku mau saja.”

Mampir selama beberapa menit tidak menimbulkan masalah.

Aku mengikuti Horikita ke toserba dan masuk ke dalam toko.

Kemudian aku bertemu dengan Kōenji, yang baru saja akan membayar tagihan.

Hanya dua barang, sebotol susu kedelai dan salad sasimi.

Itu makanan yang sangat ringan untuk makan siang, aku penasaran apa dia akan memakannya di sela-sela istirahat pagi.

Ada banyak misteri tentang kehidupan pribadinya, karena aku biasanya jarang melihat Kōenji makan.

“Selamat pagi, Kōenji-kun.”

Horikita menyapanya, tapi setelah membayar tagihan, Kōenji hanya tersenyum ringan dan tidak bertukar kata apa pun.

“Kudengar Kōenji adalah satu-satunya yang tidak diberi jatah pekerjaan untuk festival budaya.”

“Dia bilang dia tidak akan melakukan apa-apa. Dan aku yakin dia tidak akan berubah pikiran.”

Horikita tidak tampak terlalu terganggu olehnya, jadi dia memilih makanan yang bisa dimakan dengan cepat dan pergi ke kasir.

Dia menolak tawaran kantong plastik dan menyimpannya sendiri di dalam tasnya.

“Kamu tidak beli apa-apa?”

“Tidak ada yang kubutuhkan, dan aku juga tidak punya banyak poin pribadi.”

Dompetku lumayan tebal setelah masuk November, tapi sebentar lagi akan ada rencana pengeluaran.

“Kamu sudah tidak lagi ngasih uang ke Kushida-san, ‘kan?”

(Tln: berdasarkan kanji harusnya uang disana = upeti/persembahan)

“Dia juga belum menagihku soalnya.”

“Kamu akan membayarnya jika dia menagihmu?”

“Menurutmu dia akan menagihku?”

Ketika kutanyakan balik sarkasme itu, “Kurasa tidak,” gumam Horikita.

“Tidak, jangan sampai deh. Nanti aku harus pusing mikirin dia lagi.”

Seperti apa pun penyimpangannya, Kushida telah menunjukkan perubahan besar.

Dan itu mengarah ke pertumbuhan, semoga saja itu mengarah ke sana.

Related Posts

Related Posts

1 comment