-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 7 Bab 3 Part 2 Indonesia

Bab 3
Sepucuk Surat Cinta


2


Karena permintaan yang tidak terduga, langkah kakiku sedikit... tidak, tapi sangat berat.

“Kenapalah tidak diserahin sendiri... ya ampun.”

Menerima permintaan ini adalah sebuah kesalahan. Aku yang tak ada kaitannya kenapa harus menyerahkan ini....

Kurasa aku memang harus kembali dan kasih tahu Ichihashi-san agar pemiliknya langsung memberikannya sendiri....

“Harusnya itu yang benar.”

Ketika perasaan melarikan diri melintasi kepalaku.

Tiba-tiba aku teringat saat aku hendak memberikan surat ke Nī-san yang telah memutuskan untuk masuk ke SMA.

Aku yang dulu bodoh, yang tidak menyadari bahwa Nī-san telah bersikap dingin terhadapku, dan aku sangat ingin kembali ke masa lalu ketika kami masih dekat.

Jika kami tidak bisa berbicara tatap muka, kupikir aku bisa menuangkan perasaanku itu ke dalam sebuah surat.

Tapi, pena yang kupegang tidak bergerak dengan mulus seperti yang ada di kepalaku.

Berhari-hari aku berpikir, termenung, menulis dan menghapus, menulis dan menghapus.

Bagaimana perasaanku bisa tersampaikan?

Bagaimana agar Nī-san bisa senang?

Hanya menulis surat, aku sudah sangat kesulitan.

Dan pada akhirnya———aku tidak bisa menyerahkannya, kan?

Nī-san pun pergi ke sekolah ini dan aku tidak lagi bisa bertemu atau menghubunginya.

“Kalau dipikir-pikir, apa yang terjadi pada surat itu ya...”

Saat aku coba menggali ingatanku, sepertinya aku menaruhnya di laci meja Nī-san...

“Eh, kalau Nī-san pulang ke rumah, bukannya surat itu akan dia lihat?”

Berhenti di koridor, aku merasakan detak jantungku tiba-tiba semakin cepat.

Jika ia melihat surat itu sekarang———Nī-san akan menertawakannya.

“———Dahlah lupain saja.”

Sekalipun aku mengeliat di sini sekarang, aku tidak bisa membuang surat itu atau berpura-pura bahwa itu pernah ada.

Sekarang yang bisa aku lakukan hanyalah berharap agar Nī-san tidak menemukan surat itu.

Teringat punggung Nī-san dari luar jendela, aku menyatukan kedua tanganku sekali.

“...I-Iya ya.”

Menulis surat untuk orang yang tersayang tidaklah mudah.

Apalagi menyerahkannya secara langsung, rintangannya bahkan akan lebih tinggi.

Bahkan sekarang, jika aku ditanya apakah aku bisa memberikan surat pada Nī-san dengan perasaanku kini, aku akan kesulitan untuk memberikan jawaban langsung. Aku tidak tahu siapa pengirimnya, tapi penerimanya adalah Ketua OSIS Nagumo.

Tentu saja dia pasti akan merasa malu-malu.

Entah bagaimana, aku berhasil menemukan alasan dalam diriku untuk menyerahkannya dan tiba di tujuanku di ruang OSIS.

Ketika aku membuka pintu, semua anggota OSIS sudah ada di sana, kecuali Ketua OSIS Nagumo.

Ada tiga anak laki-laki di OSIS, kecuali Ketua OSIS Nagumo.

Yagami-kun, siswa tahun pertama, Aga-kun, juga siswa tahun pertama, dan wakil ketua OSIS Kiriyama-senpai, tahun ketiga.

Tapi itu tidak bisa diserahkan pada sembarang anak laki-laki. Aku tidak bisa begitu saja mempercayakan mereka dengan sesuatu yang bahkan bukan tugas OSIS, seperti menyerahkan surat cinta.

Dari mereka semua, satu-satunya yang relatif dekat dan bisa bicara santai denganku adalah Yagami-kun.

Ini juga bisa dianggap mengambil keuntungan dari posisiku sebagai senpai, tapi aku tidak bisa menyelesaikan masalah tanpa berkorban.

Yagami-kun duduk dan mengobrol dengan Ichinose-san.

Aku meraih surat cinta di dalam tasku agar hal merepotkan ini cepat beres.

Tetapi tepat pada saat itu, Ketua OSIS Nagumo muncul di ruang OSIS.

“Kita akan langsung mulai rapat. Silahkan duduk.”

Suara Ketua OSIS Nagumo gelap dan berat.

Aku merasakan suasana seketika berubah menjadi tegang, jadi kukembalikan tanganku kembali ke dalam tas.

Tidak mungkin aku bisa bilang bahwa aku diminta untuk memberikan surat cinta dalam keadaan seperti ini.

“Ichinose, kalau ada laporan, sampaikanlah.”

“Baik. Tampaknya semua kelas telah memutuskan akan berpartisipasi dalam gladi bersih sehari sebelum festival budaya.”

“Jadi diputuskan dalam waktu hampir setengah hari. Sepertinya Ketua OSIS membuat keputusan yang tepat. Tapi jika itu adalah kebijaksanaan OSIS, aku ingin kamu beritahu kami sedikit lebih awal.”

Wakil Ketua OSIS Kiriyama-senpai membuat pernyataan kasar.

“Ide itu muncul tiba-tiba. Aku pikir sedikit lebih awal akan membuat para kōhai senang.”

Ketua OSIS Nagumo menjawab tanpa permintaan maaf khusus.

Ini adalah adegan rapat OSIS yang sudah biasa terjadi.

Pada dasarnya, inisiatif OSIS dimulai dengan ide dari ketua OSIS Nagumo.

Terkadang ide itu lahir dari pernyataan-pernyataan yang dibuat selama rapat, dan terkadang lahir tanpa sepengetahuan kami berikan.

Kemudian tiba-tiba terjadi keheningan, Ketua OSIS Nagumo menyilangkan tangannya dan memejamkan matanya.

Dia terlihat jelas seperti sedang menahan amarahnya.

“Anu, Nangumo-senpai... apa terjadi sesuatu?”

Tidak bisa diam saja, Ichinose-san bertanya dengan takut-takut.

“Hari ini, aku mendengar rumor aneh.”

“Rumor... ya?”

“Itu rumor tanpa dasar, tapi ada seseorang yang mengatakan bahwa, aku bermain taruhan dengan uang banyak untuk mengeluarkan siswa tertentu.”

“Eh? Apa maksudnya itu?”

Wajar saja jika Ichinose-san bertanya balik.

Karena aku juga tidak bisa langsung memahami maksud dari apa yang dikatakan Ketua OSIS Nagumo.

“Siapa yang mengatakan hal konyol itu?”

“Anggota kelasmu, Kishi.”

Ketua OSIS Nagumo melontarkan kata-kata seperti itu ke Wakil Ketua OSIS Kiriyama dengan mata tertutup.

“...Kishi?”

“Itu hanya rumor dari sesama teman, aku tidak akan heran jika kau mengetahuinya.”

“Maaf, aku baru pertama kali mendengarnya. Lagi pula aku tidak tahu apa gunanya mempertaruhkan banyak uang untuk membuat seseorang dikeluarkan.”

Umumnya, uang dalam jumlah besar dipakai untuk memindahkan seseorang tertentu ke Kelas A.

Kalau ceritanya seperti itu, aku juga pasti bisa memahaminya.

Terutama untuk tahun ketiga yang pemenangnya sudah dipastikan, karena jika mereka dipanggil ke kelas Ketua OSIS Nagumo, mereka praktis dijamin lulus sebagai Kelas A.

Aku tidak bermaksud kasar, tapi mungkin saja ketua OSIS Nagumo secara diam-diam memberikan poin pribadi dan hak untuk pindah kelas kepada mereka yang dekat dengannya.

“Itu hanya rumor. Tapi, aku tidak mau duduk diam dan membiarkan rumor tentangku menyebar.”

Tentu saja, sebagai Ketua OSIS, rumor semacam itu hanya dapat merugikan secara sepihak.

Wajar saja jika dia terlihat dalam suasana hati yang buruk.

“OSIS akan diliburkan untuk sementara waktu.”

“Diliburkan... ya?”

Mendengar usulan dari Ketua OSIS Nagumo yang tidak terduga, Ichinose-san terkejut.

Anggota OSIS berkumpul rutin seperti ini seminggu sekali dan membahas berbagai agenda.

Satu-satunya pengecualian adalah selama periode ujian dan beberapa ujian khusus, selain itu tidak biasa diliburkan di waktu normal.

“Kita juga sudah selesai mendiskusikan festival budaya. Seharusnya tidak masalah.”

“Apa kau mau mencari pelakunya?”

“Tentu saja. Aku akan mencarinya ke setiap sudut. Rapat berikutnya kita adakan setelah festival budaya.”

Setelah itu, diskusi dilanjutkan dengan topik sehari sebelum festival budaya dan tak lama kemudian kami bubar.

Aku berdiri dari tempat dudukku dan menghampiri Yagami-kun.

Mungkin ia sadar jika aku sedang mendekatinya, ia mengakat pandangannya dari buku catatannya, berhenti menulis dan menutup buku tersebut. Ia adalah sekretaris OSIS, jadi ia yang membuat catatan rapat.

Siswa lain meninggalkan ruang OSIS lebih dulu dari kami, dan aku bersyukur untuk itu.

Begitu tinggal kami berdua, aku bicara dengannya.

“Bisa bicara sebentar?”

Setelah terlihat sedikit terkejut, Yagami-kun berbalik.

“Maaf, apa kamu masih sedang menulis catatan?”

“Tidak, aku baru saja selesai. Jangan khawatir.”

Meletakkan tangannya perlahan pada buku catatan yang dia tutup cepat, Yagami-kun tersenyum padaku.

“Ada apa, Horikita-senpai?”

“Yagami-kun. Bolehkah aku minta tolong padamu untuk melakukan sesuatu yang agak mendesak?”

“Apa itu?”

“Aku ingin kamu memberikan ini pada Ketua OSIS Nagumo. Ini surat cinta.”

Aku mengeluarkan surat cinta dan memberikannya pada Yagami-kun.

“Itu cukup langka di masa kini. Kebanyakan sih itu dilakukan lewat chat atau panggilan telepon...”

Dia tampak terkejut saat menerimanya, aku segera menambahkan.

“Untuk memperjelas, itu bukan dariku.”

“Begitu ya. Tak kira ini surat cinta darimu, Horikita-senpai.... Atau haruskah aku serahkan ini atas namamu saja?”

“Bukanlah. Seorang gadis di kelasku yang meminta tolong ke aku.”

“Di sini tidak ada nama pengirimnya, surat cinta dari siapa ini? Nanti aku sampaikan sekalian.”

“Aku tidak bisa katakan. Orangnya ingin surat itu tetap anonim.”

“Surat cinta anonim... ya.”

“Ia mengandalkanku karena aku anggota OSIS, tapi karena ada suratnya anonim, mungkin akan jadi salah paham jika aku yang memberikannya, bukan?”

“Kemungkinan itu bisa saja. Sejujurnya, aku masih sedikit curiga kalau ini mungkin ditulis olehmu, Horikita-senpai.”

Yagami-kun sedikit tertawa geli, tapi itu sama sekali tidak lucu bagiku.

“Aku bercanda. Aku bisa tahu dari ekspresi tidak suka Senpai kalau ini bukan darimu.”

Kalau begitu, tidak masalah....

“Sebenarnya, akan lebih cepat jika kuberikan itu padamu sebelum Ketua OSIS Nagumo tadi datang...”

“Bahkan jika suratnya sudah kupegang, kurasa aku tidak akan berani menyerahkannya. Soalnya dia tidak terlihat dalam suasana yang pas untuk menerima surat.”

“Kau benar, situasinya tidak tepat tadi.”

Dalam situasi itu, tidak ada yang berani berbicara dengan Ketua OSIS Nagumo.

“Aku minta maaf merepotkanmu, tapi bisakah kamu menyerahkannya secepat mungkin? Aku yakin orangnya ingin itu sampai ditangan Ketua OSIS hari ini.”

“Kalau begitu, aku akan mengunjungi asramanya nanti.”

Yagami-kun menatap surat cinta itu dengan cermat, menunjukkan ekspresi yang sedikit rumit.

“Apa ini, benar-benar surat cinta?”

“Mungkin. Katanya, dia mencurahkan isi hatinya ke dalam surat itu, tapi aku tidak bisa memastikannya.”

Aku juga tidak bisa begitu saja melepas segelnya untuk melihat isinya.

“Jika yang dikira surat cinta ini kuberikan padanya dan ternyata bukan, kupikir itu tidak sopan untuk Ketua OSIS Nagumo.”

“Itu bisa saja.”

“Aku akan memberitahunya dengan hati-hati, bahwa aku menerima surat ini dari seseorang.”

“Ya, saya pikir itu ide bagus. Terima kasih.”

Aku berterima kasih padanya karena sudah mau menerima permintaanku tanpa keluhan.

“Bagaimanapun juga, bahkan di zaman sekarang ini, kerjaan seorang sekretaris untuk menulis catatan rapat dengan tangan itu berat juga, ya.”

Di masa kini, seharusnya tidak ada masalah bekerja dengan komputer.

“Tradisi juga penting. Sejak berdirinya sekolah ini, catatan rapat selalu disimpan dalam arsip. Jika kita tiba-tiba beralih ke digital, maka itu akan menimbulkan rasa tidak nyaman.”

Yagami-kun berbalik dan melihat ke rak buku. Tentu saja, ada banyak catatan rapat yang disisipkan di sana yang menceritakan sejarah kerja OSIS hingga sekarang.

Padahal tidak ada salahnya jika itu berubah menjadi disk di generasi kami, Yagami-kun ada benarnya.

Mungkin ini adalah sesuatu yang harus diteruskan jika kami ingin menghormati tradisi.

“Aku juga mendengar bahwa lebih baik mengalami kesulitan ketika masih seorang pelajar. Karena jika kita terbiasa dengan hal-hal mudah sejak awal, kita mungkin akan menderita di kemudian hari.”

Yagami-kun menunjukkan respons yang agak lebih dewasa, tak seperti siswa SMA tahun pertama.

“Dalam hal itu, surat cinta ini pun mirip, ya.”

Benar sekali, saat ini tidak jarang orang menembak menggunakan ponsel.

Tetapi aku juga mengerti bahwa menyampaikan perasaanmu dalam tulisanmu sendiri itu lebih bermakna.

“Meskipun begitu, Ketua OSIS Nagumo hari ini tampaknya benar-benar banyak pikiran, ya.”

“Ya. Dia bertaruh banyak uang untuk mengeluarkan seseorang dari sekolah, bukan? Yang bilang kalau tidak salah———siapa namanya aku lupa....”

Seolah mengingat sesuatu, Yagami-kun membuka catatannya tentang jalannya rapat dan menunjukkannya padaku.

Halaman pertama yang dibolak-balik adalah dari pertengahan tahun lalu, itu tampak seperti ditulis oleh siswa tahun ketiga saat ini di tahun kedua mereka.

Kemudian font berubah dan beralih ke catatan rapat saat ini.

Aku langsung mengetahuinya, karena catatan yang tampaknya ditulis Yagami-kun ditulis dengan sempurna tampak tertulis rapi dan teliti.

Dan tulisan tangannya begitu halus sehingga sulit dipercaya bahwa itu adalah tulisan tangan.

“Ada. Dia bilang si Kishi-senpai ini mungkin yang memulai rumor tersebut, ‘kan? Apa kamu tahu dari kelas mana Kishi-senpai ini?”

Yagami-kun bertanya padaku dengan ekspresi yang sama seperti biasanya, sambil menunjukkan catatan rapat kepadaku.

Tetapi otakku langsung ditarik ke area lain.

Tulisan tangan ini....

Ini sangat mirip dengan tulisan tangan yang aku cari, yang hampir luput dari ingatanku sekarang.

Orang yang mengirimiku surat selama ujian di pulau tak berpenghuni.

Sembari menahan pandanganku yang hampir kabur karena gelisah, aku sampai di catatan rapat hari ini.

Kulihat Yagami-kun dari sudut pandang yang lebih luas, ia tetap menatapku dengan senyuman yang sama.

Jangan-jangan....

Tapi, tidak, itu tidak mungkin.

Dengan berbagai macam emosi yang berkecamuk di sekelilingku, aku berpikir sambil terus berpura-pura melihat ke catatan rapat itu.

“Horikita-senpai?”

“...Maaf aku tidak tahu. Lihat saja OAA, nanti kamu pasti akan langsung tahu.”

“Benar juga. Aku akan langsung memeriksanya.”

“Maaf, tapi aku baru ingat kalau aku keperluan. Jadi aku akan pergi sekarang.”

“Ah, benarkah? Aku mengerti.”

Aku mengalihkan padanganku darinya dan dengan cepat berbalik untuk melarikan diri.

“Kalau begitu maaf merepotkan, tapi terkait surat untuk Ketua OSIS, aku serahkan padamu, ya.”

“Ya. Sampai jumpa lagi, Horikita-senpai.”

Jika dia menatapku sekarang, aku mungkin akan bertanya padanya.

Hanya itu yang harus dihindari, itulah intuisiku.

Keluar melalui pintu yang menghubungkan ruang OSIS dan perlahan-lahan menutup pintunya.

Tepat sebelum menutup, dari dalam ruangan yang bisa kulihat melalui celah kecil, Yagami-kun menatapku sambil tersenyum.

Tatapan yang seolah sedang mengujiku.

Seolah berkata, “Apa kamu sudah menyadarinya?” provokasi semacam itu.

Jika tidak, ia tak akan repot-repot membuka catatan rapat itu sendiri untuk menunjukkan tulisan tangannya.

Pintu pun tertutup.

Kemungkinan kalau tulisan tangannya itu kebetulan mirip, tidak bisa dikesampingkan.

Karena sudah cukup lama berlalu sejak aku melihat tulisan tangan itu, ingatanku menjadi kabur.

Tapi tetap saja, enath kenapa, tulisan tangannya cukup mirip untuk membuatku yakin.

Jika kuasumsikan dia adalah orang yang menulis surat itu padaku... itu berarti dia selalu bersikap tenang saat berada di sisiku sepanjang waktu.

Pada saat yang sama, itu tampaknya tidak begitu menjelaskan kebenaran dari spekulasi ini.

Related Posts

Related Posts

1 comment