-->

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 7 Bab 6 Part 1 Indonesia

Bab 6
Yang Ditinggalkan oleh Airi


1


Setelah mampir ke kelas sebentar dan mengambil kardus yang kubawa pagi ini, aku pergi melewati gedung sekolah menuju jalan yang mengarah ke Keyaki Mall. Akhirnya, aku sampai di sebuah tempat dengan bangku-bangku untuk para siswa beristirahat. Tidak ada stan di sebelah sini, dan tentu saja tidak ada siswa atau tamu yang terlihat.

Begitu aku mendekat, tentu saja aku bisa melihat orang-orang yang ada di sana.

“Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini, Kiyopon?”

Haruka duduk di bangku, dan Akito yang berdiri di dekatnya menatapku.

“Karena aku tahu kamu dan Airi biasa mengobrol di sekitar sini sepulang sekolah.”

Aku sudah menerima laporan bahwa Haruka dan Akito berjalan-jalan di sekitar sekolah seharian ini.

Dan setelah selesai mengelilingnya, ia akan memilih tempat ini sebagai akhir dari perjalananannya.

“Pastilah tahu mantan grup Ayanokōji. Jawabannya benar.”

Haruka yang menyapaku tanpa tersenyum langsung melanjutkan kata-katanya.

“Buat apa kamu datang ke sini? Kami tidak ganggu festival budaya, bukan?”

“Mungkin kalian memang tidak mengganggu. Tapi kalian juga tidak ikut membantu.”

“Iya juga.”

“Aku merasa tidak enak padamu... tidak, aku merasa tidak enak pada kelas.”

Akito yang tidak kelihatan sejak pagi, meminta maaf.

“Tidak masalah. Aku tahu apa yang kamu pikirkan dan alasanmu berada di samping Haruka.”

“Daripada itu, bisa kamu jawab saja pertanyaanku?”

“Buat apa aku datang ke sini, ya? Maid café lebih sukses daripada yang kubayangkan dan tidak ada cukup maid yang bisa dipekerjakan.”

“Hum, gitu ya. Kalau ada Airi, mungkin akan sedikit berbeda. Karena aku juga akan ikut membantu, artinya kalian kehilangan dua orang sekarang.”

“Dalam hal itu Kushida tidak ada. Situasinya akan jauh lebih menyedihkan.”

“Kau membalas sindiranku dengan sindiran ya.”

“Aku hanya mengutarakan fakta.”

Gaya permusuhan Haruka cenderung mengarah ke pertukaran verbal.

Aku bisa melihat tujuannya bahwa dia melakukan ini untuk membuatku jengkel.

“Bisakah aku minta bantuanmu untuk 1 jam terakhir saja?”

“Kau sudah tahu jawabannya, ‘kan? Kalau tidak ada gunanya mencoba membujukku.”

“Aku tahu. Sebab kalaupun ada persyaratannya, itu hanya dengan mengembalikan Airi.”

Tentu saja, itu hal yang mustahil.

“Pokoknya, tolong dengarkan aku saja. Kau pasti penasaran dengan apa yang kubawa ini.”

Aku meletakkan kardus di tanganku ke tanah.

“Aku ingin kau membuka kotak ini.”

Pintaku, tapi Haruka hanya mengerutkan kening curiga.

“Buat apa juga lakuin ini? Maaf, tapi aku tidak ingin terlibat dengan hal-hal aneh.”

Katanya, Haruka mengeluarkan sebuah amplop dari sakunya.

Amplop putih berisi tulisan tangan dengan kata-kata [surat pengunduran diri].

“Kau tidak terkejut, ya.”

“Aku tahu bahwa besar kemungkinan kamu akan mengundurkan diri seusai festival budaya. Dan kau juga akan mengikutinya kan, Akito?”

“...Ya.”

Akito juga mengeluarkan amplop yang bertulisakan sama yaitu surat pengunduran diri.

“Hebat ya, Kiyopon. Kayaknya itulah kenapa kamu bisa mengeluarkan Airi tanpa ragu-ragu.”

Sewaktu berbicara pun, tatapannya tidak melihatku. Matanya hanya menatap ke dalam kehampaan.

Seolah-olah dia memisahkan dirinya dari dunia dan bicara denganku dari suatu dimensi lain.

“Festival budaya yang dinanti-nantikan Airi. Festival budaya yang seharusnya menjadi panggung besar untuk mengubah dirinya dan mengambil langkah besar.”

Dia memejamkan matanya karena frustrasi dan menghantamkan tinjunya ke tempat di mana ia duduk.

“Aku memutuskan untuk melihatnya sampai akhir. Aku memutuskan akan melihat semuanya menggantikan gadis itu.”

“Aku memang mengeluarkan Airi. Aku pun memanfaatkan perasaan lawan jenisnya untuk keluar dari masalah. Aku tidak akan mengatakan bahwa aku tidak bersalah untuk itu.”

“Gadis itu membutuhkanku. Dan Kiyopon, dan dia membutuhkan grup Ayanokōji. Menurutmu, seperti apa wajah gadis itu setelah dikeluarkan oleh seseorang yang dicintainya sekarang? Pernahkah kau memikirkannya?”

“Seperti apa wajahnya? Apa yang dia pikirkan? Beri tahu aku lebih spesifik.”

Emosi Haruka terpicu, mungkin dia marah padaku karena aku tidak memahaminya.

“Sudah pasti dia terus dan terus menerus menangis. Ia kecewa, sedih, dan tersiksa, duduk di sudut kamarnya dan mengenang kembali kehidupan sekolahnya yang menyenangkan. Itu pun kau tidak tahu?”

“Apa itu Airi dalam dirimu?”

“Bukan hanya dalam diriku. Seperti itulah gadis itu! Kenapa kau tidak bisa mengerti!”

Dia tidak sampai berteriak, tapi dia jelas-jelas marah.

“Kau pun aslinya juga sependapat kan, Kiyopon!? Tapi kau hanya tidak ingin menghadapi kenyataan. Kau hanya tidak ingin memikirkan Airi yang sengsara, karena kau mengeluarkannya dari sekolah!”

Haruka berasumsi bahwa aku hanya melarikan diri.

“Sayangnya, aku bahkan tidak beranggapan seperti itu. Karena aku tidak peduli dengan siswa yang sudah dikeluarkan. Membayangkannya saja hanya membuang-buang sumber daya otak.”

Tahu bahwa ia akan murka, aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Itu tentu saja sangat memprovokasi Haruka.

“Bajingan———benar-benar, bajingan ya kau ini.”

Haruka perlahan-lahan berdiri dari bangku setelah mengumpatkan itu.

“Kok bisa-bisanya jatuh cinta sama pria sekejam ini, kurasa Airi juga hanya tidak bisa menilai seorang pria.”

Haruka perlahan-lahan berjalan ke arahku.

Dia mendekat sampai sejangkauan tangannya.

“Aku sudah tidak tahan bicara denganmu lebih lama lagi, kenapa kau tidak sekalian mati bersamaku?”

Katanya, lalu dia menyodorkan surat pengunduran dirinya.

Mati, apa itu artinya mengajakku untuk keluar dari sekolah? Semacam godaan setan.

Kata-kata yang membuatku merasakan déjà vu itu, juga membawa kembali nostalgia.

(Tln: Aku lupa volume berapa, Haruka memang pernah ngajak Kiyotaka mati bareng. Tentu saja cuman perumpamaan dan itu candaan. Beda dengan ini)

“Kiyopon juga menarik perhatian dalam artian buruk karena mengeluarkan Airi, ‘kan? Selain itu kau pun tidak punya keinginan kuat untuk lulus sebagai kelas A, ‘kan? Maka tidak masalah untuk mengundurkan diri saja.”

Ikatan antar manusia bisa dengan mudah hancur hanya karena satu hal. Sampai saat ini, tidak ada yang bisa membayangkan bahwa percakapan seperti ini akan terjadi antara aku dan Haruka.

“Silahkan saja kalau mau mendesakku untuk keluar dari sekolah, tapi itu tidak masuk akal bagiku. Rasanya ada yang mengganjal untuk mengikuti fantasi egoismu tentang Airi.”

“Ha? Apa yang ingin kau katakan?”

“Aku hanya mau bilang kalau kau tampaknya tidak memahami perasaan Airi.”

“Aku memahami gadis itu lebih baik daripada siapa pun. Kaulah yang tidak mau menerima kenyataan!”

“Jangan sombong, Haruka.”

“!?”

Haruka terdiam mendengar kata-kata yang disertai intimidasiku. Akito yang salah mengira ia secara spontan telah diserang, memotong masuk di depan Haruka dan merentangkan tangan kirinya untuk memasang badan.

“Aku hanya sedikit terkejut. Aku baik-baik saja kok, jadi minggirlah, Akito.”

Insting Akito yang bereaksi karena ancaman akan keselamatan Haruka mungkin bukan sesuatu yang bisa dirasakan oleh Haruka.

Meskipun masih mewaspadaiku, Akito menurunkan tangan kirinya dan mundur sedikit.

“Apa maksudmu sombong? Kiyopon sendiri kenapa bicara seolah kau jauh lebih tahu dariku?”

“Aku bilang jangan seenaknya berspekulasi tentang perasaan Airi dan berikan jawaban yang sesuai untukmu atas namanya. Hanya Airi yang tahu apa yang Airi pikirkan dan bagaimana perasaannya yang sebenarnya.”

“Kaulah yang tidak mengerti, Kiyopon. Apa kau pikir dia baik-baik saja jika dikeluarkan?”

“Tentunya dia pasti putus asa pada saat itu. Tapi, dari mana kau tahu bagaimana perasaannya sekarang?”

“Jika soal itu... aku hanya perlu membayangkannya.”

“Salah. Dalam benakmu, kau hanya mengira bahwa Airi pasti masih mengalami masa-masa sulit, bukan?”

“...Ha?”

“Penderitaanmu bukan karena Airi dikeluarkan dari sekolah. Itu karena lenyapnya keberadaan yang nyaman untukmu. Kau ingin tinggal di sisi Airi yang lebih rendah darimu dan menjadi pelindungnya tanpa dia minta. Kau menyukai perasaan keunggulan dan kepuasan yang kau dapatkan darinya.”

“Mana ada yang seperti itu! Kau bahkan tidak ingat seperti apa gadis itu!”

Dia dengan tegas menyangkalnya, tapi aku bisa melihat kedipan samar-samar di matanya.

“Memikirkan bagaimana perasaan gadis itu saat ini... aku!”

“Apa kau benar-benar memikirkannya?”

“Aku memikirkannya berkali-kali!”

Dalam percakapan yang bisa digambarkan sebagai garis paralel, hanya hati Haruka yang sangat terluka.

(Tln: garis paralel = tidak mencapai kesepatakan)

“Kau tidak tahu yang sebenarnya.”

“Itu... tak ada cara untuk memastikan hal itu secara langsung dengannya dalam situasi ini, bukan!”

“Tentu saja tidak ada cara untuk memastikannya secara langsung. Tapi kalau petunjuk, itu ada di sini. Di kardus ini. Besar kemungkinan ini akan menjadi sesuatu yang kau butuhkan sekarang.”

“Ha? Enggak jelas. Bukan itu yang aku butuhkan.”

“Biarpun ini adalah pesan terakhir yang ditinggalkan Airi?”

“...Eh?”

Haruka yang sejak tadi teguh pendirian, membuka matanya lebar-lebar dengan Akito berdiri di belakangnya.

“Hal seperti itu... apa ini semacam lelucon? Paling Kiyopon yang menyiapkan kotak ini, bukan?”

“Pada hari di mana Airi dikeluarkan dari sekolah, dia telah melakukan pengiriman paket kepadaku. Kupikir itu karena dia menyadari apa yang harus dia lakukan dalam waktu yang terbatas itu.”

Tatapan Haruka turun ke kardus yang diletakkan di dekat kakinya.

“Kau bisa tahu dengan melihat pengirimnya kalau ini tidak disiapkan olehku, bukan?”

Haruka berjongkok dan melihat slip yang ditempelkan pada kardus.

Ada namaku sebagai penerimanya dan nama toko online sebagai pengirimnya.

Aku sendiri baru tahu isinya setelah menerimanya dan menelusuri informasi toko asalnya.

Begitu kusadari, Haruka telah mengulurkan tangannya dan berusaha keras untuk menggulung tepi lakban dengan ujung jarinya.

Ia mengulanginya beberapa kali karena tak kunjung berhasil, dan akhirnya dia berhasil melepasnya.

Di dalam kotak kardus yang sudah dibuka.

Berisi satu setel pakaian maid.

“I-Ini...”

Haruka pasti mengerti apa makna dari pengiriman barang itu.

“Ini seharusnya yang kupakai... seharusnya kupakai dengan Airi... kenapa———”

“Dia menyadari ada kemungkinan kau akan berdiam diri dan tidak ikut serta dalam festival budaya. Karena itulah dia pasti mengirimkan ini untuk mencegah hal itu terjadi, bukan?”

“Ai-ri...”

“Setidaknya aku bisa merasakan perasaan kuat Airi melalui pesan ini. Sepertinya dia tidak hanya bersedih. Bagaimana menurutmu, Haruka?”

“Airi... Airi...!”

Haruka mengeluarkan pakaian maid dari kardus dan memeluknya di dadanya.

Dia menangis tersedu-sedu diiringi air mata yang berlinang.

“Aku ingin menikmati festival budaya bersamanya... Aku ingin mendorong punggung gadis pemalu itu dan melihatnya membuka diri pada Kiyopon...!”

Itu sama sekali bukan hal yang mewah, ia meratapi pemandangan yang seharusnya ia lihat tidak lama lagi.

Dengan ini Haruka pasti mengerti dan bisa move on.

Namun———.

“Ini... salah...”

Menyeka air matanya dengan lengan seragamnya, Haruka berdiri dan membuat sanggahan.

“Salah?”

“Ini bukan sesuatu yang gadis itu siapkan untukku karena dia ingin aku mengikuti festival budaya...”

Segala sesuatu tidak semudah itu untuk diubah.

“Dia hanya kecewa. Aslinya ini dia kirimkan padamu karena dendam, untuk menunjukan bahwa dia sanggup memakainya... benar, tidak salah lagi.”

Bagaimana orang menafsirkan pakaian maid ini, itu tergantung pada orang tersebut. Karena Airi tidak meninggalkan pesan khusus, tidak semua yang sesuai untukku itu benar.

“Habis iya, ‘kan? Jika dia benar-benar ingin aku memakainya, dia seharusnya mengirimkannya padaku. Tapi alasan kenapa ini ditujukan kepada Kiyopon adalah karena ada maksud lain, bukan?”

Perbedaan dalam perspektif memang menarik, dan tentu saja kemungkinan tidak bisa dikesampingkan.

Kemungkinan serangan kebencian yang ditujukan ke orang yang mengeluarkannya, ya. Itu menarik.

(Tln: Pala lo menarik. Rusak ini orang)

“Tunggu, Haruka. Rasanya itu agak salah...”

Untuk pertama kalinya sejak aku tiba di sini, Akito menyela.

“Tidak salah lagi. Iya, benar, bahkan paket ini bisa jadi settingan yang disiapkan oleh Kiyopon...!”

“Alasan dia mengirimkan hadiah terakhir itu kepada Kiyotaka dan bukannya kepadamu, karena dia ingin ini menjadi kesempatan agar kalian berdua saling bertatap muka dan baikan lagi, bukan begitu?”

Jika itu langsung diserahkan kepada Haruka.

Dan jika dia menerima hadiah itu dengan benar.

(Tln: merima maksud dari pemberian hadiah itu)

Pada saat itu, tidak akan pernah ada kontak seperti ini antara aku dan mereka.

“Tidak benar, jelas itu tidak benar...!”

“Aku, aku juga salah satu dari grup Ayanokōji. Airi yang kukenal, dia akan berpikir begitu.”

“Kubilang tidak benar!”

Haruka membalikan badan dan mulai berlari untuk mencengkeram dada Akito.

“Jangan menafsirkannya sembarangan! Jangan menganggapnya enteng untuk memaafkan Kiyopon!”

“Aku tidak bermaksud seperti itu...”

“Kalaupun, kalaupun benar begitu, gadis itu sudah kehilangan tempatnya yang berharga! Fakta itu tak akan pernah berubah! Aku tidak menerima persahabatan yang dibangun di atas pengorbanan!”

“Tapi, apa pun yang dikhayalkan oleh orang lain, itu tidak berpengaruh pada orang tersebut. Yang terpenting adalah di mana dan apa yang sebenarnya dilakukan Airi sekarang, bukankah itu intinya?”

“Aku tahu. Makanya aku akan keluar dari sekolah untuk memastikan hal itu. Aku akan mendampingi gadis itu!”

Setelah menyelesaikan balas dendamnya terhadap kelas, saat itu juga dia akan pergi menemui Airi.

Jadi mengundurkan diri secara sukarela juga lebih bijaksana bagi Haruka.

“Suaramu keras sekali loh. Mau disini juga, kalau tidak dipelankan, nanti bisa jadi pusat perhatian, bukan?”

Kemunculan karakter yang bahkan aku sendiri tidak pernah menduganya, itu adalah Kushida.

Kushida, karakter yang saya sendiri tidak pernah harapkan untuk melihatnya.

Dia mendekat perlahan, berpakaian seperti seorang maid yang tidak pas untuk suasana yang menegangkan ini.

“Apa tidak apa-apa kedainya ditinggalin?”

“Baru saja para pelanggan pindah tempat, jadi aku punya sedikit waktu luang.”

Aku tidak tahu apakah itu benar atau salah, tapi dia pasti tidak hanya menyelinap keluar tanpa izin.

Karena Kushida memberiku tatapan yang kuterima seolah dia mengatakan, tidak apa-apa.

“Untuk apa kau ke sini?”

Bukan hanya Haruka yang mempertanyakan kedatangannya ke sini, tapi aku juga.

“Untuk apa? Untuk mengantar kepergianmu, kurasa. Soalnya Ayanokōji-kun bilang, Hasebe-san dan Miyake-kun mungkin berniat untuk kaluar dari sekolah.”

Haruka mengalihkan tatapannya ke arahku untuk sesaat, tapi segera dialihkannya kembali ke Kushida.

“Semuanya berawal dari Kushida-san. Seandainya saja kau menentang pengusiran sejak awal...”

“Maaf, tapi sekarang aku tidak menyesali pilihan yang ku buat saat itu. Peristiwa itu adalah noda bagiku, tapi pada saat yang sama, itu adalah kesempatan untuk membuka jalan baru bagiku.”

“...Aku akan memberitahu anak-anak di kelas kalau mempertahanmu adalah sebuah kesalahan.”

“Kalau keluar dari sekolah, lakukan saja sesukamu.”

“Jangan menggertak. Kamu sendiri yang bilang kan, Kushida-san. Tidak ada lagi jalan yang tersisa bagimu selain lulus sebagai kelas A. Itulah satu-satunya alasan kamu tetap bertahan dengan kelas yang tidak nyaman yang tidak kau sukai. Jadi aku akan mengambil alasan itu darimu.”

“Mungkin balas dendammu kepadaku akan berhasil. Tapi, apakah itu yang penting? Aku rasa bukan itu yang diinginkan oleh Sakura-san.”

“Jangan katakan hal yang sama seperti yang dikatakan Kiyopon. Emangnya kalian ini... tahu apa soal Airi?”

“Entahlah. Tapi, kurasa yang kutahu hanya dia jauh lebih tidak tegas daripada dirimu.”

“Haa?”

Sepertinya dia hanya mengatakan itu tanpa berpikir panjang———tapi apakah ada dasarnya?

Dari kedatangannya di sini juga menimbulkan satu pertanyaan.

“Sakura-san lemah. Karena itu dia dikeluarkan dari sekolah.”

“...Kau tidak berhak mengatakan itu? Kau pun juga kalah dengan sangat memalukan.”

“Memang aku pun kalah. Kuakui juga aku lemah. Tapi, Sakura-san juga sama. Tidak, dia lebih lemah dari ku, itulah sebabnya dia yang dikeluarkan dari sekolah.”

Faktanya, Horikita menyimpulkan Kushida lebih baik dan lebih berguna sebagai teman daripada Airi.

Dan dia menorehkan prestasi dengan maksud untuk memenuhi harapan itu pada festival budaya.

Tentu saja, tidak ada keraguan bahwa Airi akan sangat populer jika dia bisa menghadiri festival budaya.

Tapi keterampilan melayani pelanggan yang sangat baik dan kemampuan untuk bicara dengan baik dengan orang dewasa yang tidak dia kenal, tidak bisa dipelajari dalam semalam. Poin ini adalah ranah yang tidak bisa diisi oleh Airi.

Sebelum itu, Kushida juga berprestasi dalam ujian tengah semester kedua dengan menempati peringkat teratas di kelas.

Sampai sini, sudah bisa dikatakan bahwa dia telah memberikan kontribusi.

“Gadis itu memang lemah... justru karena itulah aku ingin melindunginya...”

“Kau ingin melindunginya? Sok hebat juga kamu ya. Yang menganggap dia selalu lemah itu bukannya hanya kamu seorang?”

“Jaga ucapanmu.”

“Sudah kujaga kok.”

Kushida tidak peduli dengan sedikit caci maki dari Haruka.

Mungkin karena pengalamannya selama ini, ia juga memiliki ketangguhan yang jelas berbeda dengan siswa biasa.

“Ayanokōji-kun. Bisa kamu lihat ini?”

Kushida berpaling dari Haruka dan mengalihkan pandangannya itu padaku.

“Setiap hari aku mencari rahasia dari orang lain. Aku haus akan rahasia. Aku selalu percaya bahwa hal itu akan membuatku lebih bernilai. Dan itu tak terkecuali, bahkan Sakura-san sekalipun.”

Siapa pun subjeknya, jika ada kemungkinan bagi Kushida untuk menggunakannya, ia akan mengambilnya. Orang bisa menaruh perhatian pada apa yang mereka minati, tapi sulit untuk menaruh perhatian pada apa yang tidak mereka minati. Mustahil untuk terus melakukannya dalam jangka waktu yang lama dengan kekuatan mental biasa saja.

“Kupikir mungkin aku bisa menggunakan beberapa rahasia yang dia miliki setelah dia dikeluarkan. Lalu aku menemukannya.”

Katanya, Kushida mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan tampilan layar tertentu padaku.

Ketika aku menerima ponselnya, aku menggulir ke bawah dan membaca detailnya.

“Ini———”

“Sepertinya Ayanokōji-kun juga tidak tahu. Padahal kupikir mungkin Ayanokōji-kun akan menyadari fakta ini.”

“Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Hebat juga kau bisa menemukannya.”

“Dulu aku biasa bergerak kesana kemari denganmu kan, Ayanokōji-kun? Jadi mungkin saja.”

Lebih dari setahun, dan sebelum grup Ayanokōji terbentuk.

Haruka tampak gelisah saat melihat kami, sebagian karena mendengar pembicaraan kami tentang Airi.

“Penasaran, ‘kan? Yah soalnya ini tentang Sakura-san yang sangat kamu cintai.”

Kushida menyadari itu dan mengibaskan ponselnya untuk memprovokasi.

“Apa?”

Kushida mematikan layar ponselnya sesaat dan mendekati Haruka dengan ponsel di tangannya.

“Aku itu orangnya mungkin jahat, tapi Hasebe-san juga sama kan. Kau hanya merasakan kesenangan saat menemukan dan menolong orang yang lebih lemah daripada dirimu sendiri. Pada dasarnya, kamu itu tidak mengkhawatirkan Sakura-san, kamu hanya kesepian karena sudah tidak ada lagi orang yang bisa kamu jaga, bukan?”

Anehnya, dia mengatakan hal yang sama seperti yang kukatakan.

Tatapan Haruka terombang-ambing tidak nyaman mendengar kata-kata yang tidak beralasan itu.

“Atau kali aja kamu menyamakannya dengan keluargamu?”

Keluarga? Meskipun pernyataan yang tidak terduga itu telah membuatku lengah, Haruka menghentikannya.

“Hentikan. ...Jangan katakan hal itu.”

“Kenapa? Kalau kamu mau berhenti sekolah, tidak penting itu siapa yang kamu ceritakan padaku, bukan? Artinya kamu tidak perlu menyimpan rahasia lagi.”

Kalau dipikir-pikir, Kushida tahu lebih banyak tentang Haruka daripada aku.

“Aku tidak salah. Aku ingin melindungi Airi, aku ingin berada di sisinya. Sekalipun itu, alasannya adalah untuk tujuanku sendiri...”

“Aku mengerti perasaanmu, tapi aku tidak bisa membenarkan pemikiranmu itu, Hasebe-san. Itulah sebabnya kamu bahkan tidak memiliki satu pun teman yang layak setelah masuk SMA. Apa aku salah?”

“Aku———”

“Yah, terserah. Terlalu lama membicarakan omong kosong ini, yang ada malah menghambat berjalannya maid café. Keluar dari sekolah tanpa tahu apa-apa juga tidak masalah, ‘kan? Sudah tidak ada gunanya mencari tahu kebenarannya, ‘kan?”

Menghentikan jalannya, Kushida berpaling dari Haruka.

“Tunggu dulu! Ada apa dengan Airi!”

“Jadi kau ingin tahu?”

Mungkin kesal karena dipermainkan, dia menutup jarak dan meraih pundak Kushida dengan kasar.

“Gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa tanpa aku. Dia membutuhkan bantuanku.”

“Kamu belum mengerti ya. Dia itu jauh lebih dewasa daripada yang kamu pikirkan loh, Hasebe-san.”

Setelah agak merampasnya, Haruka memegang ponsel itu dan mengetuk layar dengan ujung jarinya.

Ia mengakses internet. Dan di sana dia menemukan akun media sosial seseorang.

Itu adalah aplikasi praktis yang memungkinkanmu untuk menyampaikan pikiranmu ke seluruh dunia dengan men-tweet. Di sekolah ini pada dasarnya sangat terbatas karena tidak mengizinkan siswa untuk mengungkapkan identitas mereka, jadi hampir tidak ada siswa yang mungkin menggunakannya.

Akan tetapi, untuk mereka yang bukan bagian dari sekolah ini, tentu saja tidak ada masalah mau seperti apa pun mereka menggunakannya.

Nama akun itu adalah [Shizuku].

Nama lain untuk Sakura Airi yang pernah diam-diam aktif sebagai idola gravure.

Setelah kejadian itu, Airi telah menghapus akunnya, tapi Kushida menemukan bahwa akun itu baru-baru ini telah dipulihkan. Akun itu baru berumur beberapa hari, tapi sudah memiliki lebih dari 1.000 pengikut.

“Tidak mungkin... ini, milik Airi...?”

Ini adalah keunggulan dari karakter Kushida, yang mengabdikan dirinya untuk mengumpulkan informasi tentang teman-teman sekelasnya.

“Hal seperti ini... tidak ada jaminan bahwa ini dibuat oleh gadis itu, bukan? Ini pasti penipu yang dibuat oleh Ayanokōji-kun dan Kushida-san, aku yakin itu...”

“Bacalah teks yang tertulis di sana, apa kau masih berpikir kalau itu adalah kami?” (Kiyo)


[Aku telah memutuskan untuk melanjutkan aktivitas idol-ku setelah lama absen]


Akun baru, tweet pertama.

Dari sana tertulis hal-hal seperti dia berkonsentrasi pada studinya, menikmati hari-harinya bersama teman-temannya.

Menyerah untuk menjadi idol.

Apa yang hanya bisa oleh orang itu sendiri, berulang kali diposting.


[Aku, aku telah memutuskan untuk melakukan apa yang aku bisa. Untuk menjadi diriku yang tidak pemalu kepada sahabatku yang berharga. Untuk menunjukkan diriku yang tidak pemalu setelah sahabatku lulus]


“Apa yang kukatakan tentang dirimu yang protektif itu adalah kebenaran. Airi mungkin memang beban, tapi dia mulai tumbuh dengan pesat setelah dia dikeluarkan.”


[Kemarin akhirnya aku diterima audisi! Aku sangat gugup, tapi aku sangat senang!]


“Ini...”

Haruka menarik napas. Komentar-komentar bahwa dia lulus penyaringan putaran ketiga diposting di situs media sosial.


[Alasan aku memutuskan untuk berkarier di industri hiburan adalah karena aku ingin membuat suaraku didengar]


[Ada juga saat-saat menyakitkan dan menyedihkan, tapi.... aku ingin bergerak maju. Aku akan bergerak maju. Jadi kamu juga jangan sampai kalah]

(Tln: Njir merinding)


Tentu saja, sangat mungkin untuk membuat akun palsu dengan menggunakan Shizuku. Akan tetapi, sulit untuk menyamarkan fakta bahwa akun itu diikuti oleh perusahaan hiburan dan isi dari tweetnya. Itulah kenapa Haruka pasti tahu kalau pemilik akun ini adalah Airi.

“Dari membaca itu, aku tidak bisa melihat adegan memilukan yang kamu gambarkan tentang Airi.”

“Kau terlalu protektif dan menganggap dirimu lebih unggul, bukan? Tapi dengan dikeluarkan dari sekolah, gadis itu membuka jalan baru. Itu berarti dia tidak hanya berdiam diri.”

Setelah mengambil ponsel dari tangan Haruka yang gemetar dengan paksa, Kushida berbalik ke arahku.

“Aku menyelinap keluar lagi, tolong dimaafin ya.”

Katanya, dia memberikan senyumannya yang biasa, yang tidak sesuai dengan suasana ini.

“Kukira aku yang menolongmu, tapi kau malah balik menolongku.”

“Ini pinjaman, loh?”

“Bukannya kamu tidak suka pinjaman?”

“Aku tidak suka meminjam, tapi aku tidak keberatan meminjamkan.”

Katanya, lalu dia berjalan pergi, mungkin untuk kembali ke gedung khusus.

“Cerdik juga dia orangnya ya.”

Justru setelah berbagai kelemahannya terbongkar, Kushida berperilaku 1 atau 2 kali lebih baik, dengan cara dia sendiri.

“...Haruka. Bagiku ini tidak terlihat seperti penipu.”

Akito mungkin juga telah melihat situs media sosial Shizuku di ponselnya sendiri, dan dia menyodorkan itu sebagai ganti ponsel Kushida.

Haruka setelah itu pun terus membaca pesan yang dituliskan oleh Airi dengan sangat fokus.

“U-uuh...”

Penglihatan yang sangat fokus menjadi kabur dan air mata mengalir dari mata Haruka.

Airi yang ia kira tidak bisa melakukan apapun tanpa dirinya, tanpa dia sadari mulai berjalan di depannya. Bahkan sekarang, dia berusaha keras untuk berjalan, meskipun hatinya pasti terluka. Itu dia lakukan karena dia takut Haruka mungkin akan berhenti berjalan.

Betapa bodohnya aku, pikirnya.

Mengira Airi menderita karena dikeluarkan dari sekolah, dan mengetahui bahwa itu hanyalah simpatinya yang tidak berarah.

“Bagiku secara pribadi, ini adalah temuan baru. Mereka yang dikeluarkan, mereka yang kalah, kupikir di situlah semuanya berakhir.”

(Tln: temuan diatas kanjinya berarti panen/hasil, apa yang ditanam itulah dituai, maka dari kalimat diatas maknanya adalah, jika A itu tidak selalu berarti B)

Aku mengira satu-satunya paket yang dia kirim itu adalah sisa-sisa terakhir dari dirinya.

(Tln: Buset dikira sudah mati apa)

“Tapi ternyata aku salah.”

Kebangkitan pecundang. Artinya ada juga mereka yang memulai lagi dari tempat mereka kalah.

Inilah jurang pemisah antara White Room dan dunia ini. Tidak, atau mungkin mereka yang keluar dari White Room juga mampu bangkit kembali seperti Airi.

“Dia mungkin akan menjadi orang penting di masa depan. Tapi apa kau akan mengikuti Airi yang seperti itu dengan mengundurkan diri secara sukarela? Bukan saja dia akan menertawakanmu, dia mungkin tidak akan mau menganggapmu.”

Sudah tidak sulit lagi untuk membayangkan apa yang akan terjadi pada Haruka sendiri jika dia sekarang berhenti sekolah dan bertemu Airi untuk membalas dendam. Bukannya disambut dengan senyuman, ia pasti sangat marah.

“Aku———aku tidak tahu harus berbuat apa...!”

“Hanya ada satu jawaban. Kau harus memantaskan diri agar bisa bertemu Airi dengan bangga. Jika kau lulus sebagai kelas A, lain lagi ceritanya. Kau punya waktu 3 tahun untuk melewatinya dan kau harus melangkah untuk menjadi seseorang yang tidak akan malu berdiri di samping Airi, bukan?”

Airi tidak mengejar Haruka. Waktunya Haruka mengejar Airi.

“Untuk jaga-jaga, biaya paket ini sudah dimasukkan dalam anggaran untuk digunakan di festival budaya.”

Tidak ada jaminan kalau itu akan digunakan di festival budaya, tapi menyiapkan rencana untuk keadaan tidak terduga adalah keputusan yang tepat.

Dengan kata lain, mengenakan pakaian maid ini dan berdiri di maid café tidak akan menimbulkan masalah apa pun.

“Aku tidak akan memintamu untuk bergerak selincah maid lainnya. Tapi, bakarlah ke dalam matamu pemandangan yang kau ingin Airi lihat. Sebagai sahabatnya, kau berhutang itu padanya.”

(Tln: bakar ke dalam matamu = mengingat dengan kuat apa yang telah kamu saksikan sehingga kamu tidak akan melupakannya)

Haruka membuat permintaan maaf kecil pada Akito, menyerahkan surat pengunduran dirinya, memeluk erat pakaian maid itu di dadanya dan mulai berlari. Dia hanya memiliki sedikit waktu tersisa, tetapi dia masih memiliki kesempatan untuk tampil di atas panggung.

“Kiyotaka.... Apakah teman-teman sekelas akan menerima Haruka?”

“Ada Kushida. Ada Horikita. Ada Yosuke. Apa pun situasinya, mereka akan mengatasinya.”

“...Begitu.”

Akito menaruh ponselnya dan meletakkan dua surat pengunduran diri di atas satu sama lain dan merobeknya di tengah-tengah.

“Alasan dia untuk keluar dari sekolah sudah hilang. Aku juga ingin tinggal sampai akhir bersama Haruka.”

“Biarpun dia mengetahui kebenarannya, hati Haruka masih terisolasi. Kau harus mendukungnya.”

Bahkan jika dia sekarang tidak bisa tertawa dengan semua orang, dia memiliki lebih dari satu tahun sekolah yang tersisa.

Sampai dia benar-benar bisa tersenyum lagi, kurasa itu tidak akan lama lagi.

“Aku yakin teman-teman sekelas akan menyalahkan ku juga untuk sementara waktu.”

Astaga, dia menggaruk kepala dan tertawa kecil.

“Aku ingin tahu apa yang akan terjadi jika Kushida tidak muncul. Apa yang akan kau lakukan, Kiyotaka?”

“Aku mungkin akan angkat tangan.”

Aku mengeluarkan ponselku dan membuka internet.

Lalu aku menghapus semua riwayat pencarian yang mengarah ke situs media sosial Shizuku yang sudah kusiapkan sebelumnya.

Kushida-lah yang pertama kali menunjukkan cara memanfaatkannya secara efektif dan membuka jalan keluar. Maka pujian adalah miliknya.

“Ayo kita kembali, Akito. Karena masih ada sedikit waktu, sebelum festival budaya ini berakhir.”

“...Ya.”

Waktu menunjukan sekitar pukul 14.20.

Kelas Horikita berhasil mendapatkan kembali anggota yang hilang.

Related Posts

Related Posts

1 comment

  1. Heleh, untuk orang yg bermasalah, perlawanan Kushida kemarin lebih kuat daripada duo badut bego Akito dan Haruka (Haruka doang sih yg sotoy. Akito bucin ikut arus doang)

    ReplyDelete