-->

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 8 Bab 5 Part 1 Indonesia

Bab 5
Perjalanan Sekolah Hari Ke-4


1


Hari ini, kami bersenang-senang bermain ski untuk terakhir kalinya. Kali ini kami tidak berpencar, tapi kami berdelapan meluncur di jalur untuk pemula yang lembut. Ryūen terlihat bosan sepanjang waktu, tapi itu hal yang bagus karena dia tidak bertindak egois sendiri.

Setelah itu, aku menggunakan waktu yang tersisa untuk membeli oleh-oleh untuk para tahun pertama.

(Tln: Bentar. Yang minta kan cuman Nanase, kok kalimat jamak? Apa Kiyo berencana buat ngasih ke semua kenalannya?)

Hari keempat perjalanan sekolah yang menyenangkan ini hanya menyisahkan malam ini.

Setelah aku selesai mandi di pemandian umum, aku menerima pesan dari Sakayanagi. Sebagai tanggapan atas permintaannya untuk bertemu, aku menuju ke lobi yang ditunjuk untuk pertemuan itu.

Ini baru lewat jam 8 malam, tapi jumlah para siswa hari ini cukup sedikit.

Ini adalah malam terakhir, pasti ada banyak yang ingin mereka bicarakan di tempat prasmanan atau di kamar mereka.

Mungkin dia membaca situasi itu sejak awal, hampir tidak ada siswa yang terlihat di lobi.

Dalam situasi yang menguntungkan ini, Sakayanagi duduk di kursi dan menunggu dengan tenang.

“Apa aku membuatmu menunggu?”

“Enggak kok. Terima kasih sudah datang jauh-jauh.”

Walaupun tempat ini kurang populer, kombinasi aku dan Sakayanagi sedikit terlalu menonjol.

Karena itu, aku ingin dia menyelesaikan urusannya dengan cepat, tapi....

“Meski ini waktu yang singkat, apa kamu menikmati perjalanan sekolahmu?”

“Ya. Aku sudah mempelajari banyak hal yang belum pernah aku alami sebelumnya. Terlebih lagi, aku bisa berinteraksi dengan siswa dari kelas lain, jujur ini adalah pengalaman yang bagus. Rasanya aku jadi tahu lebih banyak tentang Yamamura dan Kitō.”

Aku coba menyebutkan kedua nama itu di sini, tapi Sakayanagi terlihat sama seperti biasanya.

“Begitu ya. Ayanokōji-kun memang rakus dalam menyerap pengetahuan, jadi aku tidak terlalu terkejut.”

“Apa kamu dekat dengan mereka berdua?”

Aku bertanya untuk menggali lebih banyak informasi.

“Tidak ada teman sekelasku yang kuistimewakan. Aku melihat mereka semua setara. Jika dibilang dekat, kami dekat, jika dibilang tidak dekat, kami tidak dekat.”

Jawab Sakayanagi samar-samar, entah itu bohong atau benar.

Jika ia mengistimewakan seseorang, ia akan lebih mudah mengembangkan perasaan cemburu dan emosi lainnya terhadap siswa semacam itu.

Sebagai seorang pemimpin, Sakayanagi mungkin memang benar melihat mereka setara.

“Boleh kudengar untuk apa kamu memanggilku?”

“Jadi kita sudah selesai basa-basinya? Apa kamu sedang buru-buru? Jika Karuizawa Kei-san melihat kita di sini, dia akan mencurigai hubungan kita ya soalnya.”

Katanya sambil cekikikan seperti iblis kecil.

“Aku tidak ingin terlihat sedang bertemu empat mata dengan perwakilan dari Kelas A. Iya, ‘kan?”

(Tln: cara menjawab Kiyo di sini seperti meluruskan maksud dari kalimat terakhir Sakayanagi di atas. Artinya Kiyo tutup mata pada kemungkinan Kei cemburu)

“Fufu, aku bercanda. Aku paham kok.”

Setelah menutup mulutnya karena geli, Sakayanagi mulai bicara.

“Aku telah tahu banyak hal selama perjalanan sekolah ini. Sebelum kita kembali ke sekolah, aku ingin membicarakan orang yang melakukan kontak denganmu Ayanokōji-kun di festival olahraga.”

Waktu aku dan Sakayanagi absen dalam festival olahraga dan bicara di kamarku.

Tentang pria yang bicara padaku lewat pintu depan... ya.

“Aku mengerti. Itu cerita yang menarik.”

“Syukurlah. Kelihatannya Ayanokōji-kun juga tertarik dengan identitas suara itu.”

“Cukup banyak yang kupikirkan.”

Termasuk apa yang kurasakan pada Nanase, apakah si penelepon itu musuh atau bukan masih sangat samar-samar.

“Kalau begitu aku ingin bertanya balik, menurutmu orang seperti apa dia itu, Ayanokōji-kun? Mungkinkah dia memiliki asal-usul yang sama denganmu, seperti Amasawa Ichika-san dan Yagami Takuya-kun?”

“Tidak, itu tidak mungkin. Jika Sakayanagi dan dia hanya saling mengenali satu sama lain, kemungkinan itu tidak bisa dihilangkan, tapi dia memanggil ayahku [Ayanokōji-sensei]. Itu membuat perbedaan besar.”

“Maksudmu?”

“Karena jika dia adalah siswa White Room, dia tidak mungkin memanggilnya Ayanokōji-sensei.”

Ini adalah persamaan umum di antara mereka yang dibesarkan di White Room.

“Tapi, itu bukan jaminan mutlak, ‘kan? Jika berbeda dengan generasi Ayanokōji-kun, kebijakannya bisa jadi sedikit berbeda, ‘kan?”

“Kau benar, aku tidak bisa mengatakan itu 100%. Ini hanya kesan subjektifku. Faktor terbesarnya itu adalah, mengingat bahwa dia meneleponku ketika pria itu———ayahku mengunjungi sekolah ini, bisa ditebak bahwa dia berada di pihaknya. Dan ketika Sakayanagi mengatakan bahwa dia sendiri terdengar tidak asing, bukankah itu berarti dia adalah seseorang yang dekat dengan dunia politik dan bisnis?”

Itu juga menjelaskan kenapa dia sampai repot-repot memanggilnya Sensei.

Sedikit terkejut juga senang, Sakayanagi menutup matanya dan mengangguk.

“Tepat sekali. Nasihat atau saran mungkin tindakan yang tidak perlu ya. Aku sudah tahu siapa pemilik suara itu, tapi aku belum memastikannya saat ini. Aku ingin memperjelasnya di sini sekarang juga. Itulah sebabnya aku memanggilmu ke sini.”

Aku mengalihkan perhatianku ke ponsel yang ada di pangkuan Sakayanagi.

“Namun sebelum aku memperjelas semuanya, aku mengundang seseorang yang mungkin mengenalnya ke sini. Kupikir dia akan segera sampai di sini.”

“Dengan kata lain, ada siswa di tahun kedua yang memiliki hubungan dengan pria itu?”

“Kupikir Ayanokōji-kun tidak bisa memikirkan siapa itu kandidat yang mungkin, benar, ‘kan?”

Benar. Aku tidak tahu siapa yang dia maksud.

Tentu saja, pemilik suara itu menjalani kehidupan sekolah sebagai siswa tahun pertama, tidak aneh jika ada siswa tahun kedua yang menjadi teman dekatnya, tapi kurasa bukan karena itu. Tidak ada alasan untuk memanggilnya ke sini kecuali dia setidaknya tahu lebih banyak tentang situasi di pihak kami. Siapa lagi selain Sakayanagi, siswa tahun kedua yang mengetahui White Room atau identitas ayahku, atau keduanya?

“Mari kita lanjutkan obrolan santai kita sampai dia tiba.”

“Itu boleh juga.”

Membiarkan waktu berlalu dalam keheningan bukanlah cara yang bijaksana untuk menghabiskan perjalanan sekolah.

“Apa yang kamu rasa tentang pembagian grup kali ini, Ayanokōji-kun?”

“Aku yakin tabel yang dilampirkan oleh masing-masing siswa pasti memiliki dampak yang besar. Bukan hanya grupku sendiri, sejauh yang kulihat, aku merasa bahwa penyesuaian dilakukan untuk mengelompokkan siswa dengan penilaian yang ekstrim.”

“Aku setuju. Siswa yang dinilai paling tinggi dan siswa yang dinilai paling rendah. Dan kelompok tengah yang tidak termasuk dalam keduanya. Ini tidak berlaku untuk semua grup, tapi kurasa pasti ada kecenderungan itu. Aku yakin grup dibentuk atas kombinasi yang akan berdampak di masa depan.”

“Ada yang ingin kutanyakan dari sana.”

“Aku senang mendengarnya. Jika ada yang kamu tanyakan padaku, tanyakan saja.”

“Apa pendapatmu tentang ujian akhir tahun?”

Pembagian setiap grup dalam perjalanan sekolah ini pasti akan berdampak di kemudian hari.

Sakayanagi memejamkan matanya dengan gembira dan menganggukan kepalanya dua atau tiga kali dengan puas.

“Mengobrol dengan Ayanokōji-kun memang sangat menyenangkan ya. Kita selalu memiliki pemikiran yang sama. Ujian akhir tahun akan lebih sulit daripada tahun lalu.”

Dia tidak akan terkejut jika ada satu atau dua orang yang dikeluarkan. Terlihat bahwa itulah yang diprediksi Sakayanagi.

“Karena punya poin perlindungan Sakayanagi pasti aman, tapi kalian tetap akan kehilangan poin kelas. Apa kamu tidak khawatir keunggulan kalian selama ini akan hancur?”

“Apa menurutmu aku akan kalah dalam konfrontasi langsung dengan Ryūen-kun? Menang darinya adalah hasil yang sudah pasti.”

Ternyata benar Sakayanagi seperti Ryūen, sama-sama tidak bisa membayangkan dirinya dikalahkan.

“Dia memang melakukan pergerakan yang menarik. Ada istilah yang disebut giant-killing, dan terkadang aku pikir dia memiliki kekuatan untuk berburu hewan besar. Tapi, itu tidak akan terjadi dalam konfrontasi denganku. Setidaknya tahun depan, akulah yang akan bersaing dengan kelasmu, Ayanokōji-kun.”

(Tln: kelas Ayanokōji, huh)

Keyakinan yang tak tergoyahkan.

Dalam beberapa kasus bisa juga berakhir seri, tapi itu bisa dilihat sebagai pengecualian.

Kurasa sekolah tidak akan membuat aturan mudah seperti hasil imbang di arena ujian akhir tahun.

Itulah yang kusimpulkan dari pertarungan tahun lalu melawan Kelas A.

“Atau———menurutmu aku akan kalah?”

“Entahlah, aku tidak yakin.”

Sulit untuk mengatakannya pada tahap ini saat aku bahkan tidak tahu apa isi ujiannya.

Tapi, jika aku mengatakan itu padanya, Sakayanagi mungkin hanya akan merasa lebih enggan.

Itu tidak lebih dari indikasi bahwa, tergantung pada isinya, Sakayanagi mungkin kalah.

Tidak peduli siapa yang menang atau kalah———.

“Bagi Ayanokōji-kun, tidak peduli bagaimana jadinya aku dan dia, itu tidak akan mengganggu rencanamu... ‘kan?”

Karena pikiran kami saling tertaut, Sakayanagi juga memahami pemikiranku dengan sangat baik.

“Tapi Ayanokōji-kun. Masa depan tidak selalu berjalan sesuai keinginanmu.”

“Apa maksudmu?”

Tepat ketika aku bertanya balik, Sakayanagi menaruh jari telunjuknya ke mulutnya.

Ternyata pengunjung yang diharapkan sudah tiba.

“Maaf membuatmu menunggu.”

Mungkin dia belum mendengar tentang kehadiranku, Kanzaki agak terkejut berdiri di sampingku.

Tapi tak kusangka Kanzaki. Aku tak memiliki kesan bahwa mereka memiliki hubungan khusus di masa lalu selama aku berhubungan dengannya.

“Sekarang semua orang yang dibutuhkan sudah hadir, mari kita mulai. Langsung saja, Kanzaki-kun, bisakah kamu ke sini?”

“Ada apa sih, Sakayanagi?”

Sakayanagi tersenyum dan memberi isyarat kepada Kanzaki yang tidak paham untuk berdiri di sampingnya.

Kanzaki yang menyilangkan tangannya ragu-ragu, sepertinya dia masih belum bisa memahami situasinya.

Itu aku pun sama, jadi aku bertanya-tanya, apakah pengaturan ini ada artinya.

“Pertama-tama, Ayanokōji-kun. Apa pendapatmu tentang kombinasi antara aku dan Kanzaki-kun?”

“Apa pendapatku?”

“Aku ingin mendengar pendapat jujurmu.”

“Aku hanya merasa tidak pas saja. Selama ini aku belum pernah melihat keterkaitan antara Sakayanagi dan Kanzaki soalnya.”

Apabila mereka disejajarkan seperti ini, itu benar-benar terlihat.

“Pastinya begitu. Dari sudut pandang para siswa di sekolah ini, tidak ada hubungan antara aku dan Kanzaki-kun. Kami tidak dalam posisi sebagai sesama pemimpin, dan tidak ada yang pernah melihat adegan di mana kami bergaul secara pribadi. Kenyataannya, aku hampir tidak pernah bicara dengan Kanzaki-kun sejak masuk sekolah ini.”

Dengan kata lain, dia ingin bilang kalau dia pernah melakukan cukup banyak percakapan dengannya sebelum masuk sekolah.

“Sudah berapa tahun sejak aku bicara denganmu seperti ini.”

“Entahlah. Jika tidak melalui orang lain, setidaknya sudah 3 atau 4 tahun yang lalu.”

Sepertinya mereka sama-sama tidak mengingat jelas tanggal dan waktunya.

“Bolehkah aku bertanya bagaimana kalian saling mengenal?”

“Dari hubungan orang tua. Tapi tidak ada hubungan langsung antara keluarga Sakayanagi dan Kanzaki. Jika kamu memiliki orang tua yang cukup terkenal, kamu akan sering diundang ke pesta soalnya.”

Ayah Sakayanagi adalah ketua dewan sekolah ini, dan mengetahui White Room, tidak ada keraguan kalau beliau berasal dari keluarga yang cukup terkenal.

“Ayah Kanzaki-kun adalah perwakilan perusahaan bernama Kanzaki Engineer.”

Jadi kesamaan yang mereka miliki, sama-sama dari para pelaku bisnis.

Maka masuk akal kalau aku tidak mempertanyakan Kanzaki.

“Apa yang sedang kau bicarakan? Apa gunanya membuat Ayanokōji mendengar hal ini? Tidak, sebelum itu, aku ingin tahu kenapa kau memanggilku.”

“Justru cerita ini ada kaitannya dengan alasan aku memanggilmu.”

“Aku tidak paham apa yang kamu maksud.”

“Aku ingin kamu menceritakan lebih banyak tentang Ishigami-kun, siswa yang terdaftar di sekolah kita.”

Di sini, ekspresi Kanzaki semakin menegang.

“Tentang Ishigami... kau bilang?”

Ishigami? Tidak ada nama yang terlintas di benakku di antara siswa tahun kedua, satu-satunya siswa yang nama keluarganya sesuai adalah siswa tahun pertama.

“...Jadi begitu ya. Kamu juga tertarik pada Ishigami?”

“Kamu boleh menganggapnya seperti itu.”

“Tapi kenapa Ayanokōji? Dia tidak punya titik kontak dengan Ishigami. Aku tidak bisa membayangkan pria itu terlibat dengan kelas lain tanpa alasan. Kalau pun bisa, itu hanya jika ada masalah. Ryūen sih masih mungkin, tapi sulit membayangkan Ayanokōji akan melakukan hal yang tidak ada gunanya itu.”

Dia menerima dan menjelaskan situasinya dengan caranya sendiri.

“Bukan masa kini, tapi titik kontak di masa lalu.”

“Apa...?”

“Masih belum paham? Seharusnya kamu memiliki perasaan yang mendalam terhadap nama Ayanokōji.”

“Apa———bentar, tidak mungkin...”

Seolah-olah menyadari sesuatu, Kanzaki berulang kali melihat Sakayanagi dan aku.

“Lama sekali kamu menyadarinya. Tapi tentu saja, itu bisa dimengerti.”

“...Jadi begitu ya.”

Kanzaki tampaknya mengerti dengan maksud dari kata-kata Sakayanagi.

Kemudian dia menengadah ke langit-langit seakan-akan kehabisan akal, lalu menatapku lagi.

“Ayanokōji... ya. Aku tidak percaya kau adalah anaknya.”

Hanya satu hal yang bisa disimpulkan dari kata-kata itu.

Kanzaki juga pasti tahu atau pernah mengenal seseorang yang bernama Ayanokōji.

Dan tidak perlu lagi ditebak kalau itu adalah ayahku.

Pria ini memiliki koneksi yang kuat dengan dunia bisnis. Jadi itu tak terelakkan.

“Apa kamu sudah bisa menghapus pertanyaanmu tentang aku bersebelahan dengan Ayanokōji-kun?”

“Ya. Kupikir kau hanya tertarik pada kemampuan Ayanokōji, tapi ternyata bukan. Sejak kapan kamu tahu kalau dia anak Ayanokōji-sensei?”

“Tentu saja, sejak aku melihatnya di sekolah ini. Dan tidak sepertimu, Kanzaki-kun, aku pernah melihat Ayanokōji-kun sewaktu dia masih kecil. Iya, ‘kan?”

Dia tidak menyebutkan White Room, tapi menjawab seolah-olah ia berpura-pura menjadi teman masa kecilku.

“Wajar jika kau bukan orang sembarangan. Jika kau adalah putra orang itu... mustahil kau tidak berbakat.”

Mungkin dia telah memahami sesuatu, Kanzaki menatap lurus ke arahku.

“Ayahku mengagumi Ayanokōji-sensei, aku pernah bertemu dengannya secara langsung beberapa kali di pesta dan acara lainnya. Tapi aku hanya pernah bicara dengannya sekali.”

Ini adalah contoh yang bagus bagaimana hal seperti ini bisa terjadi selama ada hubungan tidak langsung dengan Ketua Sakayanagi.

Tapi tetap saja, dia tampaknya sangat menghormati pria itu. Karena aku tak tahu apa-apa tentang kehidupan pribadinya, aku tidak bisa membayangkan seperti apa sikapnya di depan Kanzaki, tapi ada ketidaksesuaian persepsi yang tidak dapat disangkal.

“Penilaianku tentangmu terus berubah, tapi akhirnya sudah kutetapkan. Jika ada anak Ayanokōji-sensei di kelas Horikita, itu pasti sulit.”

Dia terus-terusan menilai tinggi ayahku, dan dengan senang dia sendiri merasa yakin.

“Nah. Kita sudah mengoreksi perdebaan persepsi, jadi mari kita lanjutkan. Kamu tidak tahu soal Ishigami-kun, kan, Ayanokōji-kun?”

“Aku baru dengar.”

Tapi siswa ini, si Ishigami, sepertinya adalah orang yang melakukan kontak dengan kami.

“Dia adalah salah satu pemuda yang memuja ayahmu, Ayanokōji-kun. Kamu cukup mengenalnya, kan, Kanzaki-kun?”

“...Ya. Karena dia sepertinya tergila-gila pada Ayanokōji-sensei. Aku tidak memiliki keberanian untuk pergi dan berbicara dengannya, tapi Ishigami berbeda. Entah sejak kapan, dia benar-benar aktif mengajaknya bicara.”

“Ishigami-kun satu tahun lebih muda dari kita dan sekarang dia adalah siswa tahun pertama.”

Seorang pria yang mengagumi pria itu masuk ke sekolah ini, dan entah untuk apa, dia menghubungiku beberapa kali, bahkan secara tidak langsung membantu ku menyingkirkan Yagami di festival budaya.

Aku masih belum tahu tujuan pria bernama Ishigami ini.

“Aku yakin kamu pernah berinteraksi dengan siswa tahun pertama, tapi sejak kapan kau menyadari kalau itu Ishigami?”

“Aku langsung mengenalinya setelah melihat OAA. Tapi dia bukan tipe orang yang suka menunjukkan diri, jadi aku tidak pernah punya kesempatan untuk berbicara dengannya. Pembicaraanku dengan Kelas A dilakukan melalui Takahashi-kun, dan dia sepertinya sengaja menghindari kontak denganku.”

Sakayanagi sendiri sepertinya tidak ingin menemuinya dengan paksa.

“Apa dia berbakat?”

“Menurutku Kanzaki-kun tahu lebih banyak tentang hal itu daripada aku, karena dia dekat dengannya.”

Kanzaki diminta untuk menjelaskan, tapi dia sama sekali tidak terlihat senang. Justru sebaliknya.

“Kami tidak dekat. Aku hanya masuk bimbel yang sama dengan Ishigami. Tapi jika aku harus menjawab pertanyaan Ayanokōji dengan jujur, tidak salah lagi dia adalah seorang jenius. Dia memiliki sejumlah ide yang tidak dapat aku pikirkan, dan aku sudah melihatnya dari dekat, jadi aku yakin itu.”

Walaupun dia sepertinya tidak menyukai Ishigami, dia menjawab seolah mengakui fakta tersebut.

“Nah begitulah. Itu sudut pandang dan pendapat Kanzaki-kun, tapi kupikir mungkin bisa membantu.”

“Tapi buat apa? Bukankah lebih baik Ishigami yang sekarang kita abaikan saja?”

“Coba kamu bayangkan saja masak tidak bisa? Dia menghormati ayah Ayanokōji-kun. Maka tidak akan aneh jika dia masuk ke sekolah ini untuk menguji kemampuan anaknya.”

Sakayanagi berhasil menggiring percakapan sambil tetap menyembunyikan informasi tentang White Room.

“Ishigami, untuk menguji kemampuan Ayanokōji...? Sulit untuk menyangkalnya.”

Dia sepertinya bisa menyimpulkan bahwa itu cukup masuk akal dari citra Ishigami yang dia kenal.

“Kita bersaing antar siswa tahun kedua. Bahkan jika kelas Kanzaki-kun selangkah di belakang, masih belum jelas siapa pemenangnya. Dalam situasi seperti itu, jika Ishigami-kun melakukan serangan yang tidak perlu untuk mengetahui kemampuan Ayanokōji-kun di masa depan, bukankah menurutmu itu tidak adil?”

“Bukannya aku tidak tahu apa yang kamu maksud. Hanya saja kenapa kamu sangat mendukung Ayanokōji. Seharusnya bukan urusanmu apa yang terjadi pada siswa di kelas sainganmu.”

Jika dibiarkan saja, Ishigami akan secara otomatis menyabotase satu siswa dari kelas lawan.

Siapa pun juga tahu kalau itu pada dasarnya adalah hal yang positif bagi Sakayanagi.

“Aku hanya ingin bersenang-senang. Menguburnya sekaligus kelas Horikita-san adalah tugasku. Bukankah menjengkelkan jika dia tiba-tiba muncul dari pinggir jalan dan merampas sasaranku?”

Setelah tertawa, Sakayanagi berterima kasih pada Kanzaki.

“Terima kasih banyak, Kanzaki-kun. Mulai dari sini dan seterusnya, Ayanokōji-kun dan aku akan menyusun rencana untuk menangani Ishigami-kun bersama-sama.”

Itu adalah ucapan terima kasih... tapi juga sangat menyiratkan bahwa siapa pun yang mengganggu harus pergi.

“Aku tidak ingin terlibat dengan Ishigami, jadi aku akan pergi dengan senang hati.”

Jawab Kanzaki tanpa ragu dan mulai berjalan pergi.

“Mari kita bicara lagi dalam waktu dekat, Ayanokōji. Karena aku ingin mendengar lebih banyak tentang orang itu.”

Dia sangat ingin membicarakan tentang ayahku, tapi sayangnya aku tidak tahu apa-apa tentangnya.

Untuk saat ini, aku akan mencari aman dengan mengangguk kecil saja.

“Baiklah, Ayanokōji-kun. Ayo kita buktikan apakah itu benar-benar Ishigami-kun atau bukan.”

“Kau mau apa?”

“Tentu saja aku akan bertanya secara langsung. Itu cara yang paling cepat, bukan?”

Sakayanagi mengeluarkan ponselnya dan dengan lancar memasukkan 11 digit angka.

Sepertinya dia sudah mendapatkan nomor telepon Ishigami setelah menyelesaian pencarian.

Aktifkan speaker, Sakayanagi melakukan panggilan telepon, panggilan dimulai setelah melakukan beberapa panggilan.

[Kupikir sudah waktunya kamu untuk meneleponku. Sakayanagi]

Begitu dia mengangkat teleponnya, Ishigami bicara dengan nada suara seolah-olah ia telah meramalkannya. Suara ini tidak salah lagi adalah orang yang meneleponku tahun lalu, dan orang yang mendatangiku di festival olahraga.

“Cepat juga kamu mendeteksinya.”

[Aku sudah bilang sebelumnya agar melaporkannya padaku jika ada orang lain selain siswa tahun pertama yang meminta nomorku]

“Aku memujimu untuk itu. Aku sudah mendengar rumor tentangmu dari dalam dan luar.”

Artinya dia selalu memasang antena, seperti jaring laba-laba.

“Kenapa kamu tidak mendekatiku lebih cepat?”

[Aku sengaja menghindari kontak. Kamu juga tidak perlu terlibat denganku, bukan?]

“Tidak juga. Karena kupikir setidaknya aku harus memastikan apakah kau akan menghalangi Ayanokōji-kun di masa depan atau tidak.”

[Kalau begitu aku tanya, apa yang akan kau lakukan jika aku akan menghalanginya?]

“Aku tidak pernah berpikir Ayanokōji-kun akan kalah dari orang lain selain aku, tapi aku tidak senang jika ada yang menyela. Jika kamu berniat untuk mengintervensi, aku mungkin harus menghentikanmu.”

“Kau akan menghentikanku? Daripada melakukan hal yang tidak berguna itu, lebih baik kau mengabaikan saja aku. Aku memilih sekolah ini atas saran Ayanokōji-sensei. Untuk menghabiskan waktu sebagai siswa normal.”

(Tln: Kalimat terakhir ini agak mengganjal menurutku. Seolah-olah dia sengaja menyebutkannya)

Cara dia menjawab seperti dia datang ke sekolah ini dengan pemikiran yang sama denganku.

“Kau boleh beranggapan kalau untuk saat ini tidak ada kemungkinan aku menghapus Ayanokōji di sekolah ini.

“Untuk saat ini, ya. Itu kata yang mengkhawatirkan.”

[Jika Ayanokōji-sensei memberiku perintah untuk melenyapkannya, aku akan melakukannya. Itu saja]

Nada bicaranya yang selalu tenang, tidak terdengar seperti penuh dengan kebohongan.

“Kamu sudah memberinya banyak kesetiaan tanpa sepengetahuanku, ya.”

[Jangan melangkah lebih jauh lagi, Sakayanagi. Terlebih lagi jika kau ingin tetap berada di sisi Ayanokōji]

Dia pasti benar-benar serius dengan peringatannya bahwa itu tidak akan berakhir hanya dengan luka bakar.

[Aku tidak menyuruhmu untuk merahasiakanku. Cepat atau lambat, Ayanokōji akan tahu siapa aku. Jadi aku memperingatkanmu. Apa pilihan terbaikmu untuk melindungi kehidupan sekolah ini? Tidak, jika ia sedang mendengarkan panggilan ini, maka itu tidak perlu lagi]

Tidak ada bukti. Tapi dia mempertimbangkan kemungkinan bahwa aku sedang menguping.

“Aku akan memberitahumu jika aku ingin bertemu. Lain kali, aku akan menyapamu di sekolah.”

Di sini, Sakayanagi memutuskan sudah cukup dan mengakhiri panggilan telepon secara sepihak.

“Ternyata memang dia. Sepertinya dia tidak begitu tertarik untuk menyembunyikannya sejak awal.”

“Tampaknya begitu. Jika dia datang ke sekolah ini untuk menikmati kehidupan siswanya, aku tidak berniat untuk terlibat dengannya di masa depan.”

Setidaknya dalam interaksiku dengan Ishigami yang kurasakan selama ini, aku tidak merasakan bahaya apa pun, sama halnya dengan panggilan telepon tadi. Aku tidak perlu panik karena ada kemungkinan ayahku tidak berniat untuk mengeluarkanku dari sekolah sejak awal.

“Begitu. Jika Ayanokōji-kun membuat pilihan itu, aku akan menghormatinya.”

“Terima kasih dariku. Karena berkat kamu, aku bisa menyadari keberadaan Ishigami.”

(Tln: Aneh, selama ini dia kek gak peduli sama orang-orang yang bergerak dibelakang layar, tapi giliran dibantu Sakayanagi dia bersyukur banget)

“Langkah yang mau diambil sudah keliatan, dan aku minta maaf karena membuatmu tinggal lama di sini. Tapi, terakhir bolehkan aku melanjutkan apa yang akan aku katakan sebelumnya?”

“Masa depan tidak selalu berjalan seperti yang aku inginkan, bukan?”

Perkataan Sakayanagi itu memang membuatku penasaran.

“A-Ayanokōji-kun!”

Tapi sayangnya, ketika dia hendak melanjutkan pembicaraan yang sama, ada yang memanggilku.

“Anu, apa kamu lihat Honami-chan?”

Tanya Amikura yang berjalan cepat menyusuri koridor tampak sedikit panik.

“Tidak, aku tidak lihat. Ada apa dengan Ichinose?”

“Kau tahu, perjalanan sekolah sudah mau berakhir, bukan? Jadi kami memutuskan untuk sekelas berkumpul dan mengobrol sampai lampu dimatikan, tapi kami tidak bisa menemukan gadis yang penting Honami-chan.”

Tampaknya cukup banyak orang yang mencarinya, dan bahkan saat kami bicara, gadis dari kelas D berjalan lewat sebelah Amikura dengan tergesa-gesa.

“Dari kelihatannya, kalian sudah memeriksa kamar mandi dan kamar tidur ya.”

“Aku dengar dia tampak sedikit melamun di malam hari... jadi aku agak khawatir.”

Amikura yang khawatir dipanggil oleh seorang gadis sekelasnya.

“Mako-chan. Aku baru mengeceknya dan sepertinya ada yukata Honami, jadi mungkin dia ada di luar.”

“Eh, di luar? Tapi ini sebentar lagi jam 9, loh? Dan orang-orang di grupnya ada di ryokan, bukan?”

Kami hanya boleh keluar sampai jam 9 malam, tapi jika dia keluar sendiri, ini bisa menjadi masalah.

“Aku akan periksa pemandian umum lagi!”

Tidak ingin buang-buang waktu lagi untuk berdiri di sini sambil mengobrol, Amikura minta izin untuk berjalan pergi.

Memang agak aneh jika Ichinose menghilang pada jam segini.

“Mari kita lanjutkan pembicaraan kita di lain waktu. Silakan kamu cari Ichinose-san. Karena buat Ayanokōji-kun, keberadaan Ichinose-san untuk saat ini masih sangat penting.”

(Tln: Untuk saat ini ya...)

“Maaf.”

Mengucapkan selamat tinggal ke Sakayanagi, aku meninggalkan lobi. Selama dia dilarang untuk bertindak sendiri di luar grup, Ichinose bukanlah siswa yang akan melanggar aturan yang ditetapkan sekolah tanpa alasan.

Bahkan jika dia punya masalah, pendirian dasarnya tidak akan berubah.

Aku melihat keluar dari koridor ryokan dan melihat salju turun terus menerus.

Jika dia memang berada di luar ryokan———maka hanya ada sedikit tempat yang bisa dia kunjungi.

Setelah kembali ke kamarku dan mengenakan baju biasa, aku menyelinap keluar dari halaman belakang penginapan dan menuju ke luar.

Terdapat dataran tinggi di depan, di mana kamu bisa melihat pemandangan yang terang benderang.

Tempat yang dikunci pada jam 9 malam, jam malam. Halaman belakang yang masih berada dalam jangkauan penginapan, tidak harus bergerak dalam grup.

Meski pencahayaan jalannya cukup terang, namun tetap berbahaya karena salju.

Banyak siswa yang naik ke dataran tinggi pada hari pertama atau kedua mereka datang ke ryokan.

Oleh karena itu, pasti tidak banyak siswa yang akan kembali untuk melihatnya lagi dalam cuaca dingin dan bersalju.

Apalagi ini hari terakhir. Orang akan berpikir ingin menghabiskan waktu bersantai di ryokan.

Related Posts

Related Posts

5 comments

  1. Gue udah nebak Ishigami ini terlibat. Soalnya dari percakapan Horikita sama Kanzaki di kapal pesiar dulu, mustahil orang pintar banget kaya dia ga punya peran. Tapi ada yg aneh. Kok dia bisa bikin kontak sama Ayanokouji waktu Ayanokouji masih kelas 1?
    Btw pasti berat jadi Ayanokouji. Dia cuma pengen hidup normal selama 3 tahun sebelum balik ke WR tapi musuhnya nongol mulu. Pertama Horikita (Kurang tepat sih dibilang musuh tapi emang awal perkenalan kurang akrab), Kushida, Ryueen sama geng nya, Ichika, Housen, Yagami, Nagumo, mungkin nanti Ishigami sama final boss nya bisa jadi Sakayanagi.

    ReplyDelete
  2. Boleh nanya ga min, admin ini cewe apa cowo? Pendapat admin kadang menganggu bagi saya saat baca ini. Jadi pengen tau aja itu komen admin yg selama ini dibaca itu dari seorang cowo apa cewe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeap ada juga yang sependapat kalo komen dari translator nge ganggu banget maupun cuman 2 kata aja udah bikin kesel, Kalau Mau kasih Tln mendingan di akhir cerita jangan pas tengah" cerita nge ganggu banyak pembaca.

      Delete
  3. Eh gw nanya dong, ishigami ini debut nya pas dia di kelas satu udah ada ga sih? Soalnya gw lupa karakter" yg kelas 1, atau nama ishigami ini baru di sebutin pas di chapter ini doang?
    Klo masalah dia nelpon sama manggil ayanokoji masih inget sih gw

    ReplyDelete