-->

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 9 Bab 2 Part 2 Indonesia

Bab 2
Anggota OSIS Baru


2


“Ah~ aku juga kepengen lihat, waktu Horikita-senpai nundukin kepalanya ke Kushida-senpai.”

“Jangan mengatakannya keras-keras. Itu adalah kesalahanku yang fatal.”

Horikita memegangi kepalanya dan gemetar karena marah saat mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.

“Meskipun aku sendiri yang menyarankan, Kushida memanfaatkannya dengan baik.”

“Aku meremehkan kebutuhan akan persetujuannya.”

Aku dan Amasawa melihat Kushida terlihat sangat bahagia dalam perjalanan pulang.

“Itu adalah perekrutan paksa yang disertai berlutut.”

“...Tapi pada akhirnya Kushida-san mengiyakan, itu adalah keputusan yang ia buat. Selain itu, jika dia benar-benar tidak mau, dia bisa saja mengatakan tidak. Kamu juga tahu itu, bukan?”

“Hebat juga dia sudah mengantisipasi hal tersebut, tapi ya.”

Wajah depannya yang memberikan senyum kepada siapa pun tanpa diskriminasi tidaklah seperti itu, namun seperti yang dikatakan oleh Horikita, sisi lain dari dirinya, Kushida memiliki keteguhan hati yang kuat.

Situasi itu adalah kesempatan bagi Kushida untuk menunjukkan sisi lain dari dirinya, dan dia sama sekali tidak perlu ragu. Alasan kenapa Kushida yang bisa saja menolak setelah melihat Horikita berlutut akhirnya setuju adalah karena dia menyadari manfaat menjadi anggota OSIS.

“Aku tahu kalau dia sangat benci bekerja sebagai bawahanku, tapi yang penting bukan di situ. Bergabung dengan OSIS pasti akan meningkatkan daya tariknya. Meskipun dia pernah dijauhkan ke sudut kelas, ini pasti akan menjadi batu loncatan besar untuk memulihkan namanya.”

(Tln: daya tariknya di sana itu bukan soal pesona, tapi kekuatan menyatukan orang-orang disekitarnya)

“Kau ingin memanfaatkan Kushida sepenuhnya, ya.”

“Jelaslah. Yang memilih untuk mempertahankannya itu aku. Jadi dia harus membangun prestasi yang cukup untuk meyakinkan semua orang di kelas. Aku bahkan sampai harus berlutut, kan.”

Ternyata dia memang masih kepikiran soal berlutut, tapi apa boleh buat karena itu adalah kesalahan akibat terlalu percaya diri dengan strateginya sendiri.

Jika Horikita bilang tidak jadi berlutut dalam situasi itu, Kushida mungkin tidak akan peduli juga.

“Kau mungkin seharusnya melawannya dengan hal lain selain berlutut.”

“Jangan bahas itu lagi. Aku akan menggunakannya untuk lain kali...”

Meskipun ia menerima kerugian, ini adalah langkah pertama. Tidak semua orang bisa menjadi pengurus OSIS.

Dan dengan merekrutnya, orang akan berpikir kalau dia adalah seseorang yang dibutuhkan untuk kelas, dan juga menjauhkannya dari target untuk disingkirkan. Hal semacam itu semestinya sudah diketahui oleh Kushida.

Tapi, emosi bocah seperti pemikiran kalau dia tidak suka dituntun oleh Horikita itulah yang menghalanginya.

“Dengan ini kelasmu memonopoli OSIS untuk tahun kedua. Ini keuntungan yang pasti.”

“Hanya jika ketua OSIS Nagumo menyetujuinya.”

“Dia sendiri yang bilang, kan? Kau boleh mengambil seseorang dari kelasmu sendiri.”

“Iya sih, tapi itu jelas bernuansa [jika kamu punya nyali, lakukan saja].”

“Maka tunjukan saja nyalimu.”

“Mudah sekali kau mengatakannya.”

Meskipun Horikita terlihat bermasalah, apa yang dia katakan dan apa yang dia lakukan justru sebaliknya.

Agar semakin dekat dengan kelas A dia tidak ragu, bahkan sampai berlutut untuk menarik Kushida menjadi rekannya. Apalagi ini sebutannya kalau bukan nyali.

“Kupikir itu adalah cara yang hampir terbaik untuk merekrut Kushida.”

“Aku juga sependapat. Ketua OSIS baru memang hebat, ya.”

Amasawa menunjukkan ketertarikan dengan reaksi berlebihan dan mengangguk di belakangku.

“...Kau masih ngikutin? Tontonannya sudah selesai loh.”

“Gak papa sih. Aku tertarik pengen lihat siapa yang akan direkrut Horikita-senpai di tahun pertama. Aku dan Horikita-senpai berteman baik, bukan?”

“Aku dan kamu seharusnya tidak memiliki hubungan yang sedekat itu, tuh?”

“Iya tah? Memang pernah ada sedikit konflik, tapi itu kan hanya selama ujian khusus. Seusai itu apa salahnya jika senior dan junior berteman baik?”

Horikita sedikit mengerutkan kening, tapi karena dia tidak bisa mengusirnya dengan paksa, dia menyerah.

“Kenapa kau tidak sekalian masukan saja Amasawa ke OSIS? Nilainya di OAA juga bagus.”

“Meskipun tidak ada masalah dengan OAA, tapi Amasawa-san tidak cocok untuk OSIS.”

“Ee~? Apa salahnya sih buat coba rekrut aku dulu? Siapa tahu aku mungkin ngasih oke.”

“Enggak deh.”

Amasawa sepertinya bukan bagian dari kerangka OSIS yang dibuat oleh Horikita.

Yah, dia kayaknya memang tidak cocok untuk OSIS yang memerlukan tanggapan yang serius.

“Jika kamu menolak, pasti kamu sudah punya nama lain, bukan?”

“Ada beberapa kandidat sih, tapi... aku ingin tahu apakah dia masih ada di sekolah.”

Karena kata [dia] disebutkan, siswa tahun pertama yang diincar tampaknya adalah seorang siswa laki-laki.

Horikita melihat ke sekeliling gedung sekolah tahun pertama, tapi tampaknya tidak menemukan orang yang ia cari.

Setelah melihat dari kelas A hingga kelas D, dia menghela napas.

“Mungkin dia sudah pulang kali ya.”

Horikita sedikit mengeluh bahwa dia menghabiskan terlalu banyak waktu untuk berurusan dengan Kushida dan Amasawa.

Tapi dia mungkin tidak bisa menyerah begitu saja, jadi dia memberitahu kami.

“Aku akan tanya langsung ke teman sekelasnya. Tunggu di sini.”

Katanya, lalu dia masuk ke kelas A tahun pertama.

Aku dan Amasawa saling memandang, kemudian kami menunggu Horikita kembali.

“Jadi? Apa tujuanmu itu aku?”

“Hm? Ah, alasan aku datang ke kelas tahun kedua? Penasaran yaa?”

“Karena kamu tidak mau pulang dan nempel terus, jelas bikin penasaran.”

“Sejujurnya aku datang buat lihat gimana keadaan Kushida-senpai. Kan waktu festival budaya kemaren aku udah ngelakuin sesuatu yang maksa, jadi aku ingin tahu gimana jadinya. Terus, kan aku juga udah bikin masalah soal Takuya.”

“Tapi tadi keliatannya kau sengaja ngusilin Kushida, kan?”

Amasawa menjulurkan lidah sedikit dan tersenyum.

“Aku kan orangnya emang begitu, aku bisa ngejailin Kushida-senspai secara terang-terangan. Aku juga ingin ngecek seberapa kuat Kushida-senpai secara mental.”

Rupanya begitu. Kupikir tadinya dia bertindak terlalu berlebihan, tapi ternyata ini semua sudah direncanakan.

“Pasti banyak yang tidak beres buat Kushida-senpai karena siswa dari White Room ikut campur, tapi secara tidak langsung, itu juga bikin Kushida-senpai keluar dari zona nyamannya. Jadi bisa dibilang hasilnya bagus lah ya.”

Kata Amasawa sambil tersenyum manis.

“Setidaknya aku juga harus berguna dikit.”

“Aku bisa paham alasanmu menemui Kushida, tapi alasanmu masih mengikuti kami sampai sekarang masih belum jelas, Amasawa.”

“Cuma keingintahuan sederhana. Ayanokōji-senpai kan peduli banget sama Horikita-senpai. Dan karena dia akan menjadi ketua OSIS, aku berpikir untuk mengamati kelebihan Horikita-senpai dari dekat. Dia kelihatan serius tapi sedikit aneh, sungguh sosok yang menarik ya. Aku benar-benar mikir kalau aku mungkin bisa coba masuk OSIS sebentar.”

“Kalau begitu, kau seharusnya sedikit lebih serius saat menanggapinya. Horikita pun pasti tahu kalau kamu orang yang cakap, jadi dia mungkin saja merekrutmu.”

“Aah, biarinlah biarin. Biarpun aku sekarang masuk OSIS juga nggak ada gunanya.”

Masuk sekarang juga nggak ada gunanya? Meski semester kedua hampir berakhir, Amasawa masih tahun pertama. Dengan keluarnya Yagami, ada cukup waktu untuk mengabdikan diri di OSIS sebagai penggantinya.

Saat itu, aku teringat akan percakapanku dengan Amasawa sebelum perjalanan sekolah.

“Apa yang kau rencanakan? Tidak, atau kau masih belum membuang pemikiran itu?”

Ketika aku mengatakannya dengan maksud tersirat, mata Amasawa menjadi tajam.

“Kamu benar-benar peka ya, Ayanokōji-senpai. Bisa sadar dengan cara bicaraku yang sepele tadi.”

“Kau bilang kau tidak berniat untuk merepotkanku, dan kau juga bilang kalau hanya aku yang mendapatkan perlakuan khususmu soalnya.”

Menghubungkan kejadian dikeluarkannya Yagami dan kaitannya dengan OSIS tidaklah sulit.

“Kau memberi petunjuk juga bukan karena kau ingin aku menghentikannya kan? Amasawa bukanlah karakter seperti itu.”

“Yak betul. Aku lebih ingin tahu apakah Ayanokōji-senpai setuju atau tidak dengan hal itu?”

“Aku tidak peduli apa yang kau lakukan. Lebih dari itu, kau bisa menarik kembali ucapanmu dan membalas dendam kepadaku jika kau mau.”

“Senpai sangat lapang hati, atau lebih tepatnya, dari kata-kata itu senpai sangat percaya diri ya.”

Setelah bicara dengan siswa tahun pertama selama beberapa saat, Horikita mengakhiri pembicaraan dengan ekspresi puas.

“Aku membuat kalian menunggu ya. Ayo kita pindah ke tempat lain.”

Kata Horikita sambil berjalan dengan sedikit lebih cepat dari biasanya.

“Sebenarnya, siapa yang kamu ingin temui di sini?”

“Kamu mungkin tidak mengenalnya. Dia siswa yang bernama Ishigami-kun.”

“Ishigami?”

Tidak salah lagi kalau itu adalah Ishigami yang terlintas dipikiranku.

Tidak ada siswa lain yang memiliki nama keluarga Ishigami di tahun pertama.

“Ee, hebat banget Horikita-senpai bisa mengenali Ishigami-kun.”

Amasawa langsung menunjukkan reaksi seperti itu karena ia juga merupakan siswa tahun pertama dan lagi teman sekelasnya, jelas ia akrab dan mengenalinya.

“Apa dia berbakat? Seperti menjadi pemimpin kelas misalnya.”

Aku berpura-pura tidak tahu apa-apa dan bertanya pada Horikita dan Amasawa tentang Ishigami.

“Kayaknya dia bukan pemimpin, tapi mungkin lebih seperti staf di kelas A.”

Tidak seperti siswa pada umumnya, Amasawa tidak pernah menunjukkan keganjilan dalam sikapnya.

Dia tidak pernah mengungkapkan apakah dia sudah tahu tentang Ishigami yang tahu identitasku atau tidak.

Dia sudah tidak perlu lagi menyembunyikan apapun, tapi menganggap dia tidak tahu apa-apa juga berisiko.

“Bagaimana kau mengenalnya, Horikita?”

Karena penyebutan nama Ishigami oleh Horikita itu juga tidak tidak terduga, aku menanyakan alasannya.

“Kami sudah saling kenal karena hal kecil. Melihat hasil di OAA, kemampuan akademiknya sangat baik dan dia tampaknya cukup dipercaya oleh teman sekelasnya. Menurutku dia salah satu orang yang memenuhi syarat. Belum lama tadi dia ada di kelas, jadi mungkin kita masih bisa mengejar dia sekarang.”

Jadi dia berjalan cepat. Untuk sesaat aku berpikir, gimana jadinya jika aku mengikuti Horikita dan bertemu Ishigami, tapi terlalu memikirkannya juga percuma saja.

Mereka saling kenal entah dari mana, tapi bisa saja salah satu dari mereka coba menemui yang lain secara tiba-tiba, atau mungkin mereka berada dalam satu grup di suatu ujian khusus secara kebetulan.

Menghindar dengan paksa bukanlah tindakan yang sesuai dengan hukum alam. Di lorong yang menuju ke pintu masuk, aku melihat sekelompok anak laki-laki yang sedang mengobrol dalam lingkaran kecil.

Horikita dengan cepat menyadari sosok Ishigami di antara mereka, kemudian ia mendekatinya.

“Ishigami-kun.”

Ishigami menoleh ketika namanya dipanggil, kemudian menatap Horikita dan aku dengan tenang.

Meskipun ini pertemuan pertama kami dengan cara yang tidak terduga, Ishigami tidak menunjukkan tanda-tanda terkejut sama sekali.

Justru terlihat seperti dia tak menyadari kehadiranku.

Mungkin ini bukanlah hal yang mengejutkan karena kami berada dalam lingkungan sekolah yang sempit, jadi tak bisa dihindari jika kami bertemu satu sama lain. Para siswa tahun pertama tampak sedikit gugup saat melihat aku dan Horikita, yang merupakan siswa tahun kedua, meskipun mereka kenal dengan Amasawa.

“Ada yang bisa kubantu?”

“Aku datang untuk meminta tolong padamu. Apakah kamu mau bergabung dengan OSIS?”

“......”

Ishigami yang terdiam medengar permintaan seperti itu berbalik ke arah teman-temannya sekali.

“Maaf kalian duluan saja, aku akan segera menyusul.”

Mungkin mereka ada rencana untuk jalan dan main bareng setelah ini.

“Maaf ya. Aku tidak akan makan waktu lama kok.”

“Tidak masalah. Tapi, kenapa memilihku?”

Ishigami pakai bahasa sopan pada senior. Dia tidak terlihat pakai bahasa sopan saat bicara denganku.

“Aku jarang berinteraksi dengan siswa tahun pertama. Dan kamu adalah salah satu dari sedikit orang yang pernah aku ajak bicara. Selain itu, kelasmu adalah kelas A dan kemampuan akademikmu juga sangat baik. Wajar saja jika aku mengajakmu bergabung, kan?”

Memang tidak ada masalah dari segi kemampuan yang dapat dilihat. Seperti yang dikatakan Horikita, dia adalah kandidat yang mudah diajak oleh OSIS.

“Saat ini sepertinya kamu belum bergabung dengan klub mana pun, bagaimana menurutmu?”

“Maaf, tapi aku tidak tertarik dengan OSIS.”

Tanpa ragu, Ishigami menolak tawaran itu seketika.

“Apakah itu berarti sulit untuk dipertimbangkan?”

“Aku tidak tertarik dengan kegiatan klub atau masuk ke OSIS. Silakan cari orang lain saja.”

Jawab Ishigami sambil berbalik dan berjalan pergi.

Horikita sempat ragu akan menghentikannya atau tidak, tapi melihat sikapnya yang jelas-jelas tidak tertarik dengan OSIS, ia memutuskan untuk tidak memaksanya.

“Sama sekali tidak bisa dibujuk ya.”

“Menurutku dia adalah kandidat yang baik, tapi aku sepertinya harus menyerah.”

“Ada banyak siswa yang berbakat lainnya di kelas A, dan mungkin ada yang mau jika kamu ajak siapa saja itu secara acak, bukan?”

“Inginnya aku mikir begitu, tapi... gimana ya. Siswa yang termotivasi pasti sudah mengajukan permintaan bergabung dengan OSIS sejak dini seperti Ichinose-san tahun lalu atau Yagami-kun di tahun ini, bukan? Karena belum ada tindakan hingga saat ini, pada dasarnya mereka tidak ingin terlibat dengan OSIS.”

Benar sih. Mereka seharusnya sudah masuk pada masa kepemimpinan Nagumo jika mereka ada minat.

“Jadi———gimana setelah ini?”

“Target yang tersisa adalah kelas D tahun pertama.”

“Kelas D? Itu pilihan yang cukup mengejutkan.”

Memilih dari kelas A atau B yang memiliki proporsi siswa yang kompeten dan rajin tinggi sebagai anggota OSIS adalah cara yang cerdas. Jadi kenapa malah pilih kelas D?

“Selisih antara kelas D dan kelas C hanya sekitar 200 poin, jadi mereka masih punya peluang. Munculnya anggota OSIS pasti akan menjadi angin segar bagi kelas D. Tidak aneh jika ada siswa yang melihatnya sepositif itu. Aku cuma perlu membuatnya menyadari manfaat itu.”

“Gimana kalau kamu ajak Hōsen-kun saja? Mungkin bisa jadi menarik tuh.”

Mungkin dia ingin menciptakan kekacauan di dalam OSIS, Amasawa merekomendasikan seseorang yang tidak masuk akal.

“Kurasa dia tidak akan mau. Selain itu, bahkan jika dia mau, dengan kekasarannya sekarang aku tidak bisa menerimanya. Dia perlu mencapai hasil yang baik dalam 6 bulan hingga satu tahun ke depan.”

Ia menolak usulan yang terkesan seperti main-main itu karena syarat minimal belum terpenuhi.

Horikita yang telah kembali ke Kelas D, melihat-lihat sekeliling ruang kelas mencari siswa yang masih berada di sana.

Lalu seorang siswa segera menyadari keberadaan kami dan bangkit dari kursinya untuk mendekat.

“Selamat sore, Horikita-senpai, Ayanokōji-senpai. Dan Amasawa-san juga.”

Ucap Nanase Tsubasa, seseorang yang tidak cocok dengan kelas D tahun pertama yang di sana ada banyak siswa berperilaku buruk.

“Yahhoo!”

“Agak mengejutkan juga melihatmu ikut, Amasawa-san.”

Kata Nanase sambil bergantian melihat ke arahku dan Amasawa meskipun tidak sepenuhnya waspada.

“Sepertinya hampir semua siswa sudah pulang ya.”

“Hari ini mungkin lebih sedikit daripada biasanya. Biasanya masih ada beberapa siswa yang tinggal.”

“Benarkah?”

“Iya. Ada teman sekelasku yang sedang merayakan ulang tahun, dan mereka merayakannya di Keyaki Mall. Aku juga akan pergi ke sana nanti... eh, kenapa kalian di ruang kelas tahun pertama?”

Pertanyaan itu wajar diajukan.

“Ada posisi kosong di OSIS dengan dikeluarkannya Yagami Takuya-kun. Jadi aku ingin mengisi kekosongan posisi tersebut.”

“Merekrut anggota OSIS, ya?”

“Aku baru saja dipilih sebagai ketua OSIS yang baru, dan ini adalah tugas pertamaku.”

Nanase mengangguk kagum dan melihat ke seluruh kelas D.

“Apakah dari kelas D juga bisa mencalonkan diri sebagai kandidat?”

“Tentu saja dong. Aku juga berasal dari kelas D, jadi tidak akan ada alasan untuk menolak.”

“Kalau begitu———bolehkah aku membantu!”

“...Nanase-san?”

“Iya. Kalau orang sepertiku boleh masuk sih... tapi. Tolong, aku akan dengan senang hati membantu OSIS.”

“Aku tidak tahu bagaimana keputusan Ketua OSIS Nagumo yang akan mengundurkan diri, sih.”

Jawabnya tanpa menunjukkan respon yang terlalu positif.

Horikita mungkin tidak ingat detail OAA Nanase, jadi aku memberikan penjelasan.

“Kenapa tidak? Nanase OAA-nya bagus dan ia juga rajin, kupikir ia akan cocok untuk menjadi anggota OSIS.”

“Benar juga. Sepertinya tidak ada masalah dengan kemampuan dan karakternya.”

Karena dia sudah ditolak oleh Ishigami sebelumnya, ini adalah solusi yang paling cepat.

“Oke, bisakah aku mengandalkanmu, Nanase-san?”

“Tentu saja!”

Meskipun ada yang mengganjal pikiranku tentang keberadaan Nanase, itu adalah perkara lain.

Jika dia bisa membantu dalam pembentukan OSIS, maka tidak ada alasan untuk menolaknya.

“Sepertinya tidak akan ada masalah jika itu Nanase-chan, yaa?”

“Ya. Tidak seperti dirimu.”

“Kok kayaknya kamu agak meremehkanku?”

“Aku menilai tinggi kemampuanmu loh. Hanya saja, sikap, pemikiran, dan kepribadianmu yang santai tidak cocok untuk OSIS.”

Horikita mengangguk puas pada anggota baru yang paling tidak terduga.

“Eng, apa yang harus aku lakukan mulai besok!?”

“Kupikir tidak ada masalah, tapi pertama-tama, aku akan bicara dengan ketua OSIS Nagumo besok. Setelah itu, jika kamu diterima di OSIS, aku akan memberi tahumu lagi.”

Horikita bertukar kontak dengan Nanase.

Segera pekerjaan itu selesai, Nanase tersenyum bahagia.

“Senang rasanya aku bisa menambah kontak tidak peduli bagaimana prosesnya.”

“Sampai jumpa besok.”

“Ya, aku tunggu kabarnya!”

Nanase mengantar kepergian kami dengan senyum dan kami pun meninggalkan Kelas D.

“Setidaknya anggotanya telah terkumpul. Aku hanya perlu menunggu jawaban dari ketua OSIS Nagumo.”

“Kalau begitu, aku pulang juga aah. Sampai jumpa lagi, kalian berdua.”

Amasawa datang seperti badai dan pergi seperti badai, kami berdua melihat kepergiannya.

“Dia gadis yang masih sulit untuk ditebak jalan pikirkannya, ya.”

“Yah.”

“Terima kasih juga untukmu.”

“Yah, pada akhirnya aku tidak melakukan apa-apa selain menemanimu. Jadi itu memudahkanku.”

“Itu tidak benar. Setidaknya dalam kasus Kushida-san kata-katamu sepertinya memberikan pengaruh. Aku akan melaporkan kalau kamu melakukan pekerjaanmu dengan baik.”

Dia pasti mengacu pada saat aku menarik hadiah dari Kushida.

“Meskipun aku tidak akan mendapatkan pujian dari Nagumo, itu membuatku merasa sangat senang hingga hampir menangis.”

“Apaan sih? Ah, ngomong-ngomong setelah ini aku bakal ngadain belajar kelompok di kafe Keyaki Mall. Mau ke sana lihat? Pacarmu juga akan ikut loh.”

“Belajar kelompok ya? Yah, kupikir aku akan datang sebentar.”

“Eh?”

Horikita terlihat terkejut padahal dia yang mengajak.

“Kenapa?”

“Enggak, kupikir kamu pasti akan nolak. Apa emang karena efek ada Karuizawa-san?”

Bukan karena itu juga, tapi mungkin situasi ini bisa diterima seperti itu kali.

“Yah. Aku agak khawatir apakah dia diajari dengan baik atau tidak.”

Jawabku, dan kuputuskan untuk pergi ke kafe jalan kaki bersama Horikita.

Related Posts

Related Posts

1 comment

  1. Hmm dalam mental image saya Ishigami ini ekspresinya akan cengengesan, tapi ternyata ekspresinya serius ;_;

    ReplyDelete