-->

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 7 Bab 7 Intro Indonesia

Bab 7
Karakter Yang Tidak Terlihat


Pukul 3 sore, pekerjaanku di festival budaya telah selesai.

Sewaktu senjata rahasia kami muncul dan membuat suasananya meriah, aku menyerahkan semuanya pada Ayanokōji-kun dan meninggalkan ruang kelas.

“Tapi tetap saja———aku gak nyangka dia benar-benar menjadikan Chabashira-sensei sebagai maid.”

Di festival budaya ini, semua persiapan awal telah ku diskusikan dengan Ayanokōji-kun.

Aku juga diberitahu kalau 1 jam terakhir di acara ini akan menampilkan Chabashira-sensei, tapi aku ragu apakah hal itu bisa diwujudkan.

Tapi, tidak hanya terbukti sudah mewujudkannya, ia juga berhasil menciptakan efek yang luar biasa.

Setiap kali aku berjalan menyusuri koridor, aku bisa melihat dengan jelas momen ketika rumor mulai beredar tentang Chabashira-sensei yang mengenakan kostum maid.

Yang jelas, partisipasi Chabashira-sensei ini adalah peristiwa yang menguntungkan bagi diriku pribadi.

Dengan banyaknya perhatian tertuju pada gedung khusus, pasti akan menyebabkan orang menghilang dari tempat lain.

Setelah aku mengirim pesan ke gadis itu dengan ponselku dan memastikan pesan itu telah terbaca, aku memutuskan untuk pergi ke ruang OSIS.

Alasannya adalah, aku ingin sekali lagi memeriksa catatan rapat.

Tentu saja aku bisa memintanya pada Yagami-kun di hari ketika OSIS mengadakan rapat, tapi kalau begitu aku tidak akan bisa mengamatinya dengan tenang.

Seseorang yang menunjukkan gelagat seperti akan mengeluarkan Ayanokōji-kun dari sekolah.

Dia tampaknya punya hubungan dengan Amasawa-san dan sangat berbahaya dalam hal fisik.

Selain itu, jika Yagami-kun benar seperti itu dan aku memintanya untuk menunjukkan catatan rapat lagi, dia akan menyadari bahwa aku mencurigainya.

Tidak... jika aku ingin membuat asumsi kalau dialah pelakunya, aku harus menganggapnya kalau dia sudah berpikir demikian.

Yang jelas, untuk memastikannya tanpa diketahui, maka aku perlu mengincar waktu ketika tidak ada orang di sekitar.

OSIS sudah ditutup untuk sementara waktu karena kepentingan Ketua OSIS Nagumo.

Dengan kata lain, kesempatan untuk mengintip catatan itu telah dibatasi, tapi sebaliknya, ini juga akan membersihkan orang-orang yang tidak berkepeningan.

Menurutku kesempatan itu adalah di waktu festival budaya ini.

Aku melapor ke Chabashira-sensei dipagi hari kalau aku [kemungkinan besar meninggalkan buku catatanku diruang OSIS] dan mendapat izin untuk pergi mengambil kunci itu di ruang staf selama waktu istirahat.

Biarpun aku kepergok ketika masuk ke ruang OSIS sekarang, aku masih punya alibi.

Aku segera berganti dari pakaian maid ke seragam sekolah, lalu pergi sendirian ke ruang staf.

“50 menit lagi, ya.”

Melintasi ruang OSIS, aku menghembuskan napas ketika melihat jam di koridor yang terpasang disana.

Hari ini bagaimanapun juga, adalah hari yang sibuk.

Ini belum berakhir, tapi peranku sudah selesai.

Karena aku diharuskan beristirahat selama 1 jam, begitu waktu istirahatku selesai, festival budaya pun berakhir.

Sejak pagi aku sangat sibuk, mengenakan pakaian maid dan bekerja tanpa istirahat.

Aku yang sudah mengenakan kembali seragamku, melangkah ke ruang OSIS dan diam-diam memasukkan kunci ke pintu masuk.

Hari ini ruang OSIS kosong karena semua orang sibuk dengan festival budaya.

Dengan kata lain, memeriksa catatan rapat sekali lagi dan mengambil fotonya dengan ponselku itu tidaklah terlalu sulit.

Pikirku begitu, tapi....

Ponsel di sakuku bergetar karena ada panggilan masuk. Aku terkejut melihat nama si penelepon.

Yagami Takuya. Kenapa dia meneleponku tepat di saat ini....

Sembari merasakan kebetulan yang menakutkan ini, aku menjawab panggilan itu.

“Halo?”

“Horikita-senpai.”

Suara Yagami-kun yang seharusnya melalui telepon, mencapai telingaku secara langsung dari tempat yang agak jauh.

Orang yang paling tidak ingin kulihat saat ini sedang tersenyum dan melambaikan tangan ke arahku.

Sekujur tubuhku menggigil, seolah-olah air dingin telah dituangkan langsung ke jantungku.

“Apa aku mengagetkanmu?”

Mengatakan itu, dia berjalan ke arahku selangkah demi selangkah sambil mematikan ponselnya.

“Yagami-kun, kenapa kamu di sini?”

“Kenapa... ya? Apa kamu tidak merasa terganggu dengan fakta kalau aku meneleponmu dari dekat?”

Perhatianku teralihkan oleh hal-hal lain hingga aku lupa untuk menanyakan hal itu.

Seolah-olah Yagami-kun sedang mencoba mencari tahu apakah aku sebegitu terguncang dan paniknya.

“Ngomong-ngomong, kenapa Senpai ada di tempat yang sepi seperti ini? Berhubung festival budaya sudah mencapai klimaksnya, bukankah ini waktunya untuk memberi dorongan terakhir?”

“Aku baru istirahat, jadi peranku di festival budaya sudah berakhir. Makanya aku hanya ingin menyendiri sebentar.”

“Jadi istirahat di jam 3 sore. Kau memilih pola yang tidak biasa ya.”

Tidak biasa, apa iya?

Karena sekolah ini belum pernah mengadakan festival budaya yang seperti ini, maka tidak ada kriteria untuk menilainya.

Namun, mengingat aturannya adalah bahwa semua peserta diharuskan istirahat selama 1 jam, maka pasti ada persentase tertentu dari para siswa sepertiku yang memilih untuk beristirahat pada jam 3 sore.

Pikiranku tidak bisa langsung memberikan jawaban dan aku terdiam selama beberapa detik.

Dan aku menyadari.

Tak ada kebenaran atau kebohongan dalam kalimat [pola yang tidak biasa] yang diucapkan oleh Yagami-kun.

Pernyataan tersebut hanyalah upaya untuk mencari tahu apakah aku memilih jam 3 sore sebagai waktu istirahat tanpa niat lain atau apakah aku memilih waktu itu karena memiliki niat tertentu.

Faktanya, aku sangat terguncang hingga aku tidak bisa segera membalasnya.

Tidak peduli bagaimana aku menjawabnya nanti, aku mungkin sudah jatuh ke dalam perangkap.

Tidak, belum.

Di sini berhubung aku sudah terlambat memberikan tanggapan, ada pilihan untuk melewatinya.

(Tln: lewat = pas/tidak memberikan jawaban)

Kalimat ganjil pola yang tidak biasa, terpaksa hanya bisa kuabaikan dulu.

“Kenapa Yagami-kun ada di sini?”

“Aku melihat Horikita-senpai berwajah muram, jadi aku penasaran dan mengikutimu.”

“Sejak kapan? Apa pun alasannya, mengikuti seorang gadis itu bukan perilaku yang baik.”

“Kupikir aku sudah memanggilmu, tapi sepertinya kamu tidak dengar karena kebisingannya.”

Dalam perjalanan ke sini, aku memang memikirkan banyak hal. Tapi, itu bukan berarti aku tidak akan sadar jika ada yang memanggilku. Mau tidak mau aku merasa dia sudah mengguncangku lagi seperti sebelumnya, tapi mungkin saja rangkaian peristiwa ini tidak benar-benar berarti apa pun.

Selain itu, dia bisa saja memanggilku beberapa kali sebelum sampai di sini.

Atau mungkin dia mengikutiku, melainkan dia sudah berada di sekitar sini sejak awal...?

Semua ini menegaskan bahwa Yagami-kun adalah orang yang kucari, yang menulis dengan tulisan tangan yang sangat bagus.

Jika bukan dia, kurasa aku terlalu mencurigainya hingga aku harus meminta maaf dengan tegas nanti.

“Kamu menyelinap pergi dari festival budaya, apa tidak apa-apa?”

“Aku pun sama. Karena apa yang harus kulakukan, yaitu peranku sudah selesai. Aku tidak sedang istirahat, tapi aku punya waktu luang. Toh tidak ada aturan yang melarang istirahat lebih dari satu jam.”

Apa benar kebetulan? Tidak, sebaiknya aku berpikir demikian.

Jika nanti ternyata kebetulan, itu tidak menimbulkan masalah.

Tapi jika ini bukan kebetulan, aku dalam masalah sekarang.

“Ada perlu apa kamu di ruang OSIS? Ruangan itu terkunci dan aku rasa tidak ada orang di sana.”

Untuk mengantisipasi jawabanku, Yagami-kun melihat ke pintu ruang OSIS dan menjawab begitu.

“Aku hanya mencari sesuatu. Aku meminjam kuncinya dari ruang staf, jadi tidak ada masalah.”

“Mencari sesuatu ya. Kalau begitu, aku juga bisa bantu mencarinya.”

Ketenangan dan ketidaksabaran mulai beradu dan bersaing dalam batinku.

Aku tidak bisa menilai dengan jelas apakah pernyataannya dibuat hanya dengan niat baik atau ada niat jahat.

“Tidak perlu sampai kamu membantuku.”

“Bahkan sampai repot-repot mencarinya di tengah-tengah festival budaya, itu pastinya barang yang penting, bukan?”

Kedengarannya seperti pernyataan yang mana dia sudah tahu, dia sudah mengekspos pikiranku.

“Itu buku saku. Aku membelinya belum lama ini tapi kucari tidak ketemu. Memikirkan seandainya orang lain mengambil dan membacanya tidak baik untuk kondisi mentalku. Aku hampir menyerah, tapi aku masih tidak bisa tenang, dan satu-satunya tempat yang belum aku cari ya di ruang OSIS ini.”

Tidak ada gunanya menghabiskan waktu lagi di sini.

Disinilah aku memberitahu Yagami-kun kebohongan yang kukatakan ke para guru apa adanya.

“Kalau begitu aku akan bantu cari. Karena begitu festival budaya selesai, segala sesuatunya akan kembali sibuk. Jika 2 orang mencarinya akan 2 kali lebih efisien daripada satu orang, ‘kan?”

“Ka-Kau benar.”

Pelan-pelan kubuka kuncinya dan kubuka pintunya. Melangkah masuk ke dalam ruang OSIS selangkah lebih maju, meninggalkan Yagami-kun yang berdiri tepat di sampingku, aku berhenti bergerak.

“Horikita-senpai?”

“Memang butuh 2 orang untuk mencari barang yang tertinggal di ruang OSIS ya? Apa kamu memiliki tujuan lain?”

“Eh———?”

Dalam keadaan ini, aku melawan dengan sengaja.

“Aku menolak bantuanmu itu, sejujurnya karena aku merasa agak takut.”

“Takut padaku... kenapa?”

“Masak tidak tahu?”

“Aku tidak kepikiran.”

“Ruang OSIS yang sepi. Kau bilang kau memanggil ku tapi aku tidak menyadarinya. Seolah-olah aku sedang diikuti dan kita pun berakhir berduaan. Apa kau tahu apa artinya itu bagi seorang gadis?”

Di sini aku menyudutkannya atas perbedaan gender sosial, bukan sebagai individu bernama Horikita Suzune.

Akan kuusir dia dengan pasti, terlepas dari apakah niatnya baik atau buruk.

“Be-Benar juga. Maaf, aku sama sekali tidak memikirkan hal itu... benar juga...”

Karena sudah begini, dia tidak akan bisa memasuki ruang OSIS dan juga tidak akan bisa memilih untuk menunggu di koridor.

Wajar saja jika dia melakukan hal itu akan dianggap menjijikan.

“Aku minta maaf. Kupikir tindakanku memang salah.”

Yagami-kun membungkuk dalam-dalam.

“Tapi maaf jika lancang, bolehkah aku mengatakan satu hal?”

“Apa itu?”

Tanpa mengangkat kepalanya yang tertunduk, apa yang ingin dia bicarakan padaku sekarang?

“Tujuan sebenarnya dari kunjungan Horikita-senpai ke ruang OSIS adalah———”

Dan tepat setelah Yagami mengangkat wajahnya———.

Dia tiba-tiba kehilangan postur tubuhnya dan tubuh bagian atasnya menekuk tepat di depanku.

Tidak, ditekuk.

(Tln: Yang atas itu dengan sendirinya, yang bawah akibat seseorang)

“Ketangkap kau!”

Bersamaan dengan suara itu, Ibuki-san yang mengenakan kimono muncul.

“Tu-Tunggu, Ibuki-san!”

“Jangan hanya berdiri di sana, cepatlah masuk ke dalam, Horikita! Kalau ada yang lihat bisa jadi masalah soalnya!”

Pastinya akan jadi masalah besar jika ini ada yang lihat, karena ini tampak jelas seperti tindakan kekerasan.

Ketika aku membuka pintu ruang OSIS, Ibuki-san dengan paksa mendorong Yagami-kun untuk masuk.

“A-Apa yang kamu lakukan...?”

Yang pertama berbicara, tentu saja adalah sang korban, Yagami-kun.

Aku bingung dengan situasi ini, di mana Ibuki-san muncul dari belakang dan mengekang Yagami-kun.

“Kau sudah tertolong oleh usahaku lagi ya, Horikita.”

“...Tertolong, aku tidak pernah memint...”

“Kaulah yang menyuruhku untuk mengawasi pria ini, bukan? Lalu kau ditekan olehnya. Jadi ya wajar untuk berpikir kalau sudah terjadi sesuatu.”

Dia mengatakan hal-hal yang tidak perlu dikatakan sekaligus.

Perbuatannya yang tanpa pikir panjang ini telah membuat semua percakapanku tadi menjadi sia-sia.

Aku tidak menyangka dia akan mengatakan bahwa dia disuruh untuk mewaspadainya di depan orang yang dimaksud, omong kosong juga ada batasnya.

“Anu, disuruh untuk mengawasiku itu apa artinya?”

Yagami-kun yang tidak bisa bergerak mengajukan pertanyaan yang sudah sewajarnya.

Karena sudah begini, aku tidak punya pilihan lain selain mengatakan yang sebenarnya.

“..Aku minta maaf karena ini berubah jadi kekerasan. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku tentang dirimu. Apa kau ingat ketika kamu menunjukkan catatan rapat padaku tempo hari?”

“Yang berkaitan dengan pernyataan Ketua OSIS Nagumo, ‘kan?”

“Ya. Aku hanya ingin memeriksa kembali tulisanmu yang kulihat pada saat itu.”

“Tulisan? Meski aku tidak begitu paham, jadi yang sebenarnya kamu cari itu catatan rapat, ya?”

Tampak bingung, Yagami-kun melanjutkan.

“Kau bilang kau ingin memeriksa tulisan tanganku, tapi apa motifmu yang sebenarnya?”

Meskipun aku penasaran dengan apa yang ingin dia katakan sebelum Ibuki-san muncul, kulanjutkan dengan penjelasanku. Selembar kertas dimasukkan ke dalam tendaku selama ujian khusus di pulau tak berpenghuni. Bahwa aku bergerak untuk mencari tahu siapa pengirim kertas itu. Yagami-kun mendengarkan dengan tenang sementara tubuhnya ditahan.

“Jadi karena tulisan tanganku di catatan rapat dan tulisan tangan di kertas itu mirip, ya?”

“Ya, itu benar.”

“Jika yang kau katakan itu benar, aku tentunya bisa memahami mengapa kau mewaspadaiku. Dan untuk mengkonfirmasikannya tanpa diketahui, mungkin benar yang terbaik adalah mengincar di waktu seperti ini.”

Dikarenakan masa persiapan festival budaya, ada banyak orang yang datang dan pergi pada akhir pekan, dan para siswa berjalan kesana kemari disekitar sekolah untuk mencari lokasi stan, jadi aku tidak bisa mengambil pilihan untuk mengambilnya di saat itu.

“Tapi aku bukan pengirim kertas itu.”

Yagami-kun kukuh menyangkalnya. Ada bagian dari diriku yang ingin mempercayainya, tapi....

Di saat aku sedang kesulitan untuk menerimanya, ia berbicara lebih banyak lagi.

“Karena kamu mencurigaiku, apa kamu punya bukti yang mendukung hal itu?”

“Sayangnya tidak ada bukti. Hanya saja, aku tidak berharap kalau kamu akan jujur mengakuinya.”

“Kalau tidak keberatan, bisakah kamu menunjukkan kertas itu padaku sekali saja? Dengan begitu, kupikir kita bisa membandingkannya dengan catatan rapat itu alias tulisan tanganku, dan aku seharusnya bisa membuktikan bahwa aku tidak bersalah.”

“Sayangnya itu tidak mungkin. Aku terlibat sedikit masalah dan kehilangan kertas itu.”

Kertas itu dirobek sampai kecil oleh Amasawa yang kuhadapai di pulau itu.

“Repot juga nih. Bukankah itu berarti aku tidak bisa membuktikan bahwa aku tidak bersalah?”

“Makanya pertama-tama aku ingin mengecek ulang catatan rapat itu.”

“Jika kamu cek ulang, kamu tidak bisa memastikan kecocokannya dengan ingatanmu, bukan? Sebaliknya, Horikita-senpai sekarang sangat mencurigaiku. Dengan premis itu, kemungkinan aku dijadikan pelaku dengan menulis ulang ingatanmu sama sekali tidak rendah. Jelas ini situasinya merugikanku.”

“...Kau ada benarnya.”

Aku tidak ingin orang itu adalah Yagami-kun, tapi perasaan ingin menemukan pelakunya sangat kuat.

Aku dapat memahami kekhawatirannya tentang apa yang akan terjadi jika ini diteruskan.

“Sungguh tidak benar kalau aku harus dicurigai, tapi yang jelas, bisakah lepaskan tanganku terlebih dahulu? Apa pun itu, kupikir kalau ini diteruskan tidak akan baik untuk kalian berdua. Alasan apa yang akan kalian berikan jika Ketua OSIS Nagumo melihat pemandangan seperti ini nanti?”

Seorang anak laki-laki tahun pertama dikekang tanpa alasan.

Benar juga, situasi ini tidak lain hanyalah sebuah masalah besar bagi kami.

Lain cerita jika kami diserang, tapi masalahnya dia tidak melakukan apa-apa.

“Ibuki-san, lepaskan dia.”

Aku memerintahkan Ibuki-san untuk mengikuti kata-katanya.

Tapi ekspresi Ibuki-san saat ia mengekang Yagami-kun sangat serius, dan ia tidak mengendurkannya sama sekali.

“Maaf, tapi itu tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Karena instingku berkata, orang sepertimu yang tampaknya tidak berbahaya itu adalah yang paling berbahaya.”

Itu adalah sesuatu yang dia pelajari dari Ayanokōji-kun sebelumnya.

Tapi jelas dari sikap Ibuki-san, bahwa itu bukan sekadar masalah penampilan.

“Apa kamu punya bukti lain?”

“Kau terlihat seperti pria yang lemah, tapi kau terus memancarkan sensasi berbahaya. Pastinya kau bukan hanya sekedar anak yang rajin belajar, bukan?”

Sepertinya itu informasi selain informasi visual yang hanya bisa dimengerti oleh Ibuki-san yang bersentuhan langsung dengannya.

Aspek di mana orang yang kami cari kemungkinan adalah orang yang sangat terampil.

Jika hal itu benar-benar sesuai dengan Yagami-kun, maka pantas saja jika dia dicap sebagai tersangka.

“Pesan yang dikirim kepadaku sangat mirip dengan tulisan tangan Yagami-kun. Ditambah lagi, kemampuan fisik yang tersembunyi. Dan kemunculanmu di sini.”

“Aku memang tidak benci melatih tubuhku, jadi aku sedikit memiliki kepercayaan diri...”

Mendesah pasrah, Yagami-kun sedikit mengangkat tatapannya dan menatapku.

“Kalau kelewatan begini, aku juga bisa marah loh? Situasi ini terlalu berat sebelah.”

Biarpun Yagami-kun memiliki kemampuan fisik yang tinggi, seperti yang Ibuki-san perkirakan, itu tidak aneh. Lagipula nilai OAA-nya adalah C, yang merupakan rata-rata. Bisa saja dia hanya tahu seni bela diri sedangkan kecepatan lari atau kemampuan olahraganya rendah.

Apakah dia putih atau hitam?

Saat penghakiman terpepet oleh waktu, keheningan itu dipecahkan dengan cara yang tak terduga.

Sebab, pintu ruang OSIS, di mana tak ada seorang pun yang seharusnya datang, terbuka tanpa peringatan.

“Woh———ini situasi yang sangat tidak biasa.”

Yang muncul adalah Ketua OSIS Nagumo. Hanya Yagami-kun yang tidak mengubah sikapnya, tapi karena aku dan Ibuki-san telah melakukan hal yang tidak benar, aku sangat terkejut.

“Ketua OSIS, kenapa kamu kesini...?”

“Daripada itu, apa artinya semua ini?”

Ini yang dimaksud, terutama adalah soal Ibuki-san yang menahan Yagami-kun.

“Jika ada 2 orang menindas seorang kōhai, ini akan menjadi masalah besar loh.”

Ibuki-san jelas saja tidak bisa terus mengekangnya, jadi dia mengangkat tangan untuk melepaskan Yagami-kun.

“Terima kasih atas bantuanmu. Ketua OSIS Nagumo.”

Yagami-kun yang tampak tenang, bersukur karena tubuhnya yang telah dilepaskan.

Apa artinya sikap tenang Yagami-kun yang seperti telah mengetahui akan kedatangan Ketua OSIS?

“Nah, bisa kalian jelaskan kenapa kalian berada di sini tanpa pemberitahuan.”

Jika kujawab aku kehilangan buku sakuku, Yagami-kun mungkin akan menyatakan kalau aku berbohong.

Di sisi lain, jika aku mengangkat soal catatan rapat, topik itu akan menyebar ke Ketua OSIS Nagumo.

“Horikita-senpai kayaknya kehilangan buku sakunya, jadi aku ingin bantu mencarinya. Ibuki-senpai sepertinya salah paham dan mengira aku akan menyerang Horikita-senpai, jadi karena naluri keadilan, dia bertindak seperti yang dia lakukan tadi.”

Untuk mendukung kebohonganku, tanpa berusaha menyudutkanku, dia menjawab begitu.

“Begitu, jadi itu alasan untuk pengekangan tadi.”

“Kupikir kesalahpahamannya sudah diluruskan, dan aku tidak bermaksud untuk mempermasalahkannya.”

“Maka tidak perlu disebutkan lebih lanjut. Jadi, apa kau menemukan buku saku itu?”

Jika dia bersedia menutupinya, maka akan kuikuti itu dengan rasa syukur.

“Tidak, aku tidak menemukannya. Padahal tempat ini adalah harapan terakhir.... Mungkin aku salah kira itu sampah dan membuangnya. Akan kurelain saja.”

Walaupun ia mengkonfirmasinya sendiri, ia mungkin tidak peduli dengan keberadaan buku saku itu. Ketua OSIS memalingkan muka tidak tertarik, dan kemudian langsung duduk di kursinya yang biasa.

(Tln: Baris pertama = Ketua OSIS bertanya, tapi aslinya dia tidak peduli)

“Apa pun alasannya, jangan lakukan itu di tengah-tengah festival budaya. Langsung bubar sana.”

Tetap di sini pun tak akan membuatku bisa melihat catatan rapat itu lagi. Sekarang aku tidak punya pilihan selain pergi dengan patuh.

Aku hendak meninggalkan ruangan bersama Ibuki-san dengan pemikiran itu, tapi....

“Ngomong-ngomong, Ketua OSIS Nagumo, kenapa kamu tahu kami ada di sini?”

Di sampingku dan Ibuki-san, Yagami-kun mengajukan pertanyaan seperti itu.

“Kau penasaran ya?”

“Pintu ruang OSIS seharusnya dikunci. Tetapi Ketua OSIS tidak ragu-ragu untuk memasuki ruangan, jadi aku sedikit penasaran.”

Benar juga, itu tidak wajar. Aku tidak tahu apakah Ketua OSIS punya kunci cadangan, tapi dia seharusnya membuka kuncinya dulu sebelum masuk.

Namun dia memasuki ruangan begitu saja tanpa ragu-ragu, bisa dimengerti jika hal itu dianggap aneh.

Seolah-olah dia sudah tahu ada seseorang di dalam sini sejak awal....

Apakah Ketua OSIS Nagumo dan Yagami-kun berniat untuk bertemu di sini?

Maka masuk akal jika Yagami-kun bisa meramalkan kalau Ketua OSIS akan datang.

Tapi——interaksi antara keduanya jauh dari kesan sudah diatur.

“Aku mau saja menjawabnya, tapi sebelum itu, aku juga punya beberapa pertanyaan untukmu, Yagami.”

“Untukku?”

“Kau ingat kan apa yang kukatakan di ruang OSIS tempo hari? Bahwa ada rumor yang mengatakan kalau aku memakai banyak uang untuk mengeluarkan siswa tertentu.”

“Tentu saja. Aku sendiri juga sudah melakukan banyak penyelidikan, tapi aku belum dapat melacak sumber rumor itu.”

Aku tak bisa mengikuti topik pembicaraan yang tiba-tiba diulang kembali itu.

“Bukankah kau aslinya tahu? Dari mana rumor itu berasal.”

“...Maksudnya?”

“Aku hanya bertanya, bukankah kau yang memulai rumor itu?”

Ketua OSIS Nagumo dengan ringan menendang bagian bawah meja karena kesal.

“Tunggu sebentar. Apa ini tiba-tiba? Kenapa aku melakukan hal seperti itu?”

Sebelumnya dia dicurigai oleh kami, dan kali ini dia dicurigai oleh Ketua OSIS Nagumo.

Dan itu juga dengan konten yang sama sekali tidak ada kaitannya.

“Peduli setan tujuanmu apa. Ujian khusus di antara tahun pertama di mana siswa tertentu dikeluarkan untuk mendapatkan hadiah. Kau adalah salah satu dari sedikit orang yang ikut berpartisipasi.”

Di sini, ekspresi Yagami-kun agak murung. Dengan sedikit rasa kesal, seperti Ketua OSIS Nagumo.

“Ketua OSIS Nagumo, apa maksudmu ini, apa yang sebenarnya kamu bicarakan?”

“Aku menyangkalnya di rapat OSIS, tapi setidaknya itu adalah kebenaran.”

“Berarti, yang benar-benar...?”

“Tapi bukan berarti aku melanggar aturan apa pun, oke? Itu hanya kebijakan sekolah. Aku bersaksi sebagai Ketua OSIS, bersama dengan Ketua Tsukishiro, untuk menjaga keadilan. Bukan begitu? Yagami.”

Ada ujian khusus yang tanpa ampun di sekolah ini, tapi aku tidak menyangka sampai ada hal seperti itu.

“Menurut aturan, kami harus merahasiakan tentang ujian khusus itu dan para pesertanya, bukan?”

“Dan kaulah yang pertama melanggar aturan itu.”

“Itu bukan aku. Tak ada untungnya membuat marah Ketua OSIS Nagumo. Selain itu, ada beberapa siswa tahun pertama lainnya yang mendapat penjelasan yang sama.”

“Yah kau benar. Tapi kau kan muncul di sini. Jadi wajar jika aku mencurigaimu.”

“Ini hanya kebetulan saja.”

Ketua OSIS Nagumo sedang menghadap Yagami-kun, tapi mengalihkan pandangannya ke kami.

“Kalian kembali saja. Sekarang aku akan berbicara dengan Yagami.”

“Aku tidak tahu soal masalah itu, tapi tolong izinkan aku untuk berbicara.”

“Horikita-senpai. Apa yang ingin kamu katakan?”

Ia menahanku dengan matanya. Aku mengabaikan tekanan yang seperti mengatakan, aku tadi membelamu kan, itu.

“Katakanlah.”

“Aku tidak tahu apakah dia yang memulai rumor tentang ujian khusus itu. Tapi kurasa ini bukan kebetulan bahwa dia muncul di sini. Yagami-kun mengikutiku. Atau aku sekarang benar-benar merasa kalau dia mengawasi di sekitar ruang OSIS ini sejak awal.”

“Tuh dengar kata Suzune?”

Ekspresi Yagami-kun mengeras saat dia terjebak di antara kedua belah pihak, tapi dia kemudian menghela napas muak.

“...Jadi begitu, aku paham sekarang. Kalian berdua bekerja sama sejak awal, ‘kan? Sejak saat kau menyerahkan surat yang disamarkan sebagai surat cinta itu padaku, kau memutuskan untuk memaksaku ke sini, bukan?”

“Surat... yang disamarkan sebagai surat cinta?”

“Maksudmu ini?”

Ketua OSIS Nagumo mengeluarkan surat cinta yang kuterima dari Ichihashi-san dari sakunya.

Tidak, tapi apa yang dia maksud dengan surat yang disamarkan sebagai surat cinta?

“Aku gak paham. Ini hanya surat cinta dari pengirim yang tidak dikenal yang berisikan perasaannya padaku.”

“Itu salah. Sekilas surat itu memang surat cinta, tapi di dalamnya tertulis [festival budaya, jam 3 sore, ruang OSIS]. Kata-kata lain seperti [penting], [dikeluarkan dari sekolah] dan [rahasia] juga ditemukan di seluruh bagian. Iya, ‘kan?”

Membuka surat yang segelnya sudah dibuka, Ketua OSIS Nagumo membacanya.

“Di mana itu dituliskan? Aku sama sekali tidak tahu.”

Dengan itu, Ketua OSIS Nagumo membuat gerakan untuk menyerahkan surat cinta... surat itu padaku.

“Permisi.”

Aku meminjam surat itu dan melihat isinya. Namun, kata-kata yang disebutkan Yagami-kun tidak bisa ku temukan di mana pun.

Ibuki-san juga penasaran dan mengintip suratnya, tapi reaksinya sama seperti kami.

Maafkan aku karena mengaku tanpa menyebutkan namaku, aku sudah lama mencintaimu. Isinya seperti itu.

“Tolong hentikan akting kalian. Jika anagram itu diurai, kau akan bisa melihat kebenarannya.”

“Anagram itu... apa?”

Terlepas dari Ibuki-san yang tidak mengerti arti kata itu sendiri, jadi surat ini ditulis berisikan anagram? Anagram yaitu menyusun ulang huruf untuk mengubah maknanya menjadi sesuatu yang lain. Permainan kata.

(Tln: Buat yang baca Nibanme Kanojo terjemahanku harusnya sudah tidak asing lagi. Kalau dalam kanji menyusun huruf, kalau alfabet bisa sebuah kata)

Bahkan setelah beberapa kali aku coba mencarinya, aku tidak bisa langsung tahu jawabannya.

Jika aku meluangkan waktu, mungkin aku bisa menemukannya, tapi dalam sekejap itu tidak mungkin.

“Kau ternyata sangat pintar ya, Yagami. Tampaknya, baik aku maupun Suzune tidak bisa langsung mengurai anagram itu, loh?”

Seperti kami, Yagami-kun juga sangat mewaspadai kami karena semakin dicurigai.

“Bukankah itu ditulis oleh salah satu dari kalian berdua? Atau mungkin oleh seseorang yang sama-sama kalian kenal?”

“Sama-sama kami kenal? Siapa yang kau maksud?”

“...Tidak, aku tidak tahu itu. Tapi percayalah kalau aku mengikuti anagram itu untuk sampai ke tempat ini.”

Jika demikian, tidak, bahkan jika tidak demikian, dia mengatakan beberapa hal yang aneh.

“Entah anagram atau bukan, itu tidak penting pada titik ini. Kenapa kau tahu lebih dulu apa yang ada dalam surat cinta ini? Itu berarti kamu membacanya sebelum menyerahkannya padaku, bukan?”

Benar. Tidak ada cara lain untuk mengetahui.

“Itu karena kebetulan. Waktu aku menjatuhkan surat itu, segelnya terlepas dan isinya keluar. Aku tahu kalau aku seharusnya tidak melihatnya, tapi aku tidak tahan untuk tidak melihatnya.”

“Itu perilaku yang tidak etis bagi seorang anggota OSIS.”

Aku tidak mengerti kenapa dia ingin mengintipnya, tapi biasanya orang akan menahan diri.

Terlebih lagi, pertukaran surat antara pihak ketiga yang tidak ada kaitannya denganku. Dia rela mengambil risiko hanya untuk melihat isinya kali. Tidak mengetahui nama pengirim tentunya menggelitik rasa ingin tahuku, tapi apakah itu membuatku ingin memeriksa isinya, itu masalah lain.

“Kau memeriksa isinya karena kau sudah terbiasa melakukan skema jahat, bukan? Kau punya firasat kalau kau sedang dijebak dalam semacam perangkap.”

“Tampaknya kamu tidak akan mempercayaiku jika aku menyangkalnya, ya.”

Aku merasakan ketidaknyamanan yang aneh dalam rangkaian diskusi ini. Karena dunia yang kulihat, dunia yang Yagami-kun lihat, dan dunia yang Ketua OSIS Nagumo lihat.

Aku tidak bisa menahan perasaan bahwa ketiganya sedikit berbeda.

Tampak cocok tapi nyata tidak. Ketidaknyamanan seperti ada sesuatu yang tersangkut di gigi belakang.

Sudah cukup buruk Yagami-kun membaca surat itu tanpa izin.

Namun masalah penyebaran rumor buruk tentang Ketua OSIS Nagumo dan perihal catatan rapat itu masih tidak jelas.

Mengenai kemunculannya di depan ruang OSIS ini juga sulit untuk dengan pasti menentukan apakah itu disengaja atau kebetulan.

Tidak ada gunanya menyalahkan Yagami-kun lagi di sini....

Yagami-kun menatapku dan Ketua OSIS Nagumo secara bergantian dan tertawa kecil.

“Mari kita luruskan saja. Sebenarnya, kalian semua sudah tahu, bukan?”

Setelah diam sejenak, selesai memilah-milah situasi di kepalanya, Yagami-kun angkat bicara.

“Horikita-senpai, setelah melihat catatan rapat itu, kau mengaitkannya dengan kertas dari ujian dipulau tak berpenghuni, dan mengira akulah pelakunya. Kemudian kamu memberikan surat ke Ketua OSIS Nagumo yang dibuat agar terlihat seperti surat cinta dan diam-diam mengiriminya pesan.”

Entah kenapa, dia sendiri yang mulai menyebutkan catatan rapat dan kertas yang belum pernah disebutkan sejauh ini.

“Kenapa juga aku harus melalui proses yang berbelit-belit itu. Aku bisa menelepon atau mengirim chat ke dia, ‘kan?”

“Bukankah itu agar kamu tidak meninggalkan bukti kecurigaanmu terhadapku? Kau bisa mengelak dengan banyak alasan memakai surat yang disamarkan sebagai surat cinta ini soalnya. Dan kalian ingin memeriksa catatan rapat itu bersama hari ini. Untuk memastikan apakah aku adalah orang yang Horikita-senpai cari.”

“Pulau tak berpenghuni? Catatan rapat? Orang yang Suzune cari? Apa yang kau bicarakan?”

“Apakah kau masih ingin melanjutkan sandiwaranya, Ketua OSIS Nagumo? Aku sudah tahu kalau kamu dan Horikita-senpai bertindak atas perintah orang tertentu. Semuanya atas perintah Ayanokōji-senpai, si pembuat anagram surat ini, bukan? Dasar jahat. Tanpa aku perlu menunjukkan catatan rapat ke Horikita-senpai, ternyata kau sudah sampai padaku, ya.”

“...Kenapa kamu menyebut nama Ayanokōji-kun?”

“Ternyata dia juga melakukan hal cukup berbeli-belit ya. Kupikir dia tidak suka muncul di depan umum, tapi aku tidak menyangka dia akan mendekatiku seperti ini.”

Dia tertawa geli. Sikap Yagami-kun jelas berubah dari dirinya yang selama ini.

“Lalu apa yang akan terjadi setelah ini? Apakah aku akhirnya akan bertemu Ayanokōji-senpai?”

Yagami-kun melihat ke arah pintu seperti seorang anak kecil di depan kotak hadiah mainan.

“Aku jadi tidak sabar. Sampai dia datang, bisa beri tahu aku apa yang kalian dengar tentangku? Terutama aku ingin mendengarnya dari mulutmu, Horikita-senpai.”

“Tunggu. Aku benar-benar tidak tahu apa yang kau bicarakan. Aku memang curiga kalau kamu datang ke tendaku dan menaruh surat itu di sana, tapi aku hanya membicarakan hal itu dengan Ibuki-san.”

Biarpun yang kukatakan ini benar, Yagami-kun tidak menunjukkan tanda-tanda mempercayainya.

(Tln: Kalimat di sini cukup keren. Padahal Shinjitsu, tapi gak Shinjiru lol)

“Jelaskan dengan cara yang bisa aku pahami juga, Yagami.”

“Fuh. Capek juga loh jelasin terus, Ketua OSIS Nagumo. Kau akan bertemu dengan Ayanokōji-senpai di sini dengan Horikita-senpai melalui surat. Dan dia akan bicara denganku. Dia pasti juga berpikir kalau bertemu denganku sendirian itu berbahaya. Un, keputusan yang bijaksana.”

“Maaf mengganggu ketika kau sedang asyik sendiri, Yagami, tapi aku akan memberitahumu kenapa aku datang ke ruang OSIS.”

Ketua OSIS Nagumo mengeluarkan ponselnya dan menghadapkan layarnya ke arah kami.

Nomor telepon ditampilkan karena ada panggilan masuk dari seseorang.

“Sepertinya sudah sampai. Masuklah.”

Katanya ke orang yang ada di ujung telepon.

“Ahaha! Tuh kan Ayanokōji-senpai akan datang! Aku sangat senang!”

Tertawa lepas, Yagami-kun merentangkan tangannya untuk menyambut pintu yang perlahan-lahan terbuka.

“Aku masuk.”

(Tln: sebenarnya disini ‘permisi’ tapi secara tidak sopan alias ‘misi’)

Bersamaan dengan kata-kata itu, seseorang yang sama sekali tidak terduga masuk.

Yang pertama bereaksi bukanlah aku, Ketua OSIS Nagumo atau Yagami-kun, tapi Ibuki-san.

“Ha? Ryūen? Kenapa kamu di sini?”

Yang muncul bukan hanya Ryūen-kun. Dua teman sekelasnya juga ikut menemaninya.

“Oh, kau terlihat cukup cocok dengan pakaian itu, Ibuki. Iya kan, Kinoshita?”

“Iya nih. Kelihatan imut mungil.”

“Ha? Eh, Komiya? Dan bahkan Kinoshita...!?”

Lalu akhirnya, Sakagami-sensei dan Mashima-sensei juga muncul menyusul di ruang OSIS.

“...Apa-apaan. Ini?”

Yang paling terkejut adalah Yagami-kun yang bicara tentang hal-hal yang tidak aku mengerti.

“Aku datang ke ruang OSIS untuk berbicara dengan Ryūen dan yang lainnya. Itu benar, ‘kan?”

“Ya, niatnya begitu, tapi apa kalian sedang sibuk?”

Yagami-kun yang melihat mereka juga berekspresi muram, mungkin karena dia tidak mengerti situasi saat ini.

Ketua OSIS Nagumo berdiri dan menekan dengan kasar surat itu ke dada Yagami-kun.

“Anagram yang disamarkan sebagai surat cinta lah, catatan rapat lah, itu semua tidak masuk akal, Yagami.”

“...Itu tidak mungkin. Tapi, apa maksudnya ini...”

Ryūen-kun mendekati Yagami-kun yang tidak bisa menyembunyikan kebingungannya. Kemudian dia mengacungkan jarinya dan berkata.

“Yang kalian bicarakan itu, ini orangnya kan?”

Ryūen mengatakan hal itu kepada Komiya-kun dan Kinoshita-san yang berdiri tegap di belakangnya untuk mengkonfirmasikan sesuatu.

Mereka berdua mengangguk kuat dengan ekspresi gugup.

“Ya. Itu tidak salah lagi.”

“Un. Tidak salah lagi.”

Mendengar itu, Ryūen-kun lebih mendekati Yagami-kun dengan senyum tipis di wajahnya yang seperti biasa. Jaraknya cukup dekat sedekat jangkauan tangan.

“Aku harus ngobrol panjang lebar denganmu nih kayaknya.”

“Apa itu?”

Ryūen-kun tertawa, mengulurkan tangan kanannya dan tiba-tiba mencengkeram pony Yagami-kun.

“Ryūen!”

Mashima-sensei membentaknya karena perilaku kekerasannya, tapi dia tidak menunjukkan sikap peduli.

“Kau, siapa sih namamu?”

“...Yagami, aku Yagami Takuya, Ryūen-senpai.”

Ekpresi Yagami-kun yang tambutnya ditarik ke atas, berubah sedih.

“Oh Yagami. Aku dengar kau adalah pelaku yang melukai Komiya dan Kinoshita.”

“Ha...? Aku bahkan tidak tahu apa artinya.”

“Jangan pura-pura tidak tahu. Komiya dan Kinoshita baru ingat beberapa hari yang lalu. Penyebab mereka terluka parah selama ujian di pulau tak berpenghuni itu semua karena tindak kekerasan yang kamu lakukan.”

Luka parah di pulau tak berpenghuni. Aku tahu mereka menderita luka serius sampai patah tulang, tapi seingatku itu adalah kecelakaan akibat kecerobohan....

“Mana mungkin, aku? Apa-apaan sih ini?”

“Mereka ini hilang ingatan karena syok akibat luka yang mereka derita jadi masalah ini pernah dianggap sebagai kecelakaan, tapi mereka baru ingat. Bahwa kau adalah pelakunya.”

Menanggapi pernyataan itu, Ketua OSIS Nagumo juga membenarkan.

“Baru kemarin kejadiannya. Rencananya kami akan berdiskusi hari ini, hanya aku, Ryūen, Komiya, dan Kinoshita... kenapa guru-guru ada di sini?”

“Aku memanggil mereka untuk menghemat waktu. Kudengar Sakagami bergegas ke tempat kejadian ketika keduanya terluka.”

“Soal Yagami-kun... seingatku Mashima-sensei.”

Sakagami-sensei meminta konfirmasi ke Mashima-sensei, seolah-olah dia mengingat sesuatu.

“Ya, aku tidak ingin mencurigai murid-muridku, tapi... aku tidak bisa mengesampingkan kemungkinan.”

“A-Apa yang Anda bicarakan? Saya tidak melakukan apa-apa!”

Tidak heran dia panik. Bahkan aku pun belum bisa memahami hal ini.

“Yagami. Aku tahu kalau GPS dijam tanganmu tidak berfungsi ketika peringatan dari keduanya berbunyi pada hari itu. Ada beberapa siswa yang jam tangannya rusak selama ujian khusus, tapi hanya 2, termasuk kamu, yang dapat menghampiri Komiya dan yang lainnya dari titik di mana mereka terakhir kali menghilang. Tentu saja, pada saat itu, Komiya, Kinoshita, dan Shinohara hanya bisa mengatakan bahwa ada seseorang yang telah melukai mereka, tapi tak bisa menyebutkan namanya. Karena itu kami tidak punya pilihan selain menganggapnya sebagai kecelakaan———”

“Hilang ingatan tapi pada saat yang sama mereka mengingatnya dan menyebut namaku? Mana bisa diterima! Sudah pasti mereka berdua telah bersekongkol untuk menyebut namaku!”

“Bersekongkol? Kerusakan jam tanganmu adalah fakta yang tidak diketahui oleh siswa pada umumnya.”

Lebih dari 400 orang mengikuti ujian di pulau tak berpenghuni. Dua di antaranya mengenakan jam tangan dengan GPS yang rusak ketika mereka terluka. Memang kemungkinannya terlalu rendah untuk menyebutnya sebagai kebetulan.

“Mereka ingat melihat pelakunya. Apa alasanmu untuk meragukan itu, Yagami? Katakanlah.”

Dengan kekuatan yang lebih besar di ujung jarinya, Ryūen-kun menarik rambut Yagami-kun.

“Guh...! I-Itu...”

“Tidak mungkin ada yang melihatku, aku yakin telah melakukannya dengan sempurna. Itulah yang pasti ada  dipikiranmu, bukan?”

“Tu-Tunggu sebentar. Aku tidak melakukan apa-apa. Apa menurutmu aku mampu melakukan hal yang begitu berbahaya itu?”

Yagami-kun bukanlah pria bertubuh besar.

Bagi orang awam, hal ini akan tampak aneh.

Akan tetapi, Ryūen-kun sama sekali tidak ingin mempercayai kata-kata Yagami-kun.

“Kami telah belajar dari masa lalu kalau orang yang terlihat tidak berbahaya adalah yang paling merepotkan. Benar kan, Ibuki?”

“Aku yakin sekali orang ini kuat. Setidaknya dia bisa melukai Komiya dan Kinoshita tanpa mereka sadari.”

“Biasanya, aku akan membuatmu merasakan luka yang sama atau lebih besar untuk membalas dendam, tapi sayangnya kita di depan Senkō. Jadi aku akan melepaskanmu. Karena apa yang menantimu tidak lebih dari pengusiran.”

(Tln: senkō penyebutan guru oleh berandalan)

Jika pemeriksaaan fakta terbukti bahwa Yagami-kun adalah yang menyebabkan luka parah pada Komiya-kun dan Kinoshita-san, itu lebih dari sekedar skorsing. Tanpa alasan yang meringankan, pengusiran dari sekolah tidak bisa dihindari.

Saat Ryūen-kun melepaskan tangannya dari rambut yang dipegangnya, Yagami-kun menundukkan wajahnya.

“Terus? Kenapa kau ada di sini, Suzune?”

“Aku... aku juga sedang menyelidiki sesuatu tentang Yagami-kun.”

“Hoh? Apa itu?”

Karena sudah sampai sejauh ini, aku tidak punya pilihan selain menceritakan semuanya.

Apa yang terjadi di pulau tak berpenghuni, tentang aku yang sedang mencari siswa dengan tulisan tangan yang indah. Bahwa aku datang ke sini untuk mengecek catatan rapat karena tulisan tangan itu mirip dengan tulisan tangan Yagami-kun.

Aku mengeluarkan catatan rapat dan membukanya ke halaman yang ditunjukan oleh Yagami-kun.

“Tulisan itu dan tulisan tangan Yagami-kun hampir sama. Ini juga pas dengan ingatannya.”

“Coba kau jelaskan apa artinya ini, Yagami?”

Ketua OSIS Nagumo bertanya demikian karena dia juga tidak benar-benar memahami semua persoalan ini.

Satu-satunya hal yang pasti adalah sesuatu yang misterius sedang terjadi di tempat ini. Semuanya adalah orang-orang yang terlibat dengan Yagami-kun, tapi kami tidak memiliki inti yang pasti.

Tidak ada yang bisa di jadikan sebagai tokoh kunci yang paling penting.

Mungkinkah hal seperti itu———dapat terjadi?

Seandanya semuanya berawal dari sepucuk surat cinta itu....

Lalu aku mempercayakannya pada Yagami-kun dan dia melihat apa yang ada di dalamnya, itu semua sudah diperhitungkan?

Dia mengurai anagram itu dan terpikat ke sini....

Tapi harusnya dia tidak tahu kalau aku telah melihat catatan rapat Yagami-kun dan mempertanyakannya.

———Tidak, kurasa itu tidak ada hubungannya.

(Tln: Artinya fakta Horikita mempertanyakan Yagami itu tidak penting)

Aku adalah orang luar. Ibuki-san juga adalah orang luar sama sepertiku.

Bahkan jika Ibuki-san dan aku tidak berada di sini, rangkaian kejadian ini tidak akan berhenti. Yagami-kun yang diundang oleh surat itu dan datang ke ruang OSIS, akan diinterogasi oleh Ketua OSIS Nagumo.

Tetapi apakah itu mungkin?

Andaikan pun mungkin, siapa yang lakukan?

Kapan dan di mana?

Tidak, pertanyaan seperti itu sendiri mungkin salah.

Sekalipun Ayanokōji-kun berada di balik peristiwa ini.... aku sama sekali tidak terkejut.

Kemunculan Ryūen-kun, Komiya-kun, Kinoshita-san, dan para guru yang tidak wajar di tempat ini.

Artinya ini adalah tempat untuk mengepung Yagami-kun, yang terus mengelak, dari segala arah.

“Kuku, aku juga terkejut, tapi yah rasakan sendiri akibatnya. Kau sudah terlalu lama bermain api.”

Ryūen-kun mulai tertawa, mungkin dia merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan.

“Kenapa———kenapa? Hal sekonyol ini...”

“Aku tidak tahu apa latar belakangnya, tapi kau sudah terjebak.”

“Aku, aku bahkan belum bertarung dengannya... tidak, ini bahkan belum apa-apa? Di sinikah, itu akan berakhir? Mana bisa berakhir, yang benar saja...!”

Yagami-kun gemetar di sekujur tubuhnya, berteriak dengan suara yang belum pernah kudengar selama ini.

“Jadi tidak perlu menghadapiku secara langsung... ya? Hah, haha... ha... ha...! Jangan main-main, jangan main-main denganku!”

“Berisiklah. Jangan teriak di dekatku.”

Menusukkan jari kelingkingnya di telinga kanannya, Ryūen-kun bergumam kesal.

Kehebohan Yagami-kun tidak mereda, mungkin dia tidak mendengar gumamam itu.

“Okelah. Mulai sekarang, mulai sekarang aku, aku akan menghabisinya dengan tanganku sendiri! Dengan begitu, aku pasti bisa kembali ke tempatku seharusnya berada! Aku akan menyeretmu bersamaku!!”

Ada 2 orang guru di sini, seolah-olah itu sama sekali tidak penting.

Dia jelas menunjukkan perubahan total dan menjadi haus darah. Saat ia hendak mengambil langkah kuat ke arah Ryūen-kun, Ibuki-san melancarkan dropkick satu kaki dari belakang ke arah Yagami-kun.

Tanpa melihat ke belakang, Yagami-kun menangani serangan itu dan langsung menghantamkan sikunya ke perut Ibuki-san.

“Kuh———!”

Hanya satu serangan. Namun Ibuki-san terkapar di tempat dan tidak bisa bangun.

(Tln: Serakang aku ngerti maksud dari ending season 2 nya. Wkwkw)

“Hentikan, Yagami!”

Saat para guru mulai bergegas untuk menghentikan Yagami-kun, Ryūen-kun menghentikan mereka.

“Jangan mendekat. Orang ini serius. Makanya, aku harus menanggapinya, bukan?”

Tanpa mempedulikan fakta bahwa ini adalah ruang OSIS, Ryūen-kun mengepalkan tinjunya.

“Tidak mungkin kau bisa menghentikanku. Dengar? Siapa pun yang menghalangiku mulai sekarang, aku tak akan menunjukkan belas kasihan. Mau itu perempuan atau guru. Kalau tidak ingin terluka seperti Komiya dan Kinoshita, maka diam dan menyingkirlah.”

“Kuku. Jadi itu sifat aslimu. Menarik juga nih.”

Tanpa ragu-ragu, Ryūen-kun melangkah maju dan perlahan merentangkan tangannya untuk memprovokasi.

“Aku dengan senang hati akan menghalangimu, jadi sini majulah.”

“Hanya preman ingusan...”

Aura yang terpancar dari tubuh mungilnya bukanlah [siswa normal] seperti Ayanokōji-kun atau Amasawa-san. Ryūen-kun benar-benar serius, tapi aku tidak berpikir dia bisa menghentikannya.

Tetapi di sini kami harus melakukan sesuatu untuk menghentikanya.

Dia didorong oleh keinginan untuk menghancurkan segalanya, tanpa mempedulikan keberadaan para guru.

Jika kami membiarkannya pergi, sama sekali tidak ada jaminan bahwa amukannya akan bisa dihentikan.

Dan tujuannya adalah———Ayanokōji-kun.

Jika hal seperti ini terjadi selama festival budaya, itu tidak akan berakhir hanya dengan peringatan.

“Hentikan, Yagami. Dan kau juga Ryūen. Jika kalian memulai perkelahian di sini, kalian akan dihukum berat.”

“Dikeluarkannya aku 100% tak terelakkan. Maka tak ada alasan bagiku untuk berhenti, bukan? Mashima.”

Bahkan tanpa memanggilnya Sensei, Yagami-kun meludahkannya.

Namun demikian, sebagai seorang guru, Mashima-sensei menyela di antara Yagami-kun dan Ryūen-kun.

“Enyahlah.”

Terlepas dari perbedaan besar dalam fisik mereka, ia menendang Mashima-sensei, dan saat lututnya patah, ia menghantamkan tinjunya ke wajahnya.

(Tln: Patah disana kurasa bukan patah beneran, melainkan seperti tertekuk dibagian sendi dan hampir jatuh)

Sakagami-sensei menyaksikan itu dari dekat dan mengambil jarak karena takut. Tepat ketika Ryūen-kun, yang sedang bersemangat pada awal dari pertarungan, akan menyerang Yagami-kun———.

“Sudah hentikan, Takuya.”

Pintu ruang OSIS terbuka, Amasawa-san muncul dengan mata merah dan bengkak.

“Ha? Kenapa kau ada di sini... sejak kapan...”

Yagami-kun berhenti bergerak dalam situasi di mana tidak ada kata-kata seseorang yang mungkin bisa mencapainya.

“Sekalipun kamu mengamuk terus, emangnya kamu akan dapat apa? Apa menurutmu itu akan membuatmu diakui? Apa menurutmu kau akan diterima? Ini... sudah berakhir.”

“Itu tidak benar! Para guru sedang menungguku! Aku, aku akan menjadi yang terbaik!”

Guru, siapa yang sedang dia bicarakan?

Setidaknya aku bisa menebak bahwa mereka bukan guru di sekolah ini.

“Aku hanya ingin mengungkap masa lalunya hari ini dan mengakhiri festival budaya dengan menarik, tapi dia melakukan sesuatu yang tidak masuk akal...”

“Takuya, sudah kuduga kau akan melakukan itu...”

“Minggir. Akan kubuat Ayanokōji menyesalinya. Akan kubuat ini jadi menarik sampai sulit dipercaya...!”

“Jika kamu nekat ingin menemui Ayanokōji-senpai, maka sebelum itu aku akan menghentikanmu.”

“Kau? Kau saja sekali pun tidak pernah mengalahkanku. Jangan membuatku tertawa.”

“Mungkin aku tidak bisa menang dengan kekuatan. Tapi... aku akan mencobanya.”

“Aku tahu kau mengagumi Ayanokōji, tapi aku tidak menyangka kalau kau sebodoh itu.”

“Aku hanya telah menyadari. Seekor katak di dalam sumur tidak tahu apa-apa tentang lautan. Persis seperti pepatan itu.”

(Tln: maknanya seseorang yang berpandangan sempit)

“Kalau begitu mati saja. Karena tidak ada gunanya kamu hidup.”

Ketika Amasawa-san sudah bersiap, terdengar beberapa langkah kaki datang dari sisi lain koridor.

5 orang dewasa tanpa ekspresi melangkah masuk ke ruang OSIS. Aku tidak mengenali mereka semua, tapi 2 dari 5 orang itu adalah tamu yang juga muncul di maid café.

Yagami-kun yang tidak tekendali sebelumnya, tiba-tiba mulai gemetar.

“Ke-Kenapa kalian ada di sini...? Ke-Kenapa...?”

“Aku menerima telepon untuk menjemput di ruang OSIS. Tapi ini sedikit berbeda dari yang direncanakan.”

Yagami-kun yang tadinya haus darah, kini terkulai lemas seperti seorang anak kecil.

Kelihatannya seperti dia hanya takut akan ketahuan dan disalahkan oleh orang tuanya.

Dikelilingi oleh orang dewasa, Yagami dibawa tanpa perlawanan.

Amasawa-san juga ikut berjalan mendampinginya.

“Anda semua siapa...”

Mashima-sensei berdiri kesakitan dan menanyakan hal itu.

“Penanggung jawab Yagami dan Amasawa. Kami akan tangani masalah ini, jadi silahkan Anda obati diri Anda. Selain itu, tolong jangan beritahu orang lain soal apa yang terjadi di sini, baik Anda para guru maupun siswa. Semuanya akan diteruskan ke Ketua Sakayanagi, jadi jangan khawatir.”

“...Saya mengerti.”

Dengan bantuan Sakagami-sensei, Mashima-sensei meninggalkan ruang OSIS. Ruangan yang tadinya gaduh, tiba-tiba diselimuti oleh keheningan.

“Gak asyik lah. Padahal baru mulai akan menarik. Bangunlah Ibuki, kita balik.”

“Aw... bantu aku berdiri kek.”

Karena Ibuki-san masih belum bisa berdiri, Ryūen-kun memerintahkan Komiya-kun dengan dagunya, dia membantunya berdiri dan meninggalkan ruangan.

Hanya ada dan Ketua OSIS Nagumo yang tersisa di ruang OSIS.

“Kurasa itu saja. Banyak hal yang tidak beres, tapi paling tidak itu semuanya berakhir.”

“Sejauh mana yang kamu ketahui soal peristiwa hari ini? Ayanokōji-kun terlibat, bukan?”

“Soal apa? Seperti yang kukatakan tadi, aku hanya datang kesini dengan tujuan untuk bicara dengan Ryūen, loh.”

“Kalau benar begitu, kamu seharusnya tidak perlu membawa surat itu.”

Surat cinta itu tetap terbaring kusut di lantai dalam kehampaan.

“Aku akan meminjam kata-kata Yagami, ini adalah kebetulan. Kebetulan saja itu masih ada di sakuku.”

Kebohongan yang jelas. Pemberitahuan bahwa, tak ada lagi yang bisa kukatakan, dari Ketua OSIS.

“Festival budaya yang gaduh sudah berakhir. Kamu juga kembalilah.”

“...Baik.”

Sebentar lagi jam 4 sore. Festival budaya dengan kejadian tidak terduga akan berakhir.

Related Posts

Related Posts

12 comments