-->

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 7 Epilog Intro Indonesia

Epilog
Mereka Yang Bergerak Di Balik Layar


Akhirnya jam 4 sore pun tiba, festival budaya yang sibuk akhirnya berakhir. Seperti dijelaskan sebelumnya, aplikasi pencatatan transaksi dimatikan secara paksa dan penjualan setelah itu tidak dapat dicatat lagi.

Hasilnya bisa dicek melalui ponsel mulai jam 6 sore, yaitu 2 jam kemudian.

Biarpun sudah usai, masih tetap diperlukan respons yang normal sampai benar-benar berakhir.

Para pelanggan yang masih tinggal sampai akhir juga mulai meninggalkan tempat duduk mereka karena kedai akan ditutup.

Para tamu undangan memberikan pendapat mereka tentang maid café kepada para siswa.

Semua komentar mereka positif seperti, itu menarik atau menyenangkan. Bagi para siswa yang telah bekerja keras, kata-kata hangat itu akan meresap jauh ke dalam hati mereka dan menghilangkan rasa lelah mereka.

Ngomong-ngomong, begitu waktu menunjukkan jam 4, Chabashira-sensei langsung kabur dari ruang kelas secepat mungkin.

Menurutku dia akan terlihat mencolok jika berlarian dengan pakaian itu, tapi yah biarin saja deh.

Sekitar pukul 05.30 ketika semua pelanggan pergi dan semua anggota kelas (kecuali Kōenji) berkumpul di maid café.

“Kerja bagus teman-teman. Banyak hal yang terjadi, tapi setidaknya kami bisa mengakhiri festival budaya ini dengan baik. Kurasa tidak ada penjualan yang lebih baik dari ini.”

Ike dkk yang baru saja selesai membersihkan stan-stan di luar ruangan juga ikut berkumpul di dalam kelas.

Di maid café juga masih ada beberapa tempat yang perlu dibereskan, karena para tamu yang sedang makan pulang agak terlambat, tapi Horikita sepertinya ingin meringkas festival budaya.

“Tidak lama lagi hasilnya akan diumumkan, tapi ada sesuatu yang perlu aku sampaikan pada kalian sebelum itu.”

Ya, ada 37 orang di kelas. Akito dan Haruka juga masih tinggal di sana.

Meskipun tidak diminta oleh Horikita, Haruka yang menjadi tokoh utama melangkah maju ke depan.

“Aku ingin memberitahumu lebih dulu. Aku belum memaafkan semua orang yang ada di sini.”

Di ruang kelas yang sunyi, Haruka menggumamkan kata-kata pembuka. Beberapa siswa yang mengira dia akan mulai dengan permintaan maaf saling memandang satu sama lain dengan perasaan lebih ke bingung daripada marah.

Dia tidah hanya ingin menyalahkan mereka. Semua orang mengerti itu.

Mereka telah tumbuh dewasa untuk bisa merasakan sakitnya kehilangan seorang teman, kehilangan seorang sahabat.

“Tapi yang paling tidak bida dimaafkan adalah diriku sendiri. Aku beranggapan bahwa setiap orang yang dikeluarkan dari sekolah itu menderita. Yamauchi-kun yang menghilang tahun lalu, dan Airi.”

Ketika nama Yamauchi disebut, Sudō, Ike dan yang lainnya terlihat mengingat masa lalu.

“Aku berasumsi kalau yang terbaik untuk Airi adalah tinggal di sekolah ini. Aku menyimpulkan sendiri bahwa itu adalah yang paling membahagiakan untuknya. Jadi aku membenci kalian semua... aku berniat untuk balas dendam.”

Haruka meremas rok seragam sekolahnya karena frustrasi.

“Seusai festival budaya ini, aku berniat untuk keluar dari sekolah.”

Itu adalah fakta yang tidak perlu disampaikan, tapi Haruka benci menyembunyikannya dan mengakuinya.

Beberapa siswa mungkin telah memperkirakan hal ini, namun sebagian besar mulut siswa mengencang.

“Aku juga berniat untuk ikut keluar dari sekolah dengan Haruka.”

Di sini, Akito juga mengatakan yang sebenarnya menemani Haruka, karena ia tidak bisa hanya diam saja.

“Jika kalian berdua memilih untuk dikeluarkan, kelas kita tidak akan pernah mencapai level A. Itu adalah cara termudah dan paling ampuh untuk membalas dendam.”

Tidak perlu trik kecil. Kami bisa kehilangan sejumlah besar poin kelas hanya dengan dikeluarkan mereka.

“Tapi jika aku masih kalian beri kesempatan, tolong biarkan aku tetap tinggal di kelas ini.”

“Kamu telah berubah pikiran, ya?”

“Gadis itu sedang mencoba melebarkan sayapnya di dunia luar. Aku tahu itu dari Kushdia-san.”

Di sini nama Kushida disebutkan dan semua mata tertuju padanya.

Kebanyakan tidak mengerti situasinya, jadi Kushida membuka mulutnya untuk menambahkan.

“Sakura-san tampaknya sedang bekerja keras untuk menjadi idol. Kamu bisa mencarinya di media sosial, jadi kamu tanyakan saja ke Hasebe-san nanti.”

Ada siswa yang terkejut, ada siswa yang berpikir ternyata begitu.

Tapi persepsi yang muncul secara umum adalah fakta bahwa Airi telah mengambil langkah baru ke depan.

“Airi akan berkembang pesat. Aku yakin lebih dari yang kukira. Itulah kenapa aku ingin lulus sebagai Kelas A dan pergi menemuinya. Aku ingin bisa menunjukkan diriku tanpa rasa malu.”

Teman-teman sekelas jadi tahu bahwa inilah alasan kenapa dia memilih untuk tinggal di sekolah ini.

“Kau membuat keputusan yang bagus, Hasebe-san.”

“Aku akan menerima hukuman atas masalah yang ku sebabkan.”

“Aku juga sama bersalahnya. Aku tidak membantu festival budaya dan menyebabkan masalah bagi kelas.”

Horikita melangkah maju sebelum para siswa lain dapat mengatakan hal yang tidak penting.

“Membolos di festival budaya adalah perilaku yang bermasalah, tapi untungnya tidak melanggar aturan. Kita hanya diwajibkan untuk beristirahat setidaknya 1 jam, tapi kita tidak diharuskan bekerja. Kōenji-kun juga belum pernah terlihat sekali pun sejak pagi ini, jadi sama saja.”

Horikita mendekati Haruka dengan ekspresi kagum dan lega.

“Kalaupun ada hukuman untukmu, itu hanya untuk tetap menjadi teman sekelas denganku di masa depan. Bisakah kamu menghadapi kenyataan itu?”

Aku ingin tahu apa yang dipikirkan Haruka tentang Horikita di matanya.

“Aku akan memberikan yang terbaik.”

“Begitu. Mulai sekarang, aku bisa menganggapmu sebagai Hasebe-san yang biasa, oke?”

“....Ya. Aku tidak akan berulah.”

Itu sudah cukup, Horikita memberikan anggukan dan menyatakan

“Miyake-kun juga sama seperti biasanya. Oke?”

“Tentu saja.”

“Maka itu saja untuk hari ini. Ayo kita selesaikan sisa-sisa perapihan dengan cepat.”

Keisei berjalan ke arah Haruka dan Akito agak ragu-ragu.

Diawali dengan permintaan maaf Akito, Keisei yang mata sedikit merah mengungkapkan kelegaannya.

Setelah permintaan maaf dari Haruka, ketiganya bisa sedikit tersenyum satu sama lain untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Akhirnya, Akito dan Keisei mengalihkan pandangan mereka ke arahku seolah-olah mereka telah mengambil keputusan.

Keduanya itu juga memberi isyarat ke Haruka, dan mata mereka bertiga dengan bingung terfokus padaku.

Jika aku melangkah maju di sini dan sekarang, mungkin grup yang hanya dalam nama saja akan dibuka kembali.

Tapi itu sudah tak diperlukan lagi. Aku membalikkan punggungku dan pergi untuk mengucapan terima kasih ke Satō dan teman-temannya atas jerih payah mereka.

Kelompok yang dulunya berlima, sekarang menjadi tiga orang, tapi aku berharap ikatannya akan lebih kuat daripada sebelumnya. Tempat itu tidak membutuhkanku.

Mereka bertiga bukanlah tipe orang yang tidak bisa merasakan perilaku yang menandakan perpisahan.

Mereka tidak mendekati atau memanggilku.

Setelah itu, semuanya berjalan cepat. Pemberesan yang tersisa bisa dengan cepat diselesaikan dengan 37 orang.

Semua pemberesan selesai sebelum jam 6 sore.

Dan hasil festival budaya diumumkan.


1) Kelas B tahun kedua | +100 poin kelas

2) Kelas C tahun kedua | +100 poin kelas

3) Kelas B tahun ketiga | +100 poin kelas

4) Kelas A tahun kedua | +100 poin kelas

5) Kelas A tahun pertama | +50 poin kelas

6) Kelas C tahun ketiga | +50 poin kelas

7) Kelas D tahun kedua | +50 poin kelas

8) Kelas C tahun pertama | +50 poin kelas

9) Kelas D tahun ketiga

10) Kelas B tahun pertama

11) Kelas A tahun ketiga

12) Kelas D tahun pertama


“Kita peringkat pertama! Hore!”

“Cosplay Chabashira-sensei emang sangat ngefek deh kayaknyaa.”

Masing-masing bersukacita dan saling memuji satu sama lain atas kerja keras mereka.

“Tapi Ryūen juga ada di peringkat kedua, dan kelas Sakayanagi ada di peringkat keempat, mereka memang hebat.”

“Ayanokōji-kun.”

“Ya, semuanya berjalan sesuai rencana.”

Kelas Horikita menempati peringkat teratas itu sudah jadi keharusan, tapi sejak awal diasumsikan kalau kelas Ryūen juga akan berada di peringkat teratas.

“Aku khawatir dengan hasil dari berbagi nasip yang sama... tapi ternyata kita berhasil mengalahkan mereka, ya.”

“Tapi ada juga kejadian yang tidak terduga. Sakayanagi ada di peringkat keempat.”

“Kau benar.... Apa kamu sudah melihat kreasi mereka?”

“Tidak, aku tidak mengunjungi lantai tiga gedung khusus hari ini. Apa kau melihatnya?”

“Kelas A menjual brosur dan informasi lain tentang sekolah dengan harga murah. Selain itu, mereka tidak memiliki tempat makan atau kreasi lainnya. Aku ingin tahu trik seperti apa yang mereka gunakan...”

“Petunjuknya mungkin ada di peringkat terbawah.”

“Kelas D tahun pertama, kelasnya Hōsen-kun, ‘kan...? Ada apa dengan itu?”

“Jika ini adalah peringkat terbawah hasil dari kerja keras mereka, maka okelah. Tapi, itu tidak masuk akal. Kreasi di kelas itu sebagian besar merupakan reka ulang festival, tapi itu cukup sukses. Kupikir mereka adalah salah satu kelas peringkat teratas. Apakah menurutmu mereka akan lebih rendah dari Kelas A tahun ketiga?”

“Kelas A tiga tahun di peringkat ke-11 telah keluar dari kompetisi sejak awal. Mereka hanya tertarik untuk menghibur untuk menyenangkan para tamu undangan.”

Telah dipastikan kalau rumah hantu bisa dimainkan dengan 100 poin.

Sementara itu, stan-stan yang didirikan oleh Hōsen, seperti stan pemotretan, diberi harga yang wajar.

“Di festival budaya ini, kelas teratas mendapat 100 poin. Itu berarti di balik layar, Hōsen mungkin saja mendapatkan sesuatu yang lain.”

“Yang bisa dibayangkan, itu poin pribadi... ya?”

“Bukankah ini mengingatkan kita pada ujian di pulau tak berpenghuni tahun lalu?”

Ada kesepakatan antara Ryuen dan Katsuragi untuk menerima poin pribadi sebagai pengganti poin kelas.

Tidak mengejutkan jika sesuatu yang serupa terjadi antara Sakayanagi dan Hōsen.

“Itu bukan tidak mungkin. Atau mungkin mereka mengikat perjanjian serupa untuk menggantikan itu.”

Pencatatan transaksi dilakukan melalui ponsel. Jika Hōsen dan yang lainnya menerima ponsel dari Kelas  A tahun kedua untuk bertransaksi dan menyumbangkan semua penjualan, itu akan menjadi strategi yang layak. Jika mereka juga menyediakan dana festival budaya di kelas Hōsen, maka akan masuk akal jika ukuran kreasi cukup besar untuk menjadikannya seperti festival.

“Dia wanita yang tangguh.”

“Tanpa kita sadari, ia sudah mengambil pilihan agar bisa menang ya soalnya.”

Apa pun itu, artinya Sakayanagi tidak akan mudah untuk ditaklukan.

Terlihat seolah dia telah membuang kemenangan, tapi benar saja, dia membuahkan hasil dengan pasti.

Related Posts

Related Posts

3 comments

  1. Masih belum muncul yg Horikita tidur kelelahan sama Sakurako Tsubaki.

    ReplyDelete
  2. kenapa 37 orang?? bukannya matsushita chiaki masih di asrama yah sakit, harusnya 36 tanpa yamauchi, sakura, koenji sama matsushita chiaki yg sedang sakit

    ReplyDelete
  3. kiyo berpikir mereka bertiga tidak bisa berperasaan dgn adanya perpisahan.. akankah kiyo berencana melakukan perpisahan???
    disini semakin kuat kalo kiyo bakalan didroput atau pindah kelas

    ReplyDelete