-->

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 7 Epilog Part 1 Indonesia

Epilog
Mereka Yang Bergerak Di Balik Layar


1


Setelah itu anak-anak dibubarkan, tapi Horikita memanggil beberapa anggota ke ruang kelas B. Kecuali Matsushita yang tidak hadir karena sakit, mereka adalah ketiga orang pencetus maid café.

“Sebenarnya———aku berutang maaf pada kalian.”

“Eh? Berhutang maaf? Emang buat apa?”

Meskipun ini adalah hari yang berat, namun tidak ada momen khusus di mana Horikita menunjukkan kesalahan.

Satō dan 2 orang lainnya memiringkan kepalanya bertanya-tanya, karena mereka tidak tahu apa yang dia maksud.

“Soal Ryūen-kun yang membocorkan maid café dan itu menyebar ke seluruh sekolah, kalian ingat, ‘kan?”

“Ya. Itu bikin panik banget yaa.”

“Sebenarnya... sudah diputuskan sejak awal bahwa dia akan membocorkan maid café.”

Semua ini bermula dari usulanku bahwa kami harus bahu-membahu dalam beberapa cara untuk saling kerja sama dan merebut peringkat teratas di festival budaya.

“Sudah diputuskan akan dibocorkan? Apa maksudnya?”

“Semuanya adalah bagian dari rencana. Aku dan Ryūen-kun bekerjasama dan dia akan mengkhianati kita. Dan juga untuk membuat kreasi maid café diketahui.”

“Eeeh!? Yang bener!?”

Tentu saja mereka akan terkejut. Karena hanya aku dan Horikita di kelas yang mengetahui fakta ini.

“Jadi taruhan di mana pemenangnya menerima poin pribadi juga sudah diatur?”

“Itu keputusan Ryūen-kun sendiri. Aku agak gelisah waktu dia tiba-tiba mulai membicarakannya.”

“Akibatnya, Hashimoto dkk yang sedang menyelidiki pasti akan membenarkan taruhan itu.”

“Ya. Sakayanagi-san mendengar dan mengetahui banyak informasi dari pihak ketiga. Persoalan ini juga pasti sudah ia dengar dari para agen seperti Hashimoto-kun. Informasinya seperti, kedua kelas yang seharusnya saling bekerjasama terlibat perselisihan, dan Ryūen-kun secara sepihak mengkhianati mereka.”

“Lalu bagaimana dengan 1 juta poin yang akan kita dapatkan jika menempati peringkat pertama?”

“Sayang sekali, sebenarnya sudah ditegaskan pula bahwa tidak akan ada poin yang diserahkan, tidak peduli pihak mana yang menang. Dia sendiri tampaknya serius, tapi mungkin nyali dia sekarang sudah menciut kali.”

Kecuali aku dan Horikita, fakta itu dirahasiakan dari seluruh anggota kelas, termasuk Kei.

Dan di kelas Ryūen pun, tak ada seorang pun yang diberitahu tentang hal itu, kecuali Ryūen dan Katsuragi.

Tidak terkecuali para pengikutnya, seperti Ishizaki dan Albert.

Itulah sebabnya kami hanya bisa menganggapnya sebagai bukti bahwa Ryūen serius ingin menghancurkan mereka.

“Kafe berkonsep kimono yang diluncurkan sebagai pesaing juga salah satu rencana kami. Selain menjadi bukti bahwa kami bersaing, itu juga untuk menjaga agar saingan lainnya tidak masuk.”

Persaingan. Semakin tinggi keseruannya, semakin besar tanggung jawab yang ditanggung orang dewasa dan semakin banyak uang yang akan mereka keluarkan.

Jika mereka tahu kalau ada pertarungan yang wajib kami menangkan, sudah sewajarnya jika mereka ingin pihak yang mereka dukung untuk menang. Di sisi lain, kelas dan tahun ajaran lain tidak bertarung antara hidup dan mati.

Tentu saja, banyak kelas yang menginginkan poin kelas, tapi dibandingkan dengan pertarungan Horikita vs Ryūen, panasnya pertarungan itu satu atau dua tingkat lebih rendah.

“Aku sungguh minta maaf. Meski demi kemenangan, aku sampai merahasiakannya dari kalian.”

Karena Horikita yang selalu merasa bersalah ingin memberitahukan fakta ini sesegera mungkin.

Aku yakin mereka bertiga bisa menyadari bahwa dia benar-benar menyesal.

“Gak papa sih. Toh hasilnya kita berada di peringkat pertama, ya kan?”

Tanpa menyalahkan, Satō dengan senang meminta persetujuan ke Mī-chan dan Maezono.

“Yak tul. Asalkan berjalan dengan lancar, kayaknya tidak terlalu berasa deh.”

“Ya. Dan jika aku diberitahu dengan cara yang aneh, itu mungkin akan terlihat di wajahku...”

Mī-chan menjawab dengan jujur bahwa dia tidak cukup percaya diri dalam berakting.

“Kamu lega kan, Horikita.”

“Ya, aku merasa terbebas dari beban. Kalian harus memberi tahu Matsushita-san juga tentang hal ini. Dan aku akan membayar semua tokoh kunci segera setelah poin pribadi ditransfer.”

“Asyik.”

Masing-masing dari ketiganya bertukar tos.

“Apakah maid Chabashira-sensei juga telah dibahas sejak awal? Itu mungkin yang paling mengejutkan.”

“Itu gila banget sih. Habis bisa memuncaki permintaan foto dalam 1 jam.”

“Aku tahu kalian mau mengobrol panjang lebar, tapi kita cukupkan untuk hari ini. Terima kasih banyak.”

Kelas menemukan strategi dari sebuah saran maid café dan mampu memenangkan peringkat pertama.

Syukurnya karena faktor-faktor lain yang tidak dapat diperhitungkan juga berperan positif.

Ketiganya diminta pulang, hanya aku dan Horikita yang tersisa di kelas.

Semilir angin yang bertiup agak kencang masuk melalui jendela yang terbuka dan menggoyangkan gorden.

“Apa kamu benar-benar yakin dengan ini? Sebagian besar perencanaan adalah idemu sendiri. Kamu bisa mengklaim lebih banyak pujian, tahu? Mementaskan konfrontasi dan menjadikan Chabashira-sensei sebagai maid. Padahal yang paling berkontribusi di sini tidak lain dan tidak bukan adalah kemampuanmu.”

“Ini hanya mungkin terwujud karena kedudukanmu sebagai seorang pemimpin, Horikita.”

“...Seandainya itu kamu yang dulu, kamu tidak akan menyertakanku dalam rencana ini, bukan?”

Di ruang kelas yang kosong, Horikita bergumam tanpa melihatku.

“Kurasa iya.”

“Jadi kamu tidak menyangkalnya.”

“Gimana lagi soal itu fakta. Kau juga tahu itu, itulah sebabnya kau bertanya, bukan?”

“Yah, mu-mungkin saja.”

Bukan berarti itu tidak bisa dijalankan hanya dengan aku, Ryūen dan Katsuragi.

Tapi aku tanpa ragu memberitahu Horikita di saat yang sama ketika aku membuat usulan ini.

Karena terlepas dari apakah dia bisa berperan atau tidak, ini bukan sesuatu yang bisa dibicarakan tanpa pemimpin.

Seandainya ditolak sepenuhnya, usulan ini bisa saja ditolak.

“Jika itu adalah cara yang efektif untuk menang, jangan ragu untuk membohongi temanmu. Bahkan jika itu penuh dengan bahaya, terobos saja bila perlu. Kamu mengerti?”

Semakin ia melakukan tindakan itu sendiri, semakin hal itu akan mendarah daging dalam tubuh Horikita.

“Mungkin sekarang aku bisa mengerti. Rasanya aku mulai melihatnya, meskipun sedikit demi sedikit.”

Mungkin belum begitu merasuk, tapi dia pasti mulai bisa merasakannya.

“Kurasa itu saja untuk hari ini. Matahari akan segera terbenam.”

“Tunggu. ...Ayanokōji-kun, ada sesuatu yang harus ku tanyakan padamu sekarang.”

Aku coba memintanya untuk pulang, tapi Horikita menolaknya. Aku punya firasat.

Hadirnya Horikita dan Ibuki di ruang OSIS bukanlah suatu kebetulan belaka.

Pasti karena ada benang merah yang menuntun mereka ke tempat itu.

“Apa itu?”

“Festival budaya hari ini. Insiden serius terjadi di belakang layar. ...Kamu———”

Entah ini keberuntungan atau kesialan, ponselku berdering.

“Maaf, tunggu sebentar.”

“Y-Ya.”

Melihat layar, panggilan itu berasal dari nomor yang tidak dikenal.

“Halo.”

[Masih di sekolah tidaak? Jika tidak keberatan, bisa kita bicara sebentar?]

Suara ini terdengar tidak asing. Ini adalah Tsubaki Sakurako dari Kelas C tahun pertama.

Nomorku bisa diperoleh melalui berbagai jalur, jadi aku tidak terlalu peduli, tapi dia adalah orang yang tidak biasa.

Tapi, aku tidak akan terkejut jika ia menghubungiku hari ini.

[Sekarang lagi sendirian?]

“Sayangnya tidak.”

[Kalau gitu mau ketemuan saja?]

“Di mana?”

[Aku baru keluar pintu depan. Kamu masih di dalam sekolah, ‘kan?]

“Beri aku waktu 5 menit.”

[Oke deeh]

(Tln: Tsubaki ini lebih gal dari Kei. Cara bicaranya nyolot, dipanjang-panjangin)

Setelah panggilan singkat, aku menampik Horikita.

“Maaf aku harus keluar sebentar. Kurasa aku akan kembali sekitar dalam 10 atau 20 menit lagi. Setelah itu kita bisa lanjutkan pembicaraan kita.”

“Oke. Aku akan menunggu di sini.”

Aku berjanji akan kembali ke sini dan meninggalkan ruang kelas.

Begitu aku sendirian, aku memutuskan untuk menelepon orang yang paling banyak membantuku hari ini.

“Jaringan informasi siswa tahun ketiga memang luar biasa ya. Karena baik itu pencarian Kushida Kikyō atau Hasebe Haruka, kamu bisa segera menemukan mereka. Aku sekali lagi sangat menyadari kekuatan Ketua OSIS Nagumo.”

[Apa kau meneleponku untuk mengatakan hal itu?]

“Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Kamu sangat membantuku dalam pencarianku hari ini.”

Jumlah mata dan kepemimpinannya terhadap para siswa tahun ketiga, yang bisa dengan cepat menemukan Haruka dan Kushida, sangat mengesankan.

[Aku tidak menyangka kau akan menggunakan trik yang aku lakukan padamu untuk dirimu sendiri]

“Kau bisa memberi tahuku apa yang terjadi di ruang OSIS itu sangat membantu. Berkat itu, aku dapat cepat merespons.”

[Awalnya kupikir itu mungkin kegilaan Yagami, tapi apakah benar-benar ada jebakan dalam surat itu?]

“Membacanya secara normal, tampaknya itu adalah surat cinta untuk Ketua OSIS Nagumo, tapi seperti yang Yagami tuduhkan, aku telah menanam anagram yang agak rumit di dalamnya. Jika dibaca dengan benar, kau bisa sampai pada kalimat [Akan ada pertemuan penting di ruang OSIS setelah jam 3 sore]. Aku juga sudah mencampurkan beberapa kata lain yang mungkin dia sukai. Jika dia memiliki ketertarikan yang kuat, tentu saja dia akan memenuhi undanganku.”

Surat cinta itu memiliki sedikit sentuhan selain anagram.

Amplop yang digunakan untuk memasukkan surat dan stiker untuk menutupnya, bisa dibeli oleh siapa saja dan kapan saja di Keyaki Mall. Seandainya ini adalah pesanan khusus yang dibeli online, Yagami mungkin ragu melihat isinya karena takut akan meninggalkan bukti.

Akan tetapi, kalau dia mengunjungi Keyaki Mall, dia akan menyadari bahwa dia dapat mengganti semuanya selain kertas surat untuk tulisan tangan.

Dengan demikian, dia akan memeriksa isinya tanpa ragu-ragu.

Terlebih lagi, dengan menulisnya secara langsung, aku bisa memberikan informasi kepada Yagami tentang tulisan tanganku. Karena murid-murid White Room juga diajari secara menyeluruh tentang kaligrafi, jadi mereka pasti bisa menulis dengan tulisan tangan yang bagus. Surat cinta yang disiapkan dengan cara ini diteruskan ke Horikita melalui gadis lain dengan melibatkan Kei. Lalu bimbing agar dia menyerahkannya melalui Yagami dan beri Yagami waktu untuk mengintip surat itu. Karena ada kemungkinan Horikita akan menyerahkannya langsung ke Nagumo, di diminta untuk bertindak dalam suasana hati yang buruk pada hari itu dan menciptakan situasi di mana dia tidak bisa menyerahkannya segera.

(Tln: Bentar. Bukannya ini akan membuat Kei dari sudut pandang Ichihashi seolah kek mendam rasa ke Nagumo. Apa mungkin hal ini akan dimanfaatkan lagi nanti)

[Tak kusangka dia adalah orang yang berbuat onar di pulau tak berpenghuni. Sejauh mana yang kau tahu?]

“Aku tidak tahu apa-apa. Yagami hanya mengakui sendiri.”

[Rekayasa macam apa yang dilakukan Komiya dan Kinoshita untuk menyebut nama Yagami? Kedatangan para guru apakah suatu kebetulan?]

“Aku hanya mengatakan pada mereka bahwa tokoh sentral dalam persoalan itu mungkin memang bersalah. Pihak Ryuen yang tidak dapat menemukan pelakunya, menginginkan sebuah petunjuk soalnya. Aku membuat mereka menerima saranku dengan menyadari risiko tak ada yang akan datang ke OSIS, atau kalaupun datang, tidak akan terjadi apa-apa.”

[Begitu ya? Yah, meskipun aku ragu sejauh mana kau mengatakan yang sebenarnya]

“Aku serahkan pada imajinasimu.”

Semua yang kulakukan benar-benar sepele. Tidak ada yang istimewa untuk disebutkan.

[Yah okelah. Dengan ini kamu siap untuk memenuhi janjimu, bukan?]

“Tentu saja. Aku menantikannya, Ketua OSIS Nagumo.”

Tepat ketika aku mendekati pintu depan, aku telah menyelesaikan panggilan dan merogoh kotak sepatu.

Related Posts

Related Posts

4 comments

  1. Gila manipulasinya ini. Sekarang nunggu Nagumo mewek udah nantangin Kiyotaka.

    ReplyDelete
  2. Gw gak akan heran kalo ayano akan memanfaatkan nagumo lagi di pertarungan mereka

    ReplyDelete
  3. Mungkin nga si ayanokoji minta bantuan nagumo buat pindah kelas, kan ada yg bilang katanya bakal pindah kelas

    ReplyDelete