-->

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 7 Bab 6 Part 4 Indonesia

Bab 6
Yang Ditinggalkan oleh Airi


4


Mendorong Chabashira-sensei yang enggan masuk ke ruang ganti, aku menempelkan teks yang sudah aku siapkan sebelumnya di ponselku dan mengirimkannya ke semua anggota kelas sekaligus sebagai pesan.

Untuk memberitahu mereka bahwa Chabashira-sensei akan bekerja sebagai maid selama 1 jam terakhir saja, dan untuk memberitahu para siswa yang tidak ada kerjaan kalau mereka harus berkeliling mengiklankannya ke seluruh sekolah.

Sesuai rencana, topik ini menyebar dengan cepat dari mulut ke mulut.

Acara ekstra besar eksklusif yang tidak akan pernah bisa diwujudkan oleh seorang siswa, menggunakan guru.

Aku bisa tahu bahwa perubahan suasana di koridor, dalam sekejap telah menjadi keributan.

Chabashira-sensei yang berpakaian maid telah tiba setelah berlari singkat, dengan muka yang memerah.

“A-Aku sudah datang, Ayanokōji. Bu-Buruan biarkan aku masuk ke dalam kelas!”

“Aku sudah menunggu Anda.”

Aku tidak bisa terus menampilkannya secara gratis, jadi aku menuntunnya masuk ke dalam kelas.

“Jadi, apa yang harus ku lakukan di sini...?”

“Tidak perlu melakukan apa-apa. Tolong berdiri saja di sana.”

“A-Apa?”

“Kan sudah kubilang, aku tidak mencari seseorang yang cekatan. Jadi selamat bekerja.”

Dan begitu, aku melempar Chabashira-sensei ke dalam kelas dan membiarkannya hanya berdiri di sana.

Tanpa bicara dengan siapa pun, dia hanya berdiri malu-malu di sudut kelas.

Tatapannya seperti meminta pertolongan, tapi tidak ada yang menolongnya, lebih tepatnya, aku perintahkan agar tidak ada yang menolongnya.

Inilah puncak dari erotisme.

(Tln: Wkwkw. Seperti yang diharapkan dari sesepuh erotisme)

Dari sini, aku perlu membuat perubahan besar dalam kebijakan maid café.

Kekhawatiran terbesar adalah banyaknya pengunjung yang tidak bisa masuk ke dalam ruang kelas. Untuk mengatasi masalah fisik ini secara paksa, para pelanggan harus membayar harga yang sepadan.

Itu adalah menetapkan [biaya masuk berdiri] dan menerima pelanggan melebihi kapasitas.

Aku menambahkan aturan yang memperbolehkan mereka langsung masuk jika mereka membayar 1000 poin untuk memasuki ruang kelas.

Para pelanggan yang menunggu di barisan depan antrean diberi tawaran secara bergilir dan hanya mereka yang menjawab bersedia berdiri yang diperbolehkan memasuki ruangan terlebih dahulu dari depan ke belakang sesuai urutan. Beberapa pengunjung yang mengantre saat ini mungkin akan mengeluh, tapi aku siap menanggung risiko itu.

“Ruang berdiri.... Aku belum pernah mendengar ada ide seperti itu di maid cafe.”

“Ini disebut ruang kedua.”

Sediakan ruang berdiri di sebelah tempat mengajar di mana meja-meja tidak bisa diletakkan, dan di bagian belakang ruang kelas. Dengan begini, para pelanggan bisa masuk ke dalam ruangan, meskipun mereka tidak mendapatkan meja atau kursi.

Dan 2000 poin untuk berfoto dengan Chabashira-sensei.

Dijual dengan harga lebih dari dua kali lipat harga berfoto dengan seorang siswa.

Aku buru-buru mengisikan itu semua di papan masuk.

“Gila.... Dengan harga segitu, apa para pelanggan akan menerimanya...?”

“Lihatlah di belakangmu.”

Kushida yang menatap tulisan di papan itu saat aku menuliskannya, berbalik untuk melihat para pelanggan yang telah membayar tagihan mereka dan menerima ruang berdiri menghilang seolah-olah tersedot ke dalam ruang kelas satu per satu.

Para staf pengajar yang aktif juga sangat tertarik ingin melihatnya, karena kesempatan ini tidak akan pernah ada lagi.

Meskipun ada batasan bahwa guru wali kelas dalam tahun ajaran yang sama tidak dapat memberikan poin pribadinya, jumlah guru di sekolah ini yang bertanggung jawab atas tahun ajaran lain selain tahun kedua sudah sewajarnya jauh lebih banyak daripada itu.

Selain itu, orang-orang dewasa yang bekerja di Keyaki Mall juga memiliki gambaran yang kuat tentang Chabashira-sensei sebagai guru yang berwatak keras, seperti yang mereka lihat berulang kali dalam kehidupan sehari-hari.

Orang dewasa, orang dewasa, para orang dewasa datang seperti gelombang.

“Agaknya, semua kerja keras kita tampak kabur... aku mungkin sedikit tertekan.”

Mungkin ada kalangan orang dewasa dari luar yang tidak mengerti makna dari fenomena ini.

Tetapi bukan berarti mereka tidak berpikir [tak ada ruginya untuk melihat sekilas].

Mereka tidak mengerti, tetapi mereka tergoda oleh kata terbatas untuk melihatnya sendiri.

Maid café dipenuhi oleh pelanggan yang berdiri di dalam ruangan lebih dari 10 dan 20 orang.

Antrean panjang tidak berkurang, tapi justru semakin mengular.

“Ba-Banyak sekali orangnya ya, Ayanokōji-kun.”

Kushida yang terkejut menarik diri dari gerombolan orang dewasa yang datang berbondong-bondong.

“Ya. Sejujurnya, aku juga tidak mengira akan seramai ini.”

“Sejak kapan kamu memikirkan rencana segila ini?”

“Sekitar 2 minggu lalu. Aku memperkirakan ini akan menjadi senjata rahasia untuk festival budaya.”

“Seandainya, kita memulainya lebih awal, apa yang akan terjadi...?”

“Pastinya efek jangka panjangnya mungkin sekitar 2 atau 3 jam. Tapi, masalah lain akan muncul. Jika ada cukup banyak waktu, kelas lain bisa menirukannya.”

“Ah, begitu ya. Karena sisa waktunya kurang dari 1 jam lagi, bahkan jika ingin menirunya, mereka tidak bisa.”

Efeknya akan berkurang jika kelas itu atau kelas ini menampilkan kreasi yang menggunakan guru.

“Jika mau menerapkannya, hanya di 1 jam terakhir inilah kita bisa membuatnya memiliki nuansa premium.”

Kushida dan para maid telah menyebarkan reputasi baik dari maid café juga turut berperan.

“...Ternyata begitu ya. Pantas saja aku tidak bisa menang.”

“Hm?”

“Aku menyadari sekali lagi betapa menakjubkannya dirimu, Ayanokōji-kun. Kamu adalah orang yang sangat merepotkan untuk dijadikan musuh.”

“Matamu tidak tersenyum loh, Kushida.”

“Mungkin karena aku merasa setengah lega dan setengah kesal karena menjadi teman sekelasmu?”

Ia bilang setengah-setengah, tapi aku merasa yang terakhir itu lebih banyak persentasenya.

“Tolong jangan mendorong! Berbaris di sini! Tolong jangan mendorong!”

Sudō dkk bergegas membangun dinding orang dan mencoba membuat mereka mengantre, tapi beberapa orang dewasa berusaha mencari cara untuk melihat ke dalam kelas sehingga menjadi keramaian.

Tapi ini juga bisnis. Bagian dalamnya benar-benar tertutup dan jendelanya terkunci, jadi satu-satunya cara untuk melihat ke dalam secara paksa adalah dengan memecahkan kaca jendela.

Tentu saja tidak ada orang dewasa yang akan melakukan itu, jadi mereka dipaksa untuk mengantre.

Sementara itu, jumlah orang yang ingin berfoto dengan Chabashira-sensei tidak ada habisnya.

Baik pelanggan berdiri yang masuk ke dalam kedai maupun mereka yang telah berada di kedai sebelumnya, mengangkat tangannya satu demi satu dan meminta untuk difoto.

“Kita mungkin akan memuncaki penjualan individu dalam 1 jam ke depan, padahal Sensei... tidak ngapa-ngapain.”

“Buat masukin lebih banyak orang dari ini jelas gak mungkin nih~~!”

Terdengar seruan suara Mī-chan, memberitahukan bahwa ruang kedua telah penuh.

“Hanya sampai di sini, ya? Jumlah pelanggan belum berkurang sama sekali, dan tidak ada tanda-tanda mereka akan pergi, ini sayang sekali.”

Kurasa kita harus puas dengan adanya pelanggan berdiri yang sudah masuk, kata Kushida.

“Belum. Para pelanggan yang masih ada sekarang mengantre karena mereka memiliki uang. Aku tak akan biarkan mereka pergi.”

“Tapi———apa mungkin, mengeluarkan meja-meja di dalam? Tapi ada peralatan makan dan sebagainya di atas meja, jadi itu tidak mungkin kan... dan butuh waktu juga untuk mengeluarkannya...”

Tidak ada lagi ruang di dalam kelas untuk dimasuki oleh tamu itu jelas sekali.

“Dari sini, aku akan memanfaatkan ruang ketiga.”

“Ruang... ketiga?”

Aku menghampiri semua pelanggan yang sedang mengantre dan memanggil mereka.

“Kami sangat menyesal, tapi kedai sudah penuh dan kami tidak bisa menerima lebih banyak orang lagi.”

Saat aku mengatakan hal itu, aku disambut dengan serangkaian tatapan dari orang dewasa yang tidak puas.

“Akan tetapi, terkhusus bagi mereka yang memiliki setidaknya 1 poin lebih banyak tersisa saat ini, Anda dapat melihat bagian dalam ruangan dari tempat ini dengan bayaran penuh.”

(Tln: memabayar penuh = memberikan semua uangannya/dipalak)

Tempat ini adalah koridor di mana mereka boleh membentuk antrean memasuki maid café.

Membuka pintu untuk menghilangkan penutup dan membuka jendela untuk memperluas ruang kelas secara palsu.

“Ma-mau pakai koridor!?”

“Ya.”

“Ta-Tapi membayar penuh itu mah... kecuali yang uangnya sedikit, emang yang punya banyak uang akan membayarnya?”

Mau itu Chabashira-sensei juga, sepertinya ia tidak berpikir ada banyak orang yang akan mau membayar penuh.

“Tidak masalah. Aku tidak tahu apakah itu sepadan dengan uang yang dikeluarkan, tapi waktu yang tersisa hampir habis. Sekalipun masih ada hampir 10.000 poin lebih yang tersisa, di mana dan bagaimana poin-poin itu bisa digunakan masih menjadi pertanyaan besar.”

“Oh, begitu... setelah festival budaya berakhir, poin yang tersisa harus dikembalikan, bukan?”

“Ya. Karena sudah diminta untuk menggunakannya sebanyak mungkin. Lebih baik menghabiskan semua poinnya daripada kehilangannya di sini. Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa mau itu 1 poin atau 10.000 poin memiliki nilai yang sama bagi orang dewasa yang diberikan poin tersebut.”

Sebaliknya, semakin banyak uang yang mereka miliki, semakin mereka akan berpikir kalau mereka harus menghabiskannya di sini.

Selain itu, banyak orang-orang dewasa yang telah menunggu selama ini masih tetap tinggal.

“Kami akan melakukan penagihan secara berurutan, jadi silakan tunggu di tempat.”

Aku memberikan instruksi dan mengirim beberapa orang untuk menagih pembayaran.

Kemudian, aku meminta orang-orang dewasa untuk berbaris di koridor dan memandu mereka ke posisi di mana mereka semua bisa melihat ke dalam kelas.

“Sekarang, kami hanya perlu membuka tirai yang selama ini kami sembunyikan.”

Dengan melakukan itu, ruang ketiga pun tercipta.

Seketika tirai dibuka dan Chabashira-sensei terkejut olehnya.

Bagi Chabashira-sensei, ini akan menjadi semacam eksekusi publik, tapi bagiku, aku tak perlu merasa tidak enak karena aku sudah membayar sekolah untuk itu.

“Wo-Wooh, begitu ya, jadi ini...”

Guru yang menggosipkan perubahan Chabashira-sensei yang kudengar tepat belum lama ini, terdengar terkesima.

Pemandangan dari lawan jenis yang sudah dikenal, lajang, dan mitra kerja yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, pasti sangat menggairahkan mereka.

Dengan begitu, pameran publik Chabashira-sensei menggunakan koridor ini terus berlanjut hingga jam 4 sore.

Hasil akhir, Chabashira-sensei menempati peringkat pertama mengungguli Kushida, dengan permintaan foto sebanyak 63 kali.

Related Posts

Related Posts

4 comments