-->

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 9 Epilog Part 1 Indonesia

Epilog

Elemen Kecemasan


1


Hari pertama liburan musim dingin. Langit tertutup awan tebal hari itu, terus-menerus menitikkan air mata sejak pagi.

Saat sudah lewat 10 menit dari waktu janji ketemu, Ryūen mendekat dengan membawa payung. Ichinose yang sudah menunggu lebih dahulu hanya memandang wajah Ryūen dengan tenang.

Tak lama kemudian, ia berhenti secara alami dalam jarak yang cukup dekat sehingga suara mereka bisa saling terdengar, melalui suara hujan.

“Akhir-akhir ini, cuacanya seperti ini terus, ya.”

Tanpa menanyakan keterlambatan Ryūen, Ichinose memulai percakapan.

“Kau nggak ada keluhan dengan keterlambatanku?”

“Nggak masalah. Aku sudah siap menunggu Ryūen-kun selama 30 menit sejak kita sepakat bertemu soalnya. Kalau selama itu kamu bahkan tidak muncul juga, aku akan pulang begitu saja.”

Ichinose menjawab dengan santai dan tampaknya ia lebih tertarik pada cuaca daripada pada Ryūen.

Ia memiringkan payungnya sedikit untuk melihat ke atas ke langit yang sedang hujan.

“Hari ini sepertinya hujan tidak akan berhenti.”

“Kamu terlalu baik hingga mau menjawab panggilan dari orang sepertiku.”

Mengabaikan gumaman Ichinose, Ryūen bertanya pada Ichinose.

“Aku tidak tahu apakah Ryūen-kun akan setuju jika kusebut kita ini teman, tapi kupikir wajar jika seseorang menjawab panggilan orang lain. Apalagi aku tidak punya rencana lain di waktu ini. Jadi apa urusanmu?”

“Jadwalku sedikit kacau. Jadi aku ingin mencaritahu penyebabnya.”

“Apakah itu soal ujian khusus? Aku sedikit bingung dengan tindakan mengganggu kalian.”

“Kau mungkin berpikir melakukan hal yang sama itu kurang kreatif, tapi itu cocok dengan karakter bidakku. Jika itu adalah cara yang termudah dan terefektif, maka tidak ada alasan untuk tidak melakukannya lagi, kan?”

Ryūen menyuruh teman-teman sekelasnya untuk terus melakukan tekanan dan sabotase kepada teman-teman sekelas Ichinose. Masuk dengan paksa ke ruang kelas, perpustakaan, atau tempat karaoke di mana para siswa di kelas Ichinose berkumpul untuk belajar, dan mengganggu mereka dengan membuat keributan.

Ayanokōji dan yang lainnya tidak tahu, tapi selain itu Ryūen juga memberikan instruksi yang berbahaya.

Seperti menawarkan uang ke siswa berkemampuan akademik tinggi yang mana jika mereka menjawab salah pada semua pertanyaan mereka akan dibayar.

Atau ada juga ancaman, seperti menjawab semua pertanyaan dengan benar akan membuat teman mereka mendapat masalah.

Jika itu kelas yang lemah, itu adalah strategi yang bisa membuka celah bahkan pada kelas yang solid.

“Semua orang pasti merasa terganggu.”

“Aku tidak yakin.”

Tapi, itu pada akhirnya tidak menyebabkan banyak kerusakan.

Dalam pertarungan akademik yang sejak awal berat sebelah, peluang Ryūen untuk menang sangatlah kecil meskipun mereka berusaha dengan cara jujur.

Karena dia tahu itu makanya dia membuat rencana untuk menyerang di luar pertarungan akademik.

“Tapi apa kamu benar-benar berpikir bisa menang dengan cara itu?”

“Ya, tentu saja.”

Tapi setelah melihat hasilnya, strategi Ryūen tidak berhasil menghentikan Ichinose dan yang lainnya.

“Kali ini aku datang untuk memberikan pujian yang jujur, Ichinose. Aku pikir kalian akan hancur dengan hal seperti itu, tapi kalian tumbuh lebih kuat dari saat kalian tahun pertama.”

Menurut laporan bawahan Ryūen, Ishizaki dan yang lainnya, semua mengatakan bahwa usaha mengganggu kelas Ichinose telah berhasil. Meskipun tidak ada siswa yang terkena godaan atau ancaman mereka, mereka merasakan efek dari tindakan itu yang terlihat dari kegelisahan yang mereka tunjukkan.

Namun kelas Ichinose hanya berpura-pura kesulitan, sebenarnya mereka diam-diam meluangkan waktu dan memiliki kesempatan untuk belajar dengan baik, mereka bahkan sengaja berakting takut pada ancaman.

“Apakah seseorang memberimu saran? Dulu kamu pasti akan menghentikan belajar kelompok tanpa buang-buang tenaga dan pindah ke tempat tertutup lebih cepat. Kamu pasti juga akan langsung mengecam ancaman itu. Tapi ternyata kamu pura-pura mengikuti strategi kami.”

Jika lawannya adalah Sakayanagi atau Ayanokōji, Ryūen tidak akan terkejut.

Sebaliknya, dia seharusnya berpikir untuk membuat langkah yang lebih kuat sebagai tindakan balasan yang mana itu wajar ia lakukan.

Tikus yang terpojok akan menggigit kucing. Apakah ini serangan balik dari orang yang lemah yang terdesak?

(Tln: keputusasaan mengubah pengecut menjadi pemberani)

Untuk memastikannya secara langsung, Ryūen memanggil Ichinose ke tempat ini.

“Tidak ada yang memberiku saran kok, Ryūen-kun. Kami hanya terus belajar dengan susah payah di tengah kebisingan. Kata-kata ancaman hanya membuat teman-teman ketakutan. Kebetulan saja tidak ada yang hancur.”

“Kau tidak perlu merendah di sini. Jelas-jelas, ada sesuatu yang berubah di kelasmu.”

“Itu bukan penyebab langsung dari kekalahan kalian. Kalian juga seharusnya menanggapinya dengan serius seperti kami atau kelas lainnya. Belajar dan dapatkan nilai. Sama seperti kelas Horikita-san yang mengalahkan Sakayanagi-san.”

“Bicaramu sudah sombong saja hanya karena kau menang dari ujian yang menguntungkanmu. Yah, karena ujian khusus kali ini tidak terlalu ekstrim. Tidak ada risiko dikeluarkan dari sekolah, ujian yang hanya perlu menulis dengan tekun. Aku pun jadi kurang bersemangat untuk benar-benar serius.”

“Apakah tidak bisa pakai cara biasa yang digunakan semua orang?”

“Mengajari para bodoh itu selama satu atau dua minggu tidak akan membuat banyak perbedaan. Aku hanya menilai bahwa paling mudah dan cepat adalah dengan menjatuhkan orang lain.”

Di tengah-tengah hujan lebat, Ryūen tersenyum di hadapan Ichinose.

“Tapi keputusan itu ternyata salah, kan?”

“Kami dikalahkan oleh orang-orang yang hanya bisa serius belajar, tapi lain kali kami harus menyabotase kalian dengan lebih berani.”

“Jika ujian khusus yang sama diulang, kamu tidak berniat untuk mengubah metodemu?”

“Ya, tak akan kurubah. Aku akan menenggelamkan kalian di luar.”

Jawab Ryūen dengan bangga seolah itu adalah metodenya sendiri.

“Aku mengerti. Sepertinya kita tidak akan pernah sependapat lagi.”

“Untuk sementara kalian kembali ke kelas C dengan selisih tipis. Tapi jangan kira kau akan bisa menang lagi. Kau adalah domba yang malang yang sudah terperosok ke dalam lumpur. Tidak peduli seberapa keras kamu berjuang, tidak, justru semakin kamu berjuang semakin kamu ditakdirkan untuk tenggelam. Benar, kan?”

“Karena kami terus mengalami kekalahan baru-baru ini. Itu menyakitkan untuk didengar.”

“Aku akan ulangi sekali lagi, sekarang kalian hanya diselamatkan oleh isi ujian khusus.”

“Aku tidak akan menyangkal itu.”

Ketika mengatai Ichinose secara terus-menerus dan paksa, Ryūen memiliki motifnya sendiri.

Dia yakin bahwa dengan melakukan percakapan ini, dia bisa tahu apa yang dipikirkan Ichinose. Tapi dia tidak bisa melihat apa-apa. Ichinose tidak menunjukkan celah yang biasanya dia tunjukkan.

“Kau akan menghadapi kelas Ayanokōji di ujian akhir tahun. Kelas itu lawan yang sangat sulit, loh? Lebih sulit daripada kelas Sakayanagi yang akan kuhancurkan. Dengan kata lain kekalahanmu itu tidak dapat dihindari. Bukan hanya aku, Sakayanagi juga pasti berpikir sama. Kau akan tamat di akhir tahun ajaran, Ichinose.”

Kemenangan kali ini tidak berarti apa-apa. Dia menekan bahwa jangan terlalu berharap.

Ichinose tidak langsung menjawab, tapi hanya diam dan mendengarkan Ryūen berbicara.

“Ayanokōji dan kelasnya enak sekali. Mereka bisa bertarung melawan kroco dan mendapatkan poin kelas yang tinggi tanpa harus berhadapan denganku atau Sakayanagi. Tidak mungkin ada lebih beruntung dari ini.”

Dia tanpa henti menyerang Ichinose dan mencoba menyudutkannya, mengabaikan responnya yang minim.

“Kau benar———. Jika kami kalah dalam ujian akhir tahun ajaran, kami mungkin akan tamat.”

Jika selisih mereka semakin melebar dari sekarang dalam pertarungan langsung itu, hampir tidak mungkin untuk membalikkan keadaan dalam waktu setahun.

“Karena itu aku akan mengajarimu cara untuk lulus sebagai kelas A.”

“Emangnya ada cara seperti itu?”

“Jika jalanmu menuju kelas A terhenti setelah ujian akhir tahun. Maka satu-satunya cara untuk lulus sebagai kelas A adalah dengan mengumpulkan poin pribadi.”

“Untuk menyelamatkan 40 orang dibutuhkan uang yang sangat banyak. Bukankah itu tidak mungkin?”

“Kau tidak bisa menyelamatkan semua orang. Tapi, bagaimana jika hanya satu orang? Hanya butuh 20 juta poin. Kamu memiliki kemampuan untuk mengumpulkan uang dari orang-orang di kelasmu dengan niat baik. Mereka akan menyerahkan satu juta, dua juta, berapa pun jumlahnya, padamu dengan jaminan kepercayaan. Dan akhirnya nanti kamu tinggal pakai saja uang itu.”

“Menggunakan uang yang dikumpulkan dari semua orang untuk pindah kelas itu namanya penyalahgunaan. Sekolah tidak akan menyetujuinya.”

“Belum tentu loh? Memang benar jika orang-orang sepertiku atau Sakayanagi melakukan hal yang sama, kami akan dihukum. Kami akan dikeluarkan tanpa perlu dipertanyakan. Tapi, itu tidak mungkin terjadi padamu.”

“Kenapa?”

“Karena orang-orang yang baik hati akan kasihan padamu dan memahami perasaanmu. Meskipun mereka tahu bahwa uang mereka telah disalahgunakan, mereka akan mengatakan pada sekolah bahwa [itu adalah uang yang kami berikan secara sukarela]. Jika tidak ada yang menuntut, itu bukanlah penyalahgunaan. Aku tidak bisa menjamin 100%, tapi itu adalah probabilitas yang cukup tinggi untuk bertaruh agar bisa naik ke kelas A.”

“Itu saran yang menarik. Tapi kurasa sudah cukup.”

Ichinose yang telah menebak alasan dia dipanggil, tidak memiliki alasan lagi untuk tetap di sini.

“Mungkin sudah waktunya untuk kita pergi.”

“Sebenarnya aku berniat bermain dengan Suzune dan Sakayanagi kedepannya, tapi jika pertarungan yang terlibat melibatkan pengusiran di masa depan, kelasmu juga akan menjadi targetku. Tanpa pandang bulu akan kulenyapkan temanmu yang sudah kau lindungi dengan susah payah.”

Ini setengah gertakan. Dari sudut pandang Ryūen, Ichinose belum diakui sebagai penghalang.

Itu adalah ancaman yang disertai peringatan agar tetap diam dan patuh.

Setelah mendengar ancaman itu secara langsung, Ichinose tersenyum.

“Kalau begitu, aku hanya akan mencegahnya sebelum itu terjadi. Jika perlu, aku hanya akan membuat Ryūen-kun dikeluarkan dari sekolah.”

“Kukuku. Membuatku apa, tidak kalaupun itu bukan aku, memangnya kau bisa melenyapkannya?”

Ichinose adalah orang yang baik hati dan sangat tidak suka orang lain terluka.

Itulah kesan yang dimiliki bukan hanya Ryūen, tapi juga semua orang lain selama dua tahun terakhir.

“Baru bisa berbohong tanpa ragu-ragu saja apa bisa disebut dengan kemajuan?”

“Sama aku saja kok banyak bicara ya. Sakayanagi-san dan Ryūen-kun sama saja, apa perlu sewaspada itu terhadapku sih? Seperti katamu, masa depanku sudah suram. Aku bukanlah seseorang yang perlu diwaspadai seperti itu.”

Awan tebal menutupi langit, suara hujan semakin deras.

Tahu-tahu senyum Ryūen sudah menghilang saat ia memikirkan kata-kata Ichinose.

Wanita di depannya tidak layak disebut penghalang. Seharusnya ia menganggapnya seperti itu.

Namun, setelah dipikirkan baik-baik, ia menyadari bahwa dirinya terlalu terpaku padanya.

“Mulai sekarang, aku tidak akan menunjukkan belas kasihan kepada siapa pun. Aku tidak akan pilih-pilih cara lagi untuk menang.”

“Kau mencoba menggertak, tapi ucapanmu itu tidak seperti dirimu.”

“Aku hanya menyadari kalau aku tidak punya waktu untuk ragu lagi. Sungguh hanya itu saja.”

Pemikiran gegabah dari dalam diri Ryūen perlahan meredup.

“Kau tidak akan menunjukkan belas kasihan kepada siapa pun, ya. Belakangan ini sepertinya kamu sangat terobsesi dengan Ayanokōji. Apa itu berarti, yang harus kamu lenyapkan pertama kali adalah sosok Karuizawa?”

Cuma bercanda. Ini hanyalah kejahilan Ryūen untuk mengguncangnya secara emosional.

Hanya sebatas itulah masud dari kata-kata itu, tapi Ichinose tidak mengubah ekspresinya yang tersenyum lembut.

“Maksudnya sangat terobsesi?”

“Di dalam sekolah yang sempit ini, gosip menyebar dengan cepat, bukan?”

Ryūen sudah tahu kalau kontak di antara keduanya meningkat selama proses pengumpulan informasi.

Walaupun hanya berspekulasi, ia juga yakin bahwa perasaan Ichinose hanya bertepuk sebelah tangan.

“Langsung saja susun rencana tidak usah ragu-ragu gimana? Jika perlu, aku bisa bantu kamu melenyapkan Karuizawa.”

Ketidaksabaran, kemarahan, frustrasi, dan rasa jijik.

Tunjukkan emosi apa pun yang kau miliki. Ini adalah tujuan dari provokasi Ryūen.

“Ternyata Ryūen-kun sudah tahu. Maka tidak perlu aku menyembunyikannya.”

Jawab Ichinose sambil tersenyum tipis dan dengan tegas memandang mata Ryūen.

“Aku tak ingin mengeluarkan Karuizawa-san karena perasaan pribadi. Nanti lain lagi ceritanya.”

Meskipun ucapanmu terdengar agresif, ternyata kau masihlah orang baik.

Itulah yang Ryūen coba koreksi, tapi....

“Tapi Ryūen-kun sudah salah paham. Aku itu orang yang cukup berpikir terencana loh.”

Kata Ichinose sambil meletakkan tangan di dadanya dan tersenyum.

“Jika ada masalah yang dapat diselesaikan, cukup pikirkan. Pikirkan dan temukan jawabannya. Jika tetap belum menemukan jawabannya, coba tindakan. Itu akan membuka banyak jalan.”

“Apa maksudmu?”

“Nah apa maksudnya ya?”

Ichinose memikirkan. Malam perjalanan sekolah.

Sejak saat itu, takdirnya mulai berubah.

Kemungkinan kecil. Atau mungkin, hasil dari sebuah naluri tanpa mempertimbangkan kemungkinan apapun.

Apa yang terjadi di tengah malam saat semua orang berkumpul di penginapan. Badai salju. Dirinya hilang.

Jika itu berkembang menjadi keributan, bagaimana reaksi teman sekelasnya dan apa yang akan terjadi?

Ayanokōji yang menemukan dirinya itu bukanlah hal yang mengejutkan atau hal yang istimewa.

Apa yang terjadi pada waktu itu dan setiap detiknya, semuanya adalah hal yang sewajarnya terjadi.

Sesuatu yang tidak menyenangkan merayap di tangan yang memegang payung, dan seluruh tubuh Ryūen.

“Sudah cukup, kan? Aku mau ke gym sekarang. Aku tidak ingin menyia-nyiakan satu detik pun dari waktu membahagikan ini.”

Perasaan bahwa semua analisis yang dia pegang selama ini tentang Ichinose telah dibantah.

Ichinose sudah tidak lagi tertarik pada Ryūen.

Dia mulai berjalan dan melewati Ryūen, menuju ke Keyaki Mall.

“Aku tarik kembali ucapanku, Ichinose.”

Ryūen memalingkan kepalanya dan berbicara pada Ichinose yang berdiri di belakangnya.

“Mungkin kami beruntung tidak melawanmu di ujian akhir semester.”

Itu adalah satu firasat.

Kata-kata itu mengekspresikan rasa hormat kepada sosok itu, yang meski hanya untuk sesaat, membuatnya berpikir bahwa ia lebih merepotkan daripada Sakayanagi.

Related Posts

Related Posts

3 comments

  1. Sakayanagi udh tau dari awal kalo ichinose bukan lawan yg bisa diremehin, walaupun dia udh jatuh ke kelas D, malah bisa menyerang balik. Entah rencana kiyo apa ke Ichinose sampe rela bantuin dia. walau misal emang putus sama Kei ya gpp tapi jgn sampe jadian aja ke Ichinose

    ReplyDelete