-->
olNGIb4NkK5r2x7x4oG3GpEzizVpnY6KNCck9cym

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 4 Chapter 1 Intro


〇Manuver Rahasia


Hujan turun semakin deras dan hari semakin gelap.

Dengan jarak pandang dan pendengaran yang buruk, aku merasa seperti seseorang sedang mendekat dari belakang.

Suara tanah berlumpur yang memantul, seolah-olah dia sengaja menginjak-injaknya.

Nanase juga sepertinya segera menyadari kehadiran dan suara itu.

Melihat ke belakang, aku melihat rambut merah siswa yang berhenti bergoyang secara alami.

“Sepertinya akan hujan deras, ya, sen pai~.”

Itu adalah Amasawa Ichika dari kelas A tahun pertama yang muncul di balik gerimis.

Aku tahu faktanya bahwa tabel dia sama dengan milikku dan Nanase, tapi kedatangannya ini tidak tampak seperti hanya kebetulan.

Aku tidak melihat siswa lain di daerah ini, dan dia tampaknya tidak membawa ransel atau tablet. Bagaimana dia bisa sampai di sini?

Pendekatan yang bisa kupikirkan adalah pola dimana dia menyembunyikan barang bawaannya di sekitar dan mendekat ke sini.

Atau pola dimana dia tidak membawa barang bawaanya sepanjang waktu yang dilakukannya dari tahap yang cukup awal.

Apakah mungkin untuk memikirkan pola di mana dia mendekat setelah seseorang secara lisan memberitahukan hasil pencarian GPS menggunakan transceiver? Bagaimanapun, kemungkinan kebetulan bisa dikecualikan.

Tidak peduli pola yang mana, itu bukan hal yang perlu aku pikirkan.

Selain itu, dia sepertinya tidak sepenuhnya dengan tangan kosong. Tongkat kayu tebal dipegang di tangan kiri Amasawa. Itu bisa menjadi senjata yang lebih dari cukup untuk memukul seseorang.

Apakah dia ingin memberi kejutan tapi khadirannya malah disadari oleh kami?

Tapi dalam cuaca yang buruk ini. Jika dia ingin menyerang, dia seharusnya bisa menyelinap dengan lebih tenang.

“Tolong mundurlah ke belakangku.”

Saat aku sedang mencari tahu alasan kenapa Amasawa muncul, Nanase yang kekuatan fisiknya masih belum pulih, melangkah ke depanku.

Wajahnya yang diperlihatkan dari samping tidak berusaha menyembunyikan kewaspadaannya, dan dia menatap tajam ke arah Amasawa.

“Loh? Aku gak disambut sama Nanase-chan? Dingin sekali padahal kita satu grup kecil yang sama. Atau mungkin benda yang di tanganku ini terlihat sedikit berbahaya?”

Melemparkan tongkat kayu tebal dengan ringan ke kaki Nanase dan menunjukan bahwa dengan ini aman.

Namun, Nanase tidak pernah melonggarkan kewaspadaannya.

“Kau———tidak bisa dipercaya.”

“Jahatnya. Kok bisa kamu ngomong gitu? Padahal aku sangat imut gini.”

(Tln: Hidoiii. rasanya aku bisa denger suara seiyuu yang pantas ngisi suara Amasawa haha)

Aku tidak berpikir keimutan dan kepercayaan itu setara, tapi itu tidak peting sekarang.

“Apa maksudmu Nanase?”

Memang benar, ada satu sisi wajah dari Amasawa yang tidak ku mengerti tentang apa yang dia pikirkan.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa siswa tersebut memiliki kemampuan akting dan penampilan yang luar biasa.

Wajar untuk mewaspadainya, tapi itu adalah sesuatu yang cukup aku ketahui.

Kewaspadaan yang tidak biasa Nanase tidak bisa dijelaskan.

Tentu saja, masuk akal kalau alasannya karena dia muncul di sini.

Mungkin saja dia bereaksi berlebihan karena dia ada di pihakku...

“Aku bukan orang jahat kok, iya ‘kaan, Ayanokouji-senpai~? Makanya, yuk kita bicara sebentar?”

“Tolong jangan dengarkan, dia itu berbahaya.”

Nanase melontarkan kata-kata negatif yang kuat pada Amasawa, yang tak menunjukkan permusuhan.

Terhadap Nanase yang melontarkan pernyataan yang bisa disebut kritik, Amasawa sepertinya tidak keberatan, meski dia sudah mengatakan banyak hal.

“Sebelumnya... aku sudah diam sampai sekarang. Grup Shinohara-senpai diserang dimana Komiya-senpai dan Kinoshita-senpai akhirnya mundur, tapi senpai mendaki lereng bersama Ike-senpai, bukan?”

Waktu itu Ike bergegas mendaki setelah kami mendengar suara dari atas dimana Shinohara ada di sana.

Aku memutuskan bahwa akan berbahaya jika membiarkan dia pergi sendiri, jadi aku mengikutinya.

“Setelah itu, aku menyadari bahwa ada seseorang yang sedang melihat kita dari dekat dan mengejarnya.”

“Jadi karena itu ketika kami kembali setelah menemukan Shinohara, kamu tidak ada di dekat Sudou dan yang lain?”

Nanase mengangguk sedikit.

“Lalu?”

“Aku tidak bisa mengejar orang yang berlari dan kabur itu, tapi... aku melihat rambutnya yang khas.”

Mengatakan itu, Nanase perlahan-lahan mengulurkan tangan kanannya ke Amasawa dan mengacungkan jari telunjuknya.

“Yang sedang mengawasi kami di sana waktu itu adalah kamu, ‘kan, Amasawa-san.”

“Ah, sudah kuduga aku kelihatan, ya?”

Bukannya menyangkalnya, Amasawa langsung mengiyakan dan tersenyum.

Tidak ada kekesalan atau keterkejutan karena sudah terlihat dalam sikapnya itu.

Sepertinya tepat untuk berpikir bahwa Amasawa adalah orang yang menatapku waktu itu.

“Kamulah yang sudah melukai Komiya-senpai dan Kinoshita-senpai, ‘kan?”

“Um, bukankah itu namanya menuduh? Mungkin saja aku kebetulan ada di dekat sana.”

“Kalau begitu, kamu seharusnya tidak perlu melarikan diri, ‘kan?”

“Kalau kamu dikejar seseorang yang berwajah menakutkan, kamu akan lari, bukan? Selain itu, aku gak mau dicurigai.”

“Itu sama sekali tidak bisa dipercaya.”

“Dengan kata lain, Nanase-chan menuduh bahwa akulah yang sudah menjatuhkan para senpai itu.”

“Aku yakin. Aku hampir tidak punya pertanyaan.”

“Katanya yakin, tapi kok ada tambahan hampir. Bukankah itu berarti kamu gak tahu yang sebenarnya?”

Dua orang dalam grup kecil yang sama bertukar kata sehingga mereka bisa saling menghibur.

“Kalau begitu, bisakah kamu bersumpah bahwa kamu bukanlah orang yang melukai Komiya-senpai dan Kinoshita-senpai?”

“Aku sih mau saja bersumpah, tapi aku menepati atau tidak sumpah itu tidak ada urusannya dengan Nanase-chan, bukan?”

Amasawa mengatakan itu tidak memiliki arti sebagai sebuah kata.

“Aku akan bertanya sebaliknya, bagaimana jika memang aku yang melakukannya?”

Alih-alih kabur dari kejaran Nanase, dia malah melompat ke pusaran air itu sendiri.

Nanase sedikit tertekan, tapi dia masuk untuk mencari tahu tentang niat dari Amasawa.

“Kenapa kamu melakukan itu? Tolong beritahu aku alasanya. Tidah sebelum itu, lagipula bagaimana bisa namamu tidak ada dalam sinyal GPS dalam penyelidikan sekolah?”

Tentang poin terakhir, tidak perlu mengkonfirmasi dengan Amasawa.

“Tidak sulit sebenarnya untuk menghilangkan jejak di GPS. Cukup dengan menghancurkan jam tangannya.”

Amasawa dengan senang hati mengarahkan jam tangan di tangan kanannya ke arah kami.

“Benar sekali~. Kerusakan adalah kerusakan, entah itu disengaja atau tidak. Kamu dapat menggantinya secara gratis.”

“Tapi jika kamu merusak GPS sebelumnya, seharusnya pihak sekolah menyadarinya?”

“Itu benar. Tapi setidaknya pada saat itu mereka sedang terburu-buru, itu pasti sulit.”

Jumlah transmisi GPS di pulau ini lebih dari 400. Mereka tidak akan menyadarinya meskipun satu atau dua sinyal GPS menghilang di tablet saat itu, tidak ada waktu untuk memeriksa semuanya. Satu-satunya prioritas bagi guru adalah keselamatan siswanya.

“Tapi, bukankah pihak sekolah akan menyelidiki secara menyeluruh tentang kejadian itu lagi? Ini hanya masalah waktu sebelum teridentifikasi.”

Saat Shinohara sendiri mengatakan dia diserang oleh seseorang, sekolah tentu saja akan melakukan penyelidikan secara mendetail.

Dalam prosesnya, hanya sinyal GPS Amazawa yang hilang———kemungkinan itu besar.

Namun, masalahnya adalah dari sini.

“Jika Amasawa adalah satu-satunya yang sinyal GPS-nya menghilang saat Komiya dan Kinoshita diserang, pihak sekolah pasti akan curiga. Tapi hanya sapai disitu. Tidak ada bukti lebih lanjut yang di dapat, jadi mereka tidak bisa menyimpulkan bahwa dialah pelakunya.”

“Itu———”

Bagi Nanase, yang melihat Amasawa secara langsung, pasti ingin memutuskan bahwa dialah pelakunya.

Tapi membuktikan kejahatan jauh lebih sulit dari yang dipikirkan. Sekolah harus menghindari putusan yang membuat Amasawa mundur dari ujian karena tuduhan palsu.

Awalnya, dalam ujian di pulau tak berpenghuni ini, keberadaan [jam tangan] adalah untuk menjaga ketertiban dan aturan, kamu bisa menonaktifkannya sebanyak yang kamu suka. Satu-satunya cara untuk mencegah kecurangan adalah menyiapkan ikatan yang kuat dengan jam tangan. Hanya satu penggantian yang dapat dilakukan karena kerusakan, diperlukan poin setiap kali kerusakan terjadi, dan terlalu banyak penggantian akan dipaksa mundur.

Tapi semakin erat ikatannya, semakin besar kemungkinan adanya kecurangan dari perspektif yang berbeda. Misalnya, menyabotase jam tangan pesainga dengan merusaknya. Selain itu, jika itu benar-benar rusak karena kecelakaan atau kerusakan dan seseorang dipaksa mundur, itu akan menjadi ujian khusus yang tidak dapat diterima.

“Itu adalah taktik dasar untuk membuat lubang dalam aturan, dan kau bisa melakukan apa saja asal buktinya tidak dapat ditemukan.”

Ada beberapa hal yang mengganggu dalam cara bicaranya, tapi apa yang dikatakan Amasawa adalah benar.

“Jika tidak ada bukti, aku akan bersaksi bahwa Amasawa-san ada di sana.”

“Itu sama saja. Kerusakan GPS dan fakta bahwa dia berada di tempat kejadian hanya akan berakhir dengan kecurigaan.”

Jika dia adalah siswa seperti Sudou dan Ryuen yang sangat suka kekerasan dan memiliki masalah besar dengan perilakunya, kecurigaan pihak sekolah mungkin semakin dalam. Tapi, yang ada di depan adalah seorang siswi tahun pertama SMA. Probabilitas bahwa dia tampak jahat dari sudut pandang pembuktian tidak tinggi.

Terlebih lagi, Komiya dan Kinoshita bahkan tidak bisa memberikan kesaksian bahwa mereka diserang, dan Shinohara juga hanya bisa membuat pernyataan yang tidak jelas seperti [Aku tidak kenal siapa itu].

Hal yang sama berlaku untuk pernyataan bahwa Nanase melihat Amasawa.

Tanpa bukti yang pasti, tidak mungkin pihak sekolah menjatuhkan hukuman ke Amasawa.

“Jadi begitulah, Nanase-chan.”

Meski begitu, aku masih belum tahu kenapa Amasawa muncul di sini.

Pendekatan Nanase dan permainan kata Amasawa terus diulangi, dan tidak ada tanda-tanda kemajuan.

Sesuatu mungkin akan muncul sekarang... semakin sulit untuk berpikir begitu.

Pembicaraan apakah dia adalah pelaku yang melukai Komiya dan Kinoshita dikesampingkan dulu.

Aku akan mulai bertanya untuk menghilangkan kebuntuan.

“Untuk apa kamu datang ke sini, tidak, bagaimana kamu bisa menemukan kami?”

Mempertimbangkan masa depan ujian dengan besok dan seterusnya, kami bertiga berdiri di tengah hujan lebat harus dihindari.

Aku ingin mendirikan tenda sekarang juga dan menghindari hujan.

“Jangan terburu-buru, Ayanokouji-senpai. Aku senang bisa bertemu denganmu di pulau tak berpenghuni seperti ini.”

“Maaf, tapi hujan merenggut kekuatan kita jauh lebih cepat dari yang bisa dibayangkan. Tolong lakukan dengan singkat.”

“Kalau begitu, kenapa kita tidak bekerja sama mendirikan tenda dan bermalam bersama?”

Dia seharusnya tahu bahwa pria dan wanita dilarang bermalam di tenda yang sama.

Sepertinya dia juga mencoba mengulur waktu dengan melakukan percakapan yang tidak berarti.

“Oh, apa kau mengkhawatirkan sesuatu? Tenang saja, tenang saja, bahkan pihak sekolah pun tidak bisa memantau segalanya.”

Saat Amasawa berjalan mendekat, Nanase segera menutup jarak dan menggantung lengannya.

“Untuk apa? Tangan ini.”

“Apakah kau berencana untuk meraih Ayanokouji-senpai?”

“Sejak kapan Nanase-chan menjadi ksatrianya? Bukankah kamu dan Housen-kun berencana untuk membuatnya dikeluarkan?”

“Itu... tidak ada hubungannya denganmu. Apa tujuanmu datang ke sini?”

“Aku tersesat dan sedang berpikir untuk meminta bantuan.”

Mengatakan kerbohongan yang sudah tidak bisa dia tarik lagi.

Mungkin dia datang ke sini untuk memastikan keputusan Nanase dan aku di masa depan?

Melihat sikap Nanase ini, akan mungkin untuk memahami bahwa dia sudah berpaling ke pihak ku.

Bukan, kalau begitu, tidak ada gunakan untuk melanjutkan obrolan yang tidak berarti itu di sini.

“Aku ingin berbicara dengan Ayanokouji-senpai, jadi bisakah kau pergi?”

“Tidak bisakah kau bicara di sini?”

“Aku tidak bisa melakukan itu. Karena ini berhubungan dengan White Room.”

Amasawa mengaku mungkin karena menurutnya tidak ada gunanya menyembunyikan identitasnya lagi.

Nanase terkejut dan mengalihkan pandangannya ke arahku.

Selama semester pertama, aku terus mencium keberadaan siswa White Room, tapi aku tidak dapat menangkap identitasnya yang sebenarnya.

Aku tak menyangka akan mengetahuinya dalam bentuk [pengakuan].

“Apakah kau mengerti? Orang luar.”

Jika Amasawa benar-benar siswa White Room, tak heran jika Nanase disebut sebagai orang asing.

“Lepaskan tangannya, Nanase.”

Mungkin ada ketidakpuasan, tapi Nanase dengan patuh melepaskannya sesuai dengan perintahku.

“Kau gadis yang baik, Nanase-chan. Aku tidak membenci perasaan anjing setia seperti itu, loh.”

Menjawab begitu, Amasawa secara bertahap mulai mendekatiku.

Dengan ini apakah akhirnya pembicaraannya akan ada kemajuan?

“Maaf, tapi ada juga contoh Nanase. Aku tidak akan menyimpulkannya hanya dengan mendengar kata-kata White Room.”

“Oke, aku akan membuktikannya. Tapi... aku kurang setuju kalau Nanase-chan mendengarnya.”

Seperti yang kau lihat, dia tersenyum layaknya setan kecil seperti biasanya.

Dia memberi Nanase isyarat tangan dengan ringan dan memerintahkannya untuk mengambil jarak lebih jauh. Nanase merasa tidak nyaman karena tidak sengaja mendekati Amasawa, tapi segera mengikuti instruksinya. Sementara hujan semakin deras, bisikan dengan jarak beberapa meter seharusnya tidak bisa mencapai telinga Nanase.

Menginjak tanah berlumpur, Amasawa akhirnya berada dalam jangkauan tangan.

“Jadi dari mana aku harus menjelaskan, ya?”

Amasawa menunjukkan isyarat untuk berpikir bagaimana dia akan berbicara agar aku bisa mengerti.

Aku harus mengatakan bahwa kemunculannya di sini sejak awal tidak dapat dipahami.

Siswa White Room telah bersembunyi dan menghabiskan waktu sampai hari ini untuk mengeluarkanku.

Tapi, Amasawa yang di depanku mengungkapkan identitasnya tanpa tindakan apa pun.

Di atas segalanya, aneh rasanya kalau dia bingung harus membicarakan apa sekarang.

Sepertinya jelas kalau dia menundanya hanya untuk mengulur waktu.

Amasawa membuka mulutnya saat aku mencoba memutuskan apakah akan sampai pada kesimpulan itu.

“Kurikulum yang diterima senpai ketika berusia 10 tahun adalah teori konstruksi berdasarkan proyek 5. Ketika kamu berusia 11 tahun, kamu menerima teori relativitas berdasarkan proyek 7. Aku juga menerima keduanya, jadi aku mengingatnya dengan baik.”

Dia menceritakan kisah nyata yang sepertinya untuk membuktikan bahwa dia berada di White Room yang sama.

“Ruangan, lorong, dan kamar yang diberikan padamu, semuanya adalah dunia yang putih.”

Sepertinya dia memang tahu White Room jauh lebih banyak daripada Nanase setidaknya.

Juga tidak mungkin dia hanya mendengar poin utama itu dari Tsukishiro.

Jangan beri tahu orang yang tidak terkait dengan apa yang terjadi di White Room.

Dengan ini, aku dapat menyimpulkan bahwa Amasawa adalah [hitam].

Dari isi percakapan hingga perilaku, itu sangat pas dengan siswa White Room.

“Apa gunanya repot-repot muncul dengan biasa dan mengungkapkan identitas aslimu?”

“Itu benar, sudah kuduga itu yang membuatmu penasaran. Alasannya, itu karena aku ingin mengatakan bahwa aku bukanlah musuh senpai.”

“Itu kontradiktif. Siswa White Room adalah pembunuh yang dikirim untuk mengeluarkanku. Tidak masuk akal untuk mengatakan orang seperti itu bukan musuhku.”

Amazawa juga sudah basah kuyup, tapi dia terus berbicara.

“Generasi setelah generasi ke-4 Ayanokouji-senpai memiliki kecemburuan yang kuat. Itulah sebabnya mungkin mereka berpikir jika mereka menggunakan siswa White Room, kecemburuan itu akan memaksamu dikeluarkan dari sekolah dengan. Tapi petinggi sudah melakukan kesalahan dalam memilih orang. Mereka tidak bisa memprediksi bahwa aku hanyalah seorang gadis yang memiliki kekaguman batin terhadap Ayanokouji-senpai. “

“Itulah kenapa kau mengungkapkan identitasmu dengan cara ini?”

Ya ya, Amasawa mengangguk.

“Kalau begitu, kupikir akan lebih bagus untuk menunjukkan gerakan itu tepat setelah kau masuk sekolah, kau berhasil dengan mulus sampai masuk ke kamarku, dan kau punya banyak kesempatan untuk berbicara.”

“Mau gimana lagi, tidak peduli berapa besar kekagumanku, bukankah itu hanya khayalan? Karena perlu waktu untuk bertemu dan berbicara secara langsung agar pemikiran [Ah, aku senang sudah mengagumi orang ini] itu muncul.”

Dengan kata lain, jika aku adalah orang yang tidak pantas dievaluasi di mata Amasawa, aku mungkin akan abaikannya. Adapun alur ceritanya sudah bisa di mengerti untuk saat ini.

“Apakah itu bisa dipahami?”

“Benar. Hanya orang-orang di pihak yang sama yang bisa membicarakan tentang White Room sampai sejauh ini.”

“Itulah maksudku. Rasanya agak aneh, ya, untuk bisa menghabiskan waktu di sekolah sebagai siswa SMA biasa.”

Selama ini, hanya aku yang memiliki perasaan khusus ini. Namun, aku tertarik dengan fakta bahwa siswa White Room lainnya mendapatkan pengalaman yang sama seperti ini.

“Jika kamu memiliki perasaan yang sama denganku, apakah kamu sudah menyadari betapa menariknya sekolah ini?”

“Aku mengerti apa yang ingin kau katakan, senpai. Aku sendiri, tak hanya sekali atau dua kali aku pikir akan menyenangkan untuk menikmati menjadi siswa sampai lulus. Aku tidak pandai berteman, jadi aku tidak punya banyak orang untuk diajak bicara.”

Itu, jika dikatakan sama sepertiku.

Meskipun aku sudah berbicara dengan Horikita, Ike dan yang lainnya, ada sesuatu seperti jarak antara hati.

Aku ingat situasi di mana aku tidak bisa mengatakan [Aku adalah temannya] dengan terus terang untuk sementara waktu.

“Tapi itu bukan karena aku kurang dalam keterampilan komunikasi seperti senpai, loh.”

Seolah-olah telah membaca pikiranku, Amasawa mengoreksinya.

“Pada dasarnya, apa yang aku dan senpai pelajari adalah sama. Tapi sebaliknya, ada hal-hal yang hanya anggota generasi ke-5 yang mempelajarinya.”

Jika aku tidak memberikan tanggapan, Amasawa akan melanjutkannya sendiri.

“Bersaing dengan komunikasi minimum. Sampai generasi ke-4, individualisme telah berlalu, satu demi satu anak mungkin sudah keluar. Tentu saja, anak-anak yang skornya buruk akan dikecualikan, dan orang-orang berbakat diizinkan untuk menghubungi orang-orang berbakat lainnya.”

Jika itu benar, bisa dimaklumi kalau dia bisa dengan sangat mudah membuat ekspresi emosi pada wajah. Bahkan jika aku bisa memainkan akting sebagai seseorang dalam waktu singkat singkat, sulit untuk menghilangkan kebiasaan di mana sebagian besar hidupku adalah tanpa emosi.

“Apa kau masih belum percaya?”

“Aku percaya pada identitasmu. Tapi aku tidak bisa menerima alasan kenapa kau mengungkapkan identitasmu.”

“Bahkan setelah menerimaku sebagai siswa White Room, senpai ternyata cukup tenang. Apakah menurutmu aku bukan ancaman bagi senpai?”

Saat aku tak menjawab pertanyaan itu, Amasawa melanjutkan sambil tersenyum.

“Baiklah———karena aku sudah mengatakan semua yang ingin aku katakan pada senpai, aku mungkin akan pergi saja.”

Amasawa membalikan punggung, itu karena dia sudah diakui sebagai siswa White Room.

“Apa yang kamu pikirkan, Amasawa?”

“Bukankah aku sudah mengatakannya~. Kalau aku ini hanya mengagumi Ayanokouji-senpai.”

Dia melihat ke belakang dan menyentuhku dengan ujung jarinya yang basah.

“Karena itu, jangan sampai dikalahkan tanpa seizinku, ya.”

Ketika dia mengatakan itu dan melepaskan ujung jarinya dari pipiku, dia mulai berjalan entah kemana.

Dikalahkan, oleh siapa yang dia maksud? Tsukishiro. Siswa kelas satu mengincar 20 juta poin pribadi? Atau mungkin...

“Ayanokouji-senpai, kamu baik-baik saja? Apakah terjadi sesuatu?”

Aku menjawab bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan kepada Nanase yang berlari dengan cemas, dan aku melihat ranselku.

“Sudah sederas ini. Kita harus cepat.”

Aku ingin mengatur berbagai informasi, tapi ada sesuatu yang harus diprioritaskan sekarang.

“Baik, cepat menyiapkan tenda, ‘kan?”

“Ya.”

Aku menjawab begitu, tapi aku akan melakukan satu hal yang tidak boleh aku lupakan.

Yaitu memeriksa jejak kaki Amasawa yang telah pergi.

“Senpai...?”

“Karena hujan ini akan segera menghapus jejak kaki.”

Jejak kaki Amasawa yang baru saja pergi juga sudah mulai tidak terbentuk.

“Jejak kaki, ya? Tapi, memangnya ada apa dengan jejak kaki Amasawa-san?”

“Saat Komiya dan Kinoshita terluka, ada jejak kaki di dekat lokasi kejadian. Ukurannya kira-kira sama dengan milik Amasawa.”

Dengan kata lain, seperti yang dilihat Nanase, tidak salah lagi kalau Amasawa ada di sana.

“Sudah kuduga, Amasawa-san tidak ada di dekat sana karena kebetulan, tapi dia adalah pelaku yang mendorong mereka jatuh.”

“Itu aku tidak tahu. Bisa dibilang kalau yang saat itu mengawasi Sudou dan Nanase adalah Amasawa. Tapi, tidak ada bukti bahwa yang mendorong mereka adalah Amasawa.”

Nanase sepertinya tidak mengerti apa yang aku katakan untuk sesaat.

“Mungkin tidak ada bukti yang pasti. Tapi bisakah aku menyimpulkan bahwa pelakunya adalah dia?”

“Jika menyimpulkan dari informasi yang sudah kita miliki sekarang, Amasawa pasti pelakunya.”

“Aku rasa begitu. Karena sekali lagi kukatakan kalau aku benar-benar melihat Amasawa-san.”

Itu, tentu saja tidak salah.

“Meski begitu kamu tidak melihatnya mendorong mereka.”

“Itu... yah... tapi, ada juga pengakuan yang dia sebutkan sebelumnya.”

“Sulit untuk mengatakan bahwa itu adalah pengakuan. Amasawa hanya berkata, [Bagaimana jika aku yang mendorongnya?], tapi dia tidak dengan jelas mengatakan, [Aku yang melakukannya].”

“Mungkin dia takut direkam?”

“Apa menurutmu dia perlu sangat waspada jika melihat kondisi kita dalam kebisingan ini?”

Sekilas saja, ini tidak terlihat seperti lingkungan di mana kau dapat merekam dengan mudah.

“Meski begitu Itu tidak mutlak. Terutama, dia tahu bahwa Ayanokouji-senpai adalah orang yang harus diwaspadai, dan masuk akal untuk berpikir bahwa dia sudah mengambil tindakan maksimal.”

Untuk mengurangi resiko menjadi nol, itu memang pilihan yang bijak.

“Jika dia dengan sengaja menimbulkan cedera serius pada 2 orang siswa yang bisa mengancam nyawa mereka jika dia tidak pandai melakukannya, dia seharusnya segera kabur. Kenapa dia repot-repot mendekati tempat kejadian dan membiarkan Nanase melihat punggungnya?”

Nanase berpikir sambil mengumpulkan ransel kami.

“Itu———kita harus berpikir bahwa itu karena dia khawatir dengan kondisi Komiya-senpai dan Kinoshita-senpai. Aku rasa itu sama dengan psikologi pelaku pembakaran yang kembali ke tempat kejadian.”

Memang benar ada pepatah yang mengatakan bahwa pelaku pembakaran akan kembali ke tempat kejadian.

Ada bermacam-macam teori tentang psikologi tersebut, tapi berbahaya untuk menerapkannya dengan mudah pada kasus ini. Jika kami menyimpulkan setelah mengasumsikan bahwa Amasawa adalah pelakunya, kami hanya bisa melihat permukaannya saja.

“Tidak masuk akal untuk mengambil resiko dan pergi ke tempat kejadian karena khawatir dengan kondisi mereka setelah melakukan trik yang tidak dapat dia lakukan kecuali dia siap untuk apa pun yang terjadi. Faktanya, Amasawa telah ditemukan oleh Nanase dan punggungnya terlihat. Aku tidak berpikir manusia yang dikirim Tsukishiro akan melakukan kesalahan seperti itu.”

Agar tidak ketinggalan apapun, aku melacak jejak kaki yang hendak tenggelam.

“Kenapa dia mengungkapkan dirinya kepada kita seolah-olah dia sedang mengejar kita?”

“Aku pikir dia sudah memutuskan bahwa dia tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa dia sudah terlihat olehku, jadi dia datang menghubungi kita. Jika dilaporkan ke sekolah, itu akan menjadi masalah bahkan jika kesaksianku tidak membuktikan kejahatannya. Tugas yang dipercayakan oleh Direktur Pengganti Tsukishiro juga akan terancam.”

“Pada akhirnya, itu bertentangan dengan kembali ke tempat kejadian.”

“Tidak bisakah itu dianggap sebagai sebuah kesalahan?”

“Itu mustahil.”

Mungkin Amasawa sengaja membiarkan Nanase menemukannya karena suatu alasan, itu bisa saja.

Dan di sini aku berhasil mendapatkan petunjuk baru dari jejak kaki yang aku ikuti.

“Sudah kuduga, setiap tindakan Amasawa memiliki maksud yang tidak bisa diabaikan.”

“Maksud yang tidak bisa diabaikan, ya?”

Aku mengikuti jejak kaki Amasawa, yang akan terhanyut oleh hujan.

“Sepertinya dia mendekat dari belakangku dengan rapi, tapi setelah itu———”

“Eh?”

Di sana Nanase juga melihat perubahan aneh untuk pertama kalinya.

“Ini jejak kaki lain, ‘kan?”

“Ya.”

Ada jejak kaki yang tampaknya sedikit lebih besar dari jejak kaki Amasawa.

Tapi karena sudah berubah bentuk, ukuran pastinya tidak dapat ditentukan.

“Begitu dia mendekati kita, di sini menjadi tidak teratur. Ini adalah titik di mana jejak kakinya bertemu dengan jejak kaki Amasawa. Dan di sini jejak kaki misterius ini berbalik.”

“Artinya ada orang lain sampai tepat sebelum Amasawa-san menghubungi kita...?”

Saat ini, tampaknya tidak mungkin untuk menilai apakah itu seorang siswa atau pejabat sekolah.

“Bisakah kamu ambilkan tongkat kayu yang dibawa Amasawa?”

“Ba-Baiklah.”

Nanase mengambil tongkat kayu yang dilempar Amasawa dan kembali ke sisiku.

Melihat itu, aku sampai pada satu kesimpulan.

“Apakah kamu memperhatikan sesuatu?”

“Memperhatikan sesuatu... ya? Aku pikir akan berbahaya memukul seseorang dengan ini. Loh...?”

Nanase juga memperhatikan sesuatu setelah memegang dan menyentuh tongkat kayu itu sendiri.

“Ini, aku tidak berpikir sesuatu yang diambil di tempat.”

“Benar. Bagian yang tidak berguna telah dikerok sehingga bisa digunakan sebagai senjata. Bentuknya terlalu tidak wajar untuk dilihat sebagai cabang yang jatuh secara alami.”

“Apakah dia berniat menggunakan ini untuk menyerang Ayanokouji-senpai?”

“Jika Amasawa ingin menyerangku, dia harus melakukan serangan mendadak tanpa perlu bersuara. Tapi, meski dia membawa senjata, Amasawa tidak menunjukkan gerakan akan menyerang. Sebaliknya, aku pikir dia dengan sengaja membuat kita menyadari keberadaannya.”

Dari sana bisa diambil kesimpulan lebih jauh.

“Dengan kata lain, dari awal dia tidak berniat untuk menyerang.... Bukan Amasawa-san yang pertama kali memiliki tongkat kayu ini, tapi orang asing yang menghilang ini, ya?”

Jejak kaki itu mendekati kami dengan langkah yang lebih pendek, tapi ketika dia berbalik, jejak itu semakin melebar. Dia pergi agar tidak ditemukan atau untuk melarikan diri.

“Tapi kenapa?”

“Amasawa mengatakan bahwa aku adalah orang yang dia kagumi. Karena itu, jika menimbang bahwa dia mencoba melindungiku dari serangan, aku bisa melihat keterkaitan dari kasus ini.”

“Rasanya agak berbahaya untuk menganggapnya sebagai sekutu hanya dengan itu...”

“Tentu saja. Tapi aku tidak bisa membayangkan siapa pemilik kaki ini yang mengincarku.”

“Jangan-jangan... ada kemungkinan kalau itu seseorang yang berhubungan dengan sekolah?”

“Itu mungkin saja, lagipula aku dilabeli hadiah.”

Lebih dari cukup bahwa jejak kaki ini adalah siswa yang mengincar hadiah.

Sangat mungkin seseorang mengambil resikonya untuk memaksaku dikeluarkan.

“Oh, iya!”

Nanase meninggikan suaranya seolah-olah dia telah memikirkan sesuatu.

“Senpai, ayo kita lakukan pencarian GPS sekarang! Belum lama sejak kedatangan Amasawa-san. Bahkan jika orang tak dikenal lainnya melarikan diri dengan kecepatan penuh, aku pikir dia tidak akan bisa lari terlalu jauh dalam cuaca buruk ini, ‘kan?”

Memang benar, jika kami melakukan pencarian GPS sekarang dan mendapatkan sinyal GPS di area sekitar, kami bisa menemukan tersangkanya sekaligus. Yang harus kami lakukan adalah melihat siapa dalam urutan dari sinyal terdekat.

“Ah, tapi jika jam tangannya dirusak seperti yang dilakukan Amasawa-san, kita tidak bisa mengidentifikasinya...”

“Tidak, itu tidak mungkin. Merusak jam tangan berarti sinyal GPS menghilang. Bagaimana jika aku sekarang mencari dan hanya ada satu sinyal GPS yang menghilang selain milik Amasawa?”

“...Orang itu dipastikan sebagai pelakunya.”

“Ya. Itulah sebabnya orang yang mencoba menyerangku tidak akan pernah merusak jam tangannya.”

“Kalau begitu, bukankah layak untuk membayar 1 poin tambahan?”

Sudah sekitar 15 menit sejak Amasawa memanggilku.

Bahkan jika dia mencoba pergi dari sini dengan sekuat tenaga, dia hanya bisa keluar dari area ini.

Jika beruntung, dia mungkin satu-satunya orang dengan jejak kaki yang hilang ini.

Itulah kenapa, seperti yang disarankan Nanase, kami harus melakukan pencarian GPS di sini sekarang...

“Tidak perlu lakukan pencarian GPS.”

“Eh. Ke-Kenapa?”

“Tidak aneh jika seseorang memiliki strategi untuk melakukan pencarian GPS pada siapa pun, dan terkadang orang yang sama sekali tidak terkait muncul.”

Tidak dapat dikatakan bahwa tidak ada tujuan untuk mencurigai dan menyelidiki orang yang tidak terkait. Kami harus waspada terhadap situasi dimana informasi didorong oleh pihak lain, seperti Amasawa yang membiarkan dirinya dilihat Nanase dan kemunculan Amasawa di sini.

“Tapi, aku merasa itu sedikit boros.”

“Setidaknya, jika itu aku, aku tidak akan cukup bodoh untuk terdeteksi oleh hal seperti itu. Jika dia adalah orang yang telah melupakan pencarian GPS, aku tidak perlu takut sama sekali padanya.”

Nanase sedikit tidak mengerti, tapi sepertinya dia dengan patuh mengikuti keputusanku.

Bagaimanapun, bahkan jika kami mengumpulkan pemikiran, itu tidak akan menyelesaikan situasi ini.

Mengakhiri pembicaraan, aku memutuskan untuk segera mendirikan tenda dengan Nanase.

Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa ini adalah hujan yang deras.

Kami berhasil menyiapkan tenda dimana tendaku dan Nanase saling berhadapan sehingga mereka saling menempel, dan kami bersembunyi di dalam tenda satu sama lain untuk menghindari hujan.

Aku melepaskan pakaian olahraga dan pakaian dalamku yang basah dan menyeka rambut dan tubuhku dengan handuk.

Setelah itu aku berganti pakaian dalam cadangan, membuka penutup tenda yang tertutup, dan melihat lebih dekat ke luar. Baru menjelang siang, tapi daerah sekitar gelap seperti malam.

Setidaknya aku tidak bisa bergerak untuk hari ini.

Karena tetesan hujan masuk tanpa ampun, aku menutup penutupnya dan berbaring di tenda.

Aku telah mengetahui masa lalu Nanase, dan memastikan bahwa Amasawa adalah siswa White Room.

Tapi, itu tidak berarti semua kabut telah menghilangkan.

Related Posts

Related Posts

5 comments