-->
olNGIb4NkK5r2x7x4oG3GpEzizVpnY6KNCck9cym

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 4 Chapter 3 Part 3


〇Pertarungan Melawan Kesendirian


3


Matahari terbenam pada hari ke-10, dan sudah lewat pukul 21.00.

Saat itulah aku sedang memeriksa informasi GPS yang tersimpan mengenai 10 grup teratas dan terbawah.

Cahaya terang berkedip-kedip dari luar tenda.

“Apa ada yang bergerak di jam segini...?”

Sangat mungkin untuk menuju area yang ditunjuk terakhir yang tak bisa dicapai di tengah malam, meski itu berbahaya.

Tanpa sengaja aku mengejar cahaya dari dalam tenda. Cahaya itu tidak di arahkan ke tendaku, tapi sepertinya di arahkan ke sana-sini sambil berjalan. Pergerakan lampu senter tidak stabil, dan sepertinya dia panik mencari sesuatu. Aku khawatir dengan situasinya dan memutuskan untuk keluar dari tenda.

Cahaya senter menerangi hutan dan perlahan menjauh dariku.

Sepertinya memang panik mencari seseorang.

Apa Amasawa mendekat untuk mencariku karena ingin melakukan sesuatu padaku?

Tidak, jika demikian, aku tidak berpikir dia akan menggunakan senter sembarangan.

Setelah menutup jarak dengan GPS, seharusnya dia mendekat dalam kegelapan.

“...Yume-cha~n.”

Aku mendengar sedikit suara yang tipis dari arah senter. Aku tidak tahu siapa pemilik suara itu, tapi selain nama panggilan, hanya ada satu nama Yume di sekolah.

Tidak salah lagi yang dimaksud itu Kobashi Yume dari kelas C tahun kedua. Lalu, apakah benar kalau menganggap si pemilik suara itu ada hubungannya dengan kelas itu? Kalau tidak salah ada seorang gadis bernama Shiranami Chihiro di grup Kobashi.

Bagaimanapun, pemilik suara tampaknya mulai menangis setiap saat. Aku bisa mengabaikannya begitu saja, tapi siswa kelas C tahun kedua itu berarti sekarang memiliki hubungan yang dalam dengan Sakayanagi dari kelas A seharusnya.

Aku mengeluarkan tablet dari tenda dan menyalakan fitur lampu.

Sumber cahaya tidak bisa diandalkan karena dari fitur lampu, tapi cukup untuk membuat dia menyadari keberadanku.

Segera setelah itu, dia mengarahkan senternya ke arahku mungkin karena menyadari cahaya dariku.

“Yume-chan?”

Sambil mengatakan itu, aku mendengar panggilan, cahaya, dan suara mendekat dengan panik.

Setelah cahaya yang menyilaukan itu bersinar, aku perlahan melihat pemilik senter itu.

“Yume-chan!”

“Tidak, maaf, aku bukan Yume.”

“Ah......”

Yang muncul dari balik pepohonan, sudah kuduga itu adalah Shiranami.

“Eto, Ayanokouji-kun... selamat malam.”

Ini adalah hubungan yang benar-benar asing, tapi dia menunjukan sedikit kelegaan.

Aku bertanya-tanya apakah itu artinya keadaan dia begitu kesepian terus menerus.

“Sangat berbahaya bergerak sendirian di tengah malam, loh. Bagaimana dengan Kobashi dan Takemoto?”

“Ah, itu... aku, tidak tahu lokasi mereka... saat aku buru-buru berjalan, aku tidak tahu arahnya...”

Aku tidak perlu bertanya kenapa dia sendirian di hutan di tengah malam.

Ini di dalam hutan di mana pemandangan yang sama menyebar 360°. Jika dia terus berjalan dengan perasaan ringan bahwa mungkin ke arah sini, dia akan kehilangan arah dalam sekejap mata.

Akibatnya, Shiranami terpisah jauh dari grupnya.

“Sudah berapa lama kamu terpisah?”

“Berapa, ya... 15 menit... sekitar 20 menit...?”

Bahkan jika dia berjalan ke arah yang berlawanan, mereka tidak akan terpisah terlalu jauh, tapi tidak ada keraguan bahwa itu telah sampai pada titik di mana suara satu sama lain tidak dapat terjangkau.

“Untuk saat ini, berjalan-jalan dalam kegelapan hanya akan membuatmu celaka.”

“U-un.”

Aku memimpin dan menyuruhnya untuk mengikuti ku sambil menerangi jalan dengan tablet untuk saat ini. Karena akan merepotkan jika aku harus terlibat dalam kecelakaan.

Aku juga tidak bisa keluar bersama Shiranami untuk mencari grupnya, meninggalkan tenda dan koper begitu saja.

Sedikit banyak orang mungkin akan mengalami masalah seperti ini.

Perbedaannya adalah apakah mereka kembali secara kebetulan atau membutuhkan waktu.

Tapi jika mereka tidak bisa kembali, bermalam di hutan pada tengah malam bukanlah hal yang mudah.

Itu karena meskipun tidak ada masalah fisik yang besar, mentalnya akan langsung terkikis.

Tak lama setelah kembali ke perkemahanku, aku memanggil Shiranami yang gelisah.

“Ada banyak serangga, jadi sebaiknya masuk dulu ke dalam tenda untuk saat ini.”

“Eh!?”

Suara yang sepertinya sedikit ketakutan daripada terkejut.

“Aku tidak akan masuk, jadi jangan khawatir.”

Ada sedikit masalah dalam penjelasanku, tapi aku memaksa Shiranami, yang tidak mengerti maksudku, ke dalam tenda dan menutup pintu masuk.

“M-Maaf, ya... sudah mengganggu istirahatmu...”

“Tidak masalah. Daripada itu, Kobashi dan Takemoto dalam kondisi yang sehat, bukan?”

“Un.”

Maka, aku pikir mereka sedang panik karena Shiranami yang tidak kunjung kembali.

Ini harus dilihat sebagai mereka sedang mendiskusikan apakah akan pergi mencari atau tinggal di sana.

“Bagaimana pengaturannya jika ada yang terpisah?”

Saat ditanya, Shiranami menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.

“Ada kemungkinan bahwa Takemoto, yang seorang anak laki-laki, akan pergi keluar untuk mencari Shiranami sendirian, tapi ada juga risiko akan terjadi insiden kedua. Meski begitu, cukup berisiko bagi dua orang untuk meninggalkan tenda dan barang bawaan mereka untuk pergi mencari.”

Jika keduanya mulai bergerak dengan tenda dan barang bawaan dalam satu tempat, bahkan ketika Shiranami kembali sendirian, semuanya mungkin sudah lenyap, jadi itu tidak bisa dikatakan sebagai cara yang efektif.

Jika keamanan yang palin di utamakan, sebaiknya mereka tidak pergi ke posisi di mana mereka tidak bisa melihat tenda, tapi berharap Shiranami akan menyadarinya dengan mengandalkan cahaya dan suara keras di daerah sekitar. Tapi, jika tidak ada pengaturan terperinci dan seorang gadis terpisah, mungkinkah mempertahankan pemikiran normal?

Yang sering terjadi adalah mencari dengan terburu-buru.

“Apa yang harus aku lakukan...”

Alih-alih meminta pendapatku, dia berbicara sendiri. Ini adalah kesalahan sepele, tapi dari sudut pandang yang berbeda, ini adalah kesalahan besar. Bukan tidak masuk akal untuk terburu-buru.

Masalahnya ada pada dua orang dalam grup itu. Tidak, dalam beberapa kasus mungkin lebih dari itu.

“Apa grupmu itu masih grup kecil yang terdiri dari tiga orang? Atau sudah bertambah menjadi empat orang atau lebih?”

“Itu...”

Sejauh ini Shiranami sudah memberiku penjelasan secara mendetail, tapi dia terjebak dalam kata-kata.

Ada alasan lain untuk keraguan ini, karena dia seharusnya sudah sangat memahami grupnya sendiri.

Kelas Ichinose sekarang berkerja sama dengan kelas Sakayanagi.

Tentu saja, ada grup pertemanan yang melampaui penghalang itu, tapi mayoritas dibuat berdasarkan kesepakatan dasar itu. Tentu saja, memberi tahuku detail di dalamnya adalah kebocoran informasi. Dalam hal ini, bisa dinilai bahwa ini adalah keputusan akurat Shiranami bahwa dia tidak dengan mudah mengatakan apakah grup itu telah berubah atau tidak.

“Aku mengerti. Kamu tidak perlu memberitahuku detail situasinya. Dengarkan saja pemikiranku untuk saat ini.”

Memberikan kata pengantar seperti itu dan aku melanjutkan kata-kataku.

“Jika aku adalah anggota grup Shiranami, aku akan menyadari situasi saat ini terlebih dahulu. Aku menilai bahwa ada seorang gadis berkeliaran sendirian di hutan yang gelap dan tersesat.”

Shiranami mengangguk sedikit.

“Tentu saja, aku tak akan membiarkannya sendiri. Pertama-tama, aku memanggil dengan keras agar pihak lain ikut memanggil. Tapi, seperti yang aku katakan sebelumnya, jika dengan ini tidak ada reaksi, langkah selanjutnya diperlukan. Misalnya, Kobashi terpisah sendirian, apa yang akan Shiranami dan Takemoto lakukan?”

“...Mungkin, tapi... kurasa kami akan mencari Yume-chan...”

“Bahkan jika ada risiko terjadi insiden kedua dan kalian mundur karena cedera?”

“Aku tidak bisa meninggalkannya karena dia temanku.”

Itu adalah jawaban yang kelas Ichinose banget. Masalahnya bukan tentang keuntungan dan kerugian. Takemoto yang dari kelas A mungkin akan menahan diri pada awalnya, tapi mungkin akan berbalik untuk menolongnya. Cara paling ampuh adalah dengan membiarkan dia menggunakan tendaku seperti ini dan menunggu pihak sana untuk bergabung.

Dalam keadaan darurat, pihak sana akan datang untuk mencari kami menggunakan pencarian GPS.

Tapi, dalam kegelapan ini, aku tidak tahu apakah pencarian sekali atau dua kali akan berhasil bahkan di jarak dekat.

“Bagaimana dengan fleksibilitas skor kalian? Ada tidak kekhawatiran tentang peringkat meskipun kalian menggunakan pencarian beberapa kali?”

“Soal itu———aku tidak yakin. Menurutku itu tidak terlalu baik.”

Tidak bisa benar-benar menjaga peringkat atas, ya. Karena hanya setelah ujian selesai mereka bisa tahu apakah itu akan berakhir dalam kisaran yang tidak berpengaruh atau apakah penggunaan skor itu akan memutuskan hasil.

Shiranami akan terluka hatinya oleh tindakan menggunakan skor untuk mencari dirinya.

Bagaimanapun, yang terbaik adalah menunggu, tapi... kemungkinan pola tidak ada yang mencari atau tidak dapat di temukan bukanlah nol. Jika demikian, aku tidak akan bisa menggunakan tenda, jadi aku akan bermalam di luar. Ini akan menjadi salah satu faktor yang mengganggu kecepatan yang telah aku jalani selama ini tanpa merusak ritme.

Jika aku ingin mengambil tindakan, sekaranglah waktunya...?

“Bagaimana kekuatan fisikmu?”

“Eh?”

“Apa kamu punya cukup kekuatan fisik untuk berjalan?”

“U-Un. Aku baik-baik saja...”

Aku menyuruhnya untuk keluar dari tenda dan menunggu Shiranami keluar.

“Kita akan bergerak agar bisa bertemu mereka mulai sekarang”

“Tapi... bagaimana caranya?”

“Ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan berjalan sembarangan. Kita akan gunakan ini.”

Aku menunjukkan tablet yang aku pegang.

“Jika kita menggunakan pencarian GPS, kita dapat tahu di arah mana mereka berada dan perkiraan jaraknya.”

Tapi, meski begitu kami tidak akan bisa dengan mudah bertemu.

Sangat sulit untuk melewati hutan dengan benar dalam kegelapan ini.

Bagi siswa biasa seperti Shiranami, tidak mungkin bisa tanpa pencarian GPS berulang kali.

“Kenapa kamu menolongku...?”

“Kenapa? Ujian kali ini adalah pertarungan antar tahun ajaran sekolah, alasannya ya karena ada aspek itu.”

“Tapi, bahkan sampai menggunakan pencarian GPS...”

Bagiku, menggunakan satu atau dua poin bukanlah beban yang besar.

Aku bisa mengumpulkan skor kapan pun asalkan tidak melebihi peringkat ke-11.

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak membicarakannya, jadi aku akan mengatakan sesuatu yang masuk akal di sini.

“Jika kau memaksa... mungkin karena itu kelasnya Ichinose.”

Saat aku menjawab begitu, wajah Shiranami, yang aku lihat di belakang, menjadi sedikit lebih kaku.

“...Mungkinkah...”

Apa aku membuat pernyataan yang tidak buruk?

“Hm?”

“Mungkinkah Ayanokouji-kun, Honami-chan...”

Shiranami menutup mulutnya, meskipun dia sudah bicara sampai sejauh itu.

Entah bagaimana aku mengerti apa yang ingin dia katakan dengan penundaan.

Ini karena aku ingat berbagai hal yang dikatakan teman sekelas Ichinose yang aku temui tempo hari.

“Karena ini bukan apa-apa.”

Aku menjawab untuk melanjutkan, tapi ekspresi Shiranami tetap suram dan kaku.

Untuk saat ini, hentikan topik dan mulai mencari. Karena GPS Kobashi dan Takemoto ditampilkan sedemikian rupa sehingga saling tumpang tindih, sepertinya tidak salah lagi kalau mereka masih bersama. Kami berjalan mencari grupnya Shiranami. Setelah itu, aku bertanya-tanya apakah kami sudah berjalan ke arah respons GPS Kobashi selama sekitar 10 menit.

“Chihiro-chan !!”

Saat kami menyusuri melalui celah di hutan yang gelap, Kobashi yang membawa ransel menemukan kami.

Ada juga Takemoto dari grup yang sama di sampingnya, yang juga membawa ranselnya. Karena dia membawa ransel di tangannya, sepertinya dia datang untuk mencari Shiranami dengan membawa semua barang bawaannya.


Mengingat bahwa mereka menuju langsung ke arah kami, apakah itu berarti mereka menggunakan pencarian GPS?

Alhasil, kami semua memutuskan untuk pindah ke tempat aku mendirikan tenda.

"Terima kasih ya, Ayanokouji-kun, karena sudah menolong Chihiro-chan.”

“Bukan apa-apa, pada akhirnya aku pikir kalian akan bisa menemukannya, dan kuharap tindakan ku ini tidak berlebihan.”

“Tidak ada yang berlebihan. Jika kami berjalan lebih jauh, kami berisiko cedera, dan yang terpenting, kami akan kesulitan untuk menemukannya.”

Bahkan Takemoto, yang berada di kelas yang berbeda, dikejutkan oleh fakta bahwa Shiranami segera ditemukan.

Jika berbicara tentang pengejaran, satu atau dua kali pencarian GPS mungkin tidak akan cukup.

“Aku ingin menanyakan sesuatu, apa kamu punya transceiver?”

Aku menanyakan itu ke Takemoto pada saat ini.

“Eh? Transceiver? Aku punya———”

Jika dia merasa sedikit berterima kasih, aku mungkin bisa meminjamnya dengan mudah.

“Jika kau tidak keberatan, bolehkah aku berbicara sedikit dengan Sakayanagi? Aku ingin bertanya apakah siswa kelas D yang kukhawatirkan sudah kembali ke titik awal apa belum.”

“Kalau begitu, aku akan bekerja sama. Tolong tunggu sebentar.”

Jika itu yang diperlukan sebagai ucapan terima kasih, Takemoto segera mengeluarkan transceiver tanpa penolakan.

Transceiver yang disediakan sekolah tentu saja digital dan memiliki fitur disebut Mode Rahasia. Jadi bisa dikatakan, ini adalah fitur yang memungkinkan kamu untuk berbicara hanya dengan orang tertentu tanpa disadap oleh orang lain. Grup yang menyiapkan transceiver untuk ujian ini harus menyiapkan kode untuk mencegah kebocoran informasi. Takemoto memanggil Sakayanagi dengan transceiver untuk memastikan apakah sudah terhubung atau belum.

Tak lama kemudian, saat Sakayanagi menjawab, dia memberiku transceiver-nya.

“Aku ingin berbicara dengannya secara pribadi sebentar.”

Melihat ketiganya mengangguk dengan senang hati, aku berterima kasih dan mengambil jarak dari mereka. Tentu saja, aku membuat agar transceiver bisa terlihat untuk menunjukan bahwa aku tidak melakukan hal buruk. Setelah itu, aku berbicara dengan Sakayanagi sebentar dan mengembalikan transceiver itu ke Takemoto.

“Itu saja, Sakayanagi, maaf mengganggumu malam-malam begini.”

Sakayanagi hanya mengembalikan satu kata ke Takemoto yang mengatakan itu.

Panggilan diakhiri dengan pertukaran yang membuktikan bahwa pembicaraan berakhir tanpa masalah.

“Aku tertolong, aku bisa mendapatkan informasi yang diperlukan dari Sakayanagi.”

“Kalau begitu baguslah. Juga, Sakayanagi memintaku untuk memberikan ini pada Ayanokouji.”

“Oh, terima kasih.”

Aku menerima transceiver dari Takemoto.

“Kamilah yang seharusnya berterima kasih, iya~ ‘kan?”

“Un, terima kasih Ayanokouji-kun. Karena sudah menolongku.”

Ketiganya termasuk Shiranami mengucapkan terima kasih sekali lagi, dan kami berempat memutuskan untuk bermalam di sini.

Saat aku mendengar cerita dari kelas A dan kelas C yang biasanya tidak bisa aku dengar, aku tertidur.

Related Posts

Related Posts

Post a Comment