-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Danmachi Volume 16 Prolog


Danmachi Volume 16 Bahasa Indonesia

Prologue : 

Celah kecil antara persahabatan dan hasrat


“Hei, Ryuu.”

Ryuu berbalik melihat ke belakang.

Itu adalah perjalanan pulang yang biasa.

Bersama dengan seorang gadis yang rambut abu-abu terangnya berayun, membawa kantong kertas penuh dengan bahan-bahan yang dibelinya, berjalan kembali ke bar melalui jalan pintas yang tidak populer, yang persis seperti biasanya.

Syr tersenyum pada Ryuu yang berbalik melihat ke belakang.

“Apa kamu menyukai Bell-san?”

———gluduk gluduk.

Ryuu menjatuhkan kantong kertas yang dia pegang di trotoar batu.

Buah-buahan menggelinding dari dalam kantong. Dia berlutut dengan panik, mengumpulkannya seperti karyawan magang yang kikuk.

Telinga tipis elf itu berdenyut-denyut saat dia mengumpulkan buah-buahan itu.

Bukan hanya telinga, tapi wajah, leher, dan tubuhnya gemetar, dan semuanya terasa panas.

Apa? Apa yang dia katakan? Apa yang dia tanyakan?

Begitu tiba-tiba, dalam kehidupan sehari-hari yang biasa, tanpa peringatan apapun.

Sebenarnya apa yang ingin dia konfirmasi dariku?

“A.. a.. a.. apaan sih...!”

Balasan penyangkalannya terdengar melengking dan gugup.

Melihat tingkahnya itu, gadis itu membungkuk dan membantu mengumpulkannya.

Dia menyerahkan buah berwarna merah tua yang dipungutnya kepada Ryuu.

“A... aku, jatuh cinta dengan orang yang kamu cintai itu tida———”

“Ryuu.”

Dia berdiri dan memotong Ryuu yang dengan putus asa mencoba mengatakan sesuatu.

Syr sekali lagi tersenyum.


“Aku menyukai Bell-san.”


Saat itu, Ryuu tidak mengerti mengapa dia terguncang(syok).

Apakah karena Syr tidak pernah secara terus terang mengatakan bahwa dia [menyukai] anak itu?

Apakah karena mata yang menatapnya itu seolah-olah melihat ke seluruh hatinya?

Apakah karena sosok dirinya yang terpantul di matanya itu mengerti segalanya, baik hitam dan putih, kebohongan dan kebenaran, bahwa itu begitu menggelikan?

“Bolehkah aku mengundang Bell-san ke [Festival Dewa] yang akan datang?”

Tidak! (iyada!)

Dia merasakan dadanya menjerit seperti itu.

Dia menertawakan dirinya sendiri bahwa itu adalah hal yang bodoh. Menegaskan bahwa apa yang harus dia lakukan itu sudah jelas, yaitu untuk mendukungnya.

Seharusnya tidak ada yang lain.

Namun, suara detak jantung Ryuu masih tetap kencang.

“Kenapa... kamu menanyakan itu padaku?”

“Karena kupikir aku mungkin akan melakukan hal buruk pada Ryuu.”

Kepada gadis polos yang hampir tidak bertanya sebanyak itu, dia memilih kata dan menjawabnya.

“Entah itu akan berhasil atau gagal, aku mungkin akan membuatmu kecewa.”

“Kita mungkin akan bertengkar dan tidak bisa berbaikan.”

“Makanya aku bertanya padamu.”

Menggunakan semua kata-katanya, menurunkan alisnya dan tersenyum. (Syr)

Ryuu menyadari bahwa itu adalah [ketulusan] nya.

“...A-aku.”

Ryuu tidak bisa menghadapi [ketulusan] nya itu secara langsung.

Bagaimana aku harus menanggapinya? Tidak ada jawaban dalam dirinya, yang merupakan elf termuda dari elf yang berumur panjang dan hanya seorang gadis kecil.

Karena itu dia menundukan mata biru langitnya dan mengingat ikatan paling penting dengan gadis di depannya.

Janji yang diucapkan oleh bibir ini padanya lima tahun lalu.

“...aku, aku sudah diselamatkan olehmu. Aku ingin membalas kebaikanmu. Aku yakin sudah mengatakannya sebelumnya.”

Itulah sebabnya, lalu menarik nafas.

Dia mengucapkan kata-kata berikutnya seolah-olah dia meremasnya.

“Syr... kau boleh menyukai siapapun. Aku akan mendukungmu.”

Di suatu tempat, gumaman kosong bergema di jalan.

Terasa sunyi meskipun mereka ada di tengah kota.

Langit biru yang terpotong oleh gang melihat ke bawah ke arah mereka berdua.

Ryuu masih tidak bisa bertukar pandanganan dengan pemilik mata abu-abu terang yang ada di depan sinar matahari itu.

Sesaat setelah itu.

Gadis itu diam-diam tersenyum.

“Terima kasih.”

Related Posts

Related Posts

2 comments

  1. nah mantep nih ngetl-in danmachi, gw dah baca inggris nya sih. tapi lanjut terus minn👍

    ReplyDelete