-->
olNGIb4NkK5r2x7x4oG3GpEzizVpnY6KNCck9cym

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 4 Chapter 5 Part 6


〇Spekulasi Setiap Orang


6


Seorang pria dengan tubuh besar bahkan di antara para siswa berlari melalui hutan dengan penuh semangat.

Tujuannya hanya satu, mengalahkan Ayanokouji Kiyotaka siswa dari kelas D tahun kedua.

Dalam ujian di pulau tak berpenghuni ini, tidak, tapi dalam akal sehat, kekerasan itu tidak dianjurkan.

Tapi, tidak seperti sekolah dengan kamera pengintai, tidak ada mata pengawas di pulau tak berpenghuni ini.

Tidak mungkin untuk mengkonfirmasi fakta yang sebenarnya hanya dengan 1 jam tangan yang dipakai.

Pengepungan Ayanokouji yang diusulkan oleh Tsubaki Sakurako.

Seorang pria yang tidak tertarik pada hal-hal seperti itu sejak awal, tapi ada alasan kenapa dia ikut serta dalam operasi tersebut.

Menemukan satu orang di pulau tak berpenghuni yang luas tidaklah mudah.

Selain membutuhkan pencarian GPS berulang kali untuk menemukannya, jika penghalang muncul itu akan percuma saja.

Jika ada orang yang mengambil komando, itu juga akan membantu menghilangkan penghalang tersebut.

Karena itulah Housen memutuskan untuk berpura-pura mengikuti instruksi Tsubaki.

Untuk menemukan Ayanokouji tanpa bersusah payah apa pun dan membunuhnya satu lawan satu tanpa ada yang menghalangi.

Saat jarak dengan Ayanokouji semakin dekat, Housen membuang transceiver-nya.

Mulai sekarang dan seterusnya, muncullah niat dia untuk tidak mematuhi Tsubaki.

Dia mengeluarkan tablet miliknya dan melakukan pencarian GPS untuk persiapan akhir.

Dia memastikan bahwa GPS Ayanokouji Kiyotaka ada pada jarak sekitar 300 meter di depannya.

Jaraknya lebih dekat daripada siswa tahun pertama lainnya.

Dan tinggal sedikit lagi.

Housen sudah menggigit kegembiraannya karena bisa melakukan pertarungan yang serius.

Tapi———

Satu respon GPS menghalangi matanya seolah itu memblokir rute Housen.

Mengira itu hanya kebetulan, Housen bahkan tidak mencoba memastikan siapa pemiliknya.

Berhasil menangkap Ayanokouji di depan bidang penglihatannya itu.

“Ketemu juga kau, Ayanokouji-senpai!”

Ayanokouji melihat ke belakang saat menyadari Housen berteriak karena tidak bisa mengendalikan kegembiraannya.

“Housen, ya?”

Ayanokouji dengan tenang menatap Housen dan berhenti berjalan.

“Aku sudah lama menunggu momen ini!”

“Aku pikir kau akan datang menemuiku lebih awal. Ternyata kau lebih tenang dari yang kuharapkan.”

“Itu karena aku malas jika ada yang menghalangi saat aku akan bertarung.”

“Apa yang sedang kau bicarakan?”

“Jangan berlagak bodoh. Peringatan lembut dari itu anak, aku tahu kalau Nanase pergi untuk mengoceh.”

“Jadi begitu. Apa kau repot-repot memberi tahu Nanase tentang serangan itu sehari sebelumnya dan bersiap untuk itu?”

“Aku tidak menyukainya dan aku pikir itu tipuan, tapi itu usulan yang bagus untukku. Aku memutuskan untuk menggunakannya dengan baik.”

Tinju tangan kiri dan kanannya yang digenggam kuat bertemu, dan Housen berteriak.

Dalam waktu kurang dari 10 detik, dia tidak akan ragu untuk memulai pertarungan yang serius.

“Bukankah itu adalah harapan yang mustahil? Housen.”

“Ha?”

Seorang pria tanpa bayangan berdiri di tempat ini, yang seharusnya menjadi tempat satu lawan satu.

“Kau cepatlah pergi dari sini. Karena kau hanya menghalangi.”

Pria itu sedang menunggu seolah-olah dia telah meramalkan kemunculan Housen.

Ayanokouji dengan santai menatap pria itu dan menghilang ke dalam hutan yang lebih dalam.

Housen ingin segera mengejarnya, tapi sulit untuk mengabaikan pria di depannya.

“Kenapa kau bisa ada di sini?———Ryuuen.”

“Itu kata-kataku, Housen. Seharusnya tidak perlu bagimu untuk ada di tempat seperti ini, bukan?”

Dengan satu kata dari Ryuuen itu, Housen segera mengerti situasinya.

“Aa?...Hah, tampaknya apa yang kupikirkan entah bagaimana telah bocor.”

Housen, yang segera mengerti situasinya, tertawa sangat senang.

“Ternyata bukan kebetulan bahwa tahun pertama yang lain tertangkap oleh tahun kedua.”

Semua orang yang dikirim oleh Tsubaki untuk memburu Ayanokouji tidak beranjak dari tempatnya sehingga tumpang tindih dengan GPS siswa tahun kedua.

Itu semua membuktikan bahwa ada orang yang menendalikan angkatan di tahun kedua, seperti Tsubaki yang menendalikan tahun pertama.

“Jadi kamu, ya? Tidak, rasanya tidak seperti itu.”

Jika Ryuuen yang memegang kendali, tablet dan transceiver sangat diperlukan.

Tapi, seperti yang terlihat Ryuuen sepertinya tidak membawa ransel.

Selain itu, akan sulit bagi petarung garis depan untuk memimpin banyak grup.

“Udah selesai belum ngatur situasinya?”

“Aku gak ngerti. Aku mau kemana itu tidak ada hubungannya denganmu.”

Dia mengerti situasinya, tapi tidak mengerti kenapa Ryuuen menjadi anggota untuk mencegah Ayanokouji dikeluarkan.

“Tentu saja ada, sayangnya.”

Sambil tertawa kecil, Ryuuen perlahan mulai berjalan ke arah Housen.

“Karena banyak gerak dompetku jadi kering. Aku bertindak sebagai tentara bayaran seperlunya.”

“Jadi soal uang, ya. Tapi, apa kau pikir kau bisa menghentikanku?”

“Lah, memangnya kau pikir tidak ada yang bisa menghentikanmu?”

Jarak dekat. Dua orang yang saling memukul dengan senyum menakutkan dalam jarak jangkauan tangan.

Yang mengulurkan tangan pertama adalah Ryuuen. Tanpa mengalihkan pandangannya dari Housen, dia mengarahkan tinju tangan kirinya ke arah Housen. Karena kesenjangan fisik yang terdiri dari perbedaan antara kekuatan dan stamina yang nyata, serangan itu diarahkan ke dagu.

“Otto...bukankah ini tangan kiri yang cukup nakal?”

Meskipun dia mengambil inisiatif, Housen yang sudah siap untuk bertempur tidak lengah dan mengambil tangan kiri Ryuuen dengan ringan di depan dadanya, membuka mulutnya dan tertawa.

“Jangan beri aku napas bau itu, gorila.”

“Kau hanya pandai bicara, tunjukkan harga diri dan kemampuanmu sebagai siswa tahun kedua? Ha!

Ketika dia berpikir bahwa tinju kirinya telah dilepaskan sejenak, segera tangan itu dipegang lagi dan ditariknya.

Housen kemudian membenturkan dahinya sendiri ke dahi Ryuuen.

“!!”

Ryuuen terhuyung-huyung karena serangan tak terduga yang mengguncang otaknya dengan keras.

Bukan karena Ryuuen belum mengalami banyak hal.

Sebaliknya, dia memiliki rekam jejak pertempuran di garis depan jauh lebih banyak daripada penjahat pada umumnya.

Tapi, jumlah lawan yang dihadapi oleh Housen beberapa kali lebih banyak.

“Oraa!”

Tidak bisa mempertahankan postur tubuhnya untuk menghindar, Ryuuen menerima tendangan dari depan Housen di perutnya. Dia jatuh dengan kuat dari punggungnya ke tanah dan menunjukkan celah yang besar, tapi Housen tertawa keras dan tidak beranjak dari tempatnya.

“Sudah 10 detik sejak kau menggonggong dengan keras, bukan? Jangan membuatku tertawa.”

“Ha... Keras sekali sialan, kau berkepala batu, ya. Jangan-jangan isinya memang batu, ya? Gorila sialan.”

Segera setelah berdiri, Ryuuen mengatakan sesuatu seperti memprovokasi Housen lagi.

Setelah mendengar itu, Housen menggaruk bagian belakang kepalanya dengan ringan seolah-olah dia terkejut.

“Sepertinya aku berharap terlalu banyak. Sudah kuduga kalau kau saja tidak akan bisa memuaskanku.”

“Aku tidak berpikir ada orang yang bisa memuaskanmu.”

“Tentu saja ada, Ayanokouji yang berjalan tanpa beban di belakangmu itu. Cepat beri aku jalan, biar ku habisi dia.”

“Ha?”

Mendengar kata-kata dari Housen itu, senyum Ryuuen yang ada selama ini telah menghilang.

“Apa, ternyata kau juga tahu soal itu, Housen?”

“Tahu? Oh, maksudmu soal penampilan luarnya yang biasa saja tapi wajah aslinya berbeda, ya.”

“Kupikir hanya sedikit orang yang tahu wajah aslinya, tapi tak kusangka kita memiliki kesamaan seperti itu.”

Mereka berbalas monolog seolah saling berbicara sehingga mereka bisa meyakinkan satu sama lain.

“Untuk pertama kalinya aku tertarik padamu, Housen. Kapan dan di mana kalian bertarung, dan bagaimana hasilnya?”

“Jadi kau juga terobsesi dengan Ayanokouji, ya, Ryuuen.”

Balas dendam pada Ayanokouji juga menjadi alasan terbesar kenapa Ryuuen terus bertahan di sekolah ini.

Selama ada alasan itu, dia tidak akan membiarkan Ayanokouji kalah, entah itu dalam perkelahian atau bukan.

Bahkan jika Housen yang ada di depannya adalah petarung yang tidak sesuai dengan batasan siswa SMA.

Housen mendengus saat dia merasakan panas bercampur dengan sesuatu seperti niat membunuh.

“Tenang saja. Aku belum selesai dengannya, atau mungkin harus kukatakan kalau itu bahkan belum dimulai.”

Sambil menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri serta membunyikan tulangnya, dia mendekati Ryuuen.

“Aku belum pernah melihat siapa pun yang menghentikan tinjuku dengan tenang. Tidak, lebih dari itu, aku rasa aku tidak akan pernah lagi melihat orang yang bahkan tidak merasakan sakit saat ditusuk dengan pisau.”

Kata-kata pisau dan ditusuk segera menggali ingatan di kepala Ryuuen.

Ayanokouji memiliki perban di tangannya untuk sementara waktu, dan bekas luka itu.

“Cih, kalian sudah melakukan sesuatu yang tampaknya sangat menarik tanpaku, ya.”

Meskipun Ryuuen menerima dua pukulan, tidak ada perubahan warna matanya saat dia melihat Housen.

Dia tidak meningkatkan kewaspadaannya bahkan setelah melihat penampilan yang menakutkan seperti itu, dan Housen terus menekan.

Dari awal, dia tidak memiliki kesombongan atau kecerobohan dalam perkelahian dan selalu berada dalam posisi bertarung.

Apalagi jika musuh yang ada di depannya adalah Ryuuen yang dulu terkenal kejam di SMP.

Saat dia menendang tanah dan mendekat dengan kecepatan yang tidak tampak seperti bertubuh besar, dia mengibaskan pertahanan Ryuuen, yang mencoba melindungi wajahnya, dan memutar tinjunya ke arah wajah Ryuuen.

Tangan itu diayunkan sedemikian rupa sehingga tidak aneh jika hidungnya akan patah jika tanpa perlindungan tangan.

Sesaat setelah berdiri, Ryuuen kembali terhempas ke tanah lagi.

Housen yakin bahwa dalam pertarungan satu lawan satu perbedaan kemampuannya jelas dengan pukulan itu.

Ryuuen segera mengangkat bagian atas tubuhnya, tapi sebuah tendangan kuat mengenai wajahnya seolah-olah momen itu sudah diincar, dan dia jatuh ke belakang dengan kuat.

“Sepertinya kau sibuk tidur dan bangun, ya?”

Kurang dari satu menit setelah pertarungan dimulai, kemenangan atau kekalahan sudah tampak jelas bagi semua orang.

“Sakit brengsek...”

“Hahaha! Seperti yang kuduga Ryuuen! Kau hanya sebatas itu!”

Housen berteriak kegirangan, tapi itu adalah situasi yang bisa dibilang diteriakan pada saat yang bersamaan.

Sejak awal, ada perbedaan kemampuan bertarung yang tidak bisa dijungkirbalikkan.

Meski demikian, keinginan Ryuuen untuk bertarung tidak menunjukan tanda-tanda putus sama sekali. 80% dari lawan yang bertarung Housen patah semangat setelah hanya menerima satu kali pukulan. 10% sisanya menggertak. Dan 10% sisanya putus asa setelah menerima dua atau tiga pukulan.

Tapi, meski Ryuuen yang ada depannya menerima kerusakan, tidak ada perubahan warna matanya.

Itu sebabnya dia mencoba membuatnya memahami perbedaannya dan menyerah menggunakan kata-kata.

Ryuuen selangkah lebih maju dari pertukaran mental semacam itu.

“Sepertinya kau bersenang-senang, tapi apa kau pikir kau sudah menang?”

Sambil merasakan sakit, Ryuuen mengangkat bagian atas tubuhnya lagi tanpa menghilangkan senyumnya.

“Jangan membutku tertawa, apa kau pikir orang sepertimu mampu melawanku?”

Mendekat sampai didepannya, Housen meraih dada Ryuuen.

“Pada akhirnya, kau hanyalah pria yang hanya bisa memanjat menggunakan para kroco.”

“Sekarang ini menang satu lawan satu bukanlah segalanya, bukan? Sebenarnya, saat di SMP, evaluasi publik tentang aku dan kamu itu sama.”

Menunjukkan fakta, Ryuuen mencoba mengguncang Housen.

“Karena sepertinya kau diam-diam berlari ke sana kemari dan menghindari konfrontasi langsung. Itu usaha yang menyentuh.”

Guncangan itu tidak sepenuhnya tidak berarti, tapi itu tidak cukup efektif untuk menyebabkan kerusakan.

Keunggulan luar biasa Housen dalam beradu tinju, posisi itu tidak berubah sama sekali.

Ryuuen yang masih digenggam, menggoyangkan tangan kirinya dengan kuat.

Kemudian dia merentangkan tangannya ke dekat Housen dan melemparkan tanah yang dia pegang ke matanya.

“Uh!”

Dia menunjukan serangan mendadak, tapi Housen memblokir tanah itu dengan tangannya yang lain.

“Itu naif!”

“Apa benar begitu!”

Kali ini, dia melambaikan tangan kanannya lagi dan pasir yang telah digenggamnya juga dilemparkan ke mata Housen.

“Sudah kubilang naif!”

Housen dengan mudah menggunakan tangannya untuk menghindari pasir yang dilepaskan dari tangan kanan dominannya.

Sejak saat dia mengambil Ryuuen yang jatuh, dia sudah menyadari kedua tinju itu tergenggam.

“Spekulasi untuk kroco dalam perkelahian sudah ditentukan sejak lama!”

Kali ini, segera setelah pengulangan itu, tinju Housen dengan cepat mengenai wajah dan sisi kanan Ryuuen.

Pukulan seperti jab yang menekankan kecepatan daripada kekuatan.

(Tln: jab = tusukan)

Kali ini, dia menembakan secara bergantian di sisi kiri dan kemudian di sisi kanan.

Serangan seperti petinju yang melemparkan tinjunya berulang kali pada karung tinju.

Mata Ryuuen menusuk mata Housen sesaat sambil menerima dorongan yang begitu kuat hingga kesadarannya terbang. Segera setelah itu, Housen yang sedang melihat Ryuuen jatuh seperti terhempas, mengalihkan pandangannya sesaat.

“tsu...to”

Ryuuen yang memutar tubuhnya saat dikalahkan, melepaskan tendangan berputar tepat sebelum dia jatuh.

Itu menyerempet hanya di depan dagu Housen. Housen yang tidak berniat menerima satu serangan pun, merasa frustrasi, meraih, dan meremas poni Ryuuen dengan tangan kirinya.

“Apa kau puas sudah membalas pukulan? Ha!? Ku bunuh kau brengsek!”

Sebelum tangan pelindung naik, pukulan tinju kanan berulang kali mendarat ke perut Ryuuen.

“Tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkanku dalam perkelahian!”

Saat pukulan ke-7 menembus, sebuah peringatan terdengar dari jam tangan Ryuuen.

“Hahaha! Kau berpura-pura tenang, tapi tubuhmu berteriak karena sudah mencapai batasnya, ya? Sepertinya jam tangan itu lebih jujur dari dirimu!”

Jam tangan yang mendeteksi kelainan seperti detak jantung membunyikan peringatan.

“Serius, dasar gorila... Aku hanya akan mengakui kebanggaanmu dalam perkelahian...”

Housen yang melihat pujian itu sebagai kata-kata menyerah, melepaskan poninya dengan senyuman kemenangan. Tidak bisa tetap berdiri tegak, Ryuuen pun jatuh ke tanah.

Peringatan bahaya itu bergema di hutan yang kosong.

“Bukankah peringatan bahaya sudah mulai berbunyi? Itu artinya tak lama lagi kau mendekati batasmu, bukan? Sudah jujur saja tidak usah ditutupi?”

“Ha... Hentikan lelucon itu. Bukankah hanya jam tangannya saja yang rusak?”

Ryuuen melihat ke bawah pada jam tangannya dan tertawa, tapi jelas bagi semua orang bahwa cederanya sudah besar.

Melihat sosoknya yang menyedihkan itu, Housen meludahi kakinya dengan sikap bosan.

“Sampai jumpa Ryuuen. Kau bukanlah orang yang bisa mengalahkanku.”

“Tunggu. Kenapa kau merasa seperti kau sudah menang.”

“Hah?”

“Apa aku pernah sekali saja mengatakan aku kalah darimu?”

Housen kewalahan oleh kata-kata itu, tapi dia mengencangkan pikirannya lagi. Meskipun dalam keadaan bullying sepihak, mata Ryuuen tidak mati seperti yang dia katakan.

“Aku hanya akan mengakui kekuatan mentalmu itu. Tapi... aku tidak bisa meladenimu selamanya!”

Manusia itu lemah terhadap rasa sakit.

Bahkan jika dia kuat, itu akan sama menyakitkan jika dipukul dengan kekuatan yang kuat seperti tinju Housen.

Tapi, ini hanya masalah berapa banyak pukulan yang bisa dia tahan.

Terlebih lagi saat dia sanggup menahannya, tidak mungkin untuk membalikkan perbedaan yang luar biasa itu.

Bahkan jika peringatan kedua berbunyi, dia tidak akan kehilangan ketenangannya dan secara akurat akan menimbulkan rasa sakit pada Ryuuen.

Setelah diserang Housen berkali-kali, jam tangan Ryuuen akhirnya berubah menjadi peringatan darurat. Jika dibiarkan apa adanya selama 5 menit atau lebih, staf dan tim medis akan pergi ke lokasi.

“Sepertinya tubuhmu jujur. Sudah menyerahlah, terima saja situasi tanpa harapan ini.”

“Aaa... sungguh rasa sakit yang nikmat...”

Meskipun demikian, dia berdiri dengan tawa yang menakutkan tanpa melihat jam tangannya sama sekali.

Disini untuk pertama kalinya, Housen mengetahui bahwa kekuatan mental Ryuuen yang tak tergoyahkan adalah nyata.

“Apa-apaan kau ini. Berdiri saja tidak bisa, kenapa kau begitu ngotot? Tidak ada gunanya bagimu untuk bersikap keras kepala di sini.”

Dia mendekatkan jam tangan ke telinganya agar dapat digunakan sebagai jam alarm untuk peringatan darurat yang keras.

“Bersikap keras kepala? Huh, gagasan itu sendiri sudah salah.”

Pada saat itu, Housen mengira bahwa Ryuuen akan segera mematikan peringatan darurat.

Tapi pada akhirnya, tanpa mematikan peringatan darurat, Ryuuen menurunkan tangannya dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.

“Pertarungan kita belum berakhir.”

“Apa kau tidak waras?......Kalau para guru datang ke sini, kau akan mundur loh?”

“Jika demikian, apa kau akan dikeluarkan setelah aku mundur?”

Jika pihak sekolah melihat situasi ini, Ryuuen bertanya bagaimana cara menilainya.

Housen menerima sedikit tendangan di dagunya, tapi luka luar itu sama dengan nol.

Kemungkinan bahwa pihak sekolah akan menafsirkan bahwa telah terjadi kekerasan sepihak tidak dapat diabaikan.

“Karena tidak bisa mengalahkanku kau mau pura-pura jadi korban, dasar payah. Dasar payah kau, Ryuuen.”

Bergantung pada kondisinya, ini adalah posisi untuk membalikan keadaan, tapi Housen tidak takut kalau hanya sebatas itu.

Lagipula selama dia sudah memutuskan untuk membuat Ayanokouji menyerah dengan kekerasan, poin itu sudah berlalu.

“Jika kau takut pada guru, bukankah lebih baik kau pergi dari sini?”

“Menyingkirlah.”

Menilai bahwa ini adalah strategi Ryuuen untuk tidak mematikan peringatan darurat, Housen bergerak maju lagi.

“GPS-ku sudah lama dalam keadaan mati. Tidak ada salahnya menghabisimu sebelum guru datang.”

Bahkan jika pihak sekolah bergegas ke tempat ini, itu akan memakan waktu paling cepat 30 menit.

“Kuku, harusnya memang begitu.”

Ryuuen menyambut Housen, yang tidak takut akan ancaman, dan bahkan tidak mencoba mengeluarkan tangannya dari sakunya.

“Jika kau tidak ingin berlindung, jangan sampai kau tidur lagi!”

Housen mengepalkan tangan kanannya, tidak ingin membuang waktu lagi.

Ryuuen menarik kedua tangannya dari sakunya, tapi kedua tangannya juga masih menggenggam lagi.

“Kurasa trik itu tidak akan berhasil lagi untukku!”

Housen secara naluriah tahu bahwa Ryuuen sedang memegang sesuatu, tapi benda itu tidak akan pernah menghentikannya.

Pukulan lurus lurus penuh dikirim ke arah Ryuuen untuk mematahkan semangatnya.

Melihat itu, Ryuuen menerimanya dari depan tanpa membuka kedua tinju yang digenggamnya.

Tangan Housen mencoba membuka pertahanan itu, tapi segera setelah itu———.

“Doryaaaaaa!” (teriakan)

Dua bayangan muncul dari titik buta pepohonan dan muncul di belakang Housen.

“Apa———!?”

Tidak heran jika Housen dikejutkan oleh kehadiran yang tidak terduga itu.

Ketika dia melakukan pencarian GPS beberapa menit yang lalu, tidak ada reaksi selain Ayanokouji dan Ryuuen di sekitarnya.

Biarpun mereka mengincar tempat ini dalam garis lurus segera setelah pertarungan dimulai, mereka tidak akan pernah bisa mencapainya.

Meskipun demikian, dua pria memegang tangan kiri dan kanan Housen. Keberadaan mereka seperti hantu.

Bukan hanya Ishizaki, tapi juga Albert yang memiliki tubuh sebaik Housen, tidak akan bisa tetap di tanah bahkan untuk seseorang seperti Housen.

Albert menahan tangan kanannya, yang merupakan tangan dominannya, dan Ishizaki menahan tangan kirinya di sisi lain.

“Apa-apaan kalian!!”

Mengamuk dengan putus asa, tapi tidak mudah untuk melepaskan diri dari keduanya, bahkan jika itu adalah Housen.

Saat berikutnya, Ryuuen yang tanpa pertahanan, tertawa menakutkan terbakar dalam ingatan Housen.

“Ini soal sederhana. Jika jam tanganmu rusak, itu tidak akan dikenali oleh GPS.”

Fungsi GPS Ishizaki dan Albert di nonaktifkan pada tahap awal, lalu mereka pergi menemani Ryuuen.

Ketika dia mengira itu satu lawan satu, Housen menyadari bahwa dia sudah masuk ke dalam rencana Ryuuen.

“Tak kusangka, apa kau akan menjadikannya tiga lawan satu? Hah!?”

“Jangan menggonggong terlalu keras, gorila. Eksekusi baru akan dimulai?”

Kedua tinju yang telah digenggam lagi berulang kali dihantamkan ke wajah Housen tanpa ragu-ragu.

Sambil memutar wajah Housen ke kanan dan ke kiri, dia mengulanginya tanpa henti sampai lututnya menyentuh tanah.

Housen terus menggonggong saat dia menahan lututnya yang gemetar, tapi dia terus memukulinya tanpa mengendurkan tangannya.

Karena kerusakan yang menumpuk dari waktu ke waktu, lutut Housen patah dan dia jatuh ke tanah.

Saat kepala Housen turun ke posisi yang pas, Ryuuen menahan kepala Housen dengan kedua tangannya dan melakukan tendangan dengan lutut ke arah hidungnya.

“Gah...!”

Housen jatuh dari punggungnya ke tanah untuk pertama kalinya, membuat suara yang tak terucap. Ryuuen memberikan sinyal mata pada keduanya dan meminta mereka menahan tangannya sama seperti  saat dia berdiri.

“Yang namanya gorila harus selalu diborgol, ’kan. Yah, bukankah kau sudah melakukan banyak hal, Housen.”

Ryuuen mengangkangi Housen sambil menyisir rambutnya.

“Beraninya kau, meremehkanku... dasar bajingan!”

“Meremehkanmu? Ha, apa yang kau bicarakan?”

“Itu kamu, kroco sialan yang bahkan tidak bisa bertarung satu lawan satu dengan layak!”

“Kuku, jangan membutku tertawa. Aku tidak cukup bodoh untuk melawan gorila satu lawan satu.”

Mengatakan itu, Ryuuen mengangkat tinjunya sambil tertawa.

Dan tanpa ragu, dia memukul pipi Housen dengan kuat.

“Oh ya, tenang saja, Housen. Aku tidak akan menyuruhmu menangis. Bahkan jika kau meminta maaf, tidak akan ada yang berubah.”

Meski dipukuli tanpa perlindungan, Housen tidak terlalu lemah hingga tertekan. Sebaliknya, dia semakin marah dan mengamuk. Albert dan Ishizaki bekerja keras untuk menahannya.

“Bajingan!! Lepaskan, kumpulan kroco!!”

“Jangan mengamuk, hidangannya baru akan dibuat? Aku akan mengikismu sampai bersih agar kau bisa menikmatinya.”

Dia mengayunkan tinjunya lagi dan lagi, tapi Housen terus menggonggong alih-alih merengek.

“Sepertinya orang yang membual tentang perkelahian memang tangguh, ya.”

Baik secara fisik maupun mental, itu membuktikan bahwa Housen telah bangkit dalam satu pertarungan.

Misalkan komposisinya tiga lawan satu sejak awal.

Ryuuen mungkin akan memutuskan bahwa posisi mereka tidak menguntungkan.

Itu saja juga merupakan bukti dia mengakui kekuatan manusia yang bernama Housen Kazuomi yang ada di depannya.

Tapi di medan perang, seringkali keputusan dadakan menentukan kemenangan atau kekalahan.

Satu pukulan, sama seperti untuk memutuskan hasil bahwa satu gugur.

Dengan kecerobohan dan kesombongan sekejap saja, posisi mereka menjadi terbalik. Setelah itu, eksekusi sepihak oleh Ryuuen diulang-ulang, dan tentu saja Housen juga kehilangan kekuatan dari tubuhnya.

“Keras cuk. Tanganku mulai sakit.”

Meniup tangannya yang memerah sambil tertawa.

“Hah, hah... bajingan...”

Dia mencoba melepaskan diri dari Albert menggunakan tangan dominannya yaitu tangan kanannya, tapi tidak sanggup.

“Aku tidak menyangka orang seperti dia menjadi bawahanmu... Ini sungguh tidak terduga.”

Housen memelototi Albert yang mungkin tidak bisa dia kalahkan dalam perbandingan kekuatan saja.

“Yo badan besar... Kenapa orang sepertimu bisa tunduk dengan Ryuuen. Ha?”

Dalam kekuatan bertarung sederhana, jelas Albert memiliki kekuatan yang lebih dari Ryuuen.

“Yah, Albert adalah orang yang tidak bisa aku kalahkan dalam sekali atau dua kali pertarungan bahkan jika dia melakukan handstand.”

“Lalu kenapa?”

“Kau tidak akan mengerti, Housen. Ini bukan hanya tentang membanggakan kekuatan manusia super.”

Bahkan dengan penjelasan seperti itu, Housen yang selalu bertarung sendirian, masih jauh dari pemahaman.

“Kuku. Yah, dalam kasus Albert, itu hanya terlalu banyak persahabatan.”

Dia tidak menyukai perkelahian yang tidak perlu dan memutuskan bahwa mengikuti Ryuuen adalah cara terbaik untuk mengatur kelas.

Itulah kenapa dia membantu tanpa ragu-ragu bahkan dalam tindakan yang terkadang kejam. Dia mungkin menyakiti teman-temannya untuk sementara dengan mengikuti instruksinya, tapi dia yakin itu pada akhirnya akan menguntungkan teman sekelasnya dan memutuskan untuk mengikuti Ryuuen. Aslinya, dia adalah pria yang baik hati yang tidak menyukai kekerasan.

“Jangan pikir dengan ini kau sudah menang, Ryuuen!”

“Aku memang tidak berpikir kau akan terima dengan ini. Dengan dikalahkan seperti ini. Tapi itu tidak terlalu penting bagiku. Orang yang berdiri di akhir adalah pemenangnya.”

Bagi Ryuuen yang sejak awal tidak memiliki estetika satu lawan satu, provokasi Housen tidak ada artinya. Sebaliknya, dia tenggelam dalam kegembiraan menerima tangisan sedih si pecundang.

“Gu, ku, so gah...!”

Jika lusinan pukulan dilemparkan, bahkan Housen akan mencapai batasnya. Tidak mudah untuk mengalahkan Ryuuen, bahkan jika tidak ada lagi orang yang memegangi tangan kiri dan kanannya.

“Ingat baik-baik... bahkan jika kau menang di sini, aku akan langsung membunuhmu saat bertemu lagi denganmu.”

“Aku tidak ingin memancing pembalasan dendam dari gorila, tapi... kalau kau mau melakukannya, lakukanlah dengan baik, oke? Menang bukanlah perkara sederhana. Jika kau memukulku dan akhirnya dikeluarkan, itu adalah kekalahanmu.”

“Banyak baco———!”

Ayunan pukulan lurus Ryuuen mengenai pipi Housen dan menuai kesadarannya.

Kesadaran Housen terbang, dan pertarungan itu selesai, Ryuuen perlahan berdiri.

“Fuuh... itu pertarungan yang melelahkan.”

Ryuuen menoleh ke langit sambil menyeka darah di tinjunya, dan menghembuskan rasa lelah sambil menghela nafas.

“Tetap saja, dia pria yang sangat konyol... aku benar-benar mengira kalau dia itu monster.”

“Hanya orang bodoh yang bertarung dengannya dari depan.”

Albert setuju dengan kata-kata itu dan mengangguk.

“Kalian juga kerja bagus.”

Kata-kata terima kasih diucapkan oleh Ryuuen untuk menceritakan betapa sengitnya pertarungan ini.

“B-Bukan apa-apa! Kami hanya mendukung! Ya, ‘kan, Albert!”

Baik Ishizaki maupun Albert tidak memiliki luka luar yang signifikan atau terlihat.

Ryuuen telah memutuskan bahwa tidak akan melibatkan mereka dalam pertarungan ini.

Sebab, jika jumlah korban luka bertambah sedikit, perkelahian ini tak akan berakhir dengan perkelahian sederhana.

“Sebaiklah kalian segera pergi. Karena tidak aneh jika para guru bisa datang ke sini kapan saja.”

Sejumlah waktu telah berlalu sejak peringatan darurat dari jam tangan Ryuuen berbunyi.

“Ano, bagaimana dengan Ryuuen-san...?”

“Yah, keadaanku sudah begini. Bahkan jika aku ingin melanjutkan, mereka tidak akan mudah mengizinkan.”

Seiring dengan Housen yang jatuh, luka yang ditimbulkan pada Ryuuen agak serius.

“Aku akan mundur dengan Housen apa adanya.”

“Itu, apa kau yakin?”

“Aku mempercayakan semua hal yang diperlukan pada Katsuragi. Meskipun untuk menjadi pemenang di tiga grup teratas akan jadi lebih sulit.”

Jika Housen ditinggalkan di sini, masih ada kemungkinan dia akan menuju ke tempat Ayanokouji.

Katakanlah jika Ryuuen yang terluka menghilang, itu saja akan menjadi masalah.

Di sini, Ryuuen dan Housen bertarung satu lawan satu dan mundur bersama.

Sejak awal, dia memutuskan bahwa skenario itu adalah satu-satunya metode yang paling bersih.

“...Itu sangat disayangkan.”

Grup Ryuuen dan Katsuragi yang berada di peringkat ke-5 pada tahap kemarin, memiliki sedikit kemungkinan untuk naik lebih tinggi. Ishizaki menyayangkannya.

“Bukan seperti itu.”

Seolah mengingat sesuatu, Ryuuen tertawa tipis.

Tidak tahu alasannya, Ishizaki dan Albert saling memandang.

“Aku akan memberitahu kalian segera. Pokoknya sekarang kalian pergi saja.”

Untuk memastikan bahwa Ishizaki dan Albert bertahan sebagai sebuah grup, dia ingin menghindari kekosongan dalam grup.

Untuk itu, mereka harus mengganti jam tangan dan bergabung dengan grup secepat mungkin.

Setelah keduanya berlari ke titik awal, Ryuuen duduk menggunakan tubuh Housen yang tidak sadar sebagai bangku.

Related Posts

Related Posts

1 comment