-->
olNGIb4NkK5r2x7x4oG3GpEzizVpnY6KNCck9cym

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 4 Chapter 6 Part 4


〇Seorang Pria Bernama Tsukishiro


4


Aku tiba di I2 setelah melintasi perbatasan, tapi tidak ada sinyal kedatangan dari jam tangan.

Aku biasanya meragukan kemungkinan kesalahan GPS, tapi kali ini keraguan itu tipis.

Jika demikian, aku harus untuk bergerak sedekat mungkin ke bagian tengah area untuk menutupi kesalahan dari jam tanganku. Tentu saja, aku tidak pernah mengalami situasi seperti ini dalam dua minggu terakhir. Ini mungkin salah satu yang tak terhindarkan, termasuk fakta bahwa ujung pulau di I2 berada di dekat pusatnya. Ini dirancang sedemikian rupa sehingga jika Ichinose tidak mendatangiku dan aku masuk tanpa mengetahui apa pun, aku akan pergi dan mencapai tempat itu.

Aku berjalan perlahan di jalan yang tidak mungkin bagiku untuk melarikan diri.

Setelah aku berjalan selama kurang dari 10 menit, hutan dalam secara bertahap mulai menyerap cahaya, dan aku bisa melihat laut biru dan langit biru menyebar di luar pengelihatanku.

Bahkan setelah aku sampai pada titik ini, jam tanganku tidak menunjukan respons.

Sebagai gantinya, dua orang dewasa berdiri menatapku di pantai kecil di depanku.

Salah satunya adalah pria yang sangat kukenal, Direktur Pengganti Tsukishiro. Jersey yang dia pakai itu terlihat sedikit longgar.

Dan satunya adalah Shiba-sensei, seorang guru wali kelas dari kelas D tahun pertama.

Ini kombinasi yang aneh, tapi sepertinya memang begitu.

“Anda sudah memutuskan untuk mengambil pendekatan yang sangat agresif, ya, Direktur Pengganti Tsukishiro.”

Saat aku berjalan di sepanjang pantai, aku berkata begitu.

“Apa boleh buat karena tidak ada yang berhasil. Ini adalah pilihan terakhir yang bisa ku ambil.”

Aku melihat kembali 14 hari terakhir dari ujian khusus kali ini. Jelas terlihat bahwa menarikku ke I2 adalah [jebakan] terakhir dari Tsukishiro.

Tapi itu bukan berarti tidak ada gunanya ketahuan.

Tidak ada area yang ditunjuk atau tugas di sekitar area timur laut ini, jadi tidak ada siswa lain yang akan datang. Tapi pada saat yang sama, pasti ada masa depan di mana aku akan meninggalkan area yang ditunjuk dan mencari tugas. Atau masa depan ketika aku bertindak dengan Nanase atau seseorang dari table yang sama.

Tidak mungkin bagi Tsukishiro untuk mengatur tempat terakhir ini hanya karena keberuntungan. Artinya dari sejak sebelum kemarin, kedatanganku ke sini adalah masa depan yang [ditakdirkan].

Kekalahan Nanase dariku dan setelah itu dia melakukan tindakan lain. Berharap agar aku bertindak sendirian untuk bersembunyi di peringkat ke-11 dan mengincar posisi teratas. Waktu dan detail serangan tahun pertama.

Tidak diragukan lagi bahwa semuanya sudah direncanakan oleh pihak Tsukishiro sejak awal.

“Jadi, apa yang akan terjadi padaku setelah ini?”

Perahu kecil yang tercermin di sudut penglihatan ku diombang-ambingkan oleh ombak sedang berlabuh dengan mesin menyala.

Dengan kata lain, itu sudah di siapkan untuk bisa berangkat kapan saja.

“Jika memungkinkan, aku ingin kau dengan patuh mengikuti instruksi dan naik ke kapal bersama kami.”

“Dengan kata lain pernyataan pengunduran diri secara sukarela dari Ayanokouji Kiyotaka, ini akan menjadi solusi yang damai.”

Sebagai tambahan, Shiba-sensei mengatakan itu untuk melengkapi.

“Apa anda pikir aku akan memilih opsi untuk naik kapal dengan patuh?”

“Memang. Jika kau mau patuh, kau bahkan tidak harus pergi ke pulau tak berpenghuni.”

“Meski begitu, aku tidak memiliki hubungan yang khusus dengan Shiba-sensei di sekolah, itu artinya dia adalah orang yang berada di pihak Direktur Pengganti Tsukishiro, ya.”

Mungkin dia memainkan peran sebagai pengawas Amasawa karena dia tidak memiliki kontak denganku. Sepertinya kebutuhan itu sudah hilang dan dia sudah tidak punya niat untuk bersembunyi lagi.

Aku agak curiga dengan area timur laut di mana tidak ada siapapun, tapi Ichinose dan Nagumo juga ada di sini. Dalam hal ini, ini bekerja dengan baik sebagai kamuflase.

Tidak, bagaimanapun juga, lebih baik bagiku untuk berpikir bahwa orang yang mengawasi kami ada di pihak Tsukishiro.

Tetapi sepertinya tidak ada benda yang tampak berbahaya.

“Jika aku menggunakan senjata atau sejenisnya, sangat mudah untuk mengendalikanmu di sini, tapi sayangnya kau adalah barang. Sudah jadi tugasku untuk membawamu kembali dengan aman———jadi aku memutuskan bahwa yang kubutuhkan hanyalah tinjuku.”

Tsukishiro berdiri di pantai berpasir, tersenyum begitu tanpa rasa takut dan merentangkan kedua tangannya dengan ringan.

Apakah itu berarti aku harus bertarung dengan Tsukishiro untuk melawan hingga saat-saat terakhir?

Tidak seperti waktu dengan Nanase, upaya untuk terus menghindari serangan kemungkinan besar tidak akan berhasil.

“Jadi aku tidak punya pilihan selain menerimanya agar terhindar dari pengusiran, ya.”

“Ya, begitulah.”

“Jika memungkinkan, bisa tidak kita tidak lakukan ini? Aku tidak mengatakan bahwa penyelesaian dengan kekerasan itu buruk, tapi aku seorang siswa di sekolah ini. Berdasarkan aturan biasa, ini adalah [pelanggaran].”

“Memang itu mungkin benar. Tapi Ayanokouji-kun, kamu adalah contoh sukses dengan pencapaian yang istimewa bahkan di White Room. Bahkan jika kamu bertarung dalam aturan terbatas, tidak akan ada yang bisa melawanmu. Tidakkah menurutmu bodoh untuk bersaing dengan orang lain di sekolah ini? Atau apakah kamu merasa senang menjadi Raja Gunung?”

“Jika benar demikian, apakah itu evolusi... tidak, degenerasi yang mengecewakan harapan pria itu?”

“Tidak tidak, tidak juga, ‘kan? Keinginan yang sudah lama didambakan White Room itu tidak hanya untuk menguasai Jepang, tapi juga menguasai dunia. Jika kamu sang tubuh sukses merasa begitu, pada akhirnya, kau yang tumbuh lebih lanjut akan menguasai dunia dan membenamkan diri dalam kesenangan.”

Dari SMA Jepang yang kecil, ceritanya segera meluas hingga menguasai dunia.

Bahkan jika seseorang mendengar mimpi kosong seperti itu, mereka hanya akan tertawa terbahak-bahak.

Mungkin Tsukishiro sendiri yang ada di depanku ini pasti sangat skeptis tentang betapa realistisnya itu.

Dia hanya mencoba menyelesaikan tugasnya, dan setia pada perintah sampai akhir.

“Yah, terus terang, menurutku sekolah ini bukan masalah besar.”

“Itu benar. Karena bagimu, tingkat sekolah ini adalah jalan yang kamu lalui di masa kecilmu.”

“Itu hanya terbatas pada kurikulum. Aku akhirnya bisa melihat tujuan tentang apa yang harus aku lakukan dan apa yang ingin aku lakukan di sekolah ini. Kurasa aku bisa cukup menikmatinya sampai lulus, dan ada banyak orang hebat selain White Room.”

Sebaliknya, tempat ini bisa dikatakan sebagai sumber manusia berbakat yang tidak akan pernah bisa dihasilkan di White Room.

“Aku tidak bermaksud menolak para siswa Koudo Ikusei Koutou Gakkou. Seperti yang kamu katakan, selalu ada orang-orang berbakat di seluruh dunia. Terkadang akan ada orang yang mengunggulimu dalam olahraga dan terkadang dalam kemampuan akademik. Namun bukan bagian itu yang terpenting, melainkan manusia yang bekerja dengan baik dalam segala keadaan dan dapat memimpin orang banyak.”

Direktur Pengganti Tsukishiro menatap Shiba dengan ringan.

“Bagaimana dengan Nagumo-kun dan Ichinose-san?”

“Nagumo sudah berhenti bergerak, dan Ichinose sudah pergi, jadi mungkin tidak ada yang perlu dikhawatirkan?”

Fakta bahwa aku akan menghentikan Nagumo dan Ichinose, tentu saja, sudah pasti masuk dalam perhitungan.

“Kemudian, mengenai respons yang tidak terduga, Amasawa sepertinya sudah menghalangi pergerakannya.”

Respons yang tidak terduga? Tidak ada area yang ditunjuk atau tugas di sekitar sini.

Apakah ada seseorang yang mendekat kesini selain Ichinose dan Nagumo?

Jika seorang siswa yang tidak terkait muncul di sini, itu akan mengganggu rencana Tsukishiro.

Tampaknya Amasawa menahan keberadaan tidak beres itu.

“Penghormatan dengan caranya sendiri, ya.”

“Sepertinya Amasawa tidak sejalan dengan Direktur Pengganti Tsukishiro.”

“Sederhananya dia adalah [penghianat]. Karena dia adalah orang yang dipilih untuk membawamu kembali, tapi sepertinya dari awal dia tidak ingin membawamu kembali.”

Tsukishiro mengambil satu langkah seolah-olah pembicaraan yang tidak penting sudah selesai.

Bukan ide yang bagus untuk membuang-buang waktu satu sama lain.

Keduanya menutup jarak dariku sedikit demi sedikit.

Meski begitu, jarak antara aku dan keduanya masih lebih dari 5 atau 6 meter.

Shiba-sensei perlahan berjalan ke belakangku agar tidak membiarkanku melarikan diri.

“Kau tidak akan menyebut pertarungan dua lawan satu ini tidak adil, bukan? Bagaimanapun juga, kau adalah mahakarya dari White Room. Dengan begini saja aku masih sedikit merasa khawatir.”

Meski mengatakan itu, Tsukishiro memiliki ketenangan yang luar biasa.

Aku secara intuitif merasa bahwa dia yakin bahwa satu lawan satu saja sudah cukup, dan kemudian aku memilih untuk bertarung dengan dua orang.

Tidak ada yang namanya kesombongan, ini adalah pendirian yang kokoh.

Aku menggerakkan mataku dan melihat ke kapal yang menunggu di pantai.

Sejauh yang aku bisa lihat dari sini, hanya ada satu anak kapal, sebagai operator.

Dengan kata lain, bahkan jika mereka menyerbuku, aku hanya perlu menghabisi hingga tiga musuh.

“Tenang saja. Hanya aku dan dia yang akan melawanmu.”

Aku bukan tipe orang sederhana yang bisa dengan mudah mempercayai kata-katanya itu.

Sebelumnya dia bilang dengan tangan kosong, tapi aku tidak bisa mengabaikan kemungkinan dia memiliki senjata tangan yang disembunyikan.

Pertarungan melawan dua orang dewasa dengan kemampuan yang tidak diketahui, juga sekelas agen yang pandai beraksi, sambil mewaspadai ada atau tidaknya senjata, ada atau tidaknya bala bantuan, dan ketidakpastian lainnya.

Biasanya, multitasking adalah situasi di mana otak kemungkinan besar akan terbakar, tapi tidak ada gangguan pada mentalku.

Bertarung dalam situasi yang tidak masuk akal dan tidak menguntungkan sudah berulang kali terjadi sejak aku masih kecil.

Ini sama dengan proses bernafas secara tidak sadar yang penting bagi manusia untuk hidup.

“Wajahmu seperti mengatakan bahwa bahkan seatompun kau tidak berpikir kau akan kalah.”

“Apakah wajahku terlihat seperti itu?”

Tidak ada hasil yang terlihat di mana pun.

Hanya aku yang bisa meraihnya di sini dan membuka masa depan.

Musuh masih memperhatikan situasiku di mana mereka ada di bagian depan dan belakangku.

Biasanya, aku ingin mengambil langkah pertama, tapi bukan ide yang bagus untuk memulainya dariku.

Mereka yang ada di depan dan belakangku bukanlah siswa, tapi orang-orang dari pihak sekolah.

Kalau hanya aku yang mengangkat tangan, aku akan dirugikan dalam situasi selain pertarungan.

“Meskipun kau tahu itu akan menguntungkanmu, sepertinya kau memang tidak bisa menyerang duluan, ya. Seperti itulah dirimu.”

Tsukishiro yang mungkin mengetahui kebijakan pendidikan mengenai White Room secara mendetail, menganalisisnya.

“Kalau begitu———jangan ragu, mari kita mulai duluan, Shiba-sensei.”

Bersamaan dengan namanya dipanggil, dua orang dewasa mulai berjalan ke arahku pada waktu yang bersamaan.

Keduanya dengan tenang memperpendek jarak seolah-olah mereka sedang memajukan bidak Tsume Shogi.

(Tln: Tsume Shogi semacam puzzle dalam shogi untuk checkmate)

Kehadiran dan langkah kaki Shiba di belakangku menghilang pada saat bersamaan.

Jarak antara aku dan Tsukishiro yang berjalan dari depan adalah 7 langkah, 6 langkah, 5 langkah, 4 langkah———.

Aku berjongkok sedikit dan menghindari kedua tangan Shiba yang datang untuk mencengkeram wajahku dari belakang.

Serangan pertama yang dilakukan, sudah kuduga dari belakang.

Di tengah gerakan menghindar, dari depan, Tsukishiro mengulurkan tanganya untuk mencengkramku seperti yang dilakukan Shiba. Aku menghindarinya dengan berguling-guling di pantai berpasir dan lolos dari kejaran dengan melakukan gerakan bangun dan lari pada saat bersamaan.

Debu menari-nari tertiup angin laut. Kedua orang dewasa itu menatapku dalam diam tanpa terburu-buru mengejarku.

Kami sama-sama saling mengamati.

Mereka mencoba mengukur keterampilanku yang tidak dapat dipahami dari data melalui gerakan nyata.

Kakiku tenggelam di pasir. Seharusnya aku melepas sepatuku lebih awal jika tahu akan begini.

Di bawah terik matahari, keduanya berjalan untuk menutup jarak yang terbuka lagi.

Dengan wajah dan tubuhku menghadap keduanya, aku menjaga jarak di belakang dan mundur dengan kecepatan yang sama. Dengan laut di belakangku, aku menjauh dari pasir lembut untuk mengamankan pijakan dan pada saat yang sama menghindari pengepungan.

“Teorinya masuk akal, tapi rasanya sulit untuk mengatakan bahwa itu adalah jawaban yang tepat, Ayanokouji-kun.”

Mereka tidak akan bisa berada di belakangku, tapi ini mempersempit rute pelarianku.

Posisi di mana kakiku akan diterpa ombak jika aku mundur lebih jauh, dan di sana Tsukishiro dan Shiba mendekat.

Tangan yang terulur masih berusaha meraih tubuhku.

Sepertinya mereka belum berniat melukaiku dengan pukulan.

“Kau pandai melarikan diri, ya.”

Pergerakan keduanya semakin cepat, dan celah dimana aku bisa menghindar langsung hilang.

Setelah aku mundur sampai batas di mana satu kakiku menginjak air laut, aku tidak tahan dan melarikan diri dari tempat itu.

“Oya? Apa kau sudah menyerah meminta laut untuk melindungi punggungmu?”

Jika musuh sedang terburu-buru, mudah untuk membuat kesalahan.

Selagi aku memikirkan itu, Shiba dan Tsukishiro menendang pasir dan menuju ke arahku.

Sekarang dua lawan satu, jika aku tertangkap oleh salah satunya, permainan berakhir pada titik itu.

Situasi di mana keempat tangan direntangkan secara bergantian dan jika aku menunjukan sedikit celah maka akan berakhir, terus berlanjut.

Aku mulai berlari untuk mencoba menjaga jarak, tapi keduanya mulai mengejar tanpa melepaskanku.

Berlarian di tempat seperti ini hanya akan menguras kekuatan fisikku.

Jelas bahwa tujuannya adalah untuk menguras staminaku karena cuaca panas dan pijakan yang buruk.

Aku membatalkan gerakan melarikan diriku di tengah jalan, memanfaatkan pegas tubuhku sebaik-baiknya, menginjak pasir dengan kaki kiriku untuk melangkah ke depan, dan menyerang balik Shiba yang ada tepat di belakngku.

“Muh!?”

Pergerakan Shiba menjadi sedikit kaku karena pergerakanku yang menunjukkan lintasan yang tidak terduga.

Sambil mencampurkan tipuan dari tinju kiri, aku mengincar dada kanannya, tapi merasakan bahaya, Shiba tidak panik dan menjaga jarak.

Ini membuktikan bahwa menghindar lebih diutamakan daripada menangkapku.

“Wah, cepatnya———itu adalah perlawanan yang luar biasa melawan kami berdua, ya, Ayanokouji-kun.”

Aku mencoba melakukan serangan balik sambil menghindari serangan dari kedua sisi, tapi aku tidak bisa mendapatkan pukulan bersih.

“Tetapi kekuatan fisik manusia itu terbatas. Bukankah sudah waktunya kamu kehabisan napas?”

“Direktur Pengganti Tsukishiro adalah lawan yang sulit untuk dilawan, ya?”

“Tugasku adalah untuk mengambil inisiatif dan melakukan apa yang dibenci oleh orang-orang.”

Tidak ada yang bersih atau kotor, itu hanya cara bertarung untuk menangkap dan membawaku pulang.

Tapi, aku juga tidak membuang stamina dengan sia-sia.

Apa yang aku dapatkan sejauh ini. Sepertinya ada sedikit perbedaan dalam kemampuan bertarung antara Tsukishiro dan Shiba.

Dengan perbandingan Tsukishiro 4 dan Shiba 6. Ternyata ketajaman gerakan Shiba lebih baik.

Padahal dari instingku kupikir Tsukishiro lebih baik...

Bagaimanapun, aku akan mengubah sedikit keseimbangan kewaspadaanku menjadi 5 : 5.

Kupikir bagian belakang diserahkan terus kepada Shiba karena kemampuannya yang lebih rendah, tapi ternyata justru sebaliknya.

Ini adalah cara bertarung yang berkebalikan dari prediksiku.

Jika demikian, aku ingin mengincar dari Tsukishiro yang lebih rendah, tapi meski begitu, kemampuannya luar biasa.

Dia berada dalam dimensi yang lebih tinggi, dan bukan lawan yang bisa disingkirkan dengan mudah.

Sebaliknya, ada kemungkinan Tsukishiro sadar akan pertahanannya jika dia menyadari bahwa aku sudah menyelesaikan analisanya.

Tanpa disadari bahwa aku sudah memperhatikan perbedaan kemampuan mereka, dan menyingkirkan Shiba dengan satu pukulan.

Sederhananya, itu berarti menerima pukulan satu per satu dengan niat saling memukul satu sama lain.

Sekarang adalah kesempatanku di mana pihak sana belum berpikir untuk memukulku.

Jika aku beruntung, hanya sekaranglah waktunya di mana aku bisa memberikan kerusakan secara sepihak.

Kemudian, setelah membuat Shiba tidak berdaya, aku akan segera berurusan dengan Tsukishiro satu lawan satu.

Waktu berpikirku sekitar satu detik. Keduanya menyerangku dengan kecepatan yang sama.

Tapi, tinju yang sepertinya akan mencengkram itu digenggam dengan kuat dan berubah menjadi pukulan.

Terbaca———.

Tujuan dari pertukaran kerusakan sudah terbaca, dan jika serangan kami terus berlanjut seperti ini, kedua sisi akan terkena dampaknya.

Meskipun demikian, seranganku yang lebih———

Aku mencoba mengembalikan kesadaranku saat akan bertukar kerusakan dengan Shiba yang ada di belakangku, tapi sesuatu yang tidak terduga terjadi. Aku merasakan pertanda dingin di leherku dan dipaksa untuk menghentikan serangan balik.

Entah berapa kali aku harus mengambil tindakan mengelak dan melarikan diri dari Tsukishiro.

Suara tinju Shiba yang diayunkan dengan sedikit penundaan, mengering dan mencapai telingaku. Jika memaksakan diri untuk bertukar kerusakan, kakiku mungkin akan berhenti. Pukulan Shiba pasti memiliki kekuatan yang sama denganku.

Tidak, daripada itu...

Aku melihat sekilas ke samping pada pergerakan Tsukishiro yang seharusnya lebih rendah dari Shiba, tapi ternyata dua tingkat lebih cepat dari yang kuharapkan.

“...sudah kuduga aku tidak boleh lengah dari anda, Direktur Pengganti Tsukishiro.”

Aku nyaris tidak bisa menghindarinya dan untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun aku berkeringat dingin dalam pertarungan.

Jika aku tidak percaya pada instingku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi.

Bukan hanya pukulan Shiba, tapi aku mungkin akan menerima serangan Tsukishiro tanpa pertahanan.

Perkiraan bahwa perbandingan Tsukishiro 4 dan Shiba 6 adalah informasi palsu yang dibuat oleh musuh untuk mengelabuiku.

Dengan sengaja menyimpan kemampuannya dan menyerang dengan serangan yang melebihi kewaspadaanku.

“Aku bermaksud untuk menjatuhkanmu dengan serangan itu, tapi kecepatan reaksimu itu tidak dalam level orang biasa, ya.”

Atau kalau tidak, aku beruntung tidak membuang kemungkinan itu.

Ketidakwajaran Tsukishiro di depanku yang lebih rendah dari Shiba dalam hal kemampuan.

Dapat dikatakan bahwa hanya poin itu yang membantuku meningkatkan kewaspadaanku hingga batasnya.

Keduanya sama-sama berhati-hati dan tidak mengambil resiko sebanyak mungkin, tapi jika mendapatkan keuntungan, mereka akan mengambil resiko tanpa ragu.

Situasinya sedikit tidak menguntungkanku, ya——.

Bahkan jika aku mencoba untuk menghancurkan salah satu dari mereka terlebih dahulu, sulit untuk masuk ke dalam perlindungan pada waktu yang tepat dan melakukan serangan dengan benar. Aku tidak berpikir mereka adalah kombinasi yang terbentuk dalam semalam.

“Apa analisismu berjalan dengan baik? Ayanokouji-kun.”

Baru sekitar dua menit sejak pertarungan dimulai.

Aku sudah mencoba berbagai pola, tapi tidak satupun yang bisa jadi pukulan yang menentukan.

“Akan lebih mudah jika ini seperti perkelahian anak kecil, di mana hanya ada adu kekuatan dengan kekuatan. Tapi kami adalah orang dewasa yang tidak akan ragu untuk mengambil tindakan terbaik agar tidak kalah. Bahkan jika itu murahan dan tidak keren sama sekali.”

Tsukishiro juga sudah membaca 99% pemikiranku. Suatu cara bertarung yang akurat tanpa ragu-ragu namun tidak membiarkan lawan membaca pikirannya. Tidak, mungkin lebih tepatnya membiarkan lawan membacanya tapi tidak menunjukkan kebenarannya. Bagaimanapun, dalam situasi saat ini, sudah tidak ada pukulan yang menentukan. Jika situasinya akan semakin memburuk seperti ini, sepertinya aku juga harus mengambil resiko yang sesuai.

“Direktur Pengganti Tsukishiro.”

Shiba yang tidak banyak bicara sejauh ini, memecahkan kebuntuan yang tidak menguntungkan ini.

Segera setelah namanya dipanggil, Tsukishiro sepertinya menyadari kejadian yang tidak terduga itu.

Itu adalah sesuatu yang tidak diharapkan oleh siapa pun di tempat ini.

“Aku ingin tahu apa yang dilakukan oleh direktur pengganti-dono dan guru wali kelas-dono kepada seorang siswa di tempat yang tidak populer ini? Bisakah anda memberi tahuku?”

Dia adalah pengunjung tak diundang.

“Kamu kalau tidak salah———”

“Dia adalah Kiryuuin Fuuka dari kelas B tahun ketiga.”

Kenapa dia datang kesini. Seharusnya hanya aku yang mendapat I2 ini sebagai area yang ditunjuk.

“Kamu tidak terlihat seperti anak kucing yang sedang tersesat. Ada urusan apa kamu di sini?”

Setelah meninggalkan postur bertarungnya, Tsukishiro bertanya dengan nada yang biasa.

“Sebenarnya, aku sudah menonton kalian dari balik pohon besar beberapa waktu yang lalu, tapi aku tidak tahan melihat kondisi dua lawan satu. Begitulah aku pun memutuskan untuk keluar.”

Tentu saja, Tsukishiro dan Shiba tidak mungkin tidak melihat respons GPS-nya.

“Mungkinkah ini penyebabnya? Sepertinya jam tanganku rusak karena kecelakaan.”

Saat Kiryuuin mengatakan itu dan tertawa, dia menunjukkan jam tangannya dengan permukaan yang hancur.

“Aku ingin bertanya karena ada orang-orang dari pihak sekolah di depanku, tapi ini tidak ada masalah, ‘kan? Meskipun jam tanganku rusak, hanya fungsi penilaiannya yang akan dimatikan. Aku bebas untuk pergi kemana pun aku mau.”

“Tentu saja tidak ada masalah. Bagaimanapun juga, ini adalah ujian di mana kerusakan jam tangan tidak ada habisnya.”

Tsukishiro sepertinya tidak panik oleh keberadaan yang tidak diharapkan muncul di tempat ini.

Umumnya ini adalah kondisi di mana dia harus menarik diri jika sampai dilihat oleh siswa lain.

Tapi, Tsukishiro mengerti bahwa ini adalah tempat terakhir untuknya, sudah kuduga tidak akan menarik diri.

Sepertinya Kiryuuin hanya sudah di masukan ke dalam daftar yang akan di lenyapkan.

“Ayanokouji, apa tindakanku ini tidak dibutuhkan?”

Jika dia sudah terlanjur melihat pertarungan yang menyimpang antara guru dan siswa, tidak ada gunanya untuk meluruskannya.

Sebaliknya, aku harus memanfaatkan kecelakaan yang terjadi ini secara efektif.

“Itu tergantung pada apa yang terjadi selanjutnya. Bisakah aku berasumsi kalau kau akan membantuku?”

Kekuatan Tsukishiro sangat besar. Ini adalah gaya bertarung yang didasarkan pada akumulasi pengalaman dan teknologi, dan aku bisa menegaskan bahwa dia adalah salah satu musuh kuat top class bahkan di antara lawanku di masa lalu.

“Tentu saja. Aku tidak tahu situasinya, tapi bukankah sudah wajar bagi senpai untuk melindungi kohainya?”

Saat dia berdiri di sampingku mengatakan itu, Kiryuuin tertawa.

“Tapi, kenapa kamu datang ke sini?”

“Kemarin kamu menunjukan gerakan seolah-olah melarikan diri dari tahun pertama. Aku penasaran dan ingin bertanya padamu, tapi kupikir kamu akan melarikan diri juga makanya aku pakai cara ini.”

Jadi, dia repot-repot merusak jam tangannya agar aku tidak menyadarinya saat dia mendekatiku, ya.

“Aku senang sudah memenangkan rasa ingin tahuku. Karena sebagai hasilnya aku diundang ke perkembangan yang sangat menarik.”

Yah, memang benar ini bukanlah sesuatu yang biasanya mungkin  akan terjadi.

“Shiba-sensei, aku serahkan dia padamu.” Kata Tsukishiro

“Sejauh yang aku bisa lihat, kemampuan Direktur Pengganti dan Shiba-sensei tampaknya berada pada level yang tidak masuk akal. Aku tidak tahu seberapa bergunanya aku, tapi mungkin tidak akan bertahan selama itu.”

Kiryuuin berdiri tepat di sampingku berkata begitu dan dia terlihat senang memposisikan tinjunya.

“Jika kamu bisa menarik mereka selama satu atau dua detik, aku akan menyambutmu.”

“Biar kukatakan. Aku akan menahan mereka setidaknya satu atau dua menit. Tapi Ayanokouji, tidak bisakah kamu lebih terlihat bergaya?”

(Tln : sorerashii kakkou = look the part, aku tidak tahu bhs ind nya gimana, artinya sih sikap untuk menyesuaikan diri dengan keadaan, misal berpose atau dlm berpakaian, aku ganti ‘bergaya’ saja)

“Terlihat bergaya, ya?”

“Ekspresi cerobohmu itu tidak begitu membantu. Genggam tinjumu dan ciptakan suasana tegang.”

Aku tidak pernah berpikir aku akan diberitahu hal seperti itu di tempat seperti ini.

Tapi, di bawah tekanan aneh dari Kiryuuin, aku tidak punya pilihan selain berpose seperti itu. Entah bagaimana ini terlihat seperti yang biasa ada dalam sebuah adegan pertarungan dorama.

“...bagaimana dengan ini.”

“Fufu, kamu tidak mahir dalam hal seperti itu, ya. Yah bolehlah, anggap saja kamu sudah memenuhi standar minimum.”

Sambil menyeringai, Kiryuuin juga melakukan pose bertarung lagi.

“Apa kamu pernah memukul seseorang?”

“Aku ini seorang wanita. Mana mungkin pernah.”

“...serius?”

“Jangan khawatir. Karena aku ingin memukulnya setidaknya sekali.”

Kami sama-sama menjaga jarak dan beralih ke pertarungan satu lawan satu.

“Mari kita selesaikan ini, Direktur Pengganti Tsukishiro”

“Jika hanya aku, kamu bisa menang———kamu menilainya begitu, ‘kan?”

Tsukishiro berdiri dengan senyum biasanya, aku tidak merasakan ketenangan atau pun ketegangan darinya.

“Lalu, bisa kau tunjukan padaku. Kemampuanmu yang sebenarnya dalam pertarungan satu lawan satu.”

Hadapi lawan yang berdiri di depanku sebagai musuh yang setara.

Jika tidak begitu, akulah yang akan menarik karpet dari bawah kakiku.

Tapi itu masih akan diputuskan dalam kurang dari satu menit. Akan ku selesaikan sebelum Kiryuuin ditekan oleh Shiba.

Aku menghindari serangan Tsukishiro yang dilakukan tanpa suara, dan menghantamkan tinju kiriku ke pipi Tsukishiro.

“Ugh!?”

Aku melepaskan pukulan tajam jab yang kadang lambat dan kadang cepat.

Kekuatan setiap pukulanku itu ringan karena aku hanya fokus untuk memukulnya.

Tapi, dengan memukulnya berulang kali, senyum Tsukishiro menghilang.

Targetnya adalah batang hidung. Bahkan jika dia hanya menerima sedikit kerusakan, fungsi tertentu akan diaktifkan oleh tubuh manusia.

Itu adalah [air mata].

Semua manusia akan mengeluarkan air mata saat batang hidung mereka dipukul.

Air mata meluap sebelum rasa sakit mendera, penting untuk menghilangkan penglihatannya.

Tidak peduli apakah dia orang dewasa atau anak-anak, pria muda atau tua. Itu adalah mekanisme dari tubuh manusia.

Ketika penglihatan Tsukishiro semakin memburuk, aku mengayunkan uppercut ke dagunya.

Tsukishiro yang menengadah ke langit sedikit menyemburkan darah, mungkin karena dia menggigit mulutnya.

“Sejak kapan, ya.”

(Tln: lengkapnya, sejak kapan kamu melakukannya)

Menyeka darah yang menetes dari bibirnya, Tsukishiro tersenyum aneh.

“Aku mengakuimu, tak kusangka bahwa yang ada di depanku adalah seorang anak SMA tahun kedua. Kau tidak salah lagi adalah sebuah mahakarya.”

Tsukishiro tidak diragukan lagi adalah lawan kuat top class bahkan di antara lawan-lawan yang pernah beradu tinju denganku sejauh ini.

Tidak aneh jika Tsukishiro menilai bahwa dirinya bisa bertarung satu lawan satu dan menang.

“Aku sebenarnya tidak suka hal-hal yang kasar, tapi mau bagaimana lagi karena ini menyenangkan.”

Dengan senyum terlihat menikmatinya, Tsukishiro memasang kuda-kuda lagi.

Tapi, Tsukishiro tidak langsung menyerang, dan perlahan-lahan mundur.

Bisa jadi dia ingin mengulur waktu sampai Shiba menaklukkan Kiryuuin, tapi...

Aku dengan tenang mencoba mengikuti jalan menuju kemenangan tanpa terlalu terburu-buru.

Tsukishiro melihat pasir di kakinya. Itu dilakukan hanya sesaat.

Aku tidak memperdulikannya dan menyerang dia dengan tunju kananku yang berisi kekuatan.

“Benar-benar, luar biasa———!”

Aku melakukan body blow ke perut Tsukishiro dengan pukulan yang seolah-olah aku memutarnya.

Aku memukulnya hampir dengan kekuatan penuhku. Tapi, meski begitu, senyuman Tsukishiro tidak pernah hilang. Meskipun kuda-kudanya rusak, Tsukishiro menggengam pasir di tanah dengan tangan kirinya dan melemparkannya padaku.

Kemudian, dengan tangannya yang tidak terpakai, dia memasukannya lebih dalam ke dalam pasir pantai hingga berlubang dan menariknya ke atas.

Bahkan jika tinju kanan yang diayunkan mirip uppercut itu mengenaiku secara langsung, tidak akan menyebabkan banyak kerusakan jika kuda-kudanya tidak bisa mengikuti. Akan tetapi, aku tidak menerima tangan kanan itu dari depan, tapi menghalau tangan Tsukishiro dan segera meraih tangan kanan tersebut untuk menghentikannya.

“Uh———!”

Untuk pertama kalinya di sini, senyuman Tsukishiro menghilang sesaat.

Tatapanku menuju tangan kanan Tsukishiro yang memegang stun gun.

“Kenapa kau bisa tahu?”

“Aku tidak tahu sampai sebelumnya. Tapi, dalam situasi di mana kau bahkan tidak boleh menunjukkan celah sesaat, untuk beberapa alasan kau menurunkan pandanganmu seolah ingin memeriksa kakimu. Itu membuatku merasa tidak nyaman. Jika tujuanmu adalah untuk merusak penglihatanku dengan pasir, kau tidak perlu memeriksa kakimu.”

Bahkan ketika tangan kirinya meraih pasir dan melemparkannya kepadaku, fokusku ada pada hal itu.

“Selain itu, aku juga merasa itu tidak wajar bagimu untuk terlihat seolah-olah menerima pukulanku dengan sengaja.”

Selama kemampuan kami berimbang, perlu bagi kami berdua untuk mengubah aliran pertarungan.

“Jika memungkinkan, sebenarnya aku tidak ingin mengambil risiko seperti ini.... Aku bermaksud untuk menjadikannya jaminan, tapi kemampuanmu cukup membuatku tidak sabar.”

Saat aku mengendurkan tangan kanannya, stun gun itu jatuh dari kepala ke pasir pantai dan menembusnya.

“Baiklah, apa yang akan kita lakukan sekarang? Aku menderita luka yang parah...”

Di tempat lain aku melihat Shiba menahan Kiryuuin dari belakang dan menguncinya.

Dan, pada titik ini Direktur Pengganti Tsukishiro mengangkat tangannya dan mengirimkan sinyal ke suatu tempat. Kemudian, operator perahu kecil yang sedang berlabuh mulai mencoba mendarat dengan sesuatu di tangannya. Jelas bahwa itu adalah kartu truf terakhir jika mereka dikalahkan. Tapi itu juga sama denganku.

“Sayang sekali, tapi waktu anda sudah habis loh, Direktur Pengganti Tsukishiro.”

Tiba-tiba persiapan pendaratan dihentikan dan perahu kecil itu menyalakan mesin, meninggalkan direktur pengganti dan berangkat dengan cepat.

Alasannya mungkin karena dia melihat perahu kecil lain datang dari laut.

“...aku terkejut. Bagaimana kamu bisa memanggil kapal itu? Melakukan pengaturan lebih dulu memang hal yang biasa. Bahkan jika terjadi sesuatu kau tidak akan mengandalkan pihak sekolah. Selain itu, kupikir kau juga tidak ingin kalau sekolah sampai tahu.”

“Itu mudah saja. Jika anda melihat baik-baik ke perahu kecil itu, anda bisa mengerti, bukan?”

Jika kau melihat baik-baik ke ujung perahu kecil itu, kau bisa melihat Mashima-sensei dan Chabashira. Dengan itu saja Tsukishiro bisa mengerti.

“Bagaimana jika seseorang melaporkan bahwa ada siswa kelas A tahun kedua dan siswa kelas D tahun kedua telah jatuh di I2 dan berada dalam keadaan berbahaya? Itu bukan sesuatu yang mudah untuk ditutupi. Karena aku sudah mengkonfirmasinya dalam kasus sebelumnya bahwa wali kelas akan diikutsertakan dalam pemilihan orang yang datang untuk memberikan pertolongan cepat. Aku tahu kalau Mashima-sensei dan Chabashira-sensei akan segera datang.”

Ini adalah aturan yang sudah ditetapkan oleh sekolah bahwa yang terbaik adalah membawa guru wali kelas yang bisa mengidentifikasi identitas mereka hanya dengan melihatnya sekilas.

Jika yang dimaksud itu adalah siswa dari kelas A tahun kedua dan siswa kelas D tahun kedua, mau tidak mau mereka harus membawa wali kelas mereka.

Dalam keadaan darurat, tidak ada waktu untuk memeriksa GPS satu per satu. Kalau ada informasi bahwa jam tangan mereka sepertinya rusak, meski tidak ada respon GPS di sana, para guru pasti akan memeriksanya.

“Jika dilakukan pemeriksaan GPS semua siswa, apakah situasinya akan berubah menjadi tanpa ada pertolongan?”

“Tidak. Sekarang, ada masing-masing satu siswa dari kelas A tahun kedua dan kelas D tahun kedua di peta dimana respon GPS mereka telah menghilang dari jam tangan mereka. Sebaliknya, aku pikir dengan itu informasinya akan menjadi lebih kredibel.”

“Ternyata kamu mengulur waktu dari awal agar kejadiannya menjadi seperti ini. Itulah kenapa di awal pertarungan kamu fokus untuk melarikan diri dengan sadar akan kerugiannya.”

“Kegagalan ini terjadi karena anda mengancam Ichinose setengah jalan. Jika anda mau melakukannya, anda harus menanganinya dengan tuntas.”

Alhasil, Tsukishiro memberiku kesempatan untuk meminta bantuan ke Sakayanagi sebelum aku datang ke sini.

“Begini-begini aku ini pendeta, loh? Aku tidak bisa melakukan hal berbahaya seperti itu.”

Entah itu benar atau salah, Tsukishiro tertawa saat mengatakan itu.

“Bukankah ini ujian di mana aturan mengikat posisi dengan jam tangan sering menjadi gangguan?”

Shiba segera melepaskan Kiryuuin untuk seolah mengikuti Tsukishiro yang mengundurkan diri.

“...fuu. Aku tertolong, Ayanokouji. Menariknya, seolah-olah aku tidak bisa bersaing dengannya.”

Kemudian dia berlutut dengan satu lutut untuk mengistirahatkan tubuhnya.

Meski aku melihat pertarungan antara dia dan Shiba dari samping, dia sudah bertahan dengan baik meski hanya membela diri.

Menyadari bahwa musuh memiliki keunggulan yang jelas, sangat bagus bahwa dia tidak berlebihan dan hanya berusaha untuk menghambatnya.

Jika Shiba ikut dalam pertarunganku dengan Tsukishiro yang dalam keadaan sempurna, entah bagaimana aku akan jatuh. Akhirnya kapal berlabuh, membawa Mashima serta Chabashira.

Transceiver yang aku pinjam dari Sakayanagi berguna sampai akhir.

“Aku menang, bisakah anda menerimanya?”

“Aku tidak bisa tidak menerimanya untuk saat ini.”

Kondisi saat ini, seharusnya tidak ada cukup kartu untuk dimainkan oleh Tsukishiro dari sini.

Bahkan jika dia mengubah area yang ditunjuk hanya untukku, jika aku mengejarnya, itu pasti akan runtuh.

“Batas skormu memang cukup dipertanyakan, tapi yah hampir tanpa masalah. Bagiku, karena sudah menjadi seperti ini, protes tidak bisa dihindari begitu kamu berada di 5 terbawah.”

“Anda tidak perlu khawatir. Aku akan melihat garis pengamanku dengan caraku sendiri.”

“Jadi itu kekhawatiran yang tidak perlu, ya. Kalau begitu, untuk sementara dengan ini aku akan menarik diri.”

“Untuk sementara, ya. Aku harap anda tidak akan menggunakan cara paksa dengan kekerasan seperti ini lagi. Setidaknya, menurutku itu bertentangan dengan filosofi sekolah ini. Tentu saja, jika kekuatan keterampilanku diuji berdasarkan aturan, aku pikir itu harus disambut dengan baik.”

Dengan senyum di wajahnya, Direktur Pengganti Tsukishiro melihat Mashima-sensei dan Chabashira yang turun dari kapal.

“Tolong beri tahu aku satu hal lagi, Direktur Pengganti Tsukishiro. Apakah anda benar-benar mencoba mengeluarkanku? Memang benar kupikir ada batasan kekuasaan, tapi jika aku berada di posisi anda, aku akan mempersiapkan dan menerapkan metode yang lebih dapat diandalkan.”

Aku tidak berpikir pria yang ada di depanku begitu bodoh sehingga dia tidak bisa memikirkan hal itu.

“Kamu terlalu melebih-lebihkanku. aku mengikuti instruksi atasan dan dengan sekuat tenaga mencoba untuk mengeluarkanmu. Tapi sebagai hasilnya, itu gagal, dan beginilah aku jatuh di hadapanmu.”

Satu hal yang aku tahu adalah bahwa pria yang bernama Tsukishiro belum menunjukkan semua yang dia miliki.

Aku tidak tahu apakah ada kebohongan dalam kata-katanya tadi, tapi mungkin aku harus berasumsi bahwa dia memiliki tujuan lain.

“Bolehkah aku menitip pesan untuk disampaikan pada Amasawa-san?”

“Mari dengarkan.”

“Amasawa Ichika, kau didiskualifikasi karena terus menerus melanggar perintah. Tidak akan ada lagi tempat untuk kembali. Apakah kau akan terus tinggal atau pergi dari sekolah ini, itu terserah padamu.”

Kebenaran? Benar atau salah? Aku tidak bisa melihatnya dari Tsukishiro.

Bahkan jika dia mengakui kekalahannya, aku tidak mencium bau kekalahan sama sekali.

Jika Amasawa benar-benar meninggalkan White Room, aku tidak berpikir itu akhir dari cerita.

Hanya satu hal yang pasti.

Aku tidak berpikir ini sudah menyelesaikan semua kasus White Room.

Masih ada sesuatu. Itu membuatku berpikir begitu.

“Silahkan tunjukan perjuanganmu sampai akhir.”

Saat dia berdiri perlahan, Tsukishiro mengangkat kedua tangannya dan mendekati Mashima dan yang lainnya seolah dia punya ide.

“Tidak ada yang terjadi di sini. Aku dan Ayanokouji-kun hanya mengobrol.”

“Apa menurut anda dengan ini akan selesai?”

“Entah selesai atau belum, itulah keputusannya. Anda sebagai guru tidak bisa membantahnya. Sebaliknya, lebih baik anda menilai bahwa dengan aku tidak melawan saja sudah patut disyukuri.”

Aku mengirim tatapanku ke Mashima-sensei dan mengangguk sebagai tanggapan bahwa tidak ada masalah.

“Baiklah, mari kita kembali. Ujian khusus untuk para siswa masih belum berakhir.”

Setelah memastikan bahwa para orang dewasa sedang menuju kapal, aku melihat ke arah Kiryuuin.

Mungkin dia kelelahan setelah melawan Shiba, dia duduk di pasir pantai dengan satu lutut terangkat untuk melihat laut.

“Itu luar biasa, Ayanokouji.”

“Tidak, Kiryuuin-senpai juga hebat bisa melawan Shiba-sensei.”

“Aku bahkan tidak bisa menerimanya sebagai pujian setelah melihat pertarunganmu. Aa, tenang saja, aku tidak berpikir untuk memberitahu pihak ketiga tentang dirimu. Tapi aku ingin mendengar banyak hal tentangmu.”

Aku tidak meduga bahwa akan ada yang melihat, tapi untungnya itu adalah Kiryuuin.

“Ada situasi keluarga yang sedikit rumit. Hanya itu saja.”

“Situasi keluarga yang rumit, ya? Sepertinya itu bukan sesuatu yang dengan mudah bisa dimasuki.”

(Tln: dimasuki/dibahas)

Setelah berdiri dan dengan lembut menyeka pasir di pinggulnya, Kiryuuin mulai berjalan menuju hutan.

Saat aku meninggalkan I2 dengan Kiryuuin dan kembali ke I3, Nagumo sudah tidak ada di sana.

Bukan sebagai penggantinya, tapi aku bertemu para siswa yang tidak terduga.

Keduanya saling memandang dan terkejut begitu mereka melihatku.

“Ini kombinasi yang langka, Horikita. Melihatmu berjalan dengan Ibuki, apa hari ini bahkan akan ada hujan es?”

“...apa kau baik-baik saja?”

“Apa maskudnya baik-baik saja?”

“Etto, yah. Aku bertanya-tanya apa kau sedang berselisih sedikit dengan seseorang.”

Kali ini, aku dan Kiryuuin yang saling memandang dan menyangkalnya hampir bersamaan.

“Tidak, kok? Tidak ada siapapun di depan sana.”

“Lalu, apa yang kamu lakukan di sini?”

“Dua minggu ini sangat melelahkan. Makanya aku sedang beristirahat sambil melihat laut di pantai yang tidak mencolok.”

“Kau sepertinya santui sekali, ya. Meskipun kupikir kau sudah mengumpulkan skor minimum mengingat ini kamu.”

Kenapa ada Kiryuuin-senpai? Kalimat itu dikirim lewat tatapannya.

“Aku menemukan seorang siswa yang bolos dan membawanya kembali. Aku bilang padanya lakukan dengan serius sampai akhir.”

Mengatakan itu, Kiryuuin-senpai dengan ringan menepuk punggungku dan mulai berjalan.

“Kalau begitu, mari kita bertemu lagi di kapal setelah ujian selesai.”

Horikita berdiri di sampingku dan bertanya lagi dengan berbisik.

“Apa kau sungguh baik-baik saja...?”

“Soal apa?”

“Itu... yang ku dengar sih begitu. Selain itu aku mendapat selembar kertas kecil.”

“Kertas?”

“Tidak, bukan apa-apa tidak usah dipikirkan. Aku masih memiliki banyak hal yang tidak kumengerti, jadi aku akan menyelidikinya sendiri sebelum bertanya.”

Aku penasaran karena aku tidak tahu apa yang dia bicarakan, tapi aku tidak ingin memperpanjang cerita tentang I2. Karena aku tidak bisa memberitahunya tentang kasus Tsukishiro.

“Daripda itu, kenapa kamu dan Ibuki datang ke sini? Tidak ada tugas di sekitar sini, ‘kan?”

Ibuki mencoba mengatakan sesuatu, tapi Horikita menghentikannya.

“Karena Ibuki-san menantangku untuk bertarung, makanya kami saling memeriksa skor satu sama lain. Aku hanya ingin melihat apa yang terjadi karena GPS-mu berada di tempat yang aneh.”

“Aku akan menganggapnya sebagai imbang.”

“...kenapa bisa jadi begitu, sudah jelas aku yang menang, bukan?”

“Salah hitung loh salah hitung.”

“Mau salah hitung kek atau tidak, bahkan jika satu poin aku lebih banyak, akulah yang menang.”

Aku tidak begitu mengerti, tapi melalui ujian ini, Horikita dan Ibuki menjadi teman... apa benar?

Dan tak lama lagi, ujian di pulau tak berpenghuni akan segera berakhir.

Related Posts

Related Posts

2 comments