-->
olNGIb4NkK5r2x7x4oG3GpEzizVpnY6KNCck9cym

Cari Blog Ini

– Horikita Suzune SS – Senang. Sengsara


Youjitsu Volume 1

– Horikita Suzune SS –
Senang. Sengsara


Itu adalah sesuatu yang terjadi pada hari-hari biasa tertentu.

Itu terjadi tidak lama setelah aku mendaftar di sekolah ini dan belum bisa dikatakan aku sudah terbiasa dengan kehidupan sekolah.

Aku selalu tegang ketika tiba-tiba diajak bicara oleh teman sekelas, dan aku tidak dapat mengobrol seperti biasa.

Singkatnya, bagiku yang termasuk siswa kelas bawah, sudah melelahkan untuk bisa memberi nama pada wajah.

Orang dengan kemampuan komunikasi tinggi seperti Hirata dan Kushida sudah mulai berbicara dengan orang dari kelas lain.

“Sungguh kenyataan yang menjengkelkan…”

Kami berdua memasuki sekolah ini dalam keadaan yang sama, namun sekarang kami berbeda seperti siang dan malam.

Meskipun aku mengerti setiap orang memiliki keterampilan yang berbeda, tapi saat ini aku menyesalinya.

Dalam suasana ini, penghuni meja tetanggaku menghabiskan setiap hari dengan tidak memperhatikannya.

Dia tidak pernah datang terlambat atau absen, memiliki nilai yang luar biasa, mendengarkan dengan sungguh-sungguh selama pelajaran. Dia bahkan cepat masuk dan keluar kelas.

Namun, tidak ada yang berinteraksi dengannya. Sederhananya, dia tidak punya teman.

“Kau terlihat sangat santai, sepertinya tidak memiliki kekhawatiran itu benar-benar hebat.”

“Apa yang kau katakan tiba-tiba?”

Horikita, yang sedang mempersiapkan pelajaran berikutnya, menatapku kesal.

“Tidak ada. Aku tidak bisa tidak memikirkan hal-hal ini.”

“Aku mengikuti standarku untuk mengambil studiku dengan serius, kau tahu?”

“Aku tidak mengatakan hal-hal itu... yah, kau tidak mendengar apa pun. Aku yang salah.”

“Meskipun kau mengakui kesalahan itu hal yang baik, aku merasa aku tak bisa menerimanya.”

Horikita percaya bahwa dia tidak membutuhkan teman dari lubuk hatinya.

Bahkan jika aku berdebat dengannya, aku tidak akan memiliki peluang sukses yang tinggi, dan tidak akan ada keuntungan apapun.

“Yah, mari belajar dengan giat hari ini juga.”

“Seingatku aku belum pernah melihatmu belajar dengan giat sebelumnya.”

Aku menghela nafas setelah mendengar ucapan sarkastiknya.


1


Hari berikutnya. Aku bangun lebih awal dari biasanya dan aku tiba 10 menit sebelum pertemuan kelas dimulai. Tidak banyak siswa dan ruang kelas pada dasarnya kosong.

“Aku sudah tiba lebih awal dari Horikita.”

Lagipula, karena saat ini, kupikir dia sudah sampai ke kelas, tapi sepertinya orang kelas satu pun akan datang terlambat.

“Selamat pagi semuanya.”

Sesaat kemudian, Kushida, mediator suasana kelas, memasuki ruang kelas.

Ruang kelas yang suram (aku melebih-lebihkan) tiba-tiba menjadi cerah dan ceria.

Meski aku hanya melihat Kushida di pagi hari, aku masih menganggap dia sangat manis. Aku mungkin akan merasakan hal yang sama jika aku melihatnya di malam hari.

Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Kushida. Saat dia berbalik ke arahku, mata kami tanpa sengaja bertemu.

Biasanya, aku seharusnya menyapanya dengan melambaikan tanganku, tapi tanpa sadar aku mengalihkan pandanganku, tipikal dari orang yang tidak berguna sepertiku.

Hari ini aku juga berjalan terus menerus di dasar.

Saat aku menatap kosong ke luar jendela, bel kelas berbunyi dan pertemuan kelas telah dimulai. Bahkan saat ini, aku masih belum melihat Horikita.

Aku tidak tahu apakah Chabashira-sensei telah menyadari atau tidak bahwa Horikita tidak ada di sini. Dia tidak menyentuh topik ini, menyelesaikan absensi dan meninggalkan kelas.

“Apakah dia terlambat? Tumben sekali…”

Aku hanya bisa menebak ...

“Selamat pagi Ayanokouji-kun!

“Waah!?

Sementara aku menatap kosong ke kursi Horikita, Kushida diam-diam muncul di bidang penglihatanku.

“Maaf, apakah aku menakutimu?”

“…sedikit. Apakah kau butuh sesuatu?”

“Ya. Sebenarnya, aku khawatir tentang sesuatu. Bisakah aku mengganggumu sedikit? “

“Jangan katakan sedikit, kau bisa menggunakan waktuku semaumu.”

“Horikita-san belum datang… ke sekolah, ‘kan?”

Dia melihat ke kursi di sampingku.

“Kelihatannya seperti itu.”

“Bahkan tasnya tidak terlihat di sana, dia tidak datang tidak salah lagi.”

“Apa yang ingin kau katakan dengan menanyakan ini?”

Dia punya petunjuk jadi dia perlahan mengangguk.

“Soalnya, aku melihat Horikita-san meninggalkan kamarnya pagi ini.”

“Eh?”

Dengan kata lain, dia pasti datang ke sekolah pagi ini?

“Bukan karena dia tidak sehat sehingga dia tidak datang?”

“Kelihatannya tidak seperti itu… jadi aku agak khawatir. Biasanya aku yang akan berbicara dengan Horikita-san, tapi aku dibenci olehnya.”

“Dia tidak membencimu, dia hanya membenci hubungan antarmanusia.”

Aku merasa dia tidak secara khusus membenci Kushida. Mungkin.

“Jika kau tidak keberatan, bolehkah aku memintamu untuk menghubunginya?”

Jadi, untuk itu, itulah kenapa kau berbicara denganku.

“Bahkan jika kau ingin aku menghubunginya... aku tidak tahu nomor telepon Horikita.”

“Eh, benarkah?”

“Ya, aku sangat menyesal. Aku rasa yang lainnya berada dalam situasi yang sama.”

“Apa… lalu apa yang harus kita lakukan?”

“Bukankah tidak apa-apa dengan meninggalkannya sendirian?”

“Tapi———”

Kushida benar-benar orang yang lembut, dia bahkan terlalu mengkhawatirkan Horikita.

“Aku akan melihat keadaannya.”

“Kau bilang keadaan… bukankah pelajaran berikutnya akan segera dimulai?”

“Tapi bukankah ini membuat orang-orang khawatir? Apakah menurutmu Horikita akan membolos?”

“Itu sesuatu… yang sulit untuk dibayangkan.”

Dia memberikan perasaan seseorang yang bahkan akan datang ke kelas meski terkena flu.

“Meskipun tidak banyak waktu tersisa sebelum pelajaran pertama dimulai, jika aku berlari cepat aku seharusnya bisa kembali tepat waktu.”

Kushida, seperti Horikita, adalah siswa teladan yang tidak pernah datang terlambat atau tidak hadir.

Meskipun dia melakukan ini karena dia mengkhawatirkan Horikita, catatan keterlambatannya masih akan tetap ada.

“Ah, tunggu sebentar.”

Aku mengangkat pinggangku yang berat dan perlahan berdiri.

Aku tidak bisa membiarkan Kusada terlambat, jadi aku hanya bisa melangkah maju. Aku jelas tidak berpura-pura menjadi keren. Sungguh.

“Ayanokouji-kun?”

“Singkatnya, aku akan melihat situasi Horikita.”

“Eh?”

“Aku tidak bisa membiarkan Kushida membolos. Dan jika aku lari, aku lebih mungkin untuk kembali tepat waktu untuk pelajaran. Jadi aku akan segera kembali.”

“Tapi, tapi, ini adalah sesuatu yang ingin aku lakukan atas kemauanku sendiri. Aku tidak bisa memintamu untuk melakukannya. “

“Tidak masalah, karena ceramahnya masuk ke telinga yang satu dan keluar dari telinga lainnya.”

...Mungkin.

“Maaf… terima kasih.”

“Bukan apa-apa. Ngomong-ngomong, berapa nomor kamar Horikita?”

Jika aku lari buru-buru sekarang, aku akhirnya akan tidak tahu di mana kamarnya.

Aku perlu menanyakan ini.

“Biar kupikir, nomor 1201.”

Karena aku telah menerima terima kasih dari Kushida, maka ini mungkin sesuatu yang akan mencetak poin.

Di dalam hatinya, poinku mungkin telah meningkat.

Ada sekitar 8 menit sampai pelajaran pertama dimulai.

Berlari ke asrama perlu 2 hingga 3 menit, jadi ada perubahan untuk kembali tepat waktu.


2


Aku segera meninggalkan kelas dan berlari seperti angin melewati koridor.

Sepertinya aku mungkin sedikit termotivasi.

Merasa sedikit malu, aku berlari melalui halaman kosong dan tiba di pintu masuk asrama. Terima kasih kepada siswa yang pergi ke kelas, 2 lift dihentikan di lantai pertama. Aku langsung masuk lift untuk menuju lantai 12.

Karena aku merasa cemas, aku terus menekan tombol lantai target.

“Lantai atas adalah area gadis itu...”

Aku tiba di koridor lantai 12 dalam sekejap dan mencari kamar nomor 1201. Hanya dengan mengira ini adalah tempat tinggal para gadis, jantungku mulai berdetak lebih cepat. Berbahaya, ini bukan saatnya untuk memikirkan hal-hal ini. Jika seperti yang dilihat Kushida, maka Horikita pasti ada di dalam kamarnya.

Setelah sampai di depan ruangan, pertama-tama aku mengatur napas. Lalu aku menekan bel pintu.

“...”

Namun, setelah menunggu beberapa saat, aku tidak mendengar tanggapan dari kamar. Apakah kau sudah berangkat ke sekolah?

Tidak, hanya ada satu jalur ke sekolah. Jika benar begitu, kami pasti akan berpapasan. Dan dia tidak naik lift lainnya.

Dia tidak ada di kamarnya, atau mungkin dia pingsan di dalam.

Untuk memastikan situasinya, aku mencengkeram gagang pintu masuk.

“Haruskah aku mengetuk pintu lagi?”

Meskipun dia adalah Horikita, dia tidak diragukan lagi adalah seorang gadis.

Jadi aku menekan bel pintu, lalu aku mengetuk pintu, dan menunggu jawaban dari dalam.

Kali ini aku menunggu sedikit lebih lama. Tapi pada akhirnya sama saja. Tidak ada reaksi.

“Sial, tidak ada cara lain.”

Setelah membuat keputusan tegas tentang memasuki pintu, aku memutar gagang pintu.

Kemudian gagang pintu dengan mudah diputar, sehingga pintu terbuka. Yang berarti kemungkinan Horikita berada di dalam sangat tinggi.

“Hei Horikita, kau di dalam?”

Karena itu satu ruangan, dengan melihat ke dalam sudah cukup untuk mengetahui situasinya.

Kemudian———

“Eh…”

Horikita ada di dalam.

Dia tidak pingsan, juga tidak kesakitan.

Dia sedang dalam proses mengganti pakaiannya.

Dia tidak tiba-tiba berteriak karena pengunjung yang tidak terduga, tapi dengan tenang menatapku dengan tatapan tajam.

“...apa yang sedang kau lakukan?”

Dia tidak merasa malu, Horikita menghentikan gerakannya dan bertanya padaku.

Ini bisa dianggap sebagai salah satu cara Horikita sedang bimbang.

Apakah karena otaknya tidak mengenali bahwa dia terlihat telanjang, sehingga dia tidak berusaha bersembunyi?

Aku sedikit khawatir tentang bagaimana menanggapi pertanyaannya, menjadi bingung tentang ke mana aku harus melihat, sementara aku menatap kulitnya yang lembut dan mengkilap. Lagipula, aku tidak punya pilihan, bukan? Tubuh telanjang seorang gadis sulit untuk dilihat.

Meskipun apa yang aku lihat mirip dengan yang aku lihat selama pelajaran renang, itu masih sangat berbeda.

“Ini, sebenarnya aku diminta oleh Kushida. Dia ingin aku melihat keadaan Horikita. Kau tahu, bukankah kau bersikeras untuk tidak terlambat atau tidak hadir? Biasanya kau pergi ke sekolah lebih awal. Kushida berkata bahwa dia melihatmu pagi ini meninggalkan ruangan, namun kau tidak tiba di kelas, dia bertanya-tanya apakah kau punya alasan dan ingin datang ke sini untuk menengokmu. Tapi karena seorang gadis yang datang ke sini akan mengambil banyak tanggung jawab, sebagai hasilnya, aku menggantikannya dan tiba di sini.”

Bahkan aku tidak akan percaya bahwa aku melafalkan kalimatku dengan sangat baik untuk membenarkan diriku sendiri.

Bahkan jika ini adalah kebenarannya, tidak dapat diterima untuk dikaitkan dengan terlihat saat berganti pakaian.

“Hanya itu?”

“...hanya itu.”

Ini terlihat persis seperti kata-kata terakhir dari terpidana mati.

Aku dengan tenang mempersiapkan diri untuk hukuman yang akan aku alami selanjutnya.

“Begitu, ya…”

Sepertinya dia telah memilah berbagai hal di dalam hatinya. Dia memakai roknya, mengancingkan blusnya dan menjadi dia yang biasanya memakai seragam sekolah.

(Tln: Blus = Kemeja wanita)

“Dengan kata lain, kau datang ke sini untuk melihat keadaanku karena kau khawatir?”

“Begitulah. Karena tidak wajar jika Horikita yang superior akan terlambat.”

“Apa boleh buat. Sesuatu telah terjadi. “

Horikita mengatakan ini sambil selesai mengganti pakaiannya, dan mengambil seragamnya yang ada di tempat tidurnya.

“Aku berencana pergi ke sekolah dengan mengenakan pakaian ini, tapi beberapa masalah terjadi.”

“Masalah?”

Horikita membuka seragamnya dan menunjukkan sisi kanan perutnya padaku.

Ada bekas goresan beberapa sentimeter. Meninggalkan lubang.

“Kau tahu kalau ada rak buku di pintu masuk? Ada paku menonjol yang mengaitkan seragamku. Ini benar-benar topik yang memalukan.”

Itulah kenapa ada potongan besar. Benar saja, dalam situasi seperti ini sulit pergi ke sekolah.

Jadi dia buru-buru kembali ke kamarnya dan mengenakan seragam cadangannya.

“Yang jelas, untunglah kau baik-baik saja. Waktunya hampir habis.”

Waktu di telepon menunjukkan bahwa tidak lama kemudian pelajaran pertama dimulai.

Jika kita berlari sekarang, kita seharusnya sudah hampir tepat waktu.

Aku ingin kabur dari sisi Horikita… Agar tidak datang terlambat, aku membalikkan tubuhku.

“Ayanokouji-kun.”

Aku dengan gugup ingin meninggalkan ruangan, tapi tanpa ampun aku dipanggil.

“B-bolehkah aku bertanya ada apa?”

“Bisakah kau melihatku?”

“A-apakah aku harus melihatmu?”

“Meski kau bisa memilih untuk tidak melihatku, tapi itu akan membuatmu semakin menyesal, loh?”

“Bolehkah aku bertanya kau perlu apa?”

Merasa ngeri, aku berbalik, tapi aku diserang oleh Horikita yang mendekat.

Diikuti dengan tangan pisau yang menusuk perutku.

Semua makanan yang aku makan di pagi hari keluar dengan ganas.

Setelah aku jatuh di tempat, dia menikam leher aku dengan tangan pisaunya.

“Wagu!”

Aku terlempar ke lantai dengan cara ini.

“Apapun alasan yang kau miliki, apakah kau sudah mempersiapkan diri untuk menerima hukuman?”

“A-Aku tak pernah menyangka segalanya akan menjadi seperti ini…!”

Meskipun aku sudah mempersiapkan diri untuk menerima hukuman, tapi kekuatannya benar-benar menakutkan.

Aku tidak percaya serangan ini dilakukan dengan tubuh mewah itu.

“Fakta bahwa aku tidak menelepon polisi bisa dianggap belas kasihan. Namun, aku bertanya-tanya kenapa aku tidak bisa mendinginkan amarahku hanya dengan ini.”

“Aku mengalami pengalaman yang cukup menyakitkan. Jika memungkinkan, aku harap kau bisa berhenti di sini...”

Aku memohon ke horikita agar tidak menderita serangan lagi.

“...Ah…”

Seharusnya aku tidak mengangkat kepalaku saat aku berbaring di lantai.

Itu bukan niatku tapi aku sedikit melihat keberadaan berwarna putih di bawah rok itu.

Bersama dengan apa yang aku lihat sebelumnya, itu adalah perasaan menggoda lainnya.

Kenapa aku melihatnya saat aku tahu betul bahwa aku tidak boleh melihatnya?

“Tunggu, ini———”

Bagian belakang kepalaku menderita sakit yang sangat parah. Segera setelah itu, aku kehilangan kesadaranku beberapa detik.

“Bagaimana jika aku mati!”

“Tidak masalah. Aku telah mengarahkan seranganku agar itu tidak terjadi.”

Dia mengatakan sesuatu yang aku tidak tahu apakah itu kata-kata yang memprihatinkan.

“Aku sungguh sengsara…”

“Bisakah kau cepat tinggalkan kamarku? Aku dalam masalah karena aku tidak bisa mengunci pintu.”

“Aku berharap kau bisa sedikit lebih perhatian denganku...”

“Biar kupikir... Jika kau ingin rebahan, aku minta kau pergi ke koridor.”

“Itu sama sekali tidak penuh perhatian!”

Aku merangkak ke koridor seolah-olah aku diusir.

“Sampai jumpa.”

Meskipun ini sudah jelas, Horikita mengabaikanku, yang tidak bisa mengerahkan tenaga ke kakiku, tidak bisa lari.

Aku tidak perlu menyebutkan bahwa aku terlambat pada akhirnya.

Jauh di lubuk hatiku, aku dengan sedih memutuskan bahwa setidaknya aku akan mencap gambaran Horikita yang mengenakan celana dalamnya di otakku.

Related Posts

Related Posts

Post a Comment