-->
olNGIb4NkK5r2x7x4oG3GpEzizVpnY6KNCck9cym

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 4.5 Bab 2 Part 1 Indonesia


Bab 2
Awal dari Liburan Singkat Ini


1


Kolam renang itu dengan cepat ditinggalkan begitu Nagumo dan teman-temannya mulai berdatangan.

Jika dia ingin berbicara denganku secara langsung, bahkan tanpa aku melakukan kontak dengannya, dia pasti akan mengirim utusan kepadaku jika aku pergi meninggalkannya.

Fakta bahwa dia tidak melakukannya saat ini, aku menafsirkan ini sebagai indikasi bahwa dia tidak punya niat untuk mengatur tempat untuk berbicara.

Yang jelas, itu bukan hal yang menyenangkan untuk terus menjadi pusat perhatian.

Ketika aku hendak pergi ke ruang ganti untuk mengganti pakaian agar bisa melarikan diri———

“Ayanokouji-senpai!”

Aku bertemu dengan Nanase, yang melihatku di lorong dan berlari ke arahku dengan ekspresi bahagia di wajahnya.

Di atas kapal di mana kau tahu persis ke mana kau mau pergi, kau akan melewati siswa yang kau kenal berulang kali di luar kamar tamu, jadi bertemu dua hari berturut-turut bukanlah hal yang tidak biasa.

Namun, cara dia muncul mengingatkanku pada adegan yang ku lihat kemarin karena itu sama persis.

“Sekarang, bolehkah aku minta waktumu sebentar?”

Dia sepertinya memeriksa sekitarku dengan ringan untuk memastikan aku tidak bersama orang lain.

Mungkin dia tidak bisa memulai percakapan karena aku sedang bersama Ishizaki kemarin.

Tetapi, aku menganggukkan kepala, agak bingung dengan tekanan kuat dan kedekatannya.

“Sebenarnya, aku tidak yakin apakah aku harus melaporkan ini atau tidak, tapi, umm, ada sesuatu yang menggangguku.”

“Sesuatu yang mengganggumu?”

Nanase mengangguk dan suasana hatinya yang ceria menghilang, digantikan oleh ekspresi serius.

Kemudian, sambil memperhatikan sekitar, Nanase berbicara dengan berbisik.

“Ada satu hal yang tidak kukatakan pada senpai. Jika kukatakan, kamu mungkin akan marah, tapi...”

Aku mungkin akan marah? Aku ingin tahu apa itu.

“Itu———”

Nanase akan mengatakan sesuatu yang tidak dia katakan padaku dengan bisikan yang lebih pelan, tapi....

“Are? Ayanokouji-kun?”

Nanase buru-buru menjauhkan diri dariku ketika sebuah suara yang tidak dia kenali memanggilku. Itu adalah Kobashi Yume, teman sekelas Ichinose.

Dalam kehidupan sekolahku sebelumnya, kami bahkan tidak akan saling menyapa ketika kami bertemu.

Tetapi, selama ujian di pulau tak berpenghuni, kami pernah menghabiskan sedikit waktu bersama.

Tampaknya itu telah membuat perubahan dalam hubungan kami.

“Ah, apakah aku... sudah mengganggu kalian? Apa aku sebaiknya menunggu.”

Dia meminta maaf, mungkin karena merasa sudah mengabaikan Nanase, yang bersembunyi di belakang tubuhku.

“Tidak kok, tenang saja. Karena aku hanya sedang bertanya pada Ayanokouji-senpai tentang sesuatu yang aku tidak mengerti.”

“Beneran nih?”

Nanase mengangguk dengan kuat dua kali, seolah-olah itu tidak seserius yang dia kira.

“Aku akan memanggil senpai lagi ketika aku punya waktu.”

Aku yakin itu bukan sesuatu yang ingin didengar oleh siswa lain.

Nanase membungkuk dalam-dalam tidak hanya padaku, tapi juga pada Kobashi, dan berlari.

“Ah, maaf, ya, aku tidak tahu kalau kamu sedang bicara dengannya. Anak itu siswa tahun pertama, ‘kan? Apa aku sudah membuatnya marah, ya?”

“Kurasa kau tidak usah khawatir tentang itu. Daripada itu apa kau ada perlu denganku?”

“Sebenarnya, gadis-gadis di kelasku akan mengadakan pesta malam ini untuk merayakan kerja bagus kami. Aku bertanya-tanya apakah kau ingin bergabung dengan kami, Ayanokouji-kun. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih karena sudah menolong Chihiro-chan.”

Aku mendapat undangan seperti itu.

Tetapi, kata kunci gadis-gadis di kelasku tertangkap sangat kuat dibenakku.

“Anggota seperti apa yang akan berpartisipasi?”

Aku takut dan mencoba untuk memastikannya, tapi Kobashi memiringkan kepalanya sambil berkata, Hmm.

“Kurasa kami masih dalam proses penyesuaian. Kau tidak perlu sekhawatir itu karena tidak ada anak yang aneh kok.”

Bukannya aku takut dengan anggota aneh yang ikut, tapi dia sepertinya tidak mengerti.

“Hanya ada siswa dari kelasmu, ‘kan, Kobashi? Apa tepat mengajakku yang orang asing untuk bergabung?”

“Begitukah? Tidak ada hal seperti itu kok. Hei, hei, jadi gimana?”

Undangan ke pesta terima kasih yang lembut dan abstrak.

Sejujurnya, aku tidak terlalu tertarik pada undangan itu, karena tidak banyak orang di kelas Ichinose yang bisa aku ajak bicara dengan ramah.

Apalagi sekarang, bahkan jika aku bertemu Ichinose, aku ragu bisa mengobrol dengannya.

Ini agak menyedihkan, tapi aku akan menolaknya.

“Tidak, aku tidak akan———”

Melihat bahwa aku akan menolak undangannya, Kobashi menyatukan tangannya seolah merengek.

“Kumohon! Aku pikir ada semacam takdir sehingga  kita bertemu di sini, kau tahu?”

Sulit untuk mengatakan tidak ketika seseorang berkata begitu, tapi aku tidak bisa luluh begitu saja.

Aku bisa melihat bahwa jika aku mengikuti arus di sini, itu tidak akan baik untukku nanti.

“Kau mau bilang... itu tanggung jawabku,’kan?”

“Eh?”

“Uun, apa boleh buat, ya. Aku akan melaporkan hal ini pada semua orang di kelas. Aku sudah mengundang Ayanokouji-kun, tapi dia menolakku karena aku tidak mengundangnya dengan benar.”

“Tunggu dulu. Kenapa bisa jadi begitu?”

“Jadi kamu mau datang?”

“...Soal itu...”

“Sudah kuduga kamu tidak mau. A~ah, kalau saja aku bisa mengundangmu sedikit lebih baik... maaf teman-teman.”

“Aku jadi bingung kalau kamu sekecewa itu...”

“Yang penting kamu datang aja...! Tolong sih, mau! Dan Honami-chan juga akan datang!”

Sekali lagi, kali ini dia menggosok kedua tangannya dengan lebih kuat dari sebelumnya.

Setelah dibawa sejauh ini, seolah-olah sudah tidak ada jalan keluar.

“Baiklah. Beneran yang penting aku datang, ‘kan?”

“Un, terima kasih! Ah, tapi jangan beri tahu Honami-chan kalau kau akan menghadiri pesta hari ini, oke?”

Senyumnya begitu cerah sehingga sulit dipercaya bahwa dia pernah terlihat kecewa dan sedih sebelumnya.

Sering dikatakan bahwa wanita terlahir sebagai aktris.

Tetapi jangan beri tahu Ichinose? Bagian itu sedikit membuatku gelisah.

“Kenapa harus dirahasiakan? Aku memerlukan izin semua orang agar aku dapat berpartisipasi.”

Kalau ada satu saja siswa yang menolakku untuk berpartisipasi, kuharap dia tidak perlu ragu untuk memberitahuku.

Dengan begitu, aku bisa sekali lagi menolak dengan terus terang untuk kebaikan bersama.

“Soalnya, kau tahu... bukankah lebih baik membuat kedatangan Ayanokouji-kun sebagai kejutan?”

Aku tak bisa untuk tidak berpikir itu kejutan dengan cara yang tidak begitu baik.

Aku tidak ingin membahasnya, tapi sepertinya teman sekelasnya juga memikirkan banyak hal tentang aku dan Ichinose.

“Kalau begitu, aku tunggu di kamar 5034 jam 8, ya.”

“Di kamar 5034... apa kalian akan melakukannya di kamar seseorang?”

Aku pikir kami akan menggunakan tempat istirahat atau deck di suatu tempat.

Selain itu, nomor kamarnya menunjukkan bahwa ini adalah kamar tamu tempat tidur anak perempuan, bukan anak laki-laki.

“Apa tidak boleh?”

“Bukannya... tidak boleh, aku hanya merasa sedikit lebih sulit untuk menghadirinya.”

“Itu tidak benar. Iya, ‘kan?”

Tidak peduli apa balasanku, aku terus didorong oleh serangan “Iya, ‘kan?” dari Kobashi.

Jalan keluarku semakin tertutup.

“Kalau begitu aku akan menunggumu! Pokoknya kamu harus datang loh, ya!”

Mungkin dia puas karena sudah membuatku berjanji, Kobashi berjalan sedikit lebih cepat.

“Ya ampun.”

Ini bahkan belum waktunya untuk berbicara dengan Ichinose secara langsung...

Yah, jika aku berada dalam kelompok besar, kupikir akan baik-baik saja.

Jika ini pesta terima kasih atas kerja kerasnya, aku yakin tidak sedikit anak laki-laki di sana.

Related Posts

Related Posts

4 comments

  1. Jebakan,,??
    Honamixkiyo 😆😆😆

    ReplyDelete
  2. Lanjutkan terus min
    ~Arigatou

    ReplyDelete
  3. Mantep min, semangat terus.
    Tiap hari ku cek ni web nunggu update

    ReplyDelete
  4. Wkwkwk, kiyo di comblangin nih kayanya

    ReplyDelete