-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 4.5 Bab 3 Part 2 Indonesia


Bab 3
Liburan Setiap Orang


2


“Ano... Sakayanagi-san. Apa kau punya waktu sebentar?”

Setelah makan siang, aku sedang istirahat di sebuah kafe di deck kapal ketika Ichinose-san yang mengunjungiku, memanggilku. Karena aku hanya minum teh sendirian, tidak ada alasan untuk menolak.

“Apa ada yang bisa kubantu?”

Aku tahu apa yang akan dia katakan sebelum aku mendengarnya, tapi aku tetap memiringkan kepalaku dengan rasa ingin tahu.

“Tentang ujian khusus... aku merasa harus meminta maaf. Pada hari terakhir, aku melakukan sesuatu yang egois... um, aku benar-benar minta maaf!”

Ichinose-san menundukkan kepalanya sebanyak yang dia bisa, mungkin dia sudah siap sampai batas tertentu bahwa dia tidak akan bisa membuat alasan dengan lawan bicaranya.

Tidak, aku tidak berpikir dia akan membuat alasan buruk pada siapa pun itu.

Apa boleh buat bahkan jika aku akan memutuskan hubungan kerja sama kami karena dia sudah membuatku pemimpin kelas A marah.

Kupikir dia pasti merasa bahwa dia telah melakukan kesalahan sebesar itu.

“Tolong angkat kepalamu, Ichinose-san. Aku tidak marah sama sekali.”

“...Eh?”

“Sebaliknya, aku menyadari bahwa kamu sudah memberikan kontribusi yang cukup sebagai anggota grup yang sama. Persentase jawaban benar yang tinggi dalam tugas, dan kau sudah memainkan peran sentral yang luar biasa dalam kehidupan di pulau tak berpenghuni dengan menyatukan teman-teman yang terpencar. Dan sebagai hasilnya, kita memenangkan peringkat ketiga.”

“Ta-Tapi...”

“Memang benar Ichinose-san bertindak sedikit egois di hari terakhir. Namun, kerugian yang diberikan pada grup paling banyak beberapa poin. Itu tidak cukup untuk menyalahkanmu jika dibandingkan dengan kontribusimu. Jika karena itu kita jatuh ke peringkat ke-4, kau mungkin akan sedikit bertanggung jawab, tapi toh itu juga tidak terjadi.”

“Tapi itu berdasarkan hasil...”

“Terkadang ada baiknya untuk melihat berdasarkan hasil. Segala sesuatu tidak selalu berjalan dengan baik. Sebaliknya, jika kita berjuang sekuat tenaga dan hasilnya berada di posisi ke-4 dengan selisih kecil, kerusakan mental yang kita terima pasti sangat besar.”

Aku bertanya-tanya apakah sikap ku yang tidak menyalahkannya sama sekali membuat Ichinose-san merasa dua kali lebih menyesal daripada sebelumnya. Perasaan bersalahnya tidak kunjung hilang.

“Ekspresi di wajahmu seperti mengatakan bahwa kau perlu bertanggung jawab atas sesuatu untuk membuatmu merasa lebih baik, ya.”

“Etto, tidak seperti... itu, mungkin tidak.”

“Kalau begitu, bolehkah aku memberimu hukuman?”

Sambil ditekan oleh wajah tak kenal takut yang ku tunjukkan padanya, Ichinose-san mengangguk kecil.

“Un. Aku pikir itu akan menjernihkan segalanya untukku.”

“Fufu, kamu orang yang aneh, ya. Kalau begitu, baiklah———silakan duduk di sini.”

Aku mendesaknya untuk pergi ke depanku dan menyuruh Ichinose-san duduk di kursi.

Dia menjadi pendiam seperti kucing pinjaman, dan aku menyuruh pelayan menyiapkan daftar menu untuknya.

“Silakan, pesanlah apa pun yang kamu suka.”

“Etto... bagaimana hukumannya?”

“Mulai sekarang, kau akan menemaniku minum teh sore selama sekitar 30 menit.”

“Eh? A-Apakah itu hukuman?”

“Itu benar. Aku akan mengambil 30 menit berharga Ichinose-san, tidak lain hanyalah hukuman itu sendiri.”

“Benarkah, itu... Tapi kalau Sakayanagi-san bilang begitu, aku akan menurut.”

Ichinose-san tidak yakin apa yang harus dilakukan, tapi dia memesan minuman sesuai perintahku.

“Kau benar-benar penurut, ya, Ichinose-san. Kau pernah dipermalukan olehku, tapi kau tidak membiarkan itu memengaruhimu sedikit pun, dan kau malah mau menemaniku seperti ini.”

“Aku tidak merasa bahwa aku sudah dipermalukan. Lagipula... karena kesalahan yang kubuat di masa lalu adalah fakta.”

“Setidaknya, kau ingin menyembunyikan masa lalu yang membuatmu merasa bersalah, dan masa lalu yang tidak ingin kau ungkapkan. Bahkan jika itu adalah fakta seperti yang kau bilang, Ichinose-san.”

Aku sudah melihat banyak manusia luar biasa, baik anak-anak maupun orang dewasa, dari dekat hingga sekarang.

Tentu saja, ada banyak yang tahu bahwa mereka adalah yang terbaik dan mengakui bakat mereka.

Di sisi lain, aku mungkin telah melihat puluhan kali lebih banyak orang yang sama sekali tidak berguna dan tidak kompeten.

Dan terlepas dari keunggulan atau ketidakmampuan, aku tidak pernah mengenal satu orang pun yang bisa disebut kebaikan murni.

Hal yang sama berlaku untuk ayahku, ibuku, dan bahkan Ayanokouji-kun.

“Kamu ini tak terlukiskan, ya. Itulah kenapa kamu terkadang terlihat sangat menakutkan.”

“Aku... menakutkan?”

Aku yakin bahwa dia tidak pernah diberitahu hal seperti itu dalam hidupnya. Tetapi, aku yakin ada lebih dari satu atau dua orang yang takut pada orang ini, Ichinose Honami-san.

“Manusia yang hidup di dunia ini memiliki sedikit banyak kejahatan di dalam dirinya. Tapi aku sama sekali tidak melihat semua itu di dalam dirimu. Kamu seperti segumpal kebaikan.”

“Kau terlalu melebih-lebihkanku. Aku bahkan telah melakukan hal yang buruk, seperti ketika aku masih di SMP...”

Masa lalunya yang memalukan, yang tidak pernah bisa dia banggakan, masih tetap menjadi kenyataan yang tak terhapuskan.

“Ya tuhan inilah yang kumaksud, apa yang kau katakan itu tidak ada hubungannya. Lagian, bahkan jika kamu sementara terlibat dalam kejahatan, ada cinta keluarga yang tak tergantikan di baliknya.”

Bahkan jika itu jahat di mata hukum, itu bisa dianggap baik tergantung bagaimana kau melihatnya.

“Kebaikan itu adalah kekuatan sekaligus kelemahanmu. Berhati-hatilah agar orang lain tidak memanfaatkannya.”

“Apa yang kau maksud Ryuuen-kun?”

“Bukan hanya dia. Aku, dan Horikita-san, kami akan memanfaatkan kebaikanmu untuk menang.”

Setelah mengambil napas, aku melanjutkan untuk memberitahunya hal yang paling penting.

“Dan begitu juga dengan Ayanokouji-kun.”

Semua yang pertama berlaku untuk para pemimpin masing-masing kelas, termasuk Ryuuen-kun yang dia sebutkan.

Munculnya nama Ayanokouji-kun yang tiba-tiba membuat Ichinose-san terkejut saat dia menatapku.

“Pada hari terakhir ujian di pulau tak berpenghuni, mungkin berkat kamu Ayanokouji-kun terselamatkan.”

“Tu-Tunggu sebentar? Umm, apa maksudmu...”

“Ini hanya tebakanku. Sejujurnya ada banyak hal yang tidak aku mengerti, jadi tolong anggap saja aku sedang berbicara sendiri dan jangan di dengarkan.”

Aku bisa dengan mudah membayangkan bahwa jika aku melanjutkan masalah ini di sini, Ichinose-san akan mengungkapkan beberapa detail yang tidak jelas, tapi aku menghindarinya. Karena akan membosankan untuk mendengarnya dengan cara seperti ini.

“Aku entah bagaimana bisa tahu dengan melihatmu bahwa perasaanmu terhadap Ayanokoji-kun berbeda dengan perasaanmu terhadap siswa lain.”

“E-Eeeh!? Ti-Tidak kok, itu, hal seperti itu...!”

“Itu juga baik, ‘kan? Itu adalah naluri manusia untuk memiliki perasaan khusus terhadap lawan jenis tertentu. Tetapi———kalau kamu terlalu mengaguminya, kamu mungkin menderita balasan yang menyakitkan. Terlebih lagi jika orang itu adalah Ayanokouji-kun.”

“Aku tidak begitu mengerti maksudmu, Sakayanagi-san.”

Apa yang kukatakan hari ini adalah peringatan. Aku tidak akan melangkah lebih jauh di sini.

“Mari kita berhenti di situ. Sudah waktunya untuk minum teh sore.”

Ketika Ichinose-san menyesap teh yang dibawakan untuknya, dia mungkin tidak bisa mencicipi rasanya dengan baik. Aku yakin dia tidak bisa melupakan apa yang kukatakan dan itu terjebak di kepalanya.

Itu adalah kejahatan kecilku, belas kasihanku, dan siasatku.

Related Posts

Related Posts

6 comments