-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 4.5 Bab 3 Part 3 Indonesia


Bab 3
Liburan Setiap Orang


3


Sakayanagi selesai menceritakan tentang percakapannya dengan Ichinose.

Aku baru saja selesai makan dan minum teh kotak 200 ml.

“Aku tak percaya kau sudah mencuri hati Ichinose-san yang merupakan salah satu gadis paling populer di tahun ajaran, kau pria yang berdosa, ya.”

Itu mungkin tampak seperti pernyataan yang remeh, tapi aku tidak dapat menerimanya ke arah yang baik bahkan satu milimeter pun.

“Kau kejam, ya, Sakayanagi.”

“Fufufu, itu hanya sifatku.”

Dia melindungi Ichinose seolah-olah mengantisipasi dan membuat persiapan agar dia bisa memanfaatkannya sendiri.

“Jika aku mengambil tindakan yang akan menyakiti Ichinose di sini, dia akan lebih mempercayaimu.”

“Kalau aku bisa mendapatkan kepercayaannya, akan lebih mudah bagiku untuk bermanuver di masa depan.”

Sakayanagi memiliki satu sisi sebagai sekutu, tapi tentu saja dia juga memiliki satu sisi sebagai musuh.

Karena itu adalah hubungan dua sisi terhadap orang yang sama, dia memanfaatkan poin itu dengan baik.

“Tapi, kenapa kau menceritakan itu kepadaku?”

“Cerita yang baru saja kuceritakan padamu adalah tentang Ichinose-san, tapi bukan itu yang penting sekarang. Dalam kehidupan di sekolah ini, jumlah orang yang tahu tentang Ayanokouji-kun semakin meningkat sedikit demi sedikit. Dan mereka sangat tertarik padamu.”

Memang benar jika hubunganku dengan Ichinose tetap lemah selama ujian di pulau tak berpenghuni, dia tidak akan berlari untuk menemuiku dan menyebabkan masalah bagi teman-temannya.

“Bersamaan dengan itu, tahun ketiga menatapmu dengan aneh.”

Aku mengerti. Kukira alasan kenapa dia mengejarku adalah untuk mengobrol, tapi ternyata itu topik utamanya. Dalam waktu singkat, Sakayanagi menyadari bahwa aku sedang diawasi oleh siswa tahun ketiga.

Itu mengesankan.

Apa yang dia katakan sebelumnya secara implisit merupakan langkah persiapan untuk menyentuh hal ini.

“Apa kau punya masalah dengan tahun ketiga?”

“Yah, katakan saja itu masalah. Sepertinya aku telah membuat musuh dari lawan yang merepotkan.”

“Lawan yang merepotkan... Ketua OSIS, ya.”

Di antara siswa senior, mungkin satu-satunya yang terlintas dalam pikirannya yang bisa menjadi lawan yang kuat untukku adalah Nagumo.

“Aku berselisih dengan ketua OSIS pada hari terakhir di pulau tak berpenghuni itu. Tampaknya dia kehilangan peringkat pertama karena itu, dan dia menatapku seolah aku adalah musuh.”

“Jadi dia kehilangan pijakan di saat dia mencoba untuk menghasilkan kemenangan dramatis.”

“Kau bahkan menyadari hal itu?”

“Pendapat mayoritas siswa dalam ujian di pulau tak berpenghuni mengatakan bahwa Kouenji-kun yang solo tak tertandingi, ‘kan? Tetapi, aku tahu sejak awal bahwa ketua OSIS sengaja menahan perolehan poinnya. Jika dia membuat perbedaan yang terlalu besar, itu akan secara terang-terangan menyoroti skema bahwa seluruh siswa tahun ketiga sedang berusaha membuat grup tertentu untuk menang. Aku bisa melihat strategi mereka dengan melihat aliran kartu yang mereka miliki.”

Kupikir aku sudah sepenuhnya mengakui kemampuan Sakayanagi, tapi dia masih melampaui penilaianku.

Itu adalah bukti bahwa dia memiliki pemahaman yang sempurna dari seluruh proses kejadian dalam ujian khusus di pulau tak berpenghuni.

“Apa ada yang bisa ku lakukan untuk membantu?”

“Tidak, aku baik-baik saja. Nagumo juga tidak bisa membuat gerakan mencolok dengan mudah. Dan selain itu, Sakayanagi sudah sangat membantuku selama ujian di pulau tak berpenghuni. Aku tidak bisa meminta lebih.”

“Kamu tidak perlu khawatir tentang itu. Aku senang kamu mengandalkanku, dan aku juga memanfaatkan sepenuhnya usulan dari Ayanokouji-kun.”

“Memanfaatkan? Maksudnya?”

Terkikik, Sakayanagi menyipitkan matanya dan menatap laut.

“Ketika babak akhir mendekat dalam ujian di pulau tak berpenghuni tempo hari, aku menilai bahwa akan sulit untuk mendapatkan peringkat pertama dan kedua. Kecepatan peningkatan skor grup Kouenji-kun dan ketua OSIS lebih cepat dari skor maksimum yang bisa didapat grup kami.”

Yah, karena kedua grup itu bertarung di dimensi yang berbeda.

“Kami mengincar peringkat ketiga, tapi salah satu saingan kami di tahap akhir adalah grup Ryuuen-kun. Dia berada dalam grup kecil beranggotakan dua orang dengan Katsuragi, tapi mereka menunjukkan kegigihan yang luar biasa. Jadi aku meminta bantuannya dan memutuskan untuk mengadunya dengan Housen-kun.”

“Aku mengerti, jadi itu yang terjadi.”

“Kalau Ryuuen-kun menyimpang dari ujian akhir dengan cara apa pun, itu akan memperlambat perolehan poinnya. Hasilnya, dia harus mundur, yang merupakan cara terbaik yang bisa kami dapatkan.”

Itu artinya dia telah berhasil menyelamatkanku dan menghancurkan keberadaan saingannya, Ryuuen.

Tetapi bahkan setelah mendengar semua ini, masih ada beberapa hal yang aku tidak mengerti.

Ryuuen juga telah bekerja keras selama dua minggu untuk naik podium, tapi dia dengan mudah bekerja sama dengan Sakayanagi.

Seharusnya tidak sulit untuk membayangkan bahwa jika dia bertarung dengan Housen, dia tidak akan aman.

Yang kutahu pasti adalah bahwa ada semacam janji telah dibuat....

Sampai harus melepaskan kemungkinan peringkat ketiga, itu jelas bukan kesepakatan yang kecil.

“Kompensasi besar... misalnya, apakah dia memintamu membayar poin pribadi yang tinggi?”

Jika Sakayanagi memanfaatkan kartu ambil keuntungan yang dimiliki oleh teman-teman sekelasnya dengan baik, dia pasti ada pemasukan. Tidak heran dia menawarkan hal itu kepada Ryuuen, yang mencoba mengumpulkan sejumlah besar poin pribadi.

“Aku belum membayar dia satu poin pun, dan aku juga tidak berencana untuk melakukannya di masa depan.”

“Dengan kata lain, itu bukan soal uang.”

Di sekolah ini, pada dasarnya pertukaran poin pribadi adalah standar dari transaksi.

“Aku tahu kedengarannya seperti teka-teki, tapi aku tidak bisa memberitahumu sekarang, Ayanokouji-kun. Ini adalah janji yang dibuat antara dia dan aku. Sampai dia menyuruhku untuk memenuhi janjiku dalam waktu dekat.”

Sakayanagi pernah berkata, [Keinginan itu akan mencekik dirinya sendiri dalam waktu dekat].

Dengan mengingat hal itu, mungkin bisa dimengerti dia tidak menginginkan uang seperti poin pribadi sebagai imbalannya.

“Bagaimanapun, kau juga harap berhati-hati, ya, Ayanokouji-kun. Bahkan jika satu masalah terpecahkan, siswa White Room masih ada, dan kau juga mendapat masalah dengan siswa tahun ketiga.”

“Aku mendapat rentetan masalah, tapi aku akan berhati-hati.”

Aku mendengar nada dering dari Sakayanagi. Sakayanagi dengan ringan meminta izin dan menerima telepon dari seseorang.

“———Begitu, ya. Aku akan segera ke sana.”

Setelah menyelesaikan panggilan ponselnya kurang dari lima detik, Sakayanagi menjauh dari pagar.

“Setelah ini, aku punya janji untuk bertemu dengan seseorang, jadi aku akan pergi sekarang.”

“Oh. Sampai jumpa lagi.”

“Senang bisa berbicara denganmu. Sampai jumpa.”

Setelah melihat Sakayanagi perlahan pergi, saya memutuskan untuk melihat laut sebentar lagi.


Related Posts

Related Posts

3 comments