-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 4.5 Bab 3 Part 4 Indonesia


Bab 3
Liburan Setiap Orang


4


Pada hari yang sama, Amasawa berkeliaran di sekitar kapal sendirian.

Kadang-kadang teman sekelasnya mengajaknya berbicara, tapi dia hanya akan tersenyum ramah dan selesai dengan itu.

Tidak sekali pun dia merasa ingin bermain dengan seseorang di keramaian.

“Aku ingin bertemu Ayanokouji-senpai~”

Di deck, Amasawa bergumam dengan suara yang sedikit ditenggelamkan oleh suara angin. Bagi Amasawa yang tidak tertarik pada siswa lain, satu-satunya saat dia merasa bahagia adalah ketika dia bertemu Ayanokouji, satu-satunya orang yang menggerakkan hatinya. Tapi, karena posisinya, dia sengaja menahan diri untuk tidak menghubunginya sekarang.

“Uu~, Ichika-chan sangat bosan, mau mati rasany...”

“Senang bertemu denganmu, Amasawa Ichika-san”

Sakayanagi Arisu dari kelas A tahun kedua, memanggil Amasawa yang sedang memandangi laut sendirian di deck.

Tanpa keterkejutan khusus, Amasawa hanya mengalihkan pandangannya ke arahnya.

“Kau siapa, ya?”

Amasawa memiringkan kepalanya dengan rasa ingin tahu, seolah-olah dia baru pertama kali melihatnya.

“Aku Sakayanagi Arisu dari kelas A tahun kedua. Tolong namaku diingat.”

“Sakayanagi... senpai? Ada perlu apa denganku?”

“Fufu, tidak perlu akting yang buruk. Kau adalah siswa dari White Room, ‘kan, Amasawa-san? Tentu saja kau mengerti sesuatu tentang diriku, bukan?”

Siswa White Room, saat dia mendengar kata-kata itu, dia tidak punya pilihan selain memahaminya.

“Fuun, begitu, ya. Jadi orang yang diandalkan Ayanokouji-senpai adalah putri dari direktur utama, ya. Kau sepertinya tahu sedikit tentang White Room, dan menurutku itu tidak bisa dihindari. Lalu?”

Tanpa terkejut, Amasawa bertanya pada Sakayanagi apa yang dia inginkan.

“Wajar jika aku ingin melihat kemampuan siswa White Room yang dia khawatirkan.”

“Aku senang kamu sangat termotivasi, tapi apakah itu atas seizin Ayanokouji-senpai?”

“Izin? Aku tidak perlu hal semacam itu. Ini adalah keinginan pribadiku untuk berada di sini.”

“Kamu sangat percaya diri. Arisu-senpai.”

“Aku bangga untuk mengatakan bahwa aku mampu melakukan hal itu.”

“Keren.”

Amasawa, sambil memuji dan bertepuk tangan, tampak agak kosong.

“Tapi maaf, ya. Aku merasa sedikit sentimental sekarang. Bisakah kita melakukannya lain kali?”

“Tidak masalah kok. Aku hanya berniat untuk menemuimu hari ini.”

Puas telah menyapanya, Sakayanagi dengan ringan membungkuk dan berbalik untuk pergi.

“Ah, ada lagi Arisu-senpai. Pengawasanmu padaku akan kau akhiri di sini, bukan?”

Sakayanagi telah menggunakan beberapa siswa kelas A untuk melacak posisinya sampai mereka menemukan Amasawa dan meninggalkannya sendirian.

“Aku sudah menginstruksikan agar tidak ditemukan, tapi apakah kau menyadarinya?”

“Ahahaha, yang seperti itu memangnya bisa disebut bersembunyi? Lucunya.”

“Aku minta maaf karena membuatmu merasa tidak nyaman. Namun seperti yang kau lihat, aku lumpuh, jadi tidak mudah bagiku untuk menemukanmu dan pergi menemuimu jika tidak demikian. Tolong maafkan aku.”

“Ah, aku punya satu pertanyaan~. Aku adalah tipe gadis yang bisa memukul orang cacat tanpa ragu-ragu, apa tidak apa-apa?”

“Kekerasan adalah salah satu kartu terkuat, tapi belum tentu yang paling kuat.”

Menatakan itu, Sakayanagi dengan ringan mengetukkan tongkatnya ke deck dua atau tiga kali.

Mungkin itu adalah sinyal, teman sekelasnya Kamuro muncul di kejauhan.

“Kamu senpai yang mengikutiku kemana-mana, ya. Mungkinkah dia bisa bersaing denganku?”

“Bukan begitu. Hanya saja tindakan barbar dapat dengan mudah dideteksi.”

“Maksudmu, kau ingin adu otak denganku? Kau membuatku tertawa.”

“Kau sangat berpikiran dangkal, ya. Tolong jangan menarik kesimpulan sendiri. Bagaimanapun, bahkan jika kau siswa White Room, kecuali Ayanokouji-kun, kau mungkin hanya produk gagal. Aku tidak berharap terlalu banyak padamu.”

Di sini, tatapan Amasawa menajam untuk pertama kalinya dan dia menatap Sakayanagi.

“Itu artinya aku akan memberimu kemenangan atau kekalahan, apa pun panggungnya.”

“He~e. Apakah itu termasuk kekerasan yang baru saja kau sebutkan?”

Amasawa tertarik pada Sakayanagi untuk pertama kalinya, menjilat ibu jarinya sendiri.

“Ya, tentu saja. Kamu bisa menggunakan cara apa pun yang kamu suka.”

“Aku akan mengingatmu, senpai.”

“Jika itu bisa terukir di hippocampusmu, aku senang mendengarnya. Semoga harimu menyenangkan.”

(Tln : hippocampus = bagian dari otak yang berperan pada kegiatan mengingat)

Sakayanagi perlahan berjalan pergi, dan Amasawa menarik napas di deck yang kosong.

“Mungkin aku bisa sedikit bersenang-senang tanpa Ayanokouji-senpai. Entah aku akan bermain dengan Kushida-senpai, atau aku akan menikmati melihat wajah menangis Arisu-senpai... biasanya, aku akan berada dalam suasana hati yang gembira, tapi...”

Dia meletakkan tangannya sebentar di perutnya yang sakit dan memikirkan apa yang akan dia lakukan.

“Kurasa aku hanya akan duduk diam untuk saat ini.”

Ini akan memakan waktu sebelum dia sepenuhnya pulih.

Selain itu, Amasawa tidak bisa bergerak sampai dia melihat apa yang akan dilakukan pihak sana.

Sakayanagi, di sisi lain, meninggalkan tempat itu bersama Kamuro dan kembali ke lorong.

“Anak tahun pertama itu berbahaya sekali, ya.”

“Ara, kamu bisa tahu?”

“Entah bagaimana, sih. Mungkin karena aku sudah cukup lama bersamamu hingga aku mengembangkan indra yang aneh. Sejujurnya, aku tidak ingin terlibat lebih dari ini.”

“Kamu harus menjaga baik-baik indra itu. Meskipun demikian, kupikir dia harus dipantau sampai batas tertentu.”

Dia diperingatkan untuk tidak mengawasinya, tapi Sakayanagi tidak berniat mendengarkannya.

Kalau Amasawa tahu bahwa mereka masih terus mengawasinya, dia tidak akan bisa mengabaikannya.

Dan ketika itu terjadi, sangat mungkin mereka akan dianggap sudah memprovokasi dia.

“Dia tahu kalau aku sudah mengikutinya, bukan? Mau pakai Hashimoto?”

“Dia mungkin bisa mencari jalan keluarnya bahkan jika dia ditemukan, tapi...”

Melakukan kontak yang buruk dengan siswa White Room bisa merugikan di kemudian hari.

“Untuk saat ini terima kasih atas kerja kerasmu, Masumi-san.”

Begitu tugasnya selesai, Kamuro dengan cepat meninggalkan tempat itu.

Setelah itu, Sakayanagi mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan.

“Bisakah aku memintamu untuk melanjutkannya?”

Dia meminta orang yang dia telpon untuk melanjutkan pengawan Amasawa dengan ponselnya dan menambahkan satu hal terakhir.

“Sepertinya hanya kamu yang bisa kuandalkan di kelas, Yamamura-san.”

Related Posts

Related Posts

6 comments