-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 4.5 Bab 3 Intro Indonesia


Bab 3
Liburan Setiap Orang


Tinggal di kapal pesiar ini membawa serta masalah di mana dan makan siang seperti apa yang harus dimakan setiap hari.

Di pagi dan sore hari, pihak sekolah menyediakan makanan bergaya prasmanan, yang bisa dinikmati secara gratis.

Kami bebas untuk menikmatinya atau tidak, tapi tidak hanya gratis, itu juga sangat lezat dan populer di kalangan para siswa, sedemikian rupa sehingga ada tiga batasan masuk terpisah dari pukul 07:00 hingga 09:00 pagi. Hal ini untuk menghindari kemacetan.

Layanan ini tersedia selama 60 menit atau kurang, dan kami dapat memesan slot waktu favorit kami dari ponsel kami.

Aku biasanya sarapan pada pukul 08:00 pagi, tapi karena keterlambatan reservasi, slot pukul 08:00 dan 09:00 pagi sudah dipesan pada tanggal 6 Agustus, jadi aku harus makan sedikit lebih awal pada pukul 07:00.

Ini membuatku merasa sangat lapar saat menjelang siang hari. Mungkin itu karena asupan kaloriku sangat minim selama ujian di pulau tak berpenghuni, sehingga tubuh ku mendambakan energi.

Café terrace adalah tempat yang populer untuk makan, tapi harga makanannya sangat tidak biasa.

Kalau aku ingin makan siang dengan satu set minuman, aku membutuhkan setidaknya 2000 poin.

Kalau aku ingin bersenang-senang dengan teman-temanku, itu mungkin tidak masalah, tapi sayangnya hari ini aku sendirian.

Dalam situasi ini, wajar jika ingin menghemat uang dan membelanjakannya sesedikit mungkin.

Di sinilah keberadaan toko sangat ku syukuri.

Singkatnya, aku dapat membeli onigiri (nasi kepal), sandwich, dan barang-barang lainnya dengan mudah seperti di toserba.

Aku segera pergi ke toko dan membayar 250 poin untuk onigiri dan sekotak kecil teh, dan dengan kantong plastik di tanganku, aku mencari tempat untuk makan.

Aku bisa menggunakan ruang istirahat yang sesuai, tapi biasanya tempat seperti itu digunakan oleh orang lain, jadi ada penolakan kuat untuk berbagi ruangan sempit.

Ketika mempertimbangkan tempat-tempat di mana kau tidak keberatan orang asing berada di dekatmu sampai batas tertentu, biasanya di luar.

Setelah aku terus mencari, aku tiba di deck dekat haluan kapal di lantai enam, menghadap ke laut.

Tentu saja, karena tempat ini tidak memerlukan biaya penggunaan, tempat ini juga cocok untuk memakan makanan ringan yang di beli di toko.

Tadinya aku ingin menikmati pemandangan laut yang indah sambil makan sedikit makanan ringan, tapi waktunya agak salah. Ada banyak siswa yang datang ke sini untuk melihat pemandangan ini, dan sepertinya aku tidak bisa bersantai.

Ini mungkin deck yang luas, tapi dengan begitu banyak orang yang menggunakannya, pada akhirnya sulit untuk mengamankan tempat. Aku melihat sekeliling dan menemukan satu bangku kosong dan aku melihat punggung Nanase duduk di bangku di sebelahnya.

Sandwich yang pasti dia beli di toko dan sekotak susu diletakkan di sampingnya.

Hal yang menarik, ini kebalikan dari kemarin ketika dia yang menemukanku.

Selain Nanase, banyak siswa tahun kedua lainnya, termasuk teman sekelasku Ijiyuuin dan Okiya, Sakayanagi dari kelas A, dan Nakaizumi dan Suzuki dari kelas Ryuuen, sedang makan siang sambil menatap laut, seperti Nanase.

Lagipula, manusia biasanya memikirkan hal yang sama. Aku tidak beranjak dari tempatku, tapi mengalihkan pandanganku ke arah laut. Memang benar, makan makanan dengan pemandangan ini di depanmu pasti sangat lezat.

Tetapi———masalahnya adalah sama seperti ada banyak siswa dari tahun ajaran yang sama, ada juga banyak siswa tahun ketiga.

Meski jumlahnya masih sedikit, para siswa tahun ketiga yang menyadariku, mulai segera mengalihkan pandangan mereka ke arahku. Tapi jika aku segera pergi dari sini, itu berarti aku tidak menyukai tatapan mereka dan melarikan diri. Ini mungkin dinilai efektif dan akan digencarkan.

Mengingat bahwa percakapan kami pernah terputus karena panggilan dari Kobashi, aku memutuskan untuk memanggilnya.

Itu juga hanya alasan untuk mampir ke tempat ini untuk berbicara dengannya.

“Nanase.”

Ketika aku memanggil namanya, dia melihat ke belakang dengan terkejut.

“Ah, Senfu~ai~.”

Dia sepertinya baru saja memasukkan sandwich ke dalam mulutnya dan melihatku sambil berusaha menjaga agar isiannya tidak tumpah.

Aku merasa sedikit tidak enak saat melihatnya mulai mengunyah dengan tergesa-gesa.

Aku menggunakannya sebagai cara untuk melawan siswa tahun ketiga, yang sepertinya telah membuatnya panik secara tidak perlu.

“Ah, maaf. Haruskah aku datang lain kali?”

Aku mengatakan itu, tapi kepribadian Nanase tidak mengizinkanku melakukan itu.

“Twnggu, subentar, aku telan~.”

Dia tidak bisa memuntahkannya karena sudah di masukan ke mulutnya, jadi dia buru-buru memakannya.

“Gokun~. ...Ano, maaf, umm, sebenarnya... aku sedang makan.”

Nada suaranya seperti pengakuan rahasia, tapi aku bisa tahu dengan melihatnya bahwa dia sedang makan.

Yang ada, aku tahu sejak aku melihat punggungnya.

“Etto, apa ada perlu denganku?”

Nanase yang masih terlihat agak panik, membuatku merasa sedikit aneh.

Tatapannya gelisah, dan dia sepertinya tidak bisa berkonsentrasi pada percakapannya denganku.

“Ah, tidak, kau sepertinya ingin berbicara denganku kemarin. Aku bertanya-tanya tentang apa itu. Saat itu, Kobashi memanggilku dan kamu tidak jadi bicara.”

“Ah.”

Lambat dalam berpikir dan kata-katanya tidak segera keluar.

Setelah berpikir sejenak, Nanase menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.

“Maaf, tapi aku sudah mengurusnya sendiri, jadi bisakah kamu melupakannya?”

“Begitu, ya. Kalau begitu bagus deh.”

Kalau dia dalam masalah, aku ingin memberinya saran karena Nanase telah membantuku dalam banyak hal, tapi jika dia telah mengurusnya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sebaliknya, alasan utamanya adalah aku merasa seperti dia sudah tidak peduli tentang hal itu sekarang.

“Aku minta maaf sudah memanggilmu tiba-tiba. Kalau begitu aku akan kembali ke dalam kapal. Ada lebih banyak orang daripada yang kukira, dan aku tidak merasa nyaman.”

“Begitu, ya. Sampai ketemu lagi, senpai.”

Aku meninggalkan tempat itu seolah-olah aku telah menyelesaikan urusanku.

Aku melihat kembali ke deck sekali lagi, Nanase menghadap ke depan dan melanjutkan makan siangnya.

Related Posts

Related Posts

5 comments