-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Seirei Gensouki Volume 16 Selingan 1 Indonesia

Selingan
Di Kerajaan Rubia


Kembali sekitar empat hari yang lalu.

Tepat setelah Rio dan yang lainnya melarikan diri dari benteng tertentu di Kerajaan Rubia. Setelah terlihat bahwa Rio sudah terbang dengan Christina dan Flora di tangannya——,

“A~, kita tidak akan bisa menang darinya. Sial, menjengkelkan...”

Arein bergumam, menusukkan pedangnya ke tanah terlihat sangat kelelahan. Lalu——,

(Apakah Lucci dan Ven baik-baik saja?)

Dia melihat rekan-rekannya terbanting ke dinding kastil dan tergeletak di tanah. Keduanya mungkin telah meningkatkan kekuatan fisik dan pertahanan mereka dengan sihir penguatan tubuh yang terkandung dalam pedang mereka, tetapi mereka telah menerima serangan tanpa henti dari Rio.

Dia pergi untuk memeriksa kondisi mereka, karena jika tidak beruntung mereka bisa saja sudah mati atau setidaknya benar-benar tidak sadarkan diri, tapi——,

“Oi!

Kikuchi Renji, seorang pahlawan yang berdiri tepat di sampingnya, memanggil Arein dengan nada marah.

“Hah?”

“Apa-apaan pria mirip monster itu!?”

“Kan sudah kubilang. Dia bajingan yang membunuh pemimpin kami yang mengalahkanmu, dan dia musuh kami.”

“Kenapa dia bisa terbang!?”

“Mana kutahu. Mungkin kekuatan pedang sihir.”

Pikirkan saja sendiri, jawab Arein, seolah dia terlalu malas untuk menjelaskannya. Lalu——,

“Oi, seperti kata Arein!”

Sylvie turun dari langit di atas, menaiki griffin.

(Kali ini sang Putri)

Arein menghela nafas merepotkan lagi. Lalu——,

“Wah cepat sekali, sepertinya kalian sudah dihajar dengan cukup parah.”

Reiss keluar dari dalam benteng, melihat sekeliling halaman di dalam dinding kastil.

Halaman itu benar-benar kosong, dengan tanah dicungkil, dibekukan, dan ditusuk dengan panah yang tak terhitung jumlahnya. Para pemanah yang menunggu di atas dinding mungkin hampir terhempas setelah pertempuran karena beberapa dari mereka hampir jatuh ke belakang.

“Reiss...”

Sylvie memelototi Reiss.

“Sayang sekali aku melewatkannya, tapi apa boleh buat, ‘kan? Arein, periksalah Lucci dan Ven.” kata Reiss dengan nada yang sangat santai.

Setelah menerima instruksi, Arein menjawab, “Baik,” dan segera pergi.

“Jangan bercanda! Kaulah yang membuat rencana ini, bukan? Kau bilang, jika kita bisa menahannya di halaman benteng bersama dua putri yang menghambatnya, kemenangan kita akan terjamin...”

Kemarahan Sylvie diarahkan pada Reiss.

Ketika Rio dan para putri memasuki halaman benteng, gerbang ditutup, mengelilingi mereka dengan para pemanah di dinding, dan menantangnya bertarung dengan Renji dan kelompok Arein yang terampil. Setelah pertempuran dimulai, jika pasukan ksatria terbang yang bersembunyi di luar benteng menutup langit, tidak akan ada jalan untuk melarikan diri. Satu-satunya yang tersisa untuk dilakukan adalah menunggu Rio dan para putri menyerah. Seharusnya seperti itu.

Tapi itu tidak terjadi.

“Saya pikir Yang Mulia Putri Sylvie juga setuju dengan rencana itu, bukan?”

“Kekuatan pria bernama Haruto Amakawa, terlalu jauh dari standar. Kalau saja aku tahu dia bisa terbang dengan membawa dua putri di tangannya...”

Dia seharusnya menentang operasi itu.

“Bukankah seharusnya Anda tahu kalau dia kuat? Yang Mulia sudah menyaksikan aksinya di pesta malam di Kerajaan Galarc, dan saya juga mengatakan kepada Anda bahwa dialah yang membunuh Lucius, orang yang mengalahkan pahlawan Renji. Justru karena dia begitu tangguh sehingga saya mendekati Anda untuk meminta bantuan.”

(Yah, aku tidak berpikir sedikitpun bahwa mereka bisa menahannya dengan pengepungan yang terbatas pada dinding bagian dalam benteng seperti ini)

Itu adalah rencana yang telah dirancang dengan asumsi bahwa dia akan bisa melarikan diri, jadi Reiss merespons dengan santai tanpa sedikitpun panik.

“Kuh...”

Sylvie menggertakkan giginya. Dia tidak meremehkan kemampuan orang yang bernama Haruto Amakawa, tapi dia menyadari bahwa dia seharusnya lebih meninggikan kemampuannya.

(Sekarang Kerajaan Rubia tidak punya pilihan lain selain beralih ke Kekaisaran Proxia, terlepas dari keberadaan Pahlawan Renji. Selama Putri Sylvie dan Putri Esther ada di pihak kami, Pahlawan Renji tidak akan berbalik melawan kami. Dengan ini juga akan bisa menyebarkan kewaspadaan Galarc dan Restorasi ke Kerajaan Rubia, yang merupakan hasil terbaik)

Dan saat Wraith diam-diam tertawa kecil——,

“Haruto Amakawa. ... Apakah pria itu juga seorang pahlawan?” tanya Renji dengan ekspresi tegas di wajahnya.

“Kurasa bukan, kenapa menurutmu begitu?”

Reiss bertanya balik.

“...Bukan apa-apa.”

Renji bergumam pada dirinya sendiri——

(Mau dipikir seperti apa pun, itu nama orang Jepang. Tapi, dia juga tidak memiliki wajah orang Jepang. Apakah dia juga seorang drifter?)

Dia membayangkan tentang siapa Rio sebenarnya. Tapi, itu tidak penting. Dia lebih peduli tentang hal lain.

(Kalau dia bukan pahlawan, kenapa dia lebih kuat dariku? Pria bernama Lucius itu juga sama. Apakah itu berarti ada kekuatan di dunia ini yang lebih curang daripada pahlawan? Kenapa aku begitu...)

Lemah? Itu membuatnya frustrasi.

Karena itu dia tidak bisa melindungi Sylvie dan Esther. Dia dikalahkan Lucius. Dia bahkan tidak bisa mengalahkan seorang pria bernama Haruto Amakawa.

Hasilnya, dia merasa sengsara. Dia sangat frustrasi, dia membenci itu, dia merasa seperti isi perutnya akan mendidih——,

(Aku lemah...!)

Tubuh Renji diam-diam gemetar karena marah.

Dia membencinya. Aku membenci betapa lemahnya dirinya. Dia juga tidak menyukai pria bernama Haruto Amakawa yang berhasil melindungi kedua putri itu.

(Aku membutuhkan lebih banyak kekuatan. Aku akan menjadi lebih kuat. Menjadi yang terkuat. Begitu kuat sehingga tidak ada seorang pun di dunia ini yang berani melawanku...)

Menyebutkan namanya saja akan membuat lawan ketakutan dan berusaha menghindari pertempuran. Dia harus cukup kuat untuk mencegah mereka bahkan berpikir untuk melakukan sesuatu. Renji diam-diam memutuskan bahwa dia perlu menjadi orang seperti itu untuk menjadi dirinya sendiri. Dan——,

“Yang Mulia, Putri Sylvie!”

Marco Tonteri, orang yang bertanggung jawab atas benteng yang memimpin para pemanah di dinding, turun ke halaman dengan panik. Dia telah duduk di dinding, terintimidasi oleh kekuatan Rio, tapi——,

“Ga-Gawat! Ini gawat! Jika tersiar kabar bahwa kita telah menyerang Putri Pertama dan Kedua Beltram. Ini sama saja dengan deklarasi perang terhadap sekutu kita, Galarc dan Restorasi.”

Marco menunjukkan kekhawatirannya dengan mengatakan sesuatu yang sangat beralasan.

“Diamlah, Tonteri. Aku sudah tahu itu.”

Sylvie membungkam Marco, terlihat tidak senang.

“Mereka tidak bisa memulai perang begitu saja, loh. Setelah kejadian ini, orang-orang di kerajaannya juga pasti berpikir bahwa Kerajaan Rubia telah beralih ke Kekaisaran Proxia. Wilayah Strahl saat ini dalam keadaan seimbang dengan keseimbangan yang sempurna sih. Yah, akan ada beberapa semacam tekanan kuat, tapi jangan khawatir, karena kerajaan kami akan mendukung kalian di sana.”

Reiss menawarkan tindak lanjut yang ceria dengan suara yang ramah, tapi dingin.

“Apa yang Anda bicarakan, Tuan Bernard...?”

Marco menatap Reiss dengan bingung. Bernard adalah nama keluarga dari bangsawan yang disebut Reiss sendiri ketika dia beroperasi di Kerajaan Rubia. Dengan kata lain, Marco tidak mengetahui identitas sebenarnya dari Reiss——,

“Sebenarnya, saya adalah seorang bangsawan yang juga merupakan anggota dari Kekaisaran Proxia.”

“Ap...”

Ketika Reiss mengungkapkan identitasnya, mulut Marco terbuka karena terkejut.

“Bagaimanapun, mulai sekarang, kita ada di pihak yang sama. Kekaisaran Proxia dan Kerajaan Rubia. Mari kita saling bekerja sama dan bergaul dengan baik.”

“............”

Sylvie mengerutkan kening dan terdiam, dan Marco tertegun. Suara ceria Reiss yang tidak sesuai dengan suasana tempat itu bergema.

(Ni orang psikopat, ya?)

Renji menatap Reiss dengan aneh. Dan——,

“Maukah kamu bekerja denganku untuk sementara waktu, Renji-san?”

Si Reiss itu mengajak bicara Renji.

“...Apa yang kau ingin aku lakukan?”

“Aku ingin kamu menjadi lebih kuat. Sama seperti pahlawan lainnya, tapi kamu belum bisa mengeluarkan bahkan sebagian kecil dari kekuatan senjata ilahimu.”

“Apa?”

“Aku bilang aku bisa membuatmu lebih kuat.”

“'...Kenapa kau bisa melakukan hal seperti itu? Tidak, bahkan jika kau bisa melakukan itu, kenapa kau membuatku lebih kuat?”

Renji menatap Reiss dengan tatapan curiga.

“Kamu akan bekerja untukku mulai sekarang, ingat? Karena itu aku ingin kamu menjadi lebih kuat. Mulai sekarang, kita akan membangun hubungan kerja sama, dan membuatmu lebih kuat juga merupakan tanda kepercayaan.”

Reiss menjawab dengan riang, “Apa kau tidak ingin menjadi lebih kuat?” tanya dia. Hasilnya——,

“...Boleh juga.”

Renji mencari kekuatan, dan dia menganggukan kepalanya.

Related Posts

Related Posts

Post a Comment