-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 4.5 Bab 5 Part 5 Indonesia

Bab 5
Game Berburu Harta Karun yang Dipenuhi Masalah Wanita


5


Aku menemukan beberapa kode QR, tapi hanya satu yang tampaknya memiliki poin tinggi.

Ada beberapa siswa dalam jangkauan penglihatan terlihat sedang mencari kode, jadi tidak diragukan lagi persaingannya tidak terlalu rendah.

Karena kami melarang penggunaan sumber daya manusia selain peserta, tidak ada siswa yang mungkin curang secara terang-terangan, tapi meskipun demikian, dengan lebih dari 200 peserta, hal ini tidak bisa dihindari.

Aku menyadari bahwa Satō telah berhenti tiba-tiba dan berbalik.

“Apa yang harus ku perjuangkan, ya? Apa yang harus ku perjuangkan agar tidak menyebabkan masalah untuk kelas?”

“Ada apa, tiba-tiba?”

“Maaf ya, menanyakan pertanyaan aneh seperti itu. Tapi itu bukan hanya pemikiran acakku, loh? Aku sudah memikirkannya sejak sebelum ujian di pulau tak berpenghuni. Aku bertanya-tanya apakah aku bisa berguna untuk kelas.”

Mengatakan itu, Satō menatap kedua tangannya, pada telapak tangannya.

“Kuharap aku bisa memberi tahu diriku sebelum masuk sekolah ini, diriku yang terbawa karena aku bisa memiliki kehidupan SMA yang acak dan menarik dan mendapatkan pekerjaan di mana pun yang kuinginkan. Aku ingin memberitahunya bahwa ini bukanlah SMA biasa, ini adalah tempat yang tidak masuk akal, loh.”

Jika boleh terus terang, Satō secara keseluruhan memiliki kemampuan yang lebih rendah daripada rata-rata siswa SMA.

Tapi, dia masih berada di sisi atas kasta dan memiliki kekuatan untuk buka suara yang lumayan.

Meskipun kemampuan akademik, kemampuan fisik, dan komunikasi masing-masing memiliki tingkat kesulitan yang berbeda, kebanyakan orang dapat meningkatkannya dengan beberapa usaha.

Sebagai contoh nyata, nama Sudō akan menjadi yang pertama muncul.

Sudō, yang pernah berada di peringkat terbawah dalam kemampuan akademik, menunjukkan keberhasilan yang luar biasa dan meningkatkan kemampuan akademiknya sekaligus.

Seperti yang bisa dilihat dari sini, kuncinya adalah potensi pertumbuhan.

“Kalau kau mau bekerja keras untuk teman sekelas, kurasa belajar memang penting, sih.”

“U... iya, ya.”

Aku tahu itu, kata Satō, menggaruk pipinya sambil cemberut.

“A-Ayanokōji-kun bisa ajari aku belajar... tidak, ya?”

“Aku?”

Begitu aku menanyakan itu kembali, ah keceplosan, kata Satō, buru-buru mengulurkan tangannya ke depan dan melambaikannya.

“Maaf, maaf! Lupakan yang tadi itu! Karuizawa-san akan marah padaku...!”

“Bukankah lebih bagus belajar dengan Horikita?”

“Dengan Horikita-san? Tapi, aku tidak begitu akrab dengannya, tahu?”

Bahkan jika dia mengatakan “tidak begitu”, kupikir dia sudah membungkusnya dengan cukup ringan.

Selama hampir satu setengah tahun, Satō tidak bertindak dengan cara yang bisa disebut bersahabat dengan Horikita.

“Kesampingkan fakta bahwa kalian perlu berteman baik, menurutku dia memiliki reputasi yang baik dalam mengajari orang, loh. Lagi pula, dia mengajari si Sudō itu.”

Sama sekali tidak perlu memberikan detail tentang sifat manusia dan metode pengajaran Horikita.

Dia mampu mengajari Sudō, anak laki-laki paling bermasalah di sekolah.

“Tanpa kusadari, Sudō-kun sudah menyusulku... memang sih.”

“Kamu tidak mau mengambil gelar memalukan terbawah di kelas, terbawah di tahun ajaran, bukan?”

“A-amit-amit deh.”

Satō juga merupakan salah satu kandidat terbawah dalam daftar itu, jadi dia memiliki rasa urgensi yang kuat dalam hal itu.

“Kalau begitu, bolehkah aku minta Ayanokōji-kun untuk menjembatani kami?”

“Kalau itu maumu, mudah saja.”

Jika itu akan meningkatkan kinerja akademik kelas, Horikita tidak akan menolaknya. Sudō akan diperumit oleh fakta bahwa Horikita akan memiliki lebih banyak orang di sekitarnya, baik dari sesama jenis atau lawan jenis, tapi dia tidak akan menolaknya.

Related Posts

Related Posts

4 comments