-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 4.5 Bab 5 Part 9 Indonesia

Bab 5
Game Berburu Harta Karun yang Dipenuhi Masalah Wanita


9


Sudah lewat pukul 17.30. Aku punya janji dengan seseorang untuk bertemu sebelum makan malam pada pukul 18:00.

Ketika aku meninggalkan kamar tamu dan hendak menuju deck lantai lima, aku bertemu dengan Sudō, yang berada di kamar tamu sebelah.

“Mau kemana kamu padahal waktu makan sebentar lagi?”

Sudō mungkin dalam perjalanan kembali ke kamar tamunya, dia bertanya padaku.

“Jalan-jalan sebentar sebelum makan.”

“Kamu bicara seperti orang tua. Kalo gitu, sampai jumpa di restoran.”

Kami berpisah setelah bertukar beberapa kata, tapi Sudō berteriak seolah dia mengingat sesuatu.

“Tidak, maaf, maaf. Benar, aku sebenarnya agak terkejut dengan sesuatu!”

“Bahwa Ike dan Shinohara mulai berpacaran?”

“La-lah, kamu sudah tahu?!”

“Aku hanya kebetulan mendengarnya.”

“Tidak, tentu saja aku juga terkejut tentang itu, tapi dia sudah mengalahkanku.... Lebih penting lagi, dia bilang dia ingin belajar denganku. Katanya masukan aku ke dalam kelompok belajar Suzune, gitu.”

Ini mengejutkan, atau lebih tepatnya, langkah yang lebih cepat dari yang kukira.

“Karena kemampuan akademik yang rendah bisa berakibat fatal di sekolah ini.”

Siswa seringkali terancam dikeluarkan dari sekolah karena tentu saja tugas utama seorang siswa yaitu menuntut ilmu.

“Itu waktu yang berharga bagiku untuk berduaan dengan Suzune, tapi kalau dia termotivasi, aku tidak punya pilihan selain mendukungnya, ‘kan? Itu sebabnya Kanji juga akan mulai belajar keras dimulai dari kelas musim panas.”

Kelas musim panas, rupanya dia berencana untuk mulai belajar tepat setelah perjalanan ini selesai.

Tergantung pada upaya Ike apakah hasilnya akan langsung kelihatan, tapi pertumbuhannya mungkin bisa dilihat di awal semester kedua. Baik Sudō dan Ike mungkin akan berubah karena kisah cinta mereka.

“Mungkin akan ada lebih banyak anggota.”

“A? Serius?”

“Kurasa itu berarti Ike bukan satu-satunya siswa yang mulai ingin diajari oleh Horikita.”

“Dia bukan laki-laki, ‘kan?”

Dia memasang wajah serius dan meraih kedua bahuku saat dia mendekatiku.

“Tidak... bukan kok. Dia Satō, Satō.”

Aku tidak bermaksud menyebutkan namanya, tapi dia memaksaku untuk mengaku.

“Gadis, ya. Yah, kalau itu sih... bentar dia Satō? Jika bukan hanya ada aku, tapi juga ada Ike, bukankah dia tidak akan menghadiri kelompok belajar?”

“Aku yakin dia sudah siap untuk itu sampai batas tertentu. Dia tampaknya memiliki tekad yang kuat.”

“Fuun. Yah, aku sih tidak keberatan. Aku tidak akan kalah tidak peduli siapa yang datang.”

Dia mendengus dan membuatku merasa bahwa dia memiliki keinginan yang kuat untuk belajar.

“Bukankah sulit untuk melakukan itu sambil melakukan aktivitas klub pada saat yang bersamaan?”

“Tentu sulit. Tapi kupikir aku memiliki stamina yang bisa ku sombongkan untuk itu. Pada awalnya, ketika aku menoleh, aku tertidur selama satu menit, tapi sekarang, tidak sama sekali... tidak, aku bisa berkonsentrasi sekitar satu jam atau lebih.”

Jika dia bisa belajar dan berkonsentrasi sebanyak itu, maka tidak ada masalah.

Belajar selama satu jam, istirahat, belajar selama satu jam, dan ulangi sudah lebih dari cukup.

“Tapi... sial, aku tidak terima kenapa Kanji punya pacar duluan.”

Sambil tertawa, Sudō berduka dari lubuk hatinya.

“Aku akan memberinya pelajaran yang menyeluruh sebagai pembalasan karena hal itu. Asal tahu saja, aku adalah seorang Spartan di tim bola basket.”

Tampaknya itu menjadi campuran antara cinta dan benci untuk teman dekatnya, jadilah kasih sayang.

“Jangan berlebihan, ya. Karena tidak mudah untuk menyukai sesuatu seperti belajar yang sempat dia benci.”

“Aku tahu kok. Aku sendiri tahu betapa aku benci dengan belajar.”

Kemudian dia menjulurkan lidahnya seperti sedang mengunyah sesuatu yang pahit.

Setelah berpisah dengan Sudō, aku mendekati tempat yang kutuju. Aku melihat Kushida di depan deck dan bersembunyi sebentar. Waktu pertemuan sudah lewat lima menit, jadi tentu saja dia sedang menungguku.

Aku mengeluarkan ponselku dan menelepon Kushida. Kushida mengangkat telepon setelah sekitar dua panggilan.

“Halo?”

Setelah mengkonfirmasi suara itu, aku berjalan ke deck tempat Kushida berada.

Ponsel pada dasarnya, memprioritaskan [panggilan].

Bahkan jika mode perekaman diaktifkan, itu akan mati secara otomatis setelah panggilan dimulai.

Dengan kata lain, percakapan yang akan terjadi hanya antara aku dan Kushida.

“Maaf Kushida, aku terlambat. Aku sedang dalam perjalanan, apa kau masih menunggu?”

“Un, umm———ah, sebelah sini!”

Kushida memeriksa kiri dan kanan dan dengan cepat menemukanku dan melambai padaku.

Aku tidak menutup ponselku, melainkan langsung berlari ke depan Kushida.

Pada waktu yang hampir bersamaan, kami berdua menutup ponsel.

“Maaf sudah membuatmu menunggu. Aku sempat salah jalan.”

“Ayanokōji-kun juga bisa melakukan kesalahan, ya? Tapi ada apa? Kamu bilang kamu ingin berbicara denganku.”

“Aku bingung untuk memutuskan apa yang harus ku lakukan selama beberapa jam terakhir, tapi kupikir aku akan mengaku dengan jujur padamu.”

“Hm? Mengaku? Soal apa?”

“Kamu tahu aku berpartisipasi dalam game berburu harta karun, ‘kan?”

“Un. Kamu berpasangan dengan Satō-san, ‘kan?”

Ada apa dengan itu? Dia menatapku aneh, tidak mengerti alur pembicaraan.

“Dalam perburuan harta karun ini, hadiah untuk kode QR yang ku pindai adalah 100.000 poin. Itu berarti 90.000 poin setelah dikurangi biaya partisipasi. Jika aku membaginya dengan dua, hasilnya 45.000 poin. Kupikir hal yang benar untuk dilakukan adalah memberikan setengahnya kepadamu, Kushida.”

Mengatakan itu, aku mengeluarkan ponselku dan menunjukkan catatan setoran dan penarikanku padanya.

Itu dengan jelas menyatakan bahwa 100.000 poin baru saja ditransfer.

“Eeeh? Itu kan game, kamu tidak perlu terlalu khawatir tentang itu~”

Kushida terkejut dengan cerita yang tidak terduga dan menolak untuk menerimanya dengan kedua tangannya.

“Sejujurnya, aku juga berpikir begitu pada awalnya. Atau lebih tepatnya, aku mencoba untuk berpikir begitu, tapi, aku tidak bisa menahan perasaan bahwa itu adalah cara yang jahat dan licik. Ada kemungkinan kau akan bilang kalau kau tidak membutuhkannya, tapi jika aku diam, kupikir Kushida tidak akan mengetahuinya. Aku malu dengan pemikiranku yang seperti itu, jadi ada baiknya untuk memberikannya kepadamu.”

“Tapi———”

Tidak peduli alasan apa yang kuberikan, dari sudut pandang Kushida, itu adalah poin yang sulit untuk diterima.

“Kalau boleh jujur... aku harap kau akan menerima ini sebagai ketulusanku.”

“Ketulusan...?”

“Aku membeli keamanan dari Kushida dengan memberimu setengah dari poin pribadi yang kuperoleh. Selama aku tulus di sini, aku berharap Kushida juga tulus padaku.”

Apa aku salah? Aku memohon dengan mataku.

“'Tidak ada salahnya untuk memiliki sedikit lebih banya poin pribadi. Iya, ‘kan?”

“Itu benar sih, tapi bukankah Ayanokōji-kun juga cukup tersiksa?”

“Tidak juga. Ini bukan masalah besar dibandingkan harus berselisih dengan Kushida.”

“Rasanya... sebaliknya, malah sedikit menakutkan.”

“Maksudnya?”

“Ayanokōji-kun, tahu kan, ada pembicaraan tentang dirimu menjadi siswa yang hebat dalam banyak hal sekarang. Apa kamu benar-benar memberiku setengah dari poin pribadimu hanya karena kamu ingin gencatan senjata denganku?”

“Dari sudut pandangku, aku menilai bahwa daripada siswa seperti Sakayanagi dan Ryūen, yang bertarung untuk ujian khusus, lebih berbahaya untuk menjadikan Kushida sebagai musuhku, di mana kehidupan pribadi juga ikut terlibat.”

Meskipun agak waspada, Kushida mengangguk seolah dia setuju dengan situasinya.

“Baiklah. Kalau begitu kamu yakin ingin melakukan ini, bukan?”

“Tentu saja.”

Aku mentransfer poin pribadiku ke akun Kushida melalui ponselku.

“Aku memang sudah memberikannya padamu, tapi jika aku ada masalah terkait dengan uang, aku mungkin akan meminta bantuanmu.”

“Eeh~? Itu sedikit tidak keren tahu, Ayanokōji-kun.”

Kushida tertawa kecil, seolah-olah dia merasa lucu dengan betapa menyedihkannya diriku.

“Tapi kupikir itu pendekatan yang jauh jauh lebih cerdas daripada Horikita-san, aku tidak benci kok yang seperti itu.”

“Gitu, ya?”

“Aku juga tidak ingin menjadikan Ayanokōji-kun sebagai musuhku, jadi seterusnya tolong kerja samanya.”

“Aa. Kuharap kita bisa terus saling membantu.”

Setelah mengatakan itu, aku dan Kushida berpisah seolah tidak terjadi apa-apa.

Related Posts

Related Posts

6 comments