-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Seirei Gensouki Volume 16 Bab 4 Intro Indonesia

Bab 4
Kembali dan Reuni

 

Setelah beberapa menit, Rio dan yang lainnya di kereta telah tiba di kantor pusat dari pelabuhan pesawat sihir di Rodania. Duke Huguenot dan Marquis Rodan berbicara banyak selama perjalanan, jadi dia mendengarkan telepati Aishia sebanyak mungkin sambil menanggapi percakapan sesekali.

Untuk meringkas cerita Aishia, hari-hari berlalu dengan damai, tapi Reiss telah menyelinap ke kantor pusat Rodania dan mereka pun bertemu. Dia mengejar Reiss yang melarikan diri, dan terjadilah pertempuran di pinggiran kota di mana dia mungkin mengalahkannya.

Butuh beberapa saat baginya untuk mendengarkan semuanya karena dia sering bergabung dalam percakapan di dalam kereta, tapi pada saat dia turun dari kereta dan memasuki gedung benteng, dia memiliki gambaran umum tentang apa yang telah terjadi.

(...Jadi maksudmu Reiss sudah mati?)

Rio mengkonfirmasi ini saat dia berjalan melewati pintu masuk kantor pusat.

(...Mungkin. Tapi, aku tidak dapat menemukan mayatnya. Karena ketika aku mengalahkannya, dia menghilang tanpa jejak. Kehadirannya pun benar-benar menghilang)

Aishia menjawab dengan sedikit percaya diri.

(Selama pertempuran, dia memanggil monster satu demi satu, dan pada akhirnya, Reiss sendiri berubah menjadi wujud seperti monster yang bahkan belum pernah kulihat sebelumnya. Dan ketika dia kukalahkan, sosoknya menghilang)

Rio hanya bisa menggeram keras, “Hmmm”. Itu sulit dipercaya. Tapi, sudah lama dia merasakan kengerian yang tidak biasa dari Reiss. Di atas segalanya, dia tidak pernah berpikir bahwa Aishia akan berbohong. Karena itu——,

(Berdasarkan apa yang baru saja kamu ceritakan, aku tidak berpikir Reiss adalah manusia. Faktanya, dia telah mengubah penampilannya menjadi seperti monster, dan akan lebih tepat untuk menyebutnya monster. Tapi, dia tidak meninggalkan batu sihir setelah kamu mengalahkannya, ‘kan?)

Rio berasumsi bahwa semua yang dikatakan Aishia adalah benar dan mengkonfirmasinya. Dia berpikir bahwa jika penampilannya berubah menjadi monster ganas, maka mungkin saja Reiss itu adalah monster.

Monster adalah bentuk kehidupan yang menghilang dan meninggalkan batu sihir ketika mati, jadi jika dia mati meninggalkan batu sihir, maka dia adalah monster. Tapi——,

(Tidak ada yang tersisa)

Prediksinya salah.

(Jadi dia juga bukan monster. Tapi, kalau dia bukan monster, lagi apa lagi...)

Rio sepenuhnya merenung. Sesuatu yang berwujud manusia tapi bukan manusia yang bisa berubah wujud menjadi monster. Maka itu adalah——,

(......Jangan-jangan, roh humanoid?)

Dan Rio sampai pada kemungkinan itu.

(...Itu, entahlah. Kehadiran pria itu lebih mirip monster daripada roh. Tapi, biasanya kehadirannya sangat tipis, dan jika dia tidak melakukan apa-apa, dia tampak seperti manusia. Sampai-sampai aku tidak akan menyadarinya kecuali dia berada tepat di depanku)

Kata Aishia, sekali lagi dengan sedikit percaya diri. Roh bisa mendeteksi kehadiran roh. Atau, lebih tepatnya, roh mampu mendeteksi kehadiran spiritual dari bentuk kehidupan.

Rio ingat Dryas pernah memberitahunya bahwa roh adalah yang paling mudah dideteksi karena kehadiran roh, yang tertinggi dalam makhluk spiritual, adalah unik.

(Jika demikian, dia lebih seperti monster daripada roh, ya.... Tapi, dia tidak meninggalkan batu sihir)

Lalu apa sebenarnya identitasnya itu? Rio bertanya-tanya, tapi dia tidak berpikir itu adalah pertanyaan yang bisa dijawab dengan informasi yang ada sekarang.

(Hal lain yang membuatku penasaran adalah kenapa Reiss ada di kantor pusat Rodania, apakah ada hubungannya dengan penculikan Putri Christina dan Putri Flora, atau ada tujuan lain?)

Rio memiliki pertanyaan selanjutnya. Keduanya diserang bukan di kantor pusat Rodania, tapi di pesawat sihir yang mereka tumpangi.

(Aku tidak tahu. Tapi, Reiss telah menyelinap ke dalam kantor pusat yang sepi tepat ketika pesawat sihir tempat kedua putri itu tiba dan menimbulkan keributan)

Kemudian, dia bertemu Aishia yang mengawal Celia.

(...Jika demikian, wajar untuk berpikir bahwa dia ingin melakukan sesuatu untuk mengambil keuntungan dari keributan di kantor pusat yang sepi karena keributan itu. Apa ada pembicaraan yang bisa dijadikan petunjuk?)

(Tidak ada. Dia terus mengatakan itu bukan niatnya untuk bertemu dengan kami. Aku pikir itu sebabnya dia langsung melarikan diri)

Sebenarnya, tujuan Reiss adalah Celia, tapi Lucius yang berubah pikiran di menit-menit terakhir telah menjauhkannya dari kebenaran itu.

(Bagian itu tidak jauh berbeda dari apa yang sudah dilaporkan ke Duke Huguenot, ya? Aku panik ketika mendengar bahwa Sensei telah melihat seorang pria yang tampak seperti Reiss, tapi kehilangan dia, tapi kupikir berbagi informasi adalah keputusan yang tepat)

(Celia melaporkannya. Dia tidak bisa memberi tahu mereka bahwa aku mengejarnya dan melawannya, tapi dia tidak bisa tidak melaporkan bahwa kami bertemu dengan Reiss itu sendiri)

Aishia menceritakan bagaimana hal itu terjadi.

(Begitu, ya.... Aku sangat bersyukur Aishia tetap berada di sisi Sensei. Terima kasih)

Dengan rasa syukur yang kuat, Rio mengucapkan terima kasih kepada Aisia.

(Tidak perlu. Melindungi Celia saat Haruto pergi. Itulah tugasku)

(Terima kasih, sungguh. .........Berkat kamu, aku sudah memenuhi tujuanku. Aku sudah membalaskan dendam Ibu dan Ayahku)

Rio mengucapkan terima kasih lagi, dan setelah jeda yang panjang, dia dengan tegas melaporkan bahwa dia telah menyelesaikan balas dendamnya. Dan——,

(Semuanya ingin bertemu Haruto. Aku juga senang Haruto sudah pulang)

Suara Aishia bergema dengan lembut.

(...Terima kasih. Eh, aku malah berterima kasih terus)

Kata Rio dengan geli.

(Apakah kita bisa bersama untuk selamanya mulai sekarang?)

(Ya, aku ingin berusaha sedekat mungkin dengan kalian, karena aku juga penasaran kenapa Reiss ada di Rodania)

Karena itu mungkin undangan ke mansion Rio di kastil Kerajaan Galarc adalah ide yang bagus. Rio berpikir begitu——,

(Aku ingin mengumpulkan semua orang untuk berbicara, jadi ayo kita pergi ke rumah batu bersama Sensei malam ini)

Dia menyarankan.

(Baiklah. Haruskah aku pergi dulu dan memberitahu Miharu dan yang lainnya nanti?)

(Ya. Kalau gitu, setelah kita bertemu saja...)

Maka diputuskan bahwa mereka akan pergi ke rumah batu bersama Celia malam ini. Dan——,

“Nah, kita sudah sampai.”

Suara Marquis Rodan bergema melalui lorong di dalam kantor pusat. Kelompok itu berhenti di depan sebuah ruangan, dan Rio juga berhenti.

(Aishia, kita akhiri dulu telepatinya. Karena kami sudah sampai di tujuan kami)

(Baiklah)

Rio memutuskan telepatinya dengan Aisia.

Ada dua ksatria wanita di depan ruangan tempat mereka berhenti, dan mereka terus memberi hormat seolah-olah mereka diliputi emosi setelah Christina dan yang lainnya muncul, tapi——,

“Silahkan.”

Salah satu ksatria wanita membuka pintu, lalu Rio dan yang lainnya memasuki ruangan.

Ruangan itu besar dan rapi, dan ada dua ksatria juga wanita di dalamnya, duduk di sofa, mengobrol dan tertawa. Namun, ketika mereka memperhatikan bahwa Christina dan Flora termasuk di antara mereka yang memasuki ruangan, mereka buru-buru berdiri dan memberi hormat.

“Aku masuk.” kata Christina, dan berjalan ke salah satu dari beberapa tempat tidur di ruangan itu.

Vanessa sedang tertidur di sana——,

“...Sudah kuduga dia belum bangun, ya.”

Christina mendesah kecil tampak sedih.

Ya, ini adalah kamar rumah sakit tempat Vanessa tidur. Ketika Christina dan Flora mendengar bahwa dia baru saja selamat dari luka fatal di pesawat sihir, tapi belum juga bangun, mereka pun pergi lebih dulu untuk menjenguknya.

“Vanessa...”

Flora juga mendekati tempat tidur dan menatap wajah Vanessa dengan resah. Wajah Vanessa pucat dan dia benar-benar tidak sadarkan diri seolah-olah dia sudah mati.

“Vanessa-kun adalah satu-satunya saksi hidup yang tahu apa yang terjadi di pesawat, jadi kami telah merawatnya seperti orang paling penting di dunia.”

Duke Huguenot menjelaskan.

Vanessa adalah ksatria pendamping yang sangat dipercaya oleh Christina dan Flora, jadi penjelasan itu mungkin untuk menunjukkan bahwa mereka telah merawatnya dengan baik.

“Ya, seperti yang Anda lihat, sistem keamanannya juga sangat ketat. Saya kira tidak mungkin, tapi takutnya ada mata-mata penculik di dalam organisasi yang akan mencoba membunuh Vanessa-kun untuk menutup mulut. Vanessa-kun juga sangat dipercaya oleh bawahannya, dan personel yang tidak bertugas menggunakan ruangan ini sebagai ruang istirahat, sekaligus menjaga dan merawatnya 24 jam sehari.”

Marquis Rodan mendengus sangat tekesan atas dedikasi para ksatria wanita.

“Oh, ku ungkapan rasa terima kasihku. Terima kasih, kalian semua.”

Christina mungkin merasakan pertimbangan tidak langsung dari Duke Huguenot dan Marquis Rodan, sambil menarik napas kecil, dia berterima kasih kepada para ksatria wanita di ruangan itu.

“Terima kasih banyak, semuanya.”

Flora juga melihat para ksatria wanita dan berterima kasih kepada mereka. Sementara itu, Rio menatap wajah Vanessa yang tertidur dari belakang Christina dan Flora——.

(Katanya dia terluka dan tidak sadarkan diri untuk waktu yang lama, tapi ini yang disebut koma, ‘kan? Jika demikian, itu mungkin karena kerusakan otak...)

Dia tidak bisa mendiagnosis dengan pasti karena dia tidak mempelajari ilmu pengobatan di kehidupannya sebelumnya, tetapi fakta bahwa dia belum sadar kemungkinan besar karena kerusakan otak.

Misalnya, dia mungkin kehilangan begitu banyak darah sehingga fungsi otaknya terganggu sebelum lukanya menutup, atau kepalanya mungkin terbentur sangat keras saat dia terluka.

Itulah yang Rio pikirkan——,

“...Saya memiliki sedikit pengalaman tentang seni pengobatan, dan bolehkah saya mengajukan beberapa pertanyaan tentang kondisi Vanessa-san?”

Dia membuka mulut. Di dunia ini, perkembangan ilmu pengobatan di bidang tertentu sangat lambat karena adanya Heal yang bisa menutup luka dengan sempurna kecuali luka tersebut pada tingkat dimana bagian tersebut hilang (karena pengembangan Heal yang berlebihan, di beberapa daerah, mencoba mempelajari struktur internal tubuh manusia sangat dihindari).

Oleh karena itu, bahkan dengan pengetahuan Haruto Amakawa yang belum pernah mempelajari ilmu pengobatan di kehidupan sebelumnya, dia mungkin memiliki pengetahuan yang lebih baik daripada orang-orang di dunia ini dalam beberapa bidang.

“Hoh, jadi Anda juga berpengalaman dalam seni pengobatan, ya, Haruto-kun?”

“Anda benar-benar unggul dalam bidang akademik dan seni bela diri. Ya ampun, ini luar biasa.”

Duke Huguenot dan Marquis Rodan dengan cepat memuji Rio.

“Tidak kok, ini benar-benar tidak seberapa.... Tapi pertama-tama, bisakah Anda ceritakan apa yang terjadi pada Vanessa-san ketika dia kehilangan kesadaran?”

Rio melihat dan bertanya pada Christina dan Flora yang ada di tempat kejadian.

“...Setelah perutnya ditikam dengan pisau, wajahnya ditendang sekuat tenaga dan dia diterbangkan dengan keras.”

Dengan ekspresi sedikit pahit di wajahnya, Christina mengingat bagaimana itu terjadi.

“Begitu, ya.... Sekarang, bisa tidak Anda beritahu saya tentang semua letak luka luar, besar dan kecil, pada saat itu?”

Rio mengajukan pertanyaan berikutnya. Kali ini, dia tidak memandang Christina dan Flora, yang telah pindah dan menghilang dari tempat kejadian, tetapi pada Duke Huguenot dan Marquis Rodan yang pasti telah menerima laporan itu.

“Letak lukanya, ya. Menurut Roanna-kun yang merawatnya, seingatku pendarahannya hanya di perut, sih...”

“Dengan kata lain, hanya bagian perut yang dirawat dengan Heal di tempat kejadian?”

“Tidak, setelah dia dibawa ke Rodania, beberapa penyihir seharusnya merawat seluruh tubuhnya, untuk berjaga-jaga.”

Duke Huguenot menutup mulutnya dengan tangan dan menjawab Rio, di saat dia menggali ingatannya.

“Seluruh tubuhnya.... Perawatan lain apa yang diberikan kepadanya secara khusus? Tolong beri tahu saya semuanya, misalnya tentang obat apa pun yang kalian berikan kepadanya, atau perawatan lain apa pun yang telah dilakukan sampai sekarang.”

Rio merenung sebentar, dan kemudian mengajukan pertanyaan berikutnya.

“Saya rasa para ksatria wanita yang bekerja dengan dokter dan merawatnya akan tahu lebih banyak tentang itu. Bagaimana menurut kalian?”

Duke Rodan berbicara, dan bertanya kepada para ksatria wanita di ruangan itu. Lalu——,

“Benar.... Pada dasarnya, kami mengikuti instruksi dokter, kami merawatnya saat dia terbaring. Misalnya, mengelap badan, atau um, membuang kotorannya, atau memberinya minum air bernutrisi melalui infus untuk mencegahnya dehidrasi.... Juga, dokter memberi tahu kami bahwa akan lebih baik jika seseorang berbicara di sampingnya selama dia belum sadar, jadi kami mencoba untuk terus berbicara di dalam ruangan.”

Seorang ksatria wanita berbicara secara rinci, sambil menekuk jarinya dan menghitungnya.

“Selain itu, kami menggunakan sihir pembatalan padanya karena ada kemungkinan kesadarannya belum kembali itu disebabkan oleh pisau yang menusuknya sudah tersihir, kami memberikan Heal padanya beberapa kali sehari karena kemungkinan luka yang tidak terlihat belum sepenuhnya sembuh, dan kami juga membuatnya meminum ramuan sihir untuk pemulihan. Kami juga berpikir bahwa dia mungkin telah diracuni, jadi kami memberinya beberapa dosis ramuan sihir penawar racun selama asupan nutrisinya, atau mengeluarkan darahnya untuk menghilangkan racun yang tidak dapat didetoksifikasi, tapi kami memutuskan untuk tidak melakukannya karena dia kehilangan banyak darah saat dia terluka.”

Ksatria wanita lain menambahkan.

“Terima kasih atas penjelasan terperincinya. Apakah itu sudah semuanya?”

Rio memastikan untuk memeriksa.

“...Iya.”

Para ksatria wanita saling memandang dan mengangguk.

(...Sepertinya mereka menggunakan Heal dan memberinya ramuan penyembuh dengan hati-hati, tapi jika dia masih belum sadarkan diri, maka dia pasti mengalami kerusakan otak, ‘kan? Di dunia ini di mana ilmu pengobatan tidak dikembangkan, struktur otak mungkin belum diketahui apalagi diuji, tapi.... Dengan asumsi bahwa alasan dia belum sadarkan diri adalah kerusakan otak, lantas apa penyebabnya?)

Rio menatap Vanessa dan merenungkan penyebab komanya yang terus berlanjut.

(...Apakah kepalanya terbentur keras ketika dia ditendang? Atau, dari apa yang kudengar tentang situasi sebelum dia kehilangan kesadaran, dia pasti kehilangan banyak darah sebelum lukanya tertutup. Bahkan jika mereka menggunakan sihir untuk menutup lukanya, itu tidak akan mengembalikan darahnya yang hilang. Jadi mungkin tidak ada cukup darah yang beredar ke otak, sehingga otaknya masih terluka?)

Dia mungkin telah kehilangan sejumlah darah yang mematikan dari tubuhnya, tapi dia diambang kematian karena sihir telah menutup lukanya. Atau mungkin saat wajahnya ditendang dan dia diterbangkan. Dia mengira-ngira yang mana dari salah satunya.

(...Otak seharusnya bagian paling rumit dari tubuh manusia. Luka di bagian dalam tubuh sangat sulit diobati, dan tergantung pada keahlian pengguna, beberapa luka tidak dapat disembuhkan. Kerusakan otak Vanessa-san pasti cukup parah, bukan? Sampai-sampai tidak bisa disembuhkan oleh pengguna biasa yang membutuhkan waktu lama untuk menyembuhkannya)

Jika benar demikian....

(Jika kerusakan otaknya bisa disembuhkan dengan pengobatan yang ampuh, maka kami bisa memulihkan kesadaran, bukan?)

Sepertinya itu mungkin. Kemudian, sebelum dia menyadarinya, perhatian semua orang di ruangan itu terfokus pada Rio——,

“Haruto-sama, apakah Anda tahu sesuatu?”

Flora berbicara kepada Rio seolah-olah dia sedang berdoa.

“Saya tidak tahu pasti, tapi hal pertama yang saya yakini adalah dia kehilangan banyak darah ketika para bandit menikam perutnya dengan pisau. Apakah kalian semua tahu apa itu darah?” tanya Rio, melihat sekeliling pada orang-orang di ruangan itu.

“...Darah adalah cairan tubuh yang diperlukan untuk menjaga aktivitas biologis. Oleh karena itu, saya telah belajar bahwa banyak penyakit terjadi ketika darah terkontaminasi.” jawab Christina.

Itu juga yang pernah dipelajari Rio di Royal Academy. Ksatria wanita sebelumnya menyebutkan tentang pengobatan dengan mengeluarkan darah untuk menghilangkan racun yang tidak dapat didetoksifikasi, di dunia ini terkadang dipercaya bahwa mengeluarkan darah kotor bisa membantu menyembuhkan penyakit.

(Syukurlah mereka tidak mengeluarkan darahnya yang seharusnya sudah sangat menipis sebagai bagian dari perawatan)

Rio lega mendengarnya——,

“Vanessa-san mengalami koma mungkin karena wajahnya ditendang, atau otaknya mungkin mengalami cedera yang tidak terlihat dari pendarahan di perutnya yang menyebabkan dia kehilangan banyak darah untuk menjaga aktivitas biologis.”

Dia memberitahukannya secara singkat.

“Saat Anda menyebut otak... maksud Anda bagian yang seharusnya ada di dalam kepala, ‘kan?”

Christina mengkonfirmasi dengan tanda tanya, mungkin karena itu adalah bidang yang tidak banyak dia ketahui.

“Ya. Jika kita bisa menyembuhkan kerusakan otaknya dengan sihir, kita mungkin bisa memulihkan kesadarannya.”

Bahkan dengan pengobatan Bumi modern, hampir tidak mungkin untuk menyembuhkan otak yang rusak parah secara artifisial dan membuat pasien keluar dari koma yang dalam, tapi di dunia ini di mana sihir dan seni sihir ada, bukankah mungkin itu bisa disembuhkan? Rio berpikir begitu dan membuat saran.

“...Apakah kita bisa? Membangunkannya...”

“Tampaknya pemberian Heal atau ramuan sihir tidak menyembuhkannya, tapi waktu yang diperlukan untuk sembuh dengan Heal tergantung pada keterampilan pengguna sihir, waktu penggunaan, lokasi penggunaan, dan apakah area efek sihir terfokus atau tidak. Menyembuhkan bagian dalam tubuh manusia sangat sulit, tapi otak adalah organ yang sangat rumit, jadi pasti jauh lebih sulit. Saya tidak bisa mengatakan dengan pasti, karena saya tidak memiliki keahlian di bidang ini, dan tidak diketahui apakah itu akan berhasil atau tidak, tapi jika kita berkonsentrasi pada kepala, mungkin saja berhasil.”

Rio menjelaskan tentang Heal. Misalnya, jika hanya luka kecil, itu akan sembuh dalam beberapa detik, tapi jika itu adalah cedera seperti patah tulang atau kerusakan organ, penyihir penyembuh biasa tidak akan bisa menyembuhkannya kecuali dia terus menggunakan Heal lebih dari cukup waktu (meskipun lamanya tergantung pada keterampilan pengguna...).

“Aku bisa menggunakan Heal. Tolong biarkan aku mencobanya.”

“Aku juga bisa menggunakannya.”

Mungkin menemukan harapan, Christina dan Flora dengan berani menawarkan diri untuk menyembuhkannya.

“...Apakah ada yang bisa kami lakukan, Haruto-kun?”

Duke Huguenot juga membaca suasana dan dengan cepat bertanya.

“Tolong siapkan dalam jumlah banyak makanan cair dingin dan bergizi yang mudah ditelan agar Vanessa-san dapat langsung menerima nutrisi saat dia bangun. Tergantung pada nafsu makannya, tapi setidaknya siapkan juga beberapa makanan padat yang tampaknya baik untuk pencernaan. Darah diproduksi di dalam tubuh melalui asupan nutrisi, tetapi ada batasan jumlah nutrisi yang dapat diperoleh melalui infus. Masih ada kemungkinan dia kekurangan darah, jadi segera setelah dia sadar kembali, mungkin lebih baik untuk memberinya nutrisi sebanyak mungkin.”

“Umu. Ayo kita siapkan.”

“Kalau begitu, mari kita mulai perawatannya begitu makanan sudah siap.”

Dengan itu, diputuskan untuk mencoba mengobati Vanessa di sini.

“Sudah waktunya untuk makan siang sekarang, jadi kami akan segera menyiapkannya!”

Para ksatria wanita bergegas keluar dari ruangan. Kemudian, dalam beberapa menit, para ksatria wanita yang telah meninggalkan ruangan kembali. Dan setelah beberapa menit lagi——,

“Saya sudah bawakan makanannya.”

Para pelayan kantor pusat memasuki ruangan, mendorong troli. Troli itu penuh dengan makanan dingin. Tidak banyak, tapi itu bukan jumlah makanan yang akan dimakan oleh orang sakit yang tidak sadarkan diri setelah bangun tidur. Sebaliknya, bahkan seorang pria besar pun tidak akan bisa menghabiskannya.

“...Kamu membawa terlalu banyak.” kata Christina dengan agak kecewa.

“Sa-Saya minta maaf. Saya memberinya perintah dengan terburu-buru.”

Ksatria wanita itu meminta maaf.

“Yah, tidak apa-apa. Kukira ini sudah cukup.”

“Ya, mari kita mulai. Christina-sama dan Flora-sama, pergilah ke samping tempat tidur di sisi lain.” kata Rio, dan bergerak ke sisi tempat tidur yang jauh dari pintu.

Kemudian dia menginstruksikan Christina dan Flora untuk berdiri di sisi lain——,

“Yang perlu Anda lakukan cukup sederhana. Saya akan menopang tubuh Vanessa-san, dan kalian berdua bisa bergantian menggunakan Heal di kepalanya.”

Dan dia melanjutkan kata-katanya.

“...Apakah saya hanya perlu menggunakan Heal di kepala Vanessa?”

Christina bertanya penasaran.

“Ya, seperti yang saya katakan sebelumnya, otak manusia cukup rumit. Perawatannya seharusnya cukup sulit dan saya tidak tahu akan memakan waktu berapa lama. Mungkin prosesnya akan lama, jadi tolong lakukan perawatannya secara bergantian sebelum membebani Anda.”

Rio menjelaskan sambil mengangkat bagian belakang kepala Vanessa dengan telapak tangan kanannya dan melingkarkan punggung tangan kirinya di punggung Vanessa untuk menopangnya. Dan——,

“Saya mengerti. Kalau begitu saya akan menggunakan Heal saya terlebih dahulu.”

Pertama, Christina menawarkan dan meraih kepala Vanessa. Dia mengambil napas dalam-dalam, merasa sedikit gugup.

“Tolong jangan gugup. Saya juga akan membantu.”

Rio tersenyum untuk menenangkan Christina.

“...Saya mengerti. Kalau begitu, mohon kerja samanya.”

Untuk sesaat, Christina memiringkan kepalanya sedikit, tapi dia tersenyum santai saat wajahnya segera tampak seolah-olah sesuatu telah menjadi jelas baginya. Kemudian——,

“Silahkan kapan saja.”

Dengan kata-kata Rio sebagai sinyal——,

“«Heal»”

Christina melantunkan mantra dan mulai menerapkan Heal ke kepala Vanessa. Sebuah lingkaran sihir muncul di ujung tangan Christina, dan cahaya redup mulai memancar.

(Oke, lalu sambil memperkuat tubuh Vanessa-san, aku juga akan...)

Rio dengan santai mengaktifkan seni rohnya untuk memperkuat tubuh Vanessa dengan tangan kirinya di punggungnya dan untuk menyembuhkan otak Vanessa dengan tangan kanannya yang menopang kepalanya.

Seni roh mewujudkan citra penggunanya untuk menyebabkan fenomena supranatural, dan seni roh juga memiliki efek tergantung pada citra penggunanya. Jika seni roh penyembuhan dilakukan berdasarkan citra yang jelas tentang struktur tubuh manusia dan kasusnya, maka luka di dalam tubuh yang sulit disembuhkan dapat diobati dengan lebih efisien. Meskipun demikian——,

“............”

Tetap saja, Vanessa tidak akan langsung bangun.

“...Mari kita lanjutkan perawatannya untuk sementara waktu.”

Rio mengajak, dan perawatan mereka dimulai.

Related Posts

Related Posts

Post a Comment