-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Seirei Gensouki Volume 16 Bab 7 Part 2 Indonesia

Bab 7
Pesta Minum Teh yang Kacau?


◇◇◇


Setelah beberapa puluh menit.

Rio sedang menyiapkan makan malam di dapur. Mungkin karena sangat jarang melihat seorang bangsawan memasak sehingga para pelayan di mansion memperhatikan persiapan Rio dengan penuh minat. Di antara mereka adalah para pelayan Liselotte, termasuk Aria, dan Vanessa.

Rio tampak sedikit tidak nyaman dengan semua mata tertuju padanya, tapi keahliannya itu sangat brilian sehingga para penonton itu terkesan.

Omong-omong, yang dia buat adalah kroket seperti nasi yang menggunakan jelai sebagai bahannya. Dia bisa menguraikan sausnya, atau membumbui jelai, yang merupakan bahannya, dengan gaya risotto——,

(Yoshi, dengan ini persiapannya sudah selesai)

Yang tersisa hanyalah menggorengnya dalam minyak sebelum makan. Ada banyak bahan yang sudah disiapkan sehingga tidak akan habis meski dimakan oleh orang banyak.

Dia menutupi semangkuk bahan dengan selembar kertas pembungkus agar tidak terkena udara luar, dan memasukkannya ke dalam lemari es sihir. Lalu——,

“Haruto-kun.”

Suara Satsuki bergema di dapur. Rio menoleh saat namanya dipanggil, dan——,

“Satsuki-san... dan, Orphia-san, Christina-sama dan Flora-sama juga...”

Rio tampak sedikit bingung dan memanggil nama empat orang yang berdiri di pintu masuk dapur. Para pelayan yang sedang melihatnya memasak sudah tidak ada di tempat.

“Yahho. Apa aku mengejutkanmu?”

Satsuki menyapa Rio dengan ekspresi sedikit canggung.

“Aku memang terkejut, tapi tidak biasa bagi kalian berempat untuk bersama, jadi rasanya agak aneh. Ada apa dengan kalian?”

“Tidak kok, tidak sering kami mendapat kesempatan seperti ini, jadi kami sepakat untuk meluangkan waktu untuk bertindak dengan kombinasi yang tidak biasa.”

“Begitu, ya. Kupikir itu ide yang sangat bagus.”

“Haruto-kun, masih proses pembuatan? Kalau kamu tidak keberatan, kenapa tidak ngobrol dengan kami?”

“Aku baru selesai mengolahnya dan akan kembali ke tempat kalian. Aku tidak keberatan kok.”

Rio dengan senang hati setuju.

“Kalo gitu, ayo kita pergi ke ruang makan di sana sebentar.”

“Ya.”

Kemudian Rio dan yang lainnya pindah ke ruang makan, yang terhubung ke dapur dengan sebuah pintu. Mereka berlima duduk di salah satu sudut meja makan besar yang bisa menampung 30 orang, dan——,

“Maaf, ya, kami membuatmu memasak sendiri. Tapi aku sangat menantikannya karena masakanmu sangat enak!”

Satsuki mulai berbicara dengan Rio.

“Tidak apa-apa, ini permintaan Charlotte-sama, dan aku suka memasak. Selain itu, sebagai laki-laki, rasanya asing bagiku untuk sendirian berada di ruangan itu.”

Rio menjawab dengan sedikit senyum pahit.

“Kurasa itu tidak benar. Iya, ‘kan?”

Satsuki meminta pendapat Christina, Flora, dan Orphia tentang bagian akhir dari kata-katanya.

“Semua orang membicarakan tentang bagaimana mereka ingin berbicara lebih banyak denganmu saat kamu tidak ada, loh, Haruto-san. Itulah sebabnya kami ke sini.” kata Orphia lebih dulu.

“Memang, Tuan Amakawa sangat disukai oleh semua orang, ‘kan?” kata Christina, tersenyum lebar.

“Ya. Kami juga ingin berbicara lebih banyak dengan Haruto-sama...”

Flora malu-malu.

“Jika seperti itu, saya senang.”

Wajah Rio berubah masam.

“Ngomong-ngomong, apa yang sedang kamu buat, Haruto-kun?”

“Kroket dengan risotto jelai.”

“Uwa, satu lagi yang kedengarannya sangat lezat...”

“Silahkan dinantikan.”

“Un! Meski begitu, gadis yang menikahi Haruto-kun pasti sangat beruntung, ya.”

Satsuki mengangguk sambil tersenyum, tapi tiba-tiba dia melihat ke wajah Rio dan mulai mengatakan itu.

“Ada apa, tiba-tiba?”

“Tidak kok, habisnya masakanmu sangat enak. Pria yang bisa memasak itu sangat menawan, tahu?”

“...Terima kasih.”

Rio mengucapkan terima kasih dengan malu-malu.

“Ngomong-ngomong, Haruto-kun, apa kamu suka gadis yang bisa memasak?”

“Nn, kupikir hanya karena seseorang bisa memasak atau tidak, tidak berarti aku menyukainya.”

“Fuun. Jadi, kamu tidak masalah dengan gadis yang tidak bisa memasak?”

“Ya.”

“Tapi, bukankah lebih menyenangkan jika seorang gadis memasak untukmu? Kamu bahkan mungkin akan mulai tertarik dengan orang tersebut. Tidakkah kamu ingin mencoba masakan dari orang yang kamu sukai?”

Satsuki mengajukan banyak pertanyaan kepada Rio.

“Yah, memang sih. Mungkin seperti itu.” jawab Rio setelah memikirkannya dengan serius.

“Apakah itu akan membuatmu senang, bahkan jika gadis itu tidak pandai memasak?”

Cristina juga bertanya pada Rio.

“Itu benar. Jika gadis itu adalah keluarga kerajaan atau bangsawan, kupikir dia biasanya tidak memasak untuk diri sendiri, tapi fakta bahwa dia memasak untukku saja sudah membuatku senang. Aku mungkin pernah mengatakan hal serupa sebelumnya.”

“Begitu, ya...”

Christina mendengus penuh minat.

Di sebelahnya, Flora menganggukkan kepalanya.

“Apakah ada tipe gadis ideal yang ingin kamu nikahi, Haruto-san?”

Kali ini, Orphia bertanya pada Rio.

“Ideal, ya...”

“Misalnya, jenis wajah, warna rambut, panjang rambut, atau kepribadian.”

“Ini sulit, ya. Apakah tidak cukup untuk mengatakan bahwa orang yang aku sukai adalah yang ideal?”

Rio menjawab dengan wajah bermasalah.

“Tidak cukup. Pokoknya harus lebih spesifik.” kata Satsuki dengan tegas.

“E-Ee?”

“Tolong katakan satu saja. Karena ini penting.”

“Uun.... Seperti, seseorang yang tidak keberatan dengan keheningan ketika bersamaku?”

Rio memutar kepalanya untuk menjawab.

“Fuun. Kamu ingin gadis yang tidak terlalu berisik?”

“Tidak, aku bukan orang yang banyak bicara, jadi aku mungkin akan lebih menghargai jika orang lain yang mulai berbicara. Tapi, aku tidak ingin dia memaksakan diri untuk terus berbicara, atau dia bisa bersantai tanpa perlu khawatir jika ada saat-saat tanpa percakapan...”

“Jadi begitu, ya.”

Satsuki mengerti dan tertarik. Kemudian, Rio terus dilontarkan banyak pertanyaan oleh mereka semua.

(...Rasanya kok banyak pertanyaan aneh tentang pernikahan, cinta, dan tipe orang yang kusuka?)

Rio menjawab dengan patuh, tapi dia merasa tidak nyaman di tengah tanya jawab. Lalu, dari ekspresi wajah Rio, mungkin dia menyadarinya——,

“Kami banyak mengobrol saat Haruto-kun tidak ada. Lagipula, berbicara tentang cinta dan pernikahan adalah topik standar, bukan? Kami membicarakan banyak hal, tapi karena tak satu pun dari kami yang pernah menjalin hubungan sebelumnya, kami tidak tahu banyak tentang pria. Dan karena orang yang paling dekat dengan kami adalah Haruto-kun, kami memutuskan untuk bertanya banyak hal padamu.” kata Satsuki dengan lancar seolah sudah hafal.

“Begitu, ya.... Jadi sepertinya obrolan kalian hidup, ya.”

Rio benar-benar terkesan.

“Iya, tahu. Kami hanya gadis biasa yang seumuran, jadi kami biasanya membicarakan hal-hal seperti itu. Iya, ‘kan, Orphia-chan.”

“Ya. Kami sering melakukannya ketika Haruto-san tidak ada, loh.” kata Orphia sambil cekikikan.

“Sebagai pewaris tahta, saya dan Flora mungkin bukan gadis biasa, tapi itu pembicaraan yang sangat menyenangkan.”

“Ya. Saya merasa sangat senang bisa mendengar banyak hal baru dan berbicara seperti gadis biasa. Terima kasih sudah mengundang kami ke pesta ini, Haruto-sama.”

Kata Christina dan Flora.

“Tidak kok, menurutku kalian berdua adalah gadis biasa yang sangat menawan.” kata Rio kepada mereka, dengan lembut menyipitkan matanya.

“...Terima kasih banyak.”

Christina berterima kasih padanya dengan sedikit rasa malu. Flora benar-benar malu dan wajahnya merah. Dan——,

(Orang ini benar-benar mengatakan hal-hal seperti itu dengan enteng)

Satsuki menatap Rio dengan ekspresi gelisah di wajahnya, seolah dia ingin mengatakan sesuatu. Dia memiliki wajah yang baik, pria terhormat, dan memiliki spesifikasi tinggi, jadi dia sempurna. Tentu saja dia akan populer. Faktanya, Satsuki bisa tahu kenapa dia begitu populer. Satu-satunya kekurangannya adalah dia pria naif yang berbicara seperti seorang gigolo.

“Makanya terkadang aku benar-benar salah paham.”

Satsuki bergumam sambil menajamkan bibirnya.

“Etto, Satsuki-san?”

Rio memperhatikan tatapan Satsuki dan memiringkan kepalanya.

“Bukan apa-apa~a.”

Satsuki menjawab dengan nada yang sedikit diperpanjang——,

“Baiklah, kalau begitu, mari kita segera pergi. Yang lain sedang menunggu juga setelah ini.”

Dengan itu, dia berdiri.

Orphia, Christina, dan Flora juga ikut berdiri.

“Apakah ada hal lain setelah ini?”

Rio bertanya. Dia mau ikut berdiri juga, tapi——,

“Sebenarnya, kami seharusnya berbicara dengan Haruto-kun secara bergantian. Karena itu Haruto-kun tetap di sini saja. Kelompok berikutnya akan datang setelah kami kembali.”

Satsuki menghentikannya.

“...Begitu, ya. Kalau begitu, aku akan menunggu di sini.”

Rio tersenyum memahaminya dan duduk kembali di kursinya.

“Baiklah, sampai jumpa lagi. Haruto-kun.”

Kelompok Satsuki pergi.

Membawa kembali informasi yang mereka peroleh di sini dan membagikannya ke kelompok di belakang mereka. Sebagai tambahan, ada cerita lain di mana di keesokan harinya akan diadakan acara menyajikan masakan rumahan untuk Rio.

Related Posts

Related Posts

Post a Comment