-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Seirei Gensouki Volume 16 Bab 7 Part 3 Indonesia

Bab 7
Pesta Minum Teh yang Kacau?


◇◇◇


Kemudian, setelah belasan menit——,

“Onī-chan!”

Pintu ruang makan terbuka dan Latifa muncul. Di belakangnya, Liselotte juga ada di sana, menutup pintu, dan mereka memasuki ruangan bersama.

“Selanjutnya Latifa dan Liselotte-san, ya?”

Memang, ini juga merupakan kombinasi yang tidak biasa.

“Un! Waktu pesta menginap di rumah Liselotte Onē-chan sebelumnya, kita tidak ada waktu untuk bertigaan saja, sih. Kita bertiga adalah orang-orang yang naik bus sebelum kita dilahirkan kembali! Kita punya banyak hal untuk dibicarakan, bukan?”

Kata Latifa sambil duduk di sebelah Rio. Itu adalah sesuatu yang bisa mereka bicarakan karena hanya mereka bertiga yang ada di ruang makan.

“Kita bertiga belum pernah berbicara di kehidupan kita sebelumnya juga sih tapi.”

Alasannya adalah karena mereka tidak dekat satu sama lain. Mereka hanya sering naik bus yang sama, dan mereka tidak saling menyapa hanya karena mereka melihat satu sama lain.

“Tiga orang yang hampir seperti orang asing di kehidupan sebelumnya menjadi teman untuk menginap bersama setelah dilahirkan kembali, sungguh misterius, ya!”

Kata Liselotte sambil tertawa kecil dan duduk di kursi di seberang Rio dan Latifa.

“Kita dilahirkan kembali dan tumbuh di tempat yang berbeda, namun kita bisa bertemu kembali. Ini keajaiban yang luar biasa, bukan?”

Mata Latifa berbinar.

“Ya, itu benar.”

“Rasanya nostalgia. Aku beralih naik bus ke sekolah karena aku ingin bertemu Onī-chan, tahu?”

“Benarkah itu?”

Rio melebarkan matanya. Ini pertama kalinya dia mendengarnya.

“Sebenarnya, memang begitu, hehe. Setelah aku ketinggalan bus dan Onī-chan mengantarku pulang, Ibu membolehkanku naik bus ke sekolah. Aku sangat malu dan tidak pernah berani memanggilmu, sampai aku mati, tapi sebenarnya aku ingin lebih dekat dengan Onī-chan.”

Latifa malu-malu.

“...Maka, mungkin Latifa tidak akan mati jika kamu tidak beralih naik bus ke sekolah, ya?”

Rio terlihat sedikit bersalah.

“Kalau Onī-chan pikir aku mati karenamu, aku akan marah, loh. Kalau aku tidak dilahirkan kembali seperti ini, aku tidak akan bisa sedekat ini dengan Onī-chan.”

“...Itu benar.”

“Aku mengagumi dirimu dari kehidupan sebelumnya, loh, Onī-chan. Pada Amakawa Haruto Onī-san, yang keren dan menolongku. Itu sebabnya, aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk menyesali keputusanku naik bus ke sekolah! Karena aku juga sangat sangat mencintai Onī-chan yang sekarang!”

Latifa memeluknya dari samping dan memberi tahu Rio perasaan cintanya yang tulus dan murni.

“Kupikir itu sangat indah karena Latifa-chan yang tadinya malu-malu saat melihat Haruto-san di dalam bus, sekarang bisa mengungkapkan perasaannya selugas ini.”

Liselotte memandang Latifa sambil tersenyum.

“Itu karena aku tidak ingin menyesalinya. Aku harus memberi tahu Onī-chan bahwa aku sangat mencintainya, kalau tidak dia tidak akan mengerti.”

“Itu lebih dari cukup untuk membuatku mengerti, loh.” kata Rio sambil tersenyum senang.

“Sungguh?”

Latifa memberi Rio pandangan tidak percaya.

“Ya.”

“Nn, aku memang mencintaimu sebagai saudara, tapi itu juga termasuk mencintaimu dalam arti yang sama seperti Endō Suzune mencintai Amakawa Haruto Onī-san, tahu?”

Latifa sudah mengatakan banyak kata cinta sampai sekarang. Meskipun dia dapat menunjukkannya dalam sikapnya, dia secara sadar menghindari mengatakan apa pun yang secara langsung menunjukkan bahwa dia menyukainya sebagai lawan jenis. Namun, mungkin terinspirasi oleh percakapan dengan Charlotte dan yang lainnya sebelumnya, dia sekarang bisa mengatakannya dengan sangat alami.

“......Begitu, ya. Un.”

Rio menatapnya diam dan hampir menegang, tapi dia mengangguk dengan senyum lembut. Ini tidak mengganggunya. Ini juga tidak merepotkannya. Malah dia merasa senang mendengarnya. Tapi——,

“Jawabanku... Maaf. Aku belum bisa melakukannya sekarang.”

Saat ini, dia tidak dalam kondisi mental di mana dia bisa mencintai seseorang. Rio menyampaikan perasaan jujurnya tanpa basa-basi.

“Tidak papa kok. Itu saja untuk sekarang...”

Latifa tampak tercerahkan dan mempererat pelukannya pada Rio.

“Eetto, rasanya kok aku sangat menghalangi, ya?” kata Liselotte yang duduk di seberang mereka dengan ekspresi bermasalah di wajahnya.

“Itu tidak benar kok. Kupikir aku tidak akan bisa mengatakannya jika aku sendirian dengan Onī-chan. Aku bisa mengatakannya karena Liselotte Onē-chan ada di sini dan kita bisa membicarakan tentang kehidupan kita sebelumnya. Aku benar-benar merasa malu sekarang. Ehehe.”

Wajah Latifa sangat memerah karena mungkin dia benar-benar merasa malu.

“Begitu, ya...”

Liselotte tersenyum lembut.

“Aku sangat senang sekarang karena aku bisa menyebut diriku Suzune Amakawa, atau Amakawa Suzune, meskipun itu sebagai adik perempuannya. Jadi itu cukup untuk saat ini. Fufun. Bukankah itu bagus, Liselotte-chan Onē-chan?”

“Un, aku mungkin iri padamu.”

Latifa memberitahunya dan Liselotte mengangguk, masih tersenyum. Tapi——,

“Liselotte Onē-chan juga, kalau kamu menikah dengan Onī-chan, kamu bisa memiliki nama belakang Amakawa, loh?”

“E-Ee?”

“A, wajah Liselotte Onē-chan memerah, loh. Onī-chan!”

“...I-Itu melanggar aturan mengatakan tiba-tiba hal seperti itu. Bahkan jika aku tidak menginginkannya, aku akan membayangkannya soalnya.”

Liselotte mengeluh dengan suara keras.

“Amakawa Rikka. Liselotte Amakawa.”

“M-Mō!”

Wajah Liselotte semakin memerah saat Latifa memanggil namanya dengan nama keluarga Rio.

“Hei, Latifa. Jangan terlalu menggodanya, Liselotte-san nanti malu, loh.”

Rio menegur Latifa dengan ekspresi tercengang di wajahnya.

“Iyaa. Aku menganggap Liselotte Onē-chan sebagai saingan juga sih, tapi...”

Latifa mengangguk patuh dan bergumam pelan.

“......”

Liselotte yang duduk di seberangnya, tahu persis apa yang dia katakan dari gerakan mulutnya, tapi dia tetap diam dan pura-pura tidak mendengarnya.

“Nn, sekarang... oh, iya.”

Seolah mengingat sesuatu, Latifa menepuk tangan.

“Ada apa?”

“Jadi begini. Aku baru ingat kalau ada sesuatu yang belum kukatakan pada Liselotte Onē-chan. Aku berpikir untuk memberitahukannya saat kita bertemu lagi...” kata Latifa sambil menatap wajah Rio.

“Apa yang sedang kalian bicarakan?”

Liselotte yang duduk di seberang Rio, memiringkan kepalanya.

“Etto, um, misalnya tentang telingaku.”

Latifa berbisik pelan ke Rio.

“Oh.... Kurasa tidak apa-apa kalau Liselotte-san diberitahu. Karena aku yakin dia akan menjaga rahasia. Sekarang terserah padamu mau memberi tahunya atau tidak, Latifa.”

Rio memberikan izinnya tanpa ragu-ragu.

“...Jika itu adalah sesuatu yang kalian berdua ingin rahasiakan, aku tidak akan memberi tahu siapa pun.”

Liselotte bersumpah dengan tatapan serius. Dan kemudian——,

“Un, baiklah, kuharap kamu tidak terlalu terkejut...”

Latifa memutuskan untuk mengungkapkan rasnya. Ketika Liselotte mengetahui ras Latifa, matanya menyala dan dia terus mengelus telinga dan ekornya untuk sementara waktu.

Related Posts

Related Posts

Post a Comment