-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Seirei Gensouki Volume 16 Bab 7 Part 1 Indonesia

Bab 7
Pesta Minum Teh yang Kacau?


◇◇◇


Rio meninggalkan ruangan, dan pintu ke ruang tamu tertutup dengan keras. Dan——,

“...Sekarang mungkin waktu yang tepat. Aku punya pertanyaan yang ingin kutanyakan kepada kalian semua sementara Haruto-sama pergi.”

Charlotte tiba-tiba mengatakan ini sambil melihat ke sekeliling wajah semua orang.

“Pertanyaan apa, ya?”

Christina adalah orang pertama yang membuka mulutnya dan bertanya pada Charlotte. Kemudian mata Charlotte berbinar karena senang——,

“Hubungan seperti apa yang ingin kalian miliki dengan Haruto-sama di masa depan?”

Dia bertanya pada gadis-gadis di ruangan itu.

“...............”

Sebagian besar dari mereka terkejut, dan keheningan menyelimuti ruangan itu.

“Aku, aku ingin bersama Onī-chan selamanya!”

Latifa adalah yang pertama mengangkat tangan dan menyampaikan keinginannya.

“Apakah itu sebagai adik perempuannya? Kudengar Suzune-sama tidak memiliki hubungan darah dengan Haruto-sama...”

“Sebagai adik perempuannya dan juga sebagai anak perempuan...!”

Charlotte bertanya padanya dengan tatapan seolah sedang menilai, tapi Latifa menjawab tanpa ragu-ragu.

“Aku juga akan bersama Haruto selamanya.”

“Itu sebagai seorang wanita, sama seperti Suzune-sama... ‘kan?”

Ketika Aishia mengikutinya, Charlotte memiringkan kepalanya untuk memastikan. Alasan kenapa dia bertanya sedikit penasaran mungkin karena suasana Aishia begitu murni dan polos sehingga sulit untuk membayangkan dia dan Rio menjalin hubungan.

“Aku seorang wanita, tahu?”

Aishia memiringkan kepalanya dengan penasaran juga.

“Nn, bagaimana mengatakannya, ya, aku berbicara tentang apakah kamu ingin menjalin hubungan dengan Haruto-sama. Seperti keinginan untuk menikah dan membangun keluarga. Apakah kamu ingin bersamanya dengan maksud seperti itu?”

Charlotte mengulangi pertanyaan, mengungkapkan niatnya secara detail.

“Dengan atau tanpa hubungan seperti itu, aku akan tetap di sisi Haruto. Selama Haruto mau bersamaku.”

“Begitu, ya...”

Charlotte membuka lebar matanya, seolah-olah dia terkesan akan sesuatu. Lalu——,

“Lalu, bagaimana dengan yang lain?”

Sekali lagi, dia bertanya kepada yang lain.

Tapi, tidak ada yang mengikuti Latifa dan Aishia.

“.........”

Miharu, Celia, Satsuki, Liselotte, Sara, Orphia, Alma, dan Christina dan Flora, terdiam.

“Fumu, fumu. Kalau begini, maka orang-orang yang jelas-jelas mencintai Haruto-sama adalah Suzune-sama, Aishia-sama, dan aku sendiri.”

Charlotte mengkonfirmasi ini saat melihat sekeliling pada kelompok itu, dengan santai mengungkapkan bahwa dia juga mencintai Haruto.

“Tidak, tidak, bukankah sulit untuk menjawab pertanyaan terbuka seperti itu secara tiba-tiba, Char-chan? Mereka semua mungkin bahkan tidak tahu kenapa mereka ditanya seperti itu.”

Satsuki mengeluh sambil melihat wajah Miharu dari samping.

“Beginilah caraku bertanya. Sepertinya aku terlalu berani, ya. Beberapa dari kalian sudah lama mengetahui hal ini, tapi seperti yang kukatakan tadi, aku mengagumi Haruto-sama sebagai lawan jenis, dan aku berpikir untuk menikah dengannya jika memungkinkan. Jadi aku ingin tahu apa yang dipikirkan semua wanita di sekitar Haruto-sama tentang dirinya.”

Charlotte berbicara dengan tegas dengan suara yang jelas.

(Halah, padahal dia pasti sengaja menghilangkan penjelasannya)

Dia mungkin mencoba untuk melihat reaksi mereka dengan mengajukan pertanyaan secara tidak terduga. Satsuki menatap Charlotte dengan cemberut. Satsuki sudah sangat memahami tentang gadis seperti apa dia.

“Untuk saat ini, aku sangat senang mengetahui kalau Suzune-sama dan Aishia-sama adalah sainganku. Meskipun aku tidak tahu bagaimana dengan yang lain...”

Charlotte melihat sekeliling sambil tersenyum pada wajah mereka yang belum menjawab dan mencoba melihat lebih banyak reaksi mereka. Christina, Orphia, Alma, dan Liselotte memasang wajah poker, tapi dia bisa melihat dari ekspresi wajah yang lain bahwa mereka memiliki semacam perasaan terhadap Rio. Bukan mata pengamat Charlotte tidak bisa melihatnya.

(Aku masih belum yakin tentang Christina-sama, Orphia-sama, Alma-sama, dan Liselotte, tapi sepertinya aku bisa berasumsi kalau sisanya menyukai Haruto-sama)

Bibir Charlotte terlihat senang dengan tawa kecil, dan——,

“Di masa depan, aku yakin Haruto-sama akan menerima banyak lamaran pernikahan, jadi jika kalian memiliki perasaan yang tersembunyi, mungkin lebih baik kalian jujur tentang perasaan itu sebelum terlambat.”

Dia mengatakan sesuatu yang membuat mereka yang menahan diri untuk tidak menjawab menjadi tidak sabar.

“............”

Mereka yang menahan diri untuk tidak menjawab masih diam, tapi masing-masing dari mereka tampak agak gelisah. Charlotte mengamati reaksi mereka dan tertawa terlihat sangat senang.

(Yah, aku yakin Ayah akan memainkan sebagian besar lamaran pernikahan)

Toh dia sudah mengatakan sesuatu untuk membuat mereka merasa terancam, jadi dia tidak akan repot-repot menenangkan mereka dengan mengatakan itu.

“Apakah itu berarti Charlotte-sama mendeklarasikan perang terhadap kami?”

Latifa mengkonfirmasi dengan tatapan tidak mau kalah di matanya.

“Kamu tidak harus memanggilku dengan [sama]. Aku satu tahun lebih tua darimu, jadi kamu bisa memanggilku [nē-chan] seperti yang kamu lakukan pada Satsuki-sama. Aku mungkin benar-benar menjadi kakak perempuanmu.”

Charlotte tampak sangat menikmati situasi ini dan menanggapinya dengan tersenyum berlebihan sehingga otot-otot wajahnya berusaha menahan kendur.

“Mūu. Tolong dijawab, Charlotte-sama.”

Latifa menggembungkan pipinya dan mendesaknya untuk menjawab.

“Kalau hanya satu yang dipilih oleh Haruto-sama, itu mungkin baru disebut deklarasi perang. Namun, jika ada kemungkinan tidak demikian, aku ingin kita secara aktif membangun hubungan kerjasama untuk masa depan.”

“Kemungkinan tidak demikian, maksudnya...”

“Poligami. Dengan kata lain, itu adalah saat Haruto-sama menikahi lebih dari satu wanita. Tapi, meski begitu, mungkin jumlah kursi untuk istrinya terbatas, jadi masih ada kemungkinan persaingan.”

Charlotte mengatakan bahwa dia ingin membangun hubungan kerja sama jika memungkinkan, tapi dia tidak lupa mengatakan sesuatu yang akan merangsang ketidaksabarannya, seolah-olah dia pikir itu akan lebih menyenangkan.

“Uun, menurutku Haruto-kun adalah tipe orang yang tidak mau poligami, sih.” kata Satsuki dengan suara pelan.

“Apa yang membuatmu berpikir demikian?”

“Habisnya, dia bukan tipe orang yang bisa melakukan hal seperti itu. Menurutku dia tipe orang yang, jika dia jatuh cinta dengan seseorang, dia akan terus menghargai satu orang itu selamanya.”

“Aku mengerti. Itulah sisi menawan dari dirinya, ‘kan?”

Charlotte terlihat terpesona. Latifa mengangguk setuju. Di sisi lain, Celia, Sara, Flora, dan lainnya juga menganggukan kecil kepalanya.

“Tidak, kalau kamu tahu dia seperti itu, maka tidak ada gunanya membicarakan poligami sebagai asumsi.” kata Satsuki dengan heran.

“Tidak, tidak. Meski begitu, kemungkinan dia akan menerima poligami tidaklah nol, tahu.”

Charlotte sangat berpikiran positif.

“Yah, toh aku belum memastikan pendapat Haruto-kun juga sih. Ini hanya tebakanku.”

Satsuki menarik napas seolah untuk menghilangkan kecemasannya. Lalu——,

“...Tuan Amakawa pernah mengatakan bahwa dia menolak poligami.”

Christina memberikan informasinya.

“Wah, benarkah itu? Aku ingin mendengar lebih banyak tentang itu.”

Charlotte dengan cepat menggigitnya.

“Saya tidak bisa memberi tahu Anda apa-apa selain permukaannya, karena lebih dari itu akan melibatkan perasaan Tuan Amakawa.”

“Aku sangat, sangat penasaran padahal, tapi apa boleh buat.”

Christina tersenyum masam seolah dalam kesulitan, menggelengkan kepalanya, dan Charlotte dengan enggan setuju dengan cemberut kecil di bibirnya.

“Kebenarannya adalah jika dia hanya memilih satu orang sebagai istrinya, aku tidak yakin kalau aku akan dipilih secara pasti. Kurasa kalian semua juga sama. Tentu saja, kalau ada seseorang di kelompok ini yang sudah memiliki hubungan seperti itu dengan Haruto-sama, maka tiu lain cerita...”

Charlotte berubah pikiran dan memulai percakapan lain dan bertanya lagi kepada mereka.

“Mū...”

Bahkan Latifa tidak bisa langsung menjawab bahwa dia memiliki kepercayaan diri itu.

“.........”

Yang lain terdiam.

“Aku sangat lega karena belum ada orang seperti itu. Itu berarti aku juga punya kesempatan.” kata Charlotte dengan senyum yang sangat cerah——,

“Tapi, pertanyaannya adalah, apakah Haruto-sama benar-benar mengenaliku sebagai lawan jenis, ya. Dari sudut pandangku, Haruto-sama adalah orang yang sangat tertutup, tetapi pada saat yang sama, dia juga adalah seorang pria terhormat, jadi tidak akan pernah melakukan apa pun yang akan mengungkapkan isi lubuk hatinya.”

Dia terus menambahkan, tampak sedikit termenung. Dia mengatakan bahwa dia tidak tahu apakah ini berarti dia dianggap sebagai lawan jenis atau tidak.

“Kamu memahami Onī-chan dengan sangat baik, ya, Charlotte-sama...”

Latifa terkesan dan melirik Charlotte. Sebagai saingan cinta, mungkin dia tidak boleh lengah darinya. Munculnya kuda hitam yang tak terduga. Atau begitulah tampaknya.

“Terima kasih. Soalnya aku tidak hanya dilahirkan dan dibesarkan sebagai pewaris tahta. Kalau si adik tiri, Suzune-sama, berkata begitu, maka aku bisa percaya diri.”

Charlotte tersenyum manis dan mengucapkan terima kasih.

“Onī-chan tidak terlalu menutup jarak bahkan ketika bersama orang-orang yang dekat dengannya seperti aku. Meskipun sepertinya dia sudah sedikit berubah, mungkin karena dia memiliki perubahan hati sejak dia kembali dari perjalanan.... Karena itu, kitalah yang harus secara aktif mendekatinya jika kita ingin menutup jarak darinya. Meski begitu, aku tidak tahu apakah dia melihat kita sebagai lawan jenis atau tidak.”

Latifah memiliki ekspresi rumit di wajahnya, seolah-olah dia memiliki banyak pemikiran.

“Jadi begitu, ya.... Maka, terlepas dari poligami, untuk menaklukkan Haruto-sama, sepertinya kita perlu mulai dengan memastikan bahwa dia mengenali kita sebagai lawan jenis.”

Charlotte membuat rencana untuk menaklukkan Rio. Lalu——,

“...Tapi, tidak akan semudah itu, loh.”

Sara bergabung dalam percakapan itu dengan berani.

“Itu karena dia takut kehilangan ikatannya dengan orang-orang. Bukannya dia tidak suka berhubungan dengan orang, tapi kupikir secara tidak sadar dia takut untuk terlibat secara mendalam dengan orang lain.”

Celia juga mengungkapkan analisisnya tentang Rio secara alami. Itu sebagai tanggapan atas kata-kata Sara, tapi sepertinya dia tidak terinspirasi oleh Sara.

“Ini menjadi percakapan yang sangat berarti, ya.”

Charlotte senang bahwa percakapannya benar-benar mulai mengalir dengan baik.

“Jika kita ingin dekat dengan Onī-chan, kita harus menekannya. Jangan ragu-ragu, jangan pernah.”

Latifa mengimbau tentang kunci untuk lebih dekat dengan Rio. Meskipun tidak berpartisipasi secara aktif dalam percakapan, Flora mendengarkan dengan ekspresi yang sangat serius. Pada saat yang sama, Christina dan Liselotte juga mendengarkan dengan penuh minat. Kemudian——,

(Mereka semua menyukai Haruto-san.... Meskipun dia sudah mengatakannya ketika kami berpisah di kastil terakhir kali, Charlotte-sama juga serius tentang Haruto-san...)

Miharu juga tetap diam karena agak tertutup, tapi di dalam hatinya dia memikirkan banyak hal. Seperti yang lain, dia mulai terinspirasi oleh suasana tempat ini.

Perasaan Miharu terhadap Rio secara tidak sengaja diketahui ketika dia hampir diculik oleh Takahisa di kastil Kerajaan Galarc setelah pesta malam, tapi sejak saat itu, hubungan mereka tidak berkembang sama sekali hingga saat ini.

Itu karena dia baik-baik saja ketika bersama banyak orang, tapi ketika mereka berduaan, dia tidak bisa tidak mengingat bahwa perasaannya terhadap Rio diketahui, dia terlalu sadar akan hal itu dan merasa malu. Selain itu, setelah pesta malam, dia menghabiskan lebih banyak waktu terpisah dari Rio. Tapi——,

(Aku tidak bisa terus seperti ini, kan?)

Miharu sangat antusias. Rio mengatakan bahwa dia akan menghabiskan lebih banyak waktu bersama  mereka mulai sekarang, tapi dia sedikit menyadari bahwa hubungan mereka mungkin tidak akan pernah berubah seperti sekarang. Karena itu——,

(Un. Aku tidak boleh lari hanya karena aku merasa malu. Karena aku juga menyukai Haruto-san...)

Miharu sangat yakin bahwa dia harus berubah. Karena dia menyukainya. Dia sangat menyukainya. Tidak hanya terhadap Amakawa Haruto di kehidupannya sebelumnya, tapi juga terhadap Rio yang sekarang....

Karena itu, dia tidak akan menyerahkan Rio kepada orang lain. Dia tidak ingin menyerahkannya. Mungkin karena Charlotte sudah merangsang rasa urgensinya, Miharu mengingat perasaannya saat pesta malam dan memikirkannya lagi. Lalu——,

“Aku punya satu saran.” kata Charlotte seolah dia menunggu waktu.

Perhatian semua orang tertuju pada Charlotte. Dan——,

“Kenapa kita tidak mengambil kesempatan ini hari ini untuk melakukan sesuatu guna melihat apakah Haruto-sama mengenali kita sebagai lawan jenis atau tidak?”

Charlotte membuat saran seperti itu.

“...Apakah kamu berpikir bahwa semua orang di sini menyukai Haruto-kun seolah itu hal yang wajar?”

Satsuki menyela dengan tatapan gelisah.

——Selain mereka yang tinggal dengan Haruto-kun, bahkan Putri Christina dan Putri Flora ada di sini, tahu?

Satsuki mengalihkan pandangannya ke arah mereka, seolah ingin mengatakan itu.

“Tidak, aku tidak berpikir begitu kok. Oleh karena itu, partisipasi hanya bersifat sukarela. Jika kalian menyukai Haruto-sama, silakan bergabung. Tentu saja, kalian juga bisa berpartisipasi karena matif lain.... misalnya, karena kelihatannya menarik.”

Charlotte menjawab dengan riang.

“Gitu, ya.... Tapi, apa yang ingin kamu lakukan ketika kamu bilang menaklukannya?”

“Hmm. Cara yang paling langsung adalah dengan bertanya pada Haruto-sama tentang kehidupan cintanya. Misalnya, mungkin menarik untuk bertanya tentang... siapa gadis ditempat ini yang disukainya?”

“Apa menurutmu Haruto-kun akan menjawabnya?

“Memang sih, kalau menanyakan itu di tempat di mana semua orang berkumpul, sepertinya Haruto-sama akan bersikap defensif. Jika demikian, kupikir akan lebih realistis untuk membentuk kelompok dengan beberapa orang di sini, mengunjungi Haruto-sama, dan bertanya tentang hal-hal seperti itu. Namun, akan sangat tidak wajar jika kita mengunjungi Haruto-sama secara terpisah berturut-turut dan masing-masing dari kita menanyakan tentang cinta, jadi setelah pengelompokan, mungkin ada baiknya untuk memutuskan topik untuk setiap kelompok. Selain itu.”

Charlotte meletakkan tangannya di atas mulutnya, merenung dan——,

“Jika memungkinkan, mungkin akan lebih baik jika mereka yang tidak perlu tahu apakah dirinya dilihat sebagai lawan jenis oleh Haruto-sama atau tidak ikut serta. Karena itu bisa dijadikan kamuflase. Mari kita anggap ini sebagai hiburan untuk memperdalam hubungan kita dengan Haruto-sama. Aku yakin ada hal-hal yang bisa dibicarakan hanya karena memanfaatkan suasana tempat ini sekarang.”

Dia merangkum pemikirannya.

“Kupikir itu ide yang sangat bagus!”

Latifa dengan cepat setuju.

“Terima kasih. Bagaimana dengan yang lain? Jika ada yang tidak ingin ikut serta, silakan angkat tangan.”

“.........”

Tidak ada yang mengangkat tangannya. Setelah mengkonfirmasi itu——,

“Kalau begitu, mari kita putuskan kelompoknya dan apa yang akan kita bicarakan, dan kemudian kita akan pergi ke tempat Haruto-sama.”

Hiburan tersebut akan dilakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan Rio sebagai upaya pendekatan untuk memperdalam hubungan mereka dengan Rio.

Related Posts

Related Posts

Post a Comment