-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Seirei Gensouki Volume 16 Selingan 3 Part 1 Indonesia

Selingan
Para Pahlawan Beltram


◇◇◇


Sementara itu, lokasi bergeser ke Galtuuk, ibu kota kerajaan Kerajaan Galarc.

Sudah lama sejak Rio dan yang lainnya memulai pesta minum teh mereka di mansion. Dibawa oleh Duke Huguenot, Saiki Rei dan Murakumo Kōta berjalan di sepanjang koridor kastil Kerajaan Garuark.

“Aku yakin Christina-sama telah memberitahu kalian tentang hal ini sebelumnya, kita akan menuju ke kamar Hiroaki-sama sekarang. Aku akan pergi segera setelah aku menyapanya, tapi aku ingin kalian berdua memperdalam hubungan kalian dengan Hiroaki-sama.”

Duke Huguenot berbicara kepada mereka saat mereka berjalan.

Benar, Christina telah mengundang Kōta dan Rei ke kastil Kerajaan Galarc karena dia ingin mereka menjadi teman Hiroaki jika memungkinkan.

Karena Hiroaki sepertinya tidak terlalu tertarik untuk mengenal orang-orang dari kampung halamannya, Christina berpikir mungkin akan lebih baik jika dia memiliki teman yang berjenis kelamin sama, meskipun selama ini mereka hanya bertemu dan berbicara beberapa kali di tempat yang ramai. Lebih baik lagi jika itu adalah seseorang yang bisa dia ajak bicara tentang kampung halamannya. Mereka berdua adalah orang yang tepat untuk pekerjaan itu.

“Saya mengerti. Tapi, saya agak gugup.”

Rei yang sekarang menjadi Baronet, menanggapi dengan ekspresi yang agak kaku persis seperti yang dia katakan.

“Hahaha. Yah, kamu tidak perlu terlalu gugup. Tidak akan ada masalah bahkan jika Hiroaki-sama sedang dalam suasana hati yang agak buruk. Aku yakin ada beberapa hal yang hanya bisa dibicarakan antara orang-orang dari kampung halaman yang sama, dan kuharap kalian bisa mengambil kesempatan ini untuk mengenal Hiroaki-sama.”

Sambil membicarakan hal ini, kelompok itu tiba di kamar Hiroaki. Setelah meminta ksatria yang berdiri di depan ruangan untuk masuk, ada Hiroaki sedang duduk di sofa dengan Roanna di dalam ruangan.

“Ah, lama tidak bertemu. Duke Huguenot. Dan Rei dan Kōta juga datang, toh...”

Di dunia ini di mana ada sedikit orang dari kampung halaman yang sama, Hiroaki memanggil nama Rei dan Kōta, sepertinya dia mengingat wajah dan nama mereka karena mereka berasal dari organisasi yang sama.

“Lama tidak bertemu.” kata Rei, dan Kōta juga menundukkan kepalanya.

“Ah. Yah, kalian terlihat baik-baik saja. Jadi, ada urusan apa?”

Fakta bahwa dia segera memotong pembicaraan tentang reuni dan bertanya tentang tujuan pertemuan itu alih-alih menyambut mereka, ini menunjukkan bahwa mereka hanya seorang kenalan pada saat ini.

(Berkat Roanna-kun, ya. Sepertinya dia sedang dalam suasana hati yang cukup baik selama seminggu)

Pikir Duke Huguenot melihat sikap Hiroaki. Namun demikian, respons yang salah bisa membuatnya dalam suasana hati yang buruk sekaligus.

“Sebenarnya, Rei-kun menjadi Baronet dan secara resmi menjadi anggota Restorasi. Mereka dan Hiroaki-sama berasal dari kampung halaman yang sama, dan saya membawanya ke sini untuk menyambut Anda lagi.”

Duke Huguenot memutuskan untuk mengatakan itu padanya, karena Christina sendiri telah memberitahunya bahwa Hiroaki mungkin tidak senang jika dia mengatakan dengan jujur padanya bahwa dia membawa mereka sebagai teman potensial dalam pengaturan Christina.

“Hō. Jadi kamu sekarang jadi Baronet?”

“Ya. Aku berpacaran dengan seorang putri dari keluarga Baron dengan tujuan menikah.”

“He.”

Hiroaki menyeringai kecil, karena mungkin dia telah menunjukkan minat tertentu. Dan——,

“Saya yakin masa depan Rei akan aman jika dia bisa lebih dekat dengan Hiroaki-sama. Mumpung di sini, silakan berbincang dengan rekan sebangsa Anda. Saya akan keluar dari ruangan untuk sementara waktu.”

Duke Huguenot meninggalkan ruangan setelah mengatakan itu. Hiroaki mengendus dalam suasana hati yang baik, mungkin karena dia diperlakukan dengan santai. Hiroaki, Roanna, Rei, dan Kōta adalah empat orang yang tersisa di ruangan itu——,

“Nah, duduklah. Memang benar, terkatang ada baiknya untuk ngobrol dengan teman-teman sekampung halaman. Sebagian besar pria Jepang lainnya tidak menyenangkan, tapi kalian tidak terlalu buruk.” kata Hiroaki kepada mereka.

“Kalau begitu, permisi. Ayo duduk, Kōta.”

“Ya, permisi.”

Rei dan Kota duduk di sofa yang kosong.

“Hiroaki-san... tidak, haruskah aku memanggilmu Hiroaki-sama?”

Rei mencoba memulai percakapan, tapi kemudian dia bingung harus memanggil Hiroaki bagaimana.

“Ah, yah, aku tidak suka orang Jepang memanggilku [sama]. Panggil saja aku [san].”

“Aku mengerti. Jadi, Hiroaki-san. Bertemu dengan orang Jepang yang tidak dikenal dengan baik di dunia lain itu rasanya agak memalukan, ya?”

“Memang sih, kau ada benarnya.”

Hiroaki sangat setuju karena merasa realistis.

“Begitukah?”

Kōta sepertinya tidak benar-benar mengerti.

“Memang begitu. Kita telah datang ke dunia lain dan merasa segar dan baru, tapi ketika kita bertemu dengan orang Jepang yang tidak dikenal, kita tiba-tiba ditarik kembali ke kenyataan.” kata Rei.

“Aku ngerti tuh. Itulah maksudnya.”

Hiroaki sangat setuju dan menunjuk Kōta.

“Katakanlah, bahkan Kōta malu dan gugup saat pertama kali menyapa Miharu-chan hari ini.”

Tanpa alasan khusus, hari ini adalah pertama kalinya Rei dan Kōta bertemu Miharu, tapi mereka telah menyapanya sebentar sebelum tiba di Kerajaan Galarc. Rei menunjukkan, mengingat apa yang terjadi saat itu.

“I-Itu tidak benar.”

“Apaan, kamu cukup gugup gitu.”

“Itu karena... Miharu-chan sangat imut, loh. Saking imutnya hingga kupikir dia adalah seorang selebriti.”

Kōta tersipu dan dengan enggan mengakuinya.

“Ah, si Miharu ini, cewek yang bersama dengan si bajingan Haruto itu, ya. Yah, aku akui kalau dia memang berada di level yang sangat tinggi bahkan di dunia ini, sih...”

Hiroaki tampak seperti ingin mengatakan sesuatu.

“Apa dia bukan tipemu, Hiroaki-san?”

Rei bertanya sambil menyeringai.

“Sebaliknya, aku gak minat bahkan jika ada seorang gadis cantik Jepang di dunia lain. Sungguh aku tidak tertarik. Jika kita sudah datang jauh-jauh ke dunia lain, yang dicari tentunya heroine cantik dari dunia lain, ‘kan? Ini seperti pergi ke restoran bergaya Barat dan disuguhi ramen kecap, kalian mengerti?”

“Ah, memang sih. Padahal sudah datang jauh-jauh ke dunia lain, dan rasanya seperti gak benar-benar ada di sana, ya. Aku mengerti.”

“Lah, ternyata kamu cukup pandai bicara, ya.”

Hiroaki dalam suasana hati yang jauh lebih baik.

“Aku hanya suka membaca, aku sudah membaca-baca novel web populer tentang dunia lain. Kalau begitu, bukankah Hiroaki-san juga pandai bicara?”

“'Ah, yah begitulah. Aku malu untuk mengakuinya, dan ini antara kau dan aku, dalam kasusku, aku sudah mencoba menulis novel.”

“Eh, benarkah? Kalau begitu, mungkin aku pernah membacanya. Karya apa yang kamu tulis?”

“Tidak, tidak. Sudah kubilang itu memalukan. Yah, aku sudah dapat beberapa poin untuk itu, sih.”

Dan seterusnya, Hiroaki dan Rei semakin banyak mengobrol.

(A-Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan...)

Pikir Kōta. Rupanya, meskipun mereka sama-sama orang Jepang, Kōta tidak menjangkau sisi subkultur itu.

(Aku terkejut. Aku tidak menyangka akan ada pria seusianya yang bisa diajak ngobrol sebanyak ini oleh Hiroaki-sama)

Roanna juga tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi dia sangat terkesan melihat Hiroaki dalam suasana hati yang baik berbicara dengan anak laki-laki seusianya tentang topik umum.

“Jadi, ada berbagai macam hal di dunia lain, dari reinkarnasi hingga teleportasi, dan bahkan di dalamnya lebih luas lagi, sistem apa yang kamu suka, Rei?”

Hiroaki bertanya pada Rei.

“Aku suka cerita tentang reinkarnasi dan teleportasi, tapi pada saat terakhir aku datang ke dunia ini, aku baru saja ketagihan membaca novel gourmet.”

“...Hō? Yah, salinan novel gourmet dunia lain sudah mulai banyak belakangan ini, sih.”

Alis Hiroaki berkedut, seolah-olah ada sesuatu yang sangat menarik minatnya.

“Iya, ‘kan? Tapi, dalam situasi seperti itu, ada karya yang mencoba mencari kebaruan, dan ada juga karya di mana heroine dari dunia lain mengembara ke Jepang dan makan bersama tokoh utama. Akku pikir itu menarik, jadi aku menambahkannya ke favoritku, tapi aku datang ke dunia ini sebelum aku membaca semua serinya, jadi itu cukup membuatku frustrasi.”

“Serius.... Ngomong-ngomong, apa judul karya itu?”

“Aku sedikit malu mengatakan ini di depan Roanna-san, tapi, tidak, kurasa aku harus mengatakannya dalam bahasa Jepang. Karya itu berjudul [Roribabā to iku gendai gurumetsuā].”

(Tln: Tur Gourmet Modern dengan Nenek Loli)

Rei telah berbicara dalam bahasa dunia ini sebelum Roanna ada si sana, tapi dia mengucapkan nama karya itu dalam bahasa Jepang.

“A-Apaan itu, aneh banget judulnya?”

Kota hampir terbatuk dan memotong.

Roanna memiringkan kepalanya dengan penasaran.

“Aku tidak bisa membaca semuanya, tapi kudengar itu adalah sebuah mahakarya. Isinya juga bolak-balik antara Jepang dan dunia lain agar ceritanya tidak macet. Menurutku kualitasnya cukup bagus untuk dijadikan sebuah buku.”

Rei dengan antusias membagikan kesannya.

“...Rei. Kamu benar-benar mengerti tentang itu, ya? Tidak, serius, menurutku kamu sangat mengerti.”

Hiroaki menyipitkan matanya senang, dan suaranya melambung saat dia mengevaluasi Rei.

Dengan begini, Hiroaki menjadi lebih dekat dengan Rei dan Kōta, seperti yang Christina rencanakan..., atau bahkan lebih dari yang dia rencanakan.

Related Posts

Related Posts

1 comment