-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Watashi, ni-banme no kanojo de īkara Vol 1 prolog part 2 Indonesia

Prolog



Keesokan paginya di kelas, aku mengikuti Hayasaka-san dengan mataku.

Begitu sampai di sekolah, Hayasaka-san membuka buku pelajarannya dan mulai bersiap untuk pelajaran. Saat menulis sesuatu di buku catatannya, dia menjawab, “Selamat pagi,” setiap kali seseorang mengucapkan selamat pagi padanya.

Dari awal dia memang gadis yang ramah, tetapi hari ini dia lebih energik dari biasanya.

Aku merasa dia terlalu memaksakan diri.

“Hayasaka, selamat pagi!”

Kata seorang anak laki-laki dari kelas sebelah, yang rasanya sedikit bercanda, setelah masuk ke dalam kelas.

“Aku nyewa studio malam ini untuk berlatih dengan bandku, kamu mau gak datang buat dengerin?”

“Maaf... aku gak bisa kalau malam. Aku ada jam malam...” (Gak boleh keluar malam)

“Oh gitu. Aku akan mengajakmu lagi.”

Dia menyelinap pergi sambil berkata, “Tetep gak bisa, ya.”

Anak laki-laki di kelas melihat itu dan memulai obrolan.

“Hayasaka-san, tanpa celah seperti biasanya.”

“Kamu gak ngerti. Itulah bagusnya dia. Serius dan polos, seperti seorang gadis yang telah dibesarkan dengan hati-hati.”

“Menurut penelitianku sendiri, rumor mengatakan bahwa satu-satunya pria dalam kontak smartphonenya adalah ayahnya.”

Ada percakapan seperti itu terjadi tepat di belakang kursiku, tetapi aku tidak ikut, dan aku tidak diminta untuk mengomentari Hayasaka-san.

“Pasti sulit berkencan dengan gadis yang sepemalu itu, bahkan jika kamu bisa mengencaninya.”

“Kamu gak ngerti. Bukankah malah lebih bagus jika Hayasaka-san seperti itu dan berkata, [Aku malu untuk bergandengan tangan, tahu~u]. Kamu benar-benar gak ngerti sama sekali.”

“Menurut penelitianku sendiri, Hayasaka-san sudah menerima banyak pengakuan, tetapi belum pernah berpacaran dengan siapa pun. Dengan kata lain, tidak ada keraguan bahwa itu adalah reaksi yang naif.”

Suara mereka begitu keras sehingga Hayasaka-san menunduk malu-malu sambil melihat buku pelajarannya.

“Hei anak laki-laki, jangan mengkhayalkan hal aneh tentang Akane-chan.”

Kata seorang gadis yang ada di dekatnya. Akane adalah nama depan Hayasaka-san.

“Dia gak tahan dengan yang begituan soalnya!”

Akhirnya, bel berbunyi dan semua orang kembali ke tempat duduk mereka. Anak laki-laki menatap Hayasaka-san dengan menyesal, dan para gadis mencoba mengintimidasi mereka untuk melindunginya.

Di tengah semua kebisingan itu, tiba-tiba mataku dan Hayasaka-san bertemu. Hayasaka-san dengan cepat mengangkat buku pelajarannya untuk menyembunyikan wajahnya. Namun, dia perlahan-lahan menurunkan buku pelajarannya dan menatapku seakan dia ingin melihat keadaanku.

[Jangan kelamaan menatapku, atau nanti bakal ketahuan sama teman-teman, tahu]

Dia memiliki ekspresi seperti itu.

Pipinya agak merah.

Aku merasa ingin memanggilnya, tapi aku mengalihkan pandanganku ke papan tulis dan bersiap untuk pelajaran.

Hubungan antara aku dan Hayasaka-san dirahasia dari teman-teman.


Bahkan saat makan siang, situasi ini tetap sama.

Aku sedang makan siang sendirian, sementara Hayasaka-san sedang diajak bicara oleh seorang anak laki-laki yang duduk di sebelahnya.

Guru baru saja menjelaskan kepada kami tentang survei pilihan karir.

“Hayasaka-san mau masuk jurusan seni liberal atau jurusan sains?”

“Etto...”

“Kayaknya kamu akan cocok di jurusan sastra. Seorang gadis sastra yang membaca novel di bangku kampus!”

Teman sekelas lainnya juga nimbrung di sana.

“Sastra Inggris juga bagus, ‘kan? Nanti bisa fasih, dan kamu bisa jadi penerjemah atau akuntan misalnya.”

“Mending ke Fakultas Ekonomi Rumah Tangga aja!”

Sementara yang lain semakin bersemangat, Hayasaka-san berkata dengan ragu-ragu.

“...Aku mau ke jurusan sains.”

Untuk sesaat, semua orang terlihat seperti berkata, “E?”. Itu bukanlah citra tentang Hayasaka-san.

“Ah, jadi begitu!”

Kata pria yang pandai membaca suasana.

“Perawat! Malaikat berbaju putih, aku ingin dirawat dengan sempurna oleh Hayasaka-san!”

Itu menyelesaikan masalah.

Hayasaka-san diam-diam melihatku dan tersenyum lemah lembut.

Dia seperti sebuah simbol, begitulah menurutku.

Ikon fashion yang hanya dituntut untuk serius, polos, dan cantik.

Memang benar bahwa Hayasaka-san adalah seorang gadis seperti yang dibayangkan.

Dia mencatat materi dengan giat selama pelajaran, menulis catatan untuk teman sekelasnya yang lupa bertanya tentang ruang lingkup ujian, dan membantu guru membawakan buku walaupun bukan piketnya. Di pelajaran olahraga, dia tidak pandai berolahraga, tapi dia mencoba yang terbaik untuk melompati rintangan sambil menghentakkan kakinya berkali-kali.

Adapun jalur karirnya, Hayasaka-san ingin pergi ke sekolah kedokteran hewan karena dia ingin menyentuh hewan berbulu sepanjang waktu, jadi dia tidak terlalu jauh dari citra itu.

Semua orang menyukai Hayasaka-san yang seperti itu.

Tapi, terkadang rasa suka itu tampak sama seperti rasa suka pada boneka lucu.

Mereka melihat Hayasaka-san hanya sebagai simbol.

Itu sebabnya semua orang tidak menyadari bahwa perilaku Hayasaka-san hari ini berbeda dari biasanya.

Aku sangat mengkhawatirkannya dan aku tidak bisa terus melihatnya, jadi aku berdiri dan berjalan ke kursi Hayasaka-san.

“E-Eh?”

Kami belum pernah berbicara di kelas sebelumnya, jadi Hayasaka-san mengelurkan suara bingung.

Tapi aku berpura-pura bahwa aku hanya kebetulan lewat.

“Hayasaka-san, kok wajahmu merah?”

Saat itulah semua orang menyadari bahwa Hayasaka-san tidak enak badan sepanjang hari.

Kamu juga terlalu memaksakan diri, Hayasaka-san. Bukankah kamu sendiri yang mengatakannya kemarin?


“Kamu sedang demam, bukan?”

Related Posts

Related Posts

Post a Comment