-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Watashi, ni-banme no kanojo de īkara Vol 1 Episode 1 part 2 Indonesia

Episode 1
Kedua dan Pertama



Aku menyukai Hayasaka-san sebagai yang kedua.

Hayasaka-san juga menyukaiku sebagai yang kedua.

Pada awal musim panas, kami mengetahui bahwa kami saling menyukai sebagai yang kedua, dan kami menjadi kekasih kedua. Selain urutan kesukaan kedua, kami tidak ada bedanya dengan sepasang kekasih biasa.

Menurutku, perasaan menyukai sebagai yang terbaik kedua itu tidak seringan kedengarannya.

Contohnya di Koshien, itu adalah runner-up, di Daifugō, itu adalah 2 kartu, dan itu sangat kuat.

(Tln: Daifugō = Grand Millionaire, Very Rich Man)

Itu sebabnya aku sangat gugup hanya berpegangan tangan dengan Hayasaka-san, dan aku mengunjunginya ketika dia masuk angin karena aku mengkhawatirkannya.

“Maaf ya sudah membuatmu khawatir.”

Hayasaka-san sendiri yang membukakan pintu depan apartemennya yang ada di kawasan perumahan dan menyambutku.

“Kamu gak apa-apa gak tiduran?”

“Soalnya, gak ada orang lain di rumah sekarang.”

“Eh?”

“Masuklah.”

Aku mau tidak mau melewati ambang pintu karena Hayasaka-san dengan sangat alami memunggungiku dan mencoba untuk pergi ke belakang seolah-olah itu wajar. Aku melepas sepatuku dan seketika terkejut. Ini adalah aroma rumah orang lain.

Hayasaka-san mengenakan cardigan menutupi piyamanya, mungkin dia kedinginan. Mungkin karena ukurannya yang terlalu pas, itu justru menonjolkan garis tubuhnya dan sangat merangsang.

Soalnya, gak ada orang lain di rumah sekarang.

Kata-kata Hayasaka-san barusan muncul di benakku. Aku hampir memikirkan apa yang akan terjadi jika aku memeluknya dari belakang, tetapi aku buru-buru menyingkirkannya dari pikiranku. Hayasaka-san sedang masuk angin. Itu tidak baik.

Rasanya tidak sopan untuk melihat sekeliling, jadi aku berjalan menyusuri lorong, hanya melihat jari kakiku.

“Ini kamarku.”

Aku dibawa ke kamar Hayasaka-san. Ruangan itu bersih dan rapi, memberikan kesan anak rumahan yang rajin. Kotak pensil dan pensil mekanik di atas meja berwarna-warni dan sangat feminim.

“Ini kalau mau, aku bawakan minuman dan yogurt.”

“Terima kasih. Duduklah di kursi lantai itu.”

Hayasaka-san dalam piyamanya duduk di lantai dan meminum sekitar setengah dari minuman olahraga. Dia tampaknya masih demam, dan wajahnya terbakar.

“Maaf, aku datang gak bilang-bilang. Aku akan segera pulang.”

“Gak papa kok, aku senang kamu ke sini, Kirishima-kun. Aku mau ngobrol denganmu lebih banyak.”

“Tapi kelihatannya kamu belum baikan.”

“Kalo gitu, aku akan tiduran, jadi jangan pulang dulu, ayo ngobrol.”

Hayasaka-san berbaring di tempat tidur dan menarik selimut menutupi tubuhnya. Aku memberi tahu Hayasaka-san tentang apa yang terjadi di sekolah hari ini, tanpa henti. Hayasaka-san tersenyum senang. Saat itulah aku memberitahu dia bahwa aku telah diundang ke kontes karaoke, menyimpan sebagian besar detail percakapan sepulang sekolahku dengan Maki untuk diriku sendiri.

“Itu, aku ikut juga, tahu.”

“Eh?”

Proyek karaoke Nozaki. Proyek itu direncanakan oleh Nozaki-kun, teman sekelasku yang tidak memiliki keberanian untuk mendekati gadis yang dia sukai, jadi dia memutuskan untuk bermain dengan beberapa orang lain dan secara bertahap mengenal mereka. Aku tidak berhak mengatakannya, tapi dia cukup bertele-tele.

Seingatku dia adalah seorang gadis dari klub buku.

“Kenapa Hayasaka-san ikut?”

“Aku juga menerima pesan. Jumlah orangnya cukup banyak, loh. Aku gak tahu Kirishima-kun akan ikut, jadi aku menjawab kalau aku akan ikut saat fluku sembuh.”

“Si Maki itu, dia mengumpulkan orang secara acak.”

“Kita harus pura-pura jadi orang asing, loh ya.”

“Kurasa begitu. Kalau aku dekat dengan Hayasaka-san, aku akan dihajar oleh anak laki-laki lain.”

“Bukan itu maksudku. Ini.”

Hayasaka-san menunjukkan layar smartphone-nya. Obrolan grup untuk kontes karaoke telah dibuat. Dia menunjuk ke salah satu ikon di sana.

“Beruang? Itu maskot dari suatu daerah, ‘kan?”

“Kamu gak tahu siapa itu?”

“Aku gak kenal orang seperti beruang, sih.”

“Tidak seperti ikonnya, dia orang yang sangat cantik. Sangat berkelas, gadis yang sangat istimewa.”

“Jangan bilang.”

“Un, benar. Ini adalah ikon milik Tachibana-san. Sepertinya dia ikut.”

Kata Hayasaka-san saat menatap wajahku dengan senyum bermasalahnya yang biasa.

“Haruskah aku membantumu? Agar Kirishima-kun bisa dekat dengan Tachibana-san.”

“Kamu tidak perlu melakukan itu.”

Kami bukanlah pacar(cow) latihan atau pacar(cew) latihan, dan kami juga tidak menggantikan orang lain dengan orang lain.

Kami adalah sepasang kekasih sungguhan. Hanya saja, kami sadar bahwa kami sama-sama memiliki yang pertama di hati kami.

Karena sulit untuk menjalin hubungan dengan yang pertama, kami menerima yang kedua.

Mungkin ada beberapa orang yang bersikap kritis dalam memperlakukan cinta seperti ujian.

Jadi kami ini agak tidak sehat.

“Syukurlah. Aku sangat menyukaimu, loh, Kirishima-kun. Jadi agak sulit bagiku kalau kamu memintaku untuk membantumu.”

Hayasaka-san, dia agak terus terang, apa mungkin karena demamnya?

Di sana percakapan kami terputus. Kami kehabisan topik.

Hanya ada kami berdua di kamar seorang gadis, dan tidak ada orang lain di rumah. Sangat sunyi, dan aku bisa mendengar detik jarum jam berdetak. Sebelum aku memikirkan sesuatu yang aneh, “Baiklah, itu saja,” kataku, mencoba berdiri.

Tapi sebelum itu, Hayasaka-san berbicara.

“Hei Kirishima-kun, kemarilah.”

Kata Hayasaka-san sambil membalik selimutnya.

“Efek kontak belaka, yuk kita lakuin.”

Kemarin, dia sepertinya sangat menyukai berpegangan tangan. Memilih menyerah dan berpegangan tangan itu keputusan tepat.

“Tapi Hayasaka-san, rasanya itu seperti kamu mengajakku untuk tidur bareng...”

“Iya memang, terus?”

Itu menakutkan karena dia mengatakannya dengan wajah datar.

“Aku ingin kita bergandengan tangan. Ayo selimutan bareng.”

Aku tidak tahu apakah dia hanya kehilangan akal untuk sementara, atau apakah ini Hayasaka-san yang sebenarnya di balik citra kemurnian dan kepolosannya. Apapun itu——

“Sepertinya kamu cukup demam. Kamu sama sekali tidak bisa berpikir normal.”

“Itu tidak benar.”

“Itu benar, kemampuan berpikir seseorang menurun ketika mereka demam. Itulah yang menyebabkan lobus frontal otak berhenti bekerja.”

“Ah, kamu mulai bernalar lagi.”

“Selain itu kita tidak harus tidur bersama, aku bisa memegang tanganmu dari luar selimut.”

“Kurasa aku gak suka kebiasaanmu yang seperti itu, Kirishima-kun.”

Hayasaka-san terlihat cemberut. Tapi, dia tampak sedikit menikmati dirinya sendiri juga.

“Kirishima-kun gak mau selimutan denganku?”

“Bukannya aku tidak mau, tapi itu mungkin akan jadi lebih dari sekedar berpegangan tangan.”

“Aku... gak keberatan sama itu kok.”

“Hayasaka-san, tenanglah. Dalam hal-hal ada yang namanya urutan——”

“Urutan itu, citra cinta yang telah ditetapkan orang-orang di dunia, bukan? Gadis yang baik harus mengikuti urutan yang tepat dalam percintaannya. Kirishima-kun bilang kita harus menjalin cinta tanpa terikat oleh hal-hal seperti itu.”

Itu benar.

Kami selalu terikat oleh suatu citra tertentu. Orang harus memiliki mimpi, lebih baik memiliki banyak teman, berdedikasi pada sesuatu itu keren, dan dengan setia terus mencintai satu orang itu sangat indah. Aku mencoba menyesuaikan diri dengan citra-citra itu, tetapi aku tidak bisa, dan itu menyakitkan.

Untuk Hayasaka-san sendiri, dia telah terikat oleh citra diinginkan orang-orang di sekitarnya.

Itulah kenapa kami memutuskan bahwa setidaknya dalam hal cinta, kami tidak akan meminjam dari nilai dan citra dunia, dan akan melakukannya sendiri dengan cara kami sendiri yang canggung.

“Hei Kirishima-kun, aku tidak harus menjadi gadis yang baik di depanmu, bukan? Aku tidak harus menjadi Hayasaka-san yang polos, bukan?”

Raut wajah Hayasaka-san saat dia membalikkan selimut dan menungguku anehnya seksi.

“Makanya, aku ingin setidaknya kita selimutan bareng sambil berpegangan tangan.”

“...Baiklah.”

Bukannya aku tidak mengharapkan apa-apa ketika aku masuk ke kamar gadis. Hanya selimutan bersama dan berpegangan tangan, kurasa tidak masalah.

Sesuai keinginannya, aku mendekati tempat tidur.

Hayasaka-san sedikit berkeringat, mungkin karena demamnya, dan aku bisa merasakan kelembapan dan panasnya udara.

Mata basah penuh antisipasi dan piyama menempel di kulitnya.

“Tidak, ini benar-benar ide yang buruk!”

Aku kembali ke akal sehatku dan menjauhi tempat tidur. Aku hampir membiarkan diriku terbawa suasana.

“Mō, padahal tinggal dikit lagi!”

Hayasaka-san terlihat sangat kecewa. Tapi dia tidak menyerah sama sekali, dan segera dia tampak seperti punya ide, tersenyum tipis ketika dia berkata.

“Kalau begitu, begini saja, anggap saja ini sebagai latihan.”

“Latihan?”

“Kamu berlatih dengan diriku, yang kedua, kalau-kalau kamu akan berbagi selimut dengan Tachibana-san suatu hari nanti.”

“Tidak, pemikiran seperti itu tidak bagus untukmu, ‘kan, Hayasaka-san?”

Hubungan kami adalah yang kedua, tapi didasarkan pada premis bahwa kami benar-benar saling mencintai, dan kami tidak melakukannya untuk mengisi kesepian karena tidak dapat meraih cinta sejati kami. Tapi——.

“Bahkan jika kamu berkata begitu, aku tahu kalau bagian itu ada dalam dirimu.”

Kata Hayasaka-san.

“Jadi ayolah, gunakan aku sebagai latihan. Atau apakah aku sangat tidak menarik sampai aku bahkan tidak bisa digunakan untuk latihan?”

“Itu tidak benar, tapi...”

Karena aku ragu-ragu, Hayasaka-san berkata lagi.

“Aku mulai agak kedinginan.”

“Buruan selimuti tubuhmu.”

“Kalau begini terus, fluku akan bertambah parah, nih kayaknya.”

“Bilangin selimuti tubuhmu.”

“Kalau aku mati, menangislah di depan kuburanku, ya.”

“Kamu itu licik, Hayasaka-san!”

Kalau aku tidak menurutnya, dia benar-benar akan membiarkan selimutnya terbuka, jadi aku memutuskan untuk meletakkan lututku di tempat tidur kali ini.

“Pokoknya hanya berpegangan tangan, ya?”

“Un, hanya berpegangan tangan. Aku janji.”

Dengan takut, aku masuk ke selimut. Hayasaka-san terlihat senang.

Saat aku berbaring, Hayasaka-san menyelimuti tubuhku.

“Kamu gak perlu sejauh itu juga, kali.”

“Hayasaka-san, sini tanganmu.”

“Ya.”

Tapi, aku tidak bisa menemukan tangan Hayasaka-san di dalam selimut. Sementara itu, ujung tanganku masuk ke celah sesuatu yang lembut.

“Hyan!”

Hayasaka-san mengeluarkan suara yang manis.

Aku berkata, “Maaf!”, buru-buru menarik tanganku. Yang tersisa di ujung jariku hanyalah kain yang kencang dan sentuhan lembut di bawahnya. Mungkin, tanganku malah masuk di antara pahanya.

“Kirishima-kun nih... sangat agresif, ya.”

Hayasaka-san mengatakan itu dengan ekspresi malu-malu.

“Kamu salah paham, aku hanya mau memegang tanganmu.”

“Kalo gitu, buruan dipegang.”

“Aku tidak tahu di mana tanganmu, tahu.”

“Di sini loh, di sini.”

Aku menggeser tubuhku untuk mencari tangannya dan mendekati Hayasaka-san. Pada saat itu.

Hayasaka-san melompati semua hal seperti berpegangan tangan dan menempel padaku dengan semua emosinya.

“Katanya janji hanya akan bergandengan tangan!?”

“Aku gak peduli soal itu.”

Tubuh Hayasaka-san yang menempel padaku terasa lembut, panas, dan sedikit basah karena keringat.

“Ehehe, aku bisa mencium wangi Kirishima-kun.”

Napas Hayasaka-san di dadaku membuat kulitku hangat.

“Tahu gak, aku selalu ingin melakukan hal seperti ini.”

Ekspresinya lembab, dan tangannya meraih kemeja seragamku dengan kuat.

“Apa Kirishima-kun tidak ingin memelukku?”

“Itu tidak benar, tapi.”

Aku mengangkat tanganku.

“Kalau aku memelukmu di sini, aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan padamu.”

“Aku tidak keberatan kalau kamu melakukannya.”

Hayasaka-san, kamu benar-benar termotivasi.

“Waktu tahu kalau Tachibana-san akan datang ke karaoke, Kirishima-kun, kamu tampak sedikit senang.”

“...Maaf.”

“Gak apa-apa kok. Habisnya Tachibana-san cantik sih. Dia gadis terbaikmu. Tapi tahu gak, ada bagian di mana aku menang.”

“Di mana?”

“Tubuh.”

Sambil mengatakannya, dia menempel padaku lebih erat.

“Tunggu!?”

Hayasaka-san mengapit kakiku di antara pahanya. Dia tidak memakai pakaian dalam di dadanya karena mengenakan piyama, jadi dia, tetapi dia menekannya ke tubuhku tanpa ragu-ragu, dan aku tidak tahu harus berbuat apa.

“Kirishima-kun adalah pacarku, jadi kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau padaku. Aku akan senang tidak peduli apa yang kamu lakukan padaku, tahu.”

Mengatakan hal konyol seperti itu.

“Fufu. Aku sama sekali bukan gadis yang baik hari ini, ya.”

Hayasaka-san yang mengatakan itu terlihat sedikit bersenang-senang.

“Tapi gak papa, ‘kan? Toh aku sudah sangat baik di sekolah dan di rumah. Tahu gak? Ketika aku memakai pakaian yang mewah atau mengatakan sesuatu seperti itu, semua orang sangat kecewa.”

Tak hanya kecewa, beberapa dari mereka bahkan marah. Karena mereka tidak ingin citranya dihancurkan.

“Setidaknya di depan Kirishima-kun, aku gak harus jadi gadis yang baik, ‘kan?”

“......Gak harus kok.”

“Kalo gitu, yuk kita lakukan hal-hal buruk bersama.”

Tanpa sadar, aku akhirnya memeluk tubuh Hayasaka-san.

Aku bisa mencium wangi rambutnya, mendengar napasnya, dan merasakan tubuh Hayasaka-san melalui kain piyamanya.

Setelah aku melakukannya, aku merasa tidak ingin menjauh darinya lagi.

Hayasaka-san meletakkan tangannya di punggungku, dan bahkan kakinya, dan menekan seluruh tubuhnya ke tubuhku.

“Aku merasa seperti sudah menjadi milik Kirishima-kun.”

“Kamu terlalu terbawa emosi.”

“Aku ingin lebih terbawa.”

Nafas panasnya mengenai dadaku.

Hayasaka-san memelukku erat atau lemah, seolah-olah dia sedang memeriksa sensasi tubuhku.

“Hei Kirishima-kun, ingat baik-baik sensasi tubuhku, ya. Ingatlah saat kamu sedang tidur sendirian, dan kamu akan merasa kesepian. Aku ingat sensasi tubuhmu, loh, Kirishima-kun. Mulai sekarang setiap malam, kurasa aku akan merasa kesepian tanpa Kirishima-kun di sampingku. Habisnya rasanya seenak ini, sih.”

“...Hayasaka-san, sudah waktunya.”

“Aku ingin melakukan sesuatu yang lebih buruk lagi.”

Hayasaka-san mendorongku ke bawah dan naik ke atasku. Dadanya mengenaiku mungkin di sengaja.

Aku tidak malu-malu lagi, dan tidak malu lagi.

Ketika kami berpelukan, penalaranku menguap.

Mungkin bukan ide yang baik untuk melakukan hal semacam ini ketika ada orang lain yang aku cintai.

Mungkin ini hal yang buruk. Tapi kami berada dalam situasi ini karena pilihan kami sendiri.

Karena itu, aku ingin pergi sejauh yang kubisa.

“Hei Kirishima-kun, aku mau menularkan fluku.”

“Sebenarnya dari tadi, aku sudah kepikiran apakah kamu akan menularkannya atau tidak.”

“Kamu gak mau?”

“Aku tidak keberatan kalau itu flumu, Hayasaka-san.”

“Tapi hei, emang kamu bisa tertular hanya dengan berpelukan? Aku ingin tahu apakah ada cara yang lebih baik untuk menularkannya. Kamu kan pintar, Kirishima-kun, kamu pasti tahu, ‘kan?”

Terbawa oleh suasana hati Hayasaka-san yang ceria, membuatku mengatakannya tanpa ragu-ragu.

“Infeksi mukosa.”

(Tln: Mukosa adalah lapisan basah yang berkontak dengan lingkungan eksternal, yang terdapat pada saluran pencernaan, rongga hidung, dan rongga tubuh lainnya)

“Ayo lakukan itu.”

“Apa kamu yakin?”

“Tentu saja.”

Dengan begitu, aku dan Hayasaka-san berciuman.

Bibir Hayasaka-san lembut dan panas dan basah.

Ketika aku menarik mulutku, seutas air liur mengalir ke luar.

“Aku, mungkin menyukainya. Infeksi mukosa. Tapi, apa aku melakukannya dengan benar?”

“Aku tidak tahu.”

Ini pertama kalinya untukku juga.

“Kirishima-kun, aku ingin melakukannya lagi.”

Kami berciuman lagi dan lagi saat aku terbawa.

“Lagi, lakukan lagi, lagi...”

Akhirnya, lidah Hayasaka-san masuk ke mulutku.

Tapi tak lama kemudian gerakannya berhenti. Aku bisa merasakan keragu-raguannya, tidak tahu harus apa selanjutnya.

Hayasaka-san tampak malu meskipun dia melakukannya sendiri, dan bertentangan dengan kata-katanya yang mengundang, dia menegang dan menutup matanya erat-erat.

Aku menjilat lidah Hayasaka-san dengan lembut, seolah mengatakan tidak apa-apa. Kemudian Hayasaka-san mulai menjilati lidahku dengan cara yang sama, meski dengan canggung.

Setelah menabrak dinding dan mengatasinya, kami terus naik perlahan-lahan.

Seolah-olah kami sedang naik dengan kaki di udara di atas satu sama lain.

Aku mendorong lidah Hayasaka-san ke belakang dan kali ini lidahku masuk ke mulutnya.

Hayasaka-san sepertinya kesulitan bernapas, tapi dia menggerakkan lidahnya untuk menyambutku. Mulut Hayasaka-san kecil, panas, lembab, dan ditekan dengan lembut.

“Kirishima-kun, beri aku air liurmu.”

Kami saling bertukar air liur.

Suara gemericik air sampai ke telinga kami. Dan itu membuat kami bersemangat lagi.

Hal-hal tidak sehat itu terasa mengenakan.

Kami sama-sama memacari pilihan kedua kami, dan kami ingin melakukan lebih banyak hal buruk.

Kami ingin melakukan sesuatu yang akan membuat orang-orang menyalahkanku, sesuatu yang akan membuat mereka mengerutkan kening.

Kami ingin menjadi anak yang paling tidak bermoral dan nakal.

Mengikuti dorongan hati, aku sudah membaringkan Hayasaka-san sebelum aku menyadarinya.

Piyama Hayasaka-san sudah terlepas dan dadanya telanjang.

Kami saling menatap sejenak, lalu Hayasaka-san,

“Boleh kok.”

Mengatakan hal berani itu.

Mungkin dibutuhkan banyak keberanian bagi seorang gadis untuk mengatakan hal seperti itu, jadi aku menekan rasa gelisahku dan dengan hati-hati dan lembut menyentuh kancing piyamanya.

Tapi saat berikutnya, aku melihat Hayasaka-san masih memasang ekspresi kaku. Dia bilang, boleh kok, tapi mungkin dia belum siap untuk itu. Karena itu aku menghentikan tanganku dan melepaskan tubuhnya.

“Maaf, mungkin aku sedikit terlalu terburu-buru. Aku berharap aku bisa lebih berhati-hati, tapi aku juga belum pernah melakukan hal seperti itu, jadi....”

Itu tidak benar, kata Hayasaka-san, terlihat tidak nyaman.

“Itu bukan salahmu, Kirishima-kun. Itu juga yang aku rasakan. Tapi——”

Maaf, ya, kata Hayasaka-san, menyembunyikan wajahnya dengan bantal saat dia meminta maaf.

“...Wajah pria nomor satuku, baru saja muncul di pikiranku.”

Related Posts

Related Posts

Post a Comment