-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Watashi, ni-banme no kanojo de īkara Vol 1 Episode 2 part 3 Indonesia

Episode 2
Mengapa



Pertama-tama, kami melakukan kabedon dasar lagi.

Aku meminta Tachibana-san untuk berdiri di depan tembok. Tinggiku sedikit di atas 170 cm, dan tinggi Tachibana-san sekitar 160 cm. Aku merasa seperti aku melihat ke bawah sedikit.

“Ini adalah cara membuat seseorang degdegan, tapi kupikir itu tergantung pada lawan mainnya. Dengan kata lain, jika aku tidak bisa membuatmu degdegan, mungkin orang lain bisa.”

“Sebaliknya, mungkin hanya dengan Ketua aku bisa degdegan. Bukankah itu maksudmu?”

Tachibana-san, tak kusangka kau mengatakannya. Akan sangat indah jika itu benar.

“Juga, apa yang akan kulakukan sekarang adalah semua hal yang sering digunakan dalam manga shoujo. Secara pribadi, aku tidak berpikir ada gadis yang akan degdegan dengan ini.”

“Bagaimana jika ada?”

“Dia mungkin gadis gampangan.”

(Tln: choroi = gampangan/polos/mudah ditangani)

“Oh.”

“Kalo gitu, ayo lakukan.”

Aku menempelkan tanganku ke dinding di samping wajah Tachibana-san. Tapi, itu hanya membuat suara tamparan ringan, yang membuatku merasa agak bodoh. Tachibana-san juga memiringkan kepalanya.

“Entahlah, ini tidak berasa. Ada yang berbeda dibanding ashidon barusan.”

Tachibana-san merenung sejenak.

“Tidak ada dialog. Ketua, coba kamu lakukan sambil mengatakan sesuatu.”

“Barusan aku bisa melakukannya karena momentum, tapi itu, cukup memalukan.”

“Malah aku yang malu kali.”

Kata Tachibana-san yang terlihat sangat malu.

“Baiklah. Akan kutahan rasa maluku, jadi jangan tertawa.”

“Tentu saja.”

Sekali lagi.

Aku manampar tanganku ke dinding dengan bunyi don untuk mendapatkan momentum. Dan kemudian aku berkata.

“Lihatlah hanya padaku.”

Aku membuang rasa maluku.

Tachibana-san mengangguk, “Un,” dengan ekspresi emosi yang tipis.

“Ayo lakukan hijidon juga.”

Ternyata itu berhasil.

“Cobalah ubah dialognya setiap kali. Lebih baik jika sedikit memaksa.”

“Baiklah.”

Tachibana-san, dia cukup ngotot. Mungkin dia punya sentuhan artis.

“Kalo gitu, ayo lakukan.”

Kali ini, aku menekan sikuku ke dinding. Ini adalah penerapan kabedon, yang disebut hijidon. Ini lebih dekat daripada meletakkan tanganku di dinding.

Aku mengatakan ini karena aku berpose menutupi Tachibana-san.

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi malam ini.”

Tachibana-san menatap mataku dan tidak bergerak. Tachibana-san, dilihat dari jarak dekat, sangat halus seperti kaca, dan memiliki kecantikan yang tidak nyata.

“Apa itu membuatmu degdegan?”

“...Ya, benar.”

Kata Tachibana-san, tiba-tiba, dia menarik dasi di leherku. Wajah kami semakin dekat, dan dahi kami hampir bersentuhan. Bulu matanya yang panjang dan pipinya yang putih dingin, semuanya indah.

“...Hei, apa kamu degdegan?”

Tachibana-san bertanya.

Aku degdegan. Tapi, bahkan tanpa dia melakukan ini, aku selalu degdegan. Karena Tachibana-san adalah orang yang paling aku cintai.

“...Tachibana-san, ini [nekukui], ‘kan?”

“Ya. Ini tertulis di catatan.”

Seorang gadis meraih dasi seorang anak laki-laki dan menariknya, mendekatkan wajahnya untuk membuatnya degdegan.

“Tachibana-san ternyata cukup mudah terbawa juga, ya.”

“Ayo kita lanjutkan.”

Dan begitulah, kami berlatih metode yang tertulis dalam catatan cinta satu demi satu.

Yukadon, isukuru, dan masih banyak lagi.

Kami juga menggunakan earphone satu telinga, yang menghubungan satu telinga kami masing-masing untuk mendengarkan musik.

Kami tidak melakukan apa pun dari kulit ke kulit.

Ini adalah cerita terkenal kalau Tachibana-san tidak menyentuh seorang pria. Ketika dia melewati seseorang di antara meja, dia membuat tubuh rampingnya lebih tegak agar dia tidak menabraknya, dan ketika seorang guru laki-laki hendak meletakkan tangannya di bahunya, dia meletakkan ujung pensil mekaniknya untuk menahannya.

Tapi, ketika aku sedang beristirahat di sofa karena lelah setelah mencoba semua cara untuk membuatku degdegan, Tachibana-san datang ke sampingku.

“Ayo lakukan katazun untuk terakhir kali.”

Katazun adalah situasi di mana seorang pria meletakkan kepalanya di bahu wanita. Tampaknya jika seorang pria berbicara dengan lembut dan manja di sini itu sangat indah.

“Apa kamu yakin?”

“Tentu.”

Aku kembali duduk dengan enteng, dan menyandarkan kepalaku di bahu Tachibana-san.

Aku merasakan tubuh ramping Tachibana-san. Aku ingin mengatakan sesuatu yang cerdas, tetapi aku tidak bisa mengatakan apa-apa.

Suara hujan terdengar dari luar jendela, membuatku merasa melunak(mellow).

Tiba-tiba, Tachibana-san menyentuh kepalaku dengan tangannya yang lain. Cara dia menyentuhnya seperti mengamati, atau seperti memeriksa kerangkaku.

“Tachibana-san?”

Aku ingin tahu arti di balik tindakan Tachibana-san, jadi aku tidak bisa tidak bertanya padanya.

Tapi hanya aku yang gugup, dan Tachibana-san sangat datar.

“Ada apa?”

Dia bertanya balik dengan ekspresi bingung.

Tachibana-san sepertinya benar-benar melakukan hal semacam ini hanya karena minat semata.

“...Kurasa sudah waktunya untuk pulang.”

Kataku.

“Ya.”

Tak satu pun dari kami melepaskan tubuh kami, dan kegiatan klub berakhir. Aku bersiap-siap untuk pulang dan meninggalkan ruang klub.

Ketika aku membuka pintu, sesuatu jatuh dengan suara, katan.

Itu adalah payung plastik.

Masih ada tanda-tanda bahwa seseorang ada di sini sampai beberapa waktu yang lalu.

(Tln: Sudah dimulai guys, persiapkan diri kalian)

“Tachibana-san, apa kamu bawa payung?”

Kataku mengambil payung plastik.

Tachibana-san melihat ke dalam tasnya, dan setelah jeda singkat, dia berkata.

“——Aku gak bawa.”

Related Posts

Related Posts

Post a Comment