-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Watashi, ni-banme no kanojo de īkara Vol 1 Episode 2 part 4 Indonesia

Episode 2
Mengapa



“Aku senang payungnya berguna.”

Kata Hayasaka-san melihat payung plastik di bawah meja. Aku mengembalikannya segera setelah aku memasuki kafe.

“Kalian berdua menggunakan satu payung, bukan?”

“Aa.”

Kenapa ya.

Aku tidak bisa memberi tahu Hayasaka-san bahkan setengah dari apa yang terjadi antara aku dan Tachibana-san.

Aku hanya memberitahunya bahwa kami membaca buku bersama di ruang klub pada hari hujan, mengobrol sedikit, dan kemudian pulang bersama menggunakan payung yang ditinggalkan Hayasaka-san di depan pintu. Aku tidak akan mengatakan apa-apa tentang kabedon atau katazun.

Kalau aku dekat dengan Tachibana-san, Hayasaka-san mungkin akan terluka. Mempertimbangkan itu, maka aku akan terdengar sombong.

“Kalian berbagi payung, ‘kan? Bagaimana hasilnya?”

“Agak canggung. Kami pulang tanpa menyentuh bahu satu sama lain.”

“Begitu, ya...”

“Kau tidak perlu meninggalkan payungmu padahal...”

Mungkin sulit baginya untuk membantuku mendekati nomor satu.

Itulah yang Hayasaka-san katakan padaku sebelum pergi ke karaoke.

“Gak papa kok. Aku selalu dibantu oleh Kirishima-kun, jadi sekarang aku ingin membantumu.”

Ngomong-ngomong, kata Hayasaka-san.

“Kirishima-kun, apa kamu masih melihat sosmed pacar Tachibana-san?”

“Yah, karena itu kebiasaan.”

Kebiasaan anehku ini juga diketahui Hayasaka-san. Aku tidak bermaksud mengatakannya sendiri.

Begitulah cara kami mulai berpacaran.


Itu dua bulan yang lalu, pada bulan Mei, ketika aku bahkan tidak pernah berbicara dengan Hayasaka-san.

Aku menjatuhkan smartphoneku di peron stasiun. Hayasaka-san yang kebetulan berada di dekat sana mengambilnya dan menyerahkannya kepadaku. Saat itu, dia melihat layar sosmed yang menampilkan foto Tachibana-san.

“Kirishima-kun, kamu menyukai Tachibana-san, ‘kan?”

Aku ditanya begitu.

Rupanya Hayasaka-san telah memperhatikan kalau aku selalu mengamati Tachibana-san.

“Ngomong-ngomong, yang kedua adalah kamu, Hayasaka-san.”

Aku mengatakan itu untuk menyembunyikan rasa maluku karena aku ditanyai siapa yang ku sukai.

“Tapi, kenapa kamu mengikuti tatapanku?”

Ketika kutanya, wajah Hayasaka-san memerah saat dia menjawab dengan bercanda seakan menutupinya.

“Karena aku juga menyukaimu, Kirishima-kun.”

Lalu dia mengacungkan dua jari.

“Yang kedua.”

Begitulah kami akhirnya berpacaran satu sama lain sebagai yang kedua.


Saat aku sadang mengingatnya kembali, petugas kafe memperhatikan bahwa cangkirku kosong dan memberiku tatapan yang sangat elegan. Aku memesan kopi yang sama lagi.

“Untuk saat ini, sebaiknya kamu gak lihat sosmed pacar Tachibana-san.”

Setelah aku memesan, Hayasaka-san melihat smartphoneku di atas meja dan mengatakan itu.

“Kenapa?”

“Habisnya, kalau kamu lihat foto Tachibana-san dan pacarnya dekat, pasti akan membuatmu sedih, bukan?”

“Itulah yang selalu membuatku menderita.”

“Itu buruk untuk kesehatanmu, tahu.”

“Tapi, semakin aku menderita, semakin nyata perasaanku terhadap Tachibana-san.”

“Kirishima-kun, kamu terlalu menyimpang.”

“Ya.”

Kataku dan aku mengambil smartphoneku.

“Terima kasih, Hayasaka-san. Tapi aku baik-baik saja.”

Aku agaknya bisa menebak apa yang terjadi.

Aku membuka halaman sosmed.

Ada foto selfie pacar Tachibana-san memberi Tachibana-san kabedon dan hijidon.

[Aku ingin degdegan.]

Tachibana-san berkata demikian. Dengan kata lain, dia berlatih denganku untuk mempraktekannya dengan pacarnya.

Wajar saja jika dia ingin dibuat degdegan oleh pacar.

“Kirishima-kun, kau baik-baik saja?”

“Aku baik-baik saja. Malah ini semakin menarik.”

“Sok kuat padahal sampai numpahin kopi dari mulutmu gitu.”

Hayasaka-san menyodok sepatu pantofelku dengan jari kakinya.

“Bolehkah aku jujur padamu?”

“Boleh kok.”

“Aku sangat menyukaimu saat kamu murung karena Tachibana-san, Kirishima-kun.”

“Itu artinya, Hayasaka-san cukup menyimpang juga, bukan?”

“Un, aku mengerti. Ada bagian dari diriku yang ingin mendukung cinta Kirishima-kun, tapi ada juga bagian dari diriku yang cemburu pada Tachibana-san. Makanya aku sedikit senang ketika Kirishima-kun murung.”

Aku mendukungmu, untuk cinta nomor satumu, tahu, kata Hayasaka-san.

“Tapi ya, aku sedikit lega ketika melihat sosmed ini. Karena kupikir, aku masih bisa menjadi pacar Kirishima-kun.”

“Kelihatannya sejauh ini tidak akan ada yang terjadi padaku dan Tachibana-san.”

“Seperti tidak ada minat romantis?”

(Tln: terjemahan harfiah ‘tidak ada denyut nadi’ atau hanya sebatas teman)

“Ya. Tachibana-san tidak akan degdegan denganku.”

“Syukurlah, maaf kalau aku berpikir begitu, ya.”

Hayasaka-san menekan poninya di sana.

“Aku seperti gadis yang agak jahat, ya.”

“Gak papa kok kamu seperti itu.”

Seperti itulah jenis hubungan yang kami miliki. Kami berdua benar-benar saling mencintai, jadi kami berdua merasa perlu untuk mendukung cinta satu sama lain, tetapi kami juga tidak ingin dirinya meninggalkan kami, dan keduanya berjalan beriringan.

“Daripada itu, ayo kita pikirkan rencana untuk akhir pekan.”

“Un.”

Itulah tujuan kami bertemu di kafe ini.

Di toko yang sepi, sambil mendengarkan suara kopi yang dituangkan, kami berdua mendiskusikan apa yang akan kami lakukan akhir pekan ini.

Dan karena waktu yang pas hanya pada hari Sabtu pagi, kami memutuskan untuk pergi bersama pada hari itu.

Tepat hanya di pagi hari.

Itu karena Hayasaka-san punya janji untuk bertemu dengan pria nomor satunya di sore hari.

“Kirishima-kun, kamu gak membencinya?”

“Kenapa aku harus benci?”

“Habisnya, aku akan berhenti bermain dengan Kirishima-kun dan pergi ke sisi lain.”

“Gak papa kok. Prioritaskan nomor satu.”

“Kirishima-kun, kamu jarang cemburu, ya. Padahal aku mudah sekali cemburu.”

Kira-kira kenapa ya, kata Hayasaka-san memiringkan kepalanya.

“Apa karena aku mengenal Tachibana-san? Lagian, Kirishima-kun gak kenal siapa pria nomor satuku, ‘kan?”

“Yah, mungkin saja karena itu.”

Dia berada di sekolah lain, jadi kami bahkan tidak pernah melihat satu sam lain.

“Tapi Kirishima-kun, gak papa kok kalau kamu juga sedikit cemburu.”

“Lain kali, aku akan membuat ekspresi yang sangat tertekan.”

“Ehehe, tolong lakukan.”

Setelah membuat rencana untuk akhir pekan, kami meninggalkan toko dan pulang bergandengan tangan.

Hayasaka-san menikmati sensasi tangan kami saat dia menggenggamnya dengan berbagai cara.

“Aku suka menyentuh Kirishima-kun.”

“Meski begitu kamu terlalu dekat.”

“Mana ada. Ini saja aku sudah sangat menahan diri kok.”

“Gimana kalau kamu gak menahan diri?”

“Seperti ini.”

Ini lebih seperti pelukan daripada pegangan tangan.

“Hayasaka-san, ini tidak bagus. Meski kita jauh dari sekolah, tapi——”

“Hei Kirishima-kun, datanglah ke rumahku lagi lain kali.”

“Dengerin gak sih?”

“Aku merasa semakin aku menyentuhmu, semakin dekat kita.”

“Ada juga contoh simpanse menghilangkan konflik melalui kontak kontak fisik, sih...”

“Hee.”

Mata Hayasaka-san berbinar. Aku sudah mengatakan sesuatu yang tidak perlu.

“Kalo gitu, yuk kita lakukan banyak kontak fisik juga!”

Aku menyeret Hayasaka-san, yang menempelkan wajahnya ke wajahku dengan manja, untuk pulang.

Matahari terbenam, dan aku bisa mencium aroma malam musim panas. Entah kenapa, dadaku berdegup kencang. Festival kembang api dan festival musim panas diadakan pada malam musim panas, jadi mungkin secara tidak sadar aku mengharapkan sesuatu yang menyenangkan.

Tapi tetap saja, pikirku.

Hayasaka-san mempercayaiku tanpa syarat.

Namun demikian, aku mengatakan dua kebohongan dalam percakapanku dengan Hayasaka-san.

Yang pertama adalah tentang aku yang tidak kenal siapa pria nomor satunya Hayasaka-san.

Sebenarnya kami sudah saling mengenal, dan kami cukup dekat.

Dan satu lagi——.

[Tachibana-san tidak akan degdegan denganku.]

Aku berkata begitu.

Tapi, ada kelanjutan tentang cerita di hari hujan.

Tachibana-san mungkin, degdegan denganku.

Related Posts

Related Posts

1 comment