-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 5 Bab 2 Part 6 Indonesia

Bab 2
Dua Guru, Ujian Khusus yang Ditakdirkan


6


“Silahkan,  Kushida-senpai.”

Beberapa jam yang lalu. Setelah sekolah, Kushida mengunjungi kamar Yagami Takuya di asrama tahun pertama.

Matahari terbenam samar-samar bersinar melalui celah tirai yang tertutup. Menatap uap dari teh yang baru diseduh di atas meja, Kushida tidak mengulurkan tangan untuk mengambilnya.

“Tidak ada racun atau obat di dalamnya, kok?”

“Aku tidak peduli tentang itu, bisakah kita lanjutkan saja?”

Tanpa berusaha menyembunyikan kekesalannya, Kushida mengeluarkan ponselnya dengan ekspresi tegas.

“Maafkan aku. Baiklah, aku akan mendengarkannya tanpa ragu-ragu.”

Dia menekan tombol putar dan mendengar suara Chabashira menjelaskan garis besar ujian khusus yang diumumkan kepada siswa tahun kedua, meskipun itu hanya setengah dari penjelasan.

Dan selesai mendengarkan semua yang dijelaskan di kelas, termasuk contohnya, dalam diam, Yagami mengembalikan telepon itu ke Kushida.

“Kushida-senpai ingin menghancurkan Horikita Suzune dan Ayanokōji Kiyotaka. Begitu, bukan?”

Tidak perlu menjawabnya sekarang, Kushida tetap diam.

“Aku sudah dijelaskan oleh senpai sebelumnya, tapi ini memang ujian khusus yang sangat sederhana. Dari pilihan ganda, kalian harus berulang kali memilih dan menyesuaikannya menjadi suara bulat. Ada total lima isu, dan kalian memiliki waktu lima jam. Bagaimana pendapatmu ketika mendengar ini?”

“...Itu mudah, ‘kan?”

“Ya, memang. Tampak terlalu mudah untuk disebut ujian khusus. Namun, hanya hukuman karena kehabisan waktu yang berat. Ini pasti karena sekolah membuatnya atas dasar penyelesaian ujian. Pertimbangan yang pasti akan mendekati suara bulat saat waktu mendekati akhir. Apakah itu pilihan yang tidak mereka sukai atau tidak, semua orang ingin menghindari hukuman berat.”

 Yagami meraih teh yang terus menguap di depan Kushida dan mengambil cangkirnya.

“Sekarang ke topik utama. Ini sudah pertengahan tahun kedua. Tapi sementara kamu ingin mengeluarkan keduanya, kamu belum memiliki kesempatan terbaik untuk melakukannya sampai sekarang.”

“Sejauh yang kuketahui, sebagian adalah salahmu, tapi lupakan saja untuk sekarang.”

Tidak ada yang bisa diperoleh dengan menyerang Yagami di sini, pikir Kushida sambil menahan diri.

“Apa kamu sudah memberi tahu Horikita-senpai?”

“A~a... maksudmu, sebagai pemimpin? Setidaknya. Yah, aku yakin tukang pamer itu akan melakukannya sendiri bahkan jika aku tidak memberitahunya sih.”

“Tidak baik untuk membiarkannya ambigu. Penting bagi Kushida-senpai untuk menyerahkan peran itu pada Horikita-senpai setelah memiliki komitmen yang tegas.”

“Jadi apa? Apakah kau pikir ujian khusus berikutnya bisa membuat Horikita dikeluarkan?”

Saat ditanya balik, Yagami tertawa dan menyesap cangkirnya.

“Benar sekali. Aku mendengarkan rekaman hanya untuk memastikan aku tidak melewatkan apa pun atau salah mengartikan apa pun, tetapi sekarang sudah jelas. Ujian khusus berikutnya... hal itu sangat mungkin.”

“...Kenapa kamu bisa tahu itu? Satu-satunya kondisi untuk pengusiran adalah membiarkan akumulasi waktu hukuman terakumulasi pada waktu voting individu. Apa menurutmu Horikita akan membuat kesalahan seperti itu? Bukan hanya Horikita, siapapun itu tidak akan membuat kesalahan seperti itu.”

“Tentu saja, tidak mungkin ada orang bodoh yang akan dikeluarkan karena hukuman kumulatif. Namun menurut tebakanku, ada cara lain untuk mengeluarkan seseorang.”

“Hā?”

“Mengeluarkan Horikita-senpai, atau Ayanokōji-senpai tergantung situasinya. Ada kemungkinan kamu bisa menghancurkan orang yang ingin kamu hancurkan. Pada saat itu, jangan ragu untuk memandu percakapan sampai kamu dapat mengincar keduanya.”

Yagami menyebutkan contoh tugas, yang mungkin diberikan dalam ujian khusus ini.

“———Itu, apa kamu yakin?”

“Tentu saja, aku tidak berpikir itu akan sama kata demi kata. Namun. Aku pikir ada peluang bagus bahwa akan ada isu dengan konten yang sama seperti yang baru saja kusebutkan.”

Yagami tidak diberitahu oleh Tsukishiro bahwa ujian khusus ini ada, tetapi setelah mendengarkan penjelasan guru, dia mendapat gambaran tentang isu seperti apa yang akan diberikan.

“Ketika isu seperti yang baru saja kukatakan muncul, hanya ada satu cara bisa kamu ambil, Kushida-senpai.”

Lalu dia menjelaskan bagaimana cara menyudutkan Horikita dan Ayanokōji dalam isu tersebut.

“Bagaimana? Dengan ini kamu dapat melihat tulisan dikeluarkan, bukan? Tentu saja, seluruh kelas akan menangis, tapi itu hal kecil bagimu, bukan?”

“Apa kau pikir aku... bisa melakukan itu?”

“Aku melihat Kushida-senpai memiliki kemampuan untuk melakukannya, tapi apakah penilaianku salah?”

“Bukankah kamu terlalu membesarkanku.”

“Itu karena aku sudah menguji apakah senpai adalah orang yang dapat digunakan ketika kita pertama kali bertemu.”

“...Apa artinya itu?”

“[Ini aku. Apakah kamu tidak mengenaliku?] Apakah kamu ingat ketika aku mengatakan itu?”

“Waktu itu aku gegabah sih. Lalu apa?”

“Lalu apa? Biasanya, kamu akan memiliki keraguan, bukan? Aku dan Kushida-senpai adalah orang asing yang bahkan belum pernah saling bertemu. Tapi, kamu dapat melewati situasi itu dengan segera mencocokkan percakapan kita dan berimprovisasi. Begitulah cara aku tahu bahwa senpai adalah orang yang cukup kompeten.”

“Tapi, bagaimana jika aku mengatakan kamu siapa pada saat itu? Mungkin aku hanya lupa.”

“Itu tidak akan terjadi. Selama senpai tidak tahu di mana kita bertemu, mungkin saja kita satu SMP. Jika demikian, ada kemungkinan aku tahu tentang masa lalumu. Akan menjadi bencana jika sesuatu seperti, [Aku tahu tentang kejadian itu,] sampai keluar dari mulutku.”

Untuk menyangkal kemungkinan seperti itu, Kushida segera pergi untuk berbicara dengannya.

“Jika kita tidak satu SMP, misalnya, satu les bimbel. Atau jika kamu kemudian mengetahui bahwa aku adalah seorang kōhai yang tinggal di lingkunganmu, itu sangat mengurangi risiko menjadi seseorang yang mengetahui masa lalumu. Kamu hanya bisa menertawakannya sebagai kesalahpahaman. Prioritas pertama adalah memastikan apakah kita berasal dari SMP yang sama atau tidak, bukan? Dan jika aku mengangkat topik apa pun yang terkait dengan masa lalumu, akan lebih mudah untuk mengalihkan pembicaraan.”

Setelah minum sekitar 1/4 teh, dia meletakkan cangkir di atas meja.

“Siapa kamu ini? Kenapa kamu tahu tentang masa laluku padahal kita bahkan tidak satu SMP...”

“Aku mengerti kalau kamu waspada, tapi tolong anggap aku sebagai tamu dalam posisi khusus. Namun, ya. Tujuanku adalah untuk bermain dengan Ayanokōji-senpai.”

“Ha? Untuk bermain dengannya?”

“Ya, yah, kurasa dia tidak mengenalku sama sekali. Sekarang, boomku adalah mencoba berbagai hal tanpa disadari oleh Ayanokōji-senpai.”

“Bagaimana jika aku terguncang ketika kita pertama kali bertemu dan aku tidak memberikan jawaban yang menurutmu seharusnya kuberikan?”

Kushida penasaran dengan jawaban yang akan diberikan Yagami saat itu.

“Kupikir itu akan menarik juga. Aku yakin Ayanokōji-senpai menyadari keganjilan itu dan menatapku dengan curiga. Mungkin, aku akan bisa menyapanya lebih awal.”

“...Apa mungkin, kamu mau bilang kalau kamu satu SMP dengan Ayanokōji?”

“Nah, aku penasaran. Itu hal sepele bagi Kushida-senpai. Sekarang bolehkah kita alihkan perhatian kita ke ujian khusus?”

“Aku tahu. Jika aku mendapatkan isu seperti yang kamu perkirakan... aku akan mencoba mengaturnya.”

“Mencoba mengaturnya... ya. Itu lemah.”

“...Lemah? Apa maksudmu lemah?”

Yagami berdiri dan mendekatkan dirinya dan meraih bahu Kushida, yang secara refleks mencoba melarikan diri.

“Hei, kau mau apa!?”

Dia mencoba melarikan diri darinya, tetapi kekuatan Yagami, yang terlihat sangat ramping, jauh lebih kuat dari yang dia bayangkan dan dia tidak bisa bergerak.

“Dengarkan aku baik-baik. Kushida-senpai berada dalam situasi yang lebih sulit daripada yang kamu kira. Tidak hanya Ayanokōji-senpai dan Horikita-senpai yang mengelilingimu, tetapi juga orang-orang yang tampaknya mengkhawatirkan, seperti keberadaanku dan Amasawa-san terus mengancam keselamatan dan kehidupanmu sehari-hari... benar begitu, bukan?”

“Itu... benar sih...”

Kushida memelototi Yagami, yang menatap lurus ke matanya, tanpa rasa takut.

“Tentu saja, tidak mudah untuk menendang teman sekelasmu di sekolah ini. Dibutuhkan banyak upaya untuk membuat seseorang dikeluarkan dari sekolah dalam kehidupan pribadi mereka. Jika ada kesempatan untuk mengeluarkannya melalui ujian khusus seperti ini, ini akan menjadi kesempatan sekali seumur hidup yang tak terbantahkan.”

“Aku tahu itu. Tapi kalau aku bertindak terlalu jauh, itu akan menempatkanku dalam bahaya juga.”

“Makanya, kamu harus siap untuk itu. Lenyapkan atau dilenyapkan———”

Dia berada di bawah tekanan kuat untuk bertarung dengan hasil satu dari dua.

“Tentu saja, keputusan ada di tanganmu, Kushida-senpai. Jika aku bilang sesuatu seperti, [Jika kamu tidak ingin masa lalu kekacauan kelasmu terbongkar, pastikan kau keluarkan Horikita-senpai atau Ayanokōji-senpai,] itu tidak lebih dari pemerasan yang melanggar aturan ujian.”

“Itulah yang disebut ancaman...”

“Maafkan aku. Aku benar-benar tidak bermaksud mengancammu. Hanya saja aku pikir memang benar bahwa Kushida-senpai tidak cukup siap. Lenyapkan mereka berapapun biayanya. Jika kamu tidak memiliki tekad sebesar itu, kau tidak akan bisa memaksa mereka untuk dikeluarkan dari sekolah. Selama-lamanya.”

Melepaskan tangannya dari bahu Kushida, Yagami kembali ke posisi duduknya dan duduk lagi.

“Izinkan aku bertanya sekali lagi. Senpai ingin mereka berdua dikeluarkan. Benar begitu, bukan?”

Kushida mengarahkan campuran dari kemarahan dan frustrasi yang kuat pada Yagami yang menatap matanya lagi.

Itu adalah sesuatu yang tidak perlu dikonfirmasi.

Karena itulah yang dia harapkan setiap hari selama satu setengah tahun terakhir.

“...Ya. Aku ingin mengeluarkan Horikita dan Ayanokōji. Aku pasti akan mengeluarkan mereka...!”

“Aku merasakannya, akhirnya aku bisa memastikan bahwa keyakinan Kushida-senpai itu asli.”

 Kushida mengambil keputusan. Agar lukanya tidak semakin melebar, dia harus mengeluarkan Horikita dan Ayanokōji sesegera mungkin, dan dia harus memastikan bahwa Yagami di depannya, yang berbicara semaunya, juga dikeluarkan.

Related Posts

Related Posts

3 comments