-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 5 Bab 3 Part 3 Indonesia

Bab 3
Awan Gelap


3


Dengan batas waktu lima jam, kami mencapai isu terakhir dalam waktu sekejap sekitar satu jam.

Banyak siswa pasti beranggapan bahwa mereka pasti akan menyelesaikan ujian dari melihat lancarnya proses ujian. Setelah pertanyaan terakhir, ujian khusus akan selesai dan 50 poin kelas akan diberikan.

Namun, jika ada satu yang menjadi perhatian, itu adalah kondisi wali kelas.

“Baiklah... selanjutnya adalah isu terakhir.”

Saat setiap isu berlangsung, jelas bahwa ekspresi Chabashira berubah menjadi lebih buruk. Juga jelas di mata para siswa bahwa itu akhirnya mencapai puncaknya dan ekspresinya tampak pucat.

“Sensei, apa Anda baik-baik saja?”

Meski isu belum diumumkan, percakapan pribadi bukanlah sesuatu yang pantas dipuji.

Namun, Yōsuke mengangkat suara karena dia tidak bisa mengabaikannya.

“...Kenapa?”

“Tidak, karena Anda jelas tidak terlihat begitu baik.”

“...Apa, iya? Tidak kok.”

Tampaknya itu bukan dalam arti yang salah.

Dengan kata lain, dia bahkan tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dengan dirinya sendiri.

Atau haruskah kukatakan, dia tidak sadar akan hal itu.

Bagaimanapun, Yōsuke tidak punya pilihan selain mundur setelah dia menyangkalnya.

Guru yang mengawasi di belakang juga tidak bergerak, jadi ini akan menjadi awal dari isu akhir.

Namun satu hal yang pasti. Artinya, isu selanjutnya bagi Chabashira harus dilihat sangat berkaitan dengan kondisi fisiknya saat ini.

“Baiklah, aku akan menampilkan isu terakhir. Bersiaplah untuk memilih.”

Memberitahukan itu, Chabashira mengoperasikan tablet di tangannya saat dia mengatur napasnya.

Kemudian isu terakhir ditampilkan di depan kami.


Isu ⑤ : Dapatkan 100 poin kelas sebagai ganti satu teman sekelas dikeluarkan.

(Jika suara bulat setuju, tentukan siswa mana yang akan dikeluarkan, dan voting akan dilakukan)


Pilihan : Setuju | Tidak Setuju


Isu terakhir hanya memiliki dua pilihan paling sedikit sejauh ini.

Sepintas, orang cenderung berpikir bahwa semakin sedikit jumlah pilihan, semakin mudah untuk menyatukannya.

Tapi pada kenyataannya, jumlah pilihan tidak terlalu berpengaruh.

Jika ada banyak orang asing di dalam ruangan, atau jika tidak memungkinkan untuk berdiskusi, memiliki banyak pilihan adalah kerugian, tapi di kelas kami, kami dapat berdiskusi.

Yang terpenting adalah konten isu setiap saat.

Pengusiran atau Poin Kelas

Di sini, kami dihadapkan dengan salah satu isu terburuk yang bisa kubayangkan.

Para siswa tidak diizinkan berbicara, tapi mereka pasti terguncang ketika membaca isu itu dengan keras di dalam hati mereka.

Isu ini, jika kami memilih setuju, berarti salah satu teman sekelas kami akan dikeluarkan.

Dalam keadaan normal, ini adalah isu dimana semua orang di kelas harus memilih [tidak setuju] tanpa ragu-ragu.

100 poin kelas bukanlah jumlah yang kecil, tetapi kebanyakan dari kami lebih memilih untuk tidak mengeluarkan salah satu teman sekelas kami.

Jika ini adalah tentang suara mayoritas, mungkin ini akan berakhir hanya dengan satu kali voting, dengan mayoritas tidak setuju.

Tapi, 4 isu terakhir telah membuktikan bahwa ini tidak akan semudah itu.

Itulah suara bulat, sederhana namun sulit.

“Mulai hitungan 60 detik dari sekarang.... semuanya, silahkan mulai memberikan suara.”

Tidak ada waktu tambahan yang diberikan, dan waktu voting 60 detik dimulai.

Jika suara bulat setuju, pemilihan siswa yang akan dikeluarkan dari kelas ini akan dimulai dalam waktu singkat.

Sekali lagi, tentu saja, hampir tidak ada siswa yang menginginkan hal itu. 100 poin kelas. Bukanlah poin yang harus didapatkan soalnya.

Jika ini terjadi di semester ketiga tahun ketiga, dengan hanya satu atau dua ujian khusus yang tersisa, mereka tidak akan berada dalam kondisi pikiran yang sama seperti sekarang.

Nilai 100 poin ini melonjak ketika pertarungan sudah dekat seperti bersaing untuk satu poin. Pada saat itu, ini bisa menjadi pertempuran antara dua pilihan terakhir.

Namun, sekarang situasinya berbeda. Ini bukan situasi di mana hampir semua orang akan ragu untuk memilih [tidak setuju].

Walaupun demikian, memang benar ada beberapa kekhawatiran, termasuk Kōenji.

Itu sebabnya, di sini aku melepaskan tanganku dari tablet dan berpikir perlahan.

Kesepakatanku dengan Horikita adalah bahwa apa pun isunya, tugasku dalam voting pertama adalah memilih pilihan 1. Tapi, jika 38 orang, termasuk Horikita, memilih tidak setuju sekarang, lebih baik aku pilih tidak setuju tanpa menyisipkan interval dan menyatukannya menjadi 39 suara.

Ini adalah isu yang harus diselesaikan secepatnya, tanpa memberikan celah yang tidak perlu.

Begitu dilakukan diskusi sekali saja, tidak ada jaminan bahwa beberapa siswa tidak akan terpengaruh oleh 100 poin.

Untuk isu ini saja, aku memutuskan bahwa interval tidak diperlukan.

Setelah hampir 60 detik, pemberitahuan bahwa semua suara telah diberikan ditampilkan.

“...Karena semua orang telah memilih, aku akan memberitahukan hasilnya.”

Terlepas dari keanehannya yang jelas, Chabashira mempertahankan posturnya dan melanjutkan prosesnya.


Hasil Voting Pertama : 2 Setuju | 37 Tidak Setuju.


Jadi tidak bulat, ya.

Aku melepaskan jariku dari tombol yang kupilih dan diam-diam melihat hasilnya.

“......”

Chabashira seharusnya membacakan hasilnya dan melanjutkannya, tapi dia tetap tidak bergerak, menatap monitor seperti yang dilakukan para siswa. Hasilnya mengejutkan... dan tidak begitu mengejutkan, suaranya terpecah.

Tidak ada jaminan bahwa itu dapat menghasilkan suara bulat sekaligus tanpa interval.

Jika demikian, mungkin isu itu sendiri yang menjadi perhatian Chabashira.

“Chabashira-sensei. Silakan lanjutkan.”

Dari belakang, guru memperingatkan Chabashira, yang membiarkan waktu terbuang, meskipun itu hanya beberapa detik.

“(!).... Maaf. Ee... Dua suara setuju, 37 suara tidak setuju. Karena suara tidak bulat, kita akan memasuki interval.”

Jadi ada dua suara yang setuju, ya.

“Oi, siapa sih yang memilih setuju? Kau pasti bercanda!?”

Tatapan Sudō yang kuat secara sepihak diarahkan ke Kōenji saat dia berkata, “Siapa sih?”

Meskipun Kōenji mengatakan sesuatu tentang poin perlindungan, itu bukan hal yang besar, tetapi dia pasti orangnya karena konten dari isu tersebut.

Tentu saja, itulah cara Sudō melihat semuanya, tapi aku yakin banyak siswa yang sependapat dengannya.

“Kau memilih apa, Kōenji?”

“Apakah aku perlu menjawab?”

“Kalau kau tidak bisa menjawab, berarti kau memilih setuju, ‘kan?”

“Berasumsi itu tidak baik loh, Redhair-kun. Lagipula, dari apa yang kudengar dari Horikita-girl, pilihan apapun seharusnya diizinkan dalam voting pertama. Aku tidak berpikir ada alasan bagi kamu untuk mengeluh tentang yang mana yang saya kupilih, bukan?”

Menerima argumen yang bagus, Sudō menjadi sangat tidak senang.

“Dengan asumsi satu suara dari Kōenji, itu berarti ada orang lain yang memilih setuju, ‘kan?”

Ike fokus pada bagian suara yang tersisa setelah mengecualikan Kōenji.

“Memang itu juga masalah. Siapa sih, oi?”

Jelas saja karena tidak tahu siapa yang lainnya, Sudō pun berteriak kesal.

“Jangan panik. Salah satu orang yang memilih setuju, itu adalah Ayanokōji-kun.”

“Ha? A-Ayanokōji setuju? Kenapa kamu bisa begitu yakin, Suzune?”

“Aku merahasiakannya hingga saat ini, tapi sebelum ujian khusus ini dimulai, aku dan dia sudah membuat kesepakatan tentang voting. Karena tidak peduli seperti apa isunya, kami sudah menyesuaikan suara pertama agar tidak bulat.”

Setelah kami mencapai isu terakhir, Horikita menyebutkan isi pertemuan sebelumnya.

Tentunya tidak ada gunanya menyembunyikannya ketika sampai pada tahap ini.

Jelas lebih membuang-buang waktu dan usaha untuk mencari tahu siapa satu suara itu.

“Untuk menghindari kebulatan suara pada pilihan tak terduga, ‘kan?”

Yōsuke menambahkan beberapa kata untuk memudahkan siswa yang belum sepenuhnya mengerti.

“Ya.”

“...Apa maksudnya itu? Tapi kalau begitu, kamu seharusnya katakan itu lebih awal.”

“Itu tidak bisa. Voting putaran pertama, ketika kita tidak diizinkan untuk berbicara, adalah peluang penting untuk mengetahui dengan tepat apa yang diinginkan teman sekelasku. Jika mereka tahu bahwa rencananya adalah untuk mencegah suara bulat dari awal, beberapa siswa akan memilih secara acak. Aku ingin menghindari itu. Memilih pilihan pertama adalah tugasnya. Tugasku memilih pilihan kedua. Itu sebabnya hanya satu orang yang memilih setuju.”

Melihat sekeliling kelas, Horikita berbicara kepada seseorang itu.

“Ini isu yang agak ekstrim, tetapi terserah individu untuk memutuskan mana yang akan mereka pilih. Aku tidak berpikir itu salah untuk memilih setuju demi meraih poin kelas. Tapi, kupikir kita semua harus memilih tidak setuju sebagai sebuah kelas. Jika kamu ada keberapan, akan sangat membantu jika kamu bisa mengajukannya di sini, sama seperti selama ini... bagaimana?”

Dalam keadaan normal, sekaranglah saatnya siswa yang memilih setuju akan maju ke depan.

Tapi, tidak peduli berapa lama dia menunggu, tidak ada yang menjawab pertanyaan Horikita.

“Mau sampai kapan kau akan diam, Kōenji?

“Fufu. Seperti kataku tadi, tolong jangan berasumsi kalau aku setuju.”

“Berisik. Aku tahu ini pasti hanya leluconmu.”

Jika bukan Kōenji, kemarahan Sudō mungkin akan menyulitkannya untuk mengatakan bahwa itu adalah dia.

Jika suara bulat setuju, voting untuk mengeluarkan satu orang dari kelas akan dimulai.

Dengan kata lain, seseorang ingin mengeluarkan satu teman sekelasnya untuk mendapatkan 100 poin kelas.

Itu akan menarik perhatian dan kritik dalam artian yang buruk.

Kebenarannya adalah bahwa orang itu tidak ingin ada orang lain yang berpikir seperti itu tentang dirinya.

“Bisa kau berhenti———”

“Tenanglah, Sudō-kun. Ini masih voting putaran pertama, tidak perlu panik.”

“Ta-Tapi kan! Aku tidak suka dia memilih setuju untuk pilihan ini.”

“Terserah kamu untuk menafsirkannya seperti itu. Tapi tidak ada bukti bahwa itu adalah Kōenji-kun. Dan siapa pun yang memilih setuju, aku menafsirkannya sebagai tanda penyesalan karena tidak maju. Karena voting ini anonim, mari kita tidak menggalinya terlalu dalam di sini. Jika dia memilih tidak setuju pada voting kedua, itu akan membuatnya bulat. Itu sudah cukup.”

Isu itu pun akan selesai. Horikita tampaknya telah memutuskan bahwa tidak perlu menghabiskan waktu yang percuma untuk ini.

Seperti yang kupikirkan, tidak mengejarnya adalah salah satu pilihan terbaik yang bisa kami buat saat ini.

“Tidak perlu diskusi lebih lanjut tentang isu ini. Nah, mari kita akhiri ini dengan voting berikutnya.”

Melihat Horikita yang tenang, Sudō pun menampar kedua pipinya sekali untuk mengendalikan dirinya. Dan dengan sedikit obrolan yang tidak berhubungan, sudah waktunya kami memilih untuk kedua kalinya.

“Kita akan mulai voting 60 detik dari sekarang.”

Layar LCD beralih untuk menampilkan tombol setuju dan tidak setuju.

Tampaknya voting selesai dalam waktu sekitar 20 detik, bukannya 60 detik bagi semua orang untuk memilih.

“...Karena voting telah berakhir, aku akan tampilkan hasil voting putaran kedua.”


Hasil Voting Ke-2 : 2 Setuju | 37 Tidak Setuju


Sejauh ini, ujian khusus ini belum menimbulkan ketegangan yang kuat. Namun, tepat saat hasil kedua ini diumumkan, udara di tempat itu jelas membeku. Sekali lagi, hasilnya adalah dua suara setuju.

Artinya, suara tidak berubah bahkan setelah menerima penjelasan barusan.

Fakta ini disampaikan dari Post-Wall.

(Tln: Post-Wall ini terjemahan rawnya monitor anorganik, tapi aku liat produk yang dijual dgn nama yang sama memiliki nama dalam bhs ing post-wall)

“Tunggu sebentar... apa artinya ini?”

Sambil mengatakan ini, orang yang dilihat Horikita tidak lain adalah aku.

Kenapa kau memilih setuju dua kali? Itulah pertanyaannya.

Para siswa lain, termasuk Sudō, yang mengerti apa yang baru saja dijelaskan, juga melihat ke arahku.

“Di voting pertama dan di voting kedua barusan, keduanya aku memilih tidak setuju.”

“Ha? O-Oi apa-apaan itu? Tugasmu memilih pilihan 1, bukan, Ayanokōji?.”

“Ya. Tapi, karena konten isu ini, aku memutuskan bahwa akan lebih baik untuk tidak setuju sejak pertama kali. Aku tidak memberitahukannya karena aku tidak ingin menimbulkan kebingungan yang tidak perlu. “

Jika ada 2 orang yang setuju pada voting pertama, kegelisahan akan meningkat.

Karena setelah itu kami tidak akan bisa hanya mengatakan, “ini pasti hanya lelucon dari Kōenji,” dan selesai.

Horikita, yang telah menjaga ketenangannya sejauh ini, juga sedikit bingung.

“Begitu... artinya ada dua orang yang setuju saat ini.”

Horikita meletakkan tangannya di bibirnya dan berpikir.

Dia mungkin ingin meluangkan waktu untuk berhenti dan memikirkannya, tapi interval sangat berharga.

“Jika kalian akan terus memilih setuju, aku harap kalian bisa memberitahuku kenapa kalian menyetujuinya di sini. Seperti yang kalian lihat, hasilnya menunjukkan bahwa 37 orang, kecuali dua orang, tidak menyetujuinya. Jika kalian ingin semua orang memilih setuju, aku ingin meminta presentasi yang masuk akal.”

Dasar untuk memindahkan suara adalah diskusi.

Karena semakin banyak orang memutuskan bahwa ada keuntungan yang lebih besar dengan menyetujuinya, suara secara alami akan bergeser.

Sebaliknya, jika tidak berdiskusi, tidak mudah untuk memindahkan suara.

Namun, jawaban untuk pertanyaan itu adalah keheningan dari semua orang.

“He-hei, Horikita-san. Ini akan baik-baik saja... ‘kan? Tidak ada yang akan dikeluarkan dari kelas kita, ‘kan?”

Kushida yang khawatir, tidak tahan dengan keheningan dan bertanya pada Horikita.

“Kebijakanku seperti yang kukatakan sebelumnya, tidak akan ada yang dikeluarkan.”

Horikita menegaskan kembali tekadnya, tapi setelah itu keheningan dimulai lagi.

Sangat mudah untuk mengatakan desakan pertama dan terakhir, namun....

“Aku tidak tahu siapa yang menentangnya. Tapi aku ingin kalian mendengarkanku baik-baik.”

Yōsuke berdiri dan berbicara dengan lembut tapi tegas.

“Kalian tidak harus memilih untuk menebas teman sekelasmu untuk mendapatkan poin kelas. Bahkan jika aku memiliki 500 poin atau 1000 poin, kurasa poin yang kudapatkan dari pilihan ini tidak sepadan. Terlebih lagi, poin sebenarnya yang kita akan dapatkan adalah 100. Itu sesuatu yang bisa kita dapatkan kembali.”

Keluhan dari pria yang paling benci mengorbankan siapa pun adalah hal yang wajar.

37 dari 39 orang memahami hal itu sampai batas tertentu, seperti yang dikatakan Yōsuke.

Sementara menyayangkan 100 poin, mereka yakin bahwa kami tidak dapat mengeluarkan seseorang.

Hanya saja... apakah itu niatnya yang sebenarnya atau tidak adalah masalah lain.

Bahkan sebelum voting pertama, hasil voting yang setuju dan tidak setuju untuk isu ini sangat dipengaruhi oleh tekanan untuk menyesuaikan diri dalam diam.

Pasti ada beberapa siswa di kelas yang berpikir mereka tidak akan pernah dikeluarkan.

Pada saat seperti itu, tidak mengherankan bahwa sebagian dari mereka tidak akan terlalu peduli dengan pengorbanan teman sekelasnya.

“Fufufu, ujian khusus ini semakin menarik, bukan? Itu cukup cool.”

Kōenji, yang mulai tertawa geli, melanjutkan.

“Aku tahu pastinya semua orang akan memilih tidak setuju pada voting kedua, kecuali aku sih.”

Tanpa terlihat tersinggung, Kōenji menjawab begitu.

“Kecuali kamu artinya... sudah kuduga itu kamu, Kōenji!”

“Kōenji-kun, apakah itu benar? Aku tidak ingin kamu menjadi anak serigala di sini, karena itu akan menyebabkan kebingungan yang merepotkan.”

Horikita menegaskan kembali prioritasnya untuk terlebih dahulu mengklarifikasi apakah dia benar-benar menentangnya atau tidak.

“Yakinlah. Untuk voting pertama dan kedua, aku dengan tegas memilih setuju.”

“...Bisa beri tahu aku alasannya?”

“Jawabannya simple. Poin kelas akan meningkat 100, kan? Itu berarti poin pribadi yang kudapatkan setiap bulan pasti akan meningkat, dan tidak ada alasan untuk memilih tidak setuju.”

“Kau pasti bercanda. Kau pikir poin kelas lebih penting daripada teman-temanmu!”

“Kamu juga mengatakan sesuatu yang menarik, ya. Memangnya kamu tampak seperti orang yang sebaik itu ketika pertama kali masuk ke sekolah ini?”

“Berisik!”

“Aku memilih setuju, jadi tentu saja aku sudah mempertimbangkan hal-hal itu.”

“Kau, menurutmu teman itu apa...”

“Teman? Aku tidak pernah menganggap kalian sebagai temanku.”

“Apa itu berarti, kau tidak akan mengubah pilihanmu menjadi tidak setuju di voting selanjutnya?”

“Tentu saja. Aku mungkin akan terus memilih setuju jika [terus seperti ini]. Aku pikir Horikita-girl tidak ingin kehabisan waktu, bukan?”

“Ha. Jangan pikir semuanya akan berjalan sesuai keinginanmu, Kōenji. Jika itu yang kau rencanakan, kami juga tidak usah tunjukan belas kasihan, Suzune. Kita semua pilih setuju dan biarkan Kōenji dikeluarkan!”

Itu mungkin jawaban spontan, tapi juga benar kalau isu ini memiliki aspek itu bagi mereka yang setuju. Anggota kelas bisa bersatu dan mengusir bajingan yang bersedia mengeluarkan mereka.

Orang-orang secara tidak sadar memilih apa yang ingin mereka percayai dan kemudian membenarkan alasan mereka memilihnya.

Mereka tidak ingin mengeluarkan siapa pun, tetapi apa boleh buat karena ada siswa yang setuju dengan hal itu.

Otak mulai bekerja untuk membenarkan bahwa orang tersebut harus dikeluarkan.

Mereka juga percaya pada logika yang nyaman, konspirasi, dan informasi yang salah.

“Akan lebih baik jika semua orang memilih setuju. Namun, lebih baik jangan berpikir itu akan membuatku dikeluarkan. Bukan begitu? Horikita-girl.”

Tentu saja akan seperti itu. Jika Kōenji mengaku sebagai salah satu dari mereka yang menyetujuinya, wajar saja jika orang-orang di sekitarnya akan membuat keributan untuk mengeluarkannya. Tidak mungkin pria ini tidak memahami hal itu.

Senada dengan ketenangannya, Kōenji tidak akan pernah dikeluarkan.

“...Dia benar. Kita tidak bisa mengeluarkan Kōenji-kun.”

“Apa maksudmu?”

“Sebelum ujian di pulau tak berpenghuni dimulai, aku berjanji pada Kōenji-kun. Jika dia memenangkan tempat pertama dalam ujian di pulau tak berpenghuni, aku akan melindunginya sampai dia lulus.”

Aku yakin teman sekelas lain ingat pembicaraan itu.

“Aku juga tidak menyangka dia akan memenangkan tempat pertama. Tapi berkat tempat pertamanya dalam ujian itu, kelas kita langsung disejajarkan dengan kelas B. Prestasinya itu tak terukur.”

“I-Itu benar sih... tapi, jika dia mencoba untuk menjatuhkan kelas, itu lain lagi ceritanya!”

“Aku tidak berniat menjatuhkan kelas. Aku hanya bebas membuat pilihan yang dipercayakan kepadaku. Kamu tidak bisa menyimpulkan bahwa memilih setuju adalah hal yang buruk, bukan?”

Jika konten isu ini adalah, [Kau boleh mengeluarkan hingga satu siswa yang dari kelasmu. Setuju atau tidak setuju?] sesuatu seperti itu, dapat dikatakan bahwa memilih setuju itu hal yang buruk. Tapi, dalam kasus ini, konten isunya berbunyi dapatkan 100 poin kelas sebagai ganti satu teman sekelas dikeluarkan.

Meskipun sulit untuk mengukur nilai pasti seorang siswa, tidak ada yang berhak menyangkal perhitungan Kōenji kalau lebih menguntungkan untuk menyetujuinya.

Selama ada argumen yang baik dan janji, tidak mungkin Horikita bisa memberikan satu suara untuk mengeluarkan Kōenji.

“I-Itu benar. Tarik saja kembali janjimu! Kalau Kōenji tidak menganggap teman sekelasnya sebagai teman, siapa yang peduli jika dia dikeluarkan!”

“Aku tidak bisa. Aku tidak akan mengingkari janjiku padanya.”

“Kurasa begitu. Tidak ada yang akan mempercayai pemimpin kelas yang tidak menepati janjinya. Dalam hal itu, aku mempercayaimu lebih dari siapa pun saat ini, Horikita-girl.”

Bagian merepotkan dari Kōenji keluar lagi dan lagi.

Karena sudah jadi begini, Horikita harus membujuk Kōenji untuk melakukan apa pun terlebih dahulu.

Namun masih banyak kesempatan untuk itu.

Bahkan jika dia percaya bahwa Horikita pada dasarnya tidak akan pernah mengkhianatinya, itu tidak berarti bahwa Kōenji dilindungi 100%. Kemungkinan Horikita menebas Kōenji pasti ada di sudut pikirannya.

Dengan kata lain, Kōenji akan berubah sikap jika tunas itu muncul.

Namun, sulit untuk membawanya ke arah itu.

Horikita yang mulai sadar akan perannya sebagai pemimpin langsung menebas Kōenji yang menjawab dengan hasil.

Pilihan itu akan menjadi hambatan besar di masa depan.

“Kalau tidak menebas Kōenji, lalu apa yang akan kamu lakukan, Suzune?”

“Beri aku waktu untuk berpikir... meski begitu, kita tidak bisa hanya diam saja.”

Benar, jika yang setuju hanya Kōenji, meluangkan waktu untuk berpikir juga tidak akan masalah.

Bagian tentang adanya pendukung lain yang belum menunjukan dirinya tidak boleh diabaikan.

“Siapa pun kecuali Kōenji-kun yang memilih setuju, bisakah kamu maju dan katakan padaku?”

Jika kami tidak tahu siapa itu, kami tidak akan bisa bergerak maju.

Tapi, tetap saja yang kembali hanyalah keheningan yang dalam dan panjang.

Jika dia maju sekarang, jelas ada ketakutan bahwa akan muncul ancaman sampai perdebatan yang tidak perlu, seperti halnya Kōenji.

Sebaliknya, dia mungkin akan lebih dibenci daripada Kōenji.

Tidak ada jawaban yang dikembalikan selain keheningan.

Akhirnya waktu habis dan mau tak mau waktunya voting ketiga akan datang.

Kabar baiknya adalah tidak ada batasan berapa kali kami dapat memilih.

Jika waktu memungkinkan, kesempatan untuk membulatkan suara datang setiap 10 menit.


Hasil Voting Ke-3 : 2 Setuju | 37 Tidak Setuju


Sama seperti dua kali terakhir, dua orang, Kōenji dan seseorang yang tidak terlihat, memilih setuju.

Untuk saat ini, banyak siswa masih menitik beratkan Kōenji, tapi aku tidak yakin nantinya gimana.

Tak akan lama sebelum mereka harus menghadapi kenyataan bahwa ada siswa yang belum maju dan terus mengawasi dengan pilihan setuju. Kami menghadapi bahaya anonimitas, bahaya yang paling ingin kami hindari. Tapi prioritas pertama adalah berurusan dengan Kōenji.

Tidak akan ada solusi kecuali kami mengubah suara setuju di sini menjadi tidak setuju.

“Siapa pun itu yang memilih setuju, itu sesuatu yang tidak bisa diabaikan. Tapi itu tidak mutlak. Aku yakin ada keyakinan yang hanya dimiliki olehnya karena dia begitu keras kepala menyetujuinya. Jika demikian, aku ingin bicara dengan seseorang yang tidak terlihat, termasuk Kōenji-kun, pada saat yang sama.”

Tanpa membuang waktu, Horikita mulai merangkum pemikirannya.

“37 dari kita akan terus memilih tidak setuju. Dan 2 orang akan terus memilih setuju. Hal terburuk yang bisa terjadi adalah kita akan kehabisan waktu. Sebagai teman sekelas, kita kehilangan jumlah poin kelas yang sama, yang tampaknya seperti perpecahan menyakitkan bagi kedua belah pihak, tapi kita yang tidak setuju tidak kehilangan teman kita meski kita kehilangan poin kelas. Kita bisa melewati ujian khusus ini tanpa perlu ada yang dikeluarkan. Tapi bukannya mendapatkan satu-satunya keuntungan, para pendukung akan kehilangan banyak. Ini seperti meletakan kereta di depan kuda. Apakah aku salah?”

(Tln: baris kedua terakhir = salah mengira yang tidak penting menjadi penting sekali)

Menyebutkan keuntungan dan kerugian spesifik dan jelaskan risiko mengakhiri ujian dalam ketidaksepakatan.

Tentu saja, yang tidak terlihat tidak menjawab apa-apa, tapi bagaimana dengan Kōenji?

“Kamu benar, jika waktunya habis, kurasa begitulah akhirnya. Makanya ayo pilih setuju saja.”

Kōenji memberitahu Horikita untuk memilih setuju seolah-olah itu adalah hal yang biasa.

“...Memang, jika kita bisa mendapatkan suara bulat setuju, kita akan selangkah lebih maju. Tapi, apa yang menunggu setelah itu adalah rintangan yang lebih besar untuk memutuskan siapa teman sekelas yang yang akan dikeluarkan. Kau juga tidak berpikir akan mudah untuk membuatnya bulat, bukan?”

“Itu tugasmu untuk mengaturnya dengan baik, Horikita-girl. Lagipula, mengeluarkan seseorang dari sekolah tidaklah seburuk itu, bukan?”

“Itu tidak benar. Tidak ada yang harus dikeluarkan.”

Sebelum Horikita sempat membantahnya, Yōsuke memberi tahu Kōenji.

“Asli aku tidak mengerti. Kalian tampaknya takut mengeluarkan seseorang, tapi akan lebih mudah secara mental untuk melihat ini sebagai hal yang positif, bukan? Kalian dapat menghapus siswa yang tidak diinginkan sesuka hati, dan bahkan mendapatkan poin kelas. Jika kalian mengubah cara berpikir kalian sedikit, kalian akan melihat betapa bagusnya pilihan untuk setuju. Satu-satunya orang selain aku yang memilih setuju berarti dia tahu akan hal itu.”

Ini cara berpikir yang tajam, tapi itu mungkin cukup alasan untuk memilih setuju.

“Kupikir itu salah, Kōenji-kun. Kehilangan seseorang dari kelas ini sama sekali bukan hal yang positif.”

Menanggapi Yōsuke, Kushida juga mengatakan bahwa teman sekelas harus diprioritaskan.

Sejalan dengan itu, pemilih tidak setuju yang tidak banyak bicara selama ini, mulai menyuarakan keberatan mereka sekaligus.

Tapi Kōenji tidak melunakkan sikapnya dan hanya tersenyum.

Kōenji yang paling ingin membuat pernyataan, tidak menanggapi diskusi setelah itu, dan waktu voting keempat tiba.


Hasil Voting Ke-4 : 2 Setuju | 37 Tidak Setuju


Sinyal Chabashira menandai dimulai interval ketiga, setelah puluhan menit debat tanpa dampak apa pun.

“Kita harus gimana? Asu, tidak bisakah kita meninju wajahnya untuk membuatnya pingsan, lalu kita yang memilihkannya!?”

“Mana mungkin bisa. ...Mari kita pikirkan ini secara objektif dulu. Dengan itu, Kōenji-kun mungkin berubah pikiran.

Horikita terpaksa mencoba pendekatan lain untuk menghindari rangkaian peristiwa yang paralel.

“Apa maksudmu, objektif?”

“Maksudnya, pilihan mana yang akan dipilih oleh ketiga kelas lain, kecuali kita.”

“Itu... tidak salah lagi, kelas Ryūen akan menebas orang begitu saja.”

Kata Sudō tanpa ragu, sambil menyilangkan tangan di belakang kepalanya.

Banyak teman sekelas tampaknya setuju dengan itu, dan kata, “Tentunya,” bocor dari mulut mereka.

Melihat cara dia bertindak dan berpikir, tentu sangat mungkin hal itu terjadi.

“Ya, tentunya mereka bisa menjadi kelas yang paling mungkin.”

“Sebaliknya, kelas Ichinose jelas tidak, ya. Aku ingin tahu... bagaimana dengan kelas Sakayanagi-san.”

Kelas Ryūen mungkin banyak yang menyetujuinya.

Kelas Ichinose mungkin banyak yang tidak setuju.

Dan kelas Sakayanagi berpotensi bisa keduanya.

Secara kebetulan ketiga kelas memiliki warna yang berbeda, akibatnya hasil yang menarik dibagikan oleh teman-teman sekelas.

Dalam hal ini, hampir tidak ada diskusi tentang kelas Ichinose, yang pasti tidak setuju. Pada akhirnya, fokus diskusi adalah pada kelas Ryūen.

“Aku tidak suka fakta disalip oleh Ryūen. Kita punya momentum sekarang, jadi kita harus mundur selangkah untuk mengejar kelas B di sini, ‘kan?”

“Meski begitu, kesenjangannya tidak akan terlalu besar. Bahkan tanpa keunggulan saat ini, selisih poin kelas adalah 100. Satu ujian khusus sudah cukup untuk menebusnya.”

“Aku tahu maksudmu. Tapi tetap saja, izinkan aku mengatakan satu hal.”

Akito menghadapi ujian khusus dalam diam hingga saat ini, tapi dia memecah kesunyiannya ketika sampai pada isu terakhir.

“Kecil kemungkinannya. Tapi sekali lagi, 100 poin ini bisa membuat kita menangis suatu hari, bukan?”

“Apaan sih Miyake, apakah itu berarti kau ingin seseorang dikeluarkan?”

“Jangan salah paham. Aku jelas menentangnya.”

Dia membantah dengan ekspresi marah, atau lebih tepatnya kesal.

“Menurutku yang terbaik adalah mengincar Kelas A tanpa kehilangan siapa pun dari kelas ini. Itu sebabnya aku pikir kita perlu memahami bobot 100 poin dan tidak meremehkannya.”

“Maksudmu apa?”

“Artinya, kita semua perlu menyatakan penentangan kita dengan membayangkan masa depan di mana ujian khusus ini adalah titik balik ketika kelulusan mendekat.”

Memilih tidak setuju tanpa kesiapan adalah salah, adalah pendapat Akito.

“Be-Benar juga, mungkin aku tidak memikirkannya...”

Mereka harus menentangnya tanpa berpikir dua kali. Para siswa menyadari bayang-bayang tekanan untuk menyesuaikan diri tersebut.

“Kōenji. Aku sangat menyadari keberhasilanmu dalam ujian di pulau tak berpenghuni. Bahkan tanpa janji dengan Horikita, kupikir itu aneh untuk mengeluarkanmu dengan mengumpulkan suara setuju.”

Selain Horikita dan Sudō, Akito juga mengalihkan pikirannya ke Kōenji.

“Tapi tetap saja, kamu tidak bisa terus mengganggu kelas. Sebuah hubungan tidak dibangun hanya dengan poin kelas. Kau mengerti apa yang kukatakan?”

“Fuffuffu...”

Menutup matanya, Kōenji mengangguk dalam-dalam.

Kemudian, entah dia sedang memikirkan sesuatu atau tidak, dia membuka matanya dan melirik Akito.

“Tentu saja———aku sama sekali tidak mengerti.”

“huh...”

“Pikirkan tentang bagaimana cara kerja sekolah ini. Semuanya didasarkan pada poin yang diperoleh. Bukan tentang persahabatan atau kedekatan, loh. Poin kelas digunakan untuk menentukan kelas teratas, sedangkan poin pribadi digunakan untuk menentukan aset individu. Ini adalah sistem evaluasi yang terkait erat. Aku tidak berpikir ada yang salah untuk menyetujuinya karena aku memprioritaskan hal itu.”

“Berani sekali kau mengatakannya. Kaulah yang tidak berkontribusi untuk kelas selama ini! Hanya karena memenangkan tempat pertama di pulau tak berpenghuni tidak berarti kau bisa terus bersikap seperti itu!”

“Mungkin kau harus melihat ke cermin, Redhair-kun. Aku pikir cukup jelas kontribusi siapa di kelas yang lebih besar, aku atau kamu?”

Reputasi Sudō semakin meningkat sekarang, tetapi ketika dia pertama kali masuk sekolah, dia adalah anak bermasalah yang setara dengan Kōenji. Tidak, bagian Sudō lebih buruk jika menghitung perubahan poin kelas.

“Yah, bukan poin kelas yang penting bagiku sih.”

Sikap terhadap persetujuan Kōenji yang selama ini tampak di luar kendali.

Namun, Horikita tidak melewatkan pernyataan Kōenji ini.

“Poin kelas tidak penting. Jadi bagimu, keberadaan 100 poin ini bukan untuk naik ke Kelas A, ini untuk poin pribadi. Itu sebabnya kamu terus memilih setuju, ya?”

“Betul sekali. Aku ingin setuju demi poin pribadi. Karena 2 isu sebelumnya, aku memilih untuk membagi dua jumlah transfer poin pribadi selama enam bulan. Aku meneteskan air mata karena itu diperlukan olehmu untuk melindungiku, tapi kali ini tidak bisa begitu.”

Dia menginginkan poin kelas untuk menggantikan poin pribadi yang hilang.

Ternyata itulah alasan Kōenji menyetujuinya.

Untuk beberapa siswa, mereka mungkin marah karena dia mencoba mengeluarkan siswa karena poin pribadi. Namun, Horikita melihat ini sebagai peluang.

“———Baiklah, Kōenji-kun, ayo buat kesepakatan. Ini bukan kesepakatan yang buruk untukmu.”

“Hō? Kedengarannya menarik, aku ingin mendengar presentasi itu.”

Tanpa terkejut, Kōenji malah menyambut usulan itu seakan dia telah menunggunya.

“Jika kamu memilih tidak setuju mulai sekarang, dan setelah itu suara bulat dengan tidak setuju diterima, aku akan membayar poin pribadi senilai 10.000 yen untukmu atas nama sekolah setiap bulan mulai sekarang sampai kamu lulus. Bagimu, ini setara dengan peningkatan poin kelas sebesar 100, ‘kan?”

“Be-Benar juga, dengan begitu tidak ada gunanya Kōenji-kun memilih setuju...”

“Seperti yang diharapkan, Horikita-girl, kamu tidak butuh waktu lama untuk sampai pada kesimpulan itu.”

“...Sejak awal kamu memilih setuju untuk menarik usulan ini, bukan?”

“Itulah seberapa berharganya suaraku. Bukan tidak mungkin untuk menaikkan harganya, tapi aku butuh Horikita-girl untuk menjadi sekutu yang bisa diandalkan. Mari kita buat kesepakatan dengan persyaratan itu.”

“Tidak perlu menuliskannya, ‘kan? Toh di sini juga ada Chabashira-sensei.”

“Tentu saja, aku tidak yakin kamu akan melanggar janjimu. Kesepakatannya sudah selesai.”

Suara setuju dari Kōenji, yang tampaknya tidak tergoyahkan.

Akhirnya berubah dan membuatnya berjanji untuk memilih tidak setuju.

Itu adalah pukulan yang jitu bahwa dia berani untuk terus memilih setuju dan membiarkan Horikita membawa usulan itu kepadanya.

Beginilah cara kami tiba di voting kelima.

Dengan pernyataan Kōenji bahwa dia akan memilih tidak setuju, itu seharusnya berdampak pada yang tidak terlihat.

Tidak akan mudah bagi satu orang saja untuk terus menyuarakan penentangannya, bahkan jika dia anonim.

Dengan kata lain, voting ini berpotensi menuju ke pemilihan tidak setuju, meski tanpa persuasi.

Namun———


Hasil Voting Ke-5 : 1 Setuju | 38 Tidak Setuju


Kōenji mengubah suaranya dari setuju menjadi tidak ssetuju, tapi masih ada satu suara lagi yang setuju.

Kami mungkin ingin melepaskan sedikit beban dari pundak, tapi pertempuran sebenarnya tampaknya dari sini.

Suara persetujuan mutlak oleh anonim.

Untuk mengatasi ini, kami masih perlu mencari tahu siapa yang memilih setuju.

Tapi, itu lebih sulit dari apapun.

Pada dasarnya ini adalah tablet yang tidak bisa diintip, tapi kami dapat melihat di mana seseorang menyentuhnya dengan ujung jarinya jika mau. Namun, pihak sekolah telah mengantisipasi hal ini dan urutan pilihan telah diacak sejak awal. Juga tidak mungkin untuk memeriksa gerakan jari satu sama lain karena pilihannya berubah setiap kali voting. Tidak ada cara lain selain puas dengan interval yang berulang.

“Oyaoya, sepertinya segalanya tidak akan berjalan dengan mudah, ya.”

“Seperti yang kukatakan, kecuali jika suaranya bulat tidak setuju, kesepakatan kita tadi tidak sah.”

“Aku ngerti kok. Jika pada akhirnya itu bulat untuk setuju, atau jika waktunya habis, aku tidak punya pilihan selain menyerah.”

Selama anonim, tidak ada cara untuk membuktikan bahwa Kōenji tidak memilih setuju kecuali dengan suara bulat tidak setuju. Dia tampaknya tidak berpikir bahwa dia bisa mendapatkan poin pribadi untuk pilihan lain. Jika dia memilih sesuka hatinya di sini, kabar baik akan hilang.

Terlebih lagi, membuat Horikita menjadi musuh akan merepotkan Kōenji, yang ingin membuat segalanya mudah baginya.

Waktu yang tersisa sekitar 3 jam.

Terlepas dari perjuangannya, Horikita membuat kemajuan menuju terobosan dengan strategi yang solid.

Tapi, kami juga tidak bisa terus berdiam diri.

Kami harus mencapai kesepakatan sebelum waktu tenggang yang tersisa habis.

Sampai saat itu, aku hanya akan duduk diam dan mengawasi perang ini berlangsung, tapi aku mungkin memberi beberapa dukungan. Aku batuk beberapa kali selama interval.

Di tengah obrolan, tidak ada yang memperhatikan batuk yang tidak disadari.

Sebaliknya, itu hanya batuk yang bisa kamu dengar jika kamu menyadarinya.

“Hei, Horikita-san.”

“...Ada apa, Karuizawa-san?”

“Ini hanya dugaanku, tapi mungkin kamu punya ide siapa yang memilih setuju?”

“Eh... kenapa, kamu berpikir begitu?”

Wajah Horikita menunjukkan keterkejutannya pada dugaan tak terduga dari Kei.

“Aku hanya kepikiran saja.”

Horikita yang dulu mungkin akan menganggapnya hanya sebagai komentar acak. Tapi ketika fakta bahwa Kei dan aku berpacaran sudah terungkap, segalanya mulai berubah.

“Gi-Gitu, ya. ...Seperti katamu, Karuizawa-san. Aku bisa memikirkan seseorang yang terus memilih setuju... mungkin.”

“Nah itu, kalau begitu katakan saja. Siapa orang itu?”

“Aku tidak bisa mengatakannya. Ujian khusus ini adalah voting anonim. Kalau aku menyebutkan nama hanya karena aku memikirkannya, aku tidak bisa akan menariknya kembali jika ternyata salah.”

“Tapi kan!”

“...Aku tahu. Jadi kupikir aku harus mempersiapkan diri. Kita memiliki waktu untuk memilih beberapa kali lagi. Jika suara setuju masih belum nol... saat itu, aku tidak punya pilihan selain menyebutkan namanya.”

“Tunggu, Horikita-san. Aku tidak setuju dengan itu. Seperti yang kamu katakan tadi, Horikita-san, tidak ada cara untuk mengetahui dengan pasti siapa yang memilih mana kali ini. Aku tidak berpikir itu dapat diterima untuk menyebutkan nama hanya karena kamu memikirkannya. Tentu saja, aku tidak berbicara omong kosong hanya karena aku tidak ingin ada pengusiran, kamu mengerti itu, ‘kan?”

“Aku juga setuju dengan pendapat Hirata-kun. Aku tidak berpikir itu benar untuk mengatakan sesuatu tanpa kepastian mutlak.”

Kushida juga menyampaikan dengan gelisah bahwa dia setuju dengan Yōsuke.

Berawal dari pendapat keduanya, para siswa diliputi kecemasan.

Jika Horikita menyebut namanya karena semacam kesalahpahaman, dia akan dikritik.

Jika dia dibilang memilih setuju padahal dia memilih tidak setuju, dia akan dikepung tanpa jalan keluar.

Jika 38 orang memilih setuju karena dikejar batas waktu, tidak bisa dihindari bahwa orang yang disebutkan namanya akan dibahas sebagai target pengusiran.

“Aku tahu kok... aku tahu, itu sebabnya aku belum menyebutkan nama sejauh ini. Tetapi kita benar-benar tidak bisa membiarkan waktu habis. Benar, bukan?”

“Aku mengerti perasaanmu. Aku juga tidak sama seperti sebelumnya. Aku merasa siap jika aku harus membuat pilihan yang benar-benar diperlukan. Tapi, itu harus 100 persen.”

“...Ya.”

Aku mencoba untuk membuat sedikit lebih banyak perubahan pada situasi, yang menjadi semakin sulit.

“Selain Horikita, adakah siswa yang tahu siapa yang terus memilih setuju?”

“Keknya gak ada. Malah, aku gak mengerti kenapa ada orang lain yang begitu keras kepala menyetujuinya selain Kōenji.”

Pertanyaan seperti itu dari Sudō bukan sesuatu yang hanya dimiliki oleh satu orang.

Seseorang yang berpikir untuk menoleransi situasi di mana akan ada pengusiran.

“Kamu tahu siapa yang setuju meskipun kamu tidak bisa menyebutkan namanya, dengan itu mungkin sedikit mengubah cara berpikirnya. Aku ingin setiap siswa yang tahu sesuatu untuk mengangkat tangannya.”

Aku bertanya lagi untuk memastikan.

Tapi, tidak satu pun dari mereka yang memikirkan seseorang seperti halnya Horikita.

“Yōsuke. Aku tahu kau tidak ingin mencurigai siapa pun, tapi dengan persahabatanmu yang luas dengan pria dan wanita, apakah tidak ada seseorang yang bisa kamu pikirkan?”

“...Tidak ada. Aku tidak berbohong, aku benar-benar tidak bisa memikirkan siapa pun.”

“Begitu, ya.... Lalu bagaimana denganmu, Kushida?”

Kushida tidak menunjukkan emosi yang tidak biasa ketika aku tiba-tiba mulai bertanya padanya.

Sebaliknya, Horikita berbalik sedikit seolah berkata, “Kau mau menanyakan apa?” keresahan seperti itu.

“Menurutmu siapa yang memilih setuju?”

“Uun... maaf, ya, Ayanokōji-kun. Aku sama seperti Hirata-kun, tidak ada yang terlintas di benakku.”

“Karena kamu paling memahami kelas, Kushida. Kupikir kamu mungkin tahu sedikit tentang siswa yang tidak puas dengan kelas. Semua orang tahu kalau kamu peduli dengan kelas lebih dari siapa pun, dan bahwa kamu selalu ada untuk menawarkan saran yang ramah. Kuharap kamu akan mengingat-ngingatnya lagi.”

“Benar juga,” seisi kelas menatap Kushida dengan penuh harap.

“U-U~n... yang terlindas dalam pikiranku... aku tidak yakin ada atau tidak. Tapi, kalau aku kepikiran sesuatu nanti, aku pasti akan memberitahumu.”

“Aa. Tolong, aku merasa bahwa kehadiran orang-orang seperti Yōsuke dan Kushida sangat penting untuk ujian khusus terakhir ini.”

Tanpa kerja sama semua orang, akan sulit untuk menerobos isu ini dengan tidak setuju.

Namun, koordinasi seperti itu juga sia-sia, dan hasil voting keenam juga....


Hasil Voting Ke-6 : 1 Setuju | 38 Tidak Setuju


Hasil yang tidak berubah. Diskusi berulang.


Hasil Voting Ke-7 : 1 Setuju | 38 Tidak Setuju


Hasil Voting Ke-8 : 1 Setuju | 38 Tidak Setuju


Hasilnya tetap sama, dan percakapan menjadi semakin sunyi. Kemudian interval kedelapan dimulai. Sedikit lebih dari satu jam telah berlalu sejak dimulainya isu ini.

“Gedebuk,” Chabashira runtuh dengan bunyi keras.

Dia menekan tangannya ke podium saat dia menjatuhkan diri dan berhasil mencegah dirinya jatuh.

“Hā, haa...”

Saat diskusi berlanjut, napas Chabashira yang telah berdiri di podium sepanjang waktu, menjadi tidak teratur.

“Se-Sensei!?”

“A-Aku baik-baik saja...”

Mengatakan ini, dia menyesuaikan posturnya untuk menguatkan dirinya.

Chabashira menatap para siswa dengan tatapan kosong, entah apa yang dia pikirkan.

Akhirnya, dia menghembuskan napas berat dengan semacam tekad.

“———Guru tidak diizinkan untuk mengarahkan siswa ke pilihan tertentu. Tentu saja, aku juga tidak akan pernah melakukan hal seperti itu. Namun, bolehkah aku menceritakan sebuah kisah lama? Tentu saja, ini akan memakan banyak waktu berharga kalian. Jika kalian tetap tidak keberatan, tapi.”

“Chabashira-sensei. Kata-kata guru itu sendiri tidak dilarang, tapi jika Anda melanggar aturan, Anda juga tidak akan bebas dari hukuman. Jika dinilai bahwa Anda telah mengarahkan mereka untuk melindungi kelas...”

“Ya. Jika ada indikasi niat saya untuk mengarahkan pilihan mereka, saya siap dihukum.”

Dengan menjawab bahwa dia mengerti, pengawas tidak punya pilihan selain diam.

Semestinya, saran tak terduga dari Chabashira, yang tidak pernah ikut campur dalam ujian khusus.

Itu bisa dianggap sebagai seberkas cahaya bersinar ke lingkungan yang menemui jalan buntu ini.

“Sekarang, kami sedang berjuang dari situasi ini. Selama itu tidak mempengaruhi pilihan kami, biarkan kami mendengar cerita Anda, Sensei.”

Jika kami bisa memecahkan kebekuan dengan cara tertentu, itu akan disambut baik, kata Horikita.

Tentu saja, jika dia boleh jujur, dia ingin momentum untuk menuju tidak setuju.

Namun, selama ada mata pengawas, ekspresi langsung harus dihindari.

“...Aku dari SMA Kōdo Ikusei ini. Dan aku sudah mengikuti ujian khusus ini ketika aku di masa sekolahku.”

Horikita dan teman-teman sekelasnya yang lain terkejut mendengar ceritanya untuk pertama kalinya.

“Sensei juga, mengikuti Ujian Khusus Suara Bulat ini...?”

“Ya. Ada limat isu, beberapa dengan konten yang sedikit berbeda, tapi isu terakhir yang kalian hadapi saat ini adalah sama, kata demi kata. Mendapatkan poin kelas dengan mengeluarkan seseorang atau melindungi temanmu dan tidak mendapatkan poin kelas.”

Para siswa mengalihkan fokus pada pernyataan Chabashira bahwa dia telah mengalami ujian khusus yang sama persis.

“Satu hal yang pasti. Kalian harus memberikan segalanya tanpa penyesalan. Setuju, tidak setuju, atau kehabisan waktu. Pilihan apa pun yang akhirnya kalian buat... temukan jalan yang tidak akan membuat kalian menyesali hasilnya. Masih, ada waktu tersisa.”

Semua orang mendengarkan saat Chabashira berbicara kepada para siswa dengan emosi yang nyata untuk pertama kalinya.

Itu tidak memandu kami untuk memilih pilihan apa pun, juga tidak menawarkan solusi.

Aku yakin ini adalah saran terbaik yang bisa dia berikan sebagai guru.

Guru yang mendengarkan di belakang juga tidak memberi tahu bahwa itu melanggar aturan, dan dia mendengarkan sampai akhir.

Aku tidak tahu apakah ini akan mengubah hasilnya.

Tapi, ini pasti memberi para siswa kata-kata untuk menghadapi ujian khusus ini lagi.

Bahkan dengan tembakan dukungan dari Chabashira, bukanlah ide yang baik untuk membuang waktu interval yang tersisa. Horikita terus berjuang untuk meningkatkan peluang bahkan hanya untuk 1%.

“Sudah waktunya kamu mengambil keputusan.... Tapi sebelum itu, biarkan aku memberitahumu sekali lagi. Aku bukan musuhmu.... Aku ada di pihakmu.”

Nama pendukung itu, yang pasti sudah berkali-kali terlintas di benaknya.

Wajahnya, suaranya, matanya, napasnya.

Horikita tidak akan pernah membiarkan siapa pun tahu siapa orang itu, dia terus mencoba yang terbaik untuk membujuknya agar.

Aku yakin dia sudah mempertanyakan hal ini pada diri sendiri berulang kali.

Mungkin aku harus menyebutkan namanya.

Meski begitu, alasan kenapa tidak mengatakannya adalah karena Horikita sangat ingin berada di pihaknya.

Seruan yang menyerupai tangisan memilukan.

Dan dengan itu, voting kesembilan.

Hasilnya———


Hasil Voting Ke-9 : 1 Setuju | 38 Tidak Setuju


Pada akhirnya, suara setuju tidak pernah berubah.

Hanya satu orang. Ada satu siswa yang selamanya berpegang teguh pada 100 poin.

Tidak———ada satu siswa yang berpegang teguh pada hak untuk memaksakan [pengusiran].

Ini adalah kebenaran sejati yang hanya aku, tidak, termasuk Horikita, mungkin hanya kami berdua yang menyadarinya.

Tidak diragukan lagi, suara persetujuan menyeluruh dari satu orang akan terus berlanjut.

Tapi, tidak ada cara untuk mengkonfirmasi secara objektif bahwa orang tersebut menentangnya dalam situasi ini.

Horikita bilang bahwa jika waktunya habis, dia akan terpaksa menyebutkan namanya.

Namun pada kenyataannya, tidak peduli berapa kali voting diulang, Horikita tidak pernah menyebutkan namanya. Karena dia tahu bahwa pertanyaan seperti “Apakah kamu menentangnya?” itu tidak terlalu berarti. Sebaliknya, Horikita akan kehilangan segalanya di masa depan begitu dia menyebutkan namanya.

Meskipun masih ada sedikit waktu tersisa, batas waktu yang ditetapkan untuk 2 jam tersisa semakin dekat.

Itulah batas waktu untuk membuat keputusan besar.

Related Posts

Related Posts

6 comments

  1. Gw udh terjemahin sendiri lewat GT tapi tetap baca di sini kalau udh keluar. Sumpah seru ini keren bgt dah 🤓

    ReplyDelete
  2. Kushida lont busuk pepk kendor uletan

    ReplyDelete
  3. Gue curiga Kiyo yg setuju dengan alasan ingin mengeluarkan Kushida

    ReplyDelete