-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 5 Bab 5 Intro Indonesia

Bab 5
Pilihan Ryūen Kakeru


Ujian Khusus Suara Bulat yang dimulai pukul 1 siang. Kelas D.

Ruang kelas ini, kelas lain yang terdiri dari 40 siswa, juga mulai diselimuti suasana yang berat.

Itu tentu saja, tidak lain adalah karena sifat intens dari isu terakhir yang telah mereka capai.


Isu ⑤ : Dapatkan 100 poin kelas sebagai ganti satu teman sekelas dikeluarkan.

(Jika suara bulat setuju, tentukan siswa mana yang akan dikeluarkan, dan voting akan dilakukan)


Hasil Voting Pertama : 14 Setuju | 26 Tidak Setuju.


Ini adalah momen ketika hasil voting diumumkan. Kelas Horikita serta kelas Ichinose sama-sama memiliki pengumpulan suara tidak setuju yang banyak. Namun, dibandingkan dengan kedua kelas tersebut, tidak sedikit anggota kelas yang setuju untuk mengeluarkan siswa.

Dengan kata lain, lebih dari sepertiga siswa merasakan kesan pertama bahwa poin kelas harus diprioritaskan bahkan jika harus mengeluarkan siswa.

“A-Apa yang harus kita lakukan, Ryūen-san?”

Ketika Ishizaki menerima hasilnya, orang pertama yang dia minta petunjuk adalah pemimpin kelas, Ryūen Kakeru.

Proses yang mengarah ke isu ini juga semuanya dimulai dengan prosedur ini.

Karena probabilitas mendapatkan suara bulat pada suatu isu pada satu waktu rendah, dengarkan kebijakan pemimpin di interval pertama dan incar kebulatan suara pada voting kedua dan selanjutnya.

Urutan prosesnya mirip dengan kelas lain, tapi akurasinya sangat tinggi. Kelas konfrontasi di isu 1, masalah poin perlindungan di isu 3, dan cobaan berat yang dikenakan pada kelas di isu 4, semuanya bulat dalam pilihan yang diinstruksikan Ryūen hanya dalam 1 interval.

Satu-satunya hal yang dia serahkan pada mereka sendiri adalah memutuskan perjalanan sekolah di isu 2. Dia membiarkan anggota kelas diskusi selama setengah jam sesuka hati mereka, dan akhirnya diputuskan bahwa destinasi dengan jumlah suara terbanyak adalah yang akan dipilih sebagai suara bulat.

Jelas bagi semua orang bahwa isu 5 ini memiliki konten yang berbeda, tapi metodenya pada dasarnya sama.

Semua isu yang tampaknya membutuhkan instruksi diputuskan oleh satu kata dari Ryūen.

Satu-satunya hal yang sangat disadari oleh para siswa adalah pilihan mana yang Ryūen pilih.

Jika Ryūen setuju, itu berarti seseorang dipastikan akan dikeluarkan dari sekolah.

Keputusan yang tidak bisa ditolak. Itulah ciri kelas di mana para siswa disatukan oleh kediktatoran.

Melihat hasilnya dan tersenyum, Ryūen berdiri dari kursinya.

“Sejauh ini adalah waktu yang membosankan, tapi kurasa sekolah tidak bermaksud menjadikan ini hanya untuk bermain-main. Kalau tidak, ini tidak akan menarik, bukan?”

Bergumam pada dirinya sendiri, seolah-olah semua teman sekelasnya akan mendengarnya, dia berjalan ke podium. Sakagami mengawasi kelas yang dipimpinnya, merasakan Ryūen mendekat dan menjaga jarak.

Karena dia tahu betul bahwa di sinilah stand-up play Ryūen dimulai.

Seakan mengatakan bahwa itu adalah kursi yang dipesan, Ryūen duduk di atas podium.

Kemudian dia mengambil sikap untuk melihat ke semua teman sekelasnya dan mengucapkan kata-kata pertamanya.

“Mereka yang memilih setuju, angkat tangan.”

Perintah Ryūen yang tidak ada pertimbangan sama sekali, disambut dengan ketegangan yang intens, entah mereka setuju atau tidak setuju.

Itu karena pada isu-isu sebelumnya, dia bahkan tidak menanyakan pilihan mana yang mereka pilih.

Setelah beberapa detik ragu-ragu, mereka mulai mengangkat tangan. Di antara mereka adalah Nishino dan Kaneda, yang mengangkat tangan mereka sambil menatap ke luar jendela, terlihat tidak termotivasi.

“———Lima, ya. Yah, kukira itu saja. Ini awal yang baik.”

Faktanya ada 9 siswa yang tidak mengikuti perintah dengan tidak mau bicara bahwa mereka memilih setuju.

Siswa seperti Ishizaki, Komiya dan yang lainnyalah yang pertama kali terkejut dengan apa yang mereka lihat.

“Oi, gak ada untungnya menyembunyikannya, ‘kan? Kalian tidak akan dimarahi karena memilih setuju satu kali.”

Komiya mengimbau teman-teman sekelasnya yang diam bahwa sekarang masih belum terlambat untuk bicara sebelum jadi masalah.

“Kita tidak diperintahkan untuk memilih mana pun. Terserah masing-masing individu untuk memilih setuju atau tidak setuju, bukan?”

Komiya menjelaskan kalau itu tidak bisa disalahkan, dan dia memastikan bahwa Ryūen sependapat dengan itu untuk jaga-jaga.

Namun karena Ryūen tidak segera menjawab, itu membuat Komiya gugup sejenak.

Jika ada perbedaan penafsiran, bisa berujung pada teguran.

“Sebelum kalian mendapat masalah, cepat angkat tangan kalian!”

Tidak suka perubahan suasana tempat itu, Ishizaki buru-buru memperingati mereka.

Kemudian seorang siswa mengangkat tangannya meminta maaf terlambat. Dengan ini total menjadi enam, tapi delapan siswa yang tersisa masih tidak mengangkat tangan.

“Biarin saja, Ishizaki. Mereka yang tidak mau angkat tangan tidak perlu melakukannya. Untuk saat ini sih.”

“Eh, be-beneran gak papa?”

“Komiya juga mengatakan terserah masing-masing individu untuk setuju atau tidak setuju. Jadi pertama-tama, masing-masing dari kalian harus memikirkan apa yang akan kalian pilih. Kita punya lebih dari 8 menit lagi, itu cukup banyak waktu.”

Memeriksa waktu tanpa panik, Ryūen bahkan tidak mencoba mengubah posturnya tanpa kehilangan senyumnya.

Dia hanya samar-samar memberitahu mereka untuk memikirkannya, dan tidak melakukan apa-apa lagi.

Dan selama lebih dari dua menit, dia tetap diam, tidak melakukan apa-apa.

“Dengar, jangan buang waktu ini. Pikirkanlah pilihan mana yang tepat untuk kamu pilih.”

Dari sini, dia diam lagi.

10 detik, 30 detik, 1 menit berlalu, tetapi dia bahkan tidak mencoba untuk mengucapkan apa pun.

Semua isu sejauh ini dia memaksakan pilihan harus dibuat di interval pertama.

Justrus karena itu, satu-satunya hal yang terlintas di benak para siswa adalah pemikiran kenapa Ryūen tidak memberikan perintah.

Namun, sedikit siswa yang mampu mengungkapkan pendapat seperti itu, dan semakin banyak waktu berlalu, semakin rapat mulut mereka.

[Tolong beri kami perintah apapun.]

Ishizaki dan yang lainnya, yang awalnya tampaknya bisa mengatakan itu, juga menundukkan kepala mereka.

Bibir atas dan bawah saling menempel dan tidak terbuka seolah-olah mereka direkatkan.

Seiring berjalannya waktu, semakin mereka hampir kehilangan keinginan untuk berbicara lagi.

Akhirnya, mereka yang ingin angkat bicara akan memudar dan beralih ke harapan bahwa orang lain akan melakukannya untuk mereka. Bahkan ketika itu berlalu, mereka mulai berharap agar waktu memilih segera tiba, meskipun waktu yang tersisa lebih lama untuk ditunggu.

Interval pertama yang terasa lama dan berlarut-larut, berakhir dengan sebagian besar waktu dihabiskan dalam keheningan. Ini tidak terduga oleh Sakagami, dan dia lupa waktu untuk melanjutkan proses beberapa detik melewati waktu yang dijadwalkan.

“Sakagami. Bukankah sudah waktunya?”

Dia terkejut mendengar kata-kata Ryūen saat dia turun dari podium dan kembali ke tempat duduknya.

“...Ya. Voting kedua akan dilakukan mulai sekarang. Silakan memilih dalam waktu 60 detik.”

Dan begitu voting kedua dari semua orang selesai, hasilnya langsung ditampilkan di monitor.


Hasil Voting Ke-2 : 10 Setuju | 30 Tidak Setuju


Dari 14 suara setuju, 4 berganti pilihan tidak setuju. Bagi sebagian besar orang yang tidak ingin dikeluarkan dari sekolah, hasil ini bukanlah hal yang buruk. Dengan 1 atau 2 kata tegas dari Ryūen akan mengurangi jumlah suara setuju lebih banyak lagi. Dan suara bulat tidak setuju akan terlihat dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, begitulah hasil voting kedua.

Namun, Ryūen terlihat tidak puas dengan hasil itu.

“Apakah ini jawaban yang kalian pikirkan? Aku rasa tidak.”

“Karena tidak banyak penurunan suara setuju, ya?”

Kaneda bertanya sambil memposisikan ulang kacamatanya. Tapi Ryūen langsung membantahnya.

“Jadi itu artinya... Ryūen-kun memilih setuju?”

Ryūen menyangkal hal itu juga, dan tertawa sekali mengejek sebagai isyarat.

“A-Apa yang mengganggumu, Ryūen-san? Aku gak ngerti.”

“Apa kalian benar-benar mencerminkan keinginan kalian dalam voting pertama dan kedua? Hanya isu terakhir ini yang jelas berbeda dan tidak biasa. Itu sebabnya aku ingin tahu [keinginan sejati] kalian. Jangan khawatir tentang pilihanku, pilihlah untuk jujur dengan perasaan kalian.”

Dengan itu, Ryūen bangkit dari tempat duduknya dan mulai berjalan perlahan melewati kelas.

“Untuk 10 menit nanti, kita akan diskusi sepenuhnya. Apakah ingin memilih setuju atau tidak setuju?”

Ketika diperintahkan demikian, para siswa dipaksa untuk berdiskusi dengan panik.

Dalam keramaian dan keributan, mereka mulai berbicara tentang apa pun yang mereka inginkan.

Ryūen mendengarkan mereka, sesekali berbisik ke telinga para siswa.

Dia sepertinya tidak memilih siswa tertentu, dari Nishino dan Shīna hingga Yoshimoto dan Nomura.

Dan saat berikutnya dia mendekat di bagian bawah Suzuki, dia berbisik padanya dengan cara yang sama.

“Kau bebas untuk setuju atau tidak setuju. Pilih apa pun yang kamu pikirkan.”

Dengan itu, kali ini dia juga mendengar Tokitō yang duduk dua kursi di belakang Suzuki.

Sementara dia bertanya-tanya apakah itu sesuatu yang harus dia bisikan, diskusi dilanjutkan selama waktu memungkinkan. Kemudian tibalah waktunya voting ketiga.


Hasil Voting Ke-3 : 9 Setuju | 31 Tidak Setuju


Monitor menunjukkan situasi yang hampir sama dengan hasil kedua.

Duduk di meja podium, Ryūen memutuskan untuk mengungkapkan pikirannya pada interval ketiga.

“Semua yang memilih setuju angkat tangan.”

Setelah melihat hasilnya, Ryūen mengangkat tangannya lagi. Hanya dua orang yang mengangkat tangan, Nishino dan Kaneda.

Tujuh sisanya menyembunyikan keberadaannya dan menolak untuk maju.

Ishizaki kesal dengan suara setuju yang tak terlihat, tapi Ryūen tidak peduli dan fokus pada keduanya.

“Sepertinya kalian memilih setuju tiga kali. Kaneda, apa alasanmu?”

“Untuk menang, kukira. Mengeluarkan seseorang dari sekolah bukanlah hal yang baik, tapi mendapatkan 100 poin kelas itu penting!”

“Tidakkah terpikir olehmu bahwa mengangkat tanganmu akan membuatmu menjadi target pengusiran?

“Itu pertanyaan konyol, Ryūen-kun. Kamu bisa menebas orang yang tidak berguna dan tidak perlu, tapi kamu tidak akan menebas orang berbakat yang diperlukan. Setidaknya di kelas ini, nilaiku bukan 100 poin.”

Dia telah menimbang nilainya dan menilai bahwa dirinya tidak dalam bahaya ditebas.

“Yah, kau benar, kau punya lebih banyak kegunaan, kecuali penampilanmu.”

“Terima kasih.”

Kaneda mengangguk puas, tanpa tersinggung dengan komentar tentang penampilannya.

“Nishino, apa alasanmu sama dengan Kaneda?

“Hā? Mana mungkin. Aku hanya setuju dengannya tentang cara tercepat untuk mendapatkan lebih banyak poin kelas. Alasan aku angkat tangan karena aku hanya tidak suka sembunyi-sembunyi. Tidak ada salahnya memilih setuju.”

Ishizaki lebih gelisah daripada orangnya sendiri, karena cara bicaranya yang tidak hati-hati bisa membuat Ryūen memelototinya.

“Sudah waktunya aku memberitahukan apa yang ingin kalian ketahui. Pilihan mana yang aku pilih.”

“To-Tolong beritahu kami!”

Mereka tidak bisa memulai sampai mereka tahu apa yang dipilih Ryūen, dengan kata lain kebijakan kelas ini.

Ishizaki meminta dengan suara keras sambil mencondongkan tubuh ke depan.

“Aku di isu ini———3 kali dari 3 putaran, semuanya aku memilih [setuju].”

Itu berarti voting saat ini, tiga dari sembilan suara setuju, diberikan oleh Ryūen, Nishino, dan Kaneda.

“I-Itu berarti kamu akan mengeluarkan seseorang dari kelas ini... ya?”

Ryūen hanya tersenyum kecut mendengar pertanyaan Ishizaki.

“Jangan terlalu cepat menilai. Aku hanya memberi tahu kalian kemana suaraku diberikan. Aku sudah memutuskan bahwa terserah kalian untuk memikirkan apa yang ingin kalian lakukan untuk isu ini.”

“K-Kami... ya?”

“Memang benar, aku memilih setuju tiga kali tanpa ragu-ragu.”

Jika semua tiga kali votingnya adalah setuju, tidak salah lagi bahwa kebijakannya adalah mengeluarkan seseorang dari teman sekelas. Namun, karena Ishizaki tidak menerima itu, dia tidak tahu apa artinya dan tidak dapat merespon.

“Alasan aku setuju sederhana. Dengan menebas satu orang, kita akan mendapatkan 100 poin. Dengan kata lain, ini adalah pilihan luar biasa di mana kita bisa mendapatkan poin kelas setelah menyingkirkan barang bekas. Ini adalah pilihan terbaik yang dapat membantu kita, tanpa membuat kita dalam masalah. Tapi, bahkan setelah tiga kali pengulangan, suara masih banyak tidak setuju daripada setuju. Dengan kata lain, lebih dari separuh kelas memilih [tidak setuju] untuk isu ini. Kalau memang begitu, aku akan menghormati keinginan kalian dan menyamakan suaraku menjadi tidak setuju.”

Kebijakannya adalah melepaskan poin kelas dan mempertahankan teman sekelas.

“S-Sudah diputuskan! Kalian jangan memilih setuju, pilih tidak setuju! Ini perintah Ryūen-san!”

Ishizaki tampak lega dengan kebijakan yang mudah dipahami dan menuntut teman-teman sekelasnya.

“Tunggu sebentar. Itu tidak seperti dirimu.”

Ibuki yang selalu bosan selama ujian khusus sejauh ini, mengangkat suasanya tidak puas.

“Apa maksudmu?”

“Kau menyetujuinya, ‘kan? Lalu kenapa kau tidak desak saja kami untuk setuju seperti yang selalu kamu lakukan? Jangan bilang sekarang kau akan bertingkah seperti orang baik dan melindungi teman-temanmu?”

Ini menyiratkan bahwa Ryūen adalah seseorang yang akan mengambil poin kelas di depannya.

“Lah, apa kau juga menyetujuinya?”

“Aku pilih tidak setuju. Tapi, keinginanku juga bukan urusanmu, bukan?”

“Jika ini bukan anonim, aku mungkin akan membuat suaranya bulat untuk setuju tanpa ragu-ragu. Akan lebih cepat untuk mengusir siapa pun yang tidak sependapat denganku. Tapi, sayangnya kali ini adalah ujian dengan voting anonim. Selama aku tidak bisa menentukan siapa yang memilih mana, lebih cepat menyatukan suara tidak setuju yang melebihi mayoritas.”

“Jadi maksudmu kau tidak yakin bisa membuat suaranya bulat untuk setuju?”

“Kuku, terserah kamu mau memikirkannya gimana.”

“Ja-Jangan katakan hal yang tidak perlu, Ibuki. Ryūen-san menyuruh kita untuk tidak setuju, jadi tidak ada masalah, ‘kan? Lain cerita jika poin kelas dikurangi, dengan ini kita akan menyelesaikan ujian, loh.”

“Siapa juga. Aku hanya penasaran karena itu sedikit keluar dari karakternya. Lakukan sesukamu.”

Sekarang setelah kebijakan diputuskan, interval ini juga akan memiliki persentase keheningan yang tinggi.


Dan voting keempat.

Hasilnya———


Hasil Voting Ke-4 : 7 Setuju | 33 Tidak Setuju


Atau bahkan jika tidak bulat, voting yang diharapkan sebagian besar akan tidak setuju, ternyata jumlah suara setujunya masih besar. Jumlah suara berkurang hanya 2.

“Kaneda, Nishino. Kalian pilih apa?”

“Tentu saja, aku pilih tidak setuju seperti yang kamu perintahkan, Ryūen-kun.”

“Inginnya aku setuju, tapi aku pilih tidak setuju karena aku tidak ingin mengganggu keharmonisan.”

2 orang yang mengangkat tangan karena memilih setuju merubah pilihannya tidak setuju.

Dan mengingat fakta bahwa Ryūen ganti pilih tidak setuju dalam voting saat ini, itu tidak akan benar kecuali jumlah suara setuju berkurang setidaknya tiga. Terlebih lagi, voting kali ini tidak bebas, tapi dipaksakan, dengan perintah dari Ryūen untuk memilih tidak setuju. Namun demikian, masih ada tujuh suara setuju. Kemungkinan adanya pendukung baru, atau Kaneda dan Nishino berbohong, tidak bisa dikesampingkan. Ryūen sendiri 100% pilih tidak setuju, tapi orang-orang di sekitarnya tidak memiliki cara untuk memastikan apakah itu benar, dan kecemasan baru mulai menyebar sedikit demi sedikit. Menanggapi hasil ini, Ryūen berpikir dengan tenang. Daripada hanya melihat jumlah suara, dia coba mendeteksi aliran suara dan anonimitasnya.

“Siapa yang masih pilih setuju!!”

Perintah Ryūen adalah memberikan memilih tidak setuju.

Ishizaki tidak bisa tenang saat menyadari bahwa ada 7 siswa yang tidak mengikuti perintah yang jelas yang diberikan kepada mereka. Jika Ryūen berubah pikiran, akan ada pengusiran.

“Kuku, jangan berteriak Ishizaki. Karena ini menjadi semakin menarik. Ini benar-benar anonim, dan tidak ada yang tahu siapa yang memilih apa. Itu berarti ada lebih dari sedikit orang yang benar-benar memilih [setuju].”

“Ta-Tapi tidak mengikuti perintah Ryūen-san adalah masalah!”

“Tidak juga. Bukan hal yang buruk untuk mencoba mendapatkan poin kelas dengan menebas teman sekelas. Sebaliknya, itu berarti ada 7 siswa yang serakah untuk mengincar Kelas A, bukan?”

Seolah menyambut situasi ini, Ryūen bertepuk tangan dengan sukacita.

“Tapi, pertanyaan tentang [siapa] yang harus dikeluarkan muncul ketika pengusiran disetujui. Aku yakin 7 orang yang memilih setuju ini memiliki gagasan yang jelas tentang siapa yang harus ditebas.”

“...Ma-Maksudmu seperti aku!?”

Ishizaki mulai panik, bertanya-tanya apakah dia adalah target yang akan ditebas.

“Yah, kemungkinan bahwa ada orang yang berpikir kamu tidak diperlukan tidak bisa dikesampingkan, tapi tak adakah orang yang memiliki keberanian untuk maju? Bukan orang lain, tapi seseorang yang menginginkan [aku] dikeluarkan.”

Ryūen memprovokasi seolah mengatakan, Majulah.

Namun, suasana tempat itu sekali lagi diselimuti oleh keheningan, dan tidak ada siswa yang berbicara seperti hal yang biasa.

“Ha~h, yah, kurasa tidak mudah untuk mengakuinya. Kuku, aku akan meladeni kalian perlahan.”

Dengan demikian tibalah waktunya voting kelima.

Ini berarti empat interval telah selesai.

Sejak isu ini dimulai, mereka sudah menghabiskan waktu sekitar 40 menit.

Dan hasilnya....


Hasil Voting Ke-5 : 8 Setuju | 32 Tidak Setuju


Bertentangan dengan tujuan Ryūen untuk mengurangi jumlah suara, jumlah suara yang setuju bertambah satu suara lagi.

“Gimana nih, Ryūen? Sudah hampir satu jam, ‘kan?”

Di sini, Nishino terdengar tertekan.

“Jangan buru-buru. Masih ada banyak waktu, ‘kan?”

“Iya sih, tapi ada banyak orang yang memilih setuju melawanmu. Bukankah ini buruk?”

Jumlah persetujuan jelas melambangkan kurangnya kontrol dan dominasi Ryūen.

“Ya. Bukan tidak mungkin kau memilih setuju.”

“...Bisa saja.”

Dibalas seperti counter, Nishino sedikit terkejut, tapi dia menatapnya dan berkata dengan tegas.

“Yah, tidak ada bukti kecuali kamu mengakuinya ketika ditanya.”

Ujian yang sulit untuk menghukum si tersangka.

“Aku punya sedikit saran, boleh?”

Yabu Nanami, yang telah memperhatikan situasi hingga saat ini, menyampaikan pendapat.

“Katakan.”

“Bagaimana kalau kita buat suara bulat setuju dan mengeluarkan anak yang tidak keberatan dikeluarkan?”

“Bisakah aku berasumsi kalau kau memilih setuju?”

“Tidak. Aku sampai sekarang semuanya pilih tidak setuju. Tapi, aku mulai berpikir kalau yang setuju tidak berubah, kita bisa mengubah kebijakan ke arah sana. Misalnya... bagaimana kalau mengeluarkan Ibuki-san?”

Mengatakan itu, Yabu menatap Ibuki dengan dingin.

“Jika Ibuki-san akan, kurasa aku juga akan setuju.... Ah, tentu saja aku sampai sekarang memilih tidak setuju, loh?”

Mengikuti jejak Yabu, Morofuji Rika juga mengangkat tangannya sependapat.

“Kalian nih. Ryūen-san bilang untuk bersatu memilih tidak setuju, jadi kita harus pilih tidak setuju.”

“Tunggu. Aku menyambut baik masukan mereka berdua.”

“Eh, be-benarkah?”

“Kurasa itu benar dari kelihatannya bahwa mereka telah memilih tidak setuju sampai sekarang. Jika voting berikutnya tidak sedikitnya dua suara setuju, maka akan muncul kontradiksi. Kalian tidak akan sebodoh itu, ‘kan?”

Baik Yabu dan Morofuji mengangguk dengan kuat sebagai jawaban atas pertanyaan itu.

Tentu saja, tidak menutup kemungkinan bahwa 8 orang anonim yang memilih setuju akan memilih tidak setuju di voting berikutnya, tapi Ryūen mengerti bahwa ini adalah masalah yang berbeda.

“Mereka bahkan menyebutkan nama sebagai tekad untuk memilih setuju. Berbeda dengan 8 anonim. Dan dari kelihatannya, selain Yabu dan Morofuji, beberapa orang sepertinya ingin mengikuti ide itu.”

Kelompok gadis yang dekat dengan Yabu dan Morofuji berada di kasta tertinggi di kelas ini.

Di permukaan, itu adalah pendapat dua orang, tapi dapat diartikan bahwa seluruh kelompok sebenarnya sependapat.

“Bisakah kau memberi tahu kami apa pendapatmu tentang saran kami, Ryūen-kun?”

“Prasyarat untuk mengeluarkan seseorang tertentu adalah bahwa tidak ada suara yang mendukung orang itu. Apakah ada orang di kelas ini yang ingin melindungi Ibuki bahkan jika itu berarti mempertaruhkan pengusiran mereka sendiri?”

Dia menanyakan itu ke kelas. Tapi tidak ada tangan yang langsung terangkat.

“Seperti yang terlihat, Ibuki. Apakah kau akan terima dikeluarkan dengan ikhlas?”

Jika dia terima atau menjawab lakukan sesukamu di sini, Ryūen akan bergerak untuk mengeluarkan Ibuki tanpa ragu-ragu. Suasana di dalam kelas diselimuti oleh ketegangan seperti itu.

“Maaf, tapi aku tidak berniat untuk dikeluarkan.”

Ibuki menjawab tanpa melihat Yabu atau Morofuji, yang telah menyebutkan namanya.

“Are? Bukankah Ibuki-san mengambil sikap seperti tidak keberatan jika dikeluarkan dari sekolah?”

“Aku tidak terlalu peduli dengan sekolah, tapi ada orang yang ingin aku balas dendam dengan caraku sendiri. Selain itu, kau pikir aku akan menerima bentuk pengusiran ini? Aku tidak ingin dimanfaatkan dengan mudah untuk memenuhi kantong orang-orang yang kubenci.”

“Kau hanya tidak ingin dikeluarkan dengan memberi alasan. Jaga muka, tapi kamu memang takut, ‘kan?”

Yobu tertawa memprovokasi.

“Hah. Kau juga sudah belagu, ya. Padahal dulu kau adalah penjilat Manabe. Apa kau sesenang itu menjadi pemimpin para gadis setelah dia menghilang?”

Mendengar balasan Ibuki, Ryūen menghapus senyumnya dan dia mengintimidasinya dengan matanya.

“Oi, Ibuki. Kau harus menyadari posisimu sekarang. Yabu memiliki beberapa teman yang menentang pengusiran. Tapi, kau satu pun tidak memilikinya. Selain itu kau tidak memiliki sesuatu seperti obsesi dengan sekolah, bukan?”

“...Memangnya kenapa?”

“Aku tidak membencimu, tapi jika kau mau berhenti dengan anggun dan berkontribusi untuk kelas, ceritanya akan berubah. Terlepas dari keinginanmu, kami akan memakan daging dan darahmu.”

“Kau sungguh menyedihkan, Ibuki-san. Sepertinya hanya kamu yang mengira Ryūen-kun mengasihimu.”

“Apa kau membenciku? Ibuki.”

“Siapa juga. Aku tidak pernah berniat berteman denganmu sejak awal. Kau akan melakukan apa saja untuk menang, bukan? Aku tidak terkejut. Tapi, aku tidak berniat untuk dikeluarkan.”

Dia mengulangi penolakannya, tapi nada suara Ryūen juga menjadi sedikit lebih keras.

“Terserah kau punya niat atau enggak. Maka aku akan bertanya sekali lagi. Aku akan menantang kalian untuk bertaruh apakah kalian akan membuat suara bulat setuju atau tidak. Angkat tangan kalian yang bersedia mempertaruhkan diri kalian demi Ibuki. Tapi kamu punya satu menit untuk memutuskan.”

Di suasana yang dingin, Ishizaki menggoyangkan tubuhnya sedikit.

Ini bukan waktunya untuk takut pada Ryūen, tapi waktunya untuk mengambil keputusan sendiri.

“Jangan lakukan itu, Ishizaki.”

Nishino, yang telah berdiri di samping Ishizaki entah sejak kapan, yang menghentikannya.

“O-Oi, Nishino...?”

“Kita berjuang untuk menang. Persahabatan setengah hatimu hanya akan menciptakan kebingungan.”

“Tapi, tapi kan. Ibuki juga———”

“———Waktu sudah habis.”

Satu menit berlalu dan pada akhirnya tidak ada siswa yang muncul untuk mengatakan bahwa mereka akan melindungi Ibuki.

Tatapan mengejek dan tatapan kasihan dari Yobu dan teman-temannya, dan para siswa yang lega karena mereka bukan sasaran. Berbagai spekulasi berpotongan dalam keheningan.

“Ah, benar. Kalau begitu———”

Ibuki, yang hendak menjawab setengah putus asa, menghentikan kata-katanya sekali.

Dia tahu bahwa dia dirugikan dalam isu ini karena dia tidak memiliki satu pun teman yang baik.

Itu sebabnya dia mengatakan kepada orang-orang di sekitar sejak awal bahwa dia memilih tidak setuju.

Namun, karena sudah begini, dia harus melindungi dirinya sendiri.

“Kapau begitu, apa?”

Ryūen tetap diam sambil menunggu lanjutan dari kata-katanya.

“...Aku masih punya urusan yang belum diselesaikan di sekolah ini.”

“A?”

“Maaf, tapi aku tidak berniat memenuhi harapanmu. Bahkan jika seluruh kelas memilih setuju, aku akan tetap memilih tidak setuju. Jika kita tidak mendapatkan suara bulat, ujian khusus ini akan gagal.”

“Ha-Hā? Jadi kau berniat menyeret kelas ini demi dirimu sendiri?”

“Seperti itulah.”

Setelah bertekad, Ibuki menyatakan dirinya tidak setuju dan mengubah sikap.

“Yah, tentu saja akan jadi seperti itu. Yabu, pendapatmu untuk berganti ke setuju tidak buruk, tapi kau terlalu cepat menyebutkan nama. Jika kau benar-benar ingin menyingkirkan Ibuki, kau harus terlebih dahulu mendapatkan suara bulat setuju dan kemudian menyebutkan namanya.”

“Kuh...!”

Jika dia tahu dia akan dikeluarkan, tidak mungkin dia akan memilih setuju.

“Kalian harus memilih tidak setuju.”

Nishino merasakan ketidaknyamanan yang aneh saat Ryūen memberinya perintah itu.

“Untuk apa kau melakukan lelucon gila seperti yang barusan? Bukankah itu membuang-buang waktu?”

Nishino menunjukkan bahwa Yabu dan Ibuki bisa saja berhenti berdebat lebih awal, dan tidak perlu ada acungan tangan yang tidak berarti, karena jelas bahwa suara bulat untuk setuju akan menjadi sulit setelah nama individu disebutkan.

“Hanya caraku menghabiskan waktu. Lagipula kita punya banyak waktu yang tak terhitung.”

Tidak ada makna yang lebih dalam kata Ryūen, tapi veberapa siswa di kelas menyadari bahwa niat sebenarnya ada di tempat lain. Mereka mengerti bahwa tujuannya adalah untuk membuat Ibuki mengatakan bahwa dia tidak akan pernah memilih setuju dengan mengikuti usulan Yabu, yang tidak akan pernah lolos,.

Ini untuk secara tidak langsung menanamkan fakta bahwa suara bulat untuk setuju itu sulit dicapai.

Ini seperti pendekatan Ryūen yang murah hati dan terampil, dan ini juga seperti tindakan putus asa yang lahir dari ketidaksabarannya untuk keluar dari situasi ini.

Kemudian voting keenam berikutnya adalah 7 suara setuju untuk dan 33 suara tidak setuju. Voting ketujuh adalah 6 suara setuju dan 34 suara tidak setuju. Tampaknya jumlah suara yang setuju akan berkurang sedikit demi sedikit, tapi pada voting putaran kedelapan, jumlah suara kembali menjadi 7 suara setuju dan 33 suara tidak setuju. Tibalah waktunya voting kesembilan.


Hasil Voting Ke-9 : 7 Setuju | 33 Tidak Setuju


Suara setuju masih tetap ada.

Ini juga merupakan angka yang mewakili kekuatan kepemimpinan Ryūen saat ini.

Dalam voting putaran keenam hingga kesembilan, Ryūen tidak mengucapkan sepatah kata pun kecuali berulang kali duduk di podium selama 10 menit. Dia hanya terus mengamati dengan senyum menyeramkan.

Namun, situasi itu berubah dalam interval sebelum voting putaran kesepuluh dimulai.

“Oi.”

Ryūen yang telah tersenyum sampai sekarang, tiba-tiba menuju ke kelas dan memanggil singkat mereka.

Para siswa yang telah melakukan percakapan yang lebih seperti obrolan daripada diskusi, buru-buru menbenarkan postur mereka.

“Tidak bisakah kalian memilih tidak setuju sendirian tanpa aku harus memberi kalian perintah?”

Semua siswa terdiam pada keanehan yang jelas.

“Kalian pikir kalian tidak perlu terlalu takut pada suara setuju yang terkumpul, tapi jika kalian melihat suara itu tidak berarti, kalian salah.”

Bang, dia menendang bagian belakang podium dengan keras dengan tumitnya.

“Kalian sepertinya berpuas diri dengan anonimitas, tapi itu semua terlihat di wajah kalian loh, teman-teman. Aku sudah memiliki gambaran umum tentang apa yang kucari. Kalau kalian masih main-main... kalian mengerti, bukan?”


Hasil Voting Ke-10 : 6 Setuju | 34 Tidak Setuju


Karena kata-kata kuat Ryūen, 1 suara setuju pindah ke tidak setuju.

Namun, karena jumlah suara setuju pernah menjadi 6 dalam voting ketujuh, hasilnya dapat dikatakan bahwa ancaman itu praktis tidak ada efeknya.

Waktu yang terasa begitu berlimpah digunakan seperti sia-sia.

“......”

Jika diperhatikan, senyum sudah lama menghilang dari wajah Ryūen, dan digantikan oleh tatapan tegas.

“Orang-orang yang keras kepala. Aku mulai lelah berurusan dengan kalian.”

Mereka memiliki sekitar 4 jam tersisa batas waktu, tapi pada isu terakhir, lebih dari satu setengah jam telah berlalu.


Hasil Voting kesebelas : 7 Setuju | 33 Tidak Setuju


Jumlah suara setuju yang sudah berkurang, kembali menjadi 7 suara lagi.

“Bagaimana kau akan membuatnya tidak setuju jika terus seperti ini?”

Nishino yang tidak lagi berusaha menyembunyikan kekesalannya, bertanya pada Ryūen tentang kebijakannya.

“Benar. Kurasa sebaiknya kita selesaikan ini.”

“...Memangnya kau bisa?”

“Apa kau pikir aku duduk di sini menatap kalian tanpa tujuan? Kau menyadari ada satu suara ganjil dari putaran keenam sampai kesepuluh, bukan? Aku sedang membicarakan orang bodoh yang pusing, memilih setuju atau tidak setuju. Sekarang aku akan memberitahumu siapa orang itu.”

Ruang kelas menjadi tegang.

Biasanya tidak mungkin untuk mengungkap anonimitas total.

Tetapi———

“Itu kau, bukan? Yajima.”

“E-eh...!? Bu-Buka!”

Orang yang disebutkan namanya adalah Mariko Yajima.

Dia berdiri dengan panik untuk menyangkalnya, tapi dia jelas terkejut dan gelagatnya gelisah.

“Jangan harap aku percaya pada penyangkalanmu hanya karena kau anonim, oke? Jika aku berpikir begitu, maka kau pasti hitam. Kau mengerti maksudku, bukan?”

(Tln: Hitam = Orang yang dimaksud/dicari)

“Ti-Tidak mungkin———. Aku———!”

“Kalau ku bilang hitam, ya hitam. Kalau ku bilang putih, ya putih. Aku akan memberimu satu kesempatan saja karena menjadi yang pertama. Mulai sekarang, kau tidak memiliki hak untuk memilih setuju tanpa izin. Kau mengerti? Jika [Aku] menilai bahwa kau tidak mematuhinya, maka selamat, kau akan dikeluarkan.”

Ancaman yang tidak bisa disangkal. Bahkan jika dia terus memilih tidak setuju pada isu ini dan membawanya ke titik gagal dalam ujian khusus, dia akan dikeluarkan dengan cara keji dalam waktu yang tidak terlalu lama. Tidak perlu banyak waktu untuk membayangkan itu.

“Aku tidak mengatakan semuanya, tapi aku tahu siapa yang memilih setuju. Apakah dia idiot seperti Yajima yang tidak mengerti kecuali diberitahu secara langsung... aku akan menilainya di voting berikutnya.”

Dan begitu tibalah voting keduabelas.


Hasil Voting Ke-12 : 5 Setuju | 35 Tidak Setuju


Karena Yajima sepenuhnya bertekad untuk tidak setuju, tidak ada penambahan orang yang setuju.

Tapi, bahkan setelah sampai pada keadaan seperti peringatan terakhir, hanya berkurang 2 orang dari suara yang setuju dan menyisakan lima suara.

Sudah jelas bagi anggota kelas bahwa 5 suara ini tidak lagi membutuhkan ancaman apa pun.

“Lima, ya...”

Setelah menggumamkan ini, Ryūen memeriksa sisa waktu dan meninggalkan tempat duduknya lagi.

“Harus kuakui, kalian punya nyali. Tapi, aku masih tidak puas dengan itu. Jika kalian tidak mau menyerah, maka majulah. Yang kelima orang anonim ini inginkan adalah agar aku dikeluarkan. Jika itu masalahnya, kita harus membuat suara bulat setuju. Akan membosankan untuk mengakhiri ini dengan kehabisan waktu, bukan? Maka bergeraklah. Begitulah cara kita bisa bertarung dengan pijakan yang setara.”

Jika mereka tidak mencapai kebulatan suara pada salah satu pilihan, mereka tidak akan menyelesaikan ujian khusus ini.

Kecuali dia bisa mengidentifikasi siswa yang ingin setuju, itu hanya akan menghabiskan waktu.

Diperkirakan tidak ada pemilih setuju yang muncul dalam situasi ini, tapi———.

“Ya okelah, Ryūen. Kalau begitu aku akan maju... akulah yang memilih setuju.”

Di sini, akhirnya, salah satu anonim yang telah memilih setuju berdiri dengan kemauan yang kuat.

“Tokitō, kau brengsek! Apa kau tahu apa yang kau katakan?”

Saat Ishizaki melompat ke arahnya, Katsuragi meraih lengannya dan menghentikannya.

“Hentikan, Ishizaki. Kita ada di tengah ujian khusus, apa kau mau melakukan tindakan kekerasan di tempat seperti ini? Kalau kau macam-macam, Sakagami-sensei akan membatalkan ujian tanpa ampun, kan?”

“Pastinya. Jika itu terjadi, tentu saja, ujian khusus ini akan berakhir dengan kalian di diskualifikasi.”

“Kuh...!”

“Selain itu, meskipun Tokitō melaporkannya sendiri, itu tetap tidak menjamin bahwa itu benar.”

Bahkan jika kamu 99% yakin, tidak ada cara untuk membuatnya 100% karena itu anonim, kata Katsuragi. Sulit untuk menghapus kesan bahwa dia berpura-pura menyetujuinya saat memilih suara tidak setuju.

“Padahal ini fakta. Aku selalu berharap untuk ujian khusus seperti ini akan datang. Ujian khusus biasa tidak akan membantu, tapi saat isu ini muncul, aku terkejut loh... inilah satu-satunya saat aku bisa menyingkirkan Ryūen.”

“Kenapa kau baru maju sekarang, Tokitō...?”

“Karena aku dan Ryūen sudah melakukan kontak mata beberapa kali. Kau bisa menebak bahwa aku memilih setuju, bukan? Aku bisa saja maju lebih cepat, tapi menyenangkan melihat bagaimana jumlah orang yang setuju tidak berkurang, dan kau kebingungan.”

“Okelah, Tokitō. Sikap memberontakmu bukanlah hal baru. Sebaliknya, sejujurnya aku senang bahwa kau menyetujuinya.”

“Mau sampai kapan kau sok diatas angin? Kau tidak mampu untuk itu, ‘kan?”

“Ah. Tidak peduli berapa kali voting diulang, suara setuju tidak akan pernah hilang. Dengan kata lain, jika waktu habis, kelas kita akan kehilangan 300 poin, dan kita akan keluar dari pertarungan untuk Kelas A. Kurasa tidak berlebihan untuk mengatakan itu.”

“Benar. Bagaimanapun, kau adalah pemimpin kelas ini. Jika ujian khusus ternyata gagal, itu bukan salahku. Itu adalah salahmu. Dari awal, kau bisa dengan bebas mengontrol pilihan kami bahkan dalam ujian khusus ini. Kau bahkan tidak mendengarkan pendapat kami bahwa kita harus melawan kelas Ichinose, tapi malah memaksa kami untuk memilih kelas Sakayanagi sebagai lawannya. Tentu saja, kau bisa bertanggung jawab ketika kita kalah, bukan?”

“Jadi begitu. Jadi itu sebabnya kau memberontak di sini, tapi kau dengan patuh mengikuti perintah pada isu sebelumnya.”

“Itu untuk menunjukkan keseisi kelas bahwa mereka salah. Aku tidak ingin membuat kelas dalam masalah. Aku hanya tidak senang dengan kepemimpinanmu.”

“Tapi, inilah kesempatan untuk mengusir seseorang secara khusus. Kau sudah memutuskan untuk bertaruh pada itu, ya. Jadi? Apa yang paling kau inginkan untuk menunjukkan pemberontakan hebatmu?”

“Jika kau ingin aku, tidak, ingin kami memilih tidak setuju, kau harus mengundurkan diri sebagai pemimpin kelas sekarang. Kalau kau bersumpah di depan semua orang, kau mungkin akan mendapatkan lebih banyak suara tidak setuju.”

Tidak peduli seberapa besar dia membenci Ryūen, Tokitō tahu betapa sulitnya mendapatkan suara bulat setuju. Itu sebabnya dia menawarkan kompromi.

“Jangan lunak begitu, Tokitō. Apa kau tidak punya kepercayaan diri untuk mengeluarkanku?”

“Jangan membuatku tertawa. Jika suara bulat setuju, kaulah yang akan dikeluarkan dari sekolah, Ryūen.”

“Bolehkah aku menanyakan sesuatu, Tokitō-kun?”

Kaneda mengangkat tangannya sambil mengatur posisi kacamatanya.

“Memang benar jika ujian khusus itu gagal, masuk akal jika sebagian tanggung jawab ada pada pemimpin. Tapi, jika suara bulat menyetujui pengusiran, kamulah yang pasti akan dikeluarkan, bukan? Faktanya, banyak siswa terus memilih tidak setuju seperti yang diperintahkan.”

Meskipun menerima penjelasan dari Kaneda yang tenang tentang apa yang terjadi nantinya, Tokitō tidak tergerak sama sekali.

“Suara tidak setuju sekarang ini tidak ada artinya. Apa kau benar-benar berpikir bahwa semua orang yang tidak setuju menyerah pada Ryūen? Memang tidak banyak orang yang bisa membrontak terang-terangan. Tapi sekarang, ada 4 suara lagi selain suaraku yang setuju. Meskipun dia berulang kali mengatakan kepada kita untuk memilih tidak setuju, masih ada 4 suara yang tersisa. Itulah berapa banyak orang dengan keinginan yang kuat yang berharap kau dikeluarkan!”

“Dibandingkan dengan Yabu dan Morofuji, kau sepertinya memiliki lebih banyak akal, ya, Tokitō.”

Setelah terkesan dan bertepuk tangan, Ryūen melanjutkan.

“Kalau begitu jangan menahan diri. Kenapa kau dan aku tidak bertarung satu lawan satu? Tokitō.”

“Apa?”

“Semua 35 suara, termasuk milikku yang terus tidak setuju, akan memilih setuju. Kemudian, seperti yang Kaneda katakan, mereka akan mulai memilih siapa yang akan dikeluarkan. Dengan itu sisanya mudah, kau dan aku akan melakukan perang suara.”

Jika siswa lain itu tidak akan menjadi target voting, maka mereka tidak perlu takut dengan suara bulat setuju.

“Apa kau yakin? Kalau kau menghapus pilihan tidak setuju di sini, pastinya akan ada siswa yang dikeluarkan. Tidak mungkin kau bisa selamat dari ini, Ryūen.”

Itu adalah cara belas kasihan Tokitō sendiri dengan tetap membuka kemungkinan suara bulat tidak setuju.

“Tidak ada yang ingin kehabisan waktu. Maka aku akan membuat suara bulat dalam pertarungan antara kau dan aku. Itu akan lebih menarik untuk kelas, bukan?”

Tidak mungkin dia akan menerima usulan Tokitō, jadi Ryūen meminta suara bulat untuk setuju.

“Manusia itu egois. Mereka bahkan tidak bisa maju untuk memuaskan diri mereka, tapi jika dengan cara ini kau atau aku dikeluarkan, mereka akan menutup mata. Mereka akan dengan senang hati memilih jika mereka dijanjikan dengan hadiah 100 poin tambahan.”

“Kau pikir mereka yang memilih setuju sekarang akan setuju untuk mengeluarkanku?”

“Yah, aku tidak yakin. Kalau kau mencium sesuatu yang berbahaya, kau bisa memilih tidak setuju, loh?”

“Bangsat! Bukan aku yang akan dikeluarkan, tapi kau, Ryūen!”

“Begitu, ya. Lalu, bagaimana kalau kita putuskan pertarungannya dengan satu lawan satu saja?”

4 suara anonim yang tersisa dan para siswa yang membenci Ryūen tapi tidak punya pilihan selain terus memilih tidak setuju. Tokitō yakin bahwa jika mereka mengulang voting untuk mengeluarkan Ryūen Kakeru beberapa kali, jumlah suara yang setuju akan bertambah seiring dengan waktu yang tersisa.

“Okelah, kalau kau memaksa———”

Saat Tokitō hendak menerima tawaran itu setelah diprovokasi, suara ketukan di meja bergema di udara.

“Tunggu, Ryūen. Bisakah kau beri Tokitō sedikit waktu?”

Pemilik suara itu adalah Katsuragi. Dia buru-buru berdiri dan memanggil Ryūen.

“A? Apa maumu, Katsuragi? Aku tidak ingat pernah memberimu hak untuk berbicara?”

“Aku tidak akan membiarkan hakku untuk berbicara diambil.”

Saat diperintahkan untuk diam, Katsuragi menjawab tanpa ragu dan menoleh ke Tokitō.

“Seperti katamu, tidak salah untuk berpikir bahwa selama jumlah mereka yang tidak mematuhi Ryūen tidak mencapai nol, kamu aman. Namun, apa yang dikatakan Ryūen juga benar. Jika kita mengadakan voting yang menentukan dengan batasan bahwa Ryūen atau kamu akan dikeluarkan, emosi siswa akan sangat terpengaruh dengan waktu yang tersisa. Jika ini terjadi, siapa pun yang bisa menguasai mayoritas suara, yaitu Ryūen, akan mendapat keuntungan yang luar biasa.”

“Sudah kubilang. Jangan memutuskan superioritas hanya karena itu, Katsuragi. Yang benar adalah bahwa sebagian besar kelas tidak menyambut Ryūen. Mereka hanya frustrasi karena mereka ditahan dengan paksa. Seiring berjalannya waktu, pasti akan semakin banyak orang yang berhenti membelanya. Bahkan jika itu adalah Ishizaki si anjing.”

“Apa katamu?”

“Kau juga pernah bertarung melawan Ryūen, ‘kan? Ingatlah semangat pemberontak itu.”

“Ah, itu———”

Dalam insiden di atap tahun lalu, ketika mereka mencoba mengakhiri perselisihan dengan Ayanokōi, Ishizaki telah mengalahkan Ryūen dan untuk sementara menguasai kelas. Tokitō mengutip kejadian itu.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi saat itu, tapi kau pikir kau akan menang pada akhirnya, ‘kan?”

“Ah, ya.”

“Lalu aku akan bertanya padamu. Jika Ryūen dikeluarkan dari sekolah, lalu siapa yang akan mengatur kelas ini setelah itu?”

“Kita bisa mendiskusikannya atau apapun yang kita mau. Tapi, bukan orang luar sepertimu, Katsuragi.”

“Memang benar bahwa sebagai orang luar, mungkin aku bukan pilihan. Tapi juga benar jika kamu tidak bisa menunjukan pemimpin berikutnya yang jelas, keputusan itu tidak akan meyakinkan. Kita tidak akan bisa mengejar dan menyusul Sakayanagi.”

Katsuragi terus melihat gambaran besar situasinya dan mencoba membujuknya, tapi Tokitō tidak berhenti.

“Berisik. ...Terus kenapa? Jika aku tidak siap untuk menikam orang ini dari belakang, aku tidak akan pernah maju dari awal.”

“Kukuku, dari awal? Demi itu sepertinya kau sudah menunggu cukup lama.”

“...Berisik!”

“Yah, kau tidak bisa melakukan apa pun kecuali ada beberapa orang yang berpikiran sama denganmu.”

Tokitō bergerak hanya karena dia bisa memastikan bahwa ada beberapa suara yang tidak mengikuti Ryūen.

“Tolong, Ryūen. Beri Tokitō kesempatan.”

Menanggapi kata-kata Katsuragi yang terlihat hanya sebagai keuntungan Ryūen, Ryūen menjentikkan jarinya sekali.

“Okelah. Tokitō, aku akan memberimu kesempatan. Suara berikutnya sepenuhnya tergantung pada suaramu. Jika kamu memilih setuju, maka kamu akan dikeluarkan.”

“Ha... ucapanmu memuakan. Apa kau pikir kau bisa mengeluarkanku?”

“Ya. Di voting berikutnya, semua kecuali suaramu akan memilih tidak setuju. Jadi kita memiliki 1 setuju dan 39 tidak setuju. Dengan kata lain, jika kau memilih tidak setuju, suaranya akan bulat dan isu ini selesai.”

“Oi, sejak kapan 4 suara setuju kecuali aku hilang?

“Kuku... selama interval ini, aku mengubah 4 suara itu.”

“Jangan konyol, tidak mungkin kau bisa melakukan itu.”

Selain tetap keras kepala untuk setuju sampai saat ini, Ryūen telah menghabiskan sebagian besar interval ini berbicara dengan Tokitō. Tidak ada gelagat sedang mengubahnya.

“Kalau begitu coba saja. Pilihlah setuju seperti sebelumnya, dan kau akan mengetahui jawabannya.”

Ada kurang dari satu menit tersisa di interval, yang terus berjalan.

Meskipun ruangan ber-AC dijaga pada suhu yang nyaman, punggung Tokitō mulai berkeringat. Ancaman belaka, gertakan. Dia tidak berpikir ada yang berubah dalam interval ini. Namun, bagaimana jika suara setuju selain dirinya benar-benar berubah menjadi suara tidak setuju? Itu akan menunjukkan bahwa siswa selain Tokitō bersama Ryūen. Dia bisa mengambil tindakan defensif yang sama seperti Ibuki dengan melarikan diri untuk memilih tidak setuju sebelum suaranya bulat setuju, tapi Tokitō tidak bisa memilih pilihan itu karena itu akan mengungkap aib. Bagaimanapun, voting yang menentukan dengan Ryūen tidak bisa dihindari.

Ketika itu terjadi, itu akan menjadi penentu bahwa Tokitō sendiri akan dikalahkan.

“Kau sudah siap untuk dikeluarkan, bukan? Jangan ragu untuk memilih setuju.”

“...Kau tidak perlu memberitahuku.”

Akhirnya tibalah waktu voting. Tokitō dengan berani memberika suara setuju.

“Baiklah, aku akan menampilkan hasil votingnya.”

Hasilnya ditampilkan di monitor bersamaan dengan pengumuman Sakagami.


Hasil Voting Ke-13 : 2 Setuju | 38 Tidak Setuju


“!”

Ketika Tokitō melihat hasil ini, jantungnya pasti berdetak lebih kencang dari orang lain.

Itu karena, seperti yang dikatakan, semua kecuali 1 dari 4 suara yang tersisa berubah tidak setuju.

“Ha, memang, kau membuatku takut.... Tapi hei, ini berarti ada siswa lain yang berkeinginan keras sepertiku! Orang yang tidak menyerah bahkan setelah diancam sampai sejauh ini!”

Dia berteriak dan mengaum seolah-olah menyatakan dirinya sebagai pemenang.

Namun, Ryūen bahkan tidak melihat ke arah Tokitō, dia melihat siswa yang sama sekali berbeda.

“Apa yang kau lakukan? Kau memilih setuju, ‘kan? Katsuragi.”

“Apa...?”

Tokitō terkejut dengan nama orang yang tidak dia duga.

“Ya. Jika aku memilih tidak setuju, itu akan menjadi voting yang menentukan, dengan 1 suara setuju dan 39 tidak setuju, seperti yang kamu nyatakan. Jika itu terjadi, mustahil bisa lulus ujian ini kecuali mengeluarkan salah satu dari kalian.”

“Begitulah seharusnya. Tergantung jawabannya, kau pun akan bebas dari hukuman.”

“Ada satu alasan. Karena menurutku Tokitō adalah siswa yang dibutuhkan di kelas. Tidak, bukan hanya Tokitō. Aku adalah orang luar yang datang ke sini dari kelas A. Itu sebabnya aku melihat kelas ini dengan mata objektif. Sebagai hasilnya, aku menjadi mengerti bahwa tidak ada yang namanya siswa yang tidak diperlukan.”

“Siswa yang tidak mematuhi perintah seperti Tokitō, kau bilang diperlukan?”

“Ya. Sebaliknya, aku menganggapnya sebagai aset yang berharga. Dia adalah orang yang bisa tidak setuju denganmu tanpa ragu-ragu, sama sepertiku, atau bahkan lebih dariku. Tentu saja, cara dia melakukannya dalam ujian khusus ini salah. Aku hanya tidak suka cara dia menempatkan kelas dalam bahaya hanya untuk menyeret Ryūen turun.”

Katsuragi melemparkan pandangan dan kata pada Tokitō dan juga Ryūen.

“Jika kamu tidak menyukai kenyataan bahwa Ryūen adalah pemimpinnya, tuntut dia secara adil dan jujur dengan cara yang tidak melibatkan orang lain. Jika klaim itu benar, aku akan mendukungmu tanpa ragu-ragu.”

“Katsuragi... kau brengsek...”

“Jika kamu jatuh dalam strategi Ryūen di sini dan dikeluarkan, kamu akan berakhir tidak melakukan apa-apa. Artinya keberadaan seorang siswa bernama Hiroya Tokitō akan bearkhir tanpa pernah diingat oleh Ryūen di masa depan.”

“Ta-Tapi sampai sebelumnya, ada 4 suara———”

Keberadaan bala bantuan tak terlihat yang telah mendorong Tokitō sejauh ini.

Itu juga menjadi sumber inspirasinya.

“Sejak awal tidak ada yang seperti itu. Itu hanya ilusi.”

“Ilusi, katamu...?”

“Atau lebih tepatnya, mereka disingkirkan dalam voting berulang. Ada 5 suara yang setuju yang tersisa setelah Yajima disebutkan. Mereka yang memilihnya adalah kamu, Tokitō, dan...”

Katsuragi berputar, perlahan-lahan menggerakkan pandangannya dan menunjuk.

“Shīna, Yamada, lalu aku dan... Ryūen.”

Dengan jawaban itu, Tokitō, dan tidak ada teman sekelasnya yang bisa mengerti.

“...Apa yang kau bicarakan... kau bilang Ryūen juga memilih setuju...?”

“Ketika yang setuju menjadi 5 suara, hanya ada 1 pemilih anonim yang tersisa. Namun, itu semua hilang ketika kamu maju.”

“Jadi selama interval ini, Ryūen menertawakanku di dalam hatinya... itu memalukan.”

“Tidak juga. Memang benar tujuannya adalah untuk mengungkap siapa yang setuju, tapi itu sudah tidak ada ketika kamu maju. Dia bisa saja membawanya ke voting tanpa repot-repot menantangmu. Karena dengan begitu, suara secara alami akan menjadi bulat setuju, dan voting berikutnya adalah mengeluarkanmu.”

“Makanya, dia hanya bermain permainan kata untuk menghinaku, ‘kan!”

“Tidak begitu. Dia memberimu kemungkinan untuk tidak dikeluarkan.”

“Ap ———...!?”

“Tapi kamu tidak menyadari kemungkinan itu dan terus tancap gas. Secara tidak langsung, kamu mungkin tidak berpikir bahwa Ryūen memberimu kesempatan.”

“A-Aku...!”

“Tapi tidak peduli berapa kali kamu diberitahu, jika kamu tidak mendengarkan, itu saja. Ini akan menyita waktu, tapi bisakah kamu memberi Tokitō 1 kesempatan terakhir? Aku ingin dia memilih tidak setuju hanya sekali lagi sebelum kita semua memilih setuju.”

“Memberinya kesempatan lagi? Aku tidak senaif itu, loh?”

“Kau juga bersalah. Dia telah mengabaikan benang keselamatan karena kau terlalu provokatif. Sekarang setelah semuanya jelas, Tokitō akhirnya akan diberi pilihan.”

“Dan jika dia tidak mendengarkan, kau tidak akan keberatan dengan pengusirannya, ‘kan?”

“Ya, aku tidak keberatan. Lakukan sesukamu.”

Katsuragi menutup matanya dan menyilangkan tangannya. Tokitō menyerahkannya pada dirinya sendiri untuk mengurus dirinya sendiri.

Jika dia memilih setuju, dia 100% akan dikeluarkan.

Di sisi lain, jika dia memilih tidak setuju, itu akan menjadi suara bulat dan pengusiran dapat dihindari.

Namun untuk memilih tidak setuju berarti sama saja dengan menyerah pada Ryūen.

Itu akan sangat melukai harga diri Tokitō.

“Baiklah, kita akan mulai waktu voting 60 detik.”

Dengan kata-kata Sakagami, hitungan mundur dimulai.

39 orang tidak termasuk Tokitō telah menyelesaikan voting mereka dalam batas waktu, tapi hitung mundur masih belum berhenti.

Sakagami mengangkat wajahnya sekali dan melirik Tokitō.

“Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, waktu hukuman terakumulasi setelah 60 detik.”

Tokitō melihat ke bawah dan menatap bergantian pada tulisan setuju dan tidak setuju yang ditampilkan di tablet.

“Asu.... asu.”

Itu seharusnya menjadi serangan balik besar-besaran. Tapi di tengah jalan, dia menemukan dirinya sendiri.

Semua yang dia lakukan hanyalah menari di telapak tangan Ryūen.

Dia merasa frustrasi, malu, dan menyedihkan.

Berbagai emosi negatif mengelilingi pikiran Tokitō dan dia tidak bisa melepaskannya.

Kebanggaan terlihat dari wajahnya, seolah-olah dia tidak akan menyerah pada Ryūen di tempat seperti itu.

Jatuh dengan anggun. Tidak, atau dia bisa dengan sengaja memberikan suara setuju untuk mengulur waktu. Jika dia terus memberikan suara kebalikan dari 39 orang, dia mungkin bisa membuat isu ini gagal.

Dia sendiri tidak dikeluarkan, dan mengakhiri ujian khusus kegagalan———.

Ide itu terlintas di benaknya, Tokitō menggelengkan kepalanya.

Tidak ada yang bisa diperoleh dengan melakukan hal seperti itu untuk bersaing dengan Ryūen.

Itu menyebabkan banyak masalah bagi teman-teman sekelasnya dan hanya membuatnya lebih dijauhi daripada Ryūen.

Bukan itu yang Tokitō inginkan.

“Asu———lah!”

Mengangkat tangannya secara dramatis, Tokitō menyentuh tombol voting.

“———Semua orang sudah selesai voting. Baiklah, aku akan mengumumkan hasilnya.”

Sakagami menarik napas dan mengoperasikan tablet untuk menunjukkan hasilnya di monitor.


Hasil Voting Ke-14 : 0 Setuju | 40 Tidak Setuju


“Karena suara bulat, konten isu ini ditolak. Dengan ini ujian khusus selesai.”

Kelas Ryūen yang diperkirakan ada kemungkinan kuat bahwa ada siswa yang akan dikeluarkan, dipastikan bahwa semua orang akan tetap tinggal.

“Tokitō, kau———”

Ishizaki berbalik dan berbicara kepada Tokitō, yang matanya tertunduk.

“...Jangan salah paham, Ryūen, aku tidak setuju dengan metodemu. Kalau aku menilai bahwa kau telah melakukan sesuatu untuk mencegah kelas kita naik ke Kelas A, aku akan melenyapkanmu lagi dan lagi.”

“Datanglah padaku kapan saja. Dan pada saat itu, aku akan berurusan denganmu tanpa ampun.”

“Fun...”

Sulit untuk tetap berada di tempat ini, Tokitō dengan cepat meninggalkan kelas.

Setelah melihat itu, Katsuragi berjalan ke sisi Ryūen.

“Kau melakukan sesuatu yang tidak perlu, Katsuragi. Aku menyambut orang-orang dikeluarkan, loh?”

“Separuhnya, kurasa. Tapi separuh lainnya sedang menjajaki kemungkinan bahwa itu tidak terjadi, bukan?”

“Jangan konyol, apakah aku terlihat senaif itu?”

“Aku tidak tahu apakah itu naif atau tidak, tapi jika tujuanmu adalah untuk sepenuhnya mengontrol suara, penting untuk menarik siswa yang setia kepadamu tanpa melakukan sesuatu yang tidak perlu. Tapi, setelah voting kedua, kamu memberikan instruksi kepada Shīna, yang merupakan target utama, sambil berbisik kepada siswa secara acak. Karena jika kamu hanya berbisik kepada siswa tertentu, dia akan berpikir kau sedang merencanakan semacam strategi. Kemudian, melalui Shīna, mengumpulkan teman-teman yang akan memilih setuju palsu dalam diskusi berulang. Dan aku termasuk dalam kelompok itu. Alasannya adalah mungkin karena dia meramalkan aku akan melindungi Tokitō?”

“Kau melindungi Tokitō? Dari mana informasi itu berasal?”

“Shīna mendengar aku dan Tokitō membicarakan tentangmu. Aku tidak akan terkejut jika dia tahu setelah menerima informasi itu.”

“Aku hanya selektif dalam mencari orang yang akan memilih setuju untuk menyesatkannya dengan suara setuju palsu. Tentu saja, itu untuk mengeluarkannya dan mendapatkan poin kelas. Usaha yang bagus.”

Setelah Ryūen terlambat meninggalkan kelas, Katsuragi menoleh ke tatapan yang sedang melihat mereka.

Sejujurnya dia terkesan melihat Shīna tersenyum lembut padanya.

“Jadi pemilihanku bisa jadi merupakan keputusan Shīna sendiri...”

Tapi bagaimanapun, itu tidak mengubah fakta kalau Ryūen menyiapkan benang untuk membantu Tokitō, dan kemudian memberinya kesempatan. Katsuragi yakin ketika dia melihat para siswa lega karena tidak ada yang dikeluarkan.

Dia yakin bawah kelas ini memiliki potensi untuk mengalahkan Sakayanagi dan menjadi Kelas A.

Dan keinginannya sendiri untuk menempuh jalan itu dengan kelas ini.

Related Posts

Related Posts

1 comment

  1. Permainan psikologis ryuen jadi lebih keren njir dibandingkan dulu sebelum kalah sama ayano

    ReplyDelete