-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 5 Bab 7 Part 2 Indonesia

Bab 7
Pilihan Horikita Suzune


2


Sementara satu demi satu, siswa mulai setuju dengan pengusiran Kushida, seorang siswa berdiri.

“Jangan melangkah lebih jauh, Kushida-san. Kamu tidak akan bisa kembali lagi.”

“Hah? Akhirnya kita sampai pada bagian yang menarik. Jangan menyelaku, Horikita-san.”

“Aku tidak bisa membiarkanmu. Aku tidak bisa mendengarkan keburukan ini lagi.”

“Apakah kebenaran tentangku benar-benar seburuk itu?”

Mungkin menganggapnya sebagai pujian, Kushida menatap Horikita dengan wajah paling bersemangat hari itu.

“Itu benar. Setidaknya aku tidak berpikir rahasia ini enak untuk didengar. Tapi bukan hanya kamu yang menurutku buruk. Hal yang sama berlaku untuk mereka yang sekarang menuntutmu untuk dikeluarkan karena membocorkan rahasia mereka.”

Teman-teman sekelas mau tidak mau mengangkat suara mereka sebagai tanggapan atas teguran yang tak terduga.

“Kenapa kami juga!? Kami tidak melakukan kesalahan apa pun!”

“Kalian memberitahukan rahasia yang kalian tidak ingin orang lain tahu pada Kushida-san. Apa alasannya?”

“I-Itu karena kupikir aku bisa mempercayai Kushida-san! Tapi malah...”

“Begitu. Kushida-san dipercaya lebih dari siapa pun di kelas. Biasanya, tidak mudah untuk mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Terlebih lagi, aku yakin hanya ada segelintir orang dalam hidup yang bisa diajak berbagi rahasia yang tidak dapat kita ceritakan kepada orang lain. Tentu saja, aku tidak memuji Kushida-san karena membocorkan rahasia itu. Bisa dimengerti kalau kalian terkejut mengetahui dia memiliki sisi tersembunyi. Tapi, setiap orang juga memiliki dua sisi, bukan?”

Seseorang yang hidup tanpa kebohongan pada diri sendiri adalah orang yang sangat langka.

“Ta-Tapi bukankah masalahnya di sini adalah dia terus memilih setuju? Itu tidak bisa dimaafkan, bukan?”

“Itu benar. Untuk mengeluarkanku atau Ayanokōji-kun, dia membuat pilihan yang sangat egois. Dia harus merasakan tanggung jawab yang berat. Tapi daripada membuatnya menebusnya dengan mengeluarkannya, kita bisa memanfaatkan keterampilannya untuk membayarnya berkali-kali lipat di masa depan.”

Apa yang Horikita coba katakan di sini akan dipahami oleh teman-teman sekelasnya.

“Apa mungkin kau mau bilang kalau kau tidak akan mengeluarkan Kushida-san?”

“Itu benar. Aku———ingin Kushida-san tetap di kelas ini.”

“Hah? Tepat ketika kupikir kau menyela percakapan, apa yang kau bicarakan?”

Pilihannya adalah tidak mengeluarkan Kushida dari sekolah. Kushida sendirilah yang pertama kali keberatan dengan hal ini.

“Kenapa kamu membela orang sepertiku? Kau tidak mungkin memilih anak lain dari sini, ‘kan? Atau apakah kau hanya ingin menikmati menyiksaku sampai mati? Kau punya selera yang bagus, sumpah.”

“Sayangnya aku tidak terlalu suka bercanda. Aku serius.”

“Jika kau serius, aku akan membuatmu berubah pikiran. Mari kita mulai lagi kelanjutkan neraka.”

“Aku melihat pemandangan tadi dan itu tidak terlihat seperti [neraka] bagiku.”

“...Heh. Lalu terlihat seperti apa itu menurutmu? Katakan padaku.”

“Itu hanya terlihat tolol, konyol, dan perilaku tercela. Kau hanya tampak seperti orang bodoh.”

“Ha?”

“Memang benar bahwa kamu bisa belajar lebih baik daripada kebanyakan orang. Tapi otakmu sangat buruk di bagian yang mendasar. Di awali dari selama masih di SMP, teman sekelasmu mengetahui sifat aslimu, jadi kau menghancurkan kelasmu dengan mengungkapkan rahasia mereka, bukan? Kau datang ke sekolah ini untuk merenungkan penyesalan itu, tapi sayangnya kamu bertemu lagi denganku yang satu SMP denganmu. Dan begitu awal masuk sekolah, Ayanokōji-kun melihat wajah aslimu? Itu membuatku tertawa. Bukan hanya itu, dia bahkan tidak tertarik dengan masa lalumu, tapi kau seenaknya memutuskan bahwa kau tidak tahan dengan keberadaannya dan terus bersikeras mengeluarkannya dengan menceritakan setiap detailnya. Terlebih lagi, kau bermaksud mengambil keuntungan dari kesepakatan dengan Ayanokōji-kun, tapi itu akhirnya digunakan untuk melawanmu. Dan beginikah akhirnya? Kau terlalu terobsesi untuk memilih setuju mengeluarkan seseorang sehingga kau kehilangan pijakan.”

Horikita menghinanya dengan tidak tanggung-tanggung dan menghela nafas.

Ekspresi wajah Kushida yang tadinya tersenyum dan tertawa dengan senyuman vulgar, telah berubah menjadi Hannya yang marah.

(Tln: ‘Hanya’ itu topeng, mewakili kemarahan dan kecemburuan wanita)

“Kau bahkan tidak tahu bagaimana perasaanku, jadi jangan asal bicara!! Aku ingin menjadi yang nomor satu! Bahkan jika itu berarti harus diliputi oleh stres, aku ingin membenamkan diri dalam kesenangan! Apa salahnya mencoba menyingkirkanmu yang menghalangi jalanku untuk itu!”

“Kau bilang aku tidak tahu bagaimana perasaanmu? Bagaimana aku bisa tahu. Kau hanya terus fokus pada mendengarkan dan mengumpulkan masalah orang lain. Kau tidak bisa menemukan siapa pun untuk diajak bicara agar perasaanmu diketahui.”

Kushida menggenggam tangannya. Kekuatannya begitu kuat sehingga pembuluh darah tampak menonjol.

“Kepribadianmu sedikit bermasalah, tapi aku pun sama. Tapi kamu jauh lebih pekerja keras daripada aku.”

“Jangan berbohong untuk menertawaiku. Kau mengatakan semua itu untuk membuatku kesal, bukan?”

“Bohong apanya aku hanya mengatakan kebenaran yang sangat kau sukai kok. Sejujurnya aku mengagumi dan iri dengan usaha dan bakatmu untuk dekat dengan begitu banyak orang, baik pria maupun wanita.”

Mendengar itu, para siswa yang kesal dengan Kushida, membantahnya.

“Baru saja kami dilecehkan oleh Kushida-san, apa hebatnya itu!?”

“Berpura-pura baik. Memainkan karakter orang baik. Dan kalian pikir itu mengerikan? Itulah hanya disebut tanpa berpikir. Pikirkan lagi betapa sulitnya menjadi baik hati. Apakah kalian memiliki bakat untuk tersenyum pada semua orang, untuk menjangkau semua orang, untuk menasihati siapa pun?”

Betapa banyak stres yang harus dia hadapi setiap hari dan seberapa banyak dia harus berurusan dengan teman-temannya.

Banyak yang ingin menjadi seperti Kushida, tetapi mereka mengerti bahwa mereka tidak mungkin bisa.

Mendengarkan cerita orang lain yang tidak penting, dan tidak mungkin bagi orang biasa untuk terus melalui semua ini saja.

Dia mendukung banyak orang dari bayang-bayang dengan terus memasang senyum lembut di wajahnya.

“Hentikan. Sudah hentikan. Aku tidak ingin mendengar omong kosong itu lagi darimu.”

“Kenapa? Karena kau pandai membaca hati orang, kau pasti tahu, ‘kan? Aku tidak berniat mengolok-olokmu, atau menghinamu, tapi aku sangat menghargaimu.”

Horikita mencegah siswa yang hendak membantah ucapannya sebelum mereka sempat membuka mulut.

“Kau memiliki bakat yang tidak dimiliki orang lain, dan mengeluarkanmu akan menjadi kerugian besar bagi kelas.”

“Tutup mulutmu!”

“Karena itulah aku tidak setuju untuk mengeluarkan Kushida-san. Aku akan bertaruh pada diriku sendiri dan melakukan yang terbaik untuk memanfaatkan kekuatannya. Tidak, aku pasti akan memanfaatkannya sebaik mungkin.”

“Aku menyuruhmu untuk tutup mulut, bukan!!”

“Tidak bisa dimengerti, ya. Baru setelah mengetahui segalanya tentangmu, aku memberikan penilaian tinggi padamu.”

Jika dipikir-pikir, entah kenapa Kushida sendiri yang menceritakan secara rinci tentang masa lalu yang ingin dia tutupi tanpa menyembunyikannya.

Mungkin itu bukan tindakan untuk membuat dirinya dikeluarkan, tapi karena jauh di lubuk hatinya dia ingin kami tahu segalanya dan dia benar-benar ingin membagikannya.

Air bata besar mengambang di wajah Kushida.

Dan seperti anak kecil, dia menangis tanpa bertukar kata atau menyembunyikan rasa frustrasinya.

Sial, sial, sial, sial. Dia mengulangi kata-kata seperti itu tanpa penyesalan.

Kurasa itu bisa dimengerti. Siapapun yang mengetahui sifat asli Kushida akan menjauh. Bahkan mereka sudah menjauh.

Namun entah kenapa, Horikita yang selama ini menjaga jarak darinya, menutup jarak dengan Kushida.

Tidak mungkin Kushida memiliki pemikiran seperti itu di benaknya.

Horikita yang sangat dia benci adalah orang pertama yang bisa memahaminya. Masih dipertanyakan apakah dia bisa menerima ini, tapi itu pasti membawa perubahan dalam diri Kushida.

Aku telah memutuskan bahwa tidak mungkin untuk menaklukan Kushida, jadi aku menyusun rencana untuk melenyapkannya.

Di sisi lain, Horikita memutuskan untuk melindunginya, bukan melenyapkannya.

Namun dalam hal ini, tidak dapat dihindari bahwa masalah berikutnya akan muncul.

“Maaf menyela diskusi kalian, tapi ini hampir akhir interval. Apa yang akan kalian lakukan?”

Apa yang akan kami lakukan, tentu saja, adalah mencalonkan diri atau membuat rekomendasi dengan pengambilan suara siapa yang akan dipilih.

“Tidak ada cukup waktu, ya. Siapa pun yang saat ini merekomendasikan Kushida-san, silahkan ganti pilih aku. Akan kujelaskan nanti.”

Dia meminta teman sekelas merekomendasikannya karena dia sudah menggunakan pencalonannya yang hanya bisa satu kali.

“Ja-Jangan bercanda! Kalian akan mengeluarkanku, bukan! Cepat rekomendasikan aku dan pilih aku!”

“Aku tidak bercanda sama sekali. Aku kasih tahu ya, kamulah yang menciptakan situasi ini dan kamu akan bertanggung jawab untuk itu sampai akhir. Juga, aku tidak akan menerima kamu dikeluarkan karena hukuman. Dengan itu aku akan mengejekmu selama sisa hidupmu. Aku akan menjadikanmu bahan tertawaan selamanya.”

Aku yakin beberapa siswa bertanya-tanya siapa yang akan direkomendasikan pada akhirnya, tapi bukan itu intinya.

“Waktunya habis. Voting sekarang akan dimulai dengan target Horikita, yang rekomendasinya mendapat suara mayoritas.”

Meskipun Kushida dipilih berdasarkan rekomendasi, itu tidak akan ada artinya selama Horikita memilih tidak setuju. Voting untuk setuju dan tidak setuju terhadap pengusiran Horikita akan dilakukan, tapi tentu saja tidak dengan suara bulat setuju. Provokasi murahan itu pasti cukup efektif untuk Kushida. Voting selesai dalam waktu 60 detik untuk semua orang.


Hasil Voting ke-20 : 1 Setuju | 37 Tidak Setuju


“Sekarang kita sudah dalam interval, jadi aku akan mengatakannya lagi. Aku menyatakan penolakanku terhadap pengusiran Kushida-san.”

Kushida mengomel dengan kata-kata yang tak terucapkan, tapi Horikita tidak lagi memperhatikannya.

Itu melukai harga diri Kushida lagi, dan sebaliknya, berhasil membungkamnya.

Karena jika dia menjadi target pengusiran lagi di sini, dia tidak akan punya cara untuk melawan Horikita.

Namun, ini tidak terduga. Bahwa dia akan memaksa siapa pun itu untuk menyerah.

Bagian dalam kepalaku memanas.

Ini bukan sekedar jawaban main-main seperti hanya ingin melindungi Kushida.

Dia bilang bahwa dia yakin bisa memanfaatkan banyak kekuatannya melebihi kelemahan utamanya.

Jadi, Horikita meletakkan kakinya di atas panggung satu langkah lebih tinggi dari yang kuharapkan.

Tentu saja, bukan berarti tidak ada bahan untuk diperdebatkan dari sini.

Ada banyak siswa yang rela mengeluarkan Kushida, yang saat ini didorong hingga ke kejahatan mutlak.

Bukan berarti aku tidak bisa memaksakannya, tapi sulit untuk berasumsi bahwa Horikita akan nurut begitu saja setelah dia mengangkat tangan. Dalam beberapa kasus, tidak dapat disangkal kemungkinan waktu habis dan memaksa pilihan untuk menjaga jumlah pengusiran tetap nol. Maaf, tapi itu tidak bisa diterima.

“'Tapi Horikita-san. Melindungi Kushida-san berarti memilih untuk menghabiskan waktu, bukan?”

Yōsuke bertanya tentang poin yang perlu dikonfirmasi sekarang juga.

“Aku tahu bahwa melindungi Kushida-san bukanlah akhir dari segalanya. Aku sudah menemukan jawabanku sendiri.”

Jangan bilang———tidak, jadi begitu ya, Horikita.

“Kita tidak boleh gagal dalam ujian khusus ini. Dan mengeluarkan siswa adalah syarat mutlak.”

Artinya dia tidak hanya siap untuk menyelamatkan Kushida, tapi juga siap untuk menebas orang lain pada saat yang sama.

Sambil merasakan pertumbuhan Horikita yang solid, aku mengambil tindakan sebelum dia berucap.

Horikita tidak perlu mengambil peran kejam dengan mengucapkan [restrukturisasi] di sini sekarang.

“Tunggu sebentar.”

Aku dengan paksa menyela upaya Horikita untuk melanjutkan.

Tidak peduli seberapa dibenarkan itu, mengadili di sini membutuhkan beban mental yang kuat.

Masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa itu juga merupakan pengalaman, tapi itu terlalu berlebihan untuk Horikita saat ini.

Di atas segalanya, jika dia membuat satu kesalahan saja, suka atau tidak suka kami akan kehabisan waktu.

Hanya aku yang bisa membuat pengusiran dengan suara bulat.

Tunggu, jangan. Mata yang seperti mengatakan itu menatapku. Dengan itu aku mengerti.

Jelas bahwa orang yang aku dan Horikita pikirkan adalah orang yang sama.

“Kushida, satu-satunya yang terus memilih setuju, adalah siswa yang pantas dikeluarkan. Namun, seperti yang dikatakan Horikita, dia masih siswa yang berbakat. Dalam hal ini, kita harus memikirkan pendekatan lain.”

“Tu-Tunggu, Ayanokōji. Semua orang di kelas pilih setuju karena mereka tahu mereka bukan pengkhianat, loh? Apakah kau ingin kami melupakan itu dan memilih seseorang untuk dikeluarkan? Itu tidak bisa diterima!”

“Kau bukan satu-satunya yang tidak puas, Ike, aku yakin kita semua sama. Tapi kita tetap harus membuat keputusan. Kita hanya harus memilih metode yang bisa disebut seadil mungkin.”

“Adil... mana ada cara seperti itu.”

“Pilihan untuk mendapatkan poin kelas dengan mengeluarkan seseorang. Bagian tentang dikeluarkan cenderung memiliki citra negatif, tapi itu bisa berubah menjadi positif jika kondisi tertentu terpenuhi, seperti dalam kasus pengkhianat yang memilih setuju, banyak orang menyetujuinya. Jika poin kelas yang diperoleh lebih berharga daripada siswa yang akan dikeluarkan, maka cukup masuk akal untuk memilihnya. Dengan kata lain, satu-satunya orang yang harus dikeluarkan adalah siswa yang tidak dibutuhkan di kelas saat ini. Lalu apa kriteria untuk keputusan ini? Itu semua tentang kinerja secara keseluruhan. Mereka yang memiliki kemampuan akademik, kemampuan fisik, atau kemampuan apa pun yang tidak termasuk dalam dua kategori tersebut. Sederhananya, siswa yang memiliki kemampuan memimpin, seperti Horikita, atau kemampuan mengatur kelompok, seperti Yōsuke atau Kei. Secara alami dapat dikecualikan. Tentu saja, jika kalian berpikir aku sedang menggurui, kalian bebas untuk membantahnya.”

Saat waktunya hampir habis, teman-teman sekelas terdiam, seakan mereka tidak dapat ikut campur.

“Dan keputusan ini lebih baik tidak dimasukan hal-hal seperti potensi dan prospek masa depan. Sulit dan spekulatif untuk menentukan secara objektif siapa yang benar-benar akan tumbuh dan seberapa banyak di masa depan. Untuk membuat kesimpulan akhir, OAA adalah hakim yang paling adil dalam hal itu.”

Ini adalah cara bagi sekolah untuk mengukur dan menunjukkan kemampuan siswa tanpa emosi siswa.

Pada 1 September, skor terendah di kelas ini adalah 36 poin secara keseluruhan.

Meskipun mereka memeriksa peringkat dan skor mereka sendiri, tidak banyak siswa yang tahu siapa yang terendah setiap saat.

“Siswa dengan OAA terendah di kelas ini saat ini adalah———Sakura Airi.”

Aku tidak melihat Airi secara khusus, tapi aku menjawab sambil melihat sekeliling.

“.........Ha? ...Apa yang kamu katakan? Jangan bercanda di saat seperti ini.”

Berdiri, Huruka yang marah memelototiku.

“Aku hanya memberikan pendapat objektif. Terserah kelas untuk memutuskan apakah mereka setuju atau tidak.”

Aku tidak mendengarkan pendapat pribadi dan terus berbicara.

“Objektif? Apa maksudmu objektif? Peringkat OAA itu apa? Jadi maksudmu tidak apa-apa mengeluarkan Airi? Dan kenapa... kenapa Kiyopon mengatakan itu!?”

“Lalu, menurutmu siapa yang harus dikeluarkan?”

“I-Itu———!”

“Seseorang yang tidak siap menyebutkan nama secara langsung tidak memiliki hak atau kualifikasi untuk memilih siapa yang akan dikeluarkan.”

“B-Bisa Ike-kun! Kemampuan akademik dan fisiknya tidak jauh berbeda dengan Airi, bukan!?”

Memang benar bahwa di OAA, dia pernah menjadi yang terendah bersama dengan Airi.

Tapi sekarang dia naik satu poin menjadi 37 poin. Dia hanya satu langkah keluar dari peringkat itu.

“Kalau begitu mari kita tanyakan saja di sini. Semua yang menentang Airi dikeluarkan, angkat tangan.”

Huruka segera mengangkat tangannya. Hampir di saat bersamaan, Akito dan Keisei mengangkat tangan mereka.

Tentu saja, itu wajar bagi grup Ayanokōji.

“Tiga, ya? Selanjutnya, siswa yang menentang Ike dikeluarkan?”

Beberapa anak laki-laki, termasuk Sudō dan yang lainnya, dan beberapa anak perempuan, termasuk Shinohara dan Mori, yang berutang budi pada Shinohara, mengangkat tangan mereka, dan ada 11 orang yang dengan jelas menyatakan penentangan mereka.

“Kenapa———”

“Membangun persahabatan juga merupakan keterampilan yang bagus. Aku harus katakan bahwa dia lebih rendah dari Ike dalam hal itu juga.”

“Bisakah kau mengatakan itu sambil menatap mata Airi!?”

“Apakah itu yang kamu inginkan?”

“huh! Hentikan!”

Saat aku hendak menatap mata Airi yang ketakutan, Huruka menghentikanku.

“Kamu dapat mengangkat tanganmu untuk Hondō, Okitani, atau siswa lain, tapi mereka tidak akan kurang dari tiga suara Airi.”

“Apa itu... serius jangan main-main. Kami memang tidak punya banyak teman. Tapi bukan berarti kamu bisa mengeluarkan Airi dengan cara ini!”

Jika aku punya pilihan lain, aku akan melakukannya juga. Tapi, kita sudah melewati titik itu sekarang.

“...Tapi, sejujurnya... kehilangan 300 poin akan berakibat fatal.”

Salah satu anggota grup Ayanokoji dan teman Airi, Keisei, diam-diam mengutarakan itu.

“Yukimu, apa kamu serius mengatakan itu!? Jangan bilang kamu setuju untuk mengeluarkan Airi...?!”

“Ti-Tidak! Aku belum setuju!”

“Belum? Apa itu berarti kau akan menyetujuinya nanti!? Hah? Jangan bercanda!”

“Tidak, maksudku...!”

Seolah menyadari segalanya, Huruka menggigit bibirnya dan membuat keputusan.

“Menjijikkan. Yang benar saja. Apa-apaan itu, bukankah kita berteman?”

Suara dingin itu ditujukan padaku dan juga pada Keisei, yang perasaan jujurnya telah bocor.

“Begitu juga yang lainnya. Tidak ada yang mencoba melindunginya. Itu benar, kalian tidak peduli tentang apa yang terjadi pada Airi karena tidak dekat dengan kalian, asalkan kalian bisa selamat. Kalian mengutamakan Kyō-chan hanya karena dia sedikit berguna untuk kalian? Kalian akan meninggalkan seorang gadis yang berusaha keras untuk mengikuti kalian tanpa merepotkan kelas? Ah, ya, ah, ya, ini memang kelas yang terbaik, ya.”

Ucapan ceroboh Keisei telah membuktikan secara langsung bahwa komentar ceroboh akan membuat Haruka memusuhinya.

Tidak ada yang mencoba melakukan kontak mata, dan mereka menyerah agar tidak terlibat.

“Sudahlah, cukup. Aku tidak akan membiarkan Airi dikeluarkan. Jika kalian bersikeras, pilih saja aku. Aku dengan senang hati akan keluar.”

Dia mencoba melindungi Airi dengan memunculkan pengusiran sukarela, yang berbeda dengan apa yang Kushida lakukan dalam rencananya.

Itu semua bagian dari perhitungan, Huruka. Malah, pernyataan itu hanya mencekik dirinya sendiri.

“Tu-Tunggu, Haruka-chan! Aku juga tidak bisa mengeluarkanmu, Haruka-chan!”

“Tidak apa-apa, Airi. Kamu harus tetap di sekolah ini. Lagian aku tidak menyukai kelas ini sejak awal. Tapi sejak aku berteman denganmu dan Kiyopon, Yukimu, dan Miyachi, hari-hariku menjadi lebih menyenangkan. Meskipun Yamauchi-kun dikeluarkan, kupikir hal seperti itu tidak akan pernah terjadi lagi, dan kupikir aku akan bisa bergaul dengan semua orang di sini...”

Melihat Chabashira, Haruka membuat pernyataan resmi.

“Aku akan mencalon diri untuk dikeluarkan. Sudah hampir waktunya, ‘kan?”

Seperti dugaanku, deklarasi itu akan diutamakan, dan Huruka secara otomatis melangkah maju ke tempat pemenggalan kepala.

“Airi, kamu harus pilih setuju, oke? Yang lain tidak ada keluhan, ‘kan? Kalian bisa melindungi dirimu sendiri, jadi tidak ada alasan untuk memilih tidak setuju.”

“Itu... tidak mungkin aku bisa menyetujuinya...!”

Airi berteriak karena dia tidak bisa memilih setuju untuk mengeluarkan Haruka.

“Tidak apa-apa, jika aku untuk melindungimu, aku tidak akan menyesal dikeluarkan.”

“Tapi———”

“Cukup bicaranya. Voting akan dimulai sekarang.”

Berdasarkan kemauan kuat Huruka, voting akan dilakukan untuk setuju dan tidak setuju.

Hasil yang ditampilkan pada monitor adalah———


Hasil Voting ke-21 : 35 Setuju | 3 Tidak Setuju


Dia mendapat suara setuju dari hampir semua siswa, tapi mendapat suara tidak setuju dari tiga orang.

Tebakan untuk ketiganya pasti tampak mudah bagi Huruka.

“Airi!”

Tentu saja, jelas salah satu suara itu pasti milik Airi.

“Aku tidak bisa! Tidak mungkin aku tidak bisa... membiarkan Haruka-chan dikeluarkan!!”

“Dibilang itu untuk melindungimu! Selain itu, Miyachi dan Yukimu juga, tolong berhenti!”

Huruka sudah siap dikeluarkan dari sekolah, namun ternyata beberapa siswa tidak menginginkannya.

“Aku tidak ingin kamu dikeluarkan... aku tidak bisa memilih setuju.”

Sambil menunjukkan ekspresi sedih, Akito menatap matanya dan menjawabnya dengan jelas.

“Jadi tidak apa-apa jika itu Airi!?”

“Aku tidak bilang itu... tapi, jika aku harus memilih salah dari kalian... aku....”

“...Maaf!”

Tiba-tiba, Keisei berteriak dan menyela keduanya. Dia berdiri dan menundukkan kepalanya.

“Aku... memilih setuju... kalau terus begini, kelas... tidak akan bisa mencapai Kelas A...”

Dia menjawab untuk mengakui keberadaan satu suara yang tidak akan terungkap jika dia diam.

“Ha? Lalu siapa satunya!? Siapa yang memilih tidak setuju dalam situasi ini!”

“Satu suara itu dariku.”

“uh! Kiyopon, ada yang kamu lakukan...! Kamu tidak perlu melindungiku, ‘kan, Kiyopon!?”

“Sudah kubilang. Kebijakan barunya adalah bahwa aku harus menebas siswa yang paling tidak mampu di kelas ini. Entah itu kamu yang ingin dikeluarkan, atau Kushida yang pernah rela dikeluarkan, tidak peduli siswa baru mana yang maju, kebijakan tidak akan berubah dari sini. Itu tidak bisa diubah.”

Jika kami mundur selangkah ke sini, tidak akan ada yang namanya suara bulat setuju.

“Hasebe-san... itu fakta bahwa Sakura-san berada di urutan terbawah dalam OAA... jadi menebas siswa yang berkontribusi paling sedikit di kelas, bukanlah hal yang buruk, ‘kan...?”

Mempersiapkan risiko berbicara dalam situasi ini, Matsushita mengungkapkan pendapatnya.

“Jangan bercanda. Tempatkan dirimu pada posisiku. Jika teman tersayangmu dikeluarkan, apakah kamu bisa tertawa seperti tidak ada yang terjadi setelahnya? Aku tidak akan bisa. Jelas tidak akan bisa!”

“Yang harus dikeluarkan adalah Airi. Tidak ada lagi pilihan lain.”

“Jangan... jangan gitu, Kiyopon! Tidak peduli siapa yang menyetujuinya, hanya Kiyopon... hanya Kiyopon yang harus berada di pihak Airi!”

Aku tahu. Justru karena aku tahu, aku angkat bicara, Huruka.

“Aku tidak akan berubah pikiran. Jika Haruka tetap tidak setuju untuk mengeluarkan Airi, maka kelas ini akan berakhir di sini.”

“Kalau begitu kenapa tidak lakukan sesukamu? Aku akan terus menentang pengusiran Airi sampai akhir!”

Hanya satu. Jika dia terus menentang sampai akhir, pengusiran tidak akan terjadi.

Hukum itu mutlak. Dan cara paling efisien untuk meruntuhkan hukum itu adalah———

“Terima kasih, Haruuka-chan... itu, sudah cukup.”

Dengan suara gemetar, Airi tertawa saat menyadari segalanya.

“Ai... ri...?”

“Jika ada seseorang di kelas yang tidak diperlukan... kurasa, mungkin, itu aku.... Apa yang Kiyotaka-kun katakan sama sekali tidak salah, Huruka-chan.”

“Airi!

“Semua yang dia katakan itu benar. Jika seseorang harus dikeluarkan, maka itu aku, penghambat terbesar di kelas, yang harus menghilang.”

———Dengan menghentikan mereka yang memilih tidak setuju secara langsung oleh seseorang yang akan dikeluarkan.

“Tidak bisa! Aku tak akan pernah bisa membiarkan Airi dikeluarkan! Tidak akan pernah!! Tidak masalah jika kelas ini tidak naik ke Kelas A, kita semua akan lulus bersama dengan Airi!”

“Tidak boleh. Bahkan jika kamu menyelamatkanku, aku yakin kamu akan sangat menyesalinya. Aku yakin kamu akan menyesal selamanya jika tidak berhasil ke Kelas A karena aku.”

“Tidak apa-apa! Kamu tidak salah! Aku hanya melindungimu karena keegoisanku!”

“'Terima kasih.... Tapi, aku tidak bisa meletakkan tanggung jawab itu di pundakmu, Haruka-chan.”

“Apaan, apaan itu... tidak ada hal seperti itu...!”

Mencegah siswa dikeluarkan belum tentu demi kepentingan terbaik mereka.

Jika ini terjadi, memilih tidak setuju hanya akan membuat Airi menderita.

“Pengorbanan diri terdengar bagus. Terasa enak di telinga. Untuk orang-orang di kelas, aku yakin kalian lega jauh di lubuk hati karena ada seseorang seperti Huruka. Jika dengan begitu kelas benar-benar berjalan tanpa hambatan, mungkin tidak buruk untuk membuat pilihan itu. Oh ya, Sudō, bisakah kamu mengorbankan dirimu untuk kelas?”

“Ti-Tidak... aku... um...”

“Satō, bagaimana denganmu?

“A-Aku? Aku, tidak terlalu yakin soal itu...”

“Bagaimana denganmu, Onodera?”

“...Mungkin, tidak bisa...”

“Tidak peduli siapa yang kutanya, jawabannya akan sama, ‘kan? Pada dasarnya, tidak ada yang mau mengorbankan dirinya sendiri.”

“Dari lubuk hatiku, aku tidak keberatan dikeluarkan. Kalau begitu, tidak ada masalah, ‘kan...”

“Mengandalkan siswa yang bersedia berkorban atas kemauannya sendiri. Begitu kita mengambil jalan mudah seperti itu, kita akan mengulangi proses pencarian sukarelawan secara spontan ketika ditempatkan dalam situasi yang sama di masa depan. Sudah terlambat untuk membuat keputusan yang adil.”

“Aku tidak peduli... Aku tidak peduli dengan logika seperti itu! Aku ingin melindungi Airi! Itu saja yang aku inginkan!”

“Huruka, bahkan jika kamu melindunginya dengan mengeluarkan dirimu, bisa jadi Airi akan dikeluarkan keesokan harinya.”

“Jangan bicarakan masa depan yang tidak pasti.”

“Tidak ada masa depan yang pasti. Oleh karena itu kita mengambil cara yang terbaik.”

Tidak peduli berapa banyak kata yang kusampaikan, sepertinya itu tidak mencapai telinga Huruka.

Tapi, itu pasti sampai ke telinga Airi. Itulah yang penting.

“Tidak apa-apa, tidak apa-apa, Airi. Aku pasti akan terus memilih tidak setuju. Tidak peduli siapa lagi yang setuju———!”


“Teman-teman... aku———tolong pilih aku...”


Kata Airi dengan suara teredam, tapi suara yang bisa didengar semua orang.

Huruka meraih kedua lengan Airi dan mati-matian menolak.

“Tidak akan. Pokoknya tidak akan... padahal baru kemarin, baru kemarin kita bersenang-senang...! Bahkan pagi ini seperti pagi biasanya. Aku bertemu dengan Airi dan berangkat ke sekolah. Kita mengobrol tentang hal-hal kecil, seperti festival sekolah, dan sebagainya.... Bahkan hari ini, kita akan memanggil Kiyopon sepulang sekolah dan mengejutkannya dengan debutmu! Aku tidak mau semua itu direbut dariku!”

Waktu yang tersisa kurang dari 10 menit. Dengan kata lain, ini praktis merupakan voting terakhir. Tidak ada yang bisa dengan mudah memilih tidak setuju siapa pun yang akan dikeluarkan. Itulah bobot voting terakhir.

Airi menggelengkan kepalanya dari sisi ke sisi dan tidak menerima bantuan apa pun dari Huruka.

“Aku tidak mau, tidak mau, tidak mau, tidak mau!”

Dia menolak, menyangkal, dan berteriak seperti anak kecil.

Setiap kali, Airi mengucapkan terima kasih kepada Haruka, dia masih membujuknya untuk menerimanya.

Itu tidak bisa lagi diubah.

Menyadari segalanya, Huruka duduk di tempat seolah runtuh.

“Dia yang tidak memiliki kemampuan menerimanya dan terus bergerak maju. Kita memiliki kewajiban untuk menanggapi kehendak itu. Sangat mudah bagimu untuk memilih tidak setuju di voting berikutnya. Tapi, bahkan jika kamu memilih tidak setuju, Airi tidak akan tinggal di sekolah ini. Dia akan dikeluarkan dari sekolah dengan rasa penyesalan yang kuat karena melibatkan teman-teman sekelasnya dan tidak akan bisa melihat ke depan. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan sahabatmu, Airi, adalah dengan memilih seuju dengan tanganmu sendiri Huruka dan membiarkannya melangkah maju.”

“Aku, aku———!”

Dari depan Airi memeluk Huruka yang runtuh.

“Terima kasih, Huruka-chan.... Terima kasih atas semua bantuan yang telah kamu berikan padaku selama ini. Aku pernah tidak bisa membalas apa pun padamu, tapi... tolong dengarkan keegoisanku yang terakhir.”

“Aku tidak mau~, Airi... ini...”

“Pilih setuju untukku.”

Dia berterima kasih padanya dan dengan lembut membelai rambut Huruka yang menangis, lalu menaikan suaranya untuk berbicara pada Chabashira.

“Aku akan mencalonkan diri. Tolong pilih aku.”

Setelah membantu Haruka berdiri dan duduk di kursinya, Airi kembali ke tempat duduknya untuk menerima semuanya.

Namun bahkan setelah voting diumumkan, waktu voting belum berakhir.

Bahkan setelah 60 detik dan kemudian 70 detik berlalu, voting tidak berakhir.

Siswa memiliki waktu 90 detik untuk memilih. Dalam waktu 70 detik, Haruka juga akan dikeluarkan.

Jika sahabatnya Airi menghilang, begitu juga dirinya.

Bisa dimengerti jika pikiran seperti itu terlintas di benaknya.

Jika dia membuat keputusan yang begitu lemah di sini, maka apa boleh buat.

Kelas akan menerima satu korban lagi dalam hal kerusakan, tapi Suara bulat akan dicapai tanpa masalah hanya dengan hilangnya suara Haruka. Setelah 100 detik, waktu yang tersisa mendekati 40 detik.

Dia hanya terus menangis dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan meraih tabletnya.

“Haruka-chan———!”

Itu adalah kemarahan dari Airi yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Itu adalah yang paling keras yang pernah ku dengar darinya.

Airi tersenyum dan mengangguk pada Haruka yang menangis, yang mendongak kaget seolah punggungnya ditepuk.

Jika dia menolak untuk membuat keputusan di sini, dia akan menyangkal semua yang diperjuangkan Airi.

“———Voting selesai. Aku akan mengumumkan hasilnya.”


Hasil Voting ke-22 : 38 setuju | 0 Tidak Setuju


Chabashira yang terus mengawasi pertukaran epik, lupa melaporkan akhir ujian dan hanya menatap Airi dan Haruka.

Airi yang dikeluarkan dari sekolah menatap lurus ke depan seolah sudah menerima segalanya. Di sisi lain, Haruka, yang tidak bisa melindunginya, sedang berjuang untuk menahan isak tangisnya, tapi dia tidak bisa menyembunyikannya dari kelas yang terdiam.

“A-ah... ah, Chabashira-sensei. Ehm, silahkan dilanjutkan.”

Pengawas yang sejauh ini diam dan tenang kecuali untuk kewaspadaan dan peringatan sedikit, tampaknya juga lupa untuk memberi tahu dia tentang sinyal untuk mengakhiri ujian khusus.

“...Sehubungan dengan dikeluarkannya Sakura Airi, suara bulat setuju mengakhiri isu terakhir. Pilihan valid dan 100 poin kelas akan diberikan. Untuk memperjelas, hanya ada satu cara untuk membatalkan pengusiran ini. Hanya jika saat ini kalian memiliki 20 juta poin pribadi dan menggunakannya———”

Sebagai tugas, Chabashira mencoba melanjutkan penjelasan itu, tapi berhenti di tengah kalimat.

“Kurasa tidak diperlukan penjelasan lebih lanjut.”

Bahkan jika semua poin pribadi dari semua anggota kelas dikumpulkan, itu tidak akan pernah mencapai 20 juta poin.

“Tiga kelas lainnya sudah menyelesaikan ujian khusus mereka, tapi kalian akan diminta untuk segera pulang hari ini. Adapun Sakura, dia harus ikut denganku ke ruang staf setelah ini, jadi tetaplah di kelas.”

“Baik.”

Airi tanpa ragu menjawab Chabashira, meskipun suaranya lebih pelan dari sebelumnya.

“Sekian. Silahkan semua berdiri dari tempat duduk kalian. Ikuti instruksi dan tinggalkan ruangan.”

Kami diberitahu itu, dan kami semua meninggalkan tempat duduk kami, meskipun pada waktu yang berbeda.

Airi diperintahkan untuk tetap di tempatnya. Dan Haruka, yang bahkan tidak bisa berdiri, mencoba yang terbaik untuk membuat lututnya yang gemetar berdiri, tapi sepertinya tidak berhasil.

Napasnya juga menjadi tidak teratur dan dia mulai menunjukkan gejala yang mirip dengan hiperventilasi.

Akito, yang tidak bisa melihatnya, berlari ke arahnya dan memaksanya untuk berdiri untuk memapah Haruka.

Karena tidak ada baiknya dengan meninggalkannya di sini.

Segera setelah aku melangkah keluar ke lorong, ponselku dikembalikan kepadaku.

Dan Keisei segera menyusul.

“...Kiyotaka. Aku tidak akan mengatakan kalau kau melakukan kesalahan. Hanya saja... aku masih... tidak yakin apakah aku bisa mengatakan bahwa apa yang aku lakukan ini benar. Tidak, tidak ada gunanya juga kamu mendengar ini. ...Tolong lupakan saja.”

Terlepas dari keinginannya untuk melampiaskan, Keisei memunggungiku dan mulai berjalan menyusuri lorong.

Tidak ada gunanya menunggu Huruka atau Akito di sini.

Pembenaran itu tidak penting. Mustahil untuk tidak memikirkan fakta bahwa aku telah memimpin jalan untuk menebas anggota dari grup yang berharga soalnya. Kei mendekatiku. Kuperhatikan dia tampak kesal, tapi aku menghentikannya dengan mataku.

Untuk hari ini, akan lebih baik membiarkan Kei diam dengan perasaan berduka juga.

Tidak perlu membeli kebencian dengan hal-hal yang tidak perlu.

Seingatku, Chabashira mengatakan dia ingin bertemu denganmu setelah ujian khusus selesai.

Ketika aku melihat ponselku, aku menerima sebuah pesan dan pertemuan itu pukul 6 sore. Aku punya sedikit waktu.

Aku memutuskan bahwa lebih baik untuk tetap diam untuk saat ini, jadi aku tetap tinggal di tempat ini.

Jika aku langsung menuju pintu depan, aku akan bertemu dengan Keisei dan siswa lainnya.

Karena aku punya janji dengan Chabashira, aku memutuskan untuk berkeliaran di sekitar area sekolah yang kurang populer.

“Ayanokōji-kun.”

Aku tahu dia mengikutiku, tapi ketika tidak ada seorang pun yang terlihat, orang itu memanggilku.

“Ada apa? Apa kamu tidak membicarakan sesuatu dengan Kushida?”

“Tidak. Dia tidak akan menjawab apa pun sekarang. Aku hanya memperingatkannya untuk tidak putus asa.”

Kushida memiliki banyak teman di sekitarnya, tapi tidak ada yang memanggilnya ketika ujian selesai.

Tidak heran sulit untuk dekat dengannya setelah dia menunjukkan sifat aslinya yang kuat.

“Aku minta maaf.”

Horikita menundukkan kepalanya dalam-dalam saat rambutnya, yang sedikit lebih panjang dari sebelumnya, bergoyang.

“Ujian khusus ini... aku... aku tidak cukup baik.”

“Tidak cukup? Kamu sudah melakukan yang terbaik yang kamu bisa, bukan? Kali ini, pertempurannya jauh lebih sulit daripada voting di kelas tahun lalu.”

“Tidak peduli seberapa sulit pertempurannya, aku menempatkan beban besar padamu... dan kamu harus mengambil semua tanggung jawab yang seharusnya dibagikan.”

Tidak dapat dihindari bahwa siswa akan dikeluarkan.

Karena itulah Horikita ingin menunjukkan niatnya.

“Akulah yang menyuruhmu untuk tetap diam. Jadi ini bagus.”

“Itu tidak bagus. Itu meninggalkan bekas luka besar pada grupmu yang berharga. Aku benar-benar... tidak berpikir itu bisa diperbaiki di masa depan.”

“Tidak apa-apa. Malah mungkin akan datang suatu hari ketika tampak lebih mudah jika seperti ini.”

Jika dia terlibat, tanggung jawab pasti bisa dibagi rata di antara kami berdua.

Namun, bukan itu yang kuinginkan.

“Mudah...? Apa maksudmu?”

“Tidak, jangan khawatirkan itu. Itu hal kecil.”

Tentu saja, aku tidak berpikir dia akan puas dan segera berubah pikiran, tapi aku tidak ingin ujian khusus ini menjadi hambatan untuk ujian berikutnya.

(Tln: Aku kurang yakin dengan subjek yang kupakai di kalimat ke dua setelah tentu saja)

“Lihat sisi baiknya. Kita memperoleh 100 poin kelas yang berharga untuk naik ke Kelas A. Poin itu tidak bisa diremehkan.”

“Tapi... kita kehilangan Sakura-san.”

“Akibatnya rata-rata kelas naik ke tingkat yang lebih tinggi, yang merupakan hal yang positif. Ini adalah titik akhir yang sempurna.”

“Hentikan. Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk bertindak kejam.”

“Memaksakan diri?”

Aku mencoba menyangkalnya, tapi dengan sengaja aku mengikuti kata-katanya.

“Kurasa begitu. Mungkin aku mencoba membunuh perasaan menyakitkan itu.”

“Kiyotaka-kun!”

Dari ujung koridor, suara yang familiar dan lembut terdengar.

Horikita berbalik mendengar suara itu dan terkejut melihat penampilannya.

“Kamu... Sakura, san...?”

Airi, yang tidak memiliki kekuatan fisik, terengah-engah dan berjalan ke arah kami.

“...Aku akan pergi...”

“Ya, itu lebih baik.”

Saat Horikita melewati Airi, dia ragu-ragu untuk memanggilnya, dan akhirnya tidak bisa melakukannya.

Dia mungkin tidak bisa memikirkan apa pun untuk dikatakan kepada seseorang yang akan pergi.

“Aku benar-benar, ingin menunjukkan ini, kepada Kiyotaka-kun, sebelum aku pergi. ...Bagaimana?”

Tepat sebelum voting, Haruka mengatakan dia akan menunjukan debutnya. Apakah ini yang dia maksud?

“Kamu terlihat sangat berbeda. Tidak heran Horikita tidak mengenalimu untuk sesaat.”

“Kurasa... aku agak terlambat untuk mengumpulkan keberanian... hehe.”

Airi yang telah melepas kacamatanya dan memiliki gaya rambut modis, tertawa malu-malu.

“Bukan tempatku untuk mengatakannya, tapi... tolong jaga Haruuka-chan.”

“Aku mengerti.”

“Bye bye———Kiyotaka-kun.”

Airi tersenyum padaku dengan senyuman yang belum pernah kulihat sebelumnya, lalu berbalik.

Kemudian dia mulai berjalan, tapi segera langkahnya melambat dan dia hampir berhenti.

Meski begitu, dia melangkah maju sekuat yang dia bisa dan tidak melihat ke belakang.

Aku bisa mendengar suaranya di koridor kosong.

Suara isakan dan tangisan, yang berusaha keras diredam.

Melihat pemandangan seperti itu mengingatkan ku pada pemandangan yang sering ku lihat.

Pecundang selalu merenungkan kesengsaraannya sendiri dan menyesalinya ketika sudah terlambat.

Itu tidak berbeda di White Room atau di sekolah ini.

Related Posts

Related Posts

18 comments

  1. Kata kata dibagian akhir sih mantep

    ReplyDelete
  2. Njirrr walaupun beban tapikan... 🥲🥲🥲

    ReplyDelete
  3. Njirr ujung-ujungnya plot twist. Dari kmrn dah wanti2 kalo si Kushida ini gk bakal dikeluarin, eh ternyata bener! Soalnya jarang banget ada siswa yg punya kemampuan kayak Kushida. Berarti sekarang Kiyotaka udh bisa ngendaliin Kushida dong. A very useful tool has been obtained.
    Goodbye Sakura Airi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Plot twist:ayano udah nyiapin poin 20juta buat nahan sakura🤣 ni cerita emg suka kasih kejutan

      Delete
  4. Kghhhhh hari patah hati nasional.... Semua gara" Lont egois

    ReplyDelete
  5. "Pecundang selalu merenungkan kesengsaraan nya sendiri dan menyesalinya ketika sudah terlambat"

    Badass...

    ReplyDelete
  6. "Kei mendekatiku. Kuperhatikan dia tampak kesal, tapi aku menghentikannya dengan mataku"

    Kira² gimana ya...?🤔

    ReplyDelete
  7. Seketika disini gue benci Horikita

    ReplyDelete
  8. Lapet lah, jadi marah sendiri njiir bacanya

    ReplyDelete
  9. bukan made in jepun namanya kalo gada plot twist yang membagongkan

    anyway,
    sayonara Airi-Chan (っ˘̩╭╮˘̩)っ

    ReplyDelete
  10. Akhirnya nyampe sini. 2022 hadir

    ReplyDelete